"Indonesia Tidak akan Besar karena Obor di Jakarta, Tapi Indonesia akan Bercahaya karena Lilin-lilin di Desa" - Bung Hatta
“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali" - Tan Malaka
Jakarta – Desamind Indonesia berkesempatan terpilih dalam agenda Pitch Dating with CSR, salah satu rangkaian utama Turun Tangan Festival 2025 yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada (7/12). Kegiatan ini menjadi ruang temu antara komunitas penggerak sosial dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki fokus pengembangan program Corporate Social Responsibility (CSR).
Tidak sekadar sesi pitching, forum ini juga menjadi ruang diskusi untuk menyamakan nilai, mendengarkan kebutuhan lapangan, dan memperjuangkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat.
Desamind Indonesia diwakili oleh Dinda Berlian dan Luthfia Octaviani dari Public Relation Division. Kehadiran Desamind dalam forum ini menjadi kesempatan strategis untuk memperluas jejaring, memperkenalkan program pemberdayaan desa, serta menjajaki peluang kolaborasi dengan berbagai lembaga CSR.
Gambar 1. Dinda Berlian Presentasi dengan CSR dalam Sesi One on One
Dinda Berlian menyampaikan bahwa kesempatan ini membuka jalan bagi Desamind untuk memperluas dampak program pemberdayaan desa.
“Bertemu langsung dengan CSR nasional membuat kami optimis bahwa kolaborasi nyata bisa terwujud. Banyak perusahaan menunjukkan ketertarikan pada isu pemberdayaan desa dan pendidikan. Ini peluang besar bagi Desamind,” ungkap Dinda.
Sementara itu, Luthfia Octaviani juga menambahkan bahwa Turun Tangan Festival memberi ruang bagi komunitas untuk menunjukkan kerja sosial yang selama ini dilakukan.
“Pitch Dating with CSR membantu kami melihat bagaimana ide yang lahir dari kebutuhan nyata di lapangan terus didorong oleh banyak pihak. Dari dialog singkat ini, kami percaya bahwa dampak kolaboratif akan menjangkau lebih banyak penerima manfaat,” ujar Luthfia.
Acara ini menghadirkan enam lembaga CSR nasional, yaitu Nice Global, Filantropi Indonesia, Hub UMK PLN Jakarta Raya, Plan Do See Indonesia, CSR Astra, dan Forum CSR Jakarta. Mereka terlibat aktif berdialog dengan komunitas terpilih untuk menggali potensi kolaborasi.
Selain Desamind Indonesia, terdapat 18 komunitas atau organisasi lainnya, yaitu Sasambo Youth Education, Millennials Empowerment, Kampung Kolektif, DDV Banten, Garut Creativepreneur Community, Kriya Kite Indonesia, The Local Enablers, Yayasan Dari Hati, Safari Nagari, DDV Bandung, SehariBeraksi, Komunitas Teman Tumbuh Kembang, Indonesia Membaca, Komunitas Yuk Belajar Seni, Schole Fitrah, Desamind Indonesia, Eco Ranger, Bank Sampah Seribu Generasi, dan AOA (Anak Online Abah).
Seoul, Korea Selatan – (6/12) Desamind Indonesia kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional melalui keterlibatan dua perwakilannya, Yulia Susanti (Director of Scholarship Division) dan Kintan Nur Romadhona (Koordinator Wilayah Chapter Division) dalam tim kolaborasi inovasi bersama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan tiga universitas ternama Australia: University of Melbourne, Monash University, dan University of Queensland. Kolaborasi lintas negara ini berhasil meraih Gold Medal dan Special Award dari Vietnam Fund for Supporting Technology Creations (VIFOTEC) pada ajang bergengsi Seoul International Invention Fair (SIIF) 2025 yang diselenggarakan pada 3–6 Desember di Seoul.
Dalam kompetisi tersebut, tim menampilkan proyek inovatif berjudul “HerbsWise: Immersive Journey of Indonesian Medicinal Plants Wisdom Integrated with Wellness Education to Combat Top Nation’s Priority Diseases.” Proyek ini memanfaatkan teknologi Virtual Reality(VR) untuk menghadirkan eksplorasi imersif mengenai kekayaan tanaman herbal Indonesia yang dipadukan dengan edukasi kesehatan guna meningkatkan literasi masyarakat tentang peran tanaman herbal dalam pencegahan penyakit prioritas nasional.
Yulia Susanti menuturkan, keterlibatan Desamind Indonesia menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa nilai-nilai edukatif, budaya, dan kebermanfaatan sosial tetap terintegrasi dalam proyek yang digarap lintas negara tersebut.
“Bisa mewakili Desamind dalam kolaborasi internasional ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar bagaimana teknologi dapat digunakan untuk melestarikan kearifan lokal. Prestasi ini bukan hanya kemenangan tim, tetapi bukti bahwa anak muda Indonesia mampu bersaing di panggung dunia,” ujar Santi.
Meski berada dalam negara dan zona waktu yang berbeda, kolaborasi tetap berjalan intens dan produktif. Pengalaman ini menunjukkan bahwa batas geografis tidak menghalangi semangat inovasi lintas budaya.
Gambar 1. Tim “HerbsWise: Immersive Journey of Indonesian Medicinal Plants Wisdom Integrated with Wellness Education to Combat Top Nation’s Priority Diseases.
Dari Australia, Desi Puti Andini, Mahasiswa Master Data Science, Monash University mengungkapkan kebanggaanya bisa berinovasi bersama-sama dan menciptakan temuan yang bermanfaat.
“Sangat bangga dapat berkolaborasi dengan mahasiswa UMS dan Desamind menciptakan temuan yang luar biasa. Proyek ini berjalan harmonis meski kami bekerja dari benua yang berbeda,” tutur Desi.
Keberhasilan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran anggota tim yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, baik dari Indonesia maupun Australia. Adapun anggota Tim Kolaborasi Indonesia–Australia meliputi:
Vio Arvendha (PTI UMS 2021) — Ketua Tim
Muhammad Isnani K (PTI UMS 2022)
Kintan Nur Romadhona (Biotechnology, University of Queensland; Desamind Indonesia)
Citra Cahyati (Public Health, University of Melbourne)
Nada Fadilah (Agribusiness, University of Queensland)
Nadia Yasmine (Public Health, University of Queensland)
Yulia Susanti (Desamind Indonesia)
Pembimbing inovasi yang juga Dosen UMS sekaligus Founder Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.ITE, turut memberikan apresiasi atas pencapaian prestasi ini.
“Alhamdulillah, prestasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas negara dapat melahirkan inovasi berskala global. Semoga pencapaian ini menginspirasi lebih banyak mahasiswa dan pemuda Indonesia untuk berani berkolaborasi dan berkarya,” pungkas Hardika.
DESAMIND.ID – Monitoring dan Evaluasi (Monev) 1 Desamind Chapter Periode 2025/2026 resmi dilaksanakan pada Rabu (19/11/2025). Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh seluruh perangkat Desamind Chapter dari berbagai daerah: Asmat, Bogor, Majalengka, Soloraya, Magelang, Purbalingga, Yogyakarta, Gunungkidul, Malang, Pasuruan, Lombok Timur, dan Maros.
Monev tahun ini mengangkat tema: “Tumbuh dari refleksi, bergerak dengan aksi, menata ulang langkah, dan menguatkan gerak.” Tema tersebut menjadi pengingat bahwa setiap langkah pembangunan desa harus dimulai dari refleksi yang jujur, aksi yang konsisten, serta komitmen untuk terus menyalakan cahaya kebaikan di desa mitra seluruh Indonesia. Harapannya, momentum ini menjadi titik balik agar tiap chapter semakin kuat, progresif, dan berdampak nyata.
Gambar 1. Dokumentasi penyampaian laporan divisi
Acara monev pertama Desamind Chapter dibagi menjadi tiga; pembukaan, pelaksanaan monev, dan penutup. Acara dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Nur Kholifah selaku Vice Director Chapter Division Desamind sekaligus Ketua Panitia Monev. “Monev bukan hanya ruang evaluasi, tetapi juga ruang silaturahmi, ruang refleksi bersama, dan ruang untuk memperbaiki niat dalam perjalanan gerakan Desamind”, ucap Nur Kholifah. Lanjutnya lagi, ia berharap bahwa setelah monev ini, setiap chapter membawa energi baru untuk terus menguatkan desa mitra masing-masing.
