Skip to main content
Category

Artikel

Sekolah Pagesangan: Upaya Kolektif Membangun Kedaulatan Pangan Akar Rumput Berbasis Pendidikan Kontekstual

By Artikel

Dok. Arsip Sekolah Pagesangan

‘…Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka malapetaka; oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner…’ (Pidato Ir. Soekarno pada peletakan batu pertama Gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, 27 April 1952)

Desamind.id-Isu mengenai pangan selalu menjadi ‘menu hidangan utama’ dalam permasalahan nasional. Global Food Security Index mencatat Indonesia menduduki peringkat 63 dari 113 negara dalam Indeks Ketahanan Pangan Global. Tentu isu ini perlu direspon serius. Diah Widuretno adalah salah satu local heroes yang berhasil mengambil bagian dari solusi ketahanan pangan melalui Sekolah Pagesangan.

Sekolah Pagesangan adalah komunitas belajar non-formal yang berada di Dusun Wintaos, Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul. Diketahui, sekolah ini telah berdiri sejak tahun 2008. Dalam pemaknaan Bahasa Jawa, kata pagesangan berarti kehidupan, sehingga Sekolah Pagesangan bisa dimaknai sebagai sekolah kehidupan. Hal inilah yang menjadi ‘api’ yang berusaha terus dinyalakan oleh Diah bersama rekan Sekolah Pagesangan untuk terus meng-olak-kan salah satu lini isu kehidupan yang dekat dengan Gunung Kidul; pertanian dan pangan lokal.

Sekolah Pagesangan menjadi respon Diah terhadap globalisasi dan urbanisasi yang menurutnya turut mengikis minat dan pengetahuan anak muda terhadap kearifan pangan dan pertanian lokal Gunung Kidul. Melansir dari diskusi Diah bersama Kalis Mardiasih dalam YouTube PARES Indonesia,  ia juga melihat fenomena pemuda desa yang mencoba peruntungan di kota sehingga  harus meninggalkan desanya. Berangkat dari isu ini pula, Sekolah Pagesangan berupaya untuk menjadi bagian dari solusi dengan menahan laju urbanisasi agar regenerasi petani di Gunungkidul terus hidup.

Berbicara mengenai budaya swasembada pangan di Gunung Kidul sebetulnya sudah lahir dari jaman nenek moyang. Budaya berdikari ‘kebon ke pawon’ ini menjadi warisan sosial budaya yang semakin lama semakin ditinggalkan. Pengetahuan kearifan lokal mengenai pangan dan pertanian sendiri adalah respon masyarakat Gunung Kidul terhadap lanskap pertanian yang didominasi oleh karst dan ritme kehidupan pertanian Wintaos yang banyak dipengaruhi oleh siklus alam. Inilah yang membuat masyarakat Gunung Kidul  memiliki mekanisme pertahanan hidup yang kompatibel dengan alam dan tidak destruktif melalui budaya subsisten. Budaya bertani yang selaras dengan alam adalah salah satu yang menjadi medan juang Diah dan rekan Sekolah Pagesangan. 

Diah melalui Sekolah Pagesangan menghadirkan ‘sekolah’ kontekstual yang selaras dengan kearifan lokal Gunung Kidul. Dalam praktiknya, Sekolah Pagesangan merangkul semua elemen masyarakat dari berbagai umur untuk belajar bersama terkait pertanian. Selain itu, Sekolah Pagesangan juga acap kali mengadakan berbagai kegiatan yang dapat diikuti oleh masyarakat secara lebih luas seperti Sinau Tetanen, Cangkruk Gathuk, Urip nDeso yang berisi beberapa seri seperti Sobo Tegal, Sobo Pawon, Sobo, Sinau Tani, Literasi Pangan, dan masih banyak lagi. Selain itu, peningkatan ekonomi juga menjadi hal utama yang digeluti Diah yaitu melalui penyaluran hasil produk Sekolah Pagesangan melalui Kedai Sehat Pagesangan.

Tentu jalan juang Diah Widuretno melalui Sekolah Pagesangan masih sangat panjang. Kegelisahan mengenai sistem pangan dan pertanian harus terus ada. Sekolah Pagesangan hadir sebagai solusi yang selaras dengan Pidato Ir. Soekarno terkait sistem pangan Indonesia pada peletakan batu pertama Gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia: radikal dan revolusioner. (Dewi Fajar Sariningtyas)

Self Improvement Class: Langkah Awal Awardee Beasiswa Desamind berPijar

By Artikel, Beasiswa Desamind, Berita Terkini

DESAMIND.ID – Rabu (09/08) Kelas Pengembangan Awardee Beasiswa Desamind berPijar diselenggarakan selama tiga pekan berturut-turut, yaitu pada tanggal 9, 16, dan 23 Juli 2023. Pada pekan pertama, penerima beasiswa mendapat materi tentang Know Your Project Well 101 bersama Joko Susilo, Founder Gunungkidul Menginspirasi. 

Pada pekan kedua, para awardee mendapat materi yang tidak kalah menariknya dari materi pertama, yakni Make Your Project Influential. Pada materi ini mereka berkesempatan untuk mendengarkan paparan langsung dari Zukruf Novandaya, Director Program & Comdev ID Next Leader. 

