Skip to main content

Sejenak Pulang ke Alam bersama Desamind Farm: Pengalaman Agroeduwisata di Bumi Sawala, Bodogol Kampung Hoya

By Artikel, Desamind Farm

Akhir pekan kemarin (Sabtu–Minggu, 10–11 Januari 2026), saya memilih untuk menepi sejenak dari ritme Jakarta yang nyaris tak pernah melambat. Bersama rekan-rekan Desamind, saya mengikuti rangkaian Soft Launching Agrowisata Bumi Sawala, sebuah ruang belajar hidup yang tumbuh di Bodogol Kampung Hoya.

Perjalanan dimulai dari ibu kota dengan menaiki KRL menuju Stasiun Bogor. Gerbong penuh penumpang, namun suasananya terasa lebih ringan, seperti pertanda bahwa hari-hari sibuk akan segera berganti dengan ruang yang lebih tenang. Dari Bogor, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan melewati Tol Ciawi. Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang, berganti bukit hijau, sawah, dan udara yang semakin sejuk. Sekitar satu hingga satu setengah jam kemudian, kami tiba di Bodogol Kampung Hoya, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Kami menginap di sebuah vila sederhana dan asri yang dikelilingi pegunungan. Hujan yang turun di malam hari justru menambah rasa teduh. Tidak ada klakson, tidak ada notifikasi yang mendesak. Hanya suara alam dan jeda, sesuatu yang jarang saya temui di kota.

Keesokan paginya, agenda utama menanti: berkunjung ke Bumi Sawala, sebuah kawasan agrowisata yang lahir dari inisiatif Desamind Farm bersama pemuda Desa Benda. Sekitar pukul delapan pagi, para pengelola menjemput kami. Kabut masih menggantung, udara dingin terasa segar. Sebelum memulai kegiatan, kami diberi pengarahan singkat dan disambut dengan penuh kehangatan.

Perjalanan menuju lokasi ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri permukiman warga. Sepanjang jalan, satu hal langsung terasa: seluruh pengelola Bumi Sawala adalah pemuda asli desa ini. Mereka menyapa dengan ramah, memandu dengan percaya diri, dan tampak sangat memahami setiap sudut kampungnya. Dari cerita-cerita ringan yang mereka bagikan, kami mengetahui bahwa tempat ini tidak dibangun dalam semalam. Mereka memulai dari nol, belajar menyambut tamu, menjadi pemandu wisata, mengelola kegiatan, menyusun alur kunjungan, hingga memastikan setiap pengunjung pulang membawa pengalaman yang bermakna.

Setibanya di Bumi Sawala, kami disuguhi ubi dan jagung rebus hangat, ditemani wedang jahe yang aromanya langsung menghangatkan tubuh. Sederhana, tetapi penuh makna. Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan bersama para pemuda pengelola. Tidak ada jarak. Permainan kecil, tawa, dan obrolan ringan membuat suasana cepat mencair. Kami merasa tidak sedang mengikuti paket wisata, melainkan bertamu ke sebuah ruang belajar milik bersama.

Gambar 1 & 2. Kegiatan pengenalan dengan para pengelola Bumi Sawala

Kegiatan pertama membawa kami ke kandang ternak terintegrasi. Dengan penuh antusias, para pemuda menjelaskan bagaimana sistem peternakan dirancang agar bersih, efisien, dan ramah lingkungan. Kotoran ternak tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi pupuk kompos. Kami bahkan diajak mengambil kohe kering secara langsung. Pengalaman yang mungkin terasa asing bagi banyak orang kota, tetapi justru menjadi pelajaran paling nyata tentang siklus alam dan keberlanjutan.

Tak berhenti di situ, kami juga mencoba mencukur bulu domba. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama. Di balik aktivitas sederhana tersebut, terlihat bagaimana para pemuda desa dengan sabar membimbing, memastikan kami aman, dan tetap menikmati prosesnya. Peran mereka sebagai pemandu wisata benar-benar terasa, bukan karena mereka telah ahli sejak lama, melainkan karena mereka mau belajar dan tumbuh bersama.

Gambar 3 & 4. Kegiatan mencukur bulu domba dan memberi makan domba

Dari kandang, kami beralih ke Saung Kompos. Di sinilah proses pengolahan limbah menjadi pupuk ramah lingkungan dijelaskan secara rinci. Tidak hanya teori, kami diajak terlibat langsung. Saya melihat bagaimana para pemuda ini tidak hanya menguasai praktiknya, tetapi juga mampu menjelaskannya dengan bahasa sederhana kepada pengunjung, sebuah keterampilan yang jelas lahir dari proses belajar, mencoba, dan tidak takut salah.

Gambar 5 & 6. Kegiatan proses pembuatan pupuk kompos

Kami kemudian dikenalkan dengan tanaman Hoya, tanaman khas yang tumbuh subur di kawasan ini dan menjadi identitas Kampung Hoya. Para pengelola menjelaskan bahwa Hoya bukan sekadar tanaman hias, melainkan bagian dari kekayaan hayati lokal yang ingin terus mereka jaga. Kami diajak membuat kokedama sebagai media tanam, dan hasilnya boleh dibawa pulang. Bagi saya, kokedama ini bukan sekadar cinderamata, melainkan simbol pengalaman dan cerita yang saya bawa pulang.

Gambar 7. Hasil pembuatan Kokedama Tanaman Hoya

Menjelang siang, kami makan bersama di saung. Suasananya santai, tanpa agenda yang terburu-buru. Setelah itu, kami mengunjungi kebun tomat dan memetik langsung hasil panen. Hujan yang turun cukup deras memang membatasi beberapa agenda lanjutan, namun tidak mengurangi kesan yang sudah terbangun sejak pagi.

Gambar 8 & 9. Hasil memanen buah tomat di kebun Pak Tani

Perjalanan ke Bumi Sawala memberi saya perspektif baru tentang wisata. Di sini, wisata bukan hanya soal pemandangan atau foto estetik, tetapi tentang manusia, proses, dan keberanian untuk belajar. Para pemuda Desa Benda menunjukkan bahwa dengan semangat, kemauan belajar, dan kolaborasi, desa bisa menjadi ruang tumbuh, bukan hanya bagi warganya, tetapi juga bagi siapa pun yang datang berkunjung.

Bumi Sawala bukan sekadar destinasi pelarian dari kota. Ia adalah ruang belajar hidup, tempat alam, desa, dan semangat pemuda bertemu. Dan bagi saya, di sanalah letak daya tarik yang paling layak diapresiasi.

Author: Luthfia Octaviani

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Farm Gelar Soft Launching Bumi Sawala, Ruang Belajar Hidup Agroeduwisata

By Desamind Farm, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Sukabumi – Desamind Indonesia melalui unit pengembangan Desamind Farm menggelar Soft Launching Bumi Sawala (Agroeduwisata) pada Sabtu, 11 Januari 2026, di Bodogol Kampung Hoya, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kegiatan ini menjadi dry run perdana sekaligus rangkaian awal peringatan Dies Natalis Desamind Indonesia ke-6, dengan mengusung konsep ruang belajar hidup yang mengintegrasikan edukasi, ekologi, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Sebanyak 20 pengurus pusat Desamind Indonesia hadir sebagai peserta dry run, datang dari berbagai daerah, antara lain Solo, Magelang, Klaten, Semarang, serta wilayah Jabodetabek. Kehadiran lintas daerah ini menjadi bentuk dukungan sekaligus uji coba awal terhadap pengalaman agroeduwisata yang akan dikembangkan secara berkelanjutan di Bumi Sawala.

Gambar 1. Keseruan saat Games Pembukaan

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan peserta oleh pemuda lokal pengelola Bumi Sawala, dilanjutkan dengan pengenalan kawasan dan tur edukatif. Peserta diajak mengunjungi peternakan terintegrasi, mengenal pengolahan kompos ramah lingkungan, serta mempelajari tanaman Hoya khas Bodogol. Kegiatan juga dilengkapi dengan praktik agroedukasi sederhana, seperti mencukur bulu domba, membuat kokedama, dan memetik hasil kebun.

Gambar 2. Praktik Mencukur Bulu Domba

Seluruh aktivitas dirancang sebagai pengalaman belajar partisipatif yang mempertemukan pengunjung dengan praktik pertanian berkelanjutan sekaligus kehidupan desa secara langsung. Sebagai dry run perdana, Soft Launching Bumi Sawala menjadi ruang evaluasi awal dan penguatan konsep sebelum program ini dibuka lebih luas untuk publik.

Zakky Muhammad Noor, Director of Desamind Farm, mengungkapkan bahwa Bumi Sawala lahir dari proses panjang yang dibangun dari nol dengan keyakinan dan tekad bersama.

“Saya tidak menyangka ide Bumi Sawala  bisa sampai pada tahap ini. Konsep yang melahirkan local heroes ini dibangun dari nol, dengan penuh keyakinan dan kegigihan. Ini adalah hasil kolaborasi banyak pihak yang saling memberi ruang, saling belajar, dan bertumbuh bersama,” ujar Zakky.

Gambar 3. Hasil Kerajinan Kokedama Peserta Soft Launching Bumi Sawala

Hal senada disampaikan Salman, Koordinator Lapangan Bumi Sawala , yang menilai proses pendampingan pemuda desa sebagai kunci utama keberlanjutan program.

“Awalnya teman-teman pemuda lokal sangat pesimis dan bingung harus mulai dari mana, bahkan tidak percaya diri karena belum memiliki keterampilan mengelola agroeduwisata. Berkat arahan dan pendampingan dari rekan-rekan Desamind, kami perlahan menemukan kepercayaan diri, terus mencoba, hingga akhirnya sampai di tahap ini. Kami sadar, ini bukan akhir, melainkan awal dari proses panjang,” ungkap Salman.

Dari sisi peserta, Isna Fahrizal, Director of Secretariat & Finance Desamind Indonesia, menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras seluruh pengelola BUMI SAWALA, khususnya pemuda desa yang menjadi aktor utama di lapangan.

“Pengalaman agroeduwisata yang diberikan sangat luar biasa dan terasa otentik. Para pemuda Bumi Sawala  menunjukkan kesiapan, keramahan, dan semangat belajar yang tinggi. Harapannya, ke depan semakin banyak pengunjung yang datang dan merasakan pengalaman serupa, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi desa,” tutur Isna.