Adapun pelaksanaan Monev dilakukan dengan cara membagi peserta ke dalam breakout room. Sesi diskusi berlangsung selama kurang lebih 45 menit dengan menyampaikan capaian dan tantangan chapter, pendalaman kondisi bersama auditor, dan penyusunan Permasalahan, Tindakan, Penanggung Jawab, Penyelesaian (PTPP).
Gambar 2. Dokumentasi Penutup Monev 1 Desamind Chapter 2025/2026
Setelah sesi diskusi, peserta kembali ke main room dan melakukan penutupan, yang ditandai dengan ucapan terima kasih dari Chapter Division Desamind dan melakukan foto bersama. Harapannya, hasil Monev tidak berhenti sebagai laporan, tetapi benar-benar menjadi pijakan untuk memperkuat strategi dan arah gerak Desamind Chapter ke depan. Mari terus merawat gerakan, menyalakan cahaya dari desa ke desa, dan bersama-sama menghadirkan perubahan yang nyata untuk Indonesia.
Yogyakarta – Desamind Indonesia berhasil terpilih sebagai Top 20 komunitas dalam Program Monitoring ActWISE+ Leadership Café 2025, sebuah inisiatif pengembangan kapasitas pemuda yang diinisiasi oleh Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA).
Keberhasilan ini menempatkan Desamind sebagai salah satu komunitas yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam mendorong gerakan sosial berlandaskan integritas, nilai, dan kepemimpinan etis.
ActWISE+ Leadership Café dilaksanakan dalam dua skema. Pertama, sesi daring pada 25 Oktober 2025 membahas mengenai struktur dan tujuan program sekaligus ruang pertemuan untuk saling mengenal antar komunitas terpilih. Kedua, sesi luring yang berlangsung dalam empat rangkaian pertemuan pada 8–29 November 2025, berisi pelatihan intensif tentang etika, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan.
Selama empat sesi luring, peserta mengikuti pembahasan yang dirancang saling terhubung dan membangun pemahaman komprehensif tentang nilai dan etika dalam kepemimpinan generasi muda dengan rincian:
Sesi pertama mengangkat tema “Values in Action – Everyday Ethics”, membedah bagaimana nilai dan dilema etis muncul dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam organisasi.
Sesi kedua, “Leadership in Practice: Active Listening & Conflict Resolution”, memberi ruang bagi peserta untuk mempraktikkan kemampuan mendengar aktif serta menyelesaikan konflik secara dewasa dan konstruktif.
Sesi ketiga, peserta diperkenalkan pada “WISE+ Ethical Decision-Making Tool”, sebuah kerangka untuk mengambil keputusan secara etis, terstruktur, dan mempertimbangkan dampak sosial.
Sesi keempat, “Designing Projects with WISE+”, di mana tiap komunitas diminta merancang proyek sosial berbasis nilai menggunakan pendekatan WISE+.
Dalam kesempatan ini, Desamind Indonesia mendelegasikan Abdul Aziez, Director of Chapter Division dan Alwi Dwi Rahmadi, Associate of Chapter Division, untuk mengikuti seluruh rangkaian program.
Menurut Alwi, pengalaman mengikuti ActWISE+ menjadi refleksi penting bagi tim Desamind.
“Program ini memberi banyak pelajaran tentang etika, pilihan dalam kepemimpinan, dan cara mengambil keputusan secara lebih bijak. Kami mendapat banyak perspektif baru, dan ini memperkuat komitmen Desamind untuk terus bergerak dengan nilai dan integritas,” ujarnya.
Gambar 1. Delegasi Desamind Indonesia bersama Para Peserta ActWISE+ Leadership Café 2025
Lebih lanjut, Aziz juga mengungkapkan bahwa program ActWISE+ Leadership Café 2025 tidak hanya menawarkan pembelajaran teknis, tetapi juga mempertegas pentingnya fondasi nilai dalam gerakan sosial. Menurutnya, keberhasilan Desamind masuk Top 20 menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas internal serta memastikan bahwa setiap program pemberdayaan desa maupun kepemudaan dijalankan dengan pertimbangan etika dan keberlanjutan.
“Keterlibatan Desamind dalam program ini menegaskan bahwa gerakan pemuda Indonesia mampu tumbuh melalui kolaborasi, ruang dialog yang terbuka, dan kemauan untuk membangun perubahan dengan cara yang lebih bermoral dan berkesadaran nilai,” pungkas Aziez.
Jakarta – Desamind Indonesia turut hadir dalam Rapat Koordinasi Jaringan Beasiswa yang dilaksanakan pada Selasa, 25 November 2025, di Ruang Rapat Lantai 14, Gedung Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI). Forum ini diselenggarakan oleh Komite Pesta Beasiswa Indonesia bersama Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia, dengan agenda utama membahas penetapan pelaksanaan Pesta Beasiswa Rakyat Indonesia 2025 serta perkembangan penyusunan Katalog Beasiswa Indonesia Edisi 2.
Desamind Indonesia diwakili oleh Nazwa Khoerunnisa, Vice Director of Scholarship. Dalam rapat tersebut, para peserta membahas dua opsi pelaksanaan Pesta Beasiswa Indonesia, yaitu 11–12 Desember 2025 di Kompleks MPR/DPR/DPD RI, serta 24–25 Januari 2025 di Kompleks Gedung Setwapres RI. Diskusi difokuskan pada kesiapan teknis dan tingkat keterlibatan lembaga beasiswa.
Forum menyepakati perlunya attendance confirmation form yang harus diisi paling lambat 27 November 2025 sebagai dasar penetapan final. Meski demikian, preferensi peserta mulai mengerucut pada opsi 11–12 Desember 2025.
Terkait penyusunan Katalog Beasiswa Indonesia Edisi 2, peserta rapat diinformasikan bahwa formulir pengumpulan data telah dibuka dan dapat diisi hingga 5 Desember 2025. Katalog ini akan memuat informasi beasiswa dari pemerintah, lembaga swasta, yayasan, hingga organisasi kemasyarakatan di seluruh Indonesia.
Nazwa Khoerunnisa menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga untuk memperluas akses informasi beasiswa bagi masyarakat.
“Desamind menyambut baik upaya bersama ini. Kerja kolaboratif seperti inilah yang diperlukan agar informasi beasiswa dapat tersampaikan secara merata, akurat, dan mudah diakses oleh anak muda di seluruh Indonesia,” ujar Nazwa.
Ia juga menambahkan bahwa keberadaan katalog nasional akan membantu menyatukan berbagai sumber informasi beasiswa yang selama ini tersebar di banyak platform.
“Katalog nasional menjadi langkah strategis untuk menghadirkan pusat data beasiswa yang terpadu. Ini akan sangat membantu pelajar dan mahasiswa dalam menentukan peluang pendidikan mereka,” tambahnya.
Rapat yang menghadirkan perwakilan dari berbagai lembaga, termasuk Rumah Zakat, GoStudy, StudiLanjut, LAZ, MetroTV, serta mitra lainnya, ditutup dengan penegasan tindak lanjut dan pengumpulan data katalog edisi terbaru.
Pasuruan – Desamind Chapter Pasuruan sukses menyelenggarakan Rapat Kerja Tahunan pada Minggu (5/10/2025) di Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Dihadiri 12 perwakilan divisi, kegiatan ini menetapkan program kerja strategis untuk setahun ke depan, dengan fokus utama pada pengembangan Desa Tambaksari.
Salah satu hasil kunci Raker adalah peluncuran empat program unggulan, termasuk Tambaksari Digital Journey yang berfokus pada digitalisasi potensi desa. Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Pelaksana, Ridha Ritama Trisani.
“Saya selaku Ketua Pelaksana, berterima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan Raker ini. Mari kita jadikan Rapat Kerja ini sebagai momentum untuk memantapkan diri dalam membawa Desamind Chapter Pasuruan mengangkat Desa Tambaksari menjadi desa yang lebih baik lagi,” ujar Ridha.
