Skip to main content
Category

Press Release

Peluk Alam, Peluk Sesama: Desamind Chapter Solo Raya dan Sekolah Alam Aminah Tanamkan Cinta Bumi Sejak Dini

By Desamind Chapter, Press Release

Sukoharjo — (15/10) Sekolah Alam Aminah bersama Desamind Chapter Solo Raya menggelar kegiatan edukatif bertajuk “Peluk Alam, Peluk Sesama: Tangan Kecil Menanam, Bumi Besar Merasakan” di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 4 dan 5, baik dari peserta reguler maupun nonreguler, didampingi wali kelas serta guru pendamping khusus, dengan total 46 peserta.

Melalui berbagai aktivitas seperti melukis pot, fun games, hingga menanam bibit, para peserta diajak memahami bahwa mencintai alam tidak harus dimulai dari hal besar. Dari satu genggam tanah dan satu bibit kecil, mereka belajar tentang pentingnya menjaga bumi dan menghargai kehidupan di sekitar.

Kepala Sekolah Alam Aminah, Taqwa Hasma Septyaninda, S. Psi., S. Pd.I, menyambut baik terselenggaranya kolaborasi ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini memperkuat nilai kepedulian lingkungan sekaligus menanamkan tanggung jawab terhadap alam sejak usia dini.

“Kami sangat mengapresiasi gerakan Desamind Chapter Solo Raya. Anak-anak tidak hanya belajar menanam, tetapi juga belajar mencintai bumi, merawat, dan menjaga kehidupan di sekitarnya,” ujarnya.

 Gambar 1. Pengecatan Botol Bekas untuk Pembuatan Pot  (Dok. Arsip Desamind)

Addam Mufti Rohmani, S.Ak., Wali Kelas 4 Sekolah Alam Aminah, menambahkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan memiliki manfaat besar bagi tumbuh kembang siswa, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

“Pembelajaran seperti ini sangat bermanfaat. Anak-anak bisa belajar motorik, berinteraksi langsung, dan memahami konsep menjaga lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Terlebih, di sini juga banyak anak-anak unik yang butuh pendekatan belajar berbeda,” jelas Addam.

Bagi Desamind Chapter Solo Raya, kegiatan ini menjadi pengalaman yang bermakna. Selain sebagai bentuk pengabdian, kegiatan ini juga menjadi wadah pembelajaran bersama tentang nilai inklusivitas dan empati.

“Ini pengalaman pertama kami berinteraksi langsung dengan anak-anak spesial. Kami belajar banyak hal tentang kesabaran, empati, dan bagaimana membangun kegiatan yang ramah bagi semua anak,” ujar Hanan Fajri, Kepala Desamind Chapter Solo Raya.

Ia juga berharap kolaborasi ini dapat menjadi langkah awal bagi kemitraan berkelanjutan antara Desamind dan Sekolah Alam Aminah dalam menciptakan program yang berfokus pada pendidikan lingkungan dan pemberdayaan anak.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, karena anak-anak adalah generasi yang akan menentukan masa depan bumi. Menanam bagi mereka bukan sekadar aktivitas, tapi bentuk cinta terhadap kehidupan,” tutup Hanan.

 Gambar 2. Deklarasi Menjaga Bumi dengan Merawat Tanaman (Dok. Arsip Desamind)

Sebagai tindak lanjut, pot yang telah dilukis dan ditanami bibit oleh para siswa diletakkan di lingkungan sekolah. Tanaman-tanaman tersebut akan dirawat bersama sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan dan bentuk nyata menjaga bumi melalui tindakan sederhana di sekolah.

Melalui Peluk Alam, Peluk Sesama, Desamind Chapter Solo Raya dan Sekolah Alam Aminah menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari ruang belajar, dari tangan-tangan kecil yang menanam, hingga tumbuhnya kesadaran besar untuk menjaga bumi bersama.

Author: Ahmad Zamzami

Dosen Berdampak Kemdiktisaintek: Bersama Desamind, Menyalakan Harapan dan Membangun Desa untuk Indonesia

By Artikel, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta – (12/10) Melalui kiprah menginisiasi Desamind dan prestasinya sebagai dosen muda yang mampu menjembatani dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai “Dosen Berdampak”.

Bagi Hardika, penghargaan ini merupakan buah dari keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Ia selalu menanamkan nilai tanggung jawab sosial bahwa ilmu yang kita miliki tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi harus memberi manfaat bagi masyarakat. Dari kesadaran itu, Desamind terbentuk sebagai wadah kolaboratif bagi pemuda untuk belajar, mengabdi, dan mencipta perubahan nyata di desa.

“Kita tidak boleh berhenti pada teori, namun harus hadir di masyarakat, menyalakan lilin-lilin potensi di setiap desa,” tutur Hardika saat memberikan pengarahan kepada mahasiswa.

Kini, Desamind telah berkembang menjadi gerakan yang berfokus pada pemberdayaan desa. Bersama relawan muda dari berbagai daerah, Desamind menjalankan berbagai inisiatif untuk memperluas jangkauan dampaknya. Terhitung 340 kegiatan/kolaborasi terlaksana dengan jumlah keterdampakan lebih dari 27 ribu masyarakat. Hal ini menjadi bukti bahwa gerakan anak muda mampu menjembatani kampus, industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem perubahan sosial.