Para awardee berkesempatan menyimak materi Ultimate Guide For Project Collaboration pada pekan terakhir bersama narasumber Leody Sarmanella, Program Strategist Manager dan Anthony Marwan Dermawan, Policy Specialist dari Pijar Foundation sekaligus mitra Desamind dalam program Beasiswa Desamind berPijar. Rangkaian Self Improvement Class merupakan kegiatan pembekalan yang sangat membantu langkah awal awardee dalam memulai proyek sosial.

Pada kelas pertama, awardee melakukan praktik pembuatan Customer Empathy Board (CEB) dan Crazy Eight (CE). Awardee Beasiswa Desamind berPijar diarahkan untuk membuat rancangan dengan tiga poin yang mendasar, yakni: isu, target, dan konteks yang berkaitan dengan proyek sosial di desa masing-masing. 

Dari ketiga poin tersebut kemudian diturunkan pada penerapan kebutuhan yang akan dilakukan mencakup Pain, Gain, Ideate. Hal ini berguna untuk mengidentifikasi potensi dan peluang, merumuskan kerangka masalah dan alternatif solusi, serta mempertimbangkan pelatihan, monitoring, evaluasi, dan target luaran. Selain itu, hal ini juga dilakukan untuk menentukan Smart Objective sebagai metode yang digunakan dalam penetapan tujuan. 

Pada akhir sesi, awardee mendapatkan materi teknik brainstorming dengan menggambarkan sketsa desain produk produk dalam waktu 8 menit. Kesan awardee Beasiswa Desamind berPijar yang mengikuti kelas ini sangat antusias dan turut aktif dalam diskusi.

Gambar 1. Kelas Pengembangan Week 1

Kelas kedua, Zukruf Novandaya mengajak kelima Awardee Beasiswa Desamind Berpijar  yaitu: 1) Dian Arifando Rusyadi, 2) Devi Nurbaeti, 3) Ego Ibnu, 4) Putri Felita Listiani, 5) Lalu Junaedi Halki untuk praktik menentukan divisi yang dibutuhkan dalam proyek sosial di desa yang dituju. 

Kemudian, awardee diajak menentukan Key Performance Indicator dari setiap list jobdesc. Materi ini, bisa langsung diterapkan oleh para awardee dalam pembentukan tim, khususnya dalam pelibatan orang-orang yang memiliki kemampuan menjawab kebutuhan program. Selain itu, awardee juga praktek membuat Objectives and Key Results (OKR) sebagai tolak ukur pencapaian tujuan dengan menentukan sejumlah hasil utama.

Gambar 2. Kelas Pengembangan Week 2

Kelas ketiga, Leody Sarmanella dan Anthony Marwan Dermawan sebagai pemateri dari Pijar Foundation memberikan materi terkait Ultimate Guide For Project Collaboration. Pada sesi ini, pemateri memberikan pemaparan mengenai pentingnya kolaborasi, terutama bagi proyek sosial, dan mengenai beberapa matrik praktikal terkait. Matrik yang disampaikan oleh pemateri adalah Hexa Helix Strategy, sebuah strategi terbaru yang menggabungkan elemen komunitas, bisnis, media, akademisi, pembuat regulasi, dan pemerintah. 

Salah satu elemen penting dari Hexa-helix Strategy ini adalah collaborative government. Melalui sesi ini, awardee satu per satu menyusun ekosistem kolaborasi proyek sosial melalui tahapan empathize and synthesizing, mapping, dan transforming. Selain itu, bersama pemateri, awardee diajak untuk melakukan pemetaan kolaborator pemegang kepentingan (Stakeholder Mapping).

Gambar 3. Kelas Pengembangan Week 3

Setelah melakukan praktik bersama narasumber, hasil dari praktik kelas menjadi modal awal bagi Awardee Beasiswa Desamind berPijar untuk memperdalam latar belakang program yang diusulkan. Selain itu, materi yang didapatkan oleh awardee dapat membantu mereka dalam pembentukan kebutuhan tim yang terukur dan ideal, dan dapat memahami cara menjalin kolaborasi dengan berbagai lini yang dapat mendukung kemajuan program. Pada akhir sesi, awardee ditugaskan untuk membedah kembali proposal grand design pengabdian di desa tentang kewirausahaan sosial yang akan dipresentasikan pada para panelis di agenda Pitching Session. (Yulia Susanti/Dewi Fajar Sariningtyas)

Pitching Day

Demo Day Pitching Day Session, Waktunya Unjuk Diri Awardee Beasiswa Desamind berPijar

By Artikel, Beasiswa Desamind, Berita Terkini

DESAMIND.ID – Sabtu (05/08) Awardee Beasiswa Desamind berPijar telah melalui tahap demo day pitching session untuk proposal grand design pengabdian di desa tujuan. Proposal tersebut menjadi salah satu komponen penilaian dalam seleksi beasiswa. Pada tahap ini, proposal dibedah lebih dalam oleh para panelis, yaitu Hardika Dwi Hermawan, President Director Desamind; Zakky Muhammad Noor, Managing Director Desamind; dan Syifa Adiba, Director Public Relations Desamind. 

Adapun isi proposal mencakup: latar belakang, tujuan program, sasaran program, rencana program dan mekanisme kegiatan, rencana anggaran, dan mitra program. Semua poin dalam proposal masuk dalam indikator penilaian oleh panelis. 

