Skip to main content
Category

Press Release

VOLUNTALK Aksiberbagi.com: Ketika Nongkrong Menjadi Ruang Belajar Kerelawanan

By Berita Terkini, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta – Aksiberbagi.com menghadirkan ruang belajar kerelawanan melalui VOLUNTALK “Dari Pengabdian Menuju Perubahan” yang digelar pada Sabtu (15/8/2026) di Nusantara Tea House, Surakarta. Mengusung konsep diskusi santai di ruang nongkrong, kegiatan ini mempertemukan Didie Putri, Head of Remote Area CT ARSA Foundation, dan Hardika Dwi Hermawan, President Director of Desamind Indonesia Foundation, untuk berbagi pengalaman tentang pengabdian, realitas masyarakat rural, serta pentingnya membangun empati dalam menciptakan perubahan.

VOLUNTALK dikemas dalam suasana informal untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda. Melalui diskusi dan berbagi pengalaman, peserta diajak melihat kerelawanan tidak hanya sebagai aktivitas untuk membantu orang lain, tetapi juga sebagai proses belajar untuk memahami persoalan sosial, membangun kepedulian, memperluas jejaring, dan menemukan ruang untuk berkontribusi.

Gambar 1. Sesi Berbagai Pengalaman dari Para Narasumber

Dalam kesempatan tersebut, Didie Putri membagikan pengalamannya ketika terjun langsung ke berbagai wilayah rural. Pengalaman di lapangan memperlihatkan kepadanya bahwa masih terdapat masyarakat yang menghadapi persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan pangan hingga sulitnya memperoleh akses pendidikan.

Didie menceritakan pengalamannya bertemu dengan anak-anak yang hidup dalam kondisi serba terbatas. Di sejumlah wilayah, ia menemukan anak yang bahkan harus menjalani pagi hanya dengan minum kopi karena tidak memiliki makanan untuk sarapan. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan di wilayah rural tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan fasilitas, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar dan kesempatan anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Ketika kita turun ke daerah rural, kita akan melihat realitas yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Masih ada anak-anak yang kelaparan, ada yang sarapan hanya dengan minum kopi. Akses pendidikan juga sangat sulit. Dari situ kita belajar bahwa persoalan masyarakat itu sangat kompleks dan tidak bisa kita lihat hanya dari satu sisi,” ujar Didie.

Menurut Didie, pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa kerja pengabdian membutuhkan kepekaan terhadap kondisi masyarakat. Relawan tidak cukup hanya datang dengan keinginan untuk membantu, tetapi perlu memahami konteks dan kebutuhan masyarakat sebelum menentukan bentuk kontribusi yang diberikan.

Berinteraksi langsung dengan masyarakat juga membuat seseorang memahami bahwa persoalan sosial tidak selalu dapat diselesaikan melalui pendekatan yang sama. Setiap wilayah memiliki tantangan, karakter masyarakat, serta kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kehadiran di lapangan menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman sekaligus kepedulian terhadap kondisi masyarakat.

Sementara itu, Hardika Dwi Hermawan membagikan perspektif mengenai pentingnya membangun empati dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Menurutnya, kegiatan yang dikerjakan seseorang seharusnya tidak hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga memiliki dampak positif bagi orang lain.

“Ketika kita mengerjakan sesuatu, jangan hanya berpikir apa dampaknya bagi diri kita. Bangun empati, karena apa yang kita kerjakan seharusnya juga memberikan dampak bagi orang lain. Dari empati itu kita bisa memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat dan kemudian menentukan apa yang bisa kita lakukan,” kata Hardika.

Pengalaman Hardika dalam membangun gerakan kepemudaan melalui Desamind turut membentuk pandangannya mengenai peran anak muda dalam menjawab persoalan sosial. Melalui berbagai inisiatif berbasis masyarakat, Desamind mendorong generasi muda untuk mengambil peran sebagai local heroes yang mampu mengembangkan potensi di lingkungan masing-masing.

Bagi Hardika, menjadi anak muda bukan hanya tentang mengembangkan kapasitas diri. Pengetahuan, energi, dan kesempatan yang dimiliki juga dapat diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu, empati menjadi penting agar seseorang mampu melihat persoalan bukan hanya dari sudut pandang dirinya sendiri, tetapi juga dari perspektif orang lain yang terdampak.

“Menjadi anak muda bukan hanya tentang bagaimana kita berkembang untuk diri sendiri. Ada tanggung jawab sosial di dalamnya. Ketika kita memiliki pengetahuan, energi, dan kesempatan, pertanyaannya adalah bagaimana semua itu bisa kita gunakan agar orang lain juga merasakan manfaatnya,” lanjut Hardika.

Pertemuan kedua narasumber tersebut memberikan gambaran bahwa pengabdian memiliki banyak bentuk. Anak muda dapat mengambil peran melalui pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kemanusiaan, teknologi, lingkungan, maupun berbagai inisiatif lain yang berangkat dari persoalan di sekitarnya.

Konsep VOLUNTALK yang memadukan diskusi dengan ruang nongkrong menjadi salah satu pendekatan aksiberbagi.com untuk memperkenalkan isu kerelawanan melalui ruang yang lebih informal. Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan praktisi yang memiliki pengalaman di lapangan.

Gambar 2. Para Relawan Ekspedisi Merdeka Berbagi Aksiberbagi

Salah satu peserta, Silvi Aliya Sakina, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, konsep VOLUNTALK memberikan alternatif ruang bagi generasi muda untuk memperoleh pengetahuan sekaligus bersosialisasi.

“Ini adalah salah satu pendekatan yang dibutuhkan kami. Selain memang bisa nongkrong di kafe, tetapi juga dapat ilmu berbasis kerelawanan yang ternyata sangat dibutuhkan oleh generasi kami (Gen Z),” ujar Silvi.