Sambutan berikutnya diberikan Wawan Darmawan selaku Kepala Desa Desamind Chapter Pasuruan, “Mari kita manfaatkan Raker ini untuk sharing ide-ide keren dan ngobrol nyaman. Dan setelah ini, kerjaan kita di Desa Tambaksari jadi makin on point, terasa dampaknya, dan Desamind Chapter Pasuruan bisa jadi lebih baik lagi,” ujar Wawan.
Memasuki kegiatan inti, setiap divisi mempresentasikan program kerjanya, kemudian saling memberikan saran dan tanggapan untuk memperjelas programnya. Rapat diakhiri dengan diskusi Badan Pengurus Harian (BPH) yang membahas serta menetapkan program kerja yang telah disepakati bersama.
Tahun ini terdapat empat program utama yang akan dijalankan, yakni Tambaksari Digital Journey, Sosmed Academy: Cerdas Branding Digital, Betari (Belajar Tambaksari Asri), dan Agri Edukita.
TambaksariDigital Journey: Inisiatif pemasaran digital untuk memperkenalkan potensi wisata, budaya, dan kehidupan masyarakat Desa Tambaksari melalui platform media sosial dan konten visual menarik.
Sosmed Academy: Cerdas Branding Digital : Pelatihan dengan narasumber ahli untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, kreativitas, desain grafis, dan strategi konten digital.
Betari (Belajar Tambaksari Asri): Kegiatan belajar seru dengan suasana menyenangkan melalui permainan edukatif.
Agri Edukita: Program edukasi pengelolaan sampah agar dapat dimanfaatkan menjadi pupuk, pakan ternak, atau produk lainnya.
Selain empat program utama tersebut, terdapat pula program pendukung dari Divisi Internal, yaitu Makrab dan Internal Awarding. Kedua kegiatan ini bertujuan menciptakan lingkungan internal yang aktif, suportif, serta mendorong pengembangan diri secara personal maupun profesional agar lebih siap terjun dalam kegiatan sosial dan edukasi masyarakat.
Selain itu, Divisi Media dan Informasi juga menetapkan empat kegiatan, yaitu peringatan hari besar nasional dan hari besar Islam, publikasi after event untuk memperkuat citra organisasi, penyebaran informasi desa mitra melalui program FYI di media sosial, serta Podmind, yakni program podcast yang menghadirkan berbagai narasumber dengan topik menarik bagi audiens internal maupun eksternal.
Kemudian, dari Divisi Kewirausahaan terdapat program Branding Produk UMKM sebagai bentuk promosi digital untuk memperkenalkan potensi produk-produk lokal di Desa Tambaksari melalui platform media sosial. Sementara itu, Divisi Eksternal juga akan menjalankan tiga program, yaitu Sinau Bareng Chapter, studi banding dengan chapter lain untuk berbagi praktik dan pengelolaan organisasi, serta Cooler (Cooperation with Stakeholder) yang berfokus pada kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan sesuai kebutuhan program kerja Desamind Chapter Pasuruan, termasuk portal Desamind untuk publikasi berita kegiatan.
Meski sempat tertunda, Rapat Kerja Tahunan Desamind Chapter Pasuruan berjalan lancar dan penuh semangat Melalui penetapan program ini, organisasi berharap dapat memperkuat sinergi antardivisi, memperluas dampak sosial pengembangan Desa Tambaksari, serta meneguhkan komitmen dalam mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan dan berdaya di Pasuruan.
Partisipasi anggota Desamind dalam ajang internasional ini menjadi bukti nyata bahwa gerakan sosial anak muda Indonesia mampu menembus ruang kolaborasi global. Melalui kiprah Kintan, Desamind tidak hanya berfokus pada pemberdayaan di dalam negeri, tetapi juga terus memperluas dampaknya dengan mendorong keterlibatan pemuda dalam bidang riset, inovasi, dan kewirausahaan sosial di tingkat dunia.
Gambar 1. Kintan menerima pendanaan Food Innovation Challenge di University of Queensland
Brisbane, 8 Oktober 2025 — Salah satu anggota Desamind Indonesia, Kintan, berkesempatan untuk berpartisipasi dalam Food Innovation Challenge (FIC) 2025, sebuah program pengembangan inovasi pangan yang diselenggarakan oleh University of Queensland (UQ) melalui UQ Ventures, bekerja sama dengan Australia’s Food and Beverage Accelerator (FaBA). Ajang ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan inovator muda dari berbagai universitas untuk mengembangkan ide, meneliti solusi baru, dan membangun bisnis berkelanjutan di bidang pangan dan minuman. Program ini juga menjadi titik temu lintas disiplin yang mempertemukan inovator dari berbagai latar belakang sains, bisnis, dan teknologi untuk menciptakan solusi pangan yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berdampak sosial dan ramah lingkungan.
Program tahunan ini dirancang untuk mendorong kolaborasi antara dunia akademik dan industri, menghadirkan pembelajaran langsung dari para pakar global, serta memperkuat kompetensi peserta dalam menghadapi tantangan industri pangan masa depan. Selain memperkuat kemampuan teknis, peserta juga dilatih membangun jejaring profesional dan memahami dinamika global supply chain pangan modern, sehingga siap bersaing dan berkontribusi dalam ekosistem industri berkelanjutan.
Tahun ini, Food Innovation Challenge mengusung tema “Innovating for a Better Tomorrow”, menyoroti pentingnya inovasi berkelanjutan dalam menciptakan sistem pangan yang tangguh, inklusif, dan ramah lingkungan.
Kintan menjadi salah satu peserta internasional yang mengikuti rangkaian kegiatan sejak tahap awal. Program ini diawali dengan sesi workshop dan mentoring yang berlangsung sepanjang September 2025, di mana peserta diajak untuk mengembangkan ide produk berbasis riset menjadi konsep bisnis yang siap diuji di pasar. Selama proses ini, setiap peserta juga berkesempatan melakukan validasi ide langsung kepada pelaku industri dan konsumen, sehingga setiap gagasan yang lahir benar-benar berakar dari kebutuhan nyata masyarakat global.
Melalui pendekatan berbasis desain dan riset pengguna, peserta dilatih untuk mengidentifikasi masalah nyata di sektor pangan, melakukan validasi pasar, dan mengukur dampak sosial dari inovasi yang diusulkan.
Gambar 2. Kintan bersama mentor di University of Queensland
Selama proses tersebut, Kintan dan peserta lainnya mendapatkan bimbingan langsung dari para mentor profesional dan praktisi industri ternama. Pada sesi pertama Mentor yang terlibat diantaranya adalah Saul Martinez, Anthony Jay, Cameron Turner, Alex Bell, Lilly Lim-Camacho, dan Adam Smith. Sementara pada sesi lanjutan, pendampingan diberikan oleh Justin Nugent, Josh Hemelaar, Claire Pink, Alisa Becker, Natalja Ivanova, dan Gav Parry dari tim UQ Ventures. Pendampingan lintas sesi ini tidak hanya memperkuat kemampuan teknis peserta, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri mereka untuk mempresentasikan ide di hadapan praktisi industri kelas dunia.
Melalui sesi mentoring tersebut, peserta memperoleh wawasan mendalam tentang strategi inovasi, pengembangan produk, serta peluang bisnis di industri pangan global yang terus berkembang. Hal ini memperlihatkan bagaimana universitas berperan penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan pangan dunia yang semakin kompleks dan berbasis teknologi.
Puncak kegiatan berlangsung pada Rabu, 8 Oktober 2025, di kampus University of Queensland, Brisbane, dimana seluruh tim finalis mempresentasikan hasil inovasi mereka dalam sesi Final Pitch Event. Para juri yang hadir berasal dari kalangan profesional industri dan akademisi, antara lain Lisa-Claire Ronquest-Ross, Leigh Ford, dan Chris Downs. Mereka menilai setiap ide berdasarkan aspek keberlanjutan, potensi pasar, inovasi teknologi, dan dampak sosialnya. Momen ini menjadi ajang pembuktian para inovator muda bahwa ide yang berangkat dari riset dapat dikembangkan menjadi solusi konkret yang bernilai bagi masyarakat luas.