Gambar 1. Momen penyerahan dukungan kolaborasi antara Desamind Foundation dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (Dok. Humas UMS)

Kampus sebagai Rumah Gerakan Sosial

Keberhasilan Desamind dalam memberikan kebermanfaatan tidak terlepas dari dukungan kampus yang visioner. Bagi Hardika, Universitas Muhammadiyah Surakarta bukan sekadar tempat ia mengajar, tetapi ruang yang menumbuhkan nilai kepedulian dan empati sosial.

“Kampus harus menjadi pusat gerakan sosial, tempat di mana ide dan aksi bersatu untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Berkat kolaborasi dosen, mahasiswa dan ekosistem kampus yang aktif di berbagai lini pemberdayaan, UMS menunjukkan peran penting pendidikan tinggi sebagai katalis transformasi sosial. Sinergi ini membuktikan bahwa akademisi dapat menjadi motor perubahan yang berpihak pada masyarakat.

Dari Desa untuk Indonesia

Gerakan Desamind telah menyalakan semangat perubahan di berbagai wilayah Indonesia. Terdapat 16 Chapter Desamind dengan desa binaannya masing-masing mampu mandiri secara ekonomi dan menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain. Lebih dari sekadar program sosial, Desamind menjadi ruang belajar bersama bagi generasi muda untuk memahami makna pemberdayaan yang sesungguhnya.

Hardika meyakini, perubahan sejati dimulai dari pemberdayaan manusia. Desa bukan objek pembangunan, melainkan subjek perubahan. Prinsip inilah yang terus dijaga oleh Desamind dalam setiap langkah pengabdian mereka.

Gambar 2. Para relawan Desamind bersama pihak Paragon, Kemendiktisaintek dan Mahasiswa UMS berkomitmen melanjutkan gerakan pemberdayaan desa (Dok. Humas UMS)

Dengan semangat menyalakan lilin-lilin desa, Hardika menunjukkan bahwa kampus tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga menumbuhkan generasi pemberdaya. Dari ruang kelas hingga pelosok desa, ia membuktikan bahwa pendidikan dan pengabdian dapat berjalan beriringan untuk Indonesia yang lebih berdaya.

Author : Alan Ferdian Syah

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Chapter Lombok Timur dan Desa Sapit Jalin Kemitraan Strategis untuk Penguatan Potensi Lokal

By Berita Terkini, Desamind Chapter, Press Release

Lombok Timur – Desamind Chapter Lombok Timur resmi menjalin kerja sama dengan Pemerintah Desa Sapit, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai Desa Mitra Desamind Chapter Lombok Timur. Kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi lokal desa, khususnya di bidang pendidikan, pariwisata, perekonomian, dan pemberdayaan masyarakat.

Penandatanganan MoU dilaksanakan di Aula Kantor Desa Sapit pada Minggu (12/10). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Sapit, Sekretaris Desa Sapit, para kepala wilayah Desa Sapit, perwakilan Pengurus Pusat Desamind (Koordinator Wilayah 3), anggota Desamind Chapter Lombok Timur, tokoh pemuda, kader desa, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), dan para pelaku UMKM setempat.

Kerja sama ini menjadi langkah konkret Desamind Chapter Lombok Timur dalam mendukung pembangunan desa berkelanjutan. Desa Sapit dikenal memiliki kekayaan potensi budaya, sejarah, dan alam. Terletak di lereng Gunung Rinjani, desa ini juga telah berkembang sebagai desa wisata dengan beragam tradisi lokal yang masih terjaga, salah satunya Maulid Adat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Sapit, H. Sriatun, S.Pt., NL.P., menyambut baik kolaborasi yang terjalin dengan Desamind Chapter Lombok Timur. Ia mengapresiasi peran aktif pemuda dalam mendukung pembangunan desa.

“Kami mengucapkan terima kasih atas inisiatif Desamind Chapter Lombok Timur. Desa Sapit memiliki potensi alam, budaya, dan hasil pertanian yang melimpah. Namun, kami membutuhkan sentuhan inovasi, terutama dari para pemuda, agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara maksimal. Harapannya, seluruh program Desamind dapat menjangkau 11 dusun yang ada di Desa Sapit dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desamind Chapter Lombok Timur, M. Abdul Hayyi, menjelaskan bahwa pemilihan Desa Sapit sebagai Desa Mitra didasarkan pada kekayaan potensi desa, kuatnya semangat gotong royong masyarakat, serta letak geografisnya yang strategis dan berdekatan dengan kawasan wisata Sembalun yang ramai dikunjungi wisatawan lokal, nasional, hingga mancanegara.

Gambar 1. Foto Bersama Usai Penandatangan MoU (Arsip Desamind Chapter Lombok Timur)

Ia juga menyampaikan rencana pelaksanaan Desamind Leadership Camp di Desa Sapit sebagai salah satu program tahunan Yayasan Desamind. Program ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Desa Sapit sebagai destinasi wisata sekaligus menjadi ruang pengembangan kapasitas pemuda desa.

“Desamind Chapter Lombok Timur berkomitmen mendampingi Desa Sapit melalui sejumlah program prioritas, antara lain peningkatan kapasitas literasi dan pendidikan melalui taman baca serta pelatihan pemuda, pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penguatan produk unggulan UMKM desa seperti kopi, jahe, pisang, dan produk lokal lainnya,” jelas Hayyi.

