Skip to main content
Tag

#PemberdayaanMasyarakat

VOLUNTALK Aksiberbagi.com: Ketika Nongkrong Menjadi Ruang Belajar Kerelawanan

By Berita Terkini, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta – Aksiberbagi.com menghadirkan ruang belajar kerelawanan melalui VOLUNTALK “Dari Pengabdian Menuju Perubahan” yang digelar pada Sabtu (15/8/2026) di Nusantara Tea House, Surakarta. Mengusung konsep diskusi santai di ruang nongkrong, kegiatan ini mempertemukan Didie Putri, Head of Remote Area CT ARSA Foundation, dan Hardika Dwi Hermawan, President Director of Desamind Indonesia Foundation, untuk berbagi pengalaman tentang pengabdian, realitas masyarakat rural, serta pentingnya membangun empati dalam menciptakan perubahan.

VOLUNTALK dikemas dalam suasana informal untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda. Melalui diskusi dan berbagi pengalaman, peserta diajak melihat kerelawanan tidak hanya sebagai aktivitas untuk membantu orang lain, tetapi juga sebagai proses belajar untuk memahami persoalan sosial, membangun kepedulian, memperluas jejaring, dan menemukan ruang untuk berkontribusi.

Gambar 1. Sesi Berbagai Pengalaman dari Para Narasumber

Dalam kesempatan tersebut, Didie Putri membagikan pengalamannya ketika terjun langsung ke berbagai wilayah rural. Pengalaman di lapangan memperlihatkan kepadanya bahwa masih terdapat masyarakat yang menghadapi persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan pangan hingga sulitnya memperoleh akses pendidikan.

Didie menceritakan pengalamannya bertemu dengan anak-anak yang hidup dalam kondisi serba terbatas. Di sejumlah wilayah, ia menemukan anak yang bahkan harus menjalani pagi hanya dengan minum kopi karena tidak memiliki makanan untuk sarapan. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan di wilayah rural tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan fasilitas, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar dan kesempatan anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Ketika kita turun ke daerah rural, kita akan melihat realitas yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Masih ada anak-anak yang kelaparan, ada yang sarapan hanya dengan minum kopi. Akses pendidikan juga sangat sulit. Dari situ kita belajar bahwa persoalan masyarakat itu sangat kompleks dan tidak bisa kita lihat hanya dari satu sisi,” ujar Didie.

Menurut Didie, pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa kerja pengabdian membutuhkan kepekaan terhadap kondisi masyarakat. Relawan tidak cukup hanya datang dengan keinginan untuk membantu, tetapi perlu memahami konteks dan kebutuhan masyarakat sebelum menentukan bentuk kontribusi yang diberikan.

Berinteraksi langsung dengan masyarakat juga membuat seseorang memahami bahwa persoalan sosial tidak selalu dapat diselesaikan melalui pendekatan yang sama. Setiap wilayah memiliki tantangan, karakter masyarakat, serta kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kehadiran di lapangan menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman sekaligus kepedulian terhadap kondisi masyarakat.

Sementara itu, Hardika Dwi Hermawan membagikan perspektif mengenai pentingnya membangun empati dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Menurutnya, kegiatan yang dikerjakan seseorang seharusnya tidak hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga memiliki dampak positif bagi orang lain.

“Ketika kita mengerjakan sesuatu, jangan hanya berpikir apa dampaknya bagi diri kita. Bangun empati, karena apa yang kita kerjakan seharusnya juga memberikan dampak bagi orang lain. Dari empati itu kita bisa memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat dan kemudian menentukan apa yang bisa kita lakukan,” kata Hardika.

Pengalaman Hardika dalam membangun gerakan kepemudaan melalui Desamind turut membentuk pandangannya mengenai peran anak muda dalam menjawab persoalan sosial. Melalui berbagai inisiatif berbasis masyarakat, Desamind mendorong generasi muda untuk mengambil peran sebagai local heroes yang mampu mengembangkan potensi di lingkungan masing-masing.

Bagi Hardika, menjadi anak muda bukan hanya tentang mengembangkan kapasitas diri. Pengetahuan, energi, dan kesempatan yang dimiliki juga dapat diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu, empati menjadi penting agar seseorang mampu melihat persoalan bukan hanya dari sudut pandang dirinya sendiri, tetapi juga dari perspektif orang lain yang terdampak.

“Menjadi anak muda bukan hanya tentang bagaimana kita berkembang untuk diri sendiri. Ada tanggung jawab sosial di dalamnya. Ketika kita memiliki pengetahuan, energi, dan kesempatan, pertanyaannya adalah bagaimana semua itu bisa kita gunakan agar orang lain juga merasakan manfaatnya,” lanjut Hardika.

Pertemuan kedua narasumber tersebut memberikan gambaran bahwa pengabdian memiliki banyak bentuk. Anak muda dapat mengambil peran melalui pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kemanusiaan, teknologi, lingkungan, maupun berbagai inisiatif lain yang berangkat dari persoalan di sekitarnya.

Konsep VOLUNTALK yang memadukan diskusi dengan ruang nongkrong menjadi salah satu pendekatan aksiberbagi.com untuk memperkenalkan isu kerelawanan melalui ruang yang lebih informal. Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan praktisi yang memiliki pengalaman di lapangan.

Gambar 2. Para Relawan Ekspedisi Merdeka Berbagi Aksiberbagi

Salah satu peserta, Silvi Aliya Sakina, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, konsep VOLUNTALK memberikan alternatif ruang bagi generasi muda untuk memperoleh pengetahuan sekaligus bersosialisasi.