Kintan menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya dapat menjadi bagian dari program prestisius ini. “Mengikuti Food Innovation Challenge adalah pengalaman yang luar biasa. Saya belajar bagaimana menggabungkan antara riset ilmiah dan inovasi sosial untuk menghasilkan solusi yang tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, tapi juga menjawab kebutuhan masyarakat. Selain itu, kesempatan untuk belajar langsung dari mentor-mentor dunia membuka pandangan baru tentang potensi kolaborasi lintas negara,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini memberinya pemahaman baru tentang pentingnya kolaborasi lintas budaya untuk menciptakan inovasi yang relevan dengan tantangan global.
Program Food Innovation Challenge juga dikenal sebagai ajang yang mendorong peserta untuk berpikir holistik memadukan kreativitas, riset, dan keberlanjutan dalam satu kerangka inovasi. Melalui pendekatan interdisipliner ini, peserta didorong untuk memahami hubungan antara sains pangan, kewirausahaan, dan tanggung jawab sosial. Inilah yang menjadikan FIC lebih dari sekadar kompetisi, melainkan wadah pembelajaran yang menyiapkan generasi muda menjadi inovator masa depan. Lebih dari itu, FIC juga menjadi simbol harapan baru bahwa masa depan pangan dunia dapat dibentuk oleh generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli pada keberlanjutan dan keadilan sosial.
Bagi Desamind Indonesia, keterlibatan Kintan dalam kegiatan ini menjadi kebanggaan tersendiri. Sebagai gerakan sosial yang berfokus pada pengembangan kapasitas pemuda melalui riset dan inovasi sosial, Desamind terus berupaya mendorong anggotanya untuk berkiprah secara global. Partisipasi ini menunjukkan bahwa semangat belajar dan kontribusi sosial tidak mengenal batas negara. Pengalaman yang diperoleh Kintan diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pemuda Indonesia untuk berani melangkah dan membawa gagasan mereka ke panggung internasional.Melalui langkah-langkah kecil seperti ini, Desamind menegaskan komitmennya untuk menumbuhkan ekosistem inovasi sosial yang mampu bersaing di tingkat global namun tetap berpijak pada nilai kemanusiaan.
Selain memperluas jejaring internasional, partisipasi ini juga membuka peluang bagi Desamind untuk berkolaborasi dengan institusi pendidikan dan lembaga inovasi luar negeri. Melalui pengalaman langsung seperti ini, anggota Desamind mendapatkan kesempatan untuk memahami dinamika inovasi global sekaligus mengadaptasikannya dalam konteks pembangunan sosial di Indonesia. Dengan begitu, gerakan ini tidak hanya mengembangkan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat fondasi kolaborasi antarnegara dalam upaya menciptakan inovasi yang berkeadilan dan berdampak luas.
Kintan menutup pengalamannya dengan pesan reflektif, “Bagi saya, ini bukan akhir dari perjalanan, tapi awal dari kolaborasi yang lebih luas. Saya ingin membawa semangat dan ilmu yang saya dapatkan di sini untuk dikembangkan bersama teman-teman di Indonesia agar inovasi bisa benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.” Pesan itu menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan anak muda dapat berkontribusi bagi perubahan besar, terutama ketika dijalankan dengan niat dan semangat berbagi.Keikutsertaan Kintan dalam Food Innovation Challenge 2025 menjadi bukti nyata bahwa anak muda Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari perubahan global. Melalui semangat kolaboratif dan nilai-nilai kemanusiaan yang diusung Desamind, langkah kecil ini diharapkan mampu menyalakan lebih banyak lilin harapan dari kampus di Brisbane hingga komunitas di tanah air.
Desamind.id, Jakarta (28/10) – Peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-97 tahun 2025 menjadi momentum sakral bagi Desamind Indonesia. Suara yang selama ini digaungkan di desa-desa kini bergema hingga ke jantung Ibu Kota, tepatnya di Hall Basket Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta.
Gambar 1 Penerima Penghargaan Booth Competition pada HSP ke-97 (doc desamind.id)
Desamind Indonesia berhasil meraih Juara 3 pada ajang Booth Competition yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam rangka memperingati HSP ke-97. Dalam ajang ini, Desamind Indonesia diwakili oleh Yulia Susanti, Director of Scholarship Desamind Indonesia, yang juga menerima langsung penghargaan tersebut.
“Kita buktikan bahwa suara dari desa itu nyata adanya. Wujud kecil kontribusi kami harapannya di masa depan akan menjadi transformasi pertumbuhan generasi muda dan desa,” ujar Yulia Susanti.
Mengusung tajuk “Dari Desa untuk Indonesia: Pertumbuhan Gerak Akar Rumput Wujudkan Pemuda Berdaya dan Berempati,” Desamind Indonesia menampilkan booth dengan konsep ruang interaktif yang menggambarkan semangat pemuda yang gigih, patriotik, dan penuh empati melalui kisah nyata transformasi desa.
Gambar 2 Tim Lapangan Kegiatan Booth Competition (doc desamind.id)
Booth tersebut memadukan elemen visual khas pedesaan yang ramah lingkungan (eco-friendly) dengan teknologi digital interaktif. Booth tersebut mencerminkan harmoni antara kearifan lokal dan inovasi pemuda masa kini.
Tidak hanya sekadar menampilkan dekorasi visual, booth Desamind juga menghadirkan beragam aktivitas interaktif yang melibatkan partisipasi pengunjung.
Melalui kegiatan “Wall of Hope: Pesan untuk Desa,” pengunjung diajak menempelkan pesan-pesan inspiratif untuk pemuda desa di nampan harapan. Selain itu, ada Mini Game “Roda Desa” kuis interaktif seputar isu desa dan SDGs, di mana pemenang berkesempatan membawa pulang eco-friendly merchandise.
Area Photo Spot dengan properti khas Desamind dan latar sayur mayur menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk mengabadikan momen. Tak ketinggalan, Desamind juga menggelar Live Talk Session (Mini Sharing) berdurasi 10 menit setiap jamnya, menghadirkan relawan Desamind yang berbagi kisah nyata inspiratif dari lapangan.
Pencapaian ini tentu tidak lepas dari kolaborasi aktif antara Desamind Indonesia, Desamind Farm dan Desamind Chapter Bogor, yang bersama-sama menyalakan semangat gotong royong dan inovasi dari akar rumput. Kolaborasi tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di balik layar karena Desamind percaya bahwa jarak bukanlah alasan untuk tidak bisa berkontribusi.
Gambar 3 Kondisi Booth Desamind Indonesia (doc desamind.id)
Selain sayur-sayuran, Desamind juga membawa produk Kokedama dari Kelompok Tani Hutan Bodogol Kampung Hoya, mitra Desamind Farm di Desa Benda, Kabupaten Sukabumi. Kokedama sendiri adalah seni menanam tanaman hias asal Jepang yang menempatkan tanaman dalam bola lumut tanpa menggunakan pot.
Dita Apriyani, Project Manager Bidang Pertanian Desamind Farm meskipun tidak berada di lokasi, turut mengoordinasikan kegiatan dari jarak jauh. Ia menyampaikan rasa syukurnya atas capaian ini.
“Ini menjadi salah satu penutup tahun yang manis, dengan semangat dan harapan baru untuk gerak Desamind di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Keberhasilan Desamind di ajang nasional ini menjadi babak baru untuk terus berbenah dan memperkuat sinergi, sekaligus menjadi pengingat atas peran besar pemuda masa kini. Di mana pun pemuda menapakkan kaki, di sanalah sejatinya tanggung jawab sosial harus dijalankan. Desamind, Ingat Bangsa! Ingat Desa!
Sukoharjo – (26/10) Pusat Studi Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta (Puswirasos UMS) berkolaborasi dengan Desamind Indonesia menggelar Kertonatan Leadership Camp di Balai Desa Kertonatan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.
Kegiatan ini mengusung tema “Peningkatan Kepedulian dan Kapasitas Pengembangan Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial Pemuda Kertonatan” yang bertujuan untuk mendorong semangat kewirausahaan dan kewirausahaan sosial pemuda desa, memperkuat kolaborasi antar-pemuda dan pelaku usaha, serta menghasilkan aksi nyata yang berkelanjutan.