Penulis: Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Akan Gelar Dies Natalis ke-6, Tegaskan Komitmen Penguatan Desa dan Dampak Pemuda

By Berita Terkini

Desamind Indonesia akan menyelenggarakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-6 pada 11–31 Januari 2026 dengan mengusung tema “Menumbuhkan Akar, Menguatkan Dampak”. Peringatan enam tahun perjalanan ini menjadi momentum penguatan komitmen Desamind dalam membangun desa, memberdayakan pemuda, serta memperluas dampak sosial yang berkelanjutan.

Sejak berdiri pada 5 Januari 2020, Desamind Indonesia konsisten mengembangkan berbagai inisiatif berbasis pendidikan, literasi, kepemudaan, dan pemberdayaan masyarakat desa. Enam tahun perjalanan tersebut dirayakan melalui rangkaian kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menghadirkan program-program yang memberi dampak langsung bagi masyarakat.

Desamind Indonesia lahir dari inisiatif sekelompok pemuda yang memiliki latar belakang keterlibatan sosial dan pendidikan tinggi, dengan tujuan untuk kembali berkontribusi dalam pembangunan desa. Organisasi ini dibangun atas kesadaran bahwa generasi muda dengan kompetensi akademik dan pengalaman global memiliki peran strategis dalam membentuk local heroes yang berpijak pada realitas akar rumput sekaligus berpandangan luas.

Sebagai organisasi nirlaba berbasis kesukarelawanan, Desamind Indonesia menghimpun pemuda Indonesia di dalam dan luar negeri untuk terlibat aktif dalam pengembangan desa melalui program pendidikan, pelatihan kepemimpinan, pemberdayaan masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor. Hingga saat ini, Desamind telah berkembang ke puluhan chapter di berbagai daerah dan melibatkan ribuan pemuda dalam kegiatan sosial dan pembangunan desa.

Rangkaian Kegiatan Dies Natalis ke-6

Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-6, Desamind Indonesia menyelenggarakan empat agenda utama:

  1. Soft Launching BUMI SAWALA (Agroeduwisata)
    Digelar pada 11 Januari 2026 di Bodogol Kampung Hoya, Benda, Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat. Program ini merupakan peresmian ruang belajar hidup berbasis agroeduwisata yang mengintegrasikan edukasi, ekologi, dan pemberdayaan masyarakat desa.

  2. Desamind Youth Impact Lab
    Diselenggarakan pada 18 Januari 2026 di Nutrihub, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi laboratorium gagasan bagi pemuda untuk merancang solusi sosial yang inovatif, kolaboratif, dan berkelanjutan.

  3. Ethical for Kids
    Kegiatan edukatif yang dilaksanakan pada 28 Januari 2026 bersama siswa SD Muhammadiyah 1 Patuk, Gunungkidul. Program ini bertujuan menanamkan nilai etika, empati, dan karakter sejak dini melalui pendekatan pembelajaran yang menyenangkan.
  4. Closing Dies Natalis dan Peluncuran Platform “Sekolah Local Heroes”
    Puncak Dies Natalis ke-6 akan berlangsung pada 31 Januari 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Pada kesempatan ini, Desamind Indonesia akan meluncurkan platform e-learning Sekolah Local Heroes sebagai ekosistem pembelajaran bagi calon penggerak desa dan pemuda berdampak di seluruh Indonesia.

Menumbuhkan Akar, Menguatkan Dampak

Tema Dies Natalis ke-6, “Menumbuhkan Akar, Menguatkan Dampak”, mencerminkan semangat Desamind Indonesia dalam memperkuat kerja-kerja di tingkat komunitas sekaligus memperluas dampak melalui kolaborasi dan inovasi. Peringatan ini diharapkan menjadi ruang konsolidasi gerakan, penguatan jejaring, serta pijakan strategis untuk keberlanjutan program Desamind ke depan.

Melalui rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-6, Desamind Indonesia mengajak mitra, relawan, komunitas, dan masyarakat luas untuk terus berkolaborasi dalam menciptakan perubahan sosial yang bermakna, dimulai dari desa, digerakkan oleh pemuda, dan diarahkan untuk masa depan Indonesia.

Anugerah Diktisaintek 2025: Pengakuan atas Peran Desamind Menghadirkan Ilmu Pengetahuan bagi Pemuda, Masyarakat, dan Desa

By Press Release

Jakarta – (19/12) Penghargaan Anugerah Diktisaintek 2025 kategori “Dosen Berdampak” yang diterima Hardika Dwi Hermawan, Founder Desamind Indonesia Foundation sekaligus dosen Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menjadi penegasan bahwa tanggung jawab dosen tidak berhenti di ruang kelas dan publikasi ilmiah, tetapi harus hadir nyata di tengah masyarakat.

Penghargaan yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) ini merupakan bentuk apresiasi kepada akademisi yang mampu menjalankan peran tridarma secara utuh: mengajar, meneliti, dan mengabdi, dengan dampak sosial yang terukur dan berkelanjutan.

Bagi Hardika, peran sebagai dosen bukan semata profesi akademik, melainkan amanah sosial. Desamind Indonesia Foundation lahir sebagai jembatan antara kampus, desa, dan masyarakat. Desamind menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai keilmuan agar tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjelma menjadi solusi konkret bagi persoalan pendidikan, literasi digital, dan pemberdayaan pemuda desa.

“Dosen memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan ilmu yang dimilikinya memberi makna bagi kehidupan sosial. Kampus tidak boleh terpisah dari realitas masyarakat, dan desa tidak boleh tertinggal dari arus pengetahuan,” ujar Hardika usai menerima penghargaan.

Berbagai program nyata berbasis desa dan pendidikan di antaranya adalah program Local Heroes, yang memperkuat kapasitas pemuda desa agar mampu menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing; pendampingan sekolah, guru, dan siswa melalui literasi digital, penguatan karakter, serta inovasi pembelajaran; hingga riset terapan yang berangkat langsung dari kebutuhan riil masyarakat.

Gambar 1. Pemotongan Hewan Qurban hasil Ternak Desamind Farm dengan Mitra

Dalam sektor kemandirian desa dan ketahanan pangan, Desamind mengembangkan Desamind Farm di Sukabumi dengan pendekatan agroeduwisata. Program ini mengintegrasikan pertanian, peternakan, edukasi, dan kewirausahaan desa sebagai ruang belajar sekaligus pemberdayaan pemuda dan masyarakat lokal. Sementara itu, di Indonesia Timur, Desamind menginisiasi Wanasaba Trigona Center di Lombok, yang menggabungkan konservasi lingkungan, edukasi, dan penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan lebah trigona berbasis komunitas.

Di bidang akses pendidikan, Beasiswa Desamind yang diberikan sejak tahun 2021 juga menjadi wujud nyata keberpihakan kepada pemuda desa. Program ini tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pendampingan kepemimpinan, pengembangan diri, dan pengabdian sosial agar penerima beasiswa mampu kembali berkontribusi bagi daerah asalnya.

Gambar 2. Para Pemenang Anugerah Diktisaintek Bidang Sumber Daya

Kategori Dosen Berdampak sendiri mencerminkan paradigma baru pendidikan tinggi Indonesia: dosen tidak hanya dinilai dari jumlah publikasi atau jabatan akademik, tetapi dari seberapa jauh ilmunya menyentuh kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, Desamind dinilai berhasil menjadi contoh praktik baik integrasi tridarma perguruan tinggi dengan pembangunan sosial, hingga saat ini Desamind telah melakukan beragam kegiatan sosial mulai dari Aceh hingga papua dengan lebih dari 200 program serta lebih dari 29.000 masyarakat yang berpartisipasi.

Gambar 3. Siswa Daerah 3T mengikuti kegiatan Pelatihan Teknologi Informasi oleh Desamind

Penghargaan ini juga sejalan dengan arah kebijakan nasional “Diktisaintek Berdampak”, yang mendorong dosen dan institusi pendidikan tinggi untuk keluar dari menara gading dan berkolaborasi aktif dengan masyarakat. Desamind hadir sebagai bukti bahwa ketika dosen mengambil peran lebih jauh yaitu sebagai pendidik, pendamping, dan penggerak perubahan yang bukan sekadar wacana.

Bagi Desamind, anugerah ini bukan titik akhir, melainkan pengingat akan tanggung jawab yang semakin besar. Tanggung jawab untuk terus memastikan bahwa pendidikan menjadi alat pembebasan, desa menjadi pusat harapan, dan dosen menjadi sosok yang benar-benar hadir di tengah zaman.

Desamind Indonesia Raih Apresiasi di Hari Jadi Purbalingga ke-195, Founder Terima Penghargaan Pemuda Inspiratif

By Press Release

Purbalingga – Dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Purbalingga ke-19 pada Kamis, 18 Desember 2025, Desamind Indonesia Foundation menorehkan prestasi membanggakan. Hardika Dwi Hermawan, Founder Desamind sekaligus tokoh pendidikan dan pemberdayaan pemuda dari Desa Cipaku, menerima penghargaan sebagai Pemuda Inspiratif Kabupaten Purbalingga bidang pendidikan dan sosial yang diserahkan langsung oleh Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif pada puncak acara Pahargyan Agung di Pendopo Dipokusumo, Purbalingga. 

Penghargaan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Purbalingga ke-195 yang mengusung tema “Sinergi, Kolaborasi untuk Akselerasi Purbalingga Baru”, sebuah refleksi perjalanan panjang daerah sekaligus komitmen untuk terus menghadirkan pembangunan inklusif dan berdampak bagi seluruh lapisan masyarakat. 

Dalam sambutannya, Fahmi menyampaikan apresiasi atas kontribusi pemuda daerah yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui kerja-kerja pendidikan dan sosial. Menurutnya, peran pemuda menjadi kunci penting dalam mendorong pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

“Penghargaan ini kami berikan sebagai bentuk apresiasi kepada pemuda Purbalingga yang tidak hanya berprestasi secara personal, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Fahmi.