“Ini adalah salah satu pendekatan yang dibutuhkan kami. Selain memang bisa nongkrong di kafe, tetapi juga dapat ilmu berbasis kerelawanan yang ternyata sangat dibutuhkan oleh generasi kami (Gen Z),” ujar Silvi.

Menurut Silvi, pendekatan tersebut membuat pembelajaran mengenai kerelawanan terasa lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Ruang informal juga memungkinkan peserta untuk berdiskusi secara lebih terbuka dan bertukar pengalaman dengan orang-orang yang memiliki perhatian terhadap isu sosial. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa proses belajar mengenai kerelawanan tidak selalu harus berlangsung dalam ruang formal. 

Percakapan, perjumpaan, dan cerita pengalaman langsung dari mereka-mereka yang sering terjun di dunia kerelawanan dapat menjadi bagian dari proses kami untuk membentuk kepedulian serta mendorong anak muda untuk mengambil peran di masyarakat,” pungkas Silvi.

Author: Ahmad Zamzami

Monitoring dan Evaluasi II Beasiswa Desamind 5.0: Mengawal Inovasi Menjadi Solusi Berkelanjutan bagi Desa

By Beasiswa Desamind, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta, –  Desamind Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak pemimpin muda yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui penyelenggaraan Monitoring dan Evaluasi (Monev) II Beasiswa Desamind 5.0 pada Sabtu (25/7). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus pembelajaran bagi para awardee dalam mengembangkan proyek pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Monev merupakan bagian penting dari proses pendampingan Program Beasiswa Desamind. Tidak hanya menjadi sarana untuk menilai capaian program, kegiatan ini juga menjadi forum refleksi bagi para penerima beasiswa untuk mengidentifikasi tantangan, menyusun strategi perbaikan, serta memperkuat keberlanjutan program yang tengah dijalankan bersama masyarakat.

President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, menegaskan bahwa program Beasiswa Desamind dirancang bukan sekadar memberikan dukungan pendanaan kepada mahasiswa, tetapi juga membangun ekosistem kepemimpinan sosial yang mampu melahirkan agen perubahan di desa.

“Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu menciptakan perubahan yang dirasakan masyarakat serta dapat terus berjalan setelah program berakhir. Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi ruang belajar bagi setiap awardee untuk terus menyempurnakan program yang mereka jalankan,” ujar Hardika.

Sesi monev dipandu oleh moderator dengan menghadirkan tiga panelis dari berbagai bidang keahlian, yaitu Ahmad Zamzami selaku Vice Director of Public Relations Division Desamind, Mohammad Rifli Mubarak selaku Climate & Sustainability Researcher ECADIN, serta Anggun S. Rahmi selaku Associate Scholarship Division Desamind. Ketiganya memberikan evaluasi secara komprehensif terhadap perkembangan masing-masing program berdasarkan kesesuaian antara perencanaan dan implementasi, keterlibatan masyarakat, efektivitas penggunaan sumber daya, inovasi, potensi keberlanjutan, hingga peluang pengembangan jejaring kemitraan.

Gambar 1. Sesi Tanggapan Program oleh Para Panelis

Mohammad Rifli Mubarak menilai bahwa berbagai program yang dipresentasikan telah menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membaca persoalan lokal dan menerjemahkannya menjadi solusi yang relevan. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut dapat terus berkembang bersama masyarakat.

“Seluruh program yang dipresentasikan memiliki potensi untuk memberikan dampak yang nyata karena berangkat dari kebutuhan masyarakat. Ke depan, yang perlu diperkuat adalah strategi keberlanjutan, pengukuran dampak, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar manfaat program tidak berhenti ketika masa beasiswa selesai,” jelas Rifli.

Pada sesi presentasi, para awardee memaparkan berbagai inovasi yang telah diimplementasikan di desa dampingan. Beragam program tersebut menunjukkan bagaimana generasi muda mampu menghadirkan solusi atas persoalan lokal melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan potensi desa, serta inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan.

Aprila Kusuma Dewi mempresentasikan PEPAYA CHIPSY, sebuah program pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan pepaya menjadi keripik di Desa Bumirejo, Kabupaten Kulon Progo. Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui pelatihan produksi, pengemasan, dan pemasaran produk.

Di bidang pendidikan, Wawan Sulaeman menghadirkan Sekolah Nusantara, sebuah program edukasi kesehatan reproduksi dan perlindungan anak di MI Al-Bahja, Kabupaten Subang. Program ini mengedukasi anak-anak mengenai perlindungan diri, batasan tubuh, dan pencegahan kekerasan seksual melalui pendekatan yang komunikatif dan sesuai dengan usia peserta didik.

Sementara itu, Bayu Hardito mengembangkan MAGGOVATE (Maggot Innovation for Sustainable Village) di Desa Bringkang sebagai solusi pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. Program tersebut memanfaatkan limbah organik sebagai media budidaya maggot untuk pakan ikan serta mulai mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) guna mendukung proses monitoring budidaya.

Inovasi lain dipresentasikan oleh Ruhillah Khadijah El Basri melalui program Duck Value Enhancement, yang berfokus pada peningkatan nilai ekonomi telur bebek melalui inovasi produk aneka rasa, pengemasan yang lebih menarik, serta penguatan strategi pemasaran produk lokal di Desa Prasung.