Hadir sebagai narasumber, Soepatini, Ph.D, Ketua Puswirasos sekaligus Dosen Manajemen FEB UMS, menekankan pentingnya partisipasi aktif dan kepeloporan pemuda dalam pembangunan desa. Menurutnya, pemuda harus berani mengambil peran, karena dari desa lah muncul potensi dan solusi atas berbagai tantangan ekonomi maupun sosial.
“Sebagai pemuda yang akan melanjutkan perjuangan dari desa, mari bersama-sama memberi dampak nyata. Masa depan negara ada di kalian” jelas Soepatini, alumnus Birmingham City University, United Kingdom.
Sesi berikutnya diisi oleh Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE, Dosen PTI UMS sekaligus President Director Desamind Indonesia. Dalam materi bertajuk Networking, Dinamika Kelompok, Brief Leadership Development, dan Design Thinking Projek Pedesaan, ia mendorong pemuda untuk memiliki pola pikir kreatif dan kolaboratif dalam membangun desa.
Lebih lanjut, para peserta juga diberikan perspektif tentang pengembangan proyek kewirausahaan sosial yang dapat dikelola secara mandiri oleh pemuda desa. Materi ini disampaikan Zakky Muhammad Noor, S.E., Director Desamind Farm dan LPM Equator.
“Kewirausahaan sosial bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang menciptakan solusi bagi masyarakat. Pemuda harus mampu melihat potensi lokal sebagai peluang untuk berdaya,” ungkap Zakky.
Turut hadir pula Dra. Kusnarti, tokoh lingkungan sekaligus penggerak Bank Sampah Desa Kertonatan, yang memberikan apresiasi terhadap semangat pemuda dalam mengembangkan ide-ide sosial dan ramah lingkungan.
Gambar 1. Pemaparan dari Dra. Kusnarti
Selain sesi materi, peserta mengikuti Finishing Ide Project dan Presentasi Hasil Proyek Pedesaan yang menjadi puncak kegiatan. Fasilitator kegiatan ini terdiri dari Imam Riefly Aditomo, S.M., M.B.A, Putri Linggasari Sofi, S.M., M.M, Ahmad Zamzami, S.Ag, dan Ahmad Luthfi, S.Pd. Dalam sesi ini, peserta menampilkan berbagai gagasan inovatif, mulai dari pengelolaan sampah terpadu, pertanian berkelanjutan, hingga produk kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Kepala Desa Kertonatan, Winarto, menyampaikan rasa bangganya terhadap semangat kolaboratif yang ditunjukkan oleh para peserta.
“Kegiatan ini sangat positif. Pemuda perlu difasilitasi agar bisa berinovasi dan ikut berperan dalam pembangunan desa. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu peserta, Hafida Sari, mengungkapkan bahwa pelatihan ini membantu pemuda memahami cara mengembangkan potensi desa dengan pendekatan sosial dan wirausaha.
“Materinya membuka wawasan kami untuk melihat peluang di sekitar dan mengubahnya menjadi program yang bermanfaat,” ungkapnya.
Gambar 2. Presentasi Hasil Proyek Pedesaan
Melalui kegiatan Kertonatan Leadership Camp, kolaborasi antara UMS dan Desamind Indonesia diharapkan dapat melahirkan generasi muda desa yang kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Semangat kolaboratif yang tumbuh dalam kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan sosial yang berkelanjutan di Desa Kertonatan dan sekitarnya.
Magelang – (21/10) Desamind Chapter Magelang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pemberdayaan perempuan desa melalui peningkatan kapasitas komunikasi dengan menyelenggarakan Public Speaking KWT Permai Tani. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum sekaligus membangun rasa percaya diri anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Permai Tani, Desa Gandusari.
Mengusung tema “Bangun Percaya Diri, Tingkatkan Potensi Diri,” kegiatan Public Speaking KWT Permai Tani dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama digelar pada Minggu, 31 Agustus 2025, dan tahap kedua pada Minggu, 21 September 2025. Kedua kegiatan berlangsung di Markas KWT Desa Gandusari, Kabupaten Magelang. Narasumber utama dalam pelatihan ini adalah Rahmat Subur Santoso, praktisi komunikasi yang aktif dalam pelatihan pengembangan diri, serta turut dihadiri oleh Ketua KWT, Ibu Darojatul Aliyah.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pembekalan teori mengenai dasar-dasar public speaking, termasuk cara membangun kepercayaan diri, menyusun pesan yang efektif, dan mengatasi rasa gugup. Sementara itu, pada tahap kedua, peserta diajak untuk berlatih berbicara langsung di depan audiens. Melalui metode praktik dan umpan balik langsung dari pemateri, anggota KWT berkesempatan mengasah kemampuan komunikasi yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk mendukung kegiatan pemasaran produk mereka.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba berbicara di depan rekan-rekannya. Salah satu peserta, Musripah, mengaku sangat terbantu dengan diadakan praktik ini.
“Pelatihan yang dilakukan kakak-kakak sangat sesuai dengan kebutuhan kami. Selama ini kami kesulitan memasarkan produk karena kurang percaya diri berbicara di depan orang. Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana menyampaikan pesan dengan baik dan percaya diri,” ujar Musripah.
Peserta lain, Choisah, juga menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Kami sangat berterima kasih karena melalui program ini kami jadi punya gambaran untuk melakukan pemasaran, terutama lewat media sosial. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ungkap Choisah.
Sebagai ketua pelaksana, Alif Zidan Ramadhan merasa bangga dan bersyukur atas kelancaran kegiatan ini. Baginya antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa pelatihan tersebut dibutuhkan oleh masyarakat.
“Antusiasme ibu-ibu luar biasa. Mereka aktif berdiskusi dan berlatih berbicara di depan umum. Harapannya, setelah pelatihan ini, anggota KWT lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan mampu mempromosikan produk-produk mereka secara efektif, baik secara langsung maupun melalui media digital,” jelas Alif.
Melalui program ini, Desamind Chapter Magelang berharap pemberdayaan perempuan desa tidak hanya berhenti pada pelatihan teknis, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas personal yang memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan di tingkat lokal. Langkah sederhana seperti berbicara dengan percaya diri di ruang publik menjadi awal bagi tumbuhnya kemandirian dan keberdayaan yang lebih luas di masyarakat.
Sukoharjo — (15/10) Sekolah Alam Aminah bersama Desamind Chapter Solo Raya menggelar kegiatan edukatif bertajuk “Peluk Alam, Peluk Sesama: Tangan Kecil Menanam, Bumi Besar Merasakan” di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 4 dan 5, baik dari peserta reguler maupun nonreguler, didampingi wali kelas serta guru pendamping khusus, dengan total 46 peserta.
Melalui berbagai aktivitas seperti melukis pot, fun games, hingga menanam bibit, para peserta diajak memahami bahwa mencintai alam tidak harus dimulai dari hal besar. Dari satu genggam tanah dan satu bibit kecil, mereka belajar tentang pentingnya menjaga bumi dan menghargai kehidupan di sekitar.
Kepala Sekolah Alam Aminah, Taqwa Hasma Septyaninda, S. Psi., S. Pd.I, menyambut baik terselenggaranya kolaborasi ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini memperkuat nilai kepedulian lingkungan sekaligus menanamkan tanggung jawab terhadap alam sejak usia dini.
“Kami sangat mengapresiasi gerakan Desamind Chapter Solo Raya. Anak-anak tidak hanya belajar menanam, tetapi juga belajar mencintai bumi, merawat, dan menjaga kehidupan di sekitarnya,” ujarnya.
Gambar 1. Pengecatan Botol Bekas untuk Pembuatan Pot (Dok. Arsip Desamind)
Addam Mufti Rohmani, S.Ak., Wali Kelas 4 Sekolah Alam Aminah, menambahkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan memiliki manfaat besar bagi tumbuh kembang siswa, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Pembelajaran seperti ini sangat bermanfaat. Anak-anak bisa belajar motorik, berinteraksi langsung, dan memahami konsep menjaga lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Terlebih, di sini juga banyak anak-anak unik yang butuh pendekatan belajar berbeda,” jelas Addam.
