Skip to main content
Tag

Desamind Archives - Desamind

Asa di Desa Gandis, Saksi Perjuangan Anak Buruh Sawit Gapai Pendidikan

By ArtikelNo Comments

“Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

”Bunyi Pasal 28E Ayat 1 UUD 1945 di atas membuktikan dengan jelas bahwa pendidikan merupakan sebuah hak yang wajib didapatkan oleh semua warga negara tanpa terkecuali. Namun, tidak bisa dipungkiri permasalahan pendidikan selalu menjadi isu pelik di negeri ini.

Berdiam diri menyalahkan keadaan tentu bukan sebuah pemecahan solusi. Jika ditelisik lebih dalam, pendidikan bukan sekedar urusan pemerintah maupun guru belaka, namun urusan kita bersama.

Mengamati sejenak dan mengambil hal positif dari isu-isu yang ada bisa menjadi langkah awal menuju sebuah perubahan. Salah satunya bisa melihat dari perjuangan pendidikan anak buruh sawit di SD 015 Best Agro yang terletak di Desa Gandis, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.

SD swasta di bawah naungan perusahaan kelapa sawit Best Agro International ini secara keseluruhan diisi siswa dari anak buruh sawit yang mengadu nasib merantau dari desa-desa di luar Pulau Kalimantan. Secara data, 65% dari Jawa, 10% dari Kalimantan dan 25% kumpulan dari berbagai daerah yang ada di Indonesia dengan total siswa mencapai 157. Tidak heran jika dalam satu kelas berisikan siswa berasal dari Banjarnegara, Wonosobo, Cilacap, Jombang, Kupang, Bima dan wilayah lainnya.

Perjuangan mereka untuk mendapatkan akses pendidikan terasa berkali-kali lipat lebih sulit dibandingkan kita yang berada di daerah dengan akses dan fasilitas yang tercukupi. Walaupun sudah ada fasilitas transportasi berupa bus penjemputan yang disediakan perusahaan, jarak jauh dan jalan hutan sawit penuh lumpur sering kali menjadi penghambat menuju sekolah. Sejak pukul 5 pagi, mereka harus siap untuk dijemput. Jadi, bukan sesuatu yang aneh jika banyak ditemui siswa dengan muka kusam dan belum mandi, bahkan tidak sempat cuci muka, masih memakai pakaian bebas, dan tergesa-gesa serta salah memakai seragam karena listrik sudah padam. Aliran listrik sendiri hanya ada di jam 6 sore hingga 10 malam.

Hal yang juga sering dijumpai adalah ketika sekolah sepi karena mereka tidak masuk. Bukan karena malas, melainkan hujan membuat jalanan tidak bisa dilalui atau secara tiba-tiba bus mogok. Akses menuju sekolah memang hanya bisa mereka tempuh dengan mengandalkan jemputan. Membutuhkan waktu yang lama jika berjalan kaki karena dengan bus saja, waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam. Tidak mungkin juga diantarkan sepeda motor. Orangtua mereka dari pagi sampai sore sudah meninggalkan rumah untuk bekerja mengurus sawit. Pembelajaran model jarak jauh pun tidak menjadi solusi. Lokasi di tengah hutan sawit seperti ini keberadaan sinyal internet sangat minim sekali.

Melihat kondisi tersebut, semangat mereka dalam mendapatkan pendidikan tidak pudar. Bahkan dijadikan penyemangat untuk selalu berusaha menggapai impian. Prestasi-prestasi yang diperoleh tidak kalah dengan SD yang lain, bahkan lebih unggul. Seringkali mereka memenangkan perlombaan di kecamatan dan mewakili lomba di tingkat kabupaten bahkan pernah ada yang sampai ke tingkat nasional.

Problematika yang dihadapi oleh anak-anak buruh sawit membuktikan bahwa di mana pun keberadaannya, pendidikan merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan. Tanah rantau yang serba terbatas tidak menjadi sebuah hambatan bahkan dijadikan motivasi untuk melampaui batas.