Menurut Silvi, pendekatan tersebut membuat pembelajaran mengenai kerelawanan terasa lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Ruang informal juga memungkinkan peserta untuk berdiskusi secara lebih terbuka dan bertukar pengalaman dengan orang-orang yang memiliki perhatian terhadap isu sosial. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa proses belajar mengenai kerelawanan tidak selalu harus berlangsung dalam ruang formal. 

Percakapan, perjumpaan, dan cerita pengalaman langsung dari mereka-mereka yang sering terjun di dunia kerelawanan dapat menjadi bagian dari proses kami untuk membentuk kepedulian serta mendorong anak muda untuk mengambil peran di masyarakat,” pungkas Silvi.

Author: Ahmad Zamzami

Kolaborasi dengan Sanggar Edukasi Purbalingga, Desamind Gelar Lilin Inspirasi “Jelajah Teknologi, Temukan Potensi”

By Berita Terkini, Press Release

Purbalingga – Desamind Indonesia berkolaborasi dengan Sanggar Edukasi Purbalingga menyelenggarakan Lilin Inspirasi  “Jelajah Teknologi, Temukan Potensi” pada Sabtu (1/8) di Sanggar Edukasi Karang Petir, Purbalingga. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar berbasis teknologi bagi 48 anak jenjang kelas 1 hingga kelas 6 sekolah dasar sebagai upaya menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan literasi digital sejak dini.

Selama 2,5 jam, para siswa belajar terkait pemanfaatan teknologi secara bijak, pembelajaran interaktif yang menyenangkan, mencoba teknologi Virtual Reality (VR), hingga bereksperimen menggunakan Makey-Makey sebagai media belajar kreatif. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak diajak memahami bahwa teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri.

Gambar 1. Anak-Anak Mencoba VR dan Makey-Makey

Sesi inspiratif ini diisi oleh para akademisi dan penerima berbagai program beasiswa dari beragam latar belakang keilmuan, yaitu Hardika Dwi Hermawan (Dosen Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Penerima Beasiswa LPDP, Master of Information Technology in EducationUniversity of Hong Kong), Alwy Ahmed (Mahasiswa Internasional asal Kenya, Universitas Muhammadiyah Surakarta), Ari Septian (Penerima Beasiswa LPDP, Magister Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Ahmad Zamzami (Penerima Beasiswa LPDP, Magister Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret), Anisa Amalia (Penerima Beasiswa Universitas Sebelas Maret, Magister Pendidikan Bahasa Inggris), Ahmad Luthfi (Magister Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta), serta Abyan Wardhana (Penerima Beasiswa S1 Teknik Komputer, Telkom University).

Kehadiran rekan-rekan Desamind tidak hanya memperkenalkan berbagai teknologi kepada anak-anak, tetapi juga membagikan kisah perjalanan pendidikan mereka. Melalui cerita tersebut, anak-anak Sanggar Edukasi didorong untuk berani bermimpi, terus belajar, serta memanfaatkan teknologi secara positif sebagai bekal menghadapi masa depan.

Sanggar Edukasi Purbalingga merupakan ruang belajar gratis yang didirikan oleh Sherly sebagai bentuk kepeduliannya melihat masih banyak anak usia sekolah dasar yang belum menguasai kemampuan dasar, seperti membaca, menulis, dan berhitung. Sanggar ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi anak-anak untuk mengembangkan karakter, kreativitas, dan keterampilan hidup melalui kegiatan yang diselenggarakan secara rutin setiap Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu.

Gambar 2. Foto Bersama Sanggar Edukasi dan Desamind Purbalingga

Menanggapi kolaborasi antara Desamind dengan Sanggar Edukasi, Sherly menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi anak-anak di sanggar.

“Bagi anak-anak kami, ini bukan sekadar kegiatan, tetapi pengalaman baru yang membuka cara pandang mereka tentang belajar  dan arti terus semangat,” ujar Sherly.

Sementara itu, Indri Wahyu N, Guru Sanggar Edukasi, menilai Desamind membawa semangat baru bagi anak-anak untuk terus belajar dan mengeksplorasi hal-hal baru.

“Kehadiran teman-teman Desamind memberikan energi baru bagi anak-anak. Mereka pulang dengan rasa ingin tahu yang jauh lebih besar setelah dikenalkan berbagai teknologi,” tutur Indri.

Selain melaksanakan kegiatan Lilin Inspirasi, Desamind Indonesia, Desamind Chapter Purbalingga, dan Sanggar Edukasi Purbalingga juga berdiskusi untuk mengidentifikasi berbagai peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan pada masa mendatang. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan guna memperluas akses pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di lingkungan Karang Petir, Purbalingga.

Author: Ahmad Zamzami

Monitoring dan Evaluasi II Beasiswa Desamind 5.0: Mengawal Inovasi Menjadi Solusi Berkelanjutan bagi Desa

By Beasiswa Desamind, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta, –  Desamind Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak pemimpin muda yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui penyelenggaraan Monitoring dan Evaluasi (Monev) II Beasiswa Desamind 5.0 pada Sabtu (25/7). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus pembelajaran bagi para awardee dalam mengembangkan proyek pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Monev merupakan bagian penting dari proses pendampingan Program Beasiswa Desamind. Tidak hanya menjadi sarana untuk menilai capaian program, kegiatan ini juga menjadi forum refleksi bagi para penerima beasiswa untuk mengidentifikasi tantangan, menyusun strategi perbaikan, serta memperkuat keberlanjutan program yang tengah dijalankan bersama masyarakat.

President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, menegaskan bahwa program Beasiswa Desamind dirancang bukan sekadar memberikan dukungan pendanaan kepada mahasiswa, tetapi juga membangun ekosistem kepemimpinan sosial yang mampu melahirkan agen perubahan di desa.

“Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu menciptakan perubahan yang dirasakan masyarakat serta dapat terus berjalan setelah program berakhir. Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi ruang belajar bagi setiap awardee untuk terus menyempurnakan program yang mereka jalankan,” ujar Hardika.

