Skip to main content
Category

Berita Terkini

Desamind Ikut Terlibat Dalam Kegiatan Pelatihan Peningkatan Karakter Pemuda yang Diselenggarakan Oleh Kemenpora

By Berita Terkini, Press Release
Sumber: Desamind Indonesia

Solo (14/02) – Desamind turut serta dalam kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Kemenpora Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda pada 14 – 18 Februari 2022 lalu. Kegiatan ini mengambil tema Pelatihan Peningkatan Karakter Pemuda Dalam Era Digital dan diselenggarakan di Hotel Novotel, Solo, Jawa Tengah.

Penyelenggaraan pelatihan ini ditujukan untuk membentuk karakter masyarakat terkhususnya pemuda yang beretika dalam berinteraksi di dunia maya. Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda, Faisal Abdullah, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar kegiatan pelatihan ini dapat membentuk karakter pemuda yang terampil dalam bidang digital dan berkarakter positif sebagai agen perubahan, kontrol sosial, dan influencer bagi pemuda dan masyarakat Indonesia lainnya.

Kegiatan Pelatihan Peningkatan Karakter Pemuda Oleh Kemenpora

Acara ini dihadiri oleh 50 peserta perwakilan pemuda dari berbagai unsur seperti pemuda difabel, mahasiswa, komunitas Pemuda, Pemuda binaan Kemenpora/Dispora serta pegawai/ASN/Dispora, salah satunya yaitu perwakilan dari Desamind.

Selama lima hari pelaksanaan, kegiatan pelatihan ini diisi oleh berbagai materi mengenai keterampilan digital. Melihat kondisi anak muda zaman sekarang, Perwakilan Wali Kota Surakarta, Joni Hari Sumantri mengatakan bahwa industri kreatif berbasis konten digital telah menjadi sektor yang paling produktif di masa pandemi sekarang ini.

Putri Aulia Pasa, Vice Director of Public Relations, sebagai perwakilan dari Desamind juga menyampaikan bahwasannya kegiatan kepemudaan seperti ini dapat menumbuhkan keterampilan digital, meningkatkan rasa empati dan kolaboratif, dan menumbuhkan pemuda yang bisa memimpin, kreatif, produktif, bisa menghasilkan konten digital dan memberi arti dan manfaat terhadap sekitarnya. Harapannya Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora dapat membuat pelatihan kepemudaan di daerah lainnya secara continue dengan mempertimbangkan urgensi dan kebutuhan.

Desamind yang merupakan organisasi non-profit dalam pelaksanaan visi misinya juga menyertakan pemuda-pemuda desa untuk memajukan desa yang berpendidikan dan melek peradaban. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi Desamind dalam peningkatan karakter pemuda yang melek teknologi, kreatif, menginspirasi dan memiliki tekad untuk memajukan negeri.

Penulis: Kamilya Anjani Putri

Editor: Putri Aulia Pasa

Tradisi Kematian di Batipuh, Tempat Proses Syuting Film Fenomenal “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”

By Berita Terkini, Ensiklopedia Desa
foto dari infosumbar.net

Siapa yang tidak tahu Film karya Buya Hamka yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”? Sepertinya film ini cukup dikenal oleh orang Indonesia. Pada tahun perilisannya di 2013, film ini menjadi fenomena di kalangan masyarakat. Banyak sekali masyarakat dari kalangan pemuda-pemudi yang menggemari film bernuansa etnik tersebut.

Penulis sendiri, saat film ini dirilis, langsung menjadi bahan perbincangan di kalangan teman-teman sekolah. Tidak sedikit orang yang memparodikan adegan romantis dan iconic dari film ini. Adapun proses pembuatan film ini tidaklah instan. Latar tempat perekaman scene epik dalam film ini dilakukan di berbagai tempat di Indonesia. Sebut saja, Padang, Surabaya, Lombok dan Jakarta.