Penulis: Ahmad Zamzami

Editor: Putri Aulia Pasa, Syifa Adiba dan Muhammad Ertam Hidayat

Peduli Gempa Cianjur, Desamind Terpanggil Turun Andil Peran

By Berita Terkini, Press ReleaseNo Comments

Desa Cugenang, (11/12) – Desamind Indonesia bersama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Indonesia berhasil menyalurkan donasi pertama korban gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Penyaluran donasi ini berawal dari inisiasi pengurus Desamind Chapter Majalengka yang mengajak kolaborasi galang dana untuk korban gempa bumi Cianjur. Kemudian kolaborasi ini dilebarkan dengan menggandeng pengurus Desamind Pusat dan Chapter. Setelah terbentuk kolaborasi, tim dari Desamind Indonesia menentukan lokasi yang dituju dan mendata barang yang dibutuhkan di tempat terjadinya gempa.

Lokasi yang dituju adalah Desa Cugenang, Kabupaten Cianjur. Lokasi tersebut dipilih dengan mempertimbangkan dampak gempa yang cukup parah dan lokasinya berada di atas yang mana jauh dari jangkauan umum.

Setelah menentukan tempat dan barang yang diperlukan, tim dari Desamind membuka donasi dan terkumpul sebesar Rp1.756.600. Dana yang terkumpul ini kemudian dibelikan kebutuhan pokok berupa popok, makanan bayi, minyak goreng, makanan instan, alat mandi, susu, minyak goreng, kopi dan teh dengan total pengeluaran Rp1.435.370. Sisa dana sebesar Rp321.230 akan disalurkan pada penyaluran donasi kedua. Penyaluran donasi kedua akan dibelikan perlengkapan sekolah untuk anak-anak disana pada awal Januari.

Perwakilan Desamind yang menyalurkan donasi adalah Dinda Berlian (Chapter Division), Enny Abgiail (Desamind Chapter Bogor), Hammam Abdullah (Desamind Chapter Bogor) dan Mahasiswa Fisipol Universitas Kristen Indonesia.

Penyaluran donasi ini merupakan bentuk nyata kepedulian kami dengan gempa bumi yang terjadi di Cianjur. Dinda Berlian (Chapter Division) menyampaikan semoga donasi yang diberikan Desamind sedikit membantu saudara kita di Cianjur yang sedang terkena musibah, dan semoga Cianjur cepat bangkit dan pulih kembali secara materi dan mental.

Penulis: Muhammad Ertam Hidayat

Editor: Putri Aulia Pasa

Desamind Berkontribusi dalam Kegiatan Kelas SDGs yang Diselenggarakan oleh CISDI

By Berita Terkini, Press ReleaseNo Comments

Desamind menjadi satu dari dua puluh empat orgasisasi/komunitas yang terpilih untuk mengikuti Kelas SDGs yang diadakan oleh CISDI (Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives) melalui program TRACK SDGs. TRACK SDGs merupakan kegiatan yang memfasilitasi aktor pembagunan untuk melakukan diksusi mengenai pencapaian program SDGs dan kontribusi yang akan dilakukan ke depannya.

Kelas SDGs sudah berlangsung sebanyak 5 batch. Pada kesempatan batch 5 kali ini, TRACK SDGs mengambil tema “Penguatan Kapasitas Multisektoral untuk Akselerasi Pencapaian SDGs di Indonesia”. Pembukaan kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 29 November 2022, melalui platform zoom meeting. Adapun tujuan dari kelas SDGs adalah mendalami aspek kemitraan berkelanjutan, khususnya kerjasama pemerintah-swasta dan masyarakat sipil yang efektif, berdasarkan pengalaman dan bersumber pada strategi kerjasama. Dalam kegiatan ini, kelas SDGs mengumpulkan para aktor penggerak nonpemerintah yang telah atau sedang melakukan kegiatan pengabdian dalam mendukung SDGs di Indonesia.