Bagi Desamind Chapter Solo Raya, kegiatan ini menjadi pengalaman yang bermakna. Selain sebagai bentuk pengabdian, kegiatan ini juga menjadi wadah pembelajaran bersama tentang nilai inklusivitas dan empati.
“Ini pengalaman pertama kami berinteraksi langsung dengan anak-anak spesial. Kami belajar banyak hal tentang kesabaran, empati, dan bagaimana membangun kegiatan yang ramah bagi semua anak,” ujar Hanan Fajri, Kepala Desamind Chapter Solo Raya.
Ia juga berharap kolaborasi ini dapat menjadi langkah awal bagi kemitraan berkelanjutan antara Desamind dan Sekolah Alam Aminah dalam menciptakan program yang berfokus pada pendidikan lingkungan dan pemberdayaan anak.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, karena anak-anak adalah generasi yang akan menentukan masa depan bumi. Menanam bagi mereka bukan sekadar aktivitas, tapi bentuk cinta terhadap kehidupan,” tutup Hanan.
Gambar 2. Deklarasi Menjaga Bumi dengan Merawat Tanaman (Dok. Arsip Desamind)
Sebagai tindak lanjut, pot yang telah dilukis dan ditanami bibit oleh para siswa diletakkan di lingkungan sekolah. Tanaman-tanaman tersebut akan dirawat bersama sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan dan bentuk nyata menjaga bumi melalui tindakan sederhana di sekolah.
Melalui Peluk Alam, Peluk Sesama, Desamind Chapter Solo Raya dan Sekolah Alam Aminah menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari ruang belajar, dari tangan-tangan kecil yang menanam, hingga tumbuhnya kesadaran besar untuk menjaga bumi bersama.
Surakarta – (12/10) Melalui kiprah menginisiasi Desamind dan prestasinya sebagai dosen muda yang mampu menjembatani dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai “Dosen Berdampak”.
Bagi Hardika, penghargaan ini merupakan buah dari keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Ia selalu menanamkan nilai tanggung jawab sosial bahwa ilmu yang kita miliki tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi harus memberi manfaat bagi masyarakat. Dari kesadaran itu, Desamind terbentuk sebagai wadah kolaboratif bagi pemuda untuk belajar, mengabdi, dan mencipta perubahan nyata di desa.
“Kita tidak boleh berhenti pada teori, namun harus hadir di masyarakat, menyalakan lilin-lilin potensi di setiap desa,” tutur Hardika saat memberikan pengarahan kepada mahasiswa.
Kini, Desamind telah berkembang menjadi gerakan yang berfokus pada pemberdayaan desa. Bersama relawan muda dari berbagai daerah, Desamind menjalankan berbagai inisiatif untuk memperluas jangkauan dampaknya. Terhitung 340 kegiatan/kolaborasi terlaksana dengan jumlah keterdampakan lebih dari 27 ribu masyarakat. Hal ini menjadi bukti bahwa gerakan anak muda mampu menjembatani kampus, industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem perubahan sosial.
Gambar 1. Momen penyerahan dukungan kolaborasi antara Desamind Foundation dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (Dok. Humas UMS)
Kampus sebagai Rumah Gerakan Sosial
Keberhasilan Desamind dalam memberikan kebermanfaatan tidak terlepas dari dukungan kampus yang visioner. Bagi Hardika, Universitas Muhammadiyah Surakarta bukan sekadar tempat ia mengajar, tetapi ruang yang menumbuhkan nilai kepedulian dan empati sosial.
“Kampus harus menjadi pusat gerakan sosial, tempat di mana ide dan aksi bersatu untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Berkat kolaborasi dosen, mahasiswa dan ekosistem kampus yang aktif di berbagai lini pemberdayaan, UMS menunjukkan peran penting pendidikan tinggi sebagai katalis transformasi sosial. Sinergi ini membuktikan bahwa akademisi dapat menjadi motor perubahan yang berpihak pada masyarakat.
Dari Desa untuk Indonesia
Gerakan Desamind telah menyalakan semangat perubahan di berbagai wilayah Indonesia. Terdapat 16 Chapter Desamind dengan desa binaannya masing-masing mampu mandiri secara ekonomi dan menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain. Lebih dari sekadar program sosial, Desamind menjadi ruang belajar bersama bagi generasi muda untuk memahami makna pemberdayaan yang sesungguhnya.
Hardika meyakini, perubahan sejati dimulai dari pemberdayaan manusia. Desa bukan objek pembangunan, melainkan subjek perubahan. Prinsip inilah yang terus dijaga oleh Desamind dalam setiap langkah pengabdian mereka.
Gambar 2. Para relawan Desamind bersama pihak Paragon, Kemendiktisaintek dan Mahasiswa UMS berkomitmen melanjutkan gerakan pemberdayaan desa (Dok. Humas UMS)
Dengan semangat menyalakan lilin-lilin desa, Hardika menunjukkan bahwa kampus tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga menumbuhkan generasi pemberdaya. Dari ruang kelas hingga pelosok desa, ia membuktikan bahwa pendidikan dan pengabdian dapat berjalan beriringan untuk Indonesia yang lebih berdaya.
Banyumas – Desamind Indonesia sukses menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) 6.0 pada 26–28 September 2025 di Home Stay Asyik, Baturaden, Banyumas. Agenda tahunan ini mengusung tema “Semangat Penyederhanaan Menuju Keterdampakan Lebih Luas” sebagai arah gerak organisasi ke depan.
Desamind Indonesia hadir sebagai ruang kolaborasi anak muda, baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri. Berangkat dari semangat kesukarelawanan, gerakan ini mendorong lahirnya local heroes yang berdaya, mampu mengembangkan desa dengan kompetensi global, sekaligus tetap berpijak pada pemahaman akar rumput.
Kegiatan diikuti oleh anggota Desamind dari berbagai daerah di Indonesia, baik secara offline maupun online. Total terdapat 58 pengurus atau Executive of Desamind (EoD) pusat yang terlibat aktif. Fokus pembahasan mencakup tata kelola organisasi, strategi pengembangan pendanaan, serta langkah konkret untuk memperluas keterdampakan.
Zakky Muhammad Noor, Co-Founder sekaligus Managing Director Desamind Indonesia, menegaskan bahwa tahun keenam ini menjadi momentum penting bagi organisasi untuk memperkuat kontribusi nyata.
“Kita tidak ingin sekadar bertahan, tetapi benar-benar menyalurkan manfaat yang lebih luas. Di tahun keenam, Desamind akan terus bergerak dengan penyederhanaan berbagai hal namun tetap fokus pada keterdampakan di masyarakat,” ungkap Zakky.
Gambar 1. Sesi Paparan Rencana Program oleh Zakky Zakky Muhammad Noor (Arsip Desamind)
Selain forum diskusi, para peserta juga melakukan kunjungan ke Wisata Alam Jenggala di Baturaden. Kegiatan lapangan ini memberikan perspektif langsung tentang bagaimana potensi wisata alam dapat dikelola secara berkelanjutan sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar. Melihat potensi tersebut, Desamind berharap dapat mengambil inspirasi untuk merancang program-program desa mitra ke depan.
“Kita belajar langsung bagaimana potensi wisata bisa menjadi pintu masuk pemberdayaan masyarakat. Ini sejalan dengan semangat Desamind yang selalu berpijak pada kebutuhan lokal,” tambah Zakky.
Sebelum memasuki sesi penutupan, peserta juga mengikuti fun games yang dirancang untuk memperkuat kerja sama tim, melatih komunikasi efektif, dan menciptakan suasana cair di antara para anggota. Aktivitas ini menjadi momen penting untuk membangun keakraban antardivisi serta mempererat kekompakan sebelum menjalankan program satu tahun ke depan.
Momen ini juga menjadi pengalaman berharga bagi anggota baru Desamind. Ersa Mauliza, Divisi Creative Media, mengungkapkan kebanggaannya bisa menjadi bagian dari keluarga besar Desamind.
“Saya bangga bisa bergabung dengan Desamind. Visi dan misinya benar-benar menyasar ke akar rumput, dan saya ingin ikut ambil bagian dalam menciptakan dampak yang nyata,” tutur Ersa.