Kali ini penulis akan mengulas salah satu daerah yang menjadi tempat syuting film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yaitu di Batipuh. Jika kalian ingat adegan ketika tokoh Zainuddin menuntut ilmu di sebuah surau (masjid), nah surau tersebut adalah Surau Lubuak Bauk yang terletak di Jorong Lubuak Bauk, Nagari Batipuah Baruah, Kecamatan Batipuah, Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat.

Ada sebuah tradisi yang masih dipertahankan oleh penduduk Nagari Batipuah/Batipuh sampai sekarang, yaitu Bakayu dan Mangampiang. Bakayu dan Mangampiang adalah tradisi kematian suku Minangkabau. Kegiatan ini dilakukan sehari pasca seseorang meninggal dunia.

sumber: mesintiktangan.blogspot.com

Bakayu adalah tradisi yang biasa dilakukan oleh pelayat laki-laki yang tidak bergelar Datuak. Para pelayat laki-laki ini akan menuju hutan untuk mencari kayu dengan membawa kapak masing-masing. Ini bertujuan untuk meringankan pekerjaan tuan rumah. Kayu-kayu yang didapatkan lalu diapiang (dibelah) di depan rumah duka. Nantinya, kayu-kayu tersebut digunakan untuk memasak hidangan memperingati tiga hari, tujuh hari, hingga empat puluh hari kematian.

Adapun mangampiang adalah tradisi yang dilakukan oleh pelayat perempuan. Waktu mangampiang dilakukan bersamaan dengan bakayu. Ibu-ibu akan datang ke rumah duka sambil membawa beras. Seperti bakayu, tujuan membawa beras oleh ibu-ibu ialah untuk meringankan tuan rumah yang sedang berduka dan sebagai tanda belasungkawa. Selanjutnya ibu-ibu akan menumbuk beras ampiang menggunakan lesung secara bersama-sama yang nantinya beras ini akan diberikan kepada anak-anak sekitar untuk dimakan oleh mereka.

Jika ada yang bertanya, apa itu beras ampiang. Sepertinya cukup menggerakkan jari di pencarian Google, kalian akan mendapatkan jawabannya. Tetapi, penulis akan berbaik hati memberi tahu. Menurut tulisan pada laman Kompas.com, ampiang adalah beras ketan yang ditumbuk pipih. Ampiang merupakan makanan khas rumahan penduduk Batipuh Baruah, Kecamatan Batipuh, Tanah Datar, khususnya daerah Jorong Ladang Laweh dan sekitarnya.

Kembali kepada tradisi Bakayu dan Mangampiang, seiring perkembangan zaman dan teknologi, tradisi ini hampir tidak lagi digunakan. Mengingat sekarang masyarakat memasak tidak lagi menggunakan kayu melainkan kompor gas. Oleh karena itu, bakayu hanya dapat dilakukan di beberapa rumah duka yang masih memasak menggunakan kayu. Sedangkan di beberapa daerah, bakayu digantikan dengan para pelayat laki-laki duduk di atas terpal yang digelar oleh tuan rumah.

Selain dua tradisi di atas, ada tradisi bernama manyiriah rokok (memberikan rokok) kepada ahli waris oleh para pelayat. Kegiatan ini sebelumnya adalah akhir dari prosesi bakayu. Namun karena bakayu sudah jarang dilakukan, maka manyiriah rokok sudah cukup mewakili tradisi bakayu dan mangampiang.