Gambar 1. Founder Desamind bersama Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga

Hardika Dwi Hermawan dipilih sebagai Pemuda Inspiratif berkat kiprahnya dalam mendorong pendidikan, literasi digital, dan pemberdayaan generasi muda desa melalui Desamind Indonesia Foundation. Desamind selama ini telah menjadi wadah bagi pemuda desa untuk mengembangkan kompetensi, memperkuat kapasitas lokal, serta menghadirkan solusi nyata terhadap tantangan sosial-pendidikan di berbagai wilayah Indonesia, terutama dari basis desa ke skala nasional. 

Di bidang pendidikan, Desamind menghadirkan Beasiswa Desamind, sebuah program yang membuka akses pendidikan bagi pemuda dari desa. Beasiswa ini tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pendampingan pengembangan diri, kepemimpinan, dan pengabdian sosial agar penerima beasiswa dapat kembali berkontribusi bagi komunitasnya.

Gambar 2. Kegiatan Desamind, PTI UMS, di PKBM Cakra Purbalingga 

Selain pendidikan formal, Desamind mengembangkan pendekatan pemberdayaan berbasis potensi lokal melalui Desamind Farm di Sukabumi. Program ini mengusung konsep agroeduwisata, yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, edukasi, dan pemberdayaan pemuda. Desamind Farm menjadi ruang belajar alternatif bagi masyarakat dan generasi muda untuk memahami pertanian berkelanjutan, kewirausahaan desa, serta ketahanan pangan.

Di wilayah Indonesia Timur, Desamind turut menginisiasi Wanasaba Trigona Center di Lombok, sebuah pusat pengembangan lebah trigona yang memadukan konservasi lingkungan, edukasi, dan penguatan ekonomi masyarakat desa. Program ini tidak hanya mendorong pelestarian alam, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal dan pengetahuan masyarakat. Hingga saat ini Desamind telah tersebar di berbagai daerah mulai dari Aceh hingga Papua, termasuk Desamind Chapter Purbalingga.

Berbagai program tersebut diperkuat melalui Sekolah Local Heroes serta Desamind Research and Training Center, yang berperan sebagai ruang pembelajaran, riset terapan, dan pelatihan bagi pemuda, guru, dan komunitas desa. Pendekatan yang digunakan menekankan kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat agar ilmu pengetahuan benar-benar hadir sebagai solusi.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas perjalanan panjang Hardika sebagai pemuda desa yang kembali membawa ilmu dan pengalaman untuk membangun komunitasnya. Dari menginisiasi Desamind hingga memperluas jangkauan program pemberdayaan, kontribusi Hardika menunjukkan bagaimana pemuda desa dapat menjadi aktor perubahan yang nyata,  tidak hanya di Purbalingga tetapi juga di berbagai komunitas desa di seluruh Indonesia.

Sinergi Membangun Desa, Desamind Pasuruan Jalin Kerja Sama dengan Pemdes Tambaksari

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Pasuruan — Desamind Chapter Pasuruan menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Desa Tambaksari melalui rencana penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk periode satu tahun ke depan. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Tambaksari pada Minggu (14/12) dan dihadiri oleh Sekretaris Desa Tambaksari, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Desamind Chapter Pasuruan, Wawan Darwan. Dalam sambutannya, Wawan menegaskan komitmen Desamind untuk turut berkontribusi dalam pengembangan potensi Desa Tambaksari, khususnya dalam mendukung kemajuan desa dan sektor pariwisata.

“Kami berharap kehadiran Desamind dapat membantu pengembangan program-program Desa Tambaksari, terutama di sektor pariwisata dan kemajuan desa secara umum. Selama satu tahun ke depan, kami siap berkolaborasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan desa, semoga kerja sama ini berjalan lancar dan mendapat rida Allah SWT,” ujar Wawan.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Abdul Aziz selaku perwakilan Desamind Indonesia. Ia menyampaikan harapan agar Desa Tambaksari dapat menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium berdampak bagi Desamind Chapter Pasuruan dalam menjalankan berbagai program sosial.

“Harapannya, Desa Tambaksari bisa menjadi laboratorium berdampak bagi teman-teman Desamind Chapter Pasuruan. Di sini, kolaborasi dan jejaring dapat dibangun secara optimal untuk memaksimalkan potensi yang ada,” ungkap Aziz.

Aziz juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan sinergi yang berkelanjutan dengan pemerintah desa agar setiap program yang dijalankan dapat terlaksana secara maksimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Desa Tambaksari, Slamet, menyampaikan apresiasi atas inisiatif kerja sama yang dilakukan oleh Desamind Chapter Pasuruan. Ia berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat nyata bagi desa dan masyarakat.

“Kami berharap kehadiran Desamind dapat membawa manfaat dan menjadi berkah bagi Desa Tambaksari,” ujar Slamet.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan rencana program kerja, sesi diskusi dan tanya jawab, serta pembacaan nota kesepahaman. 

Author :  Mukhammaad Thoriq Aziz

Editor: Alan Ferdian Syah / Ahmad Zamzami

Perluas Jejaring Sosial, Desamind Indonesia Berkesempatan Ikut Pitch Dating with CSR di Turun Tangan Festival 2025

By Press Release

Jakarta – Desamind Indonesia berkesempatan terpilih dalam agenda Pitch Dating with CSR, salah satu rangkaian utama Turun Tangan Festival 2025 yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada (7/12). Kegiatan ini menjadi ruang temu antara komunitas penggerak sosial dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki fokus pengembangan program Corporate Social Responsibility (CSR).

Tidak sekadar sesi pitching, forum ini juga menjadi ruang diskusi untuk menyamakan nilai, mendengarkan kebutuhan lapangan, dan memperjuangkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat. 

Desamind Indonesia diwakili oleh Dinda Berlian dan Luthfia Octaviani dari Public Relation Division. Kehadiran Desamind dalam forum ini menjadi kesempatan strategis untuk memperluas jejaring, memperkenalkan program pemberdayaan desa, serta menjajaki peluang kolaborasi dengan berbagai lembaga CSR.

Gambar 1. Dinda Berlian Presentasi dengan CSR dalam Sesi One on One 

Dinda Berlian menyampaikan bahwa kesempatan ini membuka jalan bagi Desamind untuk memperluas dampak program pemberdayaan desa.


“Bertemu langsung dengan CSR nasional membuat kami optimis bahwa kolaborasi nyata bisa terwujud. Banyak perusahaan menunjukkan ketertarikan pada isu pemberdayaan desa dan pendidikan. Ini peluang besar bagi Desamind,” ungkap Dinda.

Sementara itu, Luthfia Octaviani juga menambahkan bahwa Turun Tangan Festival memberi ruang bagi komunitas untuk menunjukkan kerja sosial yang selama ini dilakukan.


Pitch Dating with CSR membantu kami melihat bagaimana ide yang lahir dari kebutuhan nyata di lapangan terus didorong oleh banyak pihak. Dari dialog singkat ini, kami percaya bahwa dampak kolaboratif akan menjangkau lebih banyak penerima manfaat,” ujar Luthfia.

Acara ini menghadirkan enam lembaga CSR nasional, yaitu Nice Global, Filantropi Indonesia, Hub UMK PLN Jakarta Raya, Plan Do See Indonesia, CSR Astra, dan Forum CSR Jakarta. Mereka terlibat aktif berdialog dengan komunitas terpilih untuk menggali potensi kolaborasi.

Selain Desamind Indonesia, terdapat 18 komunitas atau organisasi lainnya, yaitu Sasambo Youth Education, Millennials Empowerment, Kampung Kolektif, DDV Banten, Garut Creativepreneur Community, Kriya Kite Indonesia, The Local Enablers, Yayasan Dari Hati, Safari Nagari, DDV Bandung, SehariBeraksi, Komunitas Teman Tumbuh Kembang, Indonesia Membaca, Komunitas Yuk Belajar Seni, Schole Fitrah, Desamind Indonesia, Eco Ranger, Bank Sampah Seribu Generasi, dan AOA (Anak Online Abah).

Author: Ahmad Zamzami

Raih Gold Medal dan Special Award SIIF 2025 di Korea Selatan: Keberhasilan Kolaborasi Desamind Indonesia bersama UMS dan Tiga Kampus Australia

By Press Release

Seoul, Korea Selatan – (6/12) Desamind Indonesia kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional melalui keterlibatan dua perwakilannya, Yulia Susanti (Director of Scholarship Division) dan Kintan Nur Romadhona (Koordinator Wilayah Chapter Division) dalam tim kolaborasi inovasi bersama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan tiga universitas ternama Australia: University of Melbourne, Monash University, dan University of Queensland. Kolaborasi lintas negara ini berhasil meraih Gold Medal dan Special Award dari Vietnam Fund for Supporting Technology Creations (VIFOTEC) pada ajang bergengsi Seoul International Invention Fair (SIIF) 2025 yang diselenggarakan pada 3–6 Desember di Seoul.

Dalam kompetisi tersebut, tim menampilkan proyek inovatif berjudul “HerbsWise: Immersive Journey of Indonesian Medicinal Plants Wisdom Integrated with Wellness Education to Combat Top Nation’s Priority Diseases.” Proyek ini memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) untuk menghadirkan eksplorasi imersif mengenai kekayaan tanaman herbal Indonesia yang dipadukan dengan edukasi kesehatan guna meningkatkan literasi masyarakat tentang peran tanaman herbal dalam pencegahan penyakit prioritas nasional.

Yulia Susanti menuturkan, keterlibatan Desamind Indonesia menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa nilai-nilai edukatif, budaya, dan kebermanfaatan sosial tetap terintegrasi dalam proyek yang digarap lintas negara tersebut.

“Bisa mewakili Desamind dalam kolaborasi internasional ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar bagaimana teknologi dapat digunakan untuk melestarikan kearifan lokal. Prestasi ini bukan hanya kemenangan tim, tetapi bukti bahwa anak muda Indonesia mampu bersaing di panggung dunia,” ujar Santi.

Meski berada dalam negara dan zona waktu yang berbeda, kolaborasi tetap berjalan intens dan produktif. Pengalaman ini menunjukkan bahwa batas geografis tidak menghalangi semangat inovasi lintas budaya.