Gambar 2. Kunjungan Lapangan ke Wisata Alam Jenggala (Arsip Desamind)
Melalui Raker 6.0, Desamind Indonesia berharap dapat memperkuat sinergi internal, meningkatkan efektivitas tata kelola, dan melahirkan strategi program yang sederhana namun berdampak signifikan.
Semangat penyederhanaan yang diusung bukan berarti mengurangi kualitas, melainkan mempertegas arah organisasi agar fokus pada esensi serta menghadirkan perubahan sosial yang terukur, nyata, dan berkelanjutan.
Lelogama, Amfoang Selatan, Kab. Kupang, 15 September 2025 – Desamind Indonesia Foundation bersama Pi Mengajar, CT Arsa Foundation, dan Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Pengenalan Pembelajaran Computational Thinking Unplugged dan Plugged” yang dilaksanakan selama dua hari, Minggu–Senin, 14–15 September 2025, di SD Negeri 2 Lelogama, Kec. Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari perwakilan Pi Mengajar CT Arsa Foundation, Guru Muda Aat Rahmawati. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengenal dunia lebih luas melalui literasi dan teknologi.
Gambar 1. Kegiatan Membaca di Bukit samping Sekolah
Pada hari pertama, Minggu (14/9), siswa-siswi SD Negeri 2 Lelogama diajak mengikuti aktivitas literasi membaca di bukit sekitar sekolah. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 15.30 hingga 17.30 WITA ini menghadirkan suasana berbeda, di mana anak-anak belajar membaca sambil menikmati panorama alam, sehingga menumbuhkan semangat baru untuk meningkatkan budaya literasi.
Hari kedua, Senin (15/9), difokuskan pada pengenalan pembelajaran berpikir komputasional melalui metode unplugged dan plugged. Anak-anak dikenalkan pada aktivitas kreatif seperti permainan puzzle, pengenalan buah-buahan, hingga kegiatan eksperimen sederhana menggunakan perangkat makey-makey. Mereka berhasil membuat alat musik sederhana berbasis teknologi tersebut, yang sekaligus mengasah kemampuan berpikir logis, kreatif, dan problem solving.
Gambar 2. Anak-anak sedang belajar merakit Makey-Makey
Program ini didampingi oleh Dita Apriani dari Desamind Indonesia Foundation, serta dua dosen Pendidikan Teknik Informatika UMS, yaitu Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE dan Irma Yuliana, S.T., M.M., M.Eng. Kehadiran para pendamping tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga menunjukkan sinergi antara akademisi, komunitas, dan lembaga sosial dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di daerah 3T.
Hardika Dwi Hermawan, dosen Pendidikan Teknik Informatika UMS sekaligus President Director Desamind Indonesia Foundation, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program tahun sebelumnya.
“Tahun lalu kami mengenalkan literasi digital dan computational thinking kepada para guru. Tahun ini, fokusnya kami alihkan kepada siswa, agar sejak dini mereka terbiasa berpikir komputasional dan melek teknologi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi rangkaian kolaborasi dengan PKBH FH UGM yang pada Rabu, 17 September 2025, akan mengadakan penyuluhan hukum bagi para wali murid. Semoga kerja sama lintas lembaga ini terus berlanjut dan memberikan kesempatan bagi anak-anak di daerah 3T untuk tumbuh dan berkembang,” ujar Hardika.
Gambar 3. Dita Apriani dari Desamind sedang mendampingi siswa-siswi SDN 2 Lelogama
Perwakilan Desamind Indonesia Foundation menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen mendukung pendidikan dasar di wilayah terpencil Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital. Diharapkan, siswa-siswi SD Negeri 2 Lelogama dapat terus mengembangkan kemampuan literasi dan berpikir komputasional sebagai bekal masa depan.
Yth. Pendaftar Pengurus Pusat Desamind Indonesia 2025
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Kami mengucapkan terima kasih atas antusiasme luar biasa dari 306 pendaftar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri.
Berdasarkan hasil Sidang Pleno Penetapan Peserta Lolos Tahap 1 yang dilaksanakan pada Selasa, 19 Agustus 2025, Panitia Seleksi menetapkan 84 pendaftar (27% dari total pendaftar) lolos Seleksi Administrasi dan Substansi Diri.
Peserta yang lolos dapat mengikuti tahap wawancara yang akan diselenggarakan pada:
📅 Tanggal: 21–22 Agustus 2025 🕖 Waktu: 19.00 – 21.30 WIB 📍 Media: Zoom Cloud Meeting 🔗 Link Zoom: https://bit.ly/WawancaraDesamind
Daftar nama peserta dan jadwal wawancara selengkapnya terlampir dalam surat pengumuman ini.
Atas perhatian dan partisipasi Saudara, kami ucapkan terima kasih. Mari terus bersama menyalakan lilin-lilin harapan dari desa untuk Indonesia.
Hormat kami, Panitia Seleksi Pengurus Pusat Desamind Indonesia 2025 📩 official@desamind.id
Surakarta, 11 Agustus 2025 — Desamind Indonesia resmi membuka kesempatan emas bagi generasi muda yang bersemangat untuk berkontribusi dalam gerakan pemberdayaan desa melalui program Open Recruitment 2025. Ini adalah momen yang tepat bagi kamu yang ingin mengasah potensi diri sekaligus berdampak nyata bagi masyarakat.
Sebagai organisasi yang fokus pada pendidikan, pemberdayaan, dan pengembangan komunitas desa, Desamind Indonesia mencari individu kreatif, inovatif, dan memiliki semangat kolaborasi tinggi. Proses seleksi ini terbuka untuk berbagai divisi.
“Kami percaya bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil, dan langkah itu dimulai dari kamu. Melalui open recruitment ini, kami berharap dapat menemukan talenta-talenta terbaik untuk bersama membangun desa dan menciptakan perubahan positif bagi Indonesia,”.
Pendaftar akan mengikuti serangkaian tahapan seleksi, termasuk pendaftaran, wawancara dan pengumuman. Peserta terpilih nantinya akan mendapatkan pelatihan, dan kesempatan terlibat langsung dalam berbagai program atau kegiatan di Desamind.
Jangan lewatkan kesempatan ini untuk menjadi bagian dari gerakan yang membawa perubahan nyata. Mari wujudkan desa berdaya, Indonesia maju, bersama Desamind Indonesia.
Magelang – Desamind Chapter Magelang menggelar Sosialisasi Program Kerja (Proker) periode 2025/2026 dengan mengusung tema “Bersama Desa, Membangun Kapasitas Menuju Kemandirian.” Kegiatan ini dilaksanakan di Markas Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Gandusari, Kabupaten Magelang, pada Minggu (10/08).
Desamind Chapter Magelang menyampaikan empat fokus program, yaitu Integrated Farming, Public Speaking & Digital Marketing, Sharing Kemitraan, dan Benchmarking. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi, menjalin sinergi, sekaligus menyepakati bentuk kolaborasi yang akan dijalankan bersama Desa Gandusari.
Desa Gandusari dipilih sebagai desa binaan karena memiliki potensi besar di sektor pertanian serta kekuatan sosial melalui KWT yang aktif dan solid. Komitmen pemerintah desa dalam mendorong inovasi serta pemberdayaan masyarakat juga menjadi alasan penting bagi Desamind Chapter Magelang menjalin kemitraan strategis.
Mustofa Kamal, Kepala Desa Gandusari, turut hadir memberikan sambutan sekaligus dukungan di hadapan para anggota KWT dan perangkat desa.
“Kami menyambut baik inisiatif dari Desamind Chapter Magelang. Program ini harus dijalankan dengan kolaborasi lintas pihak agar konsisten dan benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat Desa Gandusari,” ujarnya.
Antusiasme tinggi terlihat dari para anggota KWT. Mereka menilai program-program yang ditawarkan relevan dengan kebutuhan sehari-hari serta membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas. Nurhidayah, salah satu anggota KWT Desa Gandusari, menyampaikan kesan positifnya.
“Kegiatan ini bermanfaat sekali, terutama terkait pertanian terpadu dan cara memasarkan produk. Semoga pendampingannya dilakukan secara berkelanjutan agar ilmu yang didapat bisa langsung kami terapkan,” ungkap Nurhidayah.