Adapun Anisatul Himmah mengembangkan Sentra TOGA Kalibaru Kulon, sebuah program yang mengoptimalkan pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai sarana edukasi kesehatan sekaligus mendorong lahirnya peluang usaha berbasis produk herbal bagi masyarakat.

Selama proses monitoring, para panelis memberikan berbagai rekomendasi untuk memperkuat kualitas program, mulai dari penyusunan indikator keberhasilan yang lebih terukur, peningkatan partisipasi masyarakat, penguatan strategi keberlanjutan pasca program, hingga perluasan jejaring kolaborasi dengan pemerintah desa, perguruan tinggi, UMKM, dan sektor swasta. Peserta juga didorong untuk memperkuat dokumentasi, publikasi, serta pengukuran dampak sosial sebagai bentuk akuntabilitas pelaksanaan program.

Diskusi berlangsung interaktif dan konstruktif. Selain memperoleh masukan dari panelis, para awardee juga saling berbagi pengalaman mengenai strategi pelaksanaan program di lapangan. Proses ini menjadikan monitoring dan evaluasi sebagai ruang belajar bersama yang memperkaya perspektif sekaligus memperkuat kualitas implementasi program di masing-masing daerah.

Gambar 2. Foto Bersama Sesi Graduation

Melalui Monev II Beasiswa Desamind 5.0, Desamind Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mendampingi mahasiswa menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di desa. Pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada pemberian bantuan pendanaan, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas kepemimpinan, inovasi sosial, manajemen program, dan strategi keberlanjutan agar setiap inisiatif yang lahir mampu terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Beragam inovasi yang dipresentasikan dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan solusi yang kontekstual sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui proses pendampingan yang berkelanjutan, Desamind juga berharap setiap program tidak hanya memberikan manfaat selama masa implementasi, tetapi juga mampu tumbuh menjadi model pemberdayaan masyarakat yang adaptif, berkelanjutan, dan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

Author: Kiki Irafa Candra

Editor: Ahmad Zamzami

Cetak 108 Local Heroes, Desamind Indonesia Sukses Gelar Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist

By Berita Terkini, Press Release

Surakarta, 20 Juni 2026 – Di tengah berbagai tantangan pembangunan desa yang semakin kompleks, mulai dari isu lingkungan, ketimpangan sosial, hingga transformasi digital. Oleh karena itu, kebutuhan akan hadirnya generasi muda yang mampu menjadi penggerak perubahan semakin mendesak. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Sekolah Local Heroes by Desamind Indonesia sukses menyelenggarakan program “Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist”. Pelatihan intensif ini dirancang untuk mencetak calon pemimpin muda dan praktisi pemberdayaan masyarakat desa yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi desa-desa di Indonesia.

Program ini menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium sosial bagi para mahasiswa, pemuda, aktivis, pegiat desa, dan siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan masyarakat. Tidak sekadar menawarkan teori, Bootcamp Sekolah Local Heroes Desamind 2026 ini mengajak peserta memahami persoalan desa secara langsung, memetakan potensi lokal, serta merancang program pemberdayaan yang berorientasi pada dampak jangka panjang dan keberlanjutan.

Mengusung pendekatan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), program ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan strategis yang dibutuhkan untuk menjadi agen perubahan di komunitasnya masing-masing. Melalui pembelajaran yang aplikatif ini, peserta diajak melihat desa bukan sebagai wilayah yang tertinggal. Sebaliknya, desa dilihat sebagai ruang tumbuh bagi berbagai inovasi sosial desa yang mampu menjawab tantangan masa depan.

“Pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur. Yang jauh lebih penting adalah membangun kapasitas manusianya. Ketika generasi muda memiliki kapasitas, kepedulian, dan kemampuan untuk mengorganisasi masyarakat, maka perubahan yang berkelanjutan akan lebih mudah diwujudkan,” ungkap Hardika Dwi Hermawan selaku President Director dalam sambutannya.

Belajar dari Praktik dan Capaian Luar Biasa Peserta

Kurikulum dalam Bootcamp Sekolah Local Heroes Desamind 2026 dirancang dengan orientasi penuh pada kebutuhan nyata di lapangan. Peserta mempelajari berbagai aspek penting dalam pemberdayaan masyarakat desa, mulai dari pemahaman tentang SDGs Desa, tantangan pembangunan berkelanjutan, kepemimpinan pemuda, gerakan komunitas. Selain itu, mereka belajar teknik penelitian sosial serta praktik social mapping sebagai dasar penyusunan program yang tepat sasaran.

Selanjutnya, peserta mendapatkan pembekalan intensif terkait perencanaan program sosial desa. Mereka juga dibekali strategi kampanye digital dan pemanfaatan digital tools. Di samping itu, terdapat materi teknik monitoring, evaluasi, dan pengukuran dampak program. Seluruh proses pembelajaran ini ditutup dengan penyusunan final project. Kemudian, hasilnya dipresentasikan di hadapan mentor dan praktisi.

Melalui pendekatan dari seluruh rangkaian tersebut, pelatihan ini berhasil meluluskan 108 peserta dari berbagai daerah, sebanyak 95% peserta dinyatakan Lulus dengan predikat Sangat Baik, sebuah angka yang membuktikan komitmen tinggi dari para calon spesialis pemberdayaan masyarakat ini.