Kerja sama ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan model pembangunan desa yang berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Selain itu, kolaborasi ini juga diarahkan untuk mendorong peningkatan tata kelola desa melalui pemanfaatan digitalisasi dan inovasi.

Dalam pelaksanaannya, Desamind Chapter Lombok Timur akan menjadi ujung tombak pelaksanaan program di lapangan, memastikan sinergi antara program organisasi dan kebutuhan riil masyarakat Desa Sapit.

Author: Desamind Chapter Lombok Timur

Editor: Alan Ferdian Syah / Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Selenggarakan Kelas Pembekalan untuk Cetak Local Heroes Penggerak Desa

By Artikel, Beasiswa Desamind, Berita Terkini, Press Release, Program Unggulan Desamind

DESAMIND.ID, Minggu, 28 Juli 2025 — Dalam rangka mendampingi lima penerima terpilih Beasiswa Desamind 5.0 sebelum menjalankan proyek pengabdian di desa, Desamind Indonesia menyelenggarakan Kelas Pembekalan yang berlangsung selama tiga pekan secara daring. Kegiatan ini dirancang untuk membekali para awardee dengan kapasitas personal dan teknis, agar mampu mengeksekusi proyek sosialnya.

Dalam sambutannya, President Director Desamind menegaskan pentingnya orientasi pada aksi dalam kepemimpinan berbasis pengabdian. “Orang-orang yang membantu kalian itu fokus ke action-oriented, tetapi sebagai seorang leader, kalau ekspektasinya tinggi namun tidak bisa mengeksekusi sebuah project, itu tidak akan berdampak,” ujarnya. Pesan ini menjadi kerangka utama kelas pembekalan: mendorong awardee tidak hanya untuk berpikir besar, tetapi juga mampu bertindak dan menggerakkan.

Pada pekan pertama, sesi bertajuk Bite the Chunk: From Idea to Action for Social Project dibawakan oleh Reza Nurdiansyah, seorang profesional tersertifikasi dari Desain Thinkers Indonesia. Reza mengajak peserta mengembangkan gagasan mereka dengan pendekatan Design Thinking dan menyusunnya ke dalam kerangka Social Business Model Canvas. Materi ini memberikan dasar logis dan aplikatif agar ide-ide sosial yang digagas peserta bisa dikemas dalam bentuk proyek yang sistematis dan dapat diimplementasikan.

Pekan berikutnya, peserta mendalami dinamika kerja tim dalam sesi Teamwork Makes the Dream Work bersama Dimas Dwi Pangestu, Founder Trash Ranger ID. Ia menekankan pentingnya pembagian peran yang adaptif, penyusunan skala prioritas menggunakan MoSCoW Method, serta memahami karakter kepemimpinan situasional. Melalui studi kasus dan diskusi kelompok, peserta didorong memahami bahwa keberhasilan proyek sosial sangat bergantung pada kolaborasi internal yang sehat dan efektif.

Penutup kelas pembekalan diisi oleh Amsa Nadzifah, Ketua Yayasan Literasi Desa Tumbuh, dalam sesi bertajuk Link and Lead: The Power of Project Collaboration. Amsa menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memastikan keberlanjutan program. Ia menyampaikan bahwa proyek sosial yang kuat bukanlah proyek yang berjalan sendiri, melainkan yang mampu menjalin relasi dengan berbagai aktor dalam kerangka kolaborasi pentahelix. “Dengan menjalin kemitraan lintas sektor (pentahelix), kalian akan membentuk ekosistem proyek sosial yang mandiri dan berkelanjutan,” tegasnya kepada peserta.

Gambar 1. Kelas Pembekalan awardee Beasiswa Desamind 5.0

Setiap sesi dalam kelas pembekalan tidak hanya diisi dengan paparan teori, tetapi juga simulasi langsung melalui worksheet, diskusi studi kasus, serta sesi mentoring reflektif di ruang breakout. Pola ini dirancang untuk membangun pemahaman secara progresif dan berkesinambungan.

Melalui Kelas Pembekalan ini, Desamind Indonesia berharap para awardee dapat merealisasikan proyek sosial mereka dengan kesiapan, mulai dari desain program, kerja kolaboratif, hingga membangun dampak berkelanjutan dalam pelaksanaan proyek sosial yang di usung di desa yang menjadi mitranya.

Penulis: Zaky Badruzzaman/Scholarship Division

Editor: Kamilya Anjani Putri

Meningkatkan Resiliensi Ekonomi, Desamind Terlibat dalam Pemberdayaan Komunitas Disabilitas

By Press Release

Sleman – Komitmen Desamind dalam mendorong gerakan sosial berbasis masyarakat kembali diwujudkan melalui keterlibatan dalam pengabdian “Pemberdayaan Penyandang Disabilitas melalui Literasi Keuangan Digital untuk Meningkatkan Resiliensi Keuangan di Yogyakarta”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) pada Kamis (03/07) bertempat di Kopi Candi, Candibinangun, Pakem, Sleman.

Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE, selaku President Director Desamind secara langsung mendampingi para peserta dan memberikan pendampingan mengenai strategi pemasaran digital yang mudah diakses siapa pun. Ia mendorong anggota Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sleman untuk melihat peluang ekonomi yang terbuka luas melalui platform digital.

