Skip to main content
 
 

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Beasiswa Desamind x JBS Impactpreneur 2026

 
 

"Indonesia Tidak akan Besar karena Obor di Jakarta, Tapi Indonesia akan Bercahaya karena Lilin-lilin di Desa" - Bung Hatta

 
 

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali" - Tan Malaka

1
1

Tingkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat, Desamind Indonesia bersama FHUGM Gelar Penyuluhan Hukum di Desa Ciherang

By Press Release

Bandung – Desamind Indonesia Foundation berkolaborasi dengan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) dan Pemerintah Desa Ciherang menggelar Penyuluhan Hukum Masyarakat di GOR Sauyunan, Desa Ciherang, Kabupaten Bandung pada Sabtu (8/9/2026). Kegiatan ini hadir untuk membantu warga memahami hak-hak hukum mereka serta mencari jalan keluar atas berbagai persoalan legal yang kerap dihadapi sehari-hari.

Kegiatan yang dihadiri warga, perangkat desa, dan tim Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum (PKBH) UGM ini tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membuka sesi konsultasi langsung. Harapannya, warga tidak lagi bingung saat harus berhadapan dengan urusan administrasi, sengketa lahan, maupun perizinan usaha.

Perwakilan FH UGM, Prof. Dr. Heribertus Jaka Triyana, S.H., LL.M., M.A., menyampaikan bahwa akses terhadap bantuan hukum harus bisa menjangkau masyarakat hingga ke tingkat desa. “Kesadaran hukum itu penting agar warga tahu dan bisa melindungi hak-haknya. Melalui kolaborasi ini, kami ingin mendampingi masyarakat Desa Ciherang supaya lebih paham hukum dan mampu menyelesaikan persoalan legal secara mandiri,” ujarnya.

Empat Topik Utama Penyuluhan Hukum

Penyuluhan ini menghadirkan empat pemateri yang mengulas isu-isu krusial di tingkat desa:

  • Kepemimpinan Pemuda Desa: Ari Septian, S.Pd., memaparkan pentingnya peran generasi muda sebagai penggerak perubahan dan pembangunan desa berbasis kesadaran sosial.
  • Hukum Perkawinan & Perlindungan Anak: Dr. Yulkarnain Harahap, S.H., M.Si., menyoroti aturan batas usia pernikahan minimal 19 tahun, ketahanan keluarga, serta perlindungan hukum bagi perempuan dan anak.
  • Penyelesaian Sengketa Tanah: Anggita Mustika Dewi, S.H., M.Kn., mengulas langkah penyelesaian sengketa lahan, tertib administrasi surat kepemilikan, dan cara mencegah tumpang-tindih hak atas tanah.
  • Legalitas Usaha Mikro (UMKM): Virga Dwi Efendi, S.H., LL.M., menekankan pentingnya Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pelaku usaha mikro sebagai bentuk perlindungan hukum sekaligus pintu masuk pemberdayaan ekonomi warga.

Sesi Interaktif: Konsultasi Nikah di Bawah Umur hingga Kendala NIB

Suasana penyuluhan berlangsung interaktif ketika memasuki sesi tanya jawab. Warga memanfaatkan momen ini untuk berkonsultasi mengenai persoalan hukum yang sedang mereka hadapi.

Salah satu topik yang dibahas adalah prosedur dispensasi nikah bagi calon pasangan yang belum genap berusia 19 tahun. Tim penyuluh menjelaskan alur pengajuannya ke Pengadilan Agama, sekaligus menginformasikan adanya fasilitas bantuan hukum gratis (pro bono) bagi warga kurang mampu agar pernikahan tetap tercatat sah di Kantor Urusan Agama (KUA).

Selain isu hukum keluarga, beberapa warga pelaku UMKM mengeluhkan kendala perizinan usaha, seperti akun Online Single Submission (OSS) dan NIB yang tak bisa diakses karena lupa kata sandi atau email. Menanggapi hal ini, tim pemateri memberikan panduan langkah demi langkah, mulai dari fitur pemulihan kata sandi di situs OSS, menghubungi call center DPPSP Kabupaten Bandung, hingga memanfaatkan layanan tim keliling yang berkunjung ke desa.