Sesi monev dipandu oleh moderator dengan menghadirkan tiga panelis dari berbagai bidang keahlian, yaitu Ahmad Zamzami selaku Vice Director of Public Relations Division Desamind, Mohammad Rifli Mubarak selaku Climate & Sustainability Researcher ECADIN, serta Anggun S. Rahmi selaku Associate Scholarship Division Desamind. Ketiganya memberikan evaluasi secara komprehensif terhadap perkembangan masing-masing program berdasarkan kesesuaian antara perencanaan dan implementasi, keterlibatan masyarakat, efektivitas penggunaan sumber daya, inovasi, potensi keberlanjutan, hingga peluang pengembangan jejaring kemitraan.

Gambar 1. Sesi Tanggapan Program oleh Para Panelis

Mohammad Rifli Mubarak menilai bahwa berbagai program yang dipresentasikan telah menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membaca persoalan lokal dan menerjemahkannya menjadi solusi yang relevan. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut dapat terus berkembang bersama masyarakat.

“Seluruh program yang dipresentasikan memiliki potensi untuk memberikan dampak yang nyata karena berangkat dari kebutuhan masyarakat. Ke depan, yang perlu diperkuat adalah strategi keberlanjutan, pengukuran dampak, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar manfaat program tidak berhenti ketika masa beasiswa selesai,” jelas Rifli.

Pada sesi presentasi, para awardee memaparkan berbagai inovasi yang telah diimplementasikan di desa dampingan. Beragam program tersebut menunjukkan bagaimana generasi muda mampu menghadirkan solusi atas persoalan lokal melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan potensi desa, serta inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan.

Aprila Kusuma Dewi mempresentasikan PEPAYA CHIPSY, sebuah program pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan pepaya menjadi keripik di Desa Bumirejo, Kabupaten Kulon Progo. Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui pelatihan produksi, pengemasan, dan pemasaran produk.

Di bidang pendidikan, Wawan Sulaeman menghadirkan Sekolah Nusantara, sebuah program edukasi kesehatan reproduksi dan perlindungan anak di MI Al-Bahja, Kabupaten Subang. Program ini mengedukasi anak-anak mengenai perlindungan diri, batasan tubuh, dan pencegahan kekerasan seksual melalui pendekatan yang komunikatif dan sesuai dengan usia peserta didik.

Sementara itu, Bayu Hardito mengembangkan MAGGOVATE (Maggot Innovation for Sustainable Village) di Desa Bringkang sebagai solusi pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. Program tersebut memanfaatkan limbah organik sebagai media budidaya maggot untuk pakan ikan serta mulai mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) guna mendukung proses monitoring budidaya.

Inovasi lain dipresentasikan oleh Ruhillah Khadijah El Basri melalui program Duck Value Enhancement, yang berfokus pada peningkatan nilai ekonomi telur bebek melalui inovasi produk aneka rasa, pengemasan yang lebih menarik, serta penguatan strategi pemasaran produk lokal di Desa Prasung.

Adapun Anisatul Himmah mengembangkan Sentra TOGA Kalibaru Kulon, sebuah program yang mengoptimalkan pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai sarana edukasi kesehatan sekaligus mendorong lahirnya peluang usaha berbasis produk herbal bagi masyarakat.

Selama proses monitoring, para panelis memberikan berbagai rekomendasi untuk memperkuat kualitas program, mulai dari penyusunan indikator keberhasilan yang lebih terukur, peningkatan partisipasi masyarakat, penguatan strategi keberlanjutan pasca program, hingga perluasan jejaring kolaborasi dengan pemerintah desa, perguruan tinggi, UMKM, dan sektor swasta. Peserta juga didorong untuk memperkuat dokumentasi, publikasi, serta pengukuran dampak sosial sebagai bentuk akuntabilitas pelaksanaan program.

Diskusi berlangsung interaktif dan konstruktif. Selain memperoleh masukan dari panelis, para awardee juga saling berbagi pengalaman mengenai strategi pelaksanaan program di lapangan. Proses ini menjadikan monitoring dan evaluasi sebagai ruang belajar bersama yang memperkaya perspektif sekaligus memperkuat kualitas implementasi program di masing-masing daerah.

Gambar 2. Foto Bersama Sesi Graduation

Melalui Monev II Beasiswa Desamind 5.0, Desamind Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mendampingi mahasiswa menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di desa. Pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada pemberian bantuan pendanaan, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas kepemimpinan, inovasi sosial, manajemen program, dan strategi keberlanjutan agar setiap inisiatif yang lahir mampu terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Beragam inovasi yang dipresentasikan dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan solusi yang kontekstual sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui proses pendampingan yang berkelanjutan, Desamind juga berharap setiap program tidak hanya memberikan manfaat selama masa implementasi, tetapi juga mampu tumbuh menjadi model pemberdayaan masyarakat yang adaptif, berkelanjutan, dan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

Author: Kiki Irafa Candra

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Hadirkan Roikhanatun Nafi’ah,  Inovator Dunia di Bootcamp Junior Rural Development Specialist Batch 2

By Artikel, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta – Semangat membangun desa yang berkelanjutan kembali digaungkan dalam Bootcamp Junior Rural Development Specialist Batch 2 yang diselenggarakan oleh Sekolah Local Heroes – Desamind. Pada sesi yang berlangsung Minggu (12/7), para peserta memperoleh kesempatan istimewa untuk belajar langsung dari Roikhanatun Nafi’ah, pendiri sekaligus CEO Crustea yang baru saja mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional setelah terpilih sebagai salah satu inovator dalam World Bank Group Youth Summit 2026 di Washington, D.C.

Keikutsertaan Roikhanatun Nafi’ah dalam forum bergengsi yang mempertemukan inovator muda dari lebih dari 170 negara menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita semua. Tidak hanya berhasil memperkenalkan teknologi akuakultur berbasis Artificial Intelligence of Things (AIoT) yang dikembangkan Crustea, ia juga menerima Early Ventures Award sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam mendorong akuakultur berkelanjutan dan pemberdayaan petambak skala kecil di Indonesia.

