Jagongan merupakan program dari divisi program strategis bertujuan sebagai tempat berdiskusi dan saling tukar pikiran mengenai permasalahan di desa. Kata ‘Jagongan’ berasal diambil Bahasa Jawa “njagong” berarti duduk santai bersama kawan, untuk menjalin hubungan yang erat dan membangun komunikasi yang baik.
Delapan puluh siswa-siswi PKBM Cakra Kecamatan Mrebet hadir dalam Program Seminar dan Pelatihan Literasi Digital Pencegahan Hoaks dan Judi Online yang dilaksanakan di Balai Desa Cipaku. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Forum Group Discussion (FGD) pada pekan sebelumnya 8/11.
desamind.id (26/11)- Mind-Fest sukses diselenggakan selama 2 (dua) hari dari tanggal 25-26 November 2023. Kegiatan ini merupakan program kolaborasi antara Desamind Indonesia dan Indika Foundation sebagai bentuk peningkatan kapasitas perangkat chapter. Kegiatan Mind-Fest dilaksanakan secara daring melalui platformzoom meeting dengan mengusung tema “Peran Anak Muda dan Media Digital dalam Menguatkan Nilai Perdamaian Desa dan Kesukarelawanan”.
Rangkaian kegiatan Mind-Fest pada hari pertama dibuka oleh Vivi Rosian Rahmadika (Associate of Secretary and Finance Division) selaku Master of Ceremony (MC). Kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Abdul Aziez selaku (Director of Chapter Division). Dalam sambutannya, Aziez menyampaikan bahwa Mind-Fest ini adalah program upgrading akhir periode untuk seluruh perangkat Chapter Menjelang demisioner, Aziez juga mengungkapkan bahwa besar harapan program atau kurikulum yang telah dibuat untuk Chapter Desamind bisa selalu diperbaiki agar kedepannya program untuk Chapter Desamind bisa lebih maksimal.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pre-test yang dipandu oleh Aziez dan dilajutkan dengan penyampaian materi pertama dari Yudan Hermawan (Owner Goa Pindul) yang dimoderatori oleh Dewi Fajar Sariningtyas (Vice Director of Scholarship Division) mengenai “Berkarya dari Desa”. Yudan menceritakan awalnya mempunyai keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain. Setelah merantau ke Jakarta, Yudan memutuskan untuk kembali lagi ke desa asalnya. Berawal dari desalah beliau menemukan sebuah inspirasi untuk mengembangkan desa dari potensi apapun yang dimilikinya.
Gambar 1. Penyampaian Materi Berkarya dari desa oleh Yudan
Setelah memahami materi dari Pak Yudan dan melakukan ice breaking, materi selanjutnya adalah “Membangun Semangat Kerelawanan di Desa” yang dibawakan oleh Atrida Hedianti (RCE Yogyakarta). Pada penyampaian materi kedua dipandu oleh Zidni Amaliyatul Hidayah (Wakil Kepala Desamind Chapter Yogyakarta) sebagai moderator. Melalui materi ini, Atrida menjelaskan masih banyaknya anak muda yang terlahir di desa tidak mau kembali lagi ke desanya. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, meliputi: lapangan pekerjaan yang terbatas “hanya” di bidang pertanian karena dari secara terminologi di pedesaan sumber penghasilanya dari sektor pertanian. Selain itu, kesempatan untuk mengembangkan diri yang terbatas karena aktifitas yang ada di desa adalah kehidupan yang sederhana sehingga banyak kaum muda yang tidak tertarik untuk hidup di desa, dan selanjutnya adalah kurang fasilitas pendidikan & kesehatan yang berkualitas.
Atrida menegaskan bahwa dalam menumbuhkan pengembangan ekonomi di desa dibutuhkan sumberdaya anak muda yang inovatif, itelegent, jujur dan berintegritas didalamnya karena menurut Atrida pemuda adalah Agent of Change atau Agen Perubahan yang dimana keberadaan pemuda dengan semangat dan energinya yang akan membawa perubahan di Desa.
Gambar 2. Penyampaian Materi Membangun Semangat Kerelawanan di Desa oleh Atrida
Dengan disampaikannya materi kedua oleh Atrida Hedianti, menandakan Mind-Fest hari pertama telah selesai. Selanjutnya kegiatan diisi oleh Chapter Division dengan menyampaikan informasi kegiatan Mind-Fest hari kedua.
Hari kedua Mind-Fest dibuka oleh Kintan Nur Romadhona (Associate of Chapter Division) selaku Master of Ceremony (MC). Di hari kedua terdapat dua materi yang dibawakan oleh Hilmi Hilmansyah (Koordinator Patriot Desa Kab. Indramayu, Korjen ICCN Media Jawa Barat) dan Alfath Bagus Panuntun (Dosen Politik dan Pemerintahan UGM).
Materi pertama dimoderatori oleh Kinanthi Sekar Nareswari (Associate Scholarship Division). Pada materi pertama, Hilmi Hilmansyah menyampaikan tentang “Membangun Kesadaran dan Kampanye Media Digital yang Positif untuk Kemanjuan Desa”, dalam materi yang disampaikan oleh Hilmi beliau mengatakan bahwa anak muda harus memiliki kesadaran sebagai penggerak desa dan menjadi local heros.
Harapannya anak muda dapat memiliki aksi nyata untuk bisa berdampak kepada masyarakat khususnya masyarakat desa. Selain itu, anak muda dapat mengajak kampanye kolaborasi kepada mitra kolaborator seperti pemerintah desa, pegiat lokal dan perusahaan swasta. Hal tersebut ada erat kaitannya dengan kampanye di media digital dan media sosial sehingga menjadi peluang besar untuk melakukan kolaborasi yang luar biasa untuk kegiatan yang ada di desa.
Gambar 3. Penyampaian Materi Kesadaran dan Kampanye Media Digital yang Positif untuk Kemajuan Desa oleh Hilmi Hilmansyah
Materi kedua disampaikan oleh Alfath Bagus Panuntun dan dimoderatori oleh Syahrul Hilbram Julanar (Associate Creative Media Division). Materi yang dibawakan Alfath mengenai “Kaum Muda Sebagai Agen Perdamaian Desa Ditengah tahun Politik”. Secara rinci Alfath menyampaikan desa bukanlah tempat yang bebas nilai, desa menjadi arena kontestasi dan kaum muda dapat berperan sebagai juru dengar dalam artian desa memiliki subjektifitas, keberpihakan, budaya, culture dan normanya tersendiri sehingga ketika kita kembali ke desa itu sudah memiliki Value.
Gambar 4. Penyampaian Materi Kaum Muda Sebagai Agen Perdamaian Desa Ditengah tahun Politik oleh Alfath
Materi kedua dari Alfath menutup rangkaian kegiatan Mind-Fest 2023 yang diselenggarakan oleh Desamind Indonesia dan Indika Foundation. Semoga kegiatan pengembaran kapasitas chapter dapat terselenggara secara periodik dan memberikan output yang lebih baik.
Kegiatan Mentoring Class bagi para awardee Desamind berPijar telah terlaksana dengan lancar pada Minggu (19/11). Dalam mentoring keempat ini, para awardee dibekali materi mengenai Product Innovation & Funding Strategy dengan narasumber Dias Sunandi, Program Lead of Lestari by Pijar Foundation.
GUNUNGKIDUL (29/10) – Desamind Chapter Gunungkidul, organisasi non-profit bidang sosial kemasyarakatan terus berinovasi dan menghadirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat. Seperti kegiatan yang baru ini diadakan, Desamind Chapter Gunungkidul menyelenggarakan festival Ecoprint pada hari Minggu (29/10) bertempat di pendopo Kalurahan Nglegi.
Kegiatan ini mengundang antusias peserta sebanyak 45 orang anak dari usia 6 hingga 15 tahun dan berkolaborasi dengan Indika Foundation, Desamind Indonesia, Saung Lentera Nglegi, Karang Taruna Wahana Kartika Muda, dan Remaja Masjid (Greinstar).
Festival ecoprint bertujuan untuk memberikan pembekalan keterampilan kepada anak-anak sekitar dalam mengolah bahan alam menjadi kerajinan yang memiliki nilai guna bahkan nilai jual tinggi sebagai bentuk penyelenggaraan literasi finansial. Serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dari pagi hingga siang hari ini dilaksanakan dengan penuh antusias. Kegiatan ini juga menghadirkan permainan menarik, seperti penampilan tari medley nusantara hingga tepuk anti bullying.
Aidinan selaku penanggung jawab acara mengatakan bahwa ecoprint merupakan sebuah teknik mencetak pada kain atau media lain dengan menggunakan pigmen alami dari tanaman. Kegiatan mencetak tersebut menimbulkan motif dari daun dan bunga pada media yang ditempel.
Festival ini menggunakan bahan alam dan setiap peserta dibebaskan untuk berkreasi menggunakan daun dan bunga yang telah dibawa. Peserta membawa macam-macam bahan, di antaranya daun pepaya, bunga pacar banyu, dan daun jarak dan menggunakan media totebag berbasis teknik pounding.
Teknik pounding merupakan teknik pencetakan pola daun-daun dan bunga yang telah dipilih dengan cara dipukul menggunakan palu ke permukaan totebag. Pigmen alami dari daun-daun tersebut menempel dan menghasilkan pola yang indah dan unik pada permukaan totebag.
Aidinan menyampaikan rasa senangnya bisa membersamai kegiatan ini. “Saya sangat senang karena bisa terlibat dan dapat membagikan ilmu yang saya miliki untuk orang lain. Semoga ilmu ini dapat bermanfaat dan berguna bagi adik-adik peserta festival ecoprint,” ucapnya.
Kegiatan ini diapresiasi oleh warga setempat. Ibu Wasriyati, S.Pd, AUD, penasihat Saung Lentera Nglegi mengatakan bahwa kerja sama dengan berbagai lini ini sangat bermanfaat untuk anak-anak agar punya keterampilan dan mengurangi bermain gawai. Selain itu, kegiatan ini dapat dijadikan sarana menanamkan nilai-nilai perdamaian, serta memupuk rasa cinta tanah air dan lingkungan melalui kreasi dari kearifan lokal yang ada dalam rangka menyongsong hari sumpah pemuda.
“Saya senang di daerah kami ada anak muda yang peduli pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pembangunan desanya, salah satunya dengan mengadakan festival ecoprint. Kegiatan ini sangat bagus dan positif,” ucap Ibu Wasriyati.
Pelaksanaan proyek ini pun diharapkan dapat menambahkan keterampilan anak-anak di Kalurahan Nglegi dan dapat mengembangkan potensi mereka lebih jauh lagi ke depan.
***
Ocha Gadis Anggita, Desamind Chapter Gunungkidul
Foto: Dokumentasi Tim Medinfo Desamind Gunungkidul
Lalu Junaedi Halki, awardee Beasiswa Desamind Berpijar berhasil meraih Juara 1 Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan di kancah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Dukungan pemerintah Desa secara pikiran, materi, dan administrasi diberikan secara penuh kepada saya selaku founder Senanggalih English Corner, sehingga dalam setiap tahapan saya dapat survive,” ucap Halki
Poin penilaian dalam seleksi penghargaan Pemuda Pelopor cukup kompleks. Terdiri dari komitmen dan dedikasi, inovasi dan kreativitas, pengaruh dan dampak sosial, keterlibatan komunitas, keterampilan pemimpin, serta presentasi dan komunikasi.
Halki menjelaskan bahwa dedikasi dan hasil dari Senanggalih English Corner dapat terlihat dari prestasi peserta didik di sekolah. Banyak alumni yang telah bekerja di beberapa hotel Lombok, tour guide geowisata dan ekowisata, serta guide umroh. Bahkan tahun ini salah satu Keluarga Senanggalih English Corner berhasil menjadi Duta Bahasa NTB.
“Ini menjadi salah poin penting bagi Senanggalih English Corner, ” ungkap Halki.
Sebagai awardee Desamind Indonesia, Halki juga memiliki projectsocial yang diberi judul Sosialisasi dan Pelatihan Alat Panen Madu Non-destruktif untuk Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Panen Madu Trigona Di Desa Senanggalih.
Halki menjelaskan alasan dirinya memilih project ini karena proses pemanenan madu lebah trigona di desa Senanggalih masih terbilang konservatif. Maka dari itu, ia dan timmya akan membuat inovasi alat TTG (alat panen madu non-destruktif), serta inovasi packaging dan marketing strategy untuk lebih memperluas pemasaran produk.
“Target saya kedepannya setelah menyelesaikan S1 adalah ingin melanjutkan study ke Italy dengan jurusan Gastronomy. Saya ingin memajukan desa dan serta mengukir sejarah di desa bahwa pemuda desa berhak mempunyai ambisi dan mimpi walaupun berada di pelosok,” ujar Halki.
Halki juga mengajak seluruh seluruh generasi muda, untuk terus menyalakan semangat Sumpah Pemuda dan jadi penerus perjuangan untuk memajukan bangsa Indonesia.
Desamind.id – Selasa (24/10) Rumah Perubahan (RP) mengundang Desamind ikut serta dalam Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Roadmap Literasi Digital 2.0. Rumah Perubahan merupakan sebuah yayasan non-profit yang berfokus pada literasi digital di Indonesia.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah staf Kementerian Komunikasi dan Informatika, perwakilan organisasi dan komunitas dari seluruh Indonesia, serta beberapa anggota dari Rumah Perubahan sendiri
FGD dibuka dengan diskusi ringan mengenai literasi digital, diikuti dengan diskusi panel oleh tiga pembicara, salah satunya dari Desamind. Sesi ini dijadikan kesempatan untuk mengumpulkan data mengenai kondisi di lapangan serta memahami lebih baik tantangan dan harapan setiap segmen dalam konteks literasi digital.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mendukung penyusunan Roadmap Literasi Digital 2.0 tahun 2025-2029, yang menjadi bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk mencapai status sebagai negara maju di tahun 2024 dengan perolehan GDP terbesar kelima dunia. Sesi FGD memberikan kesempatan untuk mengumpulkan data langsung mengenai kondisi di lapangan serta memahami lebih baik tantangan dan harapan setiap segmen dalam konteks literasi digital.
Dalam FGD, Desamind membantu merumuskan ide-ide dan strategi untuk meningkatkan literasi digital di berbagai sektor, termasuk pendidikan, sosial, dan keagamaan. Hasil dari diskusi ini akan digunakan sebagai dasar untuk menyusun Roadmap Literasi Digital 2.0, dengan program-program unggulan literasi digital pada setiap segmen yang memiliki indikator keberhasilan yang terukur.
Desamind juga ikut berperan dalam menyediakan wawasan langsung mengenai kondisi literasi digital di daerah-daerah terpencil, yang akan membantu Rumah Perubahan dalam menyusun Roadmap Literasi Digital yang lebih akurat dan efektif.
Rumah Perubahan berencana untuk menerapkan hasil-hasil dari FGD ini secara menyeluruh dengan berbagai sudut pandang dan gambaran lapangan yang diperoleh, guna meningkatkan literasi digital di seluruh Indonesia.
Kegiatan ini diharapkan dapat membangun program unggulan literasi digital pada setiap segmen dengan indikator keberhasilan yang terukur yang akan menjadi landasan dalam penyusunan Roadmap Literasi Digital 2.0 di Indonesia.
DESAMIND.ID, (19/10) – Desamind Indonesia menjadi salah satu organisasi yang diundang untuk mengikuti Pelatihan Fasilitator Dampak Sosial (PFDS) yang diadakan oleh Dampak Sosial Indonesia (DSI). PFDS merupakan program tahunan yang rutin diadakan oleh DSI dalam rangka meningkatan kapasitas individu untuk menjadi fasilitator perubahan di lingkungannya. Pada kesempatan ini, Muhammad Ertam Hidayat (Associate of Public Relations) dan Yuni Setyaningsih (Associate of Donation and Fundraising) menjadi delegasi dari Desamind Indonesia untuk mengikuti kegiatan PFDS.
PFDS tahun ini menarik minat 1033 pendaftar. Setelah melalui seleksi, dari 1033 pendaftar dipilih 225 pendaftar yang berasal dari 29 provinsi di Indonesia untuk menjadi peserta PFDS Batch 3 tahun 2023. Sebanyak 225 peserta akan mengikuti kegiatan PFDS yang dimulai pada 19 Oktober sampai 17 November 2023.
Jumlah pendaftar dan peserta terpilih Pelatihan Fasilitator Dampak Sosial
Kegiatan PFDS dimulai dengan sesi on boarding yang dilaksanakan pada Kamis (19/10) melalui zoom meeting. Sesi on boarding dibuka dengan sambutan oleh Yogie Armanda (Managing Director Yayasan Dampak Sosial Indonesia). Dalam sambutannya, Yogie Armanda menyampaikan DSI memiliki visi yaitu mendorong perubahan sosial melalui edukasi dan praktik pembangunan berkelanjutan. Salah satu program DSI adalah PFDS. PFDS merupakan program yang sudah dilaksanakan sebanyak sembilan batch dan ditujukan kepada pemuda yang ingin menjadi fasilitator perubahan di lingkungannya.
Sambutan Yogie Armanda (Managing Director Yayasan Dampak Sosial Indonesia)
Agenda pada sesi on boarding diisi dengan pengenalan DSI, pengelasan program DSI, tanya jawab program, pengenalan learning partner, dan kumpul kelompok bersama learning partner.
Setelah mengikuti sesi onboarding, peserta PFDS akan mengikuti training sebanyak dua kali dengan materi social impact, theory of change, system thinking, peacebuilding dan facilitation skill. Acara selanjutnya, peserta mengikuti group coaching dan mentoring sebelum pelaksanaan proyek sosial. Agenda terakhir dalam pelatihan ini adalah graduation yang diikuti seluruh peserta PFDS.