Gambar 1. Foto Bersama Masyarakat Desa Ciherang

Mendorong Kemandirian Hukum Masyarakat Desa

Semangat gerakan ini sejalan dengan pesan Mohammad Hatta: “Indonesia tidak akan besar hanya karena obor di Jakarta, tetapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di desa.”

Lewat kegiatan penyuluhan hukum Desa Ciherang oleh Desamind Indonesia Foundation, FH UGM, dan Pemerintah Desa Ciherang, warga diharapkan tidak hanya makin sadar hukum, tetapi juga lebih berdaya dalam menjaga keberlanjutan ekonomi dan ketertiban di desanya.

Penulis: Tim Desamind Indonesia
Editor: Yesi Rahma Mustika

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Beasiswa Desamind × JBS Impactpreneur 2026

By Beasiswa Desamind, Pengumuman

Desamind! Ingat Bangsa, Ingat Desa!

Desamind Indonesia bersama Jakarta Business School (JBS) mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti proses pendaftaran Beasiswa Desamind × JBS Impactpreneur 2026.

Setelah melalui proses seleksi dan pertimbangan oleh panitia, kami mengucapkan selamat kepada 39 peserta yang dinyatakan lolos tahap seleksi administrasi dan berhak melanjutkan ke tahapan Seleksi Esai dan Wawancara.
Bagi peserta yang dinyatakan lolos, informasi lebih detail mengenai tahapan seleksi, jadwal wawancara, serta ketentuan selanjutnya telah dikirimkan melalui email masing-masing. Oleh karena itu, peserta diharapkan untuk segera memeriksa email yang digunakan saat pendaftaran, termasuk folder Spam atau Promosi.

Kami mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang berhasil melangkah ke tahap berikutnya. Persiapkan diri sebaik mungkin dan teruslah menunjukkan semangat untuk menjadi Impactpreneur dan Local Heroes yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi desa dan masyarakat.

Berikut adalah daftar peserta yang dinyatakan lolos tahap administrasi:

NoNama LengkapSMA/SMK/MA/Sederajat
1Zaskia Atresia NadinSMK Negeri 1 Purbalingga
2Icha WijiyantiSMAS Pancabudi Medan
3Diaz Windu Haikal ArdiansyahMAS Persis Darusyifa
4MardiansyahSMK PGRI Telagasari
5Rinansyah Afif ArrozakSMA Negeri 1 Prembun
6Faila AjrinaSMK Negeri 1 Wonosobo
7Yusuf Fatihul IhsanMA Annida Al Islamy Bekasi
8Syadni Nafisa SusiloSMK Negeri 1 Klaten
9Rahma Aisyah PutriSMA Negeri 1 Sidomulyo
10NurazlinaSMAN 1 Ujungbatu
11Aqilla Septian Azzahra PutriSMA Negeri 1 Andong
12Juniestya PramataSMAN 68 Jakarta
13Alisha Putri AleydaSMAN 70 Jakarta
14Aidil FitrahMAN 1 Aceh Tenggara
15Christian Novrandi Purba SiboroSMA Swasta Methodist Tanjung Morawa
16Muhammad Fauzi AzmiPonpes Tahfidz Wadi Al-Qur’an
17Afni Aisyah SiregarMAS Assyafiiyah
18Vino Triangga PutraSMK Bhakti Husada PGRI Blora
19Karyn Zahhira SetiawanSMA Wijaya Jakarta
20Kamil SenjotoPondok Modern Darussalam Gontor
21Nur AthiyahSMA N 1 Mandirancan
22Alya Dwi NazmiInternasional Islamic Collage
23Muhammad Raffi AlfariziUmar bin Khatab Riau
24Kartini Puji RahayuMAN Lumajang
25Tika Lestari BanjarnahorSMA N 1 Onanganjang
26Dede MaulanaSMAS Astha Hannas
27Rena Febrianty AmaliaSMA Negeri 6 Tambun Selatan
28Rois Abdillah Adz DzakiyMadrasah Aliyah Negeri 1 Pati
29Ila Ifti MaulidiSMK Insan Medika Depok
30Vebi Amelia HarahapMA Robitotul Istiqomah
31Yusron Maulana Ar RizqiSMA Negeri 2 Jember
32Jandry Maklen Aditya TalleSMA PGRI 1 Ambon
33Min Iba Dika SolihinMAS Gauts Abdurrazak NW Bayan
34Alifia Khoirunisa’SMAIT Darut Taqwa
35Muhammad IrfanMAS Insan Qurani Aceh Besar
36Joas YogiSMK Negeri 1 Paniai
37Abdurrahman SudaisySMK N 3 Bima
38Melisa AnjaniSMKN 1 Simangambat
39Anis AljasyiahSMAN 1 Sumberejo

Informasi lebih lanjut terkait seleksi dapat diperoleh melalui kanal resmi Desamind Indonesia.