Apresiasi Peserta dan Proyek Sosial Terbaik 2026

Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi selama program, panitia penyelenggara Bootcamp Sekolah Local Heroes mengumumkan nama-nama peserta serta inovasi sosial desa terbaik dalam angkatan ini:

  • Peserta Terbaik 1: Andhika Januardyh (Kota Tarakan, Kalimantan Utara)
  • Peserta Terbaik 2: Marco Timothy Manurip (Surabaya, Jawa Timur)
  • Proyek Sosial Terbaik 1: Muhammad Fajar Firdaus – Handil Bakti Eco-Digital Village (Handil Bakti, Kalimantan Selatan)
  • Proyek Sosial Terbaik 2: Anak Agung Istri Agung Adnyani – Desa Mandiri Pangan (Kelurahan Bitera, Provinsi Bali)

Membangun Jejaring Penggerak Desa dan Ekosistem Kolaboratif

Salah satu nilai tambah dari Bootcamp Sekolah Local Heroes ini adalah kesempatan untuk membangun jejaring lintas daerah di Indonesia. Melalui diskusi kelompok, studi kasus, dan refleksi mendalam, para peserta berhasil membentuk ekosistem kolaboratif yang kuat untuk mendukung aksi sosial mereka di masa depan. 

Di era digital yang terintegrasi, keberhasilan pembangunan masyarakat tidak lagi ditentukan oleh kerja individu, melainkan oleh kekuatan sinergi multitaraf. Oleh karena itu, bootcamp ini tidak hanya fokus pada pengembangan kompetensi personal, melainkan juga pada pembentukan komunitas pembelajar (community of practice) yang saling menguatkan antar-wilayah.

Metode Pelaksanaan yang Fleksibel dan Didukung Mitra Strategis

Program ini sukses dilaksanakan secara daring menggunakan kombinasi metode synchronous dan asynchronous learning melalui platform Zoom dan Learning Management System (LMS) Sekolah Local Heroes. Fleksibilitas ini memungkinkan para pemuda dari pelosok negeri untuk tetap berpartisipasi aktif tanpa mengorbankan aktivitas utama mereka.

Kesuksesan agenda besar ini tidak lepas dari dukungan penuh para mitra strategis yang memiliki komitmen serupa terhadap pembangunan SDM Indonesia, antara lain Danantara Indonesia, Pertamina Foundation, Desamind Research and Training Center, serta Gress Tropika Fruitindo.

Menyiapkan Local Heroes untuk Indonesia Masa Depan

Lebih dari sekadar pelatihan biasa, program ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan kepemimpinan sosial Indonesia. Desa membutuhkan lebih banyak tangan-tangan terampil yang mampu membaca persoalan secara kritis, mengorganisasi potensi lokal, serta menghadirkan solusi yang berdampak luas.

Melalui rilisnya angkatan baru ini, Desamind Indonesia berharap para alumni dapat menjadi Local Heroes sejati di daerahnya masing-masing — menghubungkan teori akademik dengan aksi nyata di lapangan, serta mentransformasikan pembangunan desa menjadi gerakan kolektif menuju Indonesia yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.

Karena setiap perubahan besar selalu dimulai dari komunitas yang bergerak. Dan komunitas yang bergerak, selalu dimulai dari satu orang yang berani mengambil langkah pertama.

Penulis: Kiki Irafa

Editor: Yesi Rahma Mustika

 

Selamat! 108 Peserta dari Berbagai Daerah Indonesia Berkesempatan Ikuti Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist

By Pengumuman, Press Release

Surakarta — (27/05) Sebanyak 108 peserta dari berbagai daerah, institusi, komunitas, organisasi, perguruan tinggi, hingga sektor profesional di Indonesia resmi terpilih untuk mengikuti Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist yang akan dilaksanakan secara daring pada 31 Mei–14 Juni 2026. Program ini merupakan pelatihan intensif berbasis Rural Community Empowerment Project dan inovasi sosial yang diselenggarakan oleh Sekolah Local Heroes Desamind Indonesia sebagai bagian dari Laboratorium Sosial Penggerak Desa Batch 2 yang didukung oleh Pertamina Foundation.

Bootcamp ini dirancang sebagai ruang pembelajaran kolaboratif bagi generasi muda, penggerak komunitas, mahasiswa, serta aktor pembangunan masyarakat untuk memperkuat kapasitas dalam menghadirkan solusi sosial yang kreatif, terukur, dan berkelanjutan bagi desa dan komunitas. Melalui pendekatan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), design thinking, social innovation, community research and mapping, hingga pengembangan proyek sosial berkelanjutan, peserta akan dibekali kemampuan untuk memahami persoalan masyarakat sekaligus merancang program yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Tingginya antusiasme peserta dari berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan meningkatnya perhatian generasi muda terhadap isu pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat. Para peserta yang lolos berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari mahasiswa, pegiat sosial, organisasi kepemudaan, komunitas desa, relawan, hingga profesional dari berbagai lembaga dan perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan berkelanjutan.

Selama pelaksanaan bootcamp, peserta akan mengikuti serangkaian materi dan pendampingan yang mencakup:

  1. SDGs Desa dan Tantangan Pembangunan Berkelanjutan
  2. Youth Leadership and Community Movement
  3. Community Research & Social Mapping
  4. Perencanaan Program dan Proyek Sosial Desa
  5. Digital Tools & Social Campaign
  6. Monitoring, Evaluation, and Impact Measurement
  7. Final Project & Pitching Session.

Setelah pengumuman ini, seluruh peserta akan melaksanakan pertemuan pertama pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 15.30–17.30 WIB secara daring melalui Zoom Meeting. Pertemuan perdana tersebut akan menjadi ruang pengenalan program sekaligus pembelajaran awal mengenai SDGs Desa dan kepemimpinan pemuda dalam pembangunan masyarakat berkelanjutan.