Demo day sesi pertama, diawali dengan presentasi dari Ego Ibnu Wijaksena yang memilih Desa Sumber Bakti sebagai desa pengabdian. Proposal Ego bertujuan menjadikan pelaku usaha ikan asap sebagai target sasaran. Program yang bertajuk ISAMBA mendapat berbagai masukan dan saran dari panelis untuk perbaikan program. 

Panelis Hardika Dwi Hermawan mendorong program luar biasa tersebut agar dapat berkolaborasi dengan Chapter Desamind Aceh. Hardika merasa perlu peran tim yang tidak sedikit dan memperhatikan banyaknya mitra untuk memperjelas ranah kerjasama.

Sedangkan, panelis Zakky Muhammad Noor mempertegas output dari program ISAMBA, dan mengingatkan pentingnya mitra mengetahui program secara detail. Syifa Adiba, memberikan apresiasi pada Ibnu yang proposalnya siap untuk dilaksanakan, serta untuk bisa melakukan coaching bersama Desamind Indonesia terkait kesulitan branding program dalam sosial media.

Gambar 1. Pitching Session Ego Wibnu Wijaksana

Sesi kedua dilanjutkan oleh Putri Felita Listiani, awardee beasiswa yang memilih kelompok ibu rumah tangga tanpa penghasilan di Desa Pengkok Gunungkidul sebagai target sasarannya. Felita mendorong kelompok ibu rumah tangga untuk memanfaatkan ubi jalar sebagai produk makanan yang dikemas sehingga memiliki nilai jual. 

Panelis menekankan soal budgeting untuk lebih didetailkan dalam menentukan HPP (Harga Pokok Penjual) serta estimasi keuntungannya. Di sisi lain, kedekatan pada stakeholder menjadi kekuatan Felita dalam melaksanakan proyek, dan pengalamannya sebagai entrepreneur yang menjadi bekal Felita dalam mendukung program yang diinisiasi.

Gambar 2. Pitching Session Putri Felita Listiani

Selanjutnya sesi ketiga, yakni presentasi dari awardee Devi Nurbaeti yang memiliki program mendorong mahasiswa untuk melakukan riset pengolahan buah jeruk, sebagai bentuk upaya meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Kalisongo, Kabupaten Malang. Panelis hanya menyoroti satu hal dari persiapan yang Devi sudah lakukan, yaitu mengkaji kembali mitra-mitra programnya.

Gambar 3. Pitching Session Devi Nurbaeti

Sesi terakhir ditutup dengan presentasi dari Dian Arifando Rusyadi. Fando menjadikan remaja sebagai target sasaran proyek sosial yang ingin membuat produk dari bahan baku biji karet di Desa Margabakti. Adapun komentar dari panelis yaitu agar Fando dapat memperkuat mitra dan ekosistem. Selain itu, panelis menyarankan agar Fando melakukan riset lanjutan dalam pembuatan produk chocoball. Terakhir, panelis juga menekan kepada Fando untuk fokus ke produk yang fundamental agar program dapat terealisasi secara maksimal. 

Gambar 4. Pitching Session Dian Arifando Rusyadi

Sedangkan, Lalu Junaedi Halki yang seharusnya presentasi pada sesi 5 Demo Day, ditunda menjadi tanggal 18 Agustus 2023 dikarenakan sedang mengikuti rangkaian seleksi Pemuda Pelopor yang mewakili Lombok khususnya provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk seleksi pada tingkat nasional. (Yulia Susanti)

Acara Kelas Inspirasi Desamind Chapter Purbalingga

Semangat Murid SMP N 3 Kutasari untuk Mengembangkan Diri sebagai Bekal di Masa Depan

By Artikel, Berita Terkini

Desa Karangjengkol, Purbalingga – Desamind Chapter Purbalingga bersama dengan volunteer dari Ruang Inspirasi membuat langkah baik di bidang pendidikan. Sasaran kegiatan ini yaitu peserta didik SMP N 3 KUTASARI. Acara kelas pengembangan diri ini dilaksanakan pada Sabtu (29/7). 

Tujuan dilaksanakannya acara ini adalah meningkatkan kesadaran peserta didik SMP mengenai pentingnya melanjutkan pendidikan menuju SMA/Sederajat. Tema yang diangkat yaitu ” Meningkatkan Semangat Generasi Muda yang Berkarakter, Kompetitif dan Kritis di Era Digital “. 

Kegiatan kelas pengembangan diri memiliki 2 acara inti yaitu Seminar dan FGD (Forum Group Disscusion). Seminar tersebut diisi oleh narasumber yang merupakan dosen dari Universitas Islam Negri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Lina Dwi Puryanti, S. Sos, M. Pd . Sedangkan FGD dilakukan oleh anggota dari Desamind Chapter Purbalingga dan volunteer

Kegiatan seminar berisi tentang perjalanan pendidikan yang telah dilalui oleh narasumber. Perjalanan yang berisi tantangan yang dihadapi dan bagaimana narasumber memecahkan masalah yang ada ketika menjalani pendidikan. Narasumber yang berprofesi di bidang pendidikan ini, menjadikan peserta didik tertarik untuk mengikuti acara seminar sampai akhir karena merasa penting untuk kehidupan dan sangat memotivasi bagi mereka.