Sumber referensi:

Kompas.com (2020) “Mengenal Ampiang Dadiah, Makanan Minang yang Dicari Gordon Ramsay” dikutip dari https://www.kompas.com/food/read/2020/07/29/140300775/mengenal-ampiang-dadiah-makanan-minang-yang-dicari-gordon-ramsay?page=all#:~:text=Ampiang%20adalah%20beras%20ketan%20yang,di%20Jorong%20Ladang%20Laweh%20sekitarnya pada 28 Februari 2022

Suluah.id (2022) “Mengulas Tradisi Bakayu dan Mangampiang” dikutip dari https://www.suluah.id/2022/02/mengulas-tradisi-bakayu-dan-mangampiang.html pada 28 Februari 2022

MENGENAL WARNA-WARNI KAMPUNG TOPENG MALANG

By Berita Terkini, Ensiklopedia Desa

Kampung-kampung tematik yang indah tersebar di beberapa sudut Kota Malang kini telah menjadi wajah baru bagi kota yang kerap dijuluki sebagai kota bunga itu. Masing-masing kampung wisata memiliki keunikan dan daya tariknya tersendiri, disesuaikan dengan potensi masyarakat yang ada di sana. Pembangunan kampung wisata tidak hanya semata-mata dilaksanakan untuk mendongkrak jumlah wisatawan saja, tetapi juga dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kompetensi masyarakat.

Read More

Wisuda dan Monev Akhir Awardee Beasiswa Desamind 1.0, “Satu Tahun Menjadi Awardee, Seumur Hidup Menginspirasi.”

By Berita Terkini, Press Release

Minggu, 2 Januari 2022 – Desamind Indonesia Foundation sukses menyelenggarakan acara Monitoring & Evaluasi (Monev) dan Wisuda Awardee Beasiswa Desamind 1.0 secara daring. Acara ini menandakan berakhirnya pemberian beasiswa kepada para awardee beasiswa yang telah diseleksi oleh para juri pada 30 November 2020 lalu. 

Acara ini dihadiri oleh seluruh Awardee Beasiswa Desamind 1.0, mentor awardee merangkap juri, Awardee Beasiswa Desamind 2.0, dan divisi Program Development sebagai panitia acara. Acara ini diawali dengan pembukaan oleh MC, Fiki Nila dari divisi Program Development dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lalu dilanjutkan dengan sambutan oleh Hardika Dwi Hermawan, M.Sc(ITE) selaku President Director Desamind Indonesia Foundation.

“Sumber daya terbesar yang dimiliki Indonesia bukan Sumber Daya Alamnya, tetapi Sumber Daya Manusianya itu sendiri. Kalau Sumber Daya Alamnya bagus, tapi Sumber Daya Manusianya tidak diolah dengan bagus, bisa jadi kita hanya merusak lingkungan. Harapannya, pengalaman yang didapatkan di lapangan akan menjadi momen berharga untuk diingat bahwa ada anak-anak yang menunggu saya untuk kembali ke Indonesia dan mengabdi”, ujar Kak Dika

Kak Dika menutup sambutan dengan sebuah quote “Jika kita tidak bisa menjadi jalan raya, cukup menjadi jalan setapak yang dapat dilalui oleh orang. Jika kita tidak bisa menjadi matahari, cukup menjadi lentera yang dapat menyinari sekitar. Jika kita tidak dapat menjadi obor di Jakarta, cukup dengan menjadi lilin-lilin di desa yang bisa menerangi lebih dari 70 ribu desa”.

Sambutan kedua oleh Evi Lestari, B.Ed selaku trustee (pembina) dari Yayasan Desamind Indonesia Foundation. “Harapannya, nilai-nilai kebermanfaatan yang terlahir melalui program yang sudah terlaksana ini terus mengalir dan berlanjut meskipun nanti sudah wisuda dan selesai.” 

Mba Evi mengakhiri sambutannya dengan memberikan pesan bahwa tidak cukup untuk menjadi baik dan sukses, tetapi perlu ada usaha, kepedulian, semangat mengambil peran, dan peka terhadap sekitar sehingga kita dapat membawa jejak-jejak kebaikan di muka bumi. Setelah sambutan, dilanjut dengan penyampaian hasil monev awardee beasiswa Desamind 1.0 yang diurutkan berdasarkan undian. Setiap awardee diberikan waktu 15 menit untuk mempresentasikan program dan tanya jawab.