Gambar 1. Tim “HerbsWise: Immersive Journey of Indonesian Medicinal Plants Wisdom Integrated with Wellness Education to Combat Top Nation’s Priority Diseases.

Dari Australia, Desi Puti Andini, Mahasiswa Master Data Science, Monash University mengungkapkan kebanggaanya bisa berinovasi bersama-sama dan menciptakan temuan yang bermanfaat.

“Sangat bangga dapat berkolaborasi dengan mahasiswa UMS dan Desamind menciptakan temuan yang luar biasa. Proyek ini berjalan harmonis meski kami bekerja dari benua yang berbeda,” tutur Desi.

Keberhasilan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran anggota tim yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, baik dari Indonesia maupun Australia. Adapun anggota Tim Kolaborasi Indonesia–Australia meliputi:

  1. Vio Arvendha (PTI UMS 2021) — Ketua Tim
  2. Muhammad Isnani K (PTI UMS 2022)
  3. Kintan Nur Romadhona (Biotechnology, University of Queensland; Desamind Indonesia)
  4. Desi Puti Andini (Data Science, Monash University)
  5. Citra Cahyati (Public Health, University of Melbourne)
  6. Nada Fadilah (Agribusiness, University of Queensland)
  7. Nadia Yasmine (Public Health, University of Queensland)
  8. Yulia Susanti (Desamind Indonesia)

Pembimbing inovasi yang juga Dosen UMS sekaligus Founder Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.ITE, turut memberikan apresiasi atas pencapaian prestasi ini.

 “Alhamdulillah, prestasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas negara dapat melahirkan inovasi berskala global. Semoga pencapaian ini menginspirasi lebih banyak mahasiswa dan pemuda Indonesia untuk berani berkolaborasi dan berkarya,” pungkas Hardika.

Monev 1 Desamind Chapter 2025/2026: Ruang Refleksi untuk Gerak yang Lebih Berdampak untuk Desa di Indonesia

By Uncategorized

DESAMIND.ID – Monitoring dan Evaluasi (Monev) 1 Desamind Chapter Periode 2025/2026 resmi dilaksanakan pada Rabu (19/11/2025). Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh seluruh perangkat Desamind Chapter dari berbagai daerah: Asmat, Bogor, Majalengka, Soloraya, Magelang, Purbalingga, Yogyakarta, Gunungkidul, Malang, Pasuruan, Lombok Timur, dan Maros.

Monev tahun ini mengangkat tema: “Tumbuh dari refleksi, bergerak dengan aksi, menata ulang langkah, dan menguatkan gerak.” Tema tersebut menjadi pengingat bahwa setiap langkah pembangunan desa harus dimulai dari refleksi yang jujur, aksi yang konsisten, serta komitmen untuk terus menyalakan cahaya kebaikan di desa mitra seluruh Indonesia. Harapannya, momentum ini menjadi titik balik agar tiap chapter semakin kuat, progresif, dan berdampak nyata.

Gambar 1. Dokumentasi penyampaian laporan divisi

Acara monev pertama Desamind Chapter dibagi menjadi tiga; pembukaan, pelaksanaan monev, dan penutup. Acara dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Nur Kholifah selaku Vice Director Chapter Division Desamind sekaligus Ketua Panitia Monev. “Monev bukan hanya ruang evaluasi, tetapi juga ruang silaturahmi, ruang refleksi bersama, dan ruang untuk memperbaiki niat dalam perjalanan gerakan Desamind”, ucap Nur Kholifah. Lanjutnya lagi, ia berharap bahwa setelah monev ini, setiap chapter membawa energi baru untuk terus menguatkan desa mitra masing-masing.

Adapun pelaksanaan Monev dilakukan dengan cara membagi peserta ke dalam breakout room. Sesi diskusi berlangsung selama kurang lebih 45 menit dengan menyampaikan capaian dan tantangan chapter, pendalaman kondisi bersama auditor, dan penyusunan Permasalahan, Tindakan, Penanggung Jawab, Penyelesaian (PTPP).

Gambar 2. Dokumentasi Penutup Monev 1 Desamind Chapter 2025/2026

Setelah sesi diskusi, peserta kembali ke main room dan melakukan penutupan, yang ditandai dengan ucapan terima kasih dari Chapter Division Desamind dan melakukan foto bersama. Harapannya, hasil Monev tidak berhenti sebagai laporan, tetapi benar-benar menjadi pijakan untuk memperkuat strategi dan arah gerak Desamind Chapter ke depan. Mari terus merawat gerakan, menyalakan cahaya dari desa ke desa, dan bersama-sama menghadirkan perubahan yang nyata untuk Indonesia.

Penulis: Chapter Division

Editor: Alan Ferdian Syah, Kamilya Anjani Putri

Desamind Masuk Top 20 ActWISE+ Leadership Café 2025, Perkuat Kapasitas Etika dan Kepemimpinan Pemuda

By Press Release

Yogyakarta – Desamind Indonesia berhasil terpilih sebagai Top 20 komunitas dalam Program Monitoring ActWISE+ Leadership Café 2025, sebuah inisiatif pengembangan kapasitas pemuda yang diinisiasi oleh Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA). 

Keberhasilan ini menempatkan Desamind sebagai salah satu komunitas yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam mendorong gerakan sosial berlandaskan integritas, nilai, dan kepemimpinan etis.

ActWISE+ Leadership Café dilaksanakan dalam dua skema. Pertama, sesi daring pada 25 Oktober 2025 membahas mengenai struktur dan tujuan program sekaligus ruang pertemuan untuk saling mengenal antar komunitas terpilih. Kedua, sesi luring yang berlangsung dalam empat rangkaian pertemuan pada 8–29 November 2025, berisi pelatihan intensif tentang etika, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan.

Selama empat sesi luring, peserta mengikuti pembahasan yang dirancang saling terhubung dan membangun pemahaman komprehensif tentang nilai dan etika dalam kepemimpinan generasi muda dengan rincian:

  1. Sesi pertama mengangkat tema “Values in Action – Everyday Ethics”, membedah bagaimana nilai dan dilema etis muncul dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam organisasi.
  2. Sesi kedua, “Leadership in Practice: Active Listening & Conflict Resolution”, memberi ruang bagi peserta untuk mempraktikkan kemampuan mendengar aktif serta menyelesaikan konflik secara dewasa dan konstruktif.
  3. Sesi ketiga, peserta diperkenalkan pada “WISE+ Ethical Decision-Making Tool”, sebuah kerangka untuk mengambil keputusan secara etis, terstruktur, dan mempertimbangkan dampak sosial.
  4. Sesi keempat, “Designing Projects with WISE+”, di mana tiap komunitas diminta merancang proyek sosial berbasis nilai menggunakan pendekatan WISE+.

Dalam kesempatan ini, Desamind Indonesia mendelegasikan  Abdul Aziez, Director of Chapter Division dan Alwi Dwi Rahmadi, Associate of Chapter Division, untuk mengikuti seluruh rangkaian program.

Menurut Alwi, pengalaman mengikuti ActWISE+ menjadi refleksi penting bagi tim Desamind.


“Program ini memberi banyak pelajaran tentang etika, pilihan dalam kepemimpinan, dan cara mengambil keputusan secara lebih bijak. Kami mendapat banyak perspektif baru, dan ini memperkuat komitmen Desamind untuk terus bergerak dengan nilai dan integritas,” ujarnya.

Gambar 1. Delegasi Desamind Indonesia bersama Para Peserta ActWISE+ Leadership Café 2025

Lebih lanjut, Aziz juga mengungkapkan bahwa program ActWISE+ Leadership Café 2025 tidak hanya menawarkan pembelajaran teknis, tetapi juga mempertegas pentingnya fondasi nilai dalam gerakan sosial. Menurutnya, keberhasilan Desamind  masuk Top 20 menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas internal serta memastikan bahwa setiap program pemberdayaan desa maupun kepemudaan dijalankan dengan pertimbangan etika dan keberlanjutan.

“Keterlibatan Desamind dalam program ini menegaskan bahwa gerakan pemuda Indonesia mampu tumbuh melalui kolaborasi, ruang dialog yang terbuka, dan kemauan untuk membangun perubahan dengan cara yang lebih bermoral dan berkesadaran nilai,” pungkas Aziez.

Author: Alan Ferdian Syah

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Terlibat dalam Rapat Koordinasi Jaringan Beasiswa di Kemenko PMK RI

By Press Release

Jakarta – Desamind Indonesia turut hadir dalam Rapat Koordinasi Jaringan Beasiswa yang dilaksanakan pada Selasa, 25 November 2025, di Ruang Rapat Lantai 14, Gedung Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI). Forum ini diselenggarakan oleh Komite Pesta Beasiswa Indonesia bersama Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia, dengan agenda utama membahas penetapan pelaksanaan Pesta Beasiswa Rakyat Indonesia 2025 serta perkembangan penyusunan Katalog Beasiswa Indonesia Edisi 2.

Desamind Indonesia diwakili oleh Nazwa Khoerunnisa, Vice Director of Scholarship. Dalam rapat tersebut, para peserta membahas dua opsi pelaksanaan Pesta Beasiswa Indonesia, yaitu 11–12 Desember 2025 di Kompleks MPR/DPR/DPD RI, serta 24–25 Januari 2025 di Kompleks Gedung Setwapres RI. Diskusi difokuskan pada kesiapan teknis dan tingkat keterlibatan lembaga beasiswa.

Forum menyepakati perlunya attendance confirmation form yang harus diisi paling lambat 27 November 2025 sebagai dasar penetapan final. Meski demikian, preferensi peserta mulai mengerucut pada opsi 11–12 Desember 2025.

Terkait penyusunan Katalog Beasiswa Indonesia Edisi 2, peserta rapat diinformasikan bahwa formulir pengumpulan data telah dibuka dan dapat diisi hingga 5 Desember 2025. Katalog ini akan memuat informasi beasiswa dari pemerintah, lembaga swasta, yayasan, hingga organisasi kemasyarakatan di seluruh Indonesia.

Nazwa Khoerunnisa menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga untuk memperluas akses informasi beasiswa bagi masyarakat.