Menulis harapan
Gambar 1 Kertas Cita-Cita

Hal menarik yang ada pada seminar ini yaitu peserta didik di sekolah tersebut menuliskan cita-cita nya di selembar kertas yang semoga cita-citanya akan terwujud di kemudian hari. Selanjutnya, kertas tersebut ditempelkan di tembok agar murid lain pun menjadi saksi jika suatu saat nanti cita-citanya tercapai.

Setelah acara seminar selesai lalu dilanjutkan dengan acara FGD (Forum Group Disscusion). Acara FGD merupakan ajang berdiskusi antara fasilitator dan peserta didik di sekolah. Fasilitator berasal dari anggota Desamind Chapter Purbalingga dan volunteer. Setiap peserta didik akan mendapatkan kelompok dan setiap kelompok memiliki fasilitator 1 atau 2 orang. 

Fasilitator memberikan berbagai pertanyaan berisikan tentang makna dari kesuksesan, faktor penyebab meningkatkan angka putus sekolah, usaha untuk meningkatkan motivasi sekolah, dan yang lainnya. Peserta didik diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan serta menyampaikan pendapat mengenai pertanyaan tersebut. Hal ini melatih komunikasi mereka, memberikan kebebasan berpendapat untuk semua orang, dan menghargai berbagai pendapat oleh orang lain. Komunikasi yang terjalin di acara FGD membuat para murid lebih dekat dan mengenal satu sama lain.

Gambar 2. Pelaksanaan FGD

Harapannya Desamind Chapter Purbalingga dapat berkelanjutan memberikan makna positif bagi masyarakat serta bagi para volunteer mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan untuk mereka. Harapannya peserta didik SMP N 3 Kutasari bisa melanjutkan pendidikan untuk mencapai cita-cita yang diinginkannya serta sukses di kemudian hari dan dapat meneruskan makna positif yang telah diberikan kepada yang lainnya.

(Author : Chapter Purbalingga)

Junjung Tinggi Pendidikan Sampai ke Hilir, Lilin Inspirasi Hadir di Kalimantan Tengah

By Artikel, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Kotawaringin Barat, 30 Juni 2023 – Desamind percaya, bahwa pendidikan merupakan hak dasar anak-anak di seluruh Indonesia, termasuk mereka yang berasal dari pelosok negeri. Kurangnya faktor pendukung seperti lingkungan, akses, fasilitas dan kesadaran orang tua acap kali menjadi sebab dari rendahnya motivasi anak untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Melihat hal tersebut, Desamind menghadirkan Lilin Inspirasi untuk membersamai 310 orang siswa, wali murid, dan guru di SDS 015 Best Agro dan TK Marundo Jaya di Desa Gandis, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.

Kegiatan Lilin Inspirasi diselenggarakan pada hari Rabu (28/06) dan Jumat (30/06) dengan memanfaatkan momentum pembagian rapor akhir tahun. Ahmad Zamzami selaku Associate of Chapter Division dari Desamind Indonesia, dibantu oleh para guru, sukses melaksanakan kegiatan yang diadakan selama dua hari tersebut.

Ahmad Zamzami bersama siswi SDS 015 Best Argo

Hari pertama kegiatan Lilin Inspirasi diisi dengan rangkaian acara seperti “Gerakan Cerdas, Semangat Meraih Mimpi”, disambung dengan kegiatan “Kelas Mendongeng” dan ditutup dengan kegiatan “Outbound Semarak Akhir Tahun”. Ketiga kegiatan ini diperuntukkan bagi siswa SD dan TK.

Foto bersama kegiatan Outbound Semarak Akhir Tahun

Pada hari kedua kegiatan Lilin Inspirasi, tim Desamind melibatkan para wali murid pada agenda “Gerakan Peduli Lingkungan” dan “Outbound Semarak Akhir Semester”. Di Desa Gandis, bukan hal mudah untuk mengajak orang tua hadir ke sekolah. Pasalnya, kebanyakan dari mereka belum sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak. Contoh kecilnya, ketika pembagian rapor seringkali wali murid tidak datang ke sekolah. Demi mensukseskan acara, Zamzami melakukan berbagai pendekatan kepada wali murid. Mulai dari menyebarkan info kegiatan dari jauh-jauh hari hingga membagikan undangan spesial.

Foto bersama guru, siswa dan wali murid

Setelah rangkaian acara, anak-anak bercerita kepada orang tua masing-masing betapa senangnya mereka mengikuti kegiatan Lilin Inspirasi. Orang tua pun menyampaikan kepada Zamzami, “Pak, saya akan dukung anak saya sesuai cita-cita yang dia tuliskan tadi di rangkaian acara”.

Siswa siswi menulis impiannya saat mengikuti kegiatan Lilin Inspirasi

Turut sertanya siswa, wali murid dan guru menjadi bukti bahwa Lilin Inspirasi hadir bukan hanya untuk memberikan motivasi kepada satu pihak. Melainkan semua pihak untuk ikut andil dalam menciptakan semangat pendidikan. Ahmad Zamzami berharap, melalui kegiatan ini semangat anak-anak di Desa Gandis semakin membara dalam menempuh pendidikan. Masyarakat juga diharapkan semakin sadar bahwa pendidikan itu penting dan harus diperjuangkan, terlepas dari segala keterbatasan yang ada di setiap sudut negeri. Desamind, Ingat Bangsa! Ingat Desa!

