Skip to main content

Di lereng selatan Gunung Merapi yang hijau dan subur, terdapat Dusun Kemiri. Sebuah dusun kecil di Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, yang menyimpan kompleksitas kehidupan khas masyarakat pedesaan agraris di Yogyakarta. Udara sejuk, tanah vulkanik yang kaya mineral, serta lanskap perbukitan yang asri menjadi latar kehidupan sehari-hari warga yang sebagian besar menggantungkan penghidupan pada peternakan kambing dan penambangan pasir.

Namun, di balik keasrian tersebut, tersimpan dua wajah yang saling berdampingan: potensi besar yang menjanjikan serta permasalahan struktural yang menggerogoti dari dalam maupun luar.

Selama tiga hari dua malam, 30 Oktober hingga 2 November 2025, dalam kegiatan live-in bertajuk MENYAPA (Membangun Aksi Nyata dan Peduli Desa) Dusun Kemiri, Tim Desamind Chapter Yogyakarta tinggal bersama warga. Kami tidak sekadar mengamati, tetapi turut merasakan denyut kehidupan Kemiri. Melalui interaksi dengan peternak, ibu rumah tangga, hingga pemuda karang taruna, tersusun potret tentang bagaimana masyarakat lereng Merapi ini bertahan, beradaptasi, dan berinovasi di tengah keterbatasan.

Ketika Peternak Kambing Menjadi Pelopor Inovasi

Dusun Kemiri sedang bertransformasi. Perlahan namun pasti, masyarakat bergerak dari ketergantungan pada pertanian salak yang nilainya terus menurun menuju pilar ekonomi baru, yakni peternakan kambing.

Yang menarik bukan sekadar jumlah warga yang beternak kambing, melainkan bagaimana sebagian dari mereka telah melampaui pola pemeliharaan tradisional. Beberapa rumah tangga mulai merambah sektor hilir dengan mengolah susu kambing menjadi susu bubuk, yogurt, bahkan es krim.

Gambar 1. Pengolahan Susu Kambing

Inovasi ini lahir dari inisiatif individu, dari dapur-dapur kecil, tanpa pelatihan formal maupun dukungan struktural. Seorang warga yang kami temui telah memproduksi susu bubuk skala rumah tangga dengan peralatan sederhana dan proses manual. Produknya menunjukkan potensi pasar yang nyata. Di rumah lain, seorang ibu rutin membuat yogurt untuk konsumsi keluarga dan tetangga.

Aktivitas ini bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan bukti adanya jiwa kewirausahaan serta kapasitas teknologi pangan di tingkat rumah tangga yang selama ini kurang terlihat. Di sisi lain, penambangan pasir menjadi penopang ekonomi yang memberikan likuiditas cepat bagi sebagian warga.

Modal Sosial yang Menyimpan Energi Besar

Jika inovasi ekonomi adalah mesin, maka kelembagaan sosial adalah bahan bakarnya. Dusun Kemiri memiliki sejumlah kelompok masyarakat yang aktif dan potensial. Kelompok Ternak Sapi telah memiliki struktur organisasi yang jelas, infrastruktur pendukung, serta jaringan hingga ke luar dusun. Mereka menjadi contoh modal sosial bridging, yakni kemampuan membangun koneksi dengan pihak eksternal.

Namun, di samping kelompok ternak sapi yang terorganisasi, terdapat puluhan peternak kambing yang berjalan sendiri-sendiri tanpa payung kelembagaan yang jelas.

Gambar 2. Salah Satu Area Peternakan Kambing di Dusun Kemiri

PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) Dusun Kemiri tidak sekadar menjalankan kegiatan rutin seperti arisan atau posyandu. Kelompok ini merupakan simpul pemberdayaan perempuan yang mapan dan dipercaya masyarakat. Dengan jangkauan hingga tingkat rumah tangga, PKK memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam program kesehatan, pengelolaan sampah, hingga pengembangan usaha mikro.

Sementara itu, Karang Taruna menghadirkan energi generasi muda yang adaptif dan melek digital. Mereka menjadi jembatan antara kearifan lokal dan modernitas. Sayangnya, potensi besar tersebut belum terorkestrasi dalam gerakan kolektif yang terarah.

Fragmentasi Sosial: Ironi di Tengah Kekuatan Komunitas

Potensi-potensi di Dusun Kemiri ibarat butiran mutiara yang berserakan, belum terangkai menjadi kesatuan yang utuh.

Permasalahan internal terlihat dari ketidakjelasan kelembagaan peternak kambing. Sementara peternak sapi menikmati akses pelatihan, bantuan, dan jaringan pemasaran, peternak kambing yang jumlahnya lebih banyak masih bertumpu pada praktik individual. Mereka tidak memiliki saluran representasi dalam perencanaan pembangunan desa.

Permasalahan eksternal juga muncul dalam bentuk keterbatasan akses jaringan. Hanya individu dengan modal sosial, ekonomi, dan kultural lebih tinggi yang mampu menjangkau pasar serta sumber daya eksternal. Ketimpangan jaringan sosial pun terjadi: pelaku yang sudah mapan semakin maju, sementara sebagian lainnya tertinggal. Inovasi yang seharusnya menjadi penggerak kolektif justru terjebak sebagai keunggulan individu.

Jebakan Ekonomi: Dari Legalitas hingga Pasar Monopsoni

Di sektor ekonomi, persoalan membentuk lingkaran yang sulit diputus. Pertama, aspek legalitas. Produk olahan susu kambing Kemiri yang memiliki potensi kualitas terhambat proses perizinan BPOM dan sertifikasi halal. Hambatan ini bukan karena ketiadaan kemauan, melainkan prosedur daring yang kompleks serta minimnya pendampingan. Tanpa legalitas, produk hanya beredar di lingkungan terbatas dengan nilai jual dan volume yang rendah.

Kedua, stagnasi nilai tambah. Inovasi pengolahan telah dimulai, tetapi belum diikuti strategi pemasaran kolektif, penguatan merek (branding), maupun diversifikasi produk secara sistematis.

Ketiga, ketergantungan pada satu pembeli besar yang bersifat monopsoni. Seorang pembeli tunggal mendominasi penyerapan susu kambing. Penundaan pembayaran hingga berbulan-bulan pernah terjadi dengan nilai kerugian signifikan. Namun, warga tetap bertahan karena tidak memiliki alternatif pasar.

Keempat, keterbatasan layanan kesehatan hewan. Ketika ternak sakit, biaya pengobatan menjadi beban besar yang berisiko mengurangi pendapatan keluarga. Infrastruktur pendukung bagi ekonomi produktif dusun ini masih minim perhatian.

Tekanan Lingkungan: Krisis yang Senyap

Jika persoalan sosial dan ekonomi tampak di permukaan, persoalan lingkungan berlangsung lebih senyap. Sampah anorganik menjadi masalah sejak pengepul lokal berhenti beroperasi. Plastik dan kemasan tak lagi memiliki nilai ekonomi. Pembakaran terbuka menjadi solusi darurat yang dinormalisasi karena ketiadaan alternatif.

Limbah popok sekali pakai menambah tantangan baru. Karakteristiknya yang sulit terurai dan tidak bernilai ekonomi membuatnya terabaikan dalam sistem daur ulang informal. Warga kerap membakar, menimbun, atau membuangnya secara terbatas.

Lebih jauh, Dusun Kemiri juga menjadi lokasi pembuangan popok oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, sehingga menambah beban ekologis warga.

Belajar dari Kemiri

Apa yang terjadi di Dusun Kemiri bukan kasus terisolasi, melainkan gambaran tantangan pembangunan pedesaan di Indonesia. Potensi besar ada, tetapi belum sepenuhnya terkelola. Kelembagaan tersedia, tetapi belum terintegrasi.

Fragmentasi menjadi tantangan utama. Peternak kambing berjalan sendiri, kelompok ternak sapi belum terhubung secara strategis dengan PKK dan Karang Taruna, serta inovasi pengolahan susu belum berkembang melalui kolaborasi lintas kelompok.

Menatap ke Depan: Potensi yang Menanti Perpaduan

Dusun Kemiri memiliki modal untuk bertransformasi: sumber daya alam yang melimpah, modal sosial yang kuat, dan inovasi yang telah lahir dari inisiatif warga sendiri. Susu bubuk, yogurt, dan es krim bukan sekadar gagasan, melainkan produk nyata dari dapur warga. Tantangannya bukan menciptakan potensi baru, tetapi menghubungkan potensi yang telah ada.

Tiga hari dua malam di Kemiri menunjukkan bahwa praktik pembangunan berkelanjutan telah tumbuh dalam skala kecil. Diperlukan penguatan jejaring, pendampingan, serta integrasi kelembagaan agar potensi tersebut berkembang secara kolektif dan berkelanjutan.

Masa depan Dusun Kemiri pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan warganya merangkai potensi menjadi kekuatan bersama.

Author: Desamind Chapter Yogyakarta

Editor: Ahmad Zamzami