Gambar 1. Roikhanatun Nafi’ah saat Menerima Penghargaan sebagai Inovator dalam World Bank Group Youth Summit 2026 di Washington, D.C.

Roikhanatun Nafi’ah hadir sebagai narasumber dalam Bootcamp Junior Rural Development Specialist Batch 2 dengan membawakan materi “Building Sustainable Impact: How Changemakers Create Solutions that Last.” Kehadirannya memberikan perspektif global sekaligus pengalaman nyata kepada para peserta mengenai bagaimana sebuah inovasi lokal dapat berkembang hingga diakui dunia.

“Saya percaya bahwa dampak yang besar tidak selalu dimulai dari sumber daya yang besar. Dampak dimulai dari keberanian memahami masalah secara mendalam, membangun solusi bersama masyarakat, dan terus beradaptasi hingga solusi tersebut benar-benar menjadi milik komunitas,” ujar Nafi’ah.

Bagi Nafi’ah, seorang changemaker tidak cukup hanya memiliki ide yang baik. Solusi yang dibangun harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, memberikan manfaat dalam jangka panjang, serta tetap berjalan meskipun inisiatornya tidak lagi berada di lapangan. Menurutnya, keberlanjutan merupakan ukuran utama keberhasilan sebuah program sosial.

Gambar 2. Sesi Pemaparan Materi Building Sustainable Impact: How Changemakers Create Solutions that Last.

Ia juga menjelaskan bahwa membangun dampak berkelanjutan diawali dengan memahami akar permasalahan melalui proses observasi, riset lapangan, dan mendengarkan langsung kebutuhan masyarakat. Setelah itu, solusi perlu dirancang secara kolaboratif sehingga masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat, melainkan menjadi pemilik sekaligus penggerak utama perubahan.

Lebih lanjut,Nafi’ah membagikan pengalaman Crustea dalam mengembangkan teknologi Eco-Aerator bertenaga surya, panel surya, dan sistem pemantauan kualitas air berbasis AIoT yang mampu memonitor kondisi tambak secara real-time, mengatur kadar oksigen secara otomatis, sekaligus menekan biaya energi bagi petambak udang. 

Diskusi berlangsung interaktif ketika para peserta menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi di daerah masing-masing. Salah satu peserta, Miskiyanto, yang dikenal sebagai petani milenial asal Situbondo dengan inovasi budidaya pekarangan, mengajukan pertanyaan mengenai strategi menjaga keberlanjutan program, membangun kolaborasi lintas sektor, serta menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

Menanggapi hal tersebut, Nafi’ah menegaskan bahwa keberlanjutan tidak dapat dibangun seorang diri.

“Program yang berkelanjutan harus memiliki ownership dari masyarakat. Ketika semua merasa memiliki, maka program akan tetap berjalan meskipun pendamping sudah selesai bertugas,” pungkasnya.

Author: Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Lantik 179 Perangkat Chapter Periode 2026/2027, Perkuat Peran Pemuda Membangun Desa

By Desamind Chapter, Press Release

Surakarta – Desamind Indonesia resmi melantik 179 Perangkat Desamind Chapter Periode 2026/2027 pada Minggu (5/7) secara daring melalui Zoom Meeting. Pelantikan ini menjadi tonggak awal penguatan gerakan kepemudaan Desamind sekaligus menandai dimulainya rangkaian Bootcamp Junior Rural Development Specialist (JRDS) by Sekolah Local Hero Indonesia Batch 2, sebuah program pengembangan kapasitas yang dirancang untuk membekali para perangkat chapter dengan kompetensi kepemimpinan, pengelolaan organisasi, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Sebanyak 179 perangkat yang dilantik berasal dari sepuluh Desamind Chapter, yakni Bogor, Majalengka, Garut, Cilacap, Soloraya, Magelang, Purbalingga, Gunungkidul, Pasuruan, dan Lombok Timur. Pada kesempatan yang sama, Desamind Indonesia juga meresmikan Desamind Chapter Garut dan Desamind Chapter Cilacap sebagai dua chapter baru hasil proses Open Recruitment Inisiasi Desamind Chapter 2026. Penambahan dua chapter tersebut menjadi bukti bahwa gerakan Desamind terus berkembang dan menjangkau semakin banyak daerah di Indonesia.

Rangkaian kegiatan dipandu oleh Yenni Riza selaku master of ceremony dan diawali dengan sambutan dari Zakky Muhammad Noor, Managing Director Desamind Indonesia. Dalam sambutannya, Zakky menegaskan bahwa kepengurusan chapter bukan sekadar menjalankan roda organisasi, tetapi menjadi ruang pembelajaran bagi anak muda untuk menciptakan perubahan yang berdampak bagi masyarakat.

Chapter bukan sekadar organisasi, tetapi ruang bagi anak muda untuk menghadirkan solusi nyata bagi desa. Setiap program yang dijalankan harus lahir dari kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak yang berkelanjutan,” ujar Zakky.

Usai pembukaan, peserta mengikuti sesi penguatan kapasitas bersama Hardika Dwi Hermawan, President Director Desamind Indonesia, yang menyampaikan materi “Global Trends and Local Challenges: Membaca Masa Depan Desaserta “Youth as Catalysts: Pemuda Penggerak Perubahan Desa”. Melalui kedua materi tersebut, peserta diajak memahami dinamika perubahan global yang memengaruhi pembangunan desa, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan iklim, hingga tantangan sosial-ekonomi. Di sisi lain, Hardika menekankan pentingnya peran pemuda sebagai penggerak inovasi yang mampu menghadirkan solusi berbasis potensi lokal.

“Desa membutuhkan pemuda yang tidak hanya memiliki kepedulian, tetapi juga mampu membaca perubahan, membangun kolaborasi, dan menciptakan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tutur Hardika.