Penulis: Nadia Rana Nabila

Editor: Syifa Adiba dan Putri Aulia Pasa

Dedikasi dari Kota untuk Desa, Kisah Mas Tani Farm Seorang Inisiator Pertanian di Desa Siraman, Gunungkidul

By Artikel, Ensiklopedia Desa, Pemberdayaan Kepemudaan

Desamind.id – Mas Tani Farm panggilan yang begitu familiar di kalangan masyarakat desa Siraman, merupakan panggilan dari Fahid Nurarrosyid. Beliau merupakan seorang anak muda dari Desa Siraman, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul yang memiliki dedikasi tinggi pada bidang pertanian.

Kisah Fahid dimulai pada tahun 2018, ia menyelesaikan studinya pada jenjang SMK, setelah menyelesaikan pendidikannya Fahid memutuskan untuk merantau sebagai seorang pekerja di PT. Denso Indonesia dengan posisi sebagai Quality Control di kota Bekasi. Selama masa bekerja, Fahid merasakan kegelisahan karena faktor internal yang menyebabkan ia memikirkan kondisi pertanian yang kurang dalam manajemen dan pemasaran pertanian di desanya, ia juga merasakan kejenuhan karena kondisi yang jauh dari orang tua di perantauan.

Fahid merasa sudah cukup bekerja sebagai pegawai pada perusahaan di kota, dengan berbekal ilmu dan pengalaman yang didapatkannya dalam bidang Industri diharapkan nantinya mampu untuk bisa memberi kemanfaatan dalam memberikan dedikasi untuk desanya. Faktor eksternal juga mempengaruhi perasaan Fahid. Banyaknya pemuda di desanya yang merantau ke kota, kurangnya inisiator yang menjadi penggerak di desanya.

Merasa gelisah melihat permasalahan pertanian serta kondisi orang tua di desa. Fahid akhirnya memutuskan untuk resign dari pekerjaannya, setelah sebelumnya bekerja di kota dalam rentang waktu satu tahun.

Keputusan Fahid untuk kembali ke desa tidak berbuah sia-sia. Dalam usahanya memajukan pertanian di desanya, Fahid memikirkan ide untuk dapat merealisasikan harapannya sebagai orang yang peduli terhadap kondisi desa. Ia berinisiatif untuk memberdayakan pertanian yang ada di desanya, dengan melihat potensi besar dalam segi lahan, dan juga sumber daya alam yang terdapat di desanya.

Meskipun Fahid belum memiliki pengetahuan yang luas tentang pertanian, ia berusaha terus mempelajari ilmu dan juga praktek pertanian dengan melakukannya sendiri secara otodidak dan bertanya kepada akademisi yang ahli dalam bidang pertanian. Namun, walau sudah berusaha keras untuk menggagas pertaniaan ini, Fahid masih perlu dorongan yang lebih besar untuk merealisasikannya. Hal ini disebabkan karena sedikitnya orang yang berminat untuk terjun dalam memajukan pertaniaan di desanya.

Melihat kekurangan yang ada, tak membuat Fahid berhenti untuk mewujudkan mimpi besarnya. Fahid terus berusaha mengembangkan pertanian dengan merangkul para pemuda di desanya serta para akademisi dalam untuk saling bahu-membahu dan berkolaborasi dengan suatu lembaga atau komunitas di bidang pertaniaan. Hingga terbentuklah sinergi yang mempunyai andil besar dalam kemajuan pertanian di Desa Siraman.

Melalui terjalinnya sinergi yang terbentuk tersebut, hasilnya mampu memberikan pemberdayaan berupa ilmu dan praktek kepada para anggotanya dimulai dari basic tentang pertanian dalam merealisasikan kegiatan pertanian di desanya. Diawali dengan menanam sayur, yang kemudian hasil panennya dibagikan ke tetangganya hingga sampai tahap penjualan sayuran secara meluas dari hasil panen tanamannya.

Melihat hasil panen tanaman yang didapatkan dari pertaniannya. Fahid bersama rekan-rekannya menanam tanaman melon, sebelum mereka menanam tambahan tanaman yang lainnya. Dari tanaman melon inilah masyarakat mengenal Fahid secara familiar dan menyebutnya dengan sebutan “Mas Tani”.

Dari proses panjang pemberdayaan pertanian yang dijalankan Fahid sebagai petani. Fahid juga merasakan kendala selama memperjuangkan konsistensinya bagi pertaniaan di desanya. Kendala yang dirasakannya meliputi: kendala mental, tekanan dari lingkungan sekitar, industrialisasi yang kurang terkoordinir, dan kendala lainnya.

Permasalahan yang dihadapi selama berdedikasi sebagai seorang petani muda tak membuat Fahid lengah. Hal tersebut membuktikan peran nyatanya sebagai seorang petani yang mampu berprestasi. Fahid berkesempatan mendapatkan penghargaan pada Pekan Nasional (PENNAS) bidang pertanian hari Sabtu (15/06/2023) dalam bidang pertanian dengan karyanya Sistem Pertanian Creative Farming “Budidaya Hortikultura berkelanjutan dan Ramah Lingkungan” dari tanaman melon, yang diberikan dalam PENNAS di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.