Acara ini dihadiri 43 peserta yang terdiri dari 24 organisasi/komunitas dengan persebaran enam provinsi (Bali, Jawa Barat, Jogja, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara dan Papua). Jenis organisasi/komunitas yang mengikuti kegiatan kelas SDGs di antaranya adalah media/platform online, komunitas masyarakat, organisasi kemahasiswaan, non goverment organization, bisnis/sociopreneurship dan komunitas anak muda. Tiga peserta perwakilan dari Desamind yang mengikuti kegiatan kelas SDGs yaitu Abdul Aziz (Vice Director of Chapter Development), Luzy Chairunnisa (Desamind Chapter Bogor) dan Dwi Sulistia Ningsih (Desamind Chapter Bogor).  

Serangkaian kegiatan pembukaan Kelas SDGs Batch 5 terdiri dari penjelasan program agenda Kelas SDGs yang dimulai dari perkenalan Track SDGs, Kelas SDGs, Timeline Kegiatan, Topik dan Materi, Metode dan Tools Pembelajaran, dan Rewards. Abdul Aziz, Vice Director of Chapter Division, sebagai perwakilan Desamind menyampaikan bahwasannya kegiatan kelas SDGs ini memiliki manfaat kepada aktor SDGs non pemerintahan untuk melakukan diksusi dan menambah pengetahuan baru dan memahami pola-pola pembuatan program yang berkelanjutan. Harapannya kegiatan seperti ini dapat menambah jumlah aktor SDGs dan infromasi mengenai SDGs serta perannya dapat disalurkan lebih luas lagi.

Penulis: Muhammad Ertam Hidayat
Editor: Syifa Adiba

Buletin Desamind Vol. 3 No.1 Oktober 2022

By Berita Terkini, BuletinNo Comments

Buletin Desamind Vol. 3 No.1 Oktober 2022 merupakan buletin pertama yang diterbitkan Desamind setiap bulannya dengan mengangkat tema mengenai pengabdian, desa, masyarakat, pemuda dan kegiatan lainnya.

Buletin ini mengangkat isu-isu dan perjalanan perjuangan anak muda Indonesia di Keluarga Besar Desamind dalam hal mendorong kepemimpinan yang kontributif dalam mendorong Pendidikan, mulai dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Desamind, kolaborasi lintas sektoral yang dilaksanakan di Jawa, Sumatera, dan beberapa kota lainnya, hingga perjuangan pengabdian di daerah 3T Indonesia.

Semoga Buletin Desamind ini menjadi pematik semangat perjuangan rekan-rekan semua. Selamat membaca.

KLIK TAMPILAN DI BAWAH UNTUK MENGAKSES FULL!

PTI UMS x Desamind Berkolaborasi Laksanaan Pengabdian di Raja Ampat, Papua Barat

By Berita TerkiniNo Comments
Perjalanan ke Pulau Kalobo

Kalobo – Distrik Salawati Tengah, Raja Ampat, Papua Barat merupakan salah satu destinasi program transmigrasi di era tahun 1980-an. Akses ke pulau ini dapat dijangkau menggunakan kapal kurisi setiap pekan sekali ataupun taxi laut pada hari tertentu dengan waktu tempuh 2 – 3 jam. Meskipun demikian sarana dan prasarana di desa ini masih sangat terbatas termasuk listrik yang mengaliri seluruh desa sangat tergantung pada pasokan bahan bakar sehingga hanya menyala normal pada pukul 18.00 – 06.00 WIT yang juga berpengaruh terhadap koneksi internet, padahal aktivitas masyarakat terutama belajar mengajar di sekolah berlangsung di siang hari.  