“Desamind menyambut baik upaya bersama ini. Kerja kolaboratif seperti inilah yang diperlukan agar informasi beasiswa dapat tersampaikan secara merata, akurat, dan mudah diakses oleh anak muda di seluruh Indonesia,” ujar Nazwa.

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan katalog nasional akan membantu menyatukan berbagai sumber informasi beasiswa yang selama ini tersebar di banyak platform.

“Katalog nasional menjadi langkah strategis untuk menghadirkan pusat data beasiswa yang terpadu. Ini akan sangat membantu pelajar dan mahasiswa dalam menentukan peluang pendidikan mereka,” tambahnya.

Rapat yang menghadirkan perwakilan dari berbagai lembaga, termasuk Rumah Zakat, GoStudy, StudiLanjut, LAZ, MetroTV, serta mitra lainnya, ditutup dengan penegasan tindak lanjut dan pengumpulan data katalog edisi terbaru.

Author: Ahmad Zamzami

Desamind Pasuruan Perkuat Sinergi di Raker Tahunan, Dorong Digitalisasi dan Edukasi Desa 

By Artikel, Berita Terkini, Desamind Chapter, Press Release

Pasuruan – Desamind Chapter Pasuruan sukses menyelenggarakan Rapat Kerja Tahunan pada Minggu (5/10/2025) di Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Dihadiri 12 perwakilan divisi, kegiatan ini menetapkan program kerja strategis untuk setahun ke depan, dengan fokus utama pada pengembangan Desa Tambaksari.

Salah satu hasil kunci Raker adalah peluncuran empat program unggulan, termasuk Tambaksari Digital Journey yang berfokus pada digitalisasi potensi desa. Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Pelaksana, Ridha Ritama Trisani. 

“Saya selaku Ketua Pelaksana, berterima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan Raker ini. Mari kita jadikan Rapat Kerja  ini sebagai momentum untuk memantapkan diri dalam membawa Desamind Chapter Pasuruan mengangkat Desa Tambaksari menjadi desa yang lebih baik lagi,” ujar Ridha.

Sambutan berikutnya diberikan Wawan Darmawan selaku Kepala Desa Desamind Chapter Pasuruan, “Mari kita manfaatkan Raker ini untuk sharing ide-ide keren dan ngobrol nyaman. Dan setelah ini, kerjaan kita di Desa Tambaksari jadi makin on point, terasa dampaknya, dan Desamind Chapter Pasuruan bisa jadi lebih baik lagi,” ujar Wawan.

Memasuki kegiatan inti, setiap divisi mempresentasikan program kerjanya, kemudian saling memberikan saran dan tanggapan untuk memperjelas programnya. Rapat diakhiri dengan diskusi Badan Pengurus Harian (BPH) yang membahas serta menetapkan program kerja yang telah disepakati bersama.

Tahun ini terdapat empat program utama yang akan dijalankan, yakni Tambaksari Digital Journey, Sosmed Academy: Cerdas Branding Digital, Betari (Belajar Tambaksari Asri), dan Agri Edukita.

  • Tambaksari Digital Journey: Inisiatif pemasaran digital untuk memperkenalkan potensi wisata, budaya, dan kehidupan masyarakat Desa Tambaksari melalui platform media sosial dan konten visual menarik.
  • Sosmed Academy: Cerdas Branding Digital : Pelatihan dengan narasumber ahli untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, kreativitas, desain grafis, dan strategi konten digital.
  • Betari (Belajar Tambaksari Asri): Kegiatan belajar seru dengan suasana menyenangkan melalui permainan edukatif. 
  • Agri Edukita: Program edukasi pengelolaan sampah agar dapat dimanfaatkan menjadi pupuk, pakan ternak, atau produk lainnya.

Selain empat program utama tersebut, terdapat pula program pendukung dari Divisi Internal, yaitu Makrab dan Internal Awarding. Kedua kegiatan ini bertujuan menciptakan lingkungan internal yang aktif, suportif, serta mendorong pengembangan diri secara personal maupun profesional agar lebih siap terjun dalam kegiatan sosial dan edukasi masyarakat.

Selain itu, Divisi Media dan Informasi juga menetapkan empat kegiatan, yaitu peringatan hari besar nasional dan hari besar Islam, publikasi after event untuk memperkuat citra organisasi, penyebaran informasi desa mitra melalui program FYI di media sosial, serta Podmind, yakni program podcast yang menghadirkan berbagai narasumber dengan topik menarik bagi audiens internal maupun eksternal.

Kemudian, dari Divisi Kewirausahaan terdapat program Branding Produk UMKM sebagai bentuk promosi digital untuk memperkenalkan potensi produk-produk lokal di Desa Tambaksari melalui platform media sosial. Sementara itu, Divisi Eksternal juga akan menjalankan tiga program, yaitu Sinau Bareng Chapter, studi banding dengan chapter lain untuk berbagi praktik dan pengelolaan organisasi, serta Cooler (Cooperation with Stakeholder) yang berfokus pada kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan sesuai kebutuhan program kerja Desamind Chapter Pasuruan, termasuk portal Desamind untuk publikasi berita kegiatan.

Meski sempat tertunda, Rapat Kerja Tahunan Desamind Chapter Pasuruan berjalan lancar dan penuh semangat Melalui penetapan program ini, organisasi berharap dapat memperkuat sinergi antardivisi, memperluas dampak sosial pengembangan Desa Tambaksari, serta meneguhkan komitmen dalam mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan dan berdaya di Pasuruan.

Penulis: Mukhammad Thoriq Aziz 

Editor: Yesi Rahma Mustika

Desamind Berkiprah di Ajang Internasional: Kintan Raih Pendanaan Food Innovation Challenge di University of Queensland

By Artikel, Desamind Award

Partisipasi anggota Desamind dalam ajang internasional ini menjadi bukti nyata bahwa gerakan sosial anak muda Indonesia mampu menembus ruang kolaborasi global. Melalui kiprah Kintan, Desamind tidak hanya berfokus pada pemberdayaan di dalam negeri, tetapi juga terus memperluas dampaknya dengan mendorong keterlibatan pemuda dalam bidang riset, inovasi, dan kewirausahaan sosial di tingkat dunia.

Gambar 1. Kintan menerima pendanaan Food Innovation Challenge di University of Queensland

Brisbane, 8 Oktober 2025 — Salah satu anggota Desamind Indonesia, Kintan, berkesempatan untuk berpartisipasi dalam Food Innovation Challenge (FIC) 2025, sebuah program pengembangan inovasi pangan yang diselenggarakan oleh University of Queensland (UQ) melalui UQ Ventures, bekerja sama dengan Australia’s Food and Beverage Accelerator (FaBA). Ajang ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan inovator muda dari berbagai universitas untuk mengembangkan ide, meneliti solusi baru, dan membangun bisnis berkelanjutan di bidang pangan dan minuman. Program ini juga menjadi titik temu lintas disiplin yang mempertemukan inovator dari berbagai latar belakang sains, bisnis, dan teknologi untuk menciptakan solusi pangan yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berdampak sosial dan ramah lingkungan.

Program tahunan ini dirancang untuk mendorong kolaborasi antara dunia akademik dan industri, menghadirkan pembelajaran langsung dari para pakar global, serta memperkuat kompetensi peserta dalam menghadapi tantangan industri pangan masa depan. Selain memperkuat kemampuan teknis, peserta juga dilatih membangun jejaring profesional dan memahami dinamika global supply chain pangan modern, sehingga siap bersaing dan berkontribusi dalam ekosistem industri berkelanjutan.

Tahun ini, Food Innovation Challenge mengusung tema “Innovating for a Better Tomorrow”, menyoroti pentingnya inovasi berkelanjutan dalam menciptakan sistem pangan yang tangguh, inklusif, dan ramah lingkungan.

Kintan menjadi salah satu peserta internasional yang mengikuti rangkaian kegiatan sejak tahap awal. Program ini diawali dengan sesi workshop dan mentoring yang berlangsung sepanjang September 2025, di mana peserta diajak untuk mengembangkan ide produk berbasis riset menjadi konsep bisnis yang siap diuji di pasar. Selama proses ini, setiap peserta juga berkesempatan melakukan validasi ide langsung kepada pelaku industri dan konsumen, sehingga setiap gagasan yang lahir benar-benar berakar dari kebutuhan nyata masyarakat global.

Melalui pendekatan berbasis desain dan riset pengguna, peserta dilatih untuk mengidentifikasi masalah nyata di sektor pangan, melakukan validasi pasar, dan mengukur dampak sosial dari inovasi yang diusulkan.

Gambar 2. Kintan bersama mentor di University of Queensland

Selama proses tersebut, Kintan dan peserta lainnya mendapatkan bimbingan langsung dari para mentor profesional dan praktisi industri ternama. Pada sesi pertama Mentor yang terlibat diantaranya adalah Saul Martinez, Anthony Jay, Cameron Turner, Alex Bell, Lilly Lim-Camacho, dan Adam Smith. Sementara pada sesi lanjutan, pendampingan diberikan oleh Justin Nugent, Josh Hemelaar, Claire Pink, Alisa Becker, Natalja Ivanova, dan Gav Parry dari tim UQ Ventures. Pendampingan lintas sesi ini tidak hanya memperkuat kemampuan teknis peserta, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri mereka untuk mempresentasikan ide di hadapan praktisi industri kelas dunia.

Melalui sesi mentoring tersebut, peserta memperoleh wawasan mendalam tentang strategi inovasi, pengembangan produk, serta peluang bisnis di industri pangan global yang terus berkembang. Hal ini memperlihatkan bagaimana universitas berperan penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan pangan dunia yang semakin kompleks dan berbasis teknologi.

Puncak kegiatan berlangsung pada Rabu, 8 Oktober 2025, di kampus University of Queensland, Brisbane, dimana seluruh tim finalis mempresentasikan hasil inovasi mereka dalam sesi Final Pitch Event. Para juri yang hadir berasal dari kalangan profesional industri dan akademisi, antara lain Lisa-Claire Ronquest-Ross, Leigh Ford, dan Chris Downs. Mereka menilai setiap ide berdasarkan aspek keberlanjutan, potensi pasar, inovasi teknologi, dan dampak sosialnya. Momen ini menjadi ajang pembuktian para inovator muda bahwa ide yang berangkat dari riset dapat dikembangkan menjadi solusi konkret yang bernilai bagi masyarakat luas.