Dengan adanya prestasi yang didapatkan Fahid dan perjalannya dalam memajukan pertanian di desanya, harapannya dapat memotivasi para generasi muda untuk selalu peduli terhadap pertanian di desa. Selain itu, generasi muda mampu menjadi Agent of Change dan memberikan dampak yang luas bagi lingkungan masyarakat di desa.

Penulis: Arief Rahman Husein

Editor: Syifa Adiba dan Putri Aulia Pasa

Raih Impian Bersama Muda Bestari, Proyek Awardee Beasiswa Desamind 2.0

By Artikel, Beasiswa Desamind, Program Unggulan Desamind

Beasiswa Desamind merupakan program dari Desamind Indonesia yang bertujuan untuk mempersiapkan pemuda Indonesia agar dapat berkontribusi secara langsung di masyarakat melalui proyek sosial. Salah satu proyek nyata dari awardee beasiswa Desamind 2.0, Muda Bestari yang merupakan besutan dari Nazwa Khoerunnisa. Wanita yang menjadi founder Muda Bestari ini berasal dari Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, Jawa Barat. Menurut penuturan Nazwa, proyek yang hingga saat ini masih berjalan akan menjadi pengabdian seumur hidupnya. Muda Bestari berfokus pada 3 program utama, yaitu bimbingan belajar, kakak asuh, dan jelajah sekolah.

Bimbingan belajar berfokus pada pendampingan belajar murid SDN Barengkok 02 yang merupakan mitra sekolah dari Muda Bestari. Pembentukan program ini dilatarbelakangi oleh tingginya tingkat ketertinggalan siswa dalam proses belajar dikarenakan pandemi covid-19. Harapannya, Muda Bestari dapat membantu mengejar ketertinggalan para murid dengan memberikan pendampingan belajar.

Belajar bersama murid SDN Barengkok 02

Program kedua, yakni kakak asuh. Program ini merupakan program yang berfokus pada mentoring murid. Tujuannya yaitu untuk mengetahui secara komprehensif kendala yang dialami oleh masing-masing murid. Disinilah peran seorang kakak asuh, yaitu membimbing 3 adik asuh yang merupakan murid siswa MTS Yanfa’ul Ilmi dalam mengatasi kendala saat proses belajar di sekolah.

Program mentoring murid

Program ketiga yaitu jelajah sekolah yang dilaksanakan sebulan sekali. Program ini bertujuan mengundang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor untuk dapat memberikan informasi secara menyeluruh tentang sekolah mereka. Secara keseluruhan terdapat 3 sekolah yang telah melakukan jelajah sekolah di SDN Barengkok 02 selama bulan Maret, April, dan Mei 2023. Sekolah tersebut yaitu SMP Negeri I Leuwiliang, SMP Muhammadiyah Barengkok, SMPS Bina Cendekia.

Hingga kini, program-program di Muda Bestari masih terus berlanjut. Bahkan, di tahun kedua ini telah terbentuk tim founder Muda Bestari dengan susunan organisasi yang lebih rapi dan program menarik dengan permasalahan lebih spesifik. “Saat ini pun aku tidak sendiri mendirikan Muda Bestari. Ada 4 mahasiswa lainnya yang peduli akan pendidikan di desa dan akhirnya kami jadi tim founder Muda Bestari.” ujar Nazwa.

Kegiatan opening Muda Bestari

Nazwa juga mengatakan bahwa rencana strategi jangka pendek, menengah, dan panjang telah disusun dengan rampung oleh tim founder. Harapannya seiring berjalannya waktu Muda Bestari dapat menjadi sekolah di masa depan. Demi memperlancar setiap proyek yang dilaksanakan oleh awardee, Desamind secara langsung melakukan pendampingan kepada para penerima beasiswa. Pendamping berupa mentoring dari profesional yang kompeten dan ahli pada bidangnya.

Sebagai awardee Beasiswa Desamind 2.0, Nazwa juga mendapatkan kelas mentoring bersama mentor Desamind yaitu Lily Suherlina dari Scholarship Division. Nazwa mengaku selama dibimbing oleh mentor dirinya sangat nyaman dan mendapatkan pemahaman lebih dalam terkait akar masalah yang terjadi di desa serta solusi tepat untuk memecahkannya.

“Mba Lily punya selera humor yang sefrekuensi sama aku jadi seru banget. Dia juga sosok yang kritis, tapi pembawaannya tetap asik jadi aku gak pernah merasa tertekan kalau sedang berdiskusi bersama,” ungkapnya.

Nazwa mengaku dirinya bukan orang yang memiliki target jangka panjang, maka dari itu untuk 5 tahun ke depan ia belum memikirkan apa saja yang hendak diraihnya. Hanya saja Nazwa berharapan dapat menjadi perempuan yang baik seperti namanya, Khoerunnisa.

Penulis: Sanita Sitinjak

Perkuat Peran Computational Thinking dan CS Unplugged di Daerah 3T, Tim Babar Kalesang (PLN Peduli x Desamind) Laksanakan ToT

By Artikel, Berita Terkini

Surakarta, 7 Juni 2023 – Berpikir komputational merupakan salah satu teknik pemecahan masalah yang sangat luas wilayah penerapannya, bukan hanya untuk menyelesaikan masalah seputar ilmu komputer saja, melainkan juga untuk menyelesaikan berbagai masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Computational thinking memiliki peran yang sangat penting bagi pelajar di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) di Indonesia. Berikut adalah beberapa peran penting dari computational thinking bagi pelajar di daerah 3T:

  1. Problem Solving: Computational thinking melibatkan pemecahan masalah yang sistematis dan logis. Dalam daerah 3T, pelajar sering dihadapkan pada tantangan yang unik dan kompleks. Dengan menggunakan konsep dan prinsip computational thinking, mereka dapat belajar untuk mengidentifikasi masalah, menganalisisnya, dan menemukan solusi yang efektif.
  2. Kreativitas dan Inovasi: Dalam kondisi yang terbatas, pelajar di daerah 3T sering kali perlu mengandalkan sumber daya yang ada untuk menciptakan solusi baru. Computational thinking membantu mereka untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi yang tersedia untuk mengatasi hambatan dan mencapai tujuan mereka.
  3. Peningkatan Literasi Digital: Melalui pengajaran computational thinking, pelajar di daerah 3T dapat meningkatkan literasi digital mereka. Mereka akan belajar tentang konsep dasar pemrograman, algoritma, analisis data, dan pemecahan masalah melalui teknologi. Hal ini membantu mereka menjadi lebih terampil dalam menggunakan teknologi, memahami cara kerjanya, dan mengoptimalkan manfaatnya.
  4. Pemberdayaan Sosial dan Ekonomi: Dengan pemahaman computational thinking, pelajar di daerah 3T dapat mengembangkan keterampilan yang relevan dengan industri teknologi. Mereka dapat belajar tentang pengembangan aplikasi sederhana, pengolahan data, atau desain web, yang dapat membuka peluang kerja dan pemberdayaan ekonomi di komunitas mereka. Selain itu, mereka juga dapat menggunakan teknologi untuk meningkatkan akses ke layanan pendidikan, kesehatan, dan informasi di daerah yang terpencil.
  5. Pengembangan Soft Skills: Computational thinking tidak hanya melibatkan aspek teknis, tetapi juga mengajarkan berbagai soft skills yang penting. Pelajar di daerah 3T dapat mengembangkan kemampuan kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, komunikasi, dan pemikiran kritis melalui pembelajaran computational thinking. Ini adalah keterampilan yang sangat berharga dalam dunia yang didorong oleh teknologi dan dapat membantu mereka dalam berbagai aspek kehidupan.

Penerapan computational thinking dalam pendidikan di daerah 3T dapat membantu mengatasi kesenjangan teknologi dan memberikan peluang yang setara bagi pelajar di seluruh Indonesia. Ini juga membantu mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan masa depan dan mengoptimalkan potensi mereka dalam menghadapi perubahan teknologi yang cepat.

Untuk mendukung penguatan tim yang akan terjun ke Pulau-Pulau Babar, tujuh orang yang terlibat pada Projek Babar Kalesang melaksanakan Training of Trainners (ToT) Computational Thinking (CT) dan CT/CS Unplugged. Kegiatan dilaksanakan dua kali yaitu pada tanggal 23 Mei 2023 dan 7 Juni 2023 di Meeting Room Jalan Slamet Riyadi, Surakarta dan Ruang Diskusi Perpustakaan dan Pusat Layanan Digital UMS. Kegiatan ToT dipantik oleh Irma Yuliana, S.T., M.M., M.Eng dan Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE untuk memberi penguatan tentang CT dan CS Unplugged.

Kegiatan ToT pertama pada tanggal 28 mei 2023 berfokus pada Penguatan CT, pelatihan perangkat Makey-Makey dan Pembuatan Power Bank Tenaga Surya sedangkan kegiatan pada 7 Juni 2023 digunakan sebagai kelanjutan penguatan projek STEM dan instalasi Power Bank Tenaga Surya. ToT berlangsung intensif selama 6 jam dimulai pada pukul 15.30 WIB hingga 21.30 WIB. 

Hardika Dwi Hermawan, ketua projek mengungkapkan bahwa peran Computational Thinking di daerah 3T ini sangat signifikan namun masih sedikit ahli yang mencoba menerapkannya. Kolaborasi bersama PLN Maluku menjadi jalan penting untuk membuka jalan anak-anak daerah 3T mengejar mimpi dan mengembangkan kapasitasnya.

Desamind GKR Hayu

Meet The Leader bersama GKR Hayu, Desa di Indonesia Membutuhkan Lebih Banyak Local Heroes

By Artikel, Berita Terkini

Yogyakarta, 10 Juni 2023 – Desamind Indonesia melalui program Desamind Leadership Camp (DLC) 3.0 menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan untuk mencetak local heroes yang berasal dari desa. Kegiatan DLC dilaksanakan di SCC UII pada hari Jumat-Minggu, 9-11 Juni 2023.

Salah satu kegiatan di DLC adalah Meet The Leader. Pada kesempatan ini, salah satu pembicara yang mengisi materi Meet The Leader adalah Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu. GKR Hayu adalah putri ke-4 dari Sri Sultan Hamengkubuwono X dengan Gusti Kanjeng Ratu Hemas dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

GKR Hayu membawakan materi yang bertajuk “We Need Local Heroes”. Pada kesempatan ini GKR Hayu didampingi moderator Sevia Anggraeni (Secretariat and Finance Division) dan MC Arief Rahman Husein (Public Relation Division). GKR Hayu menyampaikan materi tentang Leadership yang diawali dengan penjelasan mengenai 5 tingkatan dalam kepemimpinan.