Presentasi pertama disampaikan oleh Emi Triani yang dimentori oleh Lailati Rohmah dengan Program Baladesa.id. Program ini bertujuan untuk merevitalisasi komponen penggerak desa, mengajak pemuda bagaimana caranya berkontribusi di desanya masing-masing dengan memberikan edukasi mengenai desa. Beberapa programnya antara lain membentuk sekolah desa dan karang taruna, projek sosial (omah dhewe) sebagai tempat literasi dan pengembangan anak-anak desa. Program ini dilaksanakan di desa Bantengan, Karanggede, Boyolali. Selengkapnya bisa dilihat di Instagram @baladesa_id.

Bagas Primandaru yang dimentori oleh Evi Lestari menyampaikan hasil monev program Bumi Trikarso: Dari Desa Untuk Indonesia. Program dari Bumi Trikarso yaitu memanfaatkan lahan Desa Trikarso, Kec. Sruweng, Kebumen yang masih kosong dengan menanam tumbuhan yang bernilai jual, seperti lidah buaya yang dapat diolah menjadi keripik dan minuman lidah buaya. Info selengkapnya bisa dilihat di Instagram @bumi_trikarso.

Selanjutnya, presentasi disampaikan oleh awardee ketiga yaitu Aan Munandar yang dimentori oleh Zakky Muhammad Noor dengan program Lingkar Dahan. Berangkat dari masalah banyaknya dijumpai sampah organik ranting dan kayu di Desa Sendangsari, Sleman, Yogyakarta. Aan berinisiatif untuk mengolah sampah tersebut menjadi produk layak jual, salah satunya jam dinding kayu yang diberi nama “Divine Timepiece”. Info lengkapnya bisa dilihat di Instagram @lingkar.dahan.

Awardee keempat yang menyampaikan program adalah Aulia Syifa Ardiati yang dimentori oleh Dita Puji Rahayu dengan program Kianmembumi.id. Berangkat dari masalah pencemaran udara dan penurunan pendapatan karena COVID-19, Syifa merancang program pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Adipala, Kabupaten Cilacap. Produk yang dihasilkan berupa penanaman kangkung, pemberdayaan kebun KWT, pembuatan abon lele, pembuatan pupuk kompos, dan lain sebagainya. Info selengkapnya dapat dilihat di Instagram @kianmembumi.id.

Terakhir Alfiana Eka Priyanika yang dimentori oleh Hardika Dwi Hermawan menyampaikan monev program Menyapa Lereng Merapi. Program ini merupakan kegiatan pengabdian masyarakat guna meningkatkan kualitas pendidikan di Dukuh Gilir Pasang dan Dukuh Ngringin, Desa Tegalmulyo, Kec. Kemalang, Kab. Klaten. Program dari Menyapa Lereng Merapi ini antara lain Waste scholarship, rumah belajar lentera, dan mentorship. Info mengenai program ini dapat dilihat di Instagram @menyapa.lerengmerapi.

Dokumentasi sesi monev: presentasi program oleh salah satu awardee

Setelah awardee menyampaikan hasil monev dan ditanggapi oleh juri, acara selanjutnya yaitu Wisuda Awardee Beasiswa Desamind 1.0. Wisuda dilakukan simbolis dengan penyerahan sertifikat kepada para awardee dan para mentor disertai sepatah kata dari mereka. 

Penyerahan sertifikat diawali oleh Aan Munandar dengan mentor Zakky Muhammad Noor, Alfiana Eka dengan mentor Hardika Dwi Hermawan, Aulia Syifa dengan mentor Dita Puji Rahayu, Bagas Primandaru dengan mentor Evi Lestari, dan terakhir Emi Triani dengan mentor Lailati Rohmah. Acara selanjutnya yaitu pembacaan surat keputusan mengenai penetapan kelulusan Awardee Beasiswa Desamind 1.0 dan diakhiri dengan penutup dan sesi foto bersama. 