Dengan dukungan pemerintah desa dan semangat anggota KWT, Desamind Chapter Magelang berkomitmen menjadikan Desa Gandusari sebagai teladan praktik baik pemberdayaan berbasis komunitas yang berkelanjutan.
DESAMIND.ID Jakarta, 8 Agustus 2025 — Dalam upaya mendorong kolaborasi internasional untuk pengembangan desa berbasis teknologi, Desamind Indonesia melalui divisi risetnya, Desamind Research Training Centre (DRTC), turut serta dalam kegiatan Focus Group Interview (FGI) yang diselenggarakan oleh Merry Year Social Company (MYSC) dari Korea Selatan bekerja sama dengan Pijar Foundation dalam program KOICA Creative Technology Solution (CTS) Seed 0 Initiative.
Perwakilan dari Desamind, Martha Hindriyani selaku peneliti DRTC, menghadiri diskusi yang berlangsung pada Selasa, 5 Agustus 2025 di kantor Pijar Foundation, Jakarta. FGI ini dihadiri oleh perwakilan dari sektor pemerintah, LSM, dan inisiatif lokal.
Diskusi selama dua jam ini membahas peluang dan tantangan dalam mengembangkan solusi teknologi untuk desa, termasuk potensi pasar, kebutuhan lapangan, hingga strategi kolaborasi yang tepat jika perusahaan luar negeri ingin masuk ke Indonesia. Topik utama yang diangkat antara lain: pengembangan teknologi pertanian, inklusi keuangan di pedesaan, solusi ramah iklim, dan pelibatan pemuda dalam inovasi desa.
Desamind menekankan pentingnya pendekatan inovasi kolaboratif dan integrasi pengetahuan lokal agar intervensi teknologi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat desa. Dengan pengalaman dalam mendampingi pemuda dan membangun program riset komunitas di berbagai wilayah Indonesia, DRTC menawarkan model kerja berbasis kemitraan antara sektor publik, swasta, dan masyarakat. Hasil FGI ini akan menjadi dasar pengembangan rencana joint venture MYSC di Indonesia, yang berfokus pada penciptaan platform digital dan alat bantu teknologi untuk pengembangan desa yang berkelanjutan.
DESAMIND.ID, Minggu, 28 Juli 2025 — Dalam rangka mendampingi lima penerima terpilih Beasiswa Desamind 5.0 sebelum menjalankan proyek pengabdian di desa, Desamind Indonesia menyelenggarakan Kelas Pembekalan yang berlangsung selama tiga pekan secara daring. Kegiatan ini dirancang untuk membekali para awardee dengan kapasitas personal dan teknis, agar mampu mengeksekusi proyek sosialnya.
Dalam sambutannya, President Director Desamind menegaskan pentingnya orientasi pada aksi dalam kepemimpinan berbasis pengabdian. “Orang-orang yang membantu kalian itu fokus ke action-oriented, tetapi sebagai seorang leader, kalau ekspektasinya tinggi namun tidak bisa mengeksekusi sebuah project, itu tidak akan berdampak,” ujarnya. Pesan ini menjadi kerangka utama kelas pembekalan: mendorong awardee tidak hanya untuk berpikir besar, tetapi juga mampu bertindak dan menggerakkan.
Pada pekan pertama, sesi bertajuk Bite the Chunk: From Idea to Action for Social Project dibawakan oleh Reza Nurdiansyah, seorang profesional tersertifikasi dari Desain Thinkers Indonesia. Reza mengajak peserta mengembangkan gagasan mereka dengan pendekatan Design Thinking dan menyusunnya ke dalam kerangka Social Business Model Canvas. Materi ini memberikan dasar logis dan aplikatif agar ide-ide sosial yang digagas peserta bisa dikemas dalam bentuk proyek yang sistematis dan dapat diimplementasikan.
Pekan berikutnya, peserta mendalami dinamika kerja tim dalam sesi Teamwork Makes the Dream Work bersama Dimas Dwi Pangestu, Founder Trash Ranger ID. Ia menekankan pentingnya pembagian peran yang adaptif, penyusunan skala prioritas menggunakan MoSCoW Method, serta memahami karakter kepemimpinan situasional. Melalui studi kasus dan diskusi kelompok, peserta didorong memahami bahwa keberhasilan proyek sosial sangat bergantung pada kolaborasi internal yang sehat dan efektif.
Penutup kelas pembekalan diisi oleh Amsa Nadzifah, Ketua Yayasan Literasi Desa Tumbuh, dalam sesi bertajuk Link and Lead: The Power of Project Collaboration. Amsa menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memastikan keberlanjutan program. Ia menyampaikan bahwa proyek sosial yang kuat bukanlah proyek yang berjalan sendiri, melainkan yang mampu menjalin relasi dengan berbagai aktor dalam kerangka kolaborasi pentahelix. “Dengan menjalin kemitraan lintas sektor (pentahelix), kalian akan membentuk ekosistem proyek sosial yang mandiri dan berkelanjutan,” tegasnya kepada peserta.
Gambar 1. Kelas Pembekalan awardee Beasiswa Desamind 5.0
Setiap sesi dalam kelas pembekalan tidak hanya diisi dengan paparan teori, tetapi juga simulasi langsung melalui worksheet, diskusi studi kasus, serta sesi mentoring reflektif di ruang breakout. Pola ini dirancang untuk membangun pemahaman secara progresif dan berkesinambungan.
Melalui Kelas Pembekalan ini, Desamind Indonesia berharap para awardee dapat merealisasikan proyek sosial mereka dengan kesiapan, mulai dari desain program, kerja kolaboratif, hingga membangun dampak berkelanjutan dalam pelaksanaan proyek sosial yang di usung di desa yang menjadi mitranya.
Malang (27 Juli 2025) – Balai Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang menjadi saksi semangat pemberdayaan perempuan desa melalui kegiatan workshop bertajuk “Mengasah Keberanian: Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Keterampilan Komunikasi Ibu-Ibu Desa”. Acara ini diprakarsai oleh Desamind Chapter Malang sebagai bentuk kontribusi dalam penguatan kapasitas ibu-ibu desa, khususnya dalam hal pemasaran dan komunikasi.
Workshop dibuka dengan pemaparan dari Hardika Dwi Hermawan, seorang praktisi pemasaran digital sekaligus penggerak literasi teknologi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam sesi berjudul “Pemasaran Digital untuk UMKM Desa”, Hardika memperkenalkan beragam kanal digital yang dapat digunakan untuk memasarkan produk lokal, seperti WhatsApp Business, Instagram, dan platform e-commerce. Ia juga menekankan pentingnya membangun citra produk melalui foto menarik dan cerita yang mengena.
“Teknologi adalah peluang. Kita hanya perlu membiasakan diri menggunakannya agar produk ibu-ibu bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Hardika yang disambut antusias oleh peserta.
Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Ziddan Hakim Abdul Jabbar (Arsip Desamind)
Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Ziddan Hakim Abdul Jabbar dengan topik “Membangun Kepercayaan Diri untuk Memulai Berjualan Online”. Dalam paparannya, Ziddan mendorong para peserta untuk tidak ragu memulai usaha, meskipun tanpa pengalaman sebelumnya. Ia mengajak peserta melakukan praktik berbicara di depan umum dan memberikan strategi untuk mengatasi rasa minder atau malu saat harus menawarkan produk secara langsung maupun daring.
“Kepercayaan diri itu dilatih, bukan ditunggu. Mulai saja dulu, dari hal kecil, dari lingkungan sekitar,” pesan Ziddan dengan semangat.
Gambar 2. Foto Bersama Desamind Chapter Malang dengan Ibu-Ibu Peserta Pelatihan (Arsip Desamind)
Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan sesi ice breaking, relaksasi, dan foto bersama, yang semakin menghangatkan suasana kekeluargaan. Ketua Pelaksana, Anaqotul Fadillah A, menuturkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari misi Desamind untuk memberdayakan masyarakat desa melalui pendidikan yang menyenangkan dan aplikatif.
Dengan semangat “Ingat Bangsa – Ingat Desa”, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal dari perubahan positif bagi para ibu-ibu Desa Kucur dalam berwirausaha dan beradaptasi di era digital.