Selamat berjuang, Liliners!

Desamind! Ingat Bangsa, Ingat Desa!

VOLUNTALK Aksiberbagi.com: Ketika Nongkrong Menjadi Ruang Belajar Kerelawanan

By Berita Terkini, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta – Aksiberbagi.com menghadirkan ruang belajar kerelawanan melalui VOLUNTALK “Dari Pengabdian Menuju Perubahan” yang digelar pada Sabtu (15/8/2026) di Nusantara Tea House, Surakarta. Mengusung konsep diskusi santai di ruang nongkrong, kegiatan ini mempertemukan Didie Putri, Head of Remote Area CT ARSA Foundation, dan Hardika Dwi Hermawan, President Director of Desamind Indonesia Foundation, untuk berbagi pengalaman tentang pengabdian, realitas masyarakat rural, serta pentingnya membangun empati dalam menciptakan perubahan.

VOLUNTALK dikemas dalam suasana informal untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda. Melalui diskusi dan berbagi pengalaman, peserta diajak melihat kerelawanan tidak hanya sebagai aktivitas untuk membantu orang lain, tetapi juga sebagai proses belajar untuk memahami persoalan sosial, membangun kepedulian, memperluas jejaring, dan menemukan ruang untuk berkontribusi.

Gambar 1. Sesi Berbagai Pengalaman dari Para Narasumber

Dalam kesempatan tersebut, Didie Putri membagikan pengalamannya ketika terjun langsung ke berbagai wilayah rural. Pengalaman di lapangan memperlihatkan kepadanya bahwa masih terdapat masyarakat yang menghadapi persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan pangan hingga sulitnya memperoleh akses pendidikan.

Didie menceritakan pengalamannya bertemu dengan anak-anak yang hidup dalam kondisi serba terbatas. Di sejumlah wilayah, ia menemukan anak yang bahkan harus menjalani pagi hanya dengan minum kopi karena tidak memiliki makanan untuk sarapan. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan di wilayah rural tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan fasilitas, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar dan kesempatan anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Ketika kita turun ke daerah rural, kita akan melihat realitas yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Masih ada anak-anak yang kelaparan, ada yang sarapan hanya dengan minum kopi. Akses pendidikan juga sangat sulit. Dari situ kita belajar bahwa persoalan masyarakat itu sangat kompleks dan tidak bisa kita lihat hanya dari satu sisi,” ujar Didie.

Menurut Didie, pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa kerja pengabdian membutuhkan kepekaan terhadap kondisi masyarakat. Relawan tidak cukup hanya datang dengan keinginan untuk membantu, tetapi perlu memahami konteks dan kebutuhan masyarakat sebelum menentukan bentuk kontribusi yang diberikan.

Berinteraksi langsung dengan masyarakat juga membuat seseorang memahami bahwa persoalan sosial tidak selalu dapat diselesaikan melalui pendekatan yang sama. Setiap wilayah memiliki tantangan, karakter masyarakat, serta kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kehadiran di lapangan menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman sekaligus kepedulian terhadap kondisi masyarakat.

Sementara itu, Hardika Dwi Hermawan membagikan perspektif mengenai pentingnya membangun empati dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Menurutnya, kegiatan yang dikerjakan seseorang seharusnya tidak hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga memiliki dampak positif bagi orang lain.

“Ketika kita mengerjakan sesuatu, jangan hanya berpikir apa dampaknya bagi diri kita. Bangun empati, karena apa yang kita kerjakan seharusnya juga memberikan dampak bagi orang lain. Dari empati itu kita bisa memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat dan kemudian menentukan apa yang bisa kita lakukan,” kata Hardika.