“Justru di era digital, teknologi membuka ruang bagi siapa pun untuk mandiri secara ekonomi. Mari kita manfaatkan Facebook, Instagram, TikTok, dan media sosial lainnya untuk mendapatkan penghasilan,” tegas Hardika.

Gambar 1. Sesi Pendampingan Digital Marketing kepada HWDI Sleman (Arsip Desamind)

Pelatihan ini juga menghadirkan Rosi Kho Arliyani dari Otoritas Jasa Keuangan Daerah Istimewa Yogyakarta  (OJK DIY) yang memberikan pemahaman seputar pengelolaan keuangan pribadi serta pentingnya perencanaan finansial inklusif bagi kelompok rentan. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara akademisi, regulator, dan komunitas penyandang disabilitas dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Prof. Dr. Ratna Candra Sari, M.Si., C.A., CFP., selaku ketua pelaksana kegiatan, menjelaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini adalah mendorong inklusi keuangan berbasis komunitas.

“Kami ingin membuktikan bahwa literasi keuangan bisa menjangkau semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas, agar mereka bisa mandiri dan resilien dalam menghadapi tekanan ekonomi,” ungkapnya.

Sebanyak lebih dari 60 peserta mengikuti kegiatan dan terlibat secara aktif. Salah satu peserta, Muryati, menyampaikan kesan positif dan rasa syukur karena mendapatkan kesempatan belajar langsung dari para praktisi dan akademisi.

“Materi hari ini sangat membuka wawasan kami. Kami jadi tahu bagaimana cara mengelola uang dan memasarkan produk secara online. Ini sangat membantu kami untuk berdaya secara mandiri,” ujarnya.

Keterlibatan Desamind dalam kegiatan ini menjadi bukti nyata upaya memperkuat kapasitas masyarakat akar rumput, khususnya komunitas penyandang disabilitas, melalui pendekatan berbasis literasi dan dan pemanfaatan teknologi digital.

Penulis: Ahmad Zamzami

Editor: Syifa Adiba

Young Leaders Programme (YLP) 2025

Menginspirasi! Founder Desamind Wakili Indonesia Bawa Semangat Pemuda Desa ke Forum Dunia YLP 2025 Singapore

By Berita Terkini, Press Release

SINGAPURA, desamind.id — Hardika Dwi Hermawan, Founder serta President Director Desamind Indonesia, terpilih sebagai salah satu delegasi yang berpartisipasi dalam Young Leaders Programme (YLP) 2025 di Singapura. Program prestisius ini berlangsung pada 26–28 Juni 2025 di Raffles City Convention Centre dan mempertemukan lebih dari 100 pemimpin muda dunia. Mereka berkumpul untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan sosial global, mulai dari kohesi sosial, harmoni antar agama, hingga solidaritas kemanusiaan lintas negara.

Gambar 1 Hardika dalam YLP 2025 (desamind.id/doc YLP 2025)

Program ini diselenggarakan oleh Ministry of Culture, Community and Youth (MCCY) Singapura. Hardika menerima undangan sebagai delegasi yang direkomendasikan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat melalui Desamind Indonesia, Ia memperoleh fasilitas penuh meliputi tiket perjalanan internasional, akomodasi, konsumsi, dan akses ke seluruh rangkaian kegiatan resmi.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta YLP mengikuti beragam sesi interaksi, kolaborasi, dan pembelajaran pengalaman. Kegiatan dibuka dengan Cultural Networking Evening, yang menjadi ajang berbagi pengalaman lintas budaya dan membangun jejaring global. Keesokan harinya, peserta diajak mendalami isu-isu sosial melalui Forum Teater, serta mengikuti Heartlands Exploration, kunjungan langsung ke kawasan permukiman multikultural di Singapura untuk mempelajari praktik kohesi sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Gambar 2 Keterlibatan Hardika dalam Rangkaian Program YLP 2025 (desamind.id/doc YLP 2025)

Program ini juga menghadirkan sesi breakout tematik, seperti Volunteer Quest, Act Against Disunity, dan Grand Challenges: Faith in Action, yang mendorong peserta berpikir kritis dan kreatif dalam menangani permasalahan ekstremisme, eksklusi sosial, dan peran agama dalam menciptakan perdamaian dunia. Pada hari terakhir, peserta berkesempatan mengikuti sesi Applied Learning yang difasilitasi oleh Center for Religion and Civic Culture dari University of Southern California, tempat mereka merancang inisiatif sosial yang dapat diterapkan di negara masing-masing.

Menurut Hardika, partisipasinya dalam YLP 2025 memberikan pengalaman berharga dalam mengasah keterampilan kepemimpinan global, seperti menyelesaikan konflik lintas budaya, merancang program kerja sama antarnegara, serta memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI) untuk menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks. Ia menilai bahwa pendekatan transdisipliner dan kolaboratif yang diusung oleh YLP sangat relevan dalam mencetak pemimpin muda yang adaptif, inklusif, dan berbasis nilai di era digital ini.

Program ini membuka wawasan saya tentang bagaimana pemuda dari berbagai negara dapat bersatu untuk menciptakan perubahan nyata. Saya berharap ke depan, pemuda Indonesia juga dapat berpartisipasi dalam program ini tentunya dengan menunjukkan inisiatif yang berdampak dan relevan terhadap tantangan sosial yang ada,” ungkap Hardika.

Gambar 3 100 Pemuda dari Penjuru Dunia pada YLP 2025 (desamind.id/doc YLP 2025)

Keikutsertaan Hardika dalam YLP 2025 juga mencerminkan komitmen Desamind Indonesia untuk mengembangkan kepemimpinan muda yang adaptif, inklusif, dan siap bersaing di tingkat global. Pengalaman tersebut akan diimplementasikan dalam pengembangan program berbasis komunitas yang berfokus pada literasi digital, pelatihan resolusi konflik, serta dialog antar budaya melalui berbagai inisiatif yang digagas Desamind Indonesia.

Penulis : Hardika Dwi Hermawan

Editor : Putri Aulia Pasa dan Syifa Adiba

Monev Akhir Beasiswa Desamind 4.0 sebagai Refleksi dan Komitmen Dampak Sosial

By Beasiswa Desamind, Press Release

Surakarta – Desamind Indonesia Foundation kembali menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Akhir Program Beasiswa Desamind 4.0 pada Minggu (22/06). Kegiatan ini menjadi puncak dari proses pendampingan selama satu tahun kepada para awardee yang telah berjuang menciptakan dampak nyata melalui program pengabdian masyarakat desa.

Kegiatan dibuka pada pukul 08.00 WIB dengan sambutan dari Hardika Dwi Hermawan selaku President Director Desamind Indonesia. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya proses refleksi sebagai bagian dari penguatan gerakan pemuda desa.

 “Kita tidak hanya mencetak pelaksana program, tetapi juga pencetus perubahan jangka panjang,” tuturnya.

Tahun ini, sebanyak lima awardee berhasil menjalankan program mereka di berbagai wilayah Indonesia. Para awardee kemudian mempresentasikan capaian program bersama panel juri mulai dari latar belakang persoalan desa, pendekatan yang digunakan, hingga cerita dampak dan keterlibatan masyarakat. 

Gambar 1. Tabel Awardee Beasiswa Desamind 4.0 dan Proyeknya (Arsip Desamind)

Panel juri terdiri dari akademisi dan praktisi pembangunan desa. Mereka tidak hanya menilai dari sisi hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses, metode partisipatif, serta peluang pengembangan program di desa lain. Penilaian dilakukan secara menyeluruh dan dituangkan dalam formulir evaluasi sebagai dasar skor akhir masing-masing peserta.

Setelah seluruh sesi presentasi selesai, para panelis melakukan diskusi tertutup untuk menyusun catatan evaluasi dan rekomendasi strategis yang akan menjadi bahan pengembangan program Desamind di masa mendatang.

Momentum penuh makna ini ditutup dengan Graduation Ceremony yang menandai berakhirnya masa pendampingan bagi para awardee Beasiswa Desamind 4.0. Taufiq Bayu Nur Rahmat mengaku bersyukur bisa belajar selama satu tahun di ekosistem Desamind. Baginya, Desamind adalah ruang sesungguhnya untuk pengabdian dan bertumbuh bersama masyarakat.

“Program ini mengubah cara saya melihat desa. Saya belajar untuk tidak datang sekedar membawa solusi, tapi hadir untuk mendengar dan bertumbuh bersama masyarakat,” ungkap Taufiq.

Para mentor juga turut menyampaikan apresiasi terhadap dedikasi dan ketekunan para awardee. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan program bukan hanya dinilai dari luaran, tetapi dari proses pembelajaran dan transformasi pribadi yang dialami peserta.

Yulia Susanti, Director of Scholarship Division Desamind Indonesia, berharap para awardee tidak berhenti berkarya setelah program ini berakhir. Ia menegaskan, menjadi local hero bukan peran jangka pendek. 

“Ini adalah komitmen panjang untuk terus menyalakan harapan di desa,” tegasnya. 

Melalui kegiatan Monev ini, Desamind Indonesia akan terus menjaga komitmennya untuk memastikan setiap program pengabdian tidak berhenti sebagai laporan administratif, tetapi benar-benar meninggalkan dampak sosial yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Penulis: Kiki Irafa Candra

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Leadership Camp 5.0

Desamind Leadership Camp 5.0: Cetak Pemimpin Muda Adikara Bhaskara untuk Desa Harmonis dan Berdaya

By Artikel, Berita Terkini, Press Release, Program Unggulan Desamind

DESAMIND.ID Karanganyar – Desamind Leadership Camp (DLC) 5.0 resmi digelar pada 23-25 Mei 2025, di Rumah Revolusi Mental WCS Mojogedang, Karanganyar, Jawa Tengah. Kegiatan ini mengusung tema “Pemberdayaan Pemuda melalui Kepemimpinan Kolaboratif dan Praktik Pembangunan Perdamaian (Peacebuilding): Membangun Desa yang Harmonis dan Berdaya melalui Kepemimpinan Berbasis Komunitas”,  acara ini bertujuan mencetak pemimpin muda yang mampu membangun desa yang harmonis, inklusif, dan berdaya.

Sebanyak 50 peserta terpilih dari seluruh Indonesia mengikuti program intensif ini dan menjadi bagian dari perjalanan Adikara Bhaskara, sebuah filosofi kepemimpinan yang berarti “sang cahaya perubahan”.

DLC 5.0 secara resmi dibuka oleh Plt. Camat Mojogedang bersama President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc. (ITE). Dalam sambutannya, Hardika menyampaikan pentingnya kolaborasi dan kepemimpinan transformatif dalam pembangunan desa.

Pada hari pertama dimulai dengan Group Dynamics yang dipandu oleh Zuhal Qolbi, diikuti sesi refleksi diri Discover You! bersama Syifa Adiba. Para peserta diajak menggali potensi diri, nilai kepemimpinan, serta visi masa depan mereka.

Gambar 1 Group Dynamics yang bersama Zuhal Qolbi (doc desamind.id)

Sesi dilanjutkan dengan diskusi Peace in Diversity: Socio-Cultural Issue oleh Hardika, yang menekankan pentingnya perdamaian dan harmoni dalam masyarakat multikultural.

Memasuki hari kedua, kegiatan diawali dengan senam pagi dan aktivitas ringan yang membangkitkan semangat serta energi peserta. Setelah itu, peserta mengikuti sesi Design Thinking yang kembali difasilitasi oleh Hardika Dwi Hermawan. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk mengeksplorasi ide-ide inovatif dan merancang solusi kreatif guna menjawab berbagai tantangan yang dihadapi desa.

Tanpa jeda panjang, para peserta langsung terjun ke lapangan melalui program Empathy of Action dengan menyambangi warga Desa Sumberbulu. Kegiatan ini menjadi praktik nyata dari pendekatan design thinking, di mana peserta mendengarkan secara langsung aspirasi dan kebutuhan masyarakat, sekaligus mengidentifikasi potensi lokal. Pengalaman ini menjadi langkah konkret dalam membangun empati dan pemahaman mendalam terhadap dinamika desa.

Gambar 2 Program Empathy of Action terjun ke rumah warga (doc desamind.id)

Siang harinya, peserta mengikuti sesi Plan It Right! bersama Zakky Muhammad Noor yang membekali mereka dengan panduan menyusun rencana aksi yang sistematis, terukur, dan berorientasi pada dampak. Wawasan mereka semakin diperkaya melalui diskusi mendalam bersama Aland Dinda Pradana yang membahas mengenai Strategi Pitching Ide (Plan It Right). Materi ini menjadi modal peserta nantinya untuk menaklukan sesi Pitch It On.

Pada sore hari, para peserta memasuki sesi Pitch It On!—sebuah ajang presentasi ide dan rencana aksi hasil dari interaksi langsung dengan warga. Sesi ini dipandu oleh Muhammad Ertam dan Dewi Fajar sebagai MC, serta dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Aland Dinda Pradana, Syifa Adiba, dan Putri Aulia Pasa. Energi dan antusiasme para peserta sangat terasa ketika mereka menyampaikan gagasan dengan percaya diri dan semangat yang tinggi.

Malam harinya, inspirasi kembali mengalir melalui sesi Voices of Impact! bersama dua narasumber hebat, yakni Restu Andini (Executive Director of Inovasi Muda Foundation) dan Zakky Muhammad Noor. Keduanya membagikan kisah perjuangan dan kontribusi nyata mereka dalam memberdayakan masyarakat, yang menyentuh hati dan membangkitkan semangat perubahan. Sejatinya, kegagalan adalah langkah awal yang mengantarkan kita menuju keberhasilan.

Rangkaian hari kedua ditutup dengan hangatnya sesi Tungku Cerita, sebuah ruang kebersamaan di sekitar api unggun, di mana para peserta menampilkan beragam ekspresi seni seperti lagu, puisi, hingga tarian tradisional. Gelak tawa, tepuk tangan, dan rasa syukur mengalir dalam suasana yang akrab dan penuh makna.

Gambar 3 Sesi Tungku Cerita (doc desamind.id)

Hari terakhir dimulai dengan senam pagi yang membangkitkan semangat. Suasana menjadi semakin hidup ketika peserta bermain tarik tambang, permainan sederhana yang memacu kerja sama dan keceriaan. Aktivitas ini mengingatkan bahwa kolaborasi dan kekompakan adalah kunci dalam memimpin dan membangun desa.

Setelah itu, peserta menjalani aktivitas pribadi untuk merenung dan memetakan kembali mimpi serta rencana masing-masing. Momen jeda yang mendalam ini mendorong setiap individu menemukan kembali niat dan arah perjalanan mereka.

Sesi “Empathy and Games” menjadi sorotan penting di hari terakhir. Menggabungkan permainan seru dengan latihan empati, sesi ini mengajarkan peserta untuk saling memahami, mendukung, dan menguatkan. Tawa, pelukan hangat, dan cerita terbuka memenuhi ruang, membentuk ikatan persaudaraan yang akan menjadi kenangan indah.

Selanjutnya, Diki Angger memandu sesi “Green Action” yang mengajak peserta menelaah isu lingkungan dan tanggung jawab pemuda dalam menjaga bumi memfokuskan pada pengolahan sampah. Bersama warga setempat, peserta juga mempraktikkan Eco-print menggunakan daun dan bahan alami menghias taplak meja dan totebag. Kegiatan ini tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga mempererat hubungan dengan masyarakat desa.

Gambar 4 Green Action menghias totebag bersama warga (doc desamind.id)

Sambutan hangat dari Ketua RT setempat menjadi momen penuh makna:
“Kami sangat bangga dan bersyukur atas kehadiran kalian. Semangat dan kepedulian kalian menjadi penyemangat baru bagi kami. Terima kasih sudah mengajak kami merawat desa dan lingkungan ini bersama-sama.”

DLC 5.0 ditutup dengan refleksi bersama dan sesi pembagian kesan dan pesan dari para peserta. Pengumuman pemenang games dan nominasi menjadi salah satu momen yang paling dinanti, menegaskan bahwa perjalanan ini adalah kolaborasi yang menghasilkan karya dan persahabatan.

Pada sesi pengumuman pemenang, berbagai kategori menjadi sorotan dan mendapat sambutan antusias dari peserta. Untuk LinkedIn Quiz, juara diraih oleh Bayu Hardito, Ahista, dan Nur Afifah yang berhasil menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Dalam kategori kelompok, Kelompok 2 dinobatkan sebagai Kelompok Terkompak, sementara Kelompok 8 mendapatkan predikat Kelompok Terkritis. Kelompok 7 keluar sebagai Kelompok Terkreatif, disusul Kelompok 5 sebagai Kelompok Teramai, dan Kelompok 1 sebagai Kelompok Terrajin.

Pada ajang kompetisi games, juara ketiga diraih Kelompok 3, juara kedua Kelompok 4, dan juara pertama jatuh kepada Kelompok 6. Sedangkan pada sesi pitching “Pitch It On,” Kelompok 3 berhasil meraih juara pertama, diikuti Kelompok 5 di posisi kedua, dan Kelompok 6 sebagai juara ketiga.

Untuk nominasi peserta individu, penghargaan Peserta Terproaktif diberikan kepada Taufik Ardiansyah, Peserta Terinspiratif diraih oleh Diki Angger, dan Peserta Terbaik disematkan kepada Abyan Putra.

Pengumuman ini sekaligus menegaskan bahwa setiap peserta dan kelompok telah menunjukkan dedikasi, kreativitas, dan semangat kolaborasi yang tinggi selama rangkaian acara berlangsung.

Ketua Panitia DLC 5.0, Alwi Dwi Rahmadi, menutup acara dengan penuh semangat dan harapan:
“Semoga setiap langkah yang kita tapaki di sini menjadi awal perjalanan panjang untuk menghadirkan perubahan nyata. Kalian adalah pemuda hebat yang mampu menyalakan cahaya kebaikan di desa masing-masing. Mari terus bergerak bersama, membangun perdamaian dan kesejahteraan.”

Sementara itu, Abdul Aziez, Steering Committee DLC 5.0, menambahkan pesan penuh makna:
“Saya sangat bangga kepada seluruh panitia dan peserta DLC 5.0. Terima kasih bukan hanya karena kalian kuat saling menguatkan, tapi juga hebat dalam saling menghebatkan. Kalian hadir bukan sekadar untuk belajar, melainkan untuk saling menopang, mendukung, dan meninggalkan jejak berarti. Semoga perjalanan ini menjadi fondasi kokoh untuk melangkah lebih jauh, karena setiap langkah kita hari ini adalah cahaya yang kelak akan menuntun banyak orang. Teruslah menjadi pemimpin yang berempati, berani, dan membawa damai di mana pun kalian berada.”

Gambar 5 Potret Adikara Bhaskara pada DLC 5.0 (doc desamind.id)

DLC 5.0 bukan sekadar program pelatihan, melainkan perjalanan penuh makna di mana setiap pemuda belajar menjadi pemimpin yang berempati, berani, dan siap menyalakan lentera perubahan di setiap sudut desa.

Tunggu kami di Desamind Leadership Camp 6.0!

Author : Abdul Aziez, Putri Aulia Pasa

Editor : Syifa Adiba

89 Lulusan Paket C PKBM Cakra Mrebet Diwisuda: Bukti Nyata Pendidikan Inklusif dan Pemberdayaan di Purbalingga

By Press Release

DESAMIND.ID – Purbalingga (11/05) Suasana haru dan penuh kebahagiaan mewarnai Wisuda Angkatan XIV Kesetaraan Paket C PKBM Cakra Mrebet yang digelar di Rest Area Cheng Ho, Mrebet, Purbalingga, Jawa Tengah. Sebanyak 89 wisudawan resmi dinyatakan lulus, menandai keberhasilan mereka menempuh pendidikan kesetaraan sebagai alternatif yang inklusif dan bermartabat.

Momentum ini terasa semakin istimewa karena PKBM Cakra Mrebet merupakan mitra strategis Desamind Indonesia, organisasi kepemudaan yang telah berkolaborasi selama lebih dari tiga tahun untuk mendampingi dan memberdayakan peserta didik pendidikan nonformal di desa.

Gambar 1. Penampilan Seni dari Siswa PKBM Cakra Mrebet, Purbalingga.