Desamind Indonesia Gelar FGD Penyempurnaan Kurikulum Beasiswa Berbasis DACUM

By Beasiswa Desamind, Press Release

Surakarta — Desamind Indonesia menggelar rangkaian Focus Group Discussion (FGD) penyempurnaan Kurikulum Beasiswa Desamind pada Minggu (15/3) dan Sabtu (2/5) sebagai upaya memperkuat sistem pembinaan sekaligus meningkatkan dampak program bagi masyarakat desa. Kegiatan ini melibatkan pihak internal serta panelis eksternal dari kalangan praktisi pemberdayaan masyarakat dan pengelola program beasiswa.

Rangkaian FGD tersebut merupakan bagian dari evaluasi program beasiswa berbasis proyek sosial yang telah dijalankan Desamind selama lima tahun terakhir. Dalam proses penyusunannya, Desamind menggunakan metode Developing A Curriculum (DACUM), yakni pendekatan pengembangan kurikulum yang berorientasi pada praktik nyata dan kebutuhan lapangan.

FGD pertama diselenggarakan pada Minggu (15/3) dengan melibatkan pengurus, alumni beasiswa, mentor, dan penerima Beasiswa Desamind. Pada tahap ini, peserta bersama-sama mengidentifikasi berbagai aktivitas utama yang dilakukan penggerak perubahan di desa dalam menjalankan program sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Diskusi difokuskan pada identifikasi tanggung jawab, proses kerja, serta aktivitas utama penggerak desa. Melalui pendekatan DACUM, FGD pertama menghasilkan pemetaan kompetensi berupa enam duty dan 23 task yang menggambarkan peran Desamind Social Impact Leader dalam praktik pengembangan masyarakat desa.

Sebagai tahap lanjutan, Desamind Indonesia kemudian menyelenggarakan FGD kedua pada Sabtu (2/5) untuk memvalidasi, menyempurnakan, dan memperkuat draft DACUM Chart yang telah dihasilkan pada tahap sebelumnya.

FGD kedua menghadirkan sejumlah panelis eksternal, yaitu Iqbal Nurpriyanto, Sekretaris Desa Tunjungsari, Pekalongan; Aulia Pradipta, Founder Creafo ID; Intan Nisaaul Chusna dari Pertamina Foundation; serta Hanif M. Ibrahim, Founder Bumi Scholar.

Gambar 1. Analisis Desamind Social Impact Leader dalam Praktik Pengembangan Masyarakat Desa.

Melalui forum ini, para panelis memberikan masukan terkait relevansi duty dan task dengan kondisi lapangan, kelayakan implementasi bagi awardee, serta penguatan metode dan kompetensi yang dibutuhkan dalam pengembangan masyarakat desa.

Hardika Dwi Hermawan, Founder serta President Director Desamind Indonesia, menyampaikan bahwa pembaruan kurikulum dilakukan untuk memastikan program beasiswa tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan desa saat ini.

“Desamind sudah lima tahun memberikan beasiswa berbasis proyek sosial. Saat ini kami sedang mengevaluasi kurikulum beasiswa kami, apakah masih relevan atau perlu perbaikan,” ujarnya.

Menurut Hardika, penggunaan metode DACUM bertujuan agar kurikulum yang disusun lebih terstruktur, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dengan demikian, program beasiswa tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga membentuk awardee menjadi local hero dan local champion di desa masing-masing.

Sementara itu, Hanif M. Ibrahim turut mengapresiasi konsistensi Desamind dalam membina generasi muda yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa.

“Pemberdayaan masyarakat itu hal yang seru, unik, tetapi penuh tantangan. Kehadiran Desamind menjadi katalisator perubahan di desa, sehingga saya sangat mengapresiasi konsistensi Desamind dalam menjaga dan mengembangkan para local heroes untuk memberikan kebermanfaatan dan dampak bagi masyarakat desa,” pingkas Hanif.

Author: Astriyanti

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Open Recruitment Inisiator Chapter 2026, Ajak Pemuda Jadi Penggerak Pembangunan Desa

By Pengumuman, Press Release

Surakarta – Desamind Indonesia kembali membuka kesempatan bagi generasi muda untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan desa melalui program Open Recruitment Inisiator Desamind Chapter 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan gerakan pemberdayaan berbasis desa sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak local heroes di berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai organisasi non-profit berbasis kesukarelawanan, Desamind Indonesia berfokus pada penguatan kapasitas pemuda dan masyarakat desa melalui pendekatan bottom-up. Hingga saat ini, Desamind telah memiliki 16 chapter yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dengan ratusan pengurus dan ribuan anggota komunitas yang terlibat dalam berbagai program pemberdayaan.

Melalui program inisiasi chapter, Desamind membuka ruang bagi individu maupun kelompok untuk membentuk cabang resmi di tingkat kabupaten. Chapter ini nantinya berperan sebagai mitra strategis dalam menjalankan program-program pengembangan desa, seperti pelatihan, pembinaan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Tahapan Inisiasi Desamind Chapter 2026

Proses inisiasi dilakukan secara bertahap dan selektif guna memastikan kualitas serta keberlanjutan chapter yang terbentuk. Adapun tahapan yang harus dilalui peserta meliputi:

  • Open Recruitment dan Pengumpulan Berkas: 15–30 April 2026
  • Pengumuman Tahap 1: 1–3 Mei 2026
  • Technical Meeting Grand Design: 6 Mei 2026
  • Seleksi Grand Design: 7–16 Mei 2026
  • Pengumuman Tahap 2: 24 Mei 2026
  • Brainstorming dan Masa Inkubasi: 27 Mei 2026
  • Seleksi Tahap 3: 28 Mei–25 Juni 2026
  • Pengumuman Chapter Terpilih: 1 Juli 2026
  • Pelantikan Chapter 2026/2027: 5 Juli 2026

Selain seleksi administrasi, peserta juga akan menyusun grand design program serta mengikuti masa inkubasi yang berisi pengenalan organisasi, arah kebijakan, serta penguatan kapasitas sebagai inisiator gerakan sosial di tingkat desa.

Ketentuan dan Persyaratan Inisiator

Program ini terbuka bagi masyarakat yang memiliki semangat pengabdian dan visi yang sejalan dengan Desamind. Adapun ketentuan utama meliputi:

  • Memiliki visi dan misi yang sejalan dengan Desamind
  • Lingkup chapter berada pada wilayah administratif kabupaten
  • Belum terdapat Desamind Chapter di kabupaten yang diinisiasi
  • Bersedia mengikuti seluruh rangkaian tahapan seleksi

Sementara itu, ketentuan bagi tim inisiator adalah sebagai berikut:

  • Terdiri dari 3–5 orang
  • Minimal 2 orang berusia ≥20 tahun atau mahasiswa semester 5, serta memiliki pengalaman organisasi minimal 1 tahun
  • Berdomisili atau berkomitmen beraktivitas di wilayah yang diinisiasi minimal 1 tahun ke depan
  • Anggota tim dapat berasal dari berbagai daerah, selama memiliki komitmen pada wilayah yang diusulkan

Akses Pendaftaran dan Panduan

Pendaftaran dilakukan secara daring melalui tautan berikut:
🔗 bit.ly/InisiasiChapter2026

Panduan lengkap terkait program, persyaratan, serta mekanisme seleksi dapat diakses melalui:
🔗 bit.ly/PanduanInisiasiChapter2026

Informasi lebih lanjut juga dapat diperoleh melalui narahubung:

  • Melinda (Chapter Division): +62 895-3899-95899
  • Linda (Chapter Division): +62 812-9102-7654

Gambar 1. Pamflet Informasi Open Recruitment Inisiator Desamind Chapter 2026.

Desamind menegaskan bahwa seluruh proses inisiasi tidak dipungut biaya dalam bentuk apa pun. Program ini tidak hanya menjadi ajang seleksi, tetapi juga ruang pembelajaran bagi pemuda untuk memahami pembangunan desa secara komprehensif. Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas, Desamind mendorong lahirnya pemuda yang mampu merancang solusi nyata sesuai kebutuhan masyarakat.

Melalui inisiatif chapter, Desamind berharap semakin banyak generasi muda yang mengambil peran aktif dalam pembangunan desa, tidak hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai penggerak perubahan di wilayahnya masing-masing.

Author: Ahmad Zamzami

Semarakkan Ramadhan, Angkasa Pura Gandeng Desamind Bersihkan 12 Masjid di Boyolali

By Berita Terkini, Press Release

Boyolali — PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Adi Soemarmo berkolaborasi dengan Desamind Indonesia menggelar kegiatan Ramadhan Bersih dan Berkah dengan melakukan aksi bersih-bersih masjid di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu hingga Jumat (8–13/3), dengan melibatkan 30 relawan dari wilayah Soloraya.

Melalui kegiatan ini, relawan melakukan pembersihan di 12 masjid dan musala yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Ngemplak. Aksi bersih-bersih meliputi pembersihan ruang utama masjid, tempat wudu, halaman, serta penataan fasilitas ibadah guna menghadirkan lingkungan yang lebih nyaman bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadan.

Adapun lokasi kegiatan meliputi Masjid Al-Ikhlas di Cepit, Ngargorejo; Masjid Nur Hidayah di Gentan, Sobokerto; Masjid Manhajunadzor di Tegal Pucung, Ngesrep; Masjid Husnul Jami’ di Kanoman, Gagaksipat; Musala Al Barokah di Sanggrahan, Donohudan; Masjid NU di Sadon, Sawahan; Masjid Al-Mukmin di Welar, Pandeyan; Masjid Jami’ Al-Muttaqin di Tambas, Kismoyoso; Masjid Nurul Khasanah di Lemahabang, Dibal; Masjid Al-Hikmah di Sindon; Masjid Al-Mukmin di Batongan, Manggung; serta Masjid Baitul Muslimin di Borongan, Giriroto.

Managing Director Desamind Indonesia, Zakky Muhammad Noor, dalam technical meeting dan pembekalan relawan menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan rumah ibadah, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan semangat kepedulian sosial.

Gambar 1. Technical Meeting dan Pembekalan Relawan

“Melalui kegiatan ini, para relawan diajak untuk berkontribusi secara langsung kepada masyarakat. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan aksi sederhana namun berdampak nyata, seperti menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat ibadah,” ujar Zakky.

Branch Communication, CSR, and Legal Department Head PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Adi Soemarmo, Tyas Ayu Novitasari, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), khususnya bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional bandara.

Menurutnya, kolaborasi dengan komunitas seperti Desamind menjadi langkah penting untuk memperluas dampak kegiatan sosial sekaligus melibatkan generasi muda dalam gerakan kerelawanan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta menghadirkan kenyamanan bagi jamaah dalam menjalankan ibadah selama Ramadan,” ungkap Tyas.

