Skip to main content
Category

Berita Terkini

Desamind Chapter Malang Dorong Ibu-Ibu Desa Kucur Melek Digital dan Percaya Diri Jualan Online

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Malang (27 Juli 2025) – Balai Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang menjadi saksi semangat pemberdayaan perempuan desa melalui kegiatan workshop bertajuk “Mengasah Keberanian: Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Keterampilan Komunikasi Ibu-Ibu Desa”. Acara ini diprakarsai oleh Desamind Chapter Malang sebagai bentuk kontribusi dalam penguatan kapasitas ibu-ibu desa, khususnya dalam hal pemasaran dan komunikasi.

Workshop dibuka dengan pemaparan dari Hardika Dwi Hermawan, seorang praktisi pemasaran digital sekaligus penggerak literasi teknologi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam sesi berjudul “Pemasaran Digital untuk UMKM Desa”, Hardika memperkenalkan beragam kanal digital yang dapat digunakan untuk memasarkan produk lokal, seperti WhatsApp Business, Instagram, dan platform e-commerce. Ia juga menekankan pentingnya membangun citra produk melalui foto menarik dan cerita yang mengena.

“Teknologi adalah peluang. Kita hanya perlu membiasakan diri menggunakannya agar produk ibu-ibu bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Hardika yang disambut antusias oleh peserta.

Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Ziddan Hakim Abdul Jabbar (Arsip Desamind)

Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Ziddan Hakim Abdul Jabbar dengan topik “Membangun Kepercayaan Diri untuk Memulai Berjualan Online”. Dalam paparannya, Ziddan mendorong para peserta untuk tidak ragu memulai usaha, meskipun tanpa pengalaman sebelumnya. Ia mengajak peserta melakukan praktik berbicara di depan umum dan memberikan strategi untuk mengatasi rasa minder atau malu saat harus menawarkan produk secara langsung maupun daring.

“Kepercayaan diri itu dilatih, bukan ditunggu. Mulai saja dulu, dari hal kecil, dari lingkungan sekitar,” pesan Ziddan dengan semangat.

Gambar 2. Foto Bersama Desamind Chapter Malang dengan Ibu-Ibu Peserta Pelatihan (Arsip Desamind)

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan sesi ice breaking, relaksasi, dan foto bersama, yang semakin menghangatkan suasana kekeluargaan. Ketua Pelaksana, Anaqotul Fadillah A, menuturkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari misi Desamind untuk memberdayakan masyarakat desa melalui pendidikan yang menyenangkan dan aplikatif.

Dengan semangat “Ingat Bangsa – Ingat Desa”, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal dari perubahan positif bagi para ibu-ibu Desa Kucur dalam berwirausaha dan beradaptasi di era digital.

Rapat Kerja dan Upgrading Desamind Magelang: Menguatkan Soliditas, Menyusun Arah Gerakan

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Magelang – Desamind Chapter Magelang menggelar Upgrading Lilin Senja dan Rapat Kerja Perangkat Desamind 2025/2026 yang berlangsung di Mangkujo Magelang Kuda & Joglo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang pada Sabtu, (19/07). Kegiatan ini diikuti oleh 24 peserta dari berbagai divisi internal chapter sebagai ruang membangun keakraban, meningkatkan kapasitas, serta menyusun arah kerja strategis program pemberdayaan di desa mitra.

Mengusung tagline “Menyalakan hangat dari siang hingga malam, dalam tawa dan rasa yang menyatu,” kegiatan ini memadukan nuansa reflektif dan produktif. Nama “Lilin Senja” sendiri mengandung makna filosofis yang kuat. Lilin sebagai simbol penerangan dan ketulusan memberi, sementara senja melambangkan waktu tenang yang penuh makna. Sehingga Lilin Senja mencerminkan keindahan proses tumbuh bersama dalam kehangatan komunitas.

Abdul Aziez, Director Division Chapter Desamind Indonesia, berkesempatan hadir dan memberikan materi Time Management and Mindfulness. Ia menekankan pentingnya pengelolaan waktu dan kesadaran diri bagi para relawan agar tetap adaptif dalam menjalankan peran sosial mereka. 

Hadir pula Agus Maryanto, pemilik Mangkujo sekaligus alumni Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM), membahas mengenai Leadership and Teamwork. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi, rasa percaya dalam tim, serta kepemimpinan yang tumbuh dari pemahaman dan kedewasaan berpikir.

Gambar 1. Agus Maryanto memaparkan pentingnya pengetahuan Leadership and Teamwork dalam berorganisasi

Tidak hanya menerima materi, para peserta juga terlibat aktif dalam menyusun rencana kerja yang akan dijalankan di periode mendatang. Rapat kerja ini menjadi ruang pembahasan program-program yang relevan bagi desa mitra, menyepakati strategi kolaboratif, serta menyatukan pemahaman lintas divisi agar eksekusi program ke depan lebih terkoordinasi.

Rohani Hanifatul Azizah, Sekretaris Desamind Chapter Magelang, bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini. Walaupun baru bertemu antar divisi, semua langsung akrab.

“Acaranya seru, dapat teman baru, bisa kenal lebih dekat dengan perangkat lain. Meski sempat bingung karena beda divisi , tapi justru jadi kesempatan buat menjalin relasi baru. Kegiatan ini menambah pengetahuan, keterampilan, dan memberi gambaran jelas soal rencana kerja ke desa mitra,” ungkap Rohani. 

Annisa Kusuma Wardhani, ketua panitia kegiatan, berharap Upgrading Lilin Senja ini mampu meningkatkan kesolidan antar perangkat dan siap terjun ke lapangan. 

“Kami yakin ini menjadi awal baik untuk program-program pemberdayaan ke depan yang lebih berdampak dan terarah,” ujarnya.

Upgrading Lilin Senja tidak hanya menjadi ajang peningkatan kapasitas, tetapi juga ruang menyatukan ide dan niat baik dalam satu misi yang sama. Desamind Chapter Magelang terus berkomitmen menciptakan produktif bagi anggotanya agar tumbuh, bergerak, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Penulis: Desamind Chapter Magelang

Editor:  Ahmad Zamzami

Desamind Purbalingga Ajak Siswa SMPN 3 Kutasari Ciptakan Sekolah Aman dan Bebas Kekerasan

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Purbalingga – (14/07) Dalam rangka kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah di SMP Negeri 3 Kutasari, tim Desamind Purbalingga mendapatkan kesempatan mengisi sesi pembuka dengan melaksanakan kegiatan “Pencegahan dan Penanganan Bullying, Kekerasan, dan Pelecehan Seksual di Lingkungan Sekolah” 

Acara ini menjadi salah satu upaya membangun ruang belajar  inklusif, aman, dan penuh empati. Isu yang dibedah pun beragam, mulai dari bullying, kesehatan mental, seksual, dan relasi remaja. 

Priyanto, S.Pd., M.Pd., Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Kutasari, sangat mengapresiasi tim Desamind dan seluruh komunitas mitra atas dedikasinya menggalakkan sekolah yang aman bagi siswa. 

“Rumah kedua bagi anak-anak kita adalah sekolah. Sudah semestinya sekolah menjadi ruang yang aman dan nyaman untuk belajar dan tumbuh,” ungkap Priyanto.

handmade ceramic tableware, empty craft ceramic plates, bowls and cups, close-up

Gambar 1. Sesi sharing dan diskusi (Arsip Desamind Chapter Purbalingga)

Selain memberikan materi, para siswa juga diajak untuk diskusi kelompok dan menyuarakan pendapat. Meysa, salah satu siswi mengaku mendapatkan banyak pemahaman mendalam yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan

“Aku jadi tahu ternyata bullying itu bukan cuma fisik, tapi juga bisa lewat kata-kata. Aku senang bisa diajak ngobrol bareng teman-teman di grup kecil, jadi lebih nyaman buat cerita,” ujar Meysa.

Handmade ceramic vases and dishes on display in a shop.

Gambar 2. Pendampingan kelompok sesi suarakan pendapat (Arsip Desamind Chapter Purbalingga)

Program MPLS Ramah ini juga menjadi wadah kolaborasi antar komunitas dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman . Desamind Purbalingga menggandeng sejumlah mitra di antaranya, Forum Anak Purbalingga, GenRe Purbalingga, Ruang Inspirasi, serta rekan-rekan BEM Universitas Perwira Purbalingga (UNPERBA). 

“Kami sadar, menciptakan lingkungan yang aman bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi kita semua,” ungkap Muhammad Wafa, Kepala Desamind Purbalingga.

Penulis: Desamind Chapter Purbalingga

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Dorong Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Rumah Baca di Forum Urun Rembug TRANSID Surakarta

By Berita Terkini

Surakarta — Desamind Indonesia terus berkomitmen mendorong pemberdayaan masyarakat melalui penguatan gerakan literasi berbasis rumah baca. Komitmen ini diwujudkan dengan partisipasi aktif dalam Forum Urun Rembug yang diinisiasi TRANSID (Sentra Transformasi Peradaban), pada Kamis (10/07), di Pendopo Lodji Gandrung, Rumah Dinas Wali Kota Surakarta. Kegiatan kolaboratif ini menghadirkan berbagai elemen gerakan sosial, mulai dari pelajar, mahasiswa, relawan Non-governmental Organization (NGO), hingga perwakilan instansi pemerintah.

Desamind Indonesia diwakili oleh Ahmad Zamzami, dari Divisi Public Relation Divisions, yang membagikan pandangan mengenai peran strategis rumah baca dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Rumah baca memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ia bisa menjadi pusat kegiatan literasi, pendidikan, pengembangan keterampilan, hingga penguatan solidaritas sosial,” tegas Zamzami.

Zamzami menekankan bahwa rumah baca mampu menjadi motor penggerak literasi, pendidikan, pengembangan keterampilan, dan penguatan solidaritas sosial di tingkat akar rumput. Sebagai contoh konkret, Zamzami memaparkan dua inisiatif rumah baca yang telah berhasil memberikan dampak positif, yakni Saung Lentera Nglegi di Patuk, Gunungkidul, dan Laila Learning Center (LLC) di Klaten. Kedua ruang belajar ini telah menjadi pusat kolaborasi warga, tempat anak-anak belajar bersama, berdiskusi, dan mengembangkan potensi diri.

“Saung Lentera Nglegi dan LLC membuktikan bahwa rumah baca bukan hanya tentang buku, tetapi tentang membangun komunitas yang hidup, belajar, dan saling menguatkan,” tambahnya.

Turut hadir dalam forum ini Arif Handoko, S.Sos., M.H., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Kadispersip) Surakarta. Ia menggarisbawahi pentingnya rumah baca sebagai ruang belajar masyarakat yang adaptif terhadap tantangan zaman.

Gambar 1. Sesi bersama Arif Handoko, S.Sos., M.H., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Kadispersip) Surakarta (Arsip TRANSID)

“Rumah baca bisa menjadi wadah untuk mengembangkan berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, berbicara, dan memecahkan masalah. Ia juga dapat menjadi ruang gotong royong dalam membangun lingkungan yang lebih baik,” ungkapnya.

Forum Urun Rembug juga diikuti oleh perwakilan BEM se-Soloraya, Forum OSIS Surakarta, serta berbagai NGO dan komunitas literasi. Salah satu peserta, Ninda Rahmawati, siswi SMK Negeri 7 Surakarta, mengungkapkan antusiasmenya mengikuti kegiatan ini.

“Kami jadi tahu bagaimana bisa aktif membangun masyarakat dari hal-hal sederhana, seperti rumah baca,” ujarnya.

Forum Urun Rembug TRANSID Surakarta menjadi ruang kolaborasi strategis yang mempertemukan komunitas, pemerintah, dan generasi muda untuk menciptakan perubahan sosial yang nyata. Dengan semangat kebersamaan, Desamind Indonesia terus menguatkan peran rumah baca sebagai titik temu literasi, solidaritas, dan kemandirian masyarakat.

Penulis: Syifa Adiba

Young Leaders Programme (YLP) 2025

Menginspirasi! Founder Desamind Wakili Indonesia Bawa Semangat Pemuda Desa ke Forum Dunia YLP 2025 Singapore

By Berita Terkini, Press Release

SINGAPURA, desamind.id — Hardika Dwi Hermawan, Founder serta President Director Desamind Indonesia, terpilih sebagai salah satu delegasi yang berpartisipasi dalam Young Leaders Programme (YLP) 2025 di Singapura. Program prestisius ini berlangsung pada 26–28 Juni 2025 di Raffles City Convention Centre dan mempertemukan lebih dari 100 pemimpin muda dunia. Mereka berkumpul untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan sosial global, mulai dari kohesi sosial, harmoni antar agama, hingga solidaritas kemanusiaan lintas negara.

Gambar 1 Hardika dalam YLP 2025 (desamind.id/doc YLP 2025)

Program ini diselenggarakan oleh Ministry of Culture, Community and Youth (MCCY) Singapura. Hardika menerima undangan sebagai delegasi yang direkomendasikan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat melalui Desamind Indonesia, Ia memperoleh fasilitas penuh meliputi tiket perjalanan internasional, akomodasi, konsumsi, dan akses ke seluruh rangkaian kegiatan resmi.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta YLP mengikuti beragam sesi interaksi, kolaborasi, dan pembelajaran pengalaman. Kegiatan dibuka dengan Cultural Networking Evening, yang menjadi ajang berbagi pengalaman lintas budaya dan membangun jejaring global. Keesokan harinya, peserta diajak mendalami isu-isu sosial melalui Forum Teater, serta mengikuti Heartlands Exploration, kunjungan langsung ke kawasan permukiman multikultural di Singapura untuk mempelajari praktik kohesi sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Gambar 2 Keterlibatan Hardika dalam Rangkaian Program YLP 2025 (desamind.id/doc YLP 2025)

Program ini juga menghadirkan sesi breakout tematik, seperti Volunteer Quest, Act Against Disunity, dan Grand Challenges: Faith in Action, yang mendorong peserta berpikir kritis dan kreatif dalam menangani permasalahan ekstremisme, eksklusi sosial, dan peran agama dalam menciptakan perdamaian dunia. Pada hari terakhir, peserta berkesempatan mengikuti sesi Applied Learning yang difasilitasi oleh Center for Religion and Civic Culture dari University of Southern California, tempat mereka merancang inisiatif sosial yang dapat diterapkan di negara masing-masing.

Menurut Hardika, partisipasinya dalam YLP 2025 memberikan pengalaman berharga dalam mengasah keterampilan kepemimpinan global, seperti menyelesaikan konflik lintas budaya, merancang program kerja sama antarnegara, serta memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI) untuk menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks. Ia menilai bahwa pendekatan transdisipliner dan kolaboratif yang diusung oleh YLP sangat relevan dalam mencetak pemimpin muda yang adaptif, inklusif, dan berbasis nilai di era digital ini.

Program ini membuka wawasan saya tentang bagaimana pemuda dari berbagai negara dapat bersatu untuk menciptakan perubahan nyata. Saya berharap ke depan, pemuda Indonesia juga dapat berpartisipasi dalam program ini tentunya dengan menunjukkan inisiatif yang berdampak dan relevan terhadap tantangan sosial yang ada,” ungkap Hardika.

Gambar 3 100 Pemuda dari Penjuru Dunia pada YLP 2025 (desamind.id/doc YLP 2025)

Keikutsertaan Hardika dalam YLP 2025 juga mencerminkan komitmen Desamind Indonesia untuk mengembangkan kepemimpinan muda yang adaptif, inklusif, dan siap bersaing di tingkat global. Pengalaman tersebut akan diimplementasikan dalam pengembangan program berbasis komunitas yang berfokus pada literasi digital, pelatihan resolusi konflik, serta dialog antar budaya melalui berbagai inisiatif yang digagas Desamind Indonesia.

Penulis : Hardika Dwi Hermawan

Editor : Putri Aulia Pasa dan Syifa Adiba

Menabur Asa di Tanah Kecil: Cerita Lulu bersama Desamind

Menabur Asa di Tanah Kecil: Cerita Lulu bersama Desamind

By Artikel, Beasiswa Desamind, Berita Terkini

DESAMIND.ID — Dari sebuah kota kecil di ujung selatan Jawa Tengah, tumbuh seorang pemudi bernama Yanuar Laely Lu’iuatul Adha (20 tahun), atau yang akrab disapa Lulu. Ia berasal dari Desa Sidamulya, Kecamatan Sidareja, Cilacap, wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk kota, tetapi kaya akan semangat dan cita-cita. Lulu adalah mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat di STIKes Surya Global Yogyakarta, sekaligus salah satu awardee Beasiswa Desamind 4.0.

Sejak awal kuliah, Lulu dikenal sebagai pribadi yang senang membaca, berdiskusi, dan terlibat dalam kegiatan sosial. “Dari semester dua sudah sering ikut volunteer dan lomba-lomba. Aku memang suka banget sama dunia pemberdayaan.” tuturnya.   

Perjalanan Lulu menjadi bagian dari awardee Beasiswa Desamind bukan tanpa liku. Proyek yang ia usung awalnya adalah bagian dari proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM). Sayangnya, proposal tersebut belum lolos pendanaan. Namun, Lulu tidak menyerah. Ia justru menghidupkan kembali gagasannya melalui beasiswa Desamind, hingga lahirlah proyek bertajuk: STEVANTIC – Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam Budidaya Tanaman Stevia Rebaudiana sebagai Upaya Preventif Diabetes Melitus.

“Aku ingin ada solusi yang menjawab permasalahan, sederhana, dan bisa dijalankan bersama masyarakat. Stevia adalah tanaman lokal yang manis alami bisa jadi pengganti gula, dan ini sangat relevan untuk pencegahan diabetes melitus di Dusun Sayangan, Kalurahan Jagalan, Banguntapan, Bantul,” jelas Lulu.   

Dalam proyek ini, Lulu menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) di desanya yang sebagian besar juga merupakan kader posyandu. Ia tak hanya mengajarkan cara budidaya dan pengolahan stevia, tetapi juga menyelipkan edukasi kesehatan. Bersama Sobat Diabetes Yogyakarta, Puskesmas, dan para kader posyandu, Lulu memadukan pendekatan edukatif, sosial, dan budaya (Edu-Sos-Bud) yang menyeluruh dan membumi. 

Prosesnya pun penuh warna. Dari ikut menanam dan memanen stevia, berdiskusi dengan ibu-ibu KWT, hingga menghadapi tantangan ketika tanaman mulai layu pasca Ramadhan akibat keterbatasan penyiraman. “Ini bukan hanya soal tanaman. Ini soal komunikasi, komitmen, dan bagaimana membangun rasa memiliki bersama,” ucapnya.   

Gambar 1 Cek Kesehatan dan Panen Stevia

Meski berasal dari kampus yang relatif kecil, Lulu tidak merasa minder. Awalnya ia sempat insecure karena banyak awardee Desamind berasal dari kampus-kampus besar. “Tapi justru aku merasa ditemani dan dipeluk semangatnya. Bahkan ketika postinganku di-like tim Desamind aja rasanya seperti dapet pelukan,” kenangnya sambil tertawa. 

Tak berhenti di sana, Lulu juga aktif secara nasional. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Direktorat Penelitian dan Pengembangan ISMKMI Nasional (Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia), serta menjadi relawan MER-C Yogyakarta yang fokus pada isu-isu kemanusiaan dan kesehatan di daerah konflik dan bencana.

Kini, setelah Nomor Induk Berusaha (NIB) kelompok KWT berhasil didapatkan, Lulu sedang merintis jalur pemasaran legal untuk produk stevia dan herbal lainnya. Ia juga tengah membangun sebuah komunitas bernama “Sadar Sehat”, yang berawal dari inisiatif kampus dan mulai merambah kolaborasi lintas daerah.

“Aku ingin ilmu dan pengalaman dari Desamind, khususnya dari Program Beasiswa Desamind 4.0 tidak berhenti di aku. Tapi bisa tumbuh jadi gerakan yang hidup yang dari desa, untuk desa, dan bersama desa,” ujarnya mantap.

Dengan ketulusan, keberanian, dan konsistensi, Lulu membuktikan bahwa dari seorang anak yang tumbuh di sudut Cilacap, bisa tumbuh mimpi besar yang berdampak nyata bagi masyarakat. Bahwa dari tanah kecil, seorang anak muda bisa menabur asa dan menumbuhkan harapan baru untuk hidup yang lebih sehat, berdaya, dan saling menjaga.

Penulis : Putri Aulia Pasa

Editor : Syifa Adiba

Edukasi Door-to-Door: Langkah Nyata Sahabat Digital Cakra Lawan Hoaks dan Judi Online

By Berita Terkini

Purbalingga (01/06) Upaya meningkatkan kesadaran literasi digital masyarakat terus diperkuat oleh Sahabat Digital Cakra, Satgas Literasi Digital yang dibentuk melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Literasi Digital Lawan Hoaks dan Judi Online pada Sabtu, 31 Mei 2025 oleh Tim Program Pengabdian Masyarakat Persyarikatan/AUM/Desa Binaan (P2AD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Mereka sukses menggelar kegiatan edukasi door-to-door kepada masyarakat Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.

Sebanyak 70 siswa dari PKBM Cakra bersama 26 pendamping diterjunkan langsung ke lima dusun untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan hoaks dan bahaya judi online. Dengan pendekatan langsung ke rumah-rumah warga, kegiatan ini menjadi bentuk pembelajaran kontekstual yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan riil masyarakat.

Gambar 1. Penerjunan Sahabat Digital Cakra Sosialisasi ke Masyarakat

M. Raihan Al Fauzan, Kepala PKBM Cakra menyambut positif adanya kegiatan ini. Program sosialisasi door to door dinilai mampu menggerakkan siswa mengaplikasikan ilmunya dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

 “Kami mengapresiasi dukungan dari tim P2AD UMS, Desamind Indonesia dan semua pihak yang telah terlibat. Inisiatif ini bukan hanya meningkatkan kompetensi siswa, tetapi juga berdampak langsung bagi warga,” ujar Fauzan.

Irfa Diani, salah satu siswa PKBM Cakra, mengaku mendapat pengalaman dalam memperluas cara pandangnya terhadap peran pemuda dalam pemberdayaan masyarakat.

“Ini pengalaman pertama saya turun langsung ke masyarakat. Saya belajar banyak hal, mulai dari cara berkomunikasi efektif hingga menyampaikan informasi penting seperti literasi digital,” ungkap Irfa.

Gambar 2. Sosialisasi Literasi Digital Cegah Hoaks dan Judol kepada Masyarakat

Respon positif pun datang dari warga yang merasa terbantu dengan informasi yang dibagikan secara langsung dan interaktif.

“Sekarang saya jadi lebih paham bagaimana menghadapi berita yang tidak jelas dan menghindari aplikasi-aplikasi judi online yang sering muncul,” ungkap Umiyah, warga RT 02 RW 06 Desa Cipaku.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi antara lembaga pendidikan dan pemuda dapat menjadi motor perubahan sosial di tingkat akar rumput. Diharapkan, model edukasi door-to-door ini bisa menjadi praktik baik yang direplikasi di wilayah lain dalam upaya membangun masyarakat yang cakap digital dan tahan terhadap disinformasi.

Author: Ahmad Zamzami

Editor:  Putri Aulia Pasha

Tim P2AD UMS Gandeng Desamind Gelar FGD Literasi Digital Lawan Hoaks dan Judi Online di PKBM Cakra Purbalingga 

By Berita Terkini

Purbalingga (31/05) – Dalam upaya menumbuhkan kesadaran literasi digital dan membangun ketahanan komunitas terhadap penyebaran hoaks dan praktik judi online, Tim Program Pengabdian Masyarakat Persyarikatan/AUM/Desa Binaan (P2AD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)  menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Platform dan Satgas Hoaks-Judi Online” di Gedung Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cakra, Desa Cipaku, Purbalingga.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat UMS dalam program multiyear bersama PKBM Cakra dengan melibatkan jajaran tutor, pengurus OSIS, Pramuka, serta perwakilan siswa PKBM dan Desamind Indonesia. Desamind Indonesia hadir sebagai mitra strategis sekaligus pendamping dalam kegiatan literasi digital tersebut.

Gambar 1. Proses Diskusi dan Perencanaan Pembentukan Satgas Hoaks dan Judol

Bashri, tutor PKBM Cakra, dalam sambutannya menekankan pentingnya membekali generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis dalam memilah informasi di era digital sehingga tidak terjebak dalam lingkaran berita hoaks dan judi online.

“Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan digital yang sehat dan bertanggung jawab. Anak-anak muda perlu menyadari bahwa mereka bisa menjadi garda terdepan dalam menangkal hoaks dan menjauhi praktik destruktif seperti judi online,” ujar Bashri.

Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc., Dosen Pendidikan Teknik Informatika (PTI) UMS dan Ketua Tim P2AD FKIP UMS, yang menjadi narasumber sekaligus pemantik FGD, mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng pernah menggerebek markas judi online jaringan Kamboja di Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga pada tahun 2022.

“Ini bukan hanya sejarah kelam, tapi juga pengingat serius. Kita tidak bisa tinggal diam. Pembentukan Satgas Literasi Digital adalah langkah preventif yang penting agar komunitas, khususnya anak muda, memiliki ketahanan digital sejak dini,” tegas Hardika.

Gambar 2. Pembekalan kepada Tim Utama Sahabat Digital Cakra

Dalam diskusi yang berlangsung aktif dan partisipatif, para peserta menyepakati pembentukan Satgas Literasi Digital yang diberi nama “Sahabat Digital Cakra”. Satgas ini akan menjadi wadah gerakan edukatif untuk menyebarkan informasi yang benar serta memerangi praktik digital yang merugikan masyarakat.

Ayu Septiana Ramadhani, Ketua OSIS PKBM Cakra sangat antusias dengan hadirnya forum ini dan siap terlibat langsung dalam kegiatan sosialisasi ke masyarakat.

“Saya senang bisa menjadi bagian dari FGD ini. Semoga hasil diskusinya tidak berhenti sebagai teori, tapi bisa menjadi gerakan nyata. Saya dan teman-teman sudah siap untuk melakukan sosialisasi hoaks dan judi online secara door to door,” ucap Ayu.

FGD ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga titik tolak aksi nyata. Desamind Indonesia sebagai mitra penggerak pemuda menyambut positif kolaborasi ini, dan siap mendukung kelanjutan program “Sahabat Digital Cakra” sebagai model penguatan kapasitas digital berbasis komunitas.

Dengan pendekatan edukatif dan kolaboratif bersama tim P2AD UMS, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan agen-agen perubahan di Desa Cipaku yang mampu menjawab tantangan era digital dengan sikap kritis, bijak, dan bertanggung jawab, khususnya dalam mencegah hoaks dan judi online.

Author : Ahmad Zamzami

Editor:  Putri Aulia Pasha

Desamind Leadership Camp 5.0

Desamind Leadership Camp 5.0: Cetak Pemimpin Muda Adikara Bhaskara untuk Desa Harmonis dan Berdaya

By Artikel, Berita Terkini, Press Release, Program Unggulan Desamind

DESAMIND.ID Karanganyar – Desamind Leadership Camp (DLC) 5.0 resmi digelar pada 23-25 Mei 2025, di Rumah Revolusi Mental WCS Mojogedang, Karanganyar, Jawa Tengah. Kegiatan ini mengusung tema “Pemberdayaan Pemuda melalui Kepemimpinan Kolaboratif dan Praktik Pembangunan Perdamaian (Peacebuilding): Membangun Desa yang Harmonis dan Berdaya melalui Kepemimpinan Berbasis Komunitas”,  acara ini bertujuan mencetak pemimpin muda yang mampu membangun desa yang harmonis, inklusif, dan berdaya.

Sebanyak 50 peserta terpilih dari seluruh Indonesia mengikuti program intensif ini dan menjadi bagian dari perjalanan Adikara Bhaskara, sebuah filosofi kepemimpinan yang berarti “sang cahaya perubahan”.

DLC 5.0 secara resmi dibuka oleh Plt. Camat Mojogedang bersama President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc. (ITE). Dalam sambutannya, Hardika menyampaikan pentingnya kolaborasi dan kepemimpinan transformatif dalam pembangunan desa.

Pada hari pertama dimulai dengan Group Dynamics yang dipandu oleh Zuhal Qolbi, diikuti sesi refleksi diri Discover You! bersama Syifa Adiba. Para peserta diajak menggali potensi diri, nilai kepemimpinan, serta visi masa depan mereka.

Gambar 1 Group Dynamics yang bersama Zuhal Qolbi (doc desamind.id)

Sesi dilanjutkan dengan diskusi Peace in Diversity: Socio-Cultural Issue oleh Hardika, yang menekankan pentingnya perdamaian dan harmoni dalam masyarakat multikultural.

Memasuki hari kedua, kegiatan diawali dengan senam pagi dan aktivitas ringan yang membangkitkan semangat serta energi peserta. Setelah itu, peserta mengikuti sesi Design Thinking yang kembali difasilitasi oleh Hardika Dwi Hermawan. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk mengeksplorasi ide-ide inovatif dan merancang solusi kreatif guna menjawab berbagai tantangan yang dihadapi desa.

Tanpa jeda panjang, para peserta langsung terjun ke lapangan melalui program Empathy of Action dengan menyambangi warga Desa Sumberbulu. Kegiatan ini menjadi praktik nyata dari pendekatan design thinking, di mana peserta mendengarkan secara langsung aspirasi dan kebutuhan masyarakat, sekaligus mengidentifikasi potensi lokal. Pengalaman ini menjadi langkah konkret dalam membangun empati dan pemahaman mendalam terhadap dinamika desa.

Gambar 2 Program Empathy of Action terjun ke rumah warga (doc desamind.id)

Siang harinya, peserta mengikuti sesi Plan It Right! bersama Zakky Muhammad Noor yang membekali mereka dengan panduan menyusun rencana aksi yang sistematis, terukur, dan berorientasi pada dampak. Wawasan mereka semakin diperkaya melalui diskusi mendalam bersama Aland Dinda Pradana yang membahas mengenai Strategi Pitching Ide (Plan It Right). Materi ini menjadi modal peserta nantinya untuk menaklukan sesi Pitch It On.

Pada sore hari, para peserta memasuki sesi Pitch It On!—sebuah ajang presentasi ide dan rencana aksi hasil dari interaksi langsung dengan warga. Sesi ini dipandu oleh Muhammad Ertam dan Dewi Fajar sebagai MC, serta dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Aland Dinda Pradana, Syifa Adiba, dan Putri Aulia Pasa. Energi dan antusiasme para peserta sangat terasa ketika mereka menyampaikan gagasan dengan percaya diri dan semangat yang tinggi.

Malam harinya, inspirasi kembali mengalir melalui sesi Voices of Impact! bersama dua narasumber hebat, yakni Restu Andini (Executive Director of Inovasi Muda Foundation) dan Zakky Muhammad Noor. Keduanya membagikan kisah perjuangan dan kontribusi nyata mereka dalam memberdayakan masyarakat, yang menyentuh hati dan membangkitkan semangat perubahan. Sejatinya, kegagalan adalah langkah awal yang mengantarkan kita menuju keberhasilan.

Rangkaian hari kedua ditutup dengan hangatnya sesi Tungku Cerita, sebuah ruang kebersamaan di sekitar api unggun, di mana para peserta menampilkan beragam ekspresi seni seperti lagu, puisi, hingga tarian tradisional. Gelak tawa, tepuk tangan, dan rasa syukur mengalir dalam suasana yang akrab dan penuh makna.

Gambar 3 Sesi Tungku Cerita (doc desamind.id)

Hari terakhir dimulai dengan senam pagi yang membangkitkan semangat. Suasana menjadi semakin hidup ketika peserta bermain tarik tambang, permainan sederhana yang memacu kerja sama dan keceriaan. Aktivitas ini mengingatkan bahwa kolaborasi dan kekompakan adalah kunci dalam memimpin dan membangun desa.

Setelah itu, peserta menjalani aktivitas pribadi untuk merenung dan memetakan kembali mimpi serta rencana masing-masing. Momen jeda yang mendalam ini mendorong setiap individu menemukan kembali niat dan arah perjalanan mereka.

Sesi “Empathy and Games” menjadi sorotan penting di hari terakhir. Menggabungkan permainan seru dengan latihan empati, sesi ini mengajarkan peserta untuk saling memahami, mendukung, dan menguatkan. Tawa, pelukan hangat, dan cerita terbuka memenuhi ruang, membentuk ikatan persaudaraan yang akan menjadi kenangan indah.

Selanjutnya, Diki Angger memandu sesi “Green Action” yang mengajak peserta menelaah isu lingkungan dan tanggung jawab pemuda dalam menjaga bumi memfokuskan pada pengolahan sampah. Bersama warga setempat, peserta juga mempraktikkan Eco-print menggunakan daun dan bahan alami menghias taplak meja dan totebag. Kegiatan ini tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga mempererat hubungan dengan masyarakat desa.

Gambar 4 Green Action menghias totebag bersama warga (doc desamind.id)

Sambutan hangat dari Ketua RT setempat menjadi momen penuh makna:
“Kami sangat bangga dan bersyukur atas kehadiran kalian. Semangat dan kepedulian kalian menjadi penyemangat baru bagi kami. Terima kasih sudah mengajak kami merawat desa dan lingkungan ini bersama-sama.”

DLC 5.0 ditutup dengan refleksi bersama dan sesi pembagian kesan dan pesan dari para peserta. Pengumuman pemenang games dan nominasi menjadi salah satu momen yang paling dinanti, menegaskan bahwa perjalanan ini adalah kolaborasi yang menghasilkan karya dan persahabatan.

Pada sesi pengumuman pemenang, berbagai kategori menjadi sorotan dan mendapat sambutan antusias dari peserta. Untuk LinkedIn Quiz, juara diraih oleh Bayu Hardito, Ahista, dan Nur Afifah yang berhasil menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Dalam kategori kelompok, Kelompok 2 dinobatkan sebagai Kelompok Terkompak, sementara Kelompok 8 mendapatkan predikat Kelompok Terkritis. Kelompok 7 keluar sebagai Kelompok Terkreatif, disusul Kelompok 5 sebagai Kelompok Teramai, dan Kelompok 1 sebagai Kelompok Terrajin.

Pada ajang kompetisi games, juara ketiga diraih Kelompok 3, juara kedua Kelompok 4, dan juara pertama jatuh kepada Kelompok 6. Sedangkan pada sesi pitching “Pitch It On,” Kelompok 3 berhasil meraih juara pertama, diikuti Kelompok 5 di posisi kedua, dan Kelompok 6 sebagai juara ketiga.

Untuk nominasi peserta individu, penghargaan Peserta Terproaktif diberikan kepada Taufik Ardiansyah, Peserta Terinspiratif diraih oleh Diki Angger, dan Peserta Terbaik disematkan kepada Abyan Putra.

Pengumuman ini sekaligus menegaskan bahwa setiap peserta dan kelompok telah menunjukkan dedikasi, kreativitas, dan semangat kolaborasi yang tinggi selama rangkaian acara berlangsung.

Ketua Panitia DLC 5.0, Alwi Dwi Rahmadi, menutup acara dengan penuh semangat dan harapan:
“Semoga setiap langkah yang kita tapaki di sini menjadi awal perjalanan panjang untuk menghadirkan perubahan nyata. Kalian adalah pemuda hebat yang mampu menyalakan cahaya kebaikan di desa masing-masing. Mari terus bergerak bersama, membangun perdamaian dan kesejahteraan.”

Sementara itu, Abdul Aziez, Steering Committee DLC 5.0, menambahkan pesan penuh makna:
“Saya sangat bangga kepada seluruh panitia dan peserta DLC 5.0. Terima kasih bukan hanya karena kalian kuat saling menguatkan, tapi juga hebat dalam saling menghebatkan. Kalian hadir bukan sekadar untuk belajar, melainkan untuk saling menopang, mendukung, dan meninggalkan jejak berarti. Semoga perjalanan ini menjadi fondasi kokoh untuk melangkah lebih jauh, karena setiap langkah kita hari ini adalah cahaya yang kelak akan menuntun banyak orang. Teruslah menjadi pemimpin yang berempati, berani, dan membawa damai di mana pun kalian berada.”

Gambar 5 Potret Adikara Bhaskara pada DLC 5.0 (doc desamind.id)

DLC 5.0 bukan sekadar program pelatihan, melainkan perjalanan penuh makna di mana setiap pemuda belajar menjadi pemimpin yang berempati, berani, dan siap menyalakan lentera perubahan di setiap sudut desa.

Tunggu kami di Desamind Leadership Camp 6.0!

Author : Abdul Aziez, Putri Aulia Pasa

Editor : Syifa Adiba

Adakan Kolaborasi Pengabdian, Tiga Serangkai University dan Desamind Hadirkan Teknologi AR-VR di Sekolah Alam Aminah

By Berita Terkini

Sukoharjo (28/05) Tiga Serangkai University (TSU) bersama Desamind Indonesia sukses menyelenggarakan kolaborasi pengabdian inovatif dan inspiratif di Sekolah Alam Aminah (SAA) Sukoharjo. Kolaborasi ini memperkenalkan pendekatan pembelajaran berbasis Computational Thinking dan teknologi mutakhir seperti Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) kepada para siswa Sekolah Alam dengan cara yang menyenangkan dan penuh eksplorasi.

SAA merupakan lembaga pendidikan yang memadukan nilai-nilai Islami dengan metode belajar berbasis alam. Memanfaatkan lingkungan sebagai laboratorium belajar, SAA berfokus pada pengembangan potensi visual, kinestetik, dan auditori anak. Kegiatan pengabdian kali ini menjadi momen penting karena menghadirkan dimensi baru dalam proses belajar, melalui pemanfaatan teknologi digital tanpa menghilangkan nilai-nilai religius yang dipegang teguh oleh sekolah.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa dikenalkan dengan berbagai alat dan metode pembelajaran baru yang interaktif, seperti Makey-Makey (alat pengubah tumbuhan menjadi instrumen musik digital), buku cerita yang dilengkapi dengan fitur AR, serta permainan edukatif berbasis VR yang memicu rasa ingin tahu dan kreativitas mereka.

Gambar 1. Siswa SAA Belajar Menggunakan AR dan Makey-Makey

Laila Rohmah, Dosen Tiga Serangkai University yang turut menjadi fasilitator mengaku senang bisa mengadakan kegiatan di SAA. Ia yakin pengabdian ini mampu mendorong motivasi belajar anak-anak dengan memanfaatkan teknologi era sekarang.

“Anak-anak tampak antusias karena menjadi pengalaman pertama mereka melihat kemajuan teknologi. Kami percaya pendekatan ini bisa menjadi pintu masuk untuk menanamkan kemampuan berpikir logis dan problem solving sejak dini,” ujar Laila.

Kepala Sekolah SAA, Taqwa Hasma Septyaninda, S.Psi., S.Pd.I., menyampaikan apresiasinya kepada TSU dan Desamind karena kehadiran mereka memberikan warna baru dan pendekatan inivotif yang bisa diterapkan dalam pembalajaran SAA ke depan.

“Terima kasih kepada TSU dan Desamind. Kehadiran mereka menjadi angin segar bagi kami dalam mengembangkan metode belajar yang lebih beragam dan menyenangkan, namun tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.”

Tidak hanya guru, para siswa juga menunjukkan kegembiraan mereka setelah mengikuti rangkaian kegiatan pembelajaran. Salah satu siswa, M. Dzaki Al Ghazali, menceritakan keseruannya mencoba berbagai permainan edukatif.

Gambar 2. Potret Keceriaan Usai Kegiatan

 “Senang sekali bisa belajar sambil main. Permainannya aneh, tapi seru. Aku jadi tahu banyak hal baru!,” ucap siswa kelas 5 itu.

Kegiatan ini menjadi bentuk nyata komitmen Desamind dan TSU dalam memajukan pendidikan anak-anak Indonesia, terutama di sekolah-sekolah alternatif berbasis alam dan nilai spiritual. Kolaborasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan zaman akan literasi teknologi, tetapi juga memperkuat gagasan bahwa pendidikan masa depan harus adaptif, menyenangkan, dan bermakna.

Ke depan, Desamind dan TSU berencana melanjutkan kerja sama serupa di berbagai sekolah berbasis komunitas lainnya. Tujuannya adalah untuk menjembatani kesenjangan digital di kalangan pelajar daerah, sekaligus mengintegrasikan teknologi dan spiritualitas dalam satu ekosistem pendidikan yang utuh.

Author: Ahmad Zamzami

Editor: Putri Aulia Pasha