Dokumentasi sesi foto bersama di akhir acara

Yulia Susanti, selaku PIC Program Beasiswa Desamind 1.0 ini berharap semoga para alumni Beasiswa Desamind 1.0 dapat memberikan dampak dan kebermanfaatan di setiap pijakan bumi. Desamind, Ingat Bangsa Ingat Desa!

Penulis : Kamilya Anjani Putri
Editor : Hardika Dwi Hermawan dan Putri Aulia Pasa

Sokong Literasi Anak Desa, Jakarta Intercultural School Donasikan 720 Buku kepada Desamind Indonesia Foundation

By Berita Terkini

Jakarta Intercultural School (JIS) berkomitmen dalam meningkatkan minat baca dan literasi dengan program donasi buku. Setiap tahunnya, JIS menyalurkan buku-buku donasi dari MS Library kepada sekolah-sekolah. Namun, untuk pertama kalinya JIS menyalurkan kepada NGO, yaitu Desamind Indonesia Foundation. Terdapat 12 box buku dengan jumlah total buku kurang lebih sebanyak 720 buku, yang meliputi buku fiksi dan non-fiksi. Tema buku yang diberikan juga bervariasi, ada test preparation (TOEFL, SAT), Ilmu Pengetahuan Umum (antariksa, sejarah, atlas, dll), novel berbagai genre, latihan soal, buku pelajaran tingkat SMP/SMA, dan sebagainya.

Read More

Mind-Talk 3.0: Desamind Dampingi Pemuda Desa Karangmulyo dalam Mengembangkan Projek untuk Desa

By Berita Terkini

Desamind sukses menyelenggarakan kegiatan Mind-talk 3.0 untuk ketiga kalinya di bawah naungan Divisi Program Development Desamind. Mindtalk 3.0 ini mengusung dan mengambil tema “Bali ndeso mbangun ndeso”. Desamind berharap akan lahir banyak pemuda/i yang tergerak, bergerak memberikan sumbangsih dan pengabdian terbaiknya untuk daerahnya.

Read More

Wos Cipaku Meraih Penghargaan Mata Garuda Prize LPDP 2021

By Berita Terkini

os Cipaku berhasil memperoleh penghargaan Mata Garuda Prize LPDP Kategori Ekonomi dan Bisnis yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 2021 pada Sabtu (9/11/2021). Penganugerahan penghargaan dilakukan secara daring dalam puncak kegiatan LPDP Week 2021 yang dihadiri juga oleh Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani. Penganugerakan ini diwakilkan oleh Hardika Dwi Hermawan, selaku President Director Desamind Indonesia sekaligus Alumni LPDP PK-105.

Read More

300 Tahun Mempertahankan Tradisi Bikin Parang, Desa Talwa, Ulet Atau Konservatif?

By Berita Terkini, Ensiklopedia Desa

Tau Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak? Tidak? Lemah. Hehe canda lemah. Sering tuh muncul di media sosial-ku tren sound TikTok yang ini. Oke, back to topic, kalian tau NTB kan yaa? Atau cuma pernah dengar aja? Biasanya kalau dengar NTB orang-orang langsung membayangkan pulau Lombok dengan wisata Gili Terawangan yang eksotis, destinasi para turis asing, atau Mandalika yang bakal jadi tempat sirkuit balap MotoGP tahun 2022. Tapi, NTB tidak hanya punya satu pulau, lho. Tahu tidak kalau ke timur lagi ada satu pulau yang masih termasuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat. Yap, Pulau Sumbawa dan Bima. Nah, di sebuah tempat di Pulau Sumbawa konon ada desa bernama Talwa. Tidak, aku tidak mencoba untuk mengubah genre ini menjadi horor 😀

Oke, lanjut. Seperti judulnya, desa Talwa ini dikenal sebagai desa yang sudah mempertahankan tradisi pembuatan parang secara tradisional kurang lebih sekitar 300 tahun. Desa Talwa merupakan dusun pandai besi, atau bahasa kerennya blacksmith. Menurut artikel yang aku baca dari website resmi Pemerintah Kabupaten Sumbawa, wisatawan bahkan menjuluki desa Talwa ini dengan sebutan “Blingin Jerman”. Produk-produk yang dihasilkan dari desa ini antara lain parang khas Sumbawa, pisau, cangkul, tembilang dan lain sebagainya.