Prosesi pelantikan kemudian diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Pembukaan Desamind Chapter Garut dan Desamind Chapter Cilacap, dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan Pengangkatan Perangkat Desamind Chapter Periode 2026/2027 oleh Hardika Dwi Hermawan.

Momen sakral pelantikan dilanjutkan dengan pembacaan ikrar yang dipandu oleh Abdul Aziez dari Chapter Division Desamind Indonesia. Ikrar diwakili oleh Salma, Kepala Desamind Chapter Soloraya, dan Bahtiar, Wakil Kepala Desamind Chapter Pasuruan. Seluruh perangkat chapter mengikuti ikrar secara serentak sebagai bentuk komitmen untuk menjalankan amanah organisasi, menjunjung tinggi nilai-nilai Desamind, serta mengabdikan diri melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat desa.

Gambar 1. Materi “Logical Framework Approach (LFA) dalam Community Empowerment” dan “Strategic Excellence: PDCA Journey” oleh Dwi Pamuji Ismoyo

Sebagai bagian dari rangkaian bootcamp, peserta juga memperoleh pembekalan teknis dari Dwi Pamuji Ismoyo melalui materi “Logical Framework Approach (LFA) dalam Community Empowerment” dan “Strategic Excellence: PDCA Journey”. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan dengan pendekatan sistematis dalam merancang program pemberdayaan masyarakat, mulai dari penyusunan tujuan, identifikasi indikator keberhasilan, pengelolaan risiko, hingga proses monitoring dan evaluasi. Selain itu, peserta juga diajak memahami siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) sebagai metode untuk memastikan setiap program dapat terus diperbaiki dan memberikan dampak yang berkelanjutan.

Pelantikan ini menjadi langkah awal bagi Perangkat Desamind Chapter Periode 2026/2027 dalam mengemban amanah selama satu tahun ke depan. Dengan bertambahnya dua chapter baru, Desamind Indonesia semakin memperluas ruang kolaborasi bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pembangunan desa.

Author: Abdul Aziez

Editor: Ahmad Zamzami

Cetak 108 Local Heroes, Desamind Indonesia Sukses Gelar Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist

By Berita Terkini, Press Release

Surakarta, 20 Juni 2026 – Di tengah berbagai tantangan pembangunan desa yang semakin kompleks, mulai dari isu lingkungan, ketimpangan sosial, hingga transformasi digital. Oleh karena itu, kebutuhan akan hadirnya generasi muda yang mampu menjadi penggerak perubahan semakin mendesak. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Sekolah Local Heroes by Desamind Indonesia sukses menyelenggarakan program “Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist”. Pelatihan intensif ini dirancang untuk mencetak calon pemimpin muda dan praktisi pemberdayaan masyarakat desa yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi desa-desa di Indonesia.

Program ini menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium sosial bagi para mahasiswa, pemuda, aktivis, pegiat desa, dan siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan masyarakat. Tidak sekadar menawarkan teori, Bootcamp Sekolah Local Heroes Desamind 2026 ini mengajak peserta memahami persoalan desa secara langsung, memetakan potensi lokal, serta merancang program pemberdayaan yang berorientasi pada dampak jangka panjang dan keberlanjutan.

Mengusung pendekatan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), program ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan strategis yang dibutuhkan untuk menjadi agen perubahan di komunitasnya masing-masing. Melalui pembelajaran yang aplikatif ini, peserta diajak melihat desa bukan sebagai wilayah yang tertinggal. Sebaliknya, desa dilihat sebagai ruang tumbuh bagi berbagai inovasi sosial desa yang mampu menjawab tantangan masa depan.

“Pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur. Yang jauh lebih penting adalah membangun kapasitas manusianya. Ketika generasi muda memiliki kapasitas, kepedulian, dan kemampuan untuk mengorganisasi masyarakat, maka perubahan yang berkelanjutan akan lebih mudah diwujudkan,” ungkap Hardika Dwi Hermawan selaku President Director dalam sambutannya.

Belajar dari Praktik dan Capaian Luar Biasa Peserta

Kurikulum dalam Bootcamp Sekolah Local Heroes Desamind 2026 dirancang dengan orientasi penuh pada kebutuhan nyata di lapangan. Peserta mempelajari berbagai aspek penting dalam pemberdayaan masyarakat desa, mulai dari pemahaman tentang SDGs Desa, tantangan pembangunan berkelanjutan, kepemimpinan pemuda, gerakan komunitas. Selain itu, mereka belajar teknik penelitian sosial serta praktik social mapping sebagai dasar penyusunan program yang tepat sasaran.

Selanjutnya, peserta mendapatkan pembekalan intensif terkait perencanaan program sosial desa. Mereka juga dibekali strategi kampanye digital dan pemanfaatan digital tools. Di samping itu, terdapat materi teknik monitoring, evaluasi, dan pengukuran dampak program. Seluruh proses pembelajaran ini ditutup dengan penyusunan final project. Kemudian, hasilnya dipresentasikan di hadapan mentor dan praktisi.

Melalui pendekatan dari seluruh rangkaian tersebut, pelatihan ini berhasil meluluskan 108 peserta dari berbagai daerah, sebanyak 95% peserta dinyatakan Lulus dengan predikat Sangat Baik, sebuah angka yang membuktikan komitmen tinggi dari para calon spesialis pemberdayaan masyarakat ini.

