Skip to main content

SURAKARTA – Sebanyak 140 siswa kelas X SMA Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta mengikuti pembelajaran ecopreneurship melalui kegiatan Brainstorming Produk Ecopreneurship pada Jumat (16/10). Dalam kegiatan yang merupakan bagian dari Proyek Pelajar Berkemajuan (PPB) tersebut, pihak sekolah menggandeng Desamind Indonesia Foundation untuk menghadirkan pembelajaran kewirausahaan berwawasan lingkungan yang dipadukan dengan praktik pembuatan kokedama.

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.45–11.30 WIB di aula lantai dua SMA Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta ini bertujuan menumbuhkan jiwa wirausaha sekaligus meningkatkan kreativitas siswa dalam mengembangkan ide produk yang memiliki nilai ekonomi dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Materi disampaikan oleh Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.(ITE), Founder sekaligus President Director of the Desamind Indonesia Foundation. Dalam sesi tersebut, siswa diperkenalkan pada konsep ecopreneurship, yakni pendekatan kewirausahaan yang mengintegrasikan penciptaan nilai ekonomi dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Gambar 1. Penyampaian Materi Ecopreneurship olah Hardika Dwi Hermawan

Melalui pendekatan ini, siswa didorong untuk melihat bahwa peluang usaha dapat berangkat dari persoalan dan potensi di sekitar mereka. Kreativitas dalam menghasilkan produk perlu diimbangi dengan pertimbangan mengenai manfaat, kebutuhan pasar, penggunaan sumber daya, serta dampak lingkungan dari kegiatan usaha yang dikembangkan.

Pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi. Para siswa juga berkesempatan mempraktikkan pembuatan kokedama, teknik menanam tanaman yang dibungkus serabut kelapa atau bahan pembungkus lain yang sesuai. Berasal dari tradisi hortikultura Jepang, kokedama menghadirkan alternatif penyajian tanaman hias yang memadukan unsur tanaman, seni, dan desain tanpa menggunakan pot konvensional.

Praktik dipandu Co-fasil, Ahmad Zamzami, Vice Director Public Relation Division Desamind Indonesia Foundation. Sesi ini menjadi sarana bagi siswa untuk mengeksplorasi bagaimana sebuah produk sederhana dapat dikembangkan menjadi peluang usaha kreatif. Kokedama berpotensi dipasarkan sebagai dekorasi ruangan, suvenir, hadiah, maupun produk tanaman hias dengan nilai estetika. Melalui pengembangan desain, pemilihan tanaman, pengemasan, dan strategi pemasaran yang tepat, produk tersebut dapat memiliki nilai tambah sekaligus menjangkau konsumen yang lebih luas.

Di sisi lingkungan, pengembangan produk kokedama juga dapat menjadi pintu masuk untuk membahas penggunaan bahan secara bertanggung jawab, pemilihan tanaman yang sesuai, serta perawatan dan efisiensi penggunaan air. Dengan demikian, siswa tidak hanya diajak menghasilkan produk yang menarik, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana proses produksi dan pemasarannya dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan.

Gambar 2. Hasil Kokedama Siswa 

Ustaz Prayoga selaku penanggung jawab kegiatan (PIC) menyampaikan bahwa pembelajaran berbasis praktik diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan kreativitas dan memahami peluang kewirausahaan secara lebih konkret. Selain itu, kolaborasi antara SMA Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta dan Desamind Indonesia Foundation ini menjadi salah satu upaya menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan pengalaman praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari

“Pengalaman praktik yang diajarkan Desamind dalam pembuatan kokedama dapat menjadi langkah awal atau inspirasi bagi siswa untuk mengenali potensi diri, bekerja secara kreatif, dan melihat peluang usaha dari hal-hal sederhana di sekitar mereka,” ujar Ustaz Prayoga.

Salah satu peserta, Yusuf M. Bajuber, juga menilai bahwa praktik langsung memberikan pengalaman berbeda dalam memahami hubungan antara kreativitas, tanaman hias, dan peluang usaha.

“Dari kegiatan ini, saya belajar bahwa tanaman hias tidak hanya memiliki nilai keindahan, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi produk yang menarik dan memiliki nilai jual. Saya juga mendapat gambaran bahwa memulai usaha dapat berangkat dari ide sederhana yang dikembangkan dengan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan,” ungkap Yusuf.

Author: Ahmad Zamzami