Tingkatan pertama adalah individu yang sangat mampu. Tingkatan kedua adalah berkontribusi kepada anggota tim. Tingkatan ketiga adalah pemimpin yang berkompeten. Lalu, tahapan ke empat adalah pemimpin yang efektif. Terakhir, pada tahap kelima yaitu pemimpin yang berperan sebagai eksekutif. 

Pada saat menyampaikan materinya, GKR Hayu juga turut memasukan unsur nilai yang ada di keraton dan Budaya Jawa sebagai contoh pada tiap tingkatan kepemimpinan. Sebagai contoh, pada tingkatan pertama GKR Hayu menjelaskan mengenai watak ksatria, yaitu nyawiji, greget, sengguh lan ora mingkuh

Pada tingkatan kedua, GKR Hayu menjelaskan kaitannya dengan semboyan Ki Hajar Dewantara yang sudah sangat terkenal, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Terakhir pada tingkatan kelima, GKR Hayu mengaitkan tingkatan pemimpin yang eksekutif dengan kalimat yang dipegang teguh semenjak Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono 1 yaitu Manunggaling Kawula Gusti.

Sebelum menutup sesi materi, GKR Hayu menyampaikan mengenai peran kepemimpinan perempuan yang dapat dimulai oleh siapa pun dan di mana pun. Menurut beliau, peran pemimpin perempuan tidak kalah dengan kepemimpinan laki-laki jika ditinjau dari berbagai aspek. GKR Hayu juga turut menekankan perlunya dukungan yang dilakukan laki-laki dalam mewujudkan kesetaraan gender dalam lingkungannya (Er).

Author : Muhammad Ertam Hidayat

Awardee Beasiswa Desamind 2.0, Imelta Indriyani Alfiah Berhasil Meraih Penghargan Inisiator Bidang Pendidikan oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul

By Artikel, Beasiswa Desamind, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release, Program Unggulan Desamind

Senin, 15 Mei 2023 — Imelta Indriyani Alfiah awardee Beasiswa Desamind 2.0 berhasil meraih penghargaan pada ajang pemilihan Perempuan Inisiator oleh Bupati Gunungkidul. Pemberian penghargaan pada peringatan Hari Kartini ini bertempat di Pendopo Dinas Kebudayaan Gudungkidul dan dihadiri langsung oleh Bapak H. Sunaryanta selaku Bupati, sang istri yang merupakan ketua TP PKK Gunungkidul dan tamu undangan lain yang berkisar sebanyak 200 orang.

Acara dibuka dengan penampilan orkestra, pembacaan UUD sekaligus biografi Raden Ajeng Kartini. Tidak sampai disitu, terdapat pula sambutan, pemberian penghargaan kepada perempuan inisiator dan ditutup dengan acara menari bersama.

Pemilihan perempuan inisiator merupakan ajang penghargaan oleh pihak pemerintah Kabupaten Gudungkidul, diberikan kepada tokoh-tokoh daerah karena telah melakukan inovasi untuk menghapuskan kesenjangan gender pada tingkat akar rumput. Perjuangan, dedikasi dan inovasi para tokoh menjadi bukti nyata upaya untuk menghapuskan ketidakadilan serta ketimpangan dalam berbagai bidang. Maka dari itu, pemerintah Kabupaten Gunungkidul memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas sumbangsih para tokoh.

Imelta Indriyani Alfiah memberikan inovasi dengan mendirikan komunitas Saung Lentera Nglegi dengan tujuan agar dapat mengoptimalisasi potensi anak-anak usia dini melalui peningkatan minat baca. Selain Imelta, terdapat lima perempuan hebat lainnya yang juga menerima penghargaan perempuan inisiator tahun 2023, mereka adalah Puji Lestari inisiator bidang sosial, Tutut Dewantiwi inisiator bidang perekonomian, Sifra Chintia Mella Aprila inisiator bidang kesehatan, Susmiyati inisiator dalam bidang kebudayaan serta Ermina Kristiani Susanti lurah inisiator pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Pemberian penghargaan kepada Imelta Indiryani sebagai Perempuan Inisiator Bidang Pendidikan oleh pemerintah Kabupaten Gunungkidul pada hari Senin, 15 Mei 2023.

Sebagai salah satu penerima penghargaan Perempuan Inisiator, Imelta memiliki harapan untuk bisa terus berjuang lebih masif dan giat lagi dalam memajukan pendidikan Indonesia. Ia juga berharap semoga kedepannya dapat memantik semangat juang teman-teman lain. Ikhlas dan semangat menjalankan kegiatan adalah salah satu kunci untuk membuka pintu peluang dan pengalaman yang tidak terhingga.

Imelta Indriyani Alfiah juga mengatakan bahwa, “Hari kartini sebagai sebuah peringatan untuk kaum perempuan agar terus bersinar, percaya diri dan pantang menyerah dengan jalannya masing-masing. Karena sejatinya emansipasi wanita berarti melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai wanita sesuai dengan panggilannya dengan sepenuh hati”, ujarnya ketika dihubungi via Whatsapp pada Senin (15/5).

Penulis: Sanita Sitinjak

Editor: Syifa Adiba dan Putri Aulia Pasa