Apresiasi Peserta dan Proyek Sosial Terbaik 2026

Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi selama program, panitia penyelenggara Bootcamp Sekolah Local Heroes mengumumkan nama-nama peserta serta inovasi sosial desa terbaik dalam angkatan ini:

  • Peserta Terbaik 1: Andhika Januardyh (Kota Tarakan, Kalimantan Utara)
  • Peserta Terbaik 2: Marco Timothy Manurip (Surabaya, Jawa Timur)
  • Proyek Sosial Terbaik 1: Muhammad Fajar Firdaus – Handil Bakti Eco-Digital Village (Handil Bakti, Kalimantan Selatan)
  • Proyek Sosial Terbaik 2: Anak Agung Istri Agung Adnyani – Desa Mandiri Pangan (Kelurahan Bitera, Provinsi Bali)

Membangun Jejaring Penggerak Desa dan Ekosistem Kolaboratif

Salah satu nilai tambah dari Bootcamp Sekolah Local Heroes ini adalah kesempatan untuk membangun jejaring lintas daerah di Indonesia. Melalui diskusi kelompok, studi kasus, dan refleksi mendalam, para peserta berhasil membentuk ekosistem kolaboratif yang kuat untuk mendukung aksi sosial mereka di masa depan. 

Di era digital yang terintegrasi, keberhasilan pembangunan masyarakat tidak lagi ditentukan oleh kerja individu, melainkan oleh kekuatan sinergi multitaraf. Oleh karena itu, bootcamp ini tidak hanya fokus pada pengembangan kompetensi personal, melainkan juga pada pembentukan komunitas pembelajar (community of practice) yang saling menguatkan antar-wilayah.

Metode Pelaksanaan yang Fleksibel dan Didukung Mitra Strategis

Program ini sukses dilaksanakan secara daring menggunakan kombinasi metode synchronous dan asynchronous learning melalui platform Zoom dan Learning Management System (LMS) Sekolah Local Heroes. Fleksibilitas ini memungkinkan para pemuda dari pelosok negeri untuk tetap berpartisipasi aktif tanpa mengorbankan aktivitas utama mereka.

Kesuksesan agenda besar ini tidak lepas dari dukungan penuh para mitra strategis yang memiliki komitmen serupa terhadap pembangunan SDM Indonesia, antara lain Danantara Indonesia, Pertamina Foundation, Desamind Research and Training Center, serta Gress Tropika Fruitindo.

Menyiapkan Local Heroes untuk Indonesia Masa Depan

Lebih dari sekadar pelatihan biasa, program ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan kepemimpinan sosial Indonesia. Desa membutuhkan lebih banyak tangan-tangan terampil yang mampu membaca persoalan secara kritis, mengorganisasi potensi lokal, serta menghadirkan solusi yang berdampak luas.

Melalui rilisnya angkatan baru ini, Desamind Indonesia berharap para alumni dapat menjadi Local Heroes sejati di daerahnya masing-masing — menghubungkan teori akademik dengan aksi nyata di lapangan, serta mentransformasikan pembangunan desa menjadi gerakan kolektif menuju Indonesia yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.

Karena setiap perubahan besar selalu dimulai dari komunitas yang bergerak. Dan komunitas yang bergerak, selalu dimulai dari satu orang yang berani mengambil langkah pertama.

Penulis: Kiki Irafa

Editor: Yesi Rahma Mustika

 

Universitas Indonesia dan Desamind Indonesia Kerjasama Perkuat Kapasitas Diaspora Indonesia di Selandia Baru melalui Program INTEGRA

By Artikel, Berita Terkini, Press Release

Auckland, Selandia Baru –  (23-27/05) Komitmen Desamind Indonesia dalam membangun jejaring pemuda dan komunitas Indonesia di tingkat global kembali diwujudkan melalui keterlibatannya dalam Program INTEGRA (Integrated Improvement of Digital Marketing Strategy, Food Safety Awareness, and Occupational Health and Safety System) yang diinisiasi oleh Universitas Indonesia.

Program yang dilaksanakan di Auckland, Selandia Baru, ini melibatkan 15 pekerja diaspora Indonesia yang bekerja di Mill Bakery dan K-Chicken, unit usaha yang berada di bawah naungan Fabulous Work Group. Kegiatan bertujuan memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui pendekatan terintegrasi yang menggabungkan pengembangan pemasaran digital, keamanan pangan, serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Sebagai mitra strategis dalam program tersebut, Desamind Indonesia turut berperan dalam menjembatani kolaborasi antara dunia akademik, pelaku usaha diaspora, dan komunitas Indonesia di luar negeri. Keterlibatan ini sejalan dengan visi Desamind untuk menghadirkan generasi muda Indonesia yang memiliki kompetensi global sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, hadir langsung di Auckland untuk mengikuti rangkaian kegiatan, berdiskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta memperkuat peluang kolaborasi internasional yang dapat memberikan manfaat bagi komunitas diaspora Indonesia.

“Diaspora Indonesia memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dan penggerak ekonomi di berbagai negara. Melalui kolaborasi seperti INTEGRA, kami ingin memastikan bahwa mereka mendapatkan akses terhadap pengetahuan, keterampilan, dan jejaring yang dapat mendukung pertumbuhan usaha maupun pengembangan komunitas secara berkelanjutan,” ujar Hardika.

Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh berbagai materi terkait strategi pemasaran digital dan pemanfaatan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar, penerapan standar keamanan pangan berbasis Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), hingga penguatan budaya keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan usaha.

Gambar 1. Kolaborasi Tim INTEGRA dengan Mill Bakery dan K-Chicken

Program ini hadir sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi usaha kecil dan menengah di sektor pangan, mulai dari transformasi digital, meningkatnya ekspektasi konsumen terhadap kualitas produk, hingga pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Melalui sesi diskusi, studi kasus, serta praktik langsung, peserta didorong untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam aktivitas operasional sehari-hari.

Salah satu capaian utama kegiatan ini adalah penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) Keamanan Pangan dan Food Safety Checklist yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional Mill Bakery. Dokumen tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas produksi, menjaga konsistensi layanan, serta memperkuat kepercayaan pelanggan.

Program INTEGRA juga menjadi ruang kolaborasi internasional yang melibatkan akademisi dan mahasiswa Indonesia di University of Auckland. Pertukaran pengetahuan yang terjadi selama kegiatan menunjukkan bahwa pengembangan komunitas tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis, melainkan dapat dilakukan melalui jejaring kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak dengan latar belakang yang beragam.