Pengalaman Hardika dalam membangun gerakan kepemudaan melalui Desamind turut membentuk pandangannya mengenai peran anak muda dalam menjawab persoalan sosial. Melalui berbagai inisiatif berbasis masyarakat, Desamind mendorong generasi muda untuk mengambil peran sebagai local heroes yang mampu mengembangkan potensi di lingkungan masing-masing.

Bagi Hardika, menjadi anak muda bukan hanya tentang mengembangkan kapasitas diri. Pengetahuan, energi, dan kesempatan yang dimiliki juga dapat diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu, empati menjadi penting agar seseorang mampu melihat persoalan bukan hanya dari sudut pandang dirinya sendiri, tetapi juga dari perspektif orang lain yang terdampak.

“Menjadi anak muda bukan hanya tentang bagaimana kita berkembang untuk diri sendiri. Ada tanggung jawab sosial di dalamnya. Ketika kita memiliki pengetahuan, energi, dan kesempatan, pertanyaannya adalah bagaimana semua itu bisa kita gunakan agar orang lain juga merasakan manfaatnya,” lanjut Hardika.

Pertemuan kedua narasumber tersebut memberikan gambaran bahwa pengabdian memiliki banyak bentuk. Anak muda dapat mengambil peran melalui pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kemanusiaan, teknologi, lingkungan, maupun berbagai inisiatif lain yang berangkat dari persoalan di sekitarnya.

Konsep VOLUNTALK yang memadukan diskusi dengan ruang nongkrong menjadi salah satu pendekatan aksiberbagi.com untuk memperkenalkan isu kerelawanan melalui ruang yang lebih informal. Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan praktisi yang memiliki pengalaman di lapangan.

Gambar 2. Para Relawan Ekspedisi Merdeka Berbagi Aksiberbagi

Salah satu peserta, Silvi Aliya Sakina, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, konsep VOLUNTALK memberikan alternatif ruang bagi generasi muda untuk memperoleh pengetahuan sekaligus bersosialisasi.

“Ini adalah salah satu pendekatan yang dibutuhkan kami. Selain memang bisa nongkrong di kafe, tetapi juga dapat ilmu berbasis kerelawanan yang ternyata sangat dibutuhkan oleh generasi kami (Gen Z),” ujar Silvi.

Menurut Silvi, pendekatan tersebut membuat pembelajaran mengenai kerelawanan terasa lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Ruang informal juga memungkinkan peserta untuk berdiskusi secara lebih terbuka dan bertukar pengalaman dengan orang-orang yang memiliki perhatian terhadap isu sosial. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa proses belajar mengenai kerelawanan tidak selalu harus berlangsung dalam ruang formal. 

Percakapan, perjumpaan, dan cerita pengalaman langsung dari mereka-mereka yang sering terjun di dunia kerelawanan dapat menjadi bagian dari proses kami untuk membentuk kepedulian serta mendorong anak muda untuk mengambil peran di masyarakat,” pungkas Silvi.

Author: Ahmad Zamzami

Kolaborasi dengan Sanggar Edukasi Purbalingga, Desamind Gelar Lilin Inspirasi “Jelajah Teknologi, Temukan Potensi”

By Berita Terkini, Press Release

Purbalingga – Desamind Indonesia berkolaborasi dengan Sanggar Edukasi Purbalingga menyelenggarakan Lilin Inspirasi  “Jelajah Teknologi, Temukan Potensi” pada Sabtu (1/8) di Sanggar Edukasi Karang Petir, Purbalingga. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar berbasis teknologi bagi 48 anak jenjang kelas 1 hingga kelas 6 sekolah dasar sebagai upaya menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan literasi digital sejak dini.

Selama 2,5 jam, para siswa belajar terkait pemanfaatan teknologi secara bijak, pembelajaran interaktif yang menyenangkan, mencoba teknologi Virtual Reality (VR), hingga bereksperimen menggunakan Makey-Makey sebagai media belajar kreatif. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak diajak memahami bahwa teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri.

Gambar 1. Anak-Anak Mencoba VR dan Makey-Makey

Sesi inspiratif ini diisi oleh para akademisi dan penerima berbagai program beasiswa dari beragam latar belakang keilmuan, yaitu Hardika Dwi Hermawan (Dosen Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Penerima Beasiswa LPDP, Master of Information Technology in EducationUniversity of Hong Kong), Alwy Ahmed (Mahasiswa Internasional asal Kