Skip to main content

Sukabumi – Upaya penguatan kapasitas pemuda desa dalam mengelola sektor pertanian dan pariwisata berbasis komunitas terus dilakukan melalui rangkaian program pelatihan di Agroeduwisata Bumi Sawala. Kegiatan yang berlangsung pada 6–23 Desember 2025 ini dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi desa sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Program ini melibatkan 10 pemuda lokal dari Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Mereka dipersiapkan sebagai aktor utama dalam pengelolaan Agroeduwisata Bumi Sawala, mulai dari mengelola unit produksi, memandu kegiatan wisata, hingga mengembangkan aktivitas turunan berbasis komunitas.

Kegiatan diawali dengan sesi persiapan dan koordinasi pada 6 Desember 2025. Tahap ini menjadi fondasi dalam menyamakan persepsi peserta terkait tujuan program, pembagian peran, serta pemetaan potensi dan tantangan di lapangan. Diskusi awal mengidentifikasi sejumlah isu krusial, seperti keterbatasan akses pasar, minimnya pengalaman pengelolaan wisata, serta tantangan regenerasi pemuda di sektor pertanian.

Gambar 1. Koordinasi dan Pemetaan Awal Pemuda Lokal Desa dalam Pngelolaan Agroeduwisata

Rangkaian pelatihan dilanjutkan dengan Workshop Agripreneurship pada 7 Desember 2025 yang berfokus pada penguatan pola pikir kewirausahaan. Peserta mempelajari rantai nilai produk pertanian, pengelolaan biaya produksi, serta peluang diversifikasi usaha berbasis agroeduwisata. Dari sesi ini, muncul berbagai gagasan, seperti pengembangan paket langganan hasil kebun, produk olahan pertanian, serta integrasi wisata edukasi dengan penjualan produk lokal.

Pada 8 Desember 2025, peserta mengikuti Workshop Pemandu Wisata yang membekali keterampilan komunikasi, penyusunan alur kunjungan, serta penyampaian nilai-nilai lokal. Tujuannya adalah menciptakan pengalaman wisata yang edukatif dan ramah bagi pengunjung.

Selanjutnya, Workshop Manajemen Community-Based Tourism pada 9 Desember 2025 menekankan pentingnya tata kelola yang adil dan transparan. Peserta mendiskusikan penguatan kelembagaan lokal, pembagian peran, serta mekanisme distribusi manfaat agar agroeduwisata dapat berkembang secara kolektif dan berkelanjutan.

Gambar 2. Diskusi Kelompok Membuat Peta Konsep Pertanian Regeneratif

Aspek keberlanjutan lingkungan diperkuat melalui Workshop Pertanian Regeneratif pada 10 Desember 2025. Dalam sesi ini, peserta mempelajari praktik pengelolaan tanah sehat, pemanfaatan bahan organik, serta integrasi ternak dan kebun sebagai bagian dari ekonomi sirkular desa. Antusiasme peserta terlihat dari komitmen untuk mulai menerapkan praktik pertanian ramah lingkungan di lahan masing-masing.

Pengalaman belajar semakin diperkaya melalui kegiatan studi banding Community Supported Agriculture (CSA) ke Seni Tani, Bandung, pada 21 Desember 2025. Peserta memperoleh wawasan mengenai pengelolaan pertanian berbasis komunitas, strategi membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen, menjaga konsistensi produksi, serta pentingnya transparansi dan storytelling dalam pengembangan pasar.

Gambar 3. Pemaparan Pengelolaan Agroeduwisata Berkelanjutan dalam Studi Banding Community Supported Agriculture (CSA) ke Seni Tani

Sebagai respons terhadap tantangan akses pasar, Workshop Digital Marketing pada 22 Desember 2025 membekali peserta dengan keterampilan promosi berbasis media sosial. Peserta mulai merancang strategi konten, pengelolaan akun agroeduwisata, serta promosi produk dan paket wisata secara lebih terstruktur.

Program ditutup dengan sesi koordinasi rencana keberlanjutan pada 23 Desember 2025. Dalam sesi ini, peserta menegaskan komitmen untuk melanjutkan pengelolaan Agroeduwisata Bumi Sawala melalui penguatan kelembagaan lokal serta kolaborasi berkelanjutan antara pemuda dan kelompok tani.

Salah satu peserta, Agung Saepudin atau yang akrab disapa Katrek, mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama mengikuti program. Ia menyampaikan bahwa sebelumnya masih merasa kurang percaya diri saat berbicara di depan umum dan belum terbiasa mengelola aspek produksi maupun keuangan.

“Saya ingin belajar hal baru, menambah relasi, dan mencari pengalaman. Selain itu, ada kebutuhan produksi seperti pupuk untuk kebun,” ujarnya.

Melalui dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia melalui Program Hibah Good Game 2025, peserta memperoleh pembelajaran mengenai pertanian regeneratif, produksi pupuk organik, hingga strategi pemasaran berbasis CSA. Program ini memberikan ruang bagi pemuda untuk meningkatkan kapasitas sekaligus mengembangkan potensi desa secara mandiri.

Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekosistem agroeduwisata berbasis komunitas yang melibatkan pemuda sebagai aktor utama dalam pengelolaan dan pengembangannya.

Author : Dita Apriyani

Editor: Ahmad Zamzami