Gambar 2. Sesi Kunjungan Langsung ke Mill Bakery

Bagi Desamind Indonesia, keterlibatan dalam program ini merupakan bagian dari upaya memperluas dampak organisasi di tingkat global. Tidak hanya berfokus pada pembangunan desa dan pengembangan pemuda di Indonesia, Desamind juga terus mendorong terciptanya ruang kolaborasi yang mempertemukan pengetahuan, inovasi, dan praktik baik dari berbagai negara untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Melalui kemitraan dengan Universitas Indonesia dan Fabulous Work Group, Desamind percaya bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan pondasi penting dalam membangun bisnis yang berdaya saing, komunitas yang tangguh, serta ekosistem pembangunan yang berkelanjutan.

Ke depan, hasil pembelajaran dari program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi berbagai inisiatif pengembangan komunitas lainnya, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional. Dengan menghubungkan keahlian akademik, pengalaman praktis dunia usaha, dan semangat kolaborasi komunitas, program seperti INTEGRA menunjukkan bahwa perubahan yang berdampak dapat lahir dari kerja sama lintas sektor dan lintas negara.

Selamat! 108 Peserta dari Berbagai Daerah Indonesia Berkesempatan Ikuti Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist

By Pengumuman, Press Release

Surakarta — (27/05) Sebanyak 108 peserta dari berbagai daerah, institusi, komunitas, organisasi, perguruan tinggi, hingga sektor profesional di Indonesia resmi terpilih untuk mengikuti Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist yang akan dilaksanakan secara daring pada 31 Mei–14 Juni 2026. Program ini merupakan pelatihan intensif berbasis Rural Community Empowerment Project dan inovasi sosial yang diselenggarakan oleh Sekolah Local Heroes Desamind Indonesia sebagai bagian dari Laboratorium Sosial Penggerak Desa Batch 2 yang didukung oleh Pertamina Foundation.

Bootcamp ini dirancang sebagai ruang pembelajaran kolaboratif bagi generasi muda, penggerak komunitas, mahasiswa, serta aktor pembangunan masyarakat untuk memperkuat kapasitas dalam menghadirkan solusi sosial yang kreatif, terukur, dan berkelanjutan bagi desa dan komunitas. Melalui pendekatan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), design thinking, social innovation, community research and mapping, hingga pengembangan proyek sosial berkelanjutan, peserta akan dibekali kemampuan untuk memahami persoalan masyarakat sekaligus merancang program yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Tingginya antusiasme peserta dari berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan meningkatnya perhatian generasi muda terhadap isu pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat. Para peserta yang lolos berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari mahasiswa, pegiat sosial, organisasi kepemudaan, komunitas desa, relawan, hingga profesional dari berbagai lembaga dan perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan berkelanjutan.

Selama pelaksanaan bootcamp, peserta akan mengikuti serangkaian materi dan pendampingan yang mencakup:

  1. SDGs Desa dan Tantangan Pembangunan Berkelanjutan
  2. Youth Leadership and Community Movement
  3. Community Research & Social Mapping
  4. Perencanaan Program dan Proyek Sosial Desa
  5. Digital Tools & Social Campaign
  6. Monitoring, Evaluation, and Impact Measurement
  7. Final Project & Pitching Session.

Setelah pengumuman ini, seluruh peserta akan melaksanakan pertemuan pertama pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 15.30–17.30 WIB secara daring melalui Zoom Meeting. Pertemuan perdana tersebut akan menjadi ruang pengenalan program sekaligus pembelajaran awal mengenai SDGs Desa dan kepemimpinan pemuda dalam pembangunan masyarakat berkelanjutan.

Desamind Indonesia Dorong Dampak Nyata Akar Rumput Lewat Forum Internasional Para Peneliti di The University of Queensland

By Berita Terkini, Press Release

Queensland, Australia – (23/05) Hardika Dwi Hermawan, President Director Desamind Indonesia menjadi pembicara dalam forum diskusi bertajuk “From Global Insight to Local Impact: Bridging Knowledge with Grassroots Realities in Indonesia” yang diselenggarakan di The University of Queensland, Australia.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kopikir Indonesia sebagai Think Thank Indonesian Scholar di Queensland yang bekerja sama dengan UQ Indonesian Student Association dan dihadiri oleh beragam scholars Indonesia dari berbagai kampus di Queensland. Forum tersebut menjadi ruang diskusi reflektif mengenai bagaimana wawasan global dapat diterjemahkan menjadi dampak nyata bagi masyarakat Indonesia, khususnya di tingkat akar rumput.

Dalam sesi tersebut, Hardika menekankan bahwa akses terhadap pengetahuan global di luar negeri perlu diiringi dengan kesadaran akan konteks lokal Indonesia. Ia menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar bukan sekadar memperoleh wawasan internasional, tetapi bagaimana memastikan pengetahuan tersebut kembali dan memberi manfaat bagi masyarakat di desa, komunitas, dan wilayah yang sering kali tidak terjangkau inovasi.

Gambar 1. Penyampaian Diskusi oleh Hardika

Dalam perspektif Desamind Indonesia, hal ini menjadi sangat relevan dengan misi organisasi dalam memperkuat ekosistem pemberdayaan pemuda desa melalui pendekatan berbasis local heroes. Hardika menjelaskan bahwa Desamind hadir untuk menjembatani kesenjangan antara gagasan dan realitas lapangan dengan mendorong anak muda agar tidak hanya memahami teori, tetapi juga turun langsung membangun solusi di komunitasnya.

Melalui berbagai program seperti pengembangan kapasitas pemuda desa, literasi digital, pendampingan komunitas, hingga inisiatif sosial berbasis kebutuhan lokal, Desamind Indonesia berupaya memastikan bahwa transformasi pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik. Sebaliknya, pengetahuan tersebut harus menjadi alat perubahan yang hidup di tengah masyarakat.