Kintan menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya dapat menjadi bagian dari program prestisius ini. “Mengikuti Food Innovation Challenge adalah pengalaman yang luar biasa. Saya belajar bagaimana menggabungkan antara riset ilmiah dan inovasi sosial untuk menghasilkan solusi yang tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, tapi juga menjawab kebutuhan masyarakat. Selain itu, kesempatan untuk belajar langsung dari mentor-mentor dunia membuka pandangan baru tentang potensi kolaborasi lintas negara,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini memberinya pemahaman baru tentang pentingnya kolaborasi lintas budaya untuk menciptakan inovasi yang relevan dengan tantangan global.

Program Food Innovation Challenge juga dikenal sebagai ajang yang mendorong peserta untuk berpikir holistik memadukan kreativitas, riset, dan keberlanjutan dalam satu kerangka inovasi. Melalui pendekatan interdisipliner ini, peserta didorong untuk memahami hubungan antara sains pangan, kewirausahaan, dan tanggung jawab sosial. Inilah yang menjadikan FIC lebih dari sekadar kompetisi, melainkan wadah pembelajaran yang menyiapkan generasi muda menjadi inovator masa depan. Lebih dari itu, FIC juga menjadi simbol harapan baru bahwa masa depan pangan dunia dapat dibentuk oleh generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli pada keberlanjutan dan keadilan sosial.

Bagi Desamind Indonesia, keterlibatan Kintan dalam kegiatan ini menjadi kebanggaan tersendiri. Sebagai gerakan sosial yang berfokus pada pengembangan kapasitas pemuda melalui riset dan inovasi sosial, Desamind terus berupaya mendorong anggotanya untuk berkiprah secara global. Partisipasi ini menunjukkan bahwa semangat belajar dan kontribusi sosial tidak mengenal batas negara. Pengalaman yang diperoleh Kintan diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pemuda Indonesia untuk berani melangkah dan membawa gagasan mereka ke panggung internasional.Melalui langkah-langkah kecil seperti ini, Desamind menegaskan komitmennya untuk menumbuhkan ekosistem inovasi sosial yang mampu bersaing di tingkat global namun tetap berpijak pada nilai kemanusiaan.

Selain memperluas jejaring internasional, partisipasi ini juga membuka peluang bagi Desamind untuk berkolaborasi dengan institusi pendidikan dan lembaga inovasi luar negeri. Melalui pengalaman langsung seperti ini, anggota Desamind mendapatkan kesempatan untuk memahami dinamika inovasi global sekaligus mengadaptasikannya dalam konteks pembangunan sosial di Indonesia. Dengan begitu, gerakan ini tidak hanya mengembangkan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat fondasi kolaborasi antarnegara dalam upaya menciptakan inovasi yang berkeadilan dan berdampak luas.

Kintan menutup pengalamannya dengan pesan reflektif, “Bagi saya, ini bukan akhir dari perjalanan, tapi awal dari kolaborasi yang lebih luas. Saya ingin membawa semangat dan ilmu yang saya dapatkan di sini untuk dikembangkan bersama teman-teman di Indonesia agar inovasi bisa benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.” Pesan itu menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan anak muda dapat berkontribusi bagi perubahan besar, terutama ketika dijalankan dengan niat dan semangat berbagi.Keikutsertaan Kintan dalam Food Innovation Challenge 2025 menjadi bukti nyata bahwa anak muda Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari perubahan global. Melalui semangat kolaboratif dan nilai-nilai kemanusiaan yang diusung Desamind, langkah kecil ini diharapkan mampu menyalakan lebih banyak lilin harapan dari kampus di Brisbane hingga komunitas di tanah air.

Penulis: Alan Ferdian Syah

Editor: Kintan Nur Romadhona

Desamind.id, Jakarta (28/10) – Peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-97 tahun 2025 menjadi momentum sakral bagi Desamind Indonesia. Suara yang selama ini digaungkan di desa-desa kini bergema hingga ke jantung Ibu Kota, tepatnya di Hall Basket Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta.

Desamind Indonesia Raih Juara 3 Booth Competition Kemenpora RI 2025: Bukti Kontribusi Pemuda Desa di Tingkat Nasional

By Berita Terkini, Press Release

Desamind.id, Jakarta (28/10) – Peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-97 tahun 2025 menjadi momentum sakral bagi Desamind Indonesia. Suara yang selama ini digaungkan di desa-desa kini bergema hingga ke jantung Ibu Kota, tepatnya di Hall Basket Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta.

Gambar 1 Penerima Penghargaan Booth Competition pada HSP ke-97 (doc desamind.id)

Desamind Indonesia berhasil meraih Juara 3 pada ajang Booth Competition yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam rangka memperingati HSP ke-97. Dalam ajang ini, Desamind Indonesia diwakili oleh Yulia Susanti, Director of Scholarship Desamind Indonesia, yang juga menerima langsung penghargaan tersebut.

“Kita buktikan bahwa suara dari desa itu nyata adanya. Wujud kecil kontribusi kami harapannya di masa depan akan menjadi transformasi pertumbuhan generasi muda dan desa,” ujar Yulia Susanti.

Mengusung tajuk “Dari Desa untuk Indonesia: Pertumbuhan Gerak Akar Rumput Wujudkan Pemuda Berdaya dan Berempati,” Desamind Indonesia menampilkan booth dengan konsep ruang interaktif yang menggambarkan semangat pemuda yang gigih, patriotik, dan penuh empati melalui kisah nyata transformasi desa.

Gambar 2 Tim Lapangan Kegiatan Booth Competition (doc desamind.id)

Booth tersebut memadukan elemen visual khas pedesaan yang ramah lingkungan (eco-friendly) dengan teknologi digital interaktif. Booth tersebut mencerminkan harmoni antara kearifan lokal dan inovasi pemuda masa kini.

Tidak hanya sekadar menampilkan dekorasi visual, booth Desamind juga menghadirkan beragam aktivitas interaktif yang melibatkan partisipasi pengunjung.

Melalui kegiatan “Wall of Hope: Pesan untuk Desa, pengunjung diajak menempelkan pesan-pesan inspiratif untuk pemuda desa di nampan harapan. Selain itu, ada Mini Game “Roda Desa”  kuis interaktif seputar isu desa dan SDGs, di mana pemenang berkesempatan membawa pulang eco-friendly merchandise.

Area Photo Spot dengan properti khas Desamind dan latar sayur mayur menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk mengabadikan momen. Tak ketinggalan, Desamind juga menggelar Live Talk Session (Mini Sharing) berdurasi 10 menit setiap jamnya, menghadirkan relawan Desamind yang berbagi kisah nyata inspiratif dari lapangan.

Pencapaian ini tentu tidak lepas dari kolaborasi aktif antara Desamind Indonesia, Desamind Farm dan Desamind Chapter Bogor, yang bersama-sama menyalakan semangat gotong royong dan inovasi dari akar rumput. Kolaborasi tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di balik layar karena Desamind percaya bahwa jarak bukanlah alasan untuk tidak bisa berkontribusi.

Gambar 3 Kondisi Booth Desamind Indonesia (doc desamind.id)

Selain sayur-sayuran,  Desamind juga membawa produk Kokedama dari Kelompok Tani Hutan Bodogol Kampung Hoya, mitra Desamind Farm di Desa Benda, Kabupaten Sukabumi. Kokedama sendiri adalah seni menanam tanaman hias asal Jepang yang menempatkan tanaman dalam bola lumut tanpa menggunakan pot.

Dita Apriyani, Project Manager Bidang Pertanian Desamind Farm meskipun tidak berada di lokasi, turut mengoordinasikan kegiatan dari jarak jauh. Ia menyampaikan rasa syukurnya atas capaian ini.

“Ini menjadi salah satu penutup tahun yang manis, dengan semangat dan harapan baru untuk gerak Desamind di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.

Keberhasilan Desamind di ajang nasional ini menjadi babak baru untuk terus berbenah dan memperkuat sinergi, sekaligus menjadi pengingat atas peran besar pemuda masa kini. Di mana pun pemuda menapakkan kaki, di sanalah sejatinya tanggung jawab sosial harus dijalankan. Desamind, Ingat Bangsa! Ingat Desa!

Penulis : Putri Aulia Pasa

Editor : Syifa Adiba

Kertonatan Leadership Camp Dorong Semangat Inovasi dan Kewirausahaan Sosial Pemuda Desa

By Berita Terkini, Press Release

Sukoharjo –  (26/10) Pusat Studi Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta (Puswirasos UMS) berkolaborasi dengan Desamind Indonesia menggelar Kertonatan Leadership Camp di Balai Desa Kertonatan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

Kegiatan ini mengusung tema “Peningkatan Kepedulian dan Kapasitas Pengembangan Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial Pemuda Kertonatan” yang bertujuan untuk mendorong semangat kewirausahaan dan kewirausahaan sosial pemuda desa, memperkuat kolaborasi antar-pemuda dan pelaku usaha, serta menghasilkan aksi nyata yang berkelanjutan.

Hadir sebagai narasumber, Soepatini, Ph.D, Ketua Puswirasos sekaligus Dosen Manajemen FEB UMS, menekankan pentingnya partisipasi aktif dan kepeloporan pemuda dalam pembangunan desa. Menurutnya, pemuda harus berani mengambil peran, karena dari desa lah muncul potensi dan solusi atas berbagai tantangan ekonomi maupun sosial. 

“Sebagai pemuda yang akan melanjutkan perjuangan dari desa, mari bersama-sama memberi dampak nyata. Masa depan negara ada di kalian” jelas Soepatini, alumnus Birmingham City University, United Kingdom.

Sesi berikutnya diisi oleh Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE, Dosen PTI UMS sekaligus President Director Desamind Indonesia. Dalam materi bertajuk Networking, Dinamika Kelompok, Brief Leadership Development, dan Design Thinking Projek Pedesaan, ia mendorong pemuda untuk memiliki pola pikir kreatif dan kolaboratif dalam membangun desa.

Lebih lanjut, para peserta juga diberikan perspektif tentang pengembangan proyek kewirausahaan sosial yang dapat dikelola secara mandiri oleh pemuda desa. Materi ini disampaikan Zakky Muhammad Noor, S.E., Director Desamind Farm dan LPM Equator. 

“Kewirausahaan sosial bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang menciptakan solusi bagi masyarakat. Pemuda harus mampu melihat potensi lokal sebagai peluang untuk berdaya,” ungkap Zakky.

Turut hadir pula Dra. Kusnarti, tokoh lingkungan sekaligus penggerak Bank Sampah Desa Kertonatan, yang memberikan apresiasi terhadap semangat pemuda dalam mengembangkan ide-ide sosial dan ramah lingkungan.

Gambar 1. Pemaparan dari Dra. Kusnarti

Selain sesi materi, peserta mengikuti Finishing Ide Project dan Presentasi Hasil Proyek Pedesaan yang menjadi puncak kegiatan. Fasilitator kegiatan ini terdiri dari Imam Riefly Aditomo, S.M., M.B.A, Putri Linggasari Sofi, S.M., M.M, Ahmad Zamzami, S.Ag, dan Ahmad Luthfi, S.Pd. Dalam sesi ini, peserta menampilkan berbagai gagasan inovatif, mulai dari pengelolaan sampah terpadu, pertanian berkelanjutan, hingga produk kewirausahaan berbasis potensi lokal.

Kepala Desa Kertonatan, Winarto, menyampaikan rasa bangganya terhadap semangat kolaboratif yang ditunjukkan oleh para peserta.

“Kegiatan ini sangat positif. Pemuda perlu difasilitasi agar bisa berinovasi dan ikut berperan dalam pembangunan desa. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu peserta, Hafida Sari, mengungkapkan bahwa pelatihan ini membantu pemuda memahami cara mengembangkan potensi desa dengan pendekatan sosial dan wirausaha.

“Materinya membuka wawasan kami untuk melihat peluang di sekitar dan mengubahnya menjadi program yang bermanfaat,” ungkapnya.

Gambar 2. Presentasi Hasil Proyek Pedesaan

Melalui kegiatan Kertonatan Leadership Camp, kolaborasi antara UMS dan Desamind Indonesia diharapkan dapat melahirkan generasi muda desa yang kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Semangat kolaboratif yang tumbuh dalam kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan sosial yang berkelanjutan di Desa Kertonatan dan sekitarnya.

Author : Ahmad Zamzami

Editor : Putri Aulia Pasha

Desamind Chapter Magelang Dorong Pemberdayaan Perempuan Desa lewat Program Public Speaking KWT Permai Tani

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Magelang – (21/10) Desamind Chapter Magelang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pemberdayaan perempuan desa melalui peningkatan kapasitas komunikasi dengan menyelenggarakan Public Speaking KWT Permai Tani. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum sekaligus membangun rasa percaya diri anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Permai Tani, Desa Gandusari.

Mengusung tema “Bangun Percaya Diri, Tingkatkan Potensi Diri,” kegiatan Public Speaking KWT Permai Tani dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama digelar pada Minggu, 31 Agustus 2025, dan tahap kedua pada Minggu, 21 September 2025. Kedua kegiatan berlangsung di Markas KWT Desa Gandusari, Kabupaten Magelang. Narasumber utama dalam pelatihan ini adalah Rahmat Subur Santoso, praktisi komunikasi yang aktif dalam pelatihan pengembangan diri, serta turut dihadiri oleh Ketua KWT, Ibu Darojatul Aliyah.

Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pembekalan teori mengenai dasar-dasar public speaking, termasuk cara membangun kepercayaan diri, menyusun pesan yang efektif, dan mengatasi rasa gugup. Sementara itu, pada tahap kedua, peserta diajak untuk berlatih berbicara langsung di depan audiens. Melalui metode praktik dan umpan balik langsung dari pemateri, anggota KWT berkesempatan mengasah kemampuan komunikasi yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk mendukung kegiatan pemasaran produk mereka.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba berbicara di depan rekan-rekannya. Salah satu peserta, Musripah, mengaku sangat terbantu dengan diadakan praktik ini.

“Pelatihan yang dilakukan kakak-kakak sangat sesuai dengan kebutuhan kami. Selama ini kami kesulitan memasarkan produk karena kurang percaya diri berbicara di depan orang. Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana menyampaikan pesan dengan baik dan percaya diri,” ujar Musripah.

Peserta lain, Choisah, juga menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

“Kami sangat berterima kasih karena melalui program ini kami jadi punya gambaran untuk melakukan pemasaran, terutama lewat media sosial. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ungkap Choisah.

Sebagai ketua pelaksana, Alif Zidan Ramadhan merasa bangga dan bersyukur atas kelancaran kegiatan ini. Baginya antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa pelatihan tersebut dibutuhkan oleh masyarakat.

“Antusiasme ibu-ibu luar biasa. Mereka aktif berdiskusi dan berlatih berbicara di depan umum. Harapannya, setelah pelatihan ini, anggota KWT lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan mampu mempromosikan produk-produk mereka secara efektif, baik secara langsung maupun melalui media digital,” jelas Alif.

Melalui program ini, Desamind Chapter Magelang berharap pemberdayaan perempuan desa tidak hanya berhenti pada pelatihan teknis, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas personal yang memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan di tingkat lokal. Langkah sederhana seperti berbicara dengan percaya diri di ruang publik menjadi awal bagi tumbuhnya kemandirian dan keberdayaan yang lebih luas di masyarakat.

Author: Ahmad Zamzami

Peluk Alam, Peluk Sesama: Desamind Chapter Solo Raya dan Sekolah Alam Aminah Tanamkan Cinta Bumi Sejak Dini

By Desamind Chapter, Press Release

Sukoharjo — (15/10) Sekolah Alam Aminah bersama Desamind Chapter Solo Raya menggelar kegiatan edukatif bertajuk “Peluk Alam, Peluk Sesama: Tangan Kecil Menanam, Bumi Besar Merasakan” di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 4 dan 5, baik dari peserta reguler maupun nonreguler, didampingi wali kelas serta guru pendamping khusus, dengan total 46 peserta.

Melalui berbagai aktivitas seperti melukis pot, fun games, hingga menanam bibit, para peserta diajak memahami bahwa mencintai alam tidak harus dimulai dari hal besar. Dari satu genggam tanah dan satu bibit kecil, mereka belajar tentang pentingnya menjaga bumi dan menghargai kehidupan di sekitar.

Kepala Sekolah Alam Aminah, Taqwa Hasma Septyaninda, S. Psi., S. Pd.I, menyambut baik terselenggaranya kolaborasi ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini memperkuat nilai kepedulian lingkungan sekaligus menanamkan tanggung jawab terhadap alam sejak usia dini.

“Kami sangat mengapresiasi gerakan Desamind Chapter Solo Raya. Anak-anak tidak hanya belajar menanam, tetapi juga belajar mencintai bumi, merawat, dan menjaga kehidupan di sekitarnya,” ujarnya.

 Gambar 1. Pengecatan Botol Bekas untuk Pembuatan Pot  (Dok. Arsip Desamind)

Addam Mufti Rohmani, S.Ak., Wali Kelas 4 Sekolah Alam Aminah, menambahkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan memiliki manfaat besar bagi tumbuh kembang siswa, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

“Pembelajaran seperti ini sangat bermanfaat. Anak-anak bisa belajar motorik, berinteraksi langsung, dan memahami konsep menjaga lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Terlebih, di sini juga banyak anak-anak unik yang butuh pendekatan belajar berbeda,” jelas Addam.

Bagi Desamind Chapter Solo Raya, kegiatan ini menjadi pengalaman yang bermakna. Selain sebagai bentuk pengabdian, kegiatan ini juga menjadi wadah pembelajaran bersama tentang nilai inklusivitas dan empati.

“Ini pengalaman pertama kami berinteraksi langsung dengan anak-anak spesial. Kami belajar banyak hal tentang kesabaran, empati, dan bagaimana membangun kegiatan yang ramah bagi semua anak,” ujar Hanan Fajri, Kepala Desamind Chapter Solo Raya.

Ia juga berharap kolaborasi ini dapat menjadi langkah awal bagi kemitraan berkelanjutan antara Desamind dan Sekolah Alam Aminah dalam menciptakan program yang berfokus pada pendidikan lingkungan dan pemberdayaan anak.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, karena anak-anak adalah generasi yang akan menentukan masa depan bumi. Menanam bagi mereka bukan sekadar aktivitas, tapi bentuk cinta terhadap kehidupan,” tutup Hanan.

 Gambar 2. Deklarasi Menjaga Bumi dengan Merawat Tanaman (Dok. Arsip Desamind)

Sebagai tindak lanjut, pot yang telah dilukis dan ditanami bibit oleh para siswa diletakkan di lingkungan sekolah. Tanaman-tanaman tersebut akan dirawat bersama sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan dan bentuk nyata menjaga bumi melalui tindakan sederhana di sekolah.

Melalui Peluk Alam, Peluk Sesama, Desamind Chapter Solo Raya dan Sekolah Alam Aminah menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari ruang belajar, dari tangan-tangan kecil yang menanam, hingga tumbuhnya kesadaran besar untuk menjaga bumi bersama.

Author: Ahmad Zamzami

Dosen Berdampak Kemdiktisaintek: Bersama Desamind, Menyalakan Harapan dan Membangun Desa untuk Indonesia

By Artikel, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta – (12/10) Melalui kiprah menginisiasi Desamind dan prestasinya sebagai dosen muda yang mampu menjembatani dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai “Dosen Berdampak”.

Bagi Hardika, penghargaan ini merupakan buah dari keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Ia selalu menanamkan nilai tanggung jawab sosial bahwa ilmu yang kita miliki tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi harus memberi manfaat bagi masyarakat. Dari kesadaran itu, Desamind terbentuk sebagai wadah kolaboratif bagi pemuda untuk belajar, mengabdi, dan mencipta perubahan nyata di desa.

“Kita tidak boleh berhenti pada teori, namun harus hadir di masyarakat, menyalakan lilin-lilin potensi di setiap desa,” tutur Hardika saat memberikan pengarahan kepada mahasiswa.