Potret Kondisi Jalan

Desamind Indonesia yang diwakili oleh Khoirudin Nur Wahid dan Hardika Dwi Hermawan digandeng oleh PTI UMS dan Biro Bebras UMS untuk membawa misi berbakti untuk negeri melalui pengabdian masyarakat di daerah terpencil dalam bentuk workshop yang dilaksanakan di Madrasah ‘Aliyah Muhammadiyah Waibu Raja Ampat dengan sasaran guru (SD, SMP dan SMA/MA) dan siswa. Kegiatan workshop yang dilaksanakan pada tanggal 10 – 12 September 2022 dimulai dengan materi belajar kreatif dengan Computational Thinking (CT) melalui metode CS-Unplugged dan sosialisasi mapel informatika dalam Kurikulum Merdeka yang diberikan oleh Irma Yuliana, S.T., M.M., M.Eng., sebagai Dosen PTI sekaligus Biro Bebras UMS dan Fasilitator Sekolah Penggerak.  

Foto Bersaa Siswa-Siswi peserta Pelatihan Design Thinking (Hari ke 3)

Pada hari ke- 2 diberikan materi pengayaan pembuatan media pembelajaran melalui Canva dan Quizziz dengan mengoptimalkan waktu akses dan tenaga listrik yang terbatas oleh Khoirudin Nur Wahid, S.Pd dari Desamind Indonesia. Pengabdian di hari terakhir adalah Pelatihan Design Thinking untuk mengembangkan ide-ide kreatif bagi siswa yang diberikan oleh Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE selaku dosen PTI UMS.

Bapak Dwi Irianto, S.P yang merupakan pengawas Sekolah di wilayah Kalobo  menyampaikan rasa  terima kasih dan bersyukur karena selama ini program pemberdayaan pendidikan melalui guru masih jarang dilakukan hingga mencapai daerah/sekolah secara langsung. Para guru memberikan apresiasi karena semakin termotivasi dan semangat untuk mengajar, apalagi dampak pandemi   selama 2 tahun lebih sangat berpengaruh terhadap pendidikan. Semua pihak berharap agar kegiatan ini akan berlanjut di masa mendatang sehingga dapat mempersempit kesenjangan pendidikan di daerah terpencil dan memajukan pendidikan di Indonesia.

Foto bersama Guru dan Kepala Sekolah

Kegiatan workshop ini merupakan bentuk nyata kepedulian tidak hanya bagi daerah-daerah di luar jawa yang memiliki keterbatasan akses informasi dan teknologi. Keberlanjutan program ini adalah guru-guru dapat menerapkan Computational Thinking dalam pembelajaran dan dapat menyusun RPP yang memasukan CT di dalamnya.

Desamind Turut Serta Rapat Pembahasan Implementasi Pedoman Sentra Pemberdayaan Pemuda Desa/Kelurahan berbasis Data Desa Presisi

By Berita Terkini, Pemberdayaan Kepemudaan, Press ReleaseNo Comments

Jakarta (28/6) Desamind Indonesia menghadiri Rapat Pembahasan Implementasi Pedoman Sentra Pemberdayaan Pemuda Desa/Kelurahan berbasis Data Desa Presisi. Rapat yang digelar di lantai 3 Gedung Graha Pemuda Kemenpora RI Pukul 13.00 WIB, dibuka langsung oleh Sekretaris Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Esa Sukmawijaya.

Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dan arahan Presiden pada Peraturan Presiden (PP) Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia, Permenpora Nomor 32 Tahun 2016 tentang Sentra Pemberdayaan Pemuda, Permenpora Nomor 1 Tahun 2018 tentang Strategi, Capaian dan Kurikulum Sentra Pemberdayaan Pemuda, dimana secara kelembagaan, SPP pada tingkat desa harus ditetapkan oleh Bupati. Merujuk arahan dan amanat tersebut, Kemenpora telah menjalin kerjasama dengan IPB University untuk menerapkan inovasi Data Desa Presisi sejak tahun 2021 lalu.