Gambar 2. Para Relawan Membersihkan dan Merapikan Masjid

Salah satu relawan, Afra Lana, mengaku senang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan bersih masjid tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga menjadi amalan baik di bulan puasa.

“Kegiatan ini memberi pengalaman yang berharga bagi kami. Hal sederhana seperti membersihkan masjid ternyata bisa menjadi bentuk ibadah sekaligus kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar,” pungkas Afra.

Author: Ahmad Zamzami

Satu-satunya di Pasuruan, Warga Tambaksari Kenang Peristiwa Langka Jatuhnya Meteor 1975

By Berita Terkini, Desamind Chapter, Press Release

Pasuruan — Desamind Chapter Pasuruan berkesempatan mengikuti kegiatan “Ambal Dumugi” yang diselenggarakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Arjuna Desa Tambaksari untuk mengenang peristiwa langka jatuhnya meteor Tambakwatu pada 14 Februari 1975. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (14/2) sebagai bentuk upaya merawat ingatan kolektif atas fenomena alam yang diyakini menjadi satu-satunya peristiwa jatuhnya meteor di Kabupaten Pasuruan.

Ketua Pokdarwis Arjuna Desa Tambaksari, Misto, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menjaga nilai sejarah agar tetap hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, Ambal Dumugi berarti mengenang kembali datangnya meteor Tambakwatu agar peristiwa tersebut tidak hilang dari ingatan generasi muda.

Acara yang dikemas dalam bentuk tasyakuran tersebut juga menjadi momentum refleksi spiritual bagi warga. Kepala Dusun Tambakwatu, Sumarto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Ia menyebut fenomena alam yang terjadi 51 tahun silam itu sebagai anugerah Tuhan yang patut disyukuri.

“Semoga kegiatan ini membawa berkah, keselamatan, dan ketenteraman bagi warga Desa Tambaksari, khususnya Dusun Tambakwatu,” ungkapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Tambaksari, Holikhati Rohmah, menilai peringatan ini memiliki makna penting bagi identitas desa. Ia menyebut peristiwa yang terjadi merupakan fenomena langka yang memperkaya sejarah lokal.

“Tadi Pak Kasun menyampaikan bahwa Tambaksari bukan hanya ‘banyu langit’, tetapi juga batu yang jatuh dari langit. Ini merupakan anugerah bagi kita,” ujarnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga serta melestarikan lokasi bersejarah tersebut agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Momentum peringatan semakin bermakna dengan kehadiran saksi mata peristiwa tersebut. Doro, warga setempat yang saat kejadian berusia sekitar 15 tahun, mengisahkan detik-detik jatuhnya meteor. Ia melihat langsung benda langit itu melintas dengan cahaya hijau kebiruan dari kejauhan sebelum berubah putih dan menghantam tanah tidak jauh dari ladangnya.

“Kebetulan saya berada di kandang sapi dan lokasinya dekat ladang. Saya melihat cahayanya terang sekali, tetapi waktu itu tidak tahu benda apa yang jatuh,” tuturnya.

Gambar 1. Prosesi “Ambal Dumugi” dengan mendengarkan kisah dari saksi mata, Pak Doro

Menurut Doro, warga sempat mengira sebuah pesawat jatuh. Mereka mencari sumber cahaya tersebut sepanjang malam menggunakan lampu petromak dan senter. Batu meteor baru ditemukan keesokan harinya setelah digali sedalam satu hingga dua meter oleh warga bersama aparat keamanan desa.

Peristiwa yang semula menimbulkan kepanikan itu kini justru menjadi bagian dari kebanggaan kolektif masyarakat Tambaksari. Lima dekade berlalu, kenangan tentang malam langka tersebut tetap hidup dalam ingatan warga.

Ia mengaku bangga karena generasi muda kini berupaya mengangkat kembali peristiwa tersebut sebagai bagian dari sejarah desa.

“Kalau ini mau disejarahkan, saya sangat bangga. Supaya tidak terlupakan dan orang tahu bahwa di Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, pernah terjadi jatuhnya batu meteor,” pungkas Doro.

Author: Mukhammad Thoriq Aziz

Editor: Ahmad Zamzami

Aat Rahmawati Raih UGM Law School Awards 2026 atas Dedikasi Pengabdian di NTT

By Berita Terkini, Press Release

Yogyakarta — Aat Rahmawati, pemudi asal Purbalingga sekaligus Wakil Kepala Desamind Chapter Purbalingga 2024, menerima anugerah UGM Law School Awards 2026 kategori Tokoh Pelopor Berkelanjutan. Penghargaan tersebut diberikan dalam puncak peringatan Dies Natalis ke-80 (Lustrum ke-16) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada Jumat (13/2) di Auditorium Gedung Fakultas Hukum UGM.

Penghargaan ini diberikan atas dedikasi Aat dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui pengabdiannya sebagai aktivis Desamind dan relawan guru muda dalam Program Pi Mengajar (Pijar) 2025 yang diinisiasi CT ARSA Foundation.

Selama satu tahun penuh, Aat mengabdi di SDN 02 Lelogama, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia mendampingi 69 siswa dengan latar belakang akses pendidikan yang terbatas. Tak hanya menjalankan tugas mengajar, Aat juga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan dukungan tambahan bagi siswa, guru, dan orang tua.

