Tradisi Unik: Tidak Dikubur dan Tidak Berbau Busuk, Jenazah di Desa Trunyan Hanya Diletakkan Begitu Saja

Sumber Gambar : kintamani.id

Di kancah nasional maupun internasional, Bali tidak hanya dikenal sebagai pulau yang sangat indah, tapi juga sebagai tempat wisata. Selain keindahannya yang mempesona, keanekaragaman budaya di Pulau Dewata ini dapat membuat wisatawan terkagum-kagum. Salah satu daya tarik yang ada di Pulau Seribu Pura ini adalah Desa Trunyan yang terletak di daerah terpencil Bali, tepatnya di sebelah timur Tepi Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Desa Trunyan mungkin sudah tidak asing di telinga para pembaca sekalian. Akan tetapi, sekedar untuk me-refresh ulang ingatan yang agak luntur, mari simak seluk beluk Desa Trunyan berikut ini. Desa Trunyan adalah salah satu desa tertua yang ada di Bali. Diperkirakan jarak dari Denpasar menuju ke Kecamatan Kintamani ± 66.8 KM dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 56 menit.

Di Desa Trunyan terdapat satu tradisi unik sekaligus aneh. Mungkin anda tahu bahwa masyarakat Hindu yang ada di Bali saat meninggal akan dilakukan upacara pembakaran jenazah (Ngaben), namun warga Desa Trunyan tidak melakukan hal tersebut. Di Desa ini para jenazah akan diletakan begitu saja di bawah pohon Taru Menyan dilengkapi dengan kain putih dan pagar bambu sebagai pelindung. Pohon Taru Menyan merupakan pohon berukuran besar yang dapat mengeluarkan aroma wangi sehingga dapat menetralisir aroma tidak sedap dari mayat-mayat yang diletakkan di bawah pohon ini. Di kalangan pengunjung bahkan masyarakat setempat pohon ini memiliki kesan cukup misterius, bukan karena dijadikan tempat mayat-mayat namun tidak adanya keterangan pasti berapa tahun usia dari pohon yang ada di Desa Trunyan ini. Beberapa masyarakat meyakini pohon ini berusia ratusan tahun tetapi ada juga yang berpendapat bahwa pohon ini sudah berumur ribuan tahun.

Sumber Gambar : IDN Times Bali

Dikulik dari sumber sejarah, diberitakan bahwa Desa Trunyan merupakan salah satu desa Bali Aga atau Bali Kuno yang berasal dari tiga suku asli di Bali. Dua suku lainnya tersebar di daerah yang berbeda yaitu Karangasem (Suku Telengan) serta Buleleng (Suku Yeh Ketipat). Masyarakat Desa Trunyan ini mempercayai bahwa kaum mereka adalah keturunan Bali Keturunan Ratu Sakti Pencering Jagat, atau lebih dikenal sebagai orang pertama yang turun dari langit dan menempati Pulau Bali. Lalu bagaimana dengan penduduk Bali lainnya? Apakah mereka juga Bali Keturunan Ratu Sakti Pencering Jagat? Menurut kepercayaan masyarakat Desa Trunyan, penduduk lain yang berada di Bali merupakan Bali Suku dengan memiliki arti sebagai penduduk Kerajaan Majapahit yang datang, tinggal dan menetap di Bali hingga saat ini.

Terlepas dari perbedaan yang sangat beragam ini, perlu diingat bahwa masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi toleransi hidup bersama. Ini juga diterapkan oleh masyarakat Bali, banyak perbedaan yang ada di pulau dewata ini namun seluruh masyarakat dapat hidup rukun, damai dan sejahtera. Selain nilai-nilai hidup yang selalu diterapkan, masyarakat Bali juga sangat menjaga kekayaan alam dan tradisi nenek moyang agar tetap utuh dan terawat, seperti Desa Trunyan serta tradisi yang dimilikinya sangat terawat hingga saat ini. Maka dari itu tidak heran setiap tahunnya banyak pengunjung yang datang untuk memanjakan mata ke Pulau Dewata ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *