Indonesia – (25/01) Desamind Indonesia Foundation melalui program Sekolah Local Heroes menyelenggarakan Bootcamp Junior Rural Development Specialist sebagai upaya memperkuat kapasitas pemuda desa dalam memahami isu pembangunan, merancang program berbasis kebutuhan lokal, serta beradaptasi dengan tantangan dunia yang semakin kompleks. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan diikuti oleh pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.

Gambar 1. Suasana Bootcamp Junior Rural Development Specialist yang diikuti pemuda dari berbagai daerah secara daring
Bootcamp ini dirancang sebagai ruang belajar partisipatif yang tidak hanya membekali peserta dengan pengetahuan konseptual, tetapi juga keterampilan praktis dalam merancang program pembangunan desa yang berkelanjutan. Melalui pendekatan Community Driven Development (CDD), Desamind menegaskan pentingnya menjadikan masyarakat desa sebagai subjek utama pembangunan.
Dalam sesi pembuka, Founder Desamind Indonesia Foundation, Hardika Dwi Hermawan, menekankan bahwa pembangunan desa tidak dapat lagi dilakukan secara top-down. Menurutnya, pemuda desa memiliki posisi strategis sebagai penggerak perubahan yang memahami konteks sosial, budaya, dan potensi wilayahnya sendiri.
“Desa bukan objek pembangunan, melainkan subjek utama. Pemuda harus hadir sebagai inisiator, kolaborator, sekaligus bagian dari masyarakat yang merasakan dampak dari program yang dijalankan,” ujar Hardika.
Bootcamp ini menghadirkan rangkaian materi yang saling terintegrasi, mulai dari pemahaman isu global dan lokal, peran pemuda dalam pembangunan desa, hingga pengenalan alat perencanaan program. Peserta diajak memahami dinamika dunia VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) dan BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible) yang turut memengaruhi kondisi desa, khususnya dalam sektor pertanian, ekonomi, dan distribusi.
Pada sesi perencanaan program, peserta diperkenalkan dengan Logical Framework Analysis (LFA) sebagai alat untuk menyusun program secara sistematis dan terukur. Melalui LFA, pemuda desa didorong untuk mampu mengidentifikasi masalah secara partisipatif, merumuskan tujuan yang realistis, serta menetapkan indikator keberhasilan yang berorientasi pada dampak, bukan sekadar output kegiatan.

Gambar 2. Pemaparan materi Logical Framework Analysis (LFA) dalam Bootcamp Junior Rural Development Specialist
Selain itu, peserta juga dibekali dengan kemampuan melakukan analisis potensi dan tantangan melalui pendekatan SWOT, serta pentingnya kolaborasi lintas aktor dalam membangun gerakan sosial yang berkelanjutan. Desamind menekankan bahwa gerakan pemuda tidak boleh berhenti pada komunitas kecil, tetapi perlu membangun jejaring yang lebih luas untuk menciptakan perubahan sistemik.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Desamind dalam memperkuat ekosistem pembelajaran bagi pemuda desa, sejalan dengan berbagai inisiatif Desamind lainnya seperti pengembangan agroeduwisata berbasis komunitas, pendampingan pendidikan, serta penguatan ekonomi dan literasi digital masyarakat desa.
Melalui Bootcamp Junior Rural Development Specialist, Desamind berharap pemuda desa mampu menjadi aktor pembangunan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat. Bagi Desamind, program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi muda desa yang mampu menjawab tantangan zaman dan menjaga keberlanjutan pembangunan dari akar rumput.
Author : Alan Ferdian Syah