Desa yang berjarak 14 km dari kota Sumbawa ini digadang-gadang memiliki parang yang berkualitas sangat baik. Parang Sumbawa bahkan sudah diekspor ke pulau Jawa dan Bali. Poin yang membuat parang ini sangat diminati oleh masyarakat adalah kualitas dan desainnya yang unik. Menurut sejarah kepercayaan masyarakat Sumbawa sih, pada masa pemerintahan Sultan Jalaludin III (1883-1931), Talwa sudah dijadikan sebagai desa sentra pandai besi utama di Tana’ Samawa (Tanah Sumbawa). Keterampilan yang dimiliki oleh para pengrajin besi sekarang ini diklaim merupakan warisan secara turun temurun oleh generasi sebelumnya yang tetap dilestarikan hingga saat ini. Itulah kenapa kualitas dari produk-produknya sangat bagus, terutama parangnya.

Adapun parangnya, masyarakat dusun Talwa masih mempertahankan kualitas dan tampilan parang Sumbawa. Sebab parang masih dibuat menggunakan teknik tradisional, kualitas besinya sangat baik hingga digemari banyak orang. Parangnya dapat diandalkan untuk pekerjaan seperti merimbas semak dan tumbuhan liar, sekadar memotong ranting-ranting liar ataupun menyingkirkan gangguan di jalan. Tidak dianjurkan buat kerjaan berat sih, karena parang ini memang didesain ringan, ramping dan efisien.

Untuk ciri khas dan keunikan kedua dari parang Sumbawa ada pada sarung dan gagang parangnya nih. Sarung dan gagang parang terbuat dari kayu kelicung yang juga merupakan ikon flora provinsi NTB loh. Bukan tanpa alasan memilih kayu kelicung sebagai bahan untuk sarung dan gagang parang Sumbawa. Pohon kelicung banyak tumbuh di pulau Lombok dan Sumbawa. Namun, akibat penebangan liar, pohon ini hampir punah. Kualitas kayu kelicung juga bukan main. Kayu pohon kelicung sangat kuat dan memiliki pola serat yang indah, menampilkan warna yang eksotis. Hal ini yang bikin kayu kelicung mahal, dan parang Sumbawa pun jadi mahal. Sarung dan gagang parang Sumbawa juga tidak asal bikin. Gagang dan sarungnya diukir dengan gambar dan bentuk ukiran yang indah dan kental dengan estetika budaya khas Sumbawa.

Ukiran pada ujung gagang dan sarung parang Sumbaawa

Sampai sekarang, dusun Talwa yang bertempat di Desa Leseng Kecamatan Moyo Hulu Kabupaten Sumbawa ini masih tetap melestarikan tradisinya. Selain Talwa, ada sebuah dusun yang juga dikenal sebagai desa pandai besi karena sebagian besar masyarakatnya juga menekuni aktivitas ini sebagai mata pencaharian. Dusun Batu Alang yang dikatakan bahwa sebagian besar penduduknya merupakan pindahan dari Talwa. Desa ini terletak tidak jauh dari Talwa dan hanya menempuh sekitar 15 menit atau lebih dari kota Sumbawa Besar. Meskipun di beberapa sumber ada yang mengatakan bahwa Batu Alang adalah lokasi asli sentra pandai besi sejak zaman kesultanan Sumbawa, namun kedua daerah tersebut sama-sama menghasilkan produk-produk yang berkualitas tinggi.

Dikutip dari berbagai sumber.