“Desamind percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari pusat, tetapi bisa tumbuh dari desa. Ketika pemuda diberi ruang, akses, dan kepercayaan, mereka mampu menjadi penggerak utama perubahan sosial di lingkungannya,” ungkap Hardika.

Lebih lanjut, melalui pertemuan ini Desamind Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjadi jembatan antara pengetahuan global dan realitas lokal, serta memperkuat peran pemuda desa sebagai aktor utama perubahan sosial yang berkelanjutan.

Diskusi berlangsung dengan sangat dinamis dan penuh antusiasme. Para peserta yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu membahas peran lintas bidang dalam menjawab tantangan sosial di Indonesia. Mulai dari pendidikan, teknologi, kesehatan, hingga pembangunan komunitas, seluruh perspektif dipadukan dalam semangat kolaborasi multidisiplin.

Gambar 2. Foto Bersama Scholars Indonesia di Queensland

Forum ini juga memperkuat pandangan bahwa dampak sosial yang berkelanjutan hanya dapat tercapai melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi, komunitas, dan gerakan sosial seperti Desamind Indonesia. Pendekatan ini selaras dengan semangat collective impact, di mana perubahan besar lahir dari kerja bersama berbagai pihak yang memiliki tujuan yang sama.

Ketua Kopikir Indonesia, Hardo, turut menyampaikan apresiasi atas kontribusi Hardika dan Desamind Indonesia dalam forum tersebut. Ia menyampaikan terima kasih atas perspektif yang dibagikan dan menilai diskusi ini membuka ruang refleksi penting bagi para scholars Indonesia di luar negeri.

“Terima kasih sudah berbagi bersama teman-teman di sini. Diskusi ini sangat memperkaya perspektif kami, terutama dalam melihat bagaimana pengetahuan global dapat benar-benar kembali memberi dampak bagi masyarakat di Indonesia,” ujar Hardo.

Desamind Indonesia Gelar FGD Penyempurnaan Kurikulum Beasiswa Berbasis DACUM

By Beasiswa Desamind, Press Release

Surakarta — Desamind Indonesia menggelar rangkaian Focus Group Discussion (FGD) penyempurnaan Kurikulum Beasiswa Desamind pada Minggu (15/3) dan Sabtu (2/5) sebagai upaya memperkuat sistem pembinaan sekaligus meningkatkan dampak program bagi masyarakat desa. Kegiatan ini melibatkan pihak internal serta panelis eksternal dari kalangan praktisi pemberdayaan masyarakat dan pengelola program beasiswa.

Rangkaian FGD tersebut merupakan bagian dari evaluasi program beasiswa berbasis proyek sosial yang telah dijalankan Desamind selama lima tahun terakhir. Dalam proses penyusunannya, Desamind menggunakan metode Developing A Curriculum (DACUM), yakni pendekatan pengembangan kurikulum yang berorientasi pada praktik nyata dan kebutuhan lapangan.

FGD pertama diselenggarakan pada Minggu (15/3) dengan melibatkan pengurus, alumni beasiswa, mentor, dan penerima Beasiswa Desamind. Pada tahap ini, peserta bersama-sama mengidentifikasi berbagai aktivitas utama yang dilakukan penggerak perubahan di desa dalam menjalankan program sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Diskusi difokuskan pada identifikasi tanggung jawab, proses kerja, serta aktivitas utama penggerak desa. Melalui pendekatan DACUM, FGD pertama menghasilkan pemetaan kompetensi berupa enam duty dan 23 task yang menggambarkan peran Desamind Social Impact Leader dalam praktik pengembangan masyarakat desa.

Sebagai tahap lanjutan, Desamind Indonesia kemudian menyelenggarakan FGD kedua pada Sabtu (2/5) untuk memvalidasi, menyempurnakan, dan memperkuat draft DACUM Chart yang telah dihasilkan pada tahap sebelumnya.

FGD kedua menghadirkan sejumlah panelis eksternal, yaitu Iqbal Nurpriyanto, Sekretaris Desa Tunjungsari, Pekalongan; Aulia Pradipta, Founder Creafo ID; Intan Nisaaul Chusna dari Pertamina Foundation; serta Hanif M. Ibrahim, Founder Bumi Scholar.

Gambar 1. Analisis Desamind Social Impact Leader dalam Praktik Pengembangan Masyarakat Desa.

Melalui forum ini, para panelis memberikan masukan terkait relevansi duty dan task dengan kondisi lapangan, kelayakan implementasi bagi awardee, serta penguatan metode dan kompetensi yang dibutuhkan dalam pengembangan masyarakat desa.

Hardika Dwi Hermawan, Founder serta President Director Desamind Indonesia, menyampaikan bahwa pembaruan kurikulum dilakukan untuk memastikan program beasiswa tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan desa saat ini.

“Desamind sudah lima tahun memberikan beasiswa berbasis proyek sosial. Saat ini kami sedang mengevaluasi kurikulum beasiswa kami, apakah masih relevan atau perlu perbaikan,” ujarnya.

Menurut Hardika, penggunaan metode DACUM bertujuan agar kurikulum yang disusun lebih terstruktur, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dengan demikian, program beasiswa tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga membentuk awardee menjadi local hero dan local champion di desa masing-masing.

Sementara itu, Hanif M. Ibrahim turut mengapresiasi konsistensi Desamind dalam membina generasi muda yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa.

“Pemberdayaan masyarakat itu hal yang seru, unik, tetapi penuh tantangan. Kehadiran Desamind menjadi katalisator perubahan di desa, sehingga saya sangat mengapresiasi konsistensi Desamind dalam menjaga dan mengembangkan para local heroes untuk memberikan kebermanfaatan dan dampak bagi masyarakat desa,” pingkas Hanif.

Author: Astriyanti

Editor: Ahmad Zamzami