Pak Esa pada sambutannya mengingatkan kembali kepada peserta rapat bahwasannya Pak Menpora pernah berpesan bahwa dalam disetiap kota/kabupaten minimal ada 1 Sentra Pemuda Desa (SPP) yang akan komparasikan atau dikombinasikan dengan Data Desa Perisisi dan perihal anggaran tentunya akan melibatkan pengambil kebijakan terkait.

Rapat ini membahas mengenai implementasi dari SPP, mulai dari pengambilan datanya sampai manfaatnya, sehingga organisasi kepemudaan seperti Desamind bakal turun andil ke desa.

Data yang dihasilkan berupa identitas dari pemuda yang ada di desa yang meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, data kesehatan, dan sebagainya. Data ini nantinya bakal open access jadi bisa dimanfaatin oleh organisasi pemuda untuk membangun proyek yang sesuai dengan desa yang jadi fokus organisasi tersebut.

Narasumber pada rapat ini yaitu Sofyan Sjaff yang merupakan Wakil Kepala LPP IPB Bidang Pengabdian kepada Masyarakat/Penggagas Data Desa Prestasi. Ada hal menarik yang bisa menjadi periksa untuk kita semua tentang akses perguruan tinggi cukup baik di Indonesia. Akses perguruan tinggi yang cukup baik tidak sejalan dengan masih banyaknya pengangguran di Indonesia. Selain itu bonus demografi dapat menjadi ancaman tersendiri. Harapannya dengan adanya DDP dapat melengkapi pendataan untuk menjawab tujuan bangsa terhadap masalah-masalah data.

Saat ini Data yang dibangun di Indonesia masih menggunakan cara Top-Down bukan Bottom-Up. Kelebihan dari DPP yaitu dapat membantu mengetahui keadaan pemuda yang masih memerlukan bantuan untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan dan bentuk perhatian lainnya. SPP perlu dimaknai sebagai Sense Of Prioritas yang dapat memberi dampak nilai ekonomi bagi masyarakat.

Mewakili Bupati, Kadispora Tapanuli Utara Baharudin Siagian, mengatakan bahwa Data pemuda diperlukan tindak lanjut dari data pemuda yang memerlukan dukungan pengembangan kapasitas. Dukungan ini seperti wirausaha pemuda,sehingga dapat diketahui dengan jelas siapa saja yang menjadi target penerima akses atau layanan bantuan. Oleh karena itu perlunya dilakukan pelatihan-pelatihan dan sosialisasi kepada para pemuda sebagai bagian dari pada fungsi SPP.

Rapat ini dihadiri sebanyak 22 orang peserta yang meliputi Pejabat dan Staf Kemenpora RI (Staf Ahli Bidang Hukum Samsudin, Analis Kebijakan Ahli Utama Imam Gunawan, Asdep Peningkatan IPTEK dan IMTAQ Pemuda Deputi 1 Kemenpora RI H. Amar Ahmad, Kepala Pusat PP-PON Tri Winarno, Asdep Kapasitas Pemuda, Pemuda Zainal Aminin, Asdep Peningkatan Kreativitas Pemuda H. Ibnu Hasan, Kabiro Hubungan Masyarakat dan Hukum Sanusi, Staf Khusus Kreativitas dan Inovasi Kaum Milenial, Alia Sasono, Kabbag Evaluasi dan Penilaian Kinerja Yayat Suyatna, Kabid Pemetaan dan Penelusuran IPTEK Yossi Ahmad Falah) serta Perwakilan Indonesia Stundent and Youth Forum, 3 orang dari IPB, Desamind, Ssayp, OIC Youth Idonesia, Milenial Institute, serta lintas komunitas dan organisasi.

