Skip to main content
Tag

#PemberdayaanMasyarakat

Sejenak Pulang ke Alam bersama Desamind Farm: Pengalaman Agroeduwisata di Bumi Sawala, Bodogol Kampung Hoya

By Artikel, Desamind Farm

Akhir pekan kemarin (Sabtu–Minggu, 10–11 Januari 2026), saya memilih untuk menepi sejenak dari ritme Jakarta yang nyaris tak pernah melambat. Bersama rekan-rekan Desamind, saya mengikuti rangkaian Soft Launching Agrowisata Bumi Sawala, sebuah ruang belajar hidup yang tumbuh di Bodogol Kampung Hoya.

Perjalanan dimulai dari ibu kota dengan menaiki KRL menuju Stasiun Bogor. Gerbong penuh penumpang, namun suasananya terasa lebih ringan, seperti pertanda bahwa hari-hari sibuk akan segera berganti dengan ruang yang lebih tenang. Dari Bogor, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan melewati Tol Ciawi. Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang, berganti bukit hijau, sawah, dan udara yang semakin sejuk. Sekitar satu hingga satu setengah jam kemudian, kami tiba di Bodogol Kampung Hoya, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Kami menginap di sebuah vila sederhana dan asri yang dikelilingi pegunungan. Hujan yang turun di malam hari justru menambah rasa teduh. Tidak ada klakson, tidak ada notifikasi yang mendesak. Hanya suara alam dan jeda, sesuatu yang jarang saya temui di kota.

Keesokan paginya, agenda utama menanti: berkunjung ke Bumi Sawala, sebuah kawasan agrowisata yang lahir dari inisiatif Desamind Farm bersama pemuda Desa Benda. Sekitar pukul delapan pagi, para pengelola menjemput kami. Kabut masih menggantung, udara dingin terasa segar. Sebelum memulai kegiatan, kami diberi pengarahan singkat dan disambut dengan penuh kehangatan.

Perjalanan menuju lokasi ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri permukiman warga. Sepanjang jalan, satu hal langsung terasa: seluruh pengelola Bumi Sawala adalah pemuda asli desa ini. Mereka menyapa dengan ramah, memandu dengan percaya diri, dan tampak sangat memahami setiap sudut kampungnya. Dari cerita-cerita ringan yang mereka bagikan, kami mengetahui bahwa tempat ini tidak dibangun dalam semalam. Mereka memulai dari nol, belajar menyambut tamu, menjadi pemandu wisata, mengelola kegiatan, menyusun alur kunjungan, hingga memastikan setiap pengunjung pulang membawa pengalaman yang bermakna.

Setibanya di Bumi Sawala, kami disuguhi ubi dan jagung rebus hangat, ditemani wedang jahe yang aromanya langsung menghangatkan tubuh. Sederhana, tetapi penuh makna. Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan bersama para pemuda pengelola. Tidak ada jarak. Permainan kecil, tawa, dan obrolan ringan membuat suasana cepat mencair. Kami merasa tidak sedang mengikuti paket wisata, melainkan bertamu ke sebuah ruang belajar milik bersama.

Gambar 1 & 2. Kegiatan pengenalan dengan para pengelola Bumi Sawala

Kegiatan pertama membawa kami ke kandang ternak terintegrasi. Dengan penuh antusias, para pemuda menjelaskan bagaimana sistem peternakan dirancang agar bersih, efisien, dan ramah lingkungan. Kotoran ternak tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi pupuk kompos. Kami bahkan diajak mengambil kohe kering secara langsung. Pengalaman yang mungkin terasa asing bagi banyak orang kota, tetapi justru menjadi pelajaran paling nyata tentang siklus alam dan keberlanjutan.

Tak berhenti di situ, kami juga mencoba mencukur bulu domba. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama. Di balik aktivitas sederhana tersebut, terlihat bagaimana para pemuda desa dengan sabar membimbing, memastikan kami aman, dan tetap menikmati prosesnya. Peran mereka sebagai pemandu wisata benar-benar terasa, bukan karena mereka telah ahli sejak lama, melainkan karena mereka mau belajar dan tumbuh bersama.

Gambar 3 & 4. Kegiatan mencukur bulu domba dan memberi makan domba

Dari kandang, kami beralih ke Saung Kompos. Di sinilah proses pengolahan limbah menjadi pupuk ramah lingkungan dijelaskan secara rinci. Tidak hanya teori, kami diajak terlibat langsung. Saya melihat bagaimana para pemuda ini tidak hanya menguasai praktiknya, tetapi juga mampu menjelaskannya dengan bahasa sederhana kepada pengunjung, sebuah keterampilan yang jelas lahir dari proses belajar, mencoba, dan tidak takut salah.

Gambar 5 & 6. Kegiatan proses pembuatan pupuk kompos

Kami kemudian dikenalkan dengan tanaman Hoya, tanaman khas yang tumbuh subur di kawasan ini dan menjadi identitas Kampung Hoya. Para pengelola menjelaskan bahwa Hoya bukan sekadar tanaman hias, melainkan bagian dari kekayaan hayati lokal yang ingin terus mereka jaga. Kami diajak membuat kokedama sebagai media tanam, dan hasilnya boleh dibawa pulang. Bagi saya, kokedama ini bukan sekadar cinderamata, melainkan simbol pengalaman dan cerita yang saya bawa pulang.

Gambar 7. Hasil pembuatan Kokedama Tanaman Hoya

Menjelang siang, kami makan bersama di saung. Suasananya santai, tanpa agenda yang terburu-buru. Setelah itu, kami mengunjungi kebun tomat dan memetik langsung hasil panen. Hujan yang turun cukup deras memang membatasi beberapa agenda lanjutan, namun tidak mengurangi kesan yang sudah terbangun sejak pagi.

Gambar 8 & 9. Hasil memanen buah tomat di kebun Pak Tani

Perjalanan ke Bumi Sawala memberi saya perspektif baru tentang wisata. Di sini, wisata bukan hanya soal pemandangan atau foto estetik, tetapi tentang manusia, proses, dan keberanian untuk belajar. Para pemuda Desa Benda menunjukkan bahwa dengan semangat, kemauan belajar, dan kolaborasi, desa bisa menjadi ruang tumbuh, bukan hanya bagi warganya, tetapi juga bagi siapa pun yang datang berkunjung.

Bumi Sawala bukan sekadar destinasi pelarian dari kota. Ia adalah ruang belajar hidup, tempat alam, desa, dan semangat pemuda bertemu. Dan bagi saya, di sanalah letak daya tarik yang paling layak diapresiasi.

Author: Luthfia Octaviani

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Farm Gelar Soft Launching Bumi Sawala, Ruang Belajar Hidup Agroeduwisata

By Desamind Farm, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Sukabumi – Desamind Indonesia melalui unit pengembangan Desamind Farm menggelar Soft Launching Bumi Sawala (Agroeduwisata) pada Sabtu, 11 Januari 2026, di Bodogol Kampung Hoya, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kegiatan ini menjadi dry run perdana sekaligus rangkaian awal peringatan Dies Natalis Desamind Indonesia ke-6, dengan mengusung konsep ruang belajar hidup yang mengintegrasikan edukasi, ekologi, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Sebanyak 20 pengurus pusat Desamind Indonesia hadir sebagai peserta dry run, datang dari berbagai daerah, antara lain Solo, Magelang, Klaten, Semarang, serta wilayah Jabodetabek. Kehadiran lintas daerah ini menjadi bentuk dukungan sekaligus uji coba awal terhadap pengalaman agroeduwisata yang akan dikembangkan secara berkelanjutan di Bumi Sawala.

Gambar 1. Keseruan saat Games Pembukaan

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan peserta oleh pemuda lokal pengelola Bumi Sawala, dilanjutkan dengan pengenalan kawasan dan tur edukatif. Peserta diajak mengunjungi peternakan terintegrasi, mengenal pengolahan kompos ramah lingkungan, serta mempelajari tanaman Hoya khas Bodogol. Kegiatan juga dilengkapi dengan praktik agroedukasi sederhana, seperti mencukur bulu domba, membuat kokedama, dan memetik hasil kebun.

Gambar 2. Praktik Mencukur Bulu Domba

Seluruh aktivitas dirancang sebagai pengalaman belajar partisipatif yang mempertemukan pengunjung dengan praktik pertanian berkelanjutan sekaligus kehidupan desa secara langsung. Sebagai dry run perdana, Soft Launching Bumi Sawala menjadi ruang evaluasi awal dan penguatan konsep sebelum program ini dibuka lebih luas untuk publik.

Zakky Muhammad Noor, Director of Desamind Farm, mengungkapkan bahwa Bumi Sawala lahir dari proses panjang yang dibangun dari nol dengan keyakinan dan tekad bersama.

“Saya tidak menyangka ide Bumi Sawala  bisa sampai pada tahap ini. Konsep yang melahirkan local heroes ini dibangun dari nol, dengan penuh keyakinan dan kegigihan. Ini adalah hasil kolaborasi banyak pihak yang saling memberi ruang, saling belajar, dan bertumbuh bersama,” ujar Zakky.

Gambar 3. Hasil Kerajinan Kokedama Peserta Soft Launching Bumi Sawala

Hal senada disampaikan Salman, Koordinator Lapangan Bumi Sawala , yang menilai proses pendampingan pemuda desa sebagai kunci utama keberlanjutan program.

“Awalnya teman-teman pemuda lokal sangat pesimis dan bingung harus mulai dari mana, bahkan tidak percaya diri karena belum memiliki keterampilan mengelola agroeduwisata. Berkat arahan dan pendampingan dari rekan-rekan Desamind, kami perlahan menemukan kepercayaan diri, terus mencoba, hingga akhirnya sampai di tahap ini. Kami sadar, ini bukan akhir, melainkan awal dari proses panjang,” ungkap Salman.

Dari sisi peserta, Isna Fahrizal, Director of Secretariat & Finance Desamind Indonesia, menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras seluruh pengelola BUMI SAWALA, khususnya pemuda desa yang menjadi aktor utama di lapangan.

“Pengalaman agroeduwisata yang diberikan sangat luar biasa dan terasa otentik. Para pemuda Bumi Sawala  menunjukkan kesiapan, keramahan, dan semangat belajar yang tinggi. Harapannya, ke depan semakin banyak pengunjung yang datang dan merasakan pengalaman serupa, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi desa,” tutur Isna.

Penulis: Ahmad Zamzami

Bumi Sawala: Inisiatif Kolaboratif Dorong Kemandirian Pemuda Desa Kembangkan Agroeduwisata

By Artikel, Desamind Farm, Pemberdayaan Kepemudaan

Sukabumi – Upaya penguatan kapasitas pemuda desa dalam mengelola sektor pertanian dan pariwisata berbasis komunitas terus dilakukan melalui rangkaian program pelatihan di Agroeduwisata Bumi Sawala. Kegiatan yang berlangsung pada 6–23 Desember 2025 ini dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi desa sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Program ini melibatkan 10 pemuda lokal dari Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Mereka dipersiapkan sebagai aktor utama dalam pengelolaan Agroeduwisata Bumi Sawala, mulai dari mengelola unit produksi, memandu kegiatan wisata, hingga mengembangkan aktivitas turunan berbasis komunitas.

Kegiatan diawali dengan sesi persiapan dan koordinasi pada 6 Desember 2025. Tahap ini menjadi fondasi dalam menyamakan persepsi peserta terkait tujuan program, pembagian peran, serta pemetaan potensi dan tantangan di lapangan. Diskusi awal mengidentifikasi sejumlah isu krusial, seperti keterbatasan akses pasar, minimnya pengalaman pengelolaan wisata, serta tantangan regenerasi pemuda di sektor pertanian.

Gambar 1. Koordinasi dan Pemetaan Awal Pemuda Lokal Desa dalam Pngelolaan Agroeduwisata

Rangkaian pelatihan dilanjutkan dengan Workshop Agripreneurship pada 7 Desember 2025 yang berfokus pada penguatan pola pikir kewirausahaan. Peserta mempelajari rantai nilai produk pertanian, pengelolaan biaya produksi, serta peluang diversifikasi usaha berbasis agroeduwisata. Dari sesi ini, muncul berbagai gagasan, seperti pengembangan paket langganan hasil kebun, produk olahan pertanian, serta integrasi wisata edukasi dengan penjualan produk lokal.

Pada 8 Desember 2025, peserta mengikuti Workshop Pemandu Wisata yang membekali keterampilan komunikasi, penyusunan alur kunjungan, serta penyampaian nilai-nilai lokal. Tujuannya adalah menciptakan pengalaman wisata yang edukatif dan ramah bagi pengunjung.

Selanjutnya, Workshop Manajemen Community-Based Tourism pada 9 Desember 2025 menekankan pentingnya tata kelola yang adil dan transparan. Peserta mendiskusikan penguatan kelembagaan lokal, pembagian peran, serta mekanisme distribusi manfaat agar agroeduwisata dapat berkembang secara kolektif dan berkelanjutan.

Gambar 2. Diskusi Kelompok Membuat Peta Konsep Pertanian Regeneratif

Aspek keberlanjutan lingkungan diperkuat melalui Workshop Pertanian Regeneratif pada 10 Desember 2025. Dalam sesi ini, peserta mempelajari praktik pengelolaan tanah sehat, pemanfaatan bahan organik, serta integrasi ternak dan kebun sebagai bagian dari ekonomi sirkular desa. Antusiasme peserta terlihat dari komitmen untuk mulai menerapkan praktik pertanian ramah lingkungan di lahan masing-masing.

Pengalaman belajar semakin diperkaya melalui kegiatan studi banding Community Supported Agriculture (CSA) ke Seni Tani, Bandung, pada 21 Desember 2025. Peserta memperoleh wawasan mengenai pengelolaan pertanian berbasis komunitas, strategi membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen, menjaga konsistensi produksi, serta pentingnya transparansi dan storytelling dalam pengembangan pasar.

Gambar 3. Pemaparan Pengelolaan Agroeduwisata Berkelanjutan dalam Studi Banding Community Supported Agriculture (CSA) ke Seni Tani

Sebagai respons terhadap tantangan akses pasar, Workshop Digital Marketing pada 22 Desember 2025 membekali peserta dengan keterampilan promosi berbasis media sosial. Peserta mulai merancang strategi konten, pengelolaan akun agroeduwisata, serta promosi produk dan paket wisata secara lebih terstruktur.

Program ditutup dengan sesi koordinasi rencana keberlanjutan pada 23 Desember 2025. Dalam sesi ini, peserta menegaskan komitmen untuk melanjutkan pengelolaan Agroeduwisata Bumi Sawala melalui penguatan kelembagaan lokal serta kolaborasi berkelanjutan antara pemuda dan kelompok tani.

Salah satu peserta, Agung Saepudin atau yang akrab disapa Katrek, mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama mengikuti program. Ia menyampaikan bahwa sebelumnya masih merasa kurang percaya diri saat berbicara di depan umum dan belum terbiasa mengelola aspek produksi maupun keuangan.

“Saya ingin belajar hal baru, menambah relasi, dan mencari pengalaman. Selain itu, ada kebutuhan produksi seperti pupuk untuk kebun,” ujarnya.

Melalui dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia melalui Program Hibah Good Game 2025, peserta memperoleh pembelajaran mengenai pertanian regeneratif, produksi pupuk organik, hingga strategi pemasaran berbasis CSA. Program ini memberikan ruang bagi pemuda untuk meningkatkan kapasitas sekaligus mengembangkan potensi desa secara mandiri.

Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekosistem agroeduwisata berbasis komunitas yang melibatkan pemuda sebagai aktor utama dalam pengelolaan dan pengembangannya.

Author : Dita Apriyani

Editor: Ahmad Zamzami

Anugerah Diktisaintek 2025: Pengakuan atas Peran Desamind Menghadirkan Ilmu Pengetahuan bagi Pemuda, Masyarakat, dan Desa

By Press Release

Jakarta – (19/12) Penghargaan Anugerah Diktisaintek 2025 kategori “Dosen Berdampak” yang diterima Hardika Dwi Hermawan, Founder Desamind Indonesia Foundation sekaligus dosen Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menjadi penegasan bahwa tanggung jawab dosen tidak berhenti di ruang kelas dan publikasi ilmiah, tetapi harus hadir nyata di tengah masyarakat.

Penghargaan yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) ini merupakan bentuk apresiasi kepada akademisi yang mampu menjalankan peran tridarma secara utuh: mengajar, meneliti, dan mengabdi, dengan dampak sosial yang terukur dan berkelanjutan.

Bagi Hardika, peran sebagai dosen bukan semata profesi akademik, melainkan amanah sosial. Desamind Indonesia Foundation lahir sebagai jembatan antara kampus, desa, dan masyarakat. Desamind menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai keilmuan agar tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjelma menjadi solusi konkret bagi persoalan pendidikan, literasi digital, dan pemberdayaan pemuda desa.

“Dosen memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan ilmu yang dimilikinya memberi makna bagi kehidupan sosial. Kampus tidak boleh terpisah dari realitas masyarakat, dan desa tidak boleh tertinggal dari arus pengetahuan,” ujar Hardika usai menerima penghargaan.

Berbagai program nyata berbasis desa dan pendidikan di antaranya adalah program Local Heroes, yang memperkuat kapasitas pemuda desa agar mampu menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing; pendampingan sekolah, guru, dan siswa melalui literasi digital, penguatan karakter, serta inovasi pembelajaran; hingga riset terapan yang berangkat langsung dari kebutuhan riil masyarakat.

Gambar 1. Pemotongan Hewan Qurban hasil Ternak Desamind Farm dengan Mitra

Dalam sektor kemandirian desa dan ketahanan pangan, Desamind mengembangkan Desamind Farm di Sukabumi dengan pendekatan agroeduwisata. Program ini mengintegrasikan pertanian, peternakan, edukasi, dan kewirausahaan desa sebagai ruang belajar sekaligus pemberdayaan pemuda dan masyarakat lokal. Sementara itu, di Indonesia Timur, Desamind menginisiasi Wanasaba Trigona Center di Lombok, yang menggabungkan konservasi lingkungan, edukasi, dan penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan lebah trigona berbasis komunitas.

Di bidang akses pendidikan, Beasiswa Desamind yang diberikan sejak tahun 2021 juga menjadi wujud nyata keberpihakan kepada pemuda desa. Program ini tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pendampingan kepemimpinan, pengembangan diri, dan pengabdian sosial agar penerima beasiswa mampu kembali berkontribusi bagi daerah asalnya.

Gambar 2. Para Pemenang Anugerah Diktisaintek Bidang Sumber Daya

Kategori Dosen Berdampak sendiri mencerminkan paradigma baru pendidikan tinggi Indonesia: dosen tidak hanya dinilai dari jumlah publikasi atau jabatan akademik, tetapi dari seberapa jauh ilmunya menyentuh kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, Desamind dinilai berhasil menjadi contoh praktik baik integrasi tridarma perguruan tinggi dengan pembangunan sosial, hingga saat ini Desamind telah melakukan beragam kegiatan sosial mulai dari Aceh hingga papua dengan lebih dari 200 program serta lebih dari 29.000 masyarakat yang berpartisipasi.

Gambar 3. Siswa Daerah 3T mengikuti kegiatan Pelatihan Teknologi Informasi oleh Desamind

Penghargaan ini juga sejalan dengan arah kebijakan nasional “Diktisaintek Berdampak”, yang mendorong dosen dan institusi pendidikan tinggi untuk keluar dari menara gading dan berkolaborasi aktif dengan masyarakat. Desamind hadir sebagai bukti bahwa ketika dosen mengambil peran lebih jauh yaitu sebagai pendidik, pendamping, dan penggerak perubahan yang bukan sekadar wacana.

Bagi Desamind, anugerah ini bukan titik akhir, melainkan pengingat akan tanggung jawab yang semakin besar. Tanggung jawab untuk terus memastikan bahwa pendidikan menjadi alat pembebasan, desa menjadi pusat harapan, dan dosen menjadi sosok yang benar-benar hadir di tengah zaman.

Desamind Indonesia Raih Apresiasi di Hari Jadi Purbalingga ke-195, Founder Terima Penghargaan Pemuda Inspiratif

By Press Release

Purbalingga – Dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Purbalingga ke-19 pada Kamis, 18 Desember 2025, Desamind Indonesia Foundation menorehkan prestasi membanggakan. Hardika Dwi Hermawan, Founder Desamind sekaligus tokoh pendidikan dan pemberdayaan pemuda dari Desa Cipaku, menerima penghargaan sebagai Pemuda Inspiratif Kabupaten Purbalingga bidang pendidikan dan sosial yang diserahkan langsung oleh Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif pada puncak acara Pahargyan Agung di Pendopo Dipokusumo, Purbalingga. 

Penghargaan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Purbalingga ke-195 yang mengusung tema “Sinergi, Kolaborasi untuk Akselerasi Purbalingga Baru”, sebuah refleksi perjalanan panjang daerah sekaligus komitmen untuk terus menghadirkan pembangunan inklusif dan berdampak bagi seluruh lapisan masyarakat. 

Dalam sambutannya, Fahmi menyampaikan apresiasi atas kontribusi pemuda daerah yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui kerja-kerja pendidikan dan sosial. Menurutnya, peran pemuda menjadi kunci penting dalam mendorong pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

“Penghargaan ini kami berikan sebagai bentuk apresiasi kepada pemuda Purbalingga yang tidak hanya berprestasi secara personal, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Fahmi.

Gambar 1. Founder Desamind bersama Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga

Hardika Dwi Hermawan dipilih sebagai Pemuda Inspiratif berkat kiprahnya dalam mendorong pendidikan, literasi digital, dan pemberdayaan generasi muda desa melalui Desamind Indonesia Foundation. Desamind selama ini telah menjadi wadah bagi pemuda desa untuk mengembangkan kompetensi, memperkuat kapasitas lokal, serta menghadirkan solusi nyata terhadap tantangan sosial-pendidikan di berbagai wilayah Indonesia, terutama dari basis desa ke skala nasional. 

Di bidang pendidikan, Desamind menghadirkan Beasiswa Desamind, sebuah program yang membuka akses pendidikan bagi pemuda dari desa. Beasiswa ini tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pendampingan pengembangan diri, kepemimpinan, dan pengabdian sosial agar penerima beasiswa dapat kembali berkontribusi bagi komunitasnya.

Gambar 2. Kegiatan Desamind, PTI UMS, di PKBM Cakra Purbalingga 

Selain pendidikan formal, Desamind mengembangkan pendekatan pemberdayaan berbasis potensi lokal melalui Desamind Farm di Sukabumi. Program ini mengusung konsep agroeduwisata, yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, edukasi, dan pemberdayaan pemuda. Desamind Farm menjadi ruang belajar alternatif bagi masyarakat dan generasi muda untuk memahami pertanian berkelanjutan, kewirausahaan desa, serta ketahanan pangan.

Di wilayah Indonesia Timur, Desamind turut menginisiasi Wanasaba Trigona Center di Lombok, sebuah pusat pengembangan lebah trigona yang memadukan konservasi lingkungan, edukasi, dan penguatan ekonomi masyarakat desa. Program ini tidak hanya mendorong pelestarian alam, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal dan pengetahuan masyarakat. Hingga saat ini Desamind telah tersebar di berbagai daerah mulai dari Aceh hingga Papua, termasuk Desamind Chapter Purbalingga.

Berbagai program tersebut diperkuat melalui Sekolah Local Heroes serta Desamind Research and Training Center, yang berperan sebagai ruang pembelajaran, riset terapan, dan pelatihan bagi pemuda, guru, dan komunitas desa. Pendekatan yang digunakan menekankan kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat agar ilmu pengetahuan benar-benar hadir sebagai solusi.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas perjalanan panjang Hardika sebagai pemuda desa yang kembali membawa ilmu dan pengalaman untuk membangun komunitasnya. Dari menginisiasi Desamind hingga memperluas jangkauan program pemberdayaan, kontribusi Hardika menunjukkan bagaimana pemuda desa dapat menjadi aktor perubahan yang nyata,  tidak hanya di Purbalingga tetapi juga di berbagai komunitas desa di seluruh Indonesia.

Author: Ahmad Zamzami

Sinergi Membangun Desa, Desamind Pasuruan Jalin Kerja Sama dengan Pemdes Tambaksari

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Pasuruan — Desamind Chapter Pasuruan menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Desa Tambaksari melalui rencana penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk periode satu tahun ke depan. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Tambaksari pada Minggu (14/12) dan dihadiri oleh Sekretaris Desa Tambaksari, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Desamind Chapter Pasuruan, Wawan Darwan. Dalam sambutannya, Wawan menegaskan komitmen Desamind untuk turut berkontribusi dalam pengembangan potensi Desa Tambaksari, khususnya dalam mendukung kemajuan desa dan sektor pariwisata.

“Kami berharap kehadiran Desamind dapat membantu pengembangan program-program Desa Tambaksari, terutama di sektor pariwisata dan kemajuan desa secara umum. Selama satu tahun ke depan, kami siap berkolaborasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan desa, semoga kerja sama ini berjalan lancar dan mendapat rida Allah SWT,” ujar Wawan.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Abdul Aziz selaku perwakilan Desamind Indonesia. Ia menyampaikan harapan agar Desa Tambaksari dapat menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium berdampak bagi Desamind Chapter Pasuruan dalam menjalankan berbagai program sosial.

“Harapannya, Desa Tambaksari bisa menjadi laboratorium berdampak bagi teman-teman Desamind Chapter Pasuruan. Di sini, kolaborasi dan jejaring dapat dibangun secara optimal untuk memaksimalkan potensi yang ada,” ungkap Aziz.

Aziz juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan sinergi yang berkelanjutan dengan pemerintah desa agar setiap program yang dijalankan dapat terlaksana secara maksimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Desa Tambaksari, Slamet, menyampaikan apresiasi atas inisiatif kerja sama yang dilakukan oleh Desamind Chapter Pasuruan. Ia berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat nyata bagi desa dan masyarakat.

“Kami berharap kehadiran Desamind dapat membawa manfaat dan menjadi berkah bagi Desa Tambaksari,” ujar Slamet.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan rencana program kerja, sesi diskusi dan tanya jawab, serta pembacaan nota kesepahaman. 

Author :  Mukhammaad Thoriq Aziz

Editor: Alan Ferdian Syah / Ahmad Zamzami

Perluas Jejaring Sosial, Desamind Indonesia Berkesempatan Ikut Pitch Dating with CSR di Turun Tangan Festival 2025

By Press Release

Jakarta – Desamind Indonesia berkesempatan terpilih dalam agenda Pitch Dating with CSR, salah satu rangkaian utama Turun Tangan Festival 2025 yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada (7/12). Kegiatan ini menjadi ruang temu antara komunitas penggerak sosial dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki fokus pengembangan program Corporate Social Responsibility (CSR).

Tidak sekadar sesi pitching, forum ini juga menjadi ruang diskusi untuk menyamakan nilai, mendengarkan kebutuhan lapangan, dan memperjuangkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat. 

Desamind Indonesia diwakili oleh Dinda Berlian dan Luthfia Octaviani dari Public Relation Division. Kehadiran Desamind dalam forum ini menjadi kesempatan strategis untuk memperluas jejaring, memperkenalkan program pemberdayaan desa, serta menjajaki peluang kolaborasi dengan berbagai lembaga CSR.

Gambar 1. Dinda Berlian Presentasi dengan CSR dalam Sesi One on One 

Dinda Berlian menyampaikan bahwa kesempatan ini membuka jalan bagi Desamind untuk memperluas dampak program pemberdayaan desa.


“Bertemu langsung dengan CSR nasional membuat kami optimis bahwa kolaborasi nyata bisa terwujud. Banyak perusahaan menunjukkan ketertarikan pada isu pemberdayaan desa dan pendidikan. Ini peluang besar bagi Desamind,” ungkap Dinda.

Sementara itu, Luthfia Octaviani juga menambahkan bahwa Turun Tangan Festival memberi ruang bagi komunitas untuk menunjukkan kerja sosial yang selama ini dilakukan.


Pitch Dating with CSR membantu kami melihat bagaimana ide yang lahir dari kebutuhan nyata di lapangan terus didorong oleh banyak pihak. Dari dialog singkat ini, kami percaya bahwa dampak kolaboratif akan menjangkau lebih banyak penerima manfaat,” ujar Luthfia.

Acara ini menghadirkan enam lembaga CSR nasional, yaitu Nice Global, Filantropi Indonesia, Hub UMK PLN Jakarta Raya, Plan Do See Indonesia, CSR Astra, dan Forum CSR Jakarta. Mereka terlibat aktif berdialog dengan komunitas terpilih untuk menggali potensi kolaborasi.

Selain Desamind Indonesia, terdapat 18 komunitas atau organisasi lainnya, yaitu Sasambo Youth Education, Millennials Empowerment, Kampung Kolektif, DDV Banten, Garut Creativepreneur Community, Kriya Kite Indonesia, The Local Enablers, Yayasan Dari Hati, Safari Nagari, DDV Bandung, SehariBeraksi, Komunitas Teman Tumbuh Kembang, Indonesia Membaca, Komunitas Yuk Belajar Seni, Schole Fitrah, Desamind Indonesia, Eco Ranger, Bank Sampah Seribu Generasi, dan AOA (Anak Online Abah).

Author: Ahmad Zamzami

Menyapa Dusun Kemiri: Potret Dua Wajah Kehidupan di Lereng Merapi

By Artikel, Desamind Chapter

Di lereng selatan Gunung Merapi yang hijau dan subur, terdapat Dusun Kemiri. Sebuah dusun kecil di Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, yang menyimpan kompleksitas kehidupan khas masyarakat pedesaan agraris di Yogyakarta. Udara sejuk, tanah vulkanik yang kaya mineral, serta lanskap perbukitan yang asri menjadi latar kehidupan sehari-hari warga yang sebagian besar menggantungkan penghidupan pada peternakan kambing dan penambangan pasir.

Namun, di balik keasrian tersebut, tersimpan dua wajah yang saling berdampingan: potensi besar yang menjanjikan serta permasalahan struktural yang menggerogoti dari dalam maupun luar.

Selama tiga hari dua malam, 30 Oktober hingga 2 November 2025, dalam kegiatan live-in bertajuk MENYAPA (Membangun Aksi Nyata dan Peduli Desa) Dusun Kemiri, Tim Desamind Chapter Yogyakarta tinggal bersama warga. Kami tidak sekadar mengamati, tetapi turut merasakan denyut kehidupan Kemiri. Melalui interaksi dengan peternak, ibu rumah tangga, hingga pemuda karang taruna, tersusun potret tentang bagaimana masyarakat lereng Merapi ini bertahan, beradaptasi, dan berinovasi di tengah keterbatasan.

Ketika Peternak Kambing Menjadi Pelopor Inovasi

Dusun Kemiri sedang bertransformasi. Perlahan namun pasti, masyarakat bergerak dari ketergantungan pada pertanian salak yang nilainya terus menurun menuju pilar ekonomi baru, yakni peternakan kambing.

Yang menarik bukan sekadar jumlah warga yang beternak kambing, melainkan bagaimana sebagian dari mereka telah melampaui pola pemeliharaan tradisional. Beberapa rumah tangga mulai merambah sektor hilir dengan mengolah susu kambing menjadi susu bubuk, yogurt, bahkan es krim.

Gambar 1. Pengolahan Susu Kambing

Inovasi ini lahir dari inisiatif individu, dari dapur-dapur kecil, tanpa pelatihan formal maupun dukungan struktural. Seorang warga yang kami temui telah memproduksi susu bubuk skala rumah tangga dengan peralatan sederhana dan proses manual. Produknya menunjukkan potensi pasar yang nyata. Di rumah lain, seorang ibu rutin membuat yogurt untuk konsumsi keluarga dan tetangga.

Aktivitas ini bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan bukti adanya jiwa kewirausahaan serta kapasitas teknologi pangan di tingkat rumah tangga yang selama ini kurang terlihat. Di sisi lain, penambangan pasir menjadi penopang ekonomi yang memberikan likuiditas cepat bagi sebagian warga.

Modal Sosial yang Menyimpan Energi Besar

Jika inovasi ekonomi adalah mesin, maka kelembagaan sosial adalah bahan bakarnya. Dusun Kemiri memiliki sejumlah kelompok masyarakat yang aktif dan potensial. Kelompok Ternak Sapi telah memiliki struktur organisasi yang jelas, infrastruktur pendukung, serta jaringan hingga ke luar dusun. Mereka menjadi contoh modal sosial bridging, yakni kemampuan membangun koneksi dengan pihak eksternal.

Namun, di samping kelompok ternak sapi yang terorganisasi, terdapat puluhan peternak kambing yang berjalan sendiri-sendiri tanpa payung kelembagaan yang jelas.

Gambar 2. Salah Satu Area Peternakan Kambing di Dusun Kemiri

PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) Dusun Kemiri tidak sekadar menjalankan kegiatan rutin seperti arisan atau posyandu. Kelompok ini merupakan simpul pemberdayaan perempuan yang mapan dan dipercaya masyarakat. Dengan jangkauan hingga tingkat rumah tangga, PKK memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam program kesehatan, pengelolaan sampah, hingga pengembangan usaha mikro.

Sementara itu, Karang Taruna menghadirkan energi generasi muda yang adaptif dan melek digital. Mereka menjadi jembatan antara kearifan lokal dan modernitas. Sayangnya, potensi besar tersebut belum terorkestrasi dalam gerakan kolektif yang terarah.

Fragmentasi Sosial: Ironi di Tengah Kekuatan Komunitas

Potensi-potensi di Dusun Kemiri ibarat butiran mutiara yang berserakan, belum terangkai menjadi kesatuan yang utuh.

Permasalahan internal terlihat dari ketidakjelasan kelembagaan peternak kambing. Sementara peternak sapi menikmati akses pelatihan, bantuan, dan jaringan pemasaran, peternak kambing yang jumlahnya lebih banyak masih bertumpu pada praktik individual. Mereka tidak memiliki saluran representasi dalam perencanaan pembangunan desa.

Permasalahan eksternal juga muncul dalam bentuk keterbatasan akses jaringan. Hanya individu dengan modal sosial, ekonomi, dan kultural lebih tinggi yang mampu menjangkau pasar serta sumber daya eksternal. Ketimpangan jaringan sosial pun terjadi: pelaku yang sudah mapan semakin maju, sementara sebagian lainnya tertinggal. Inovasi yang seharusnya menjadi penggerak kolektif justru terjebak sebagai keunggulan individu.

Jebakan Ekonomi: Dari Legalitas hingga Pasar Monopsoni

Di sektor ekonomi, persoalan membentuk lingkaran yang sulit diputus. Pertama, aspek legalitas. Produk olahan susu kambing Kemiri yang memiliki potensi kualitas terhambat proses perizinan BPOM dan sertifikasi halal. Hambatan ini bukan karena ketiadaan kemauan, melainkan prosedur daring yang kompleks serta minimnya pendampingan. Tanpa legalitas, produk hanya beredar di lingkungan terbatas dengan nilai jual dan volume yang rendah.

Kedua, stagnasi nilai tambah. Inovasi pengolahan telah dimulai, tetapi belum diikuti strategi pemasaran kolektif, penguatan merek (branding), maupun diversifikasi produk secara sistematis.

Ketiga, ketergantungan pada satu pembeli besar yang bersifat monopsoni. Seorang pembeli tunggal mendominasi penyerapan susu kambing. Penundaan pembayaran hingga berbulan-bulan pernah terjadi dengan nilai kerugian signifikan. Namun, warga tetap bertahan karena tidak memiliki alternatif pasar.

Keempat, keterbatasan layanan kesehatan hewan. Ketika ternak sakit, biaya pengobatan menjadi beban besar yang berisiko mengurangi pendapatan keluarga. Infrastruktur pendukung bagi ekonomi produktif dusun ini masih minim perhatian.

Tekanan Lingkungan: Krisis yang Senyap

Jika persoalan sosial dan ekonomi tampak di permukaan, persoalan lingkungan berlangsung lebih senyap. Sampah anorganik menjadi masalah sejak pengepul lokal berhenti beroperasi. Plastik dan kemasan tak lagi memiliki nilai ekonomi. Pembakaran terbuka menjadi solusi darurat yang dinormalisasi karena ketiadaan alternatif.

Limbah popok sekali pakai menambah tantangan baru. Karakteristiknya yang sulit terurai dan tidak bernilai ekonomi membuatnya terabaikan dalam sistem daur ulang informal. Warga kerap membakar, menimbun, atau membuangnya secara terbatas.

Lebih jauh, Dusun Kemiri juga menjadi lokasi pembuangan popok oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, sehingga menambah beban ekologis warga.

Belajar dari Kemiri

Apa yang terjadi di Dusun Kemiri bukan kasus terisolasi, melainkan gambaran tantangan pembangunan pedesaan di Indonesia. Potensi besar ada, tetapi belum sepenuhnya terkelola. Kelembagaan tersedia, tetapi belum terintegrasi.

Fragmentasi menjadi tantangan utama. Peternak kambing berjalan sendiri, kelompok ternak sapi belum terhubung secara strategis dengan PKK dan Karang Taruna, serta inovasi pengolahan susu belum berkembang melalui kolaborasi lintas kelompok.

Menatap ke Depan: Potensi yang Menanti Perpaduan

Dusun Kemiri memiliki modal untuk bertransformasi: sumber daya alam yang melimpah, modal sosial yang kuat, dan inovasi yang telah lahir dari inisiatif warga sendiri. Susu bubuk, yogurt, dan es krim bukan sekadar gagasan, melainkan produk nyata dari dapur warga. Tantangannya bukan menciptakan potensi baru, tetapi menghubungkan potensi yang telah ada.

Tiga hari dua malam di Kemiri menunjukkan bahwa praktik pembangunan berkelanjutan telah tumbuh dalam skala kecil. Diperlukan penguatan jejaring, pendampingan, serta integrasi kelembagaan agar potensi tersebut berkembang secara kolektif dan berkelanjutan.

Masa depan Dusun Kemiri pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan warganya merangkai potensi menjadi kekuatan bersama.

Author: Desamind Chapter Yogyakarta

Editor: Ahmad Zamzami

Kertonatan Leadership Camp Dorong Semangat Inovasi dan Kewirausahaan Sosial Pemuda Desa

By Berita Terkini, Press Release

Sukoharjo –  (26/10) Pusat Studi Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta (Puswirasos UMS) berkolaborasi dengan Desamind Indonesia menggelar Kertonatan Leadership Camp di Balai Desa Kertonatan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

Kegiatan ini mengusung tema “Peningkatan Kepedulian dan Kapasitas Pengembangan Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial Pemuda Kertonatan” yang bertujuan untuk mendorong semangat kewirausahaan dan kewirausahaan sosial pemuda desa, memperkuat kolaborasi antar-pemuda dan pelaku usaha, serta menghasilkan aksi nyata yang berkelanjutan.

Hadir sebagai narasumber, Soepatini, Ph.D, Ketua Puswirasos sekaligus Dosen Manajemen FEB UMS, menekankan pentingnya partisipasi aktif dan kepeloporan pemuda dalam pembangunan desa. Menurutnya, pemuda harus berani mengambil peran, karena dari desa lah muncul potensi dan solusi atas berbagai tantangan ekonomi maupun sosial. 

“Sebagai pemuda yang akan melanjutkan perjuangan dari desa, mari bersama-sama memberi dampak nyata. Masa depan negara ada di kalian” jelas Soepatini, alumnus Birmingham City University, United Kingdom.

Sesi berikutnya diisi oleh Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE, Dosen PTI UMS sekaligus President Director Desamind Indonesia. Dalam materi bertajuk Networking, Dinamika Kelompok, Brief Leadership Development, dan Design Thinking Projek Pedesaan, ia mendorong pemuda untuk memiliki pola pikir kreatif dan kolaboratif dalam membangun desa.

Lebih lanjut, para peserta juga diberikan perspektif tentang pengembangan proyek kewirausahaan sosial yang dapat dikelola secara mandiri oleh pemuda desa. Materi ini disampaikan Zakky Muhammad Noor, S.E., Director Desamind Farm dan LPM Equator. 

“Kewirausahaan sosial bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang menciptakan solusi bagi masyarakat. Pemuda harus mampu melihat potensi lokal sebagai peluang untuk berdaya,” ungkap Zakky.

Turut hadir pula Dra. Kusnarti, tokoh lingkungan sekaligus penggerak Bank Sampah Desa Kertonatan, yang memberikan apresiasi terhadap semangat pemuda dalam mengembangkan ide-ide sosial dan ramah lingkungan.

Gambar 1. Pemaparan dari Dra. Kusnarti

Selain sesi materi, peserta mengikuti Finishing Ide Project dan Presentasi Hasil Proyek Pedesaan yang menjadi puncak kegiatan. Fasilitator kegiatan ini terdiri dari Imam Riefly Aditomo, S.M., M.B.A, Putri Linggasari Sofi, S.M., M.M, Ahmad Zamzami, S.Ag, dan Ahmad Luthfi, S.Pd. Dalam sesi ini, peserta menampilkan berbagai gagasan inovatif, mulai dari pengelolaan sampah terpadu, pertanian berkelanjutan, hingga produk kewirausahaan berbasis potensi lokal.

Kepala Desa Kertonatan, Winarto, menyampaikan rasa bangganya terhadap semangat kolaboratif yang ditunjukkan oleh para peserta.

“Kegiatan ini sangat positif. Pemuda perlu difasilitasi agar bisa berinovasi dan ikut berperan dalam pembangunan desa. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu peserta, Hafida Sari, mengungkapkan bahwa pelatihan ini membantu pemuda memahami cara mengembangkan potensi desa dengan pendekatan sosial dan wirausaha.

“Materinya membuka wawasan kami untuk melihat peluang di sekitar dan mengubahnya menjadi program yang bermanfaat,” ungkapnya.

Gambar 2. Presentasi Hasil Proyek Pedesaan

Melalui kegiatan Kertonatan Leadership Camp, kolaborasi antara UMS dan Desamind Indonesia diharapkan dapat melahirkan generasi muda desa yang kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Semangat kolaboratif yang tumbuh dalam kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan sosial yang berkelanjutan di Desa Kertonatan dan sekitarnya.

Author : Ahmad Zamzami

Editor : Putri Aulia Pasha

Desamind Chapter Magelang Dorong Pemberdayaan Perempuan Desa lewat Program Public Speaking KWT Permai Tani

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Magelang – (21/10) Desamind Chapter Magelang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pemberdayaan perempuan desa melalui peningkatan kapasitas komunikasi dengan menyelenggarakan Public Speaking KWT Permai Tani. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum sekaligus membangun rasa percaya diri anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Permai Tani, Desa Gandusari.

Mengusung tema “Bangun Percaya Diri, Tingkatkan Potensi Diri,” kegiatan Public Speaking KWT Permai Tani dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama digelar pada Minggu, 31 Agustus 2025, dan tahap kedua pada Minggu, 21 September 2025. Kedua kegiatan berlangsung di Markas KWT Desa Gandusari, Kabupaten Magelang. Narasumber utama dalam pelatihan ini adalah Rahmat Subur Santoso, praktisi komunikasi yang aktif dalam pelatihan pengembangan diri, serta turut dihadiri oleh Ketua KWT, Ibu Darojatul Aliyah.

Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pembekalan teori mengenai dasar-dasar public speaking, termasuk cara membangun kepercayaan diri, menyusun pesan yang efektif, dan mengatasi rasa gugup. Sementara itu, pada tahap kedua, peserta diajak untuk berlatih berbicara langsung di depan audiens. Melalui metode praktik dan umpan balik langsung dari pemateri, anggota KWT berkesempatan mengasah kemampuan komunikasi yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk mendukung kegiatan pemasaran produk mereka.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba berbicara di depan rekan-rekannya. Salah satu peserta, Musripah, mengaku sangat terbantu dengan diadakan praktik ini.

“Pelatihan yang dilakukan kakak-kakak sangat sesuai dengan kebutuhan kami. Selama ini kami kesulitan memasarkan produk karena kurang percaya diri berbicara di depan orang. Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana menyampaikan pesan dengan baik dan percaya diri,” ujar Musripah.

Peserta lain, Choisah, juga menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

“Kami sangat berterima kasih karena melalui program ini kami jadi punya gambaran untuk melakukan pemasaran, terutama lewat media sosial. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ungkap Choisah.

Sebagai ketua pelaksana, Alif Zidan Ramadhan merasa bangga dan bersyukur atas kelancaran kegiatan ini. Baginya antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa pelatihan tersebut dibutuhkan oleh masyarakat.

“Antusiasme ibu-ibu luar biasa. Mereka aktif berdiskusi dan berlatih berbicara di depan umum. Harapannya, setelah pelatihan ini, anggota KWT lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan mampu mempromosikan produk-produk mereka secara efektif, baik secara langsung maupun melalui media digital,” jelas Alif.

Melalui program ini, Desamind Chapter Magelang berharap pemberdayaan perempuan desa tidak hanya berhenti pada pelatihan teknis, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas personal yang memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan di tingkat lokal. Langkah sederhana seperti berbicara dengan percaya diri di ruang publik menjadi awal bagi tumbuhnya kemandirian dan keberdayaan yang lebih luas di masyarakat.

Author: Ahmad Zamzami