Kini, Desamind telah berkembang menjadi gerakan yang berfokus pada pemberdayaan desa. Bersama relawan muda dari berbagai daerah, Desamind menjalankan berbagai inisiatif untuk memperluas jangkauan dampaknya. Terhitung 340 kegiatan/kolaborasi terlaksana dengan jumlah keterdampakan lebih dari 27 ribu masyarakat. Hal ini menjadi bukti bahwa gerakan anak muda mampu menjembatani kampus, industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem perubahan sosial.

Gambar 1. Momen penyerahan dukungan kolaborasi antara Desamind Foundation dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (Dok. Humas UMS)

Kampus sebagai Rumah Gerakan Sosial

Keberhasilan Desamind dalam memberikan kebermanfaatan tidak terlepas dari dukungan kampus yang visioner. Bagi Hardika, Universitas Muhammadiyah Surakarta bukan sekadar tempat ia mengajar, tetapi ruang yang menumbuhkan nilai kepedulian dan empati sosial.

“Kampus harus menjadi pusat gerakan sosial, tempat di mana ide dan aksi bersatu untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Berkat kolaborasi dosen, mahasiswa dan ekosistem kampus yang aktif di berbagai lini pemberdayaan, UMS menunjukkan peran penting pendidikan tinggi sebagai katalis transformasi sosial. Sinergi ini membuktikan bahwa akademisi dapat menjadi motor perubahan yang berpihak pada masyarakat.

Dari Desa untuk Indonesia

Gerakan Desamind telah menyalakan semangat perubahan di berbagai wilayah Indonesia. Terdapat 16 Chapter Desamind dengan desa binaannya masing-masing mampu mandiri secara ekonomi dan menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain. Lebih dari sekadar program sosial, Desamind menjadi ruang belajar bersama bagi generasi muda untuk memahami makna pemberdayaan yang sesungguhnya.

Hardika meyakini, perubahan sejati dimulai dari pemberdayaan manusia. Desa bukan objek pembangunan, melainkan subjek perubahan. Prinsip inilah yang terus dijaga oleh Desamind dalam setiap langkah pengabdian mereka.

Gambar 2. Para relawan Desamind bersama pihak Paragon, Kemendiktisaintek dan Mahasiswa UMS berkomitmen melanjutkan gerakan pemberdayaan desa (Dok. Humas UMS)

Dengan semangat menyalakan lilin-lilin desa, Hardika menunjukkan bahwa kampus tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga menumbuhkan generasi pemberdaya. Dari ruang kelas hingga pelosok desa, ia membuktikan bahwa pendidikan dan pengabdian dapat berjalan beriringan untuk Indonesia yang lebih berdaya.

Author : Alan Ferdian Syah

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Chapter Lombok Timur dan Desa Sapit Jalin Kemitraan Strategis untuk Penguatan Potensi Lokal

By Berita Terkini, Desamind Chapter, Press Release

Lombok Timur – Desamind Chapter Lombok Timur resmi menjalin kerja sama dengan Pemerintah Desa Sapit, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai Desa Mitra Desamind Chapter Lombok Timur. Kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi lokal desa, khususnya di bidang pendidikan, pariwisata, perekonomian, dan pemberdayaan masyarakat.

Penandatanganan MoU dilaksanakan di Aula Kantor Desa Sapit pada Minggu (12/10). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Sapit, Sekretaris Desa Sapit, para kepala wilayah Desa Sapit, perwakilan Pengurus Pusat Desamind (Koordinator Wilayah 3), anggota Desamind Chapter Lombok Timur, tokoh pemuda, kader desa, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), dan para pelaku UMKM setempat.

Kerja sama ini menjadi langkah konkret Desamind Chapter Lombok Timur dalam mendukung pembangunan desa berkelanjutan. Desa Sapit dikenal memiliki kekayaan potensi budaya, sejarah, dan alam. Terletak di lereng Gunung Rinjani, desa ini juga telah berkembang sebagai desa wisata dengan beragam tradisi lokal yang masih terjaga, salah satunya Maulid Adat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Sapit, H. Sriatun, S.Pt., NL.P., menyambut baik kolaborasi yang terjalin dengan Desamind Chapter Lombok Timur. Ia mengapresiasi peran aktif pemuda dalam mendukung pembangunan desa.

“Kami mengucapkan terima kasih atas inisiatif Desamind Chapter Lombok Timur. Desa Sapit memiliki potensi alam, budaya, dan hasil pertanian yang melimpah. Namun, kami membutuhkan sentuhan inovasi, terutama dari para pemuda, agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara maksimal. Harapannya, seluruh program Desamind dapat menjangkau 11 dusun yang ada di Desa Sapit dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desamind Chapter Lombok Timur, M. Abdul Hayyi, menjelaskan bahwa pemilihan Desa Sapit sebagai Desa Mitra didasarkan pada kekayaan potensi desa, kuatnya semangat gotong royong masyarakat, serta letak geografisnya yang strategis dan berdekatan dengan kawasan wisata Sembalun yang ramai dikunjungi wisatawan lokal, nasional, hingga mancanegara.

Gambar 1. Foto Bersama Usai Penandatangan MoU (Arsip Desamind Chapter Lombok Timur)

Ia juga menyampaikan rencana pelaksanaan Desamind Leadership Camp di Desa Sapit sebagai salah satu program tahunan Yayasan Desamind. Program ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Desa Sapit sebagai destinasi wisata sekaligus menjadi ruang pengembangan kapasitas pemuda desa.

“Desamind Chapter Lombok Timur berkomitmen mendampingi Desa Sapit melalui sejumlah program prioritas, antara lain peningkatan kapasitas literasi dan pendidikan melalui taman baca serta pelatihan pemuda, pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penguatan produk unggulan UMKM desa seperti kopi, jahe, pisang, dan produk lokal lainnya,” jelas Hayyi.

Kerja sama ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan model pembangunan desa yang berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Selain itu, kolaborasi ini juga diarahkan untuk mendorong peningkatan tata kelola desa melalui pemanfaatan digitalisasi dan inovasi.

Dalam pelaksanaannya, Desamind Chapter Lombok Timur akan menjadi ujung tombak pelaksanaan program di lapangan, memastikan sinergi antara program organisasi dan kebutuhan riil masyarakat Desa Sapit.

Author: Desamind Chapter Lombok Timur

Editor: Alan Ferdian Syah / Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Susun Langkah Penyederhanaan untuk Keterdampakan Lebih Luas di Raker 6.0

By Berita Terkini

Banyumas – Desamind Indonesia sukses menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) 6.0 pada 26–28 September 2025 di Home Stay Asyik, Baturaden, Banyumas. Agenda tahunan ini mengusung tema “Semangat Penyederhanaan Menuju Keterdampakan Lebih Luas” sebagai arah gerak organisasi ke depan.

Desamind Indonesia hadir sebagai ruang kolaborasi anak muda, baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri. Berangkat dari semangat kesukarelawanan, gerakan ini mendorong lahirnya local heroes yang berdaya, mampu mengembangkan desa dengan kompetensi global, sekaligus tetap berpijak pada pemahaman akar rumput.

Kegiatan diikuti oleh anggota Desamind dari berbagai daerah di Indonesia, baik secara offline maupun online. Total terdapat 58 pengurus atau Executive of Desamind (EoD) pusat yang terlibat aktif. Fokus pembahasan mencakup tata kelola organisasi, strategi pengembangan pendanaan, serta langkah konkret untuk memperluas keterdampakan.

Zakky Muhammad Noor, Co-Founder sekaligus Managing Director Desamind Indonesia, menegaskan bahwa tahun keenam ini menjadi momentum penting bagi organisasi untuk memperkuat kontribusi nyata.

“Kita tidak ingin sekadar bertahan, tetapi benar-benar menyalurkan manfaat yang lebih luas. Di tahun keenam, Desamind akan terus bergerak dengan penyederhanaan berbagai hal namun tetap fokus pada keterdampakan di masyarakat,” ungkap Zakky.

Gambar 1. Sesi Paparan Rencana Program oleh Zakky Zakky Muhammad Noor (Arsip Desamind)

Selain forum diskusi, para peserta juga melakukan kunjungan ke Wisata Alam Jenggala di Baturaden. Kegiatan lapangan ini memberikan perspektif langsung tentang bagaimana potensi wisata alam dapat dikelola secara berkelanjutan sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar. Melihat potensi tersebut, Desamind berharap dapat mengambil inspirasi untuk merancang program-program desa mitra ke depan.

“Kita belajar langsung bagaimana potensi wisata bisa menjadi pintu masuk pemberdayaan masyarakat. Ini sejalan dengan semangat Desamind yang selalu berpijak pada kebutuhan lokal,” tambah Zakky.

Sebelum memasuki sesi penutupan, peserta juga mengikuti fun games yang dirancang untuk memperkuat kerja sama tim, melatih komunikasi efektif, dan menciptakan suasana cair di antara para anggota. Aktivitas ini menjadi momen penting untuk membangun keakraban antardivisi serta mempererat kekompakan sebelum menjalankan program satu tahun ke depan.

Momen ini juga menjadi pengalaman berharga bagi anggota baru Desamind. Ersa Mauliza, Divisi Creative Media, mengungkapkan kebanggaannya bisa menjadi bagian dari keluarga besar Desamind.

“Saya bangga bisa bergabung dengan Desamind. Visi dan misinya benar-benar menyasar ke akar rumput, dan saya ingin ikut ambil bagian dalam menciptakan dampak yang nyata,” tutur Ersa.

Gambar 2. Kunjungan Lapangan ke Wisata Alam Jenggala (Arsip Desamind)

Melalui Raker 6.0, Desamind Indonesia berharap dapat memperkuat sinergi internal, meningkatkan efektivitas tata kelola, dan melahirkan strategi program yang sederhana namun berdampak signifikan.

Semangat penyederhanaan yang diusung bukan berarti mengurangi kualitas, melainkan mempertegas arah organisasi agar fokus pada esensi serta menghadirkan perubahan sosial yang terukur, nyata, dan berkelanjutan.

Author: Ahmad Zamzami

Editor: Putri Aulia Pasha