Gambar 2 Nadia Rana Nabila (Associate of Secretariat Desamind) dan Ahmad Luthfi (Associate of Program Development Desamind)

Nadia selaku salah satu perwakilan dari Desamind Indonesa berkata bahwasannya Nadia seneng mengikuti kegiatan ini karena Kemenpora berusaha melibatkan pemuda dalam pembahasan Sentra Pemberdayaan Pemuda (SPP) Desa/Kelurahan dan Desamind diundang untuk ikut pembahasannya.

Harapannya Rapat Pembahasan Implementasi Pedoman Sentra Pemberdayaan Pemuda dapat menjadi langkah maju dalam pengembangan pemuda di Indonesia melalui Data Desa Presisi (pap/nad).

Mind Talk 2.0 di Lereng Merbabu “Aku Guru Terbaik Bagi Anakku di Rumah”

By Berita TerkiniNo Comments

Penulis: Abdul Aziez / Editor: Yulia Susanti

Mind Talk merupakan program rutin Desamind yang diselenggarakan di suatu desa dalam bentuk pelatihan, pemberdayaan, diskusi, sharing, seminar atau talkshow dan sejenisnya dengan mengangkat tema yang disesuaikan dengan kondisi di desa.

Mind Talk 2.0 Hari Pertama di Lereng Merbabu

Setelah sukses di event pertama Mind Talk 1.0 di Desa Sugihan pada tahun 2020, Desamind berkolaborasi dengan Mata Garuda LPDP mengadakan kembali Mind Talk 2.0 di Desa Pogalan Kec. Pakis Kab. Magelang, sebuah desa yang terletak di Lereng Gunung Merbabu. Kegiatan ini juga didukung oleh BEM KM Universitas Tidar Magelang. Meski memiliki keindahan alam di desa tersebut menyimpan sebuah permasaslah serius di masa pandemi Covid-19 yaitu soal pendidikan. Sinyal internet yang tidak memadai menjadi salah satu penghambat belajarnya anak-anak di desa Pogalan. Mengingat, anak-anak sekolah saat ini diarahkan sekolah dari rumah secara virtual. Sedangkan guru tidak bisa memantau secara langsung para anak didiknya yang membuat siswa kesulitan dalam mengumpulkan tugas. Apalagi, para orang tua lebih sibuk bertani sehingga kurang mengontrol penggunaan gawai anak-anaknya.

Mind-Talk 1.o Hari Pertama Bersama Warga Lereng Merbabu

Hal itu yang melatarbelakangi Desamind dan Mata Garuda LPDP mengadakan kegiatan Mindtalk 2.0 bertajuk “Aku Guru Terbaik Bagi Anakku di Rumah” yang diselenggarakan pada Minggu-Senin, 21-22 Februari 2021. Menghadirkan narasumber Dita Puji Rahayu (Dosen Muda IPA Universitas Negeri Yogyakarta yang juga Associate Divisi Community Management Desamind) yang bercerita pengalaman tentang anak desa dengan segala keterbatasannya mampu meraih berbagai beasiswa hingga berhasil menjadi dosen di usia muda. Kami berharap dari cerita dari Dita Puji Rahayu memotivasi para orang tua agar memberikan dorongan kuat pada anaknya untuk menempuh pendidikan tinggi dengan cara mencari beasiswa. Dilanjutkan dengan pembiacara kedua Nawang Diani (Volunteer Yayasan Keluarga Kita) yang memaparkan materi tentang parenting. Hari pertama dihadiri oleh 30 ibu rumah tangga yang antusias bertanya.

Ahmad Luthfi dan Nur Kholifah Bersama anak-anak Desa Pogalan

Hari berikutnya diadakan Forum Grup Discussion (FGD) dengan para pengajar di SDN 3 Pogalan dan SMPN 5 karena menjadi pengajar di daerah tertinggal memiliki tantangan yang sangat berat. Narasumber di hadirkan khusus untuk sharing bersama dalam mencari solusi terbaik dalam inovasi pendidikan di masa pandemi.  Hardika Dwi Hermawan (Dosen PTI Universitas Muhammadiyah Surakarta) memberikan pemahaman kepada para pengajar tentang pola komunikasi antara guru dan murid sehingga murid dapat lebih tertarik dalam mempelajari materi, dan pemanfaatan teknologi berbasi low tech environment untuk memudahkan dalam pemberian materi pada siswa. Kegiatan FGD dihadiri sekitar 20 guru.