Peserta kegiatan Pelatihan Fasilitator Dampak Sosial Batch 9
Dalam kesempatan ini, Yuni Setyaningsih menyampaikan harapannya yaitu agar dapat berperan aktif menciptakan perubahan positif dalam masyarakat. Rencananya perubahan akan dilakukan bersama organisasi yang menjadi bagian dari proyek sosial PFDS ini yaitu Desamind Chapter Bandung. Berikut adalah harapan jika program dapat terselesaikan dengan baik, salah satunya adalah Parenting Cendekia (Cerdas Mendidik Anak). Output dari Parenting Cendekia semakin banyak anak yang mempunyai pengetahuan dalam bidang akademik maupun non akademik dengan didikan dari orang tuanya langsung.
Desamind Indonesia kembali melaksanakan Mentoring Class untuk ketiga kalinya bagi awardee Desamind BerPijar. Aspek yang menjadi pokok bahasan adalah Marketing & Branding for Social Project dengan narasumber Raditya Yoke Prama, Marketing and Business Intern Pemimpin.id dan Product Specialist Kompas Gramedia.
Jakarta (12/10) – Zakky Muhammad Noor, Managing Director of Desamind sukses mempresentasikan Proyek Transformasi Babar Kalesang Desamind dengan mengangkat judul Empowering Low-Tech Lab through Computational Thinking and CS Unpluggedpada sesi penerima penghargaan poster WINNER. Tim Desamind yang juga terdiri dari Syifa Adiba (Director of Public Relations) dan Hardika Dwi Hermawan (President Director) ini memenangkan kategori Applied Research/Innovation.
Selain Zakky Muhammad Noor, terdapat 2 pemenang kategori lain yang juga mempresentasikan proyeknya pada sesi tersebut, yaitu Afif Taufiqul Hakim, Master Civil Engineering and Management untuk kategori Fundamental Research dan Erie Agusta, Dosen Senior Universitas Muhammadiyah Palembang untuk kategori Creative Work.
Presentasi Poster di Konferensi WINNER
WINNER merupakan inisiatif Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, Nuffic Asia Tenggara, Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), the Royal Netherlands Academy of Arts and Sciences (KNAW), dan the Dutch Research Council (NWO). Acara ini merupakan acara tahunan di mana peneliti, education enthusiasts, policy makers, pebisinis, NGO dan stakeholder dari Indonesia dan Belanda diundang untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Tema yang diangkat pada WINNER 2023 yaitu “Enhancing knowledge connectivity of research and education between Indonesia and the Netherlands for regional impact”.
Proyek yang diangkat pada poster WINNER adalah permasalahan kesenjangan informasi dan teknologi di Indonesia yang menciptakan adanya gap yang signifikan pada inovasi dan kemajuan di daerah 3T (Terluar, Terpencil, dan Tertinggal). Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Desamind Indonesia bekerjasama dengan Bebras Indonesia, PT PLN (Persero) UP3 Saumlaki, dan lembaga pendidikan setempat, menggagas “Empowering Low-Tech Lab through Computational Thinking and CS Unplugged“. Tujuan dari proyek ini yaitu untuk meminimalkan kesenjangan informasi dan teknologi di Kepulauan Babar dan memberdayakan masyarakat lokal.
Proyek ini berfokus pada penguatan pengetahuan, kapasitas, dan kemampuan masyarakat Kepulauan Babar dalam mengakses informasi di bidang pendidikan dan teknologi dengan melibatkan sekitar 250 orang peserta. Proyek ini koordinasi lintas sektoral yang melibatkan sekolah, pimpinan desa, pengawas sekolah, dan pihak sekolah masyarakat umum.
Hasil dari penggerakan kolaborasi multisektor ini membawa keberhasilan proyek pengabdian Babar Kalesang dalam menjembatani adanya kesenjangan akses pendidikan dan teknologi berkualitas., sehingga masyarakat dapat lebih optimal dalam mengakses dunia digital. Selain itu, brainstorming hingga pelatihan yang diberikan mendapat respon antusias dan positif dari seluruh peserta.
Tenaga pendidik sebagai gerbang literasi juga digandeng dan difasilitasi dalam menciptakan bahan ajar yang dilengkapi Computational Thinking, sehingga guru tersebut dapat berdaya dan percaya diri dalam membuat bahan ajar berbasis CT.
Low-Tech Environment Laboratory membawa langkah yang positif dalam mengurangi kesenjangan informasi di daerah 3T dan proyek ini merupakan langkah awal dalam memperdayakan masyarakat di wilayah 3T. Pada waktu dekat, Desamind akan mengirimkan volunteer selama 2 minggu untuk menggali lebih dalam potensi di Babar (Paps/Syif).