Gambar 1. Aat saat mendampingi belajar anak-anak SDN 02 Lelogama

Perjalanan tersebut tidak terlepas dari proses panjangnya di Desamind. Sebagai Wakil Kepala Desamind Chapter Purbalingga, Aat aktif menginisiasi program pemberdayaan, penguatan kapasitas pemuda, serta pengembangan komunitas berbasis desa. Pengalaman memimpin dan mengelola program di Desamind membentuk ketajaman perspektif sosialnya sekaligus memperkuat komitmennya terhadap pendidikan dan pembangunan berkelanjutan.

Menurut Aat, ruang belajar dan praktik sosial di Desamind menjadi bekal penting dalam menjalankan pengabdian di Lelogama.

“Desamind mengajarkan saya melihat desa sebagai ruang tumbuh bersama, bukan sekadar objek program. Dari sana saya belajar membangun kolaborasi dan memahami kebutuhan masyarakat secara partisipatif,” ungkap Aat.

Selama masa pengabdian di Lelogama, Aat dikenal adaptif dan aktif berbaur dengan masyarakat setempat. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan warga, mulai dari diskusi pendidikan hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Kehadirannya tidak hanya memberi dampak akademik, tetapi juga memperkuat semangat belajar dan partisipasi orang tua dalam mendukung pendidikan anak.

Perjalanan satu tahun di Lelogama, menurut Aat, menjadi pengalaman yang membentuk cara pandangnya tentang makna syukur dan pengabdian.

“Di sana saya belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi. Justru dari sanalah semangat untuk terus berbuat lahir,” ujarnya.

Penghargaan yang diterima Aat merupakan sebuah apresiasi dan dukungan Fakultas Hukum UGM kepada mereka yang melaksanakan praktik pengabdian kolaboratif dan berkelanjutan. Sebelumnya, Fakultas Hukum UGM juga telah menggelar Program Pengabdian Unggul di Nusa Tenggara Timur melalui kolaborasi multiple helix bersama Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira (FH Unwira), Desamind Indonesia, serta dukungan Sinarmas Mining. Salah satu lokasi pengabdian program tersebut berada di SDN 02 Lelogama, tempat Aat menjalankan tugasnya.

Gambar 2. Penyuluhan Hukum PKBH UGM di SDN 02 Lelogama

Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.

“Penghargaan ini menunjukkan konsistensi Fakultas Hukum UGM dalam mengapresiasi pihak-pihak yang terus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tutur Prof. Ova Emilia.

UGM Law School Awards merupakan bentuk penghargaan kepada individu yang dinilai berkontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan hukum dan pengabdian berkelanjutan. Pencapaian Aat Rahmawati menjadi bukti bahwa semangat pengabdian generasi muda mampu menghadirkan dampak konstruktif bagi komunitas yang membutuhkan.

Author: Ahmad Zamzami

Bangun Budaya Riset, Desamind Jogja Gelar Workshop Strategi Tembus Jurnal Bereputasi

By Berita Terkini, Desamind Chapter, Press Release

Yogyakarta — Desamind Chapter Yogyakarta menggelar workshop daring “Strategi Jitu Tembus Artikel Reputable” pada Jumat (30/1) melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti 20 peserta dengan mayoritas mahasiswa jenjang S1 sebagai bagian dari upaya membangun budaya riset dan publikasi ilmiah sejak dini.

Workshop dipandu oleh Aldi Firmansyah dengan menghadirkan Rahmat Naufal mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah mempublikasikan artikel di jurnal terindeks Scopus. Dalam pemaparannya, Naufal membagikan strategi praktis menembus jurnal bereputasi, mulai dari menemukan ide riset, membaca peta literatur, hingga memahami proses review jurnal.

Naufal menjelaskan bahwa riset dapat dimulai dari kebiasaan mengkritisi fenomena sosial dan membaca tren isu aktual. Salah satu langkah penting, menurutnya, adalah menemukan research gap atau celah penelitian yang belum banyak dikaji. Untuk itu, peserta diperkenalkan pada penggunaan perangkat lunak VOSviewer guna memetakan perkembangan literatur dan mengidentifikasi peluang kebaruan penelitian.

Selain membahas perumusan masalah dan penyusunan kerangka teori, sesi juga menyoroti pentingnya kesesuaian antara pertanyaan riset dan metode penelitian. Naufal mencontohkan bahwa penelitian eksperimental memerlukan pendekatan laboratorium, sedangkan riset yang mengeksplorasi pengalaman sosial lebih tepat menggunakan wawancara mendalam atau metode kualitatif lainnya.

Tak hanya aspek teknis, peserta juga diajak memahami dinamika publikasi ilmiah, termasuk proses revisi dan kemungkinan penolakan naskah.

 “Penolakan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar untuk memperbaiki kualitas tulisan,” ujar Naufal.

Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Rahmat Naufal

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan seputar pemilihan metode, strategi menentukan jurnal tujuan, hingga membangun kolaborasi lintas disiplin. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat mahasiswa terhadap publikasi ilmiah, sekaligus perlunya ruang belajar yang lebih aksesibel dan aplikatif.

Melalui kegiatan ini, Desamind Chapter Yogyakarta menegaskan komitmennya sebagai wadah pembelajaran kolaboratif dalam mendorong peningkatan kapasitas riset mahasiswa. Ke depan, Desamind Jogja berencana menghadirkan sesi lanjutan berupa pendampingan penulisan artikel hingga simulasi pengiriman naskah ke jurnal bereputasi.

Author: Desamind Chapter Yogyakarta

Editor:  Ahmad Zamzami