Mind-Talk 2.0 Hari Kedua Forum Group Discussion

Desamind berharap kegiatan seperti ini terus berlangsung untuk mengurangi disparitas kualitas pembelajaran diwilayah yang jauh dari akses dan terdampak pandemi.

Pengumuman Lima Peserta Lolos Beasiswa Desamind 1.0

By Beasiswa Desamind, Berita Terkini, Program Unggulan DesamindNo Comments

Beasiswa Desamind 1.0 Tahun 2020 dibuka pada awal bulan Agustus 2020 hingga akhir September 2020. Beasiswa Desamind 1.0 dipersembahkan khusus bagi mahasiswa yang berasal dari Desa di Seluruh Indonesia namun sedang menempuh studi S1/Diploma di PTN/PTS di Solo Raya dan DIY. Sejak dua bulan pendaftaran dibuka, 409 mahasiswa mendaftar program tersebut yang kemudian dipilih menjadi 16 orang finalis yang maju di babak substansi untuk kemudian dipilih lima orang terbaik untuk menjadi awardee Beasiswa Desamind 1.0. Acceptance rate (presentase penerimaan) Beasiswa Desamind 1.0 hanya 1,2%, menunjukan betapa ketatnya proses yang dilalui para penerima.

Seleksi tahap pertama adalah seleksi administrasi dan validasi data. Bagi peserta yang lengkap dan lolos administrasi dan validasi data, peserta akan masuk ke bagian penilaian berkas, termasuk grand desain program pengabdian yang dilakukan oleh lima tim penilai. Selanjutnya diperoleh 16 nama finalis yang lolos tahap substansi yang akan mengikuti tahap wawancara. Tahap wawancara dilakukan oleh tiga orang juri yaitu Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc(ITE), Evi Lesatari, B.Ed, dan Zakky Muhammad Noor, S.E secara online. Ketiga juri tersebut menilai grand desain dan juga karakter diri dari para calon penerima Beasiswa Desamind 1.0.

Proses seleksi tahap Akhir dengan salah satu calon Penerima Beasiswa Desamind.10

Para penerima Beasiswa Desamind 1.0 ini nantinya tidak hanya mendapatkan uang saku bulanan selama satu tahun penuh, namun mereka juga akan mendapatkan dana program bantuan pengabdian untuk grand desain yang telah diajukan. Selain itu, penerima Beasiswa Desamind 1.0 juga berhak mengikuti Leadership Camp, mendapat mentor untuk program pengabdian, mengikuti beragam kelas pengembangan, serta mengikuti program-program unggulan Desamind lainnya.

Berikut lima nama yang berhasil lolos Beasiswa Desamind 1.0:

  1. Aan Munandar mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta (UPNYK) berasal dari Desa Sendangsari, Yogyakarta.
  2. Alfiana Eka Priyanika mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), berasal dari Desa Jombor, Kab. Klaten.
  3. Aulia Syifa Ardiati mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Yogkakarta (UPNYK) berasal dari Desa Adipala, Kabupaten Cilacap.
  4. Bagas Primandaru mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), berasal dari Desa Trikarso Kab. Kebumen.
  5. Emi Triani mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), berasal dari Desa Sambon, Kab. Boyolali.

Berpegang pada kutipan Bung Hatta “Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, Tapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di Desa.” Desamind berusaha untuk membangun rasa optimis dalam diri setiap pemuda/i untuk bergerak bersama memajukan bangsa lewat akar rumput yaitu desa.

Desamind! Ingat Bangsa, Ingat Desa!