Selama perjalanan kemitraannya, Desamind Indonesia bersama Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (PTI UMS) telah menginisiasi berbagai kegiatan kolaboratif, seperti:

  • Pelatihan literasi digital dan anti-hoaks untuk peserta didik dan tutor,
  • Workshop keterampilan digital seperti desain grafis, pembuatan konten media sosial, dan pengenalan alat produktivitas berbasis daring,
  • Program “Simulasi Perilaku Berbasis Virtual Reality“, yang mengajak peserta memahami risiko judi daring dan informasi palsu dalam konteks dunia digital,
  • Pendampingan kewirausahaan digital dan lifeskill seperti pembuatan produk kreatif, pemasaran daring,
  • Penyuluhan hukum menggunakan media ARLaw dan VRLaw yang berkolaborasi dengan PKBH FH UGM.

Dalam momen  wisuda ini, Founder Desamind Indonesia sekaligus dosen PTI UMS, Hardika Dwi Hermawan, turut hadir memberikan sesi motivasi kepada para lulusan. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari pendidikan akar rumput.

“Pendidikan nonformal bukan jalur kedua, melainkan jalan alternatif yang bermartabat untuk mencapai masa depan,” tegasnya di hadapan para lulusan dan tamu undangan.

PKBM Cakra Mrebet sendiri telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Desamind Indonesia sejak 2022 dan telah menunjukkan konsistensinya dalam mendidik dengan hati. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Desamind dan perguruan tinggi, menjadikan lembaga ini sebagai model praktik baik dalam pendidikan kesetaraan yang berdaya dan memberdayakan.

Sugiarto, S.Pd., M.M., selaku Ketua Yayasan Cakra Paku Jaya, menyampaikan apresiasi terhadap semua pihak yang terlibat dan berharap para lulusan terus berkembang.

“Kami ingin lulusan dari PKBM Cakra tidak hanya berhenti pada seremoni hari ini, tetapi terus belajar, berkarya, dan menjadi bagian dari perubahan sosial. Kami berkomitmen untuk terus membuka akses dan peluang bagi siapa pun yang ingin menempuh pendidikan dengan semangat dan ketekunan.” ungkap Sugiarto dalam sambutannya.

Gambar 2. Prosesi Penyerahan Ijazah Siswa PKBM Cakra Mrebet

Senada dengan itu, Kepala Kesetaraan Paket C PKBM Cakra, M. Al-fauzan, S.Pd., menekankan pentingnya bekal keterampilan praktis bagi lulusan.

“Mereka telah kami bekali dengan keterampilan menjahit, desain, hingga pemanfaatan digital tools. Semoga mereka menjadi individu yang mandiri dan bisa memberi kontribusi nyata di masyarakat,” ungkap Fauzan.

Keterlibatan Desamind dalam program pendidikan nonformal merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk membangun jembatan sosial antara pemuda berpendidikan dan masyarakat akar rumput demi menciptakan ruang belajar yang setara dan inklusif. Ke depannya, Desamind  berharap terus tumbuh melalui penguatan jejaring, program inovatif, dan pendampingan lanjutan agar lulusan Paket C dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat dan pelaku perubahan di komunitasnya masing-masing, termasuk rencana program kerjasama yang akan dilaksanakan beberapa bulan mendatang.

Penulis: Dwi

Editor: Ahmad Zamzami/Syifa Adiba

Pelatihan Literasi Digital dan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI): Bekal Guru MIM Akhlakul Karimah Hadapi Era Pembelajaran Digital

By Press Release

DESAMIND.ID – Surakarta (03/05) Program Studi Pendidikan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (PTI UMS) bekerja sama dengan Desamind Research and Training Center (DRTC) sukses menggelar Pelatihan Literasi Digital dan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) bagi Guru, yang diselenggarakan di MIM Akhlakul Karimah Mojogedang.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep literasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan, serta meningkatkan kapasitas guru dalam mengadopsi teknologi digital secara bijak dan efektif di ruang kelas.

Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE, dosen PTI UMS, selaku pemateri memberikan pemahaman komprehensif tentang pentingnya literasi digital dan berbagai tools AI yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sehari-hari.

Foto 1. Praktek Penggunaan AI oleh Fasilitator

“Pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak menggantikan peran guru, tetapi mendukung dan memperkuatnya. Guru perlu memahami cara kerja AI dan bagaimana teknologi ini bisa digunakan secara kreatif dalam kegiatan belajar-mengajar,” ujar Hardika.

Kegiatan ini disambut baik oleh Muhammad Arif, S.Pd.I, Kepala Sekolah MIM Akhlakul Karimah. Ia menyampaikan apresiasinya atas inisiatif pelatihan yang sangat relevan dengan kebutuhan guru di era digital.

“Saya sangat mengapresiasi pelatihan ini. Ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan kapasitas guru, agar tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi yang begitu pesat,” tuturnya.

Foto 2. Pembagian sertifikat pelatihan (Dok. Desamind)

Salah satu guru peserta pelatihan, Tika Yuliastuti, S.E., turut membagikan pengalamannya selama mengikuti kegiatan.

“Pelatihan ini membuka wawasan saya mengenai penggunaan AI dalam pembelajaran. Saya merasa lebih percaya diri untuk mencoba berbagai aplikasi digital di kelas,” ungkap Tika.

Pelatihan ini menjadi langkah awal yang strategis dalam mewujudkan sekolah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta menunjukkan komitmen UMS dan Desamind RTC dalam mendukung transformasi pendidikan.

Penulis: Ahmad Zamzami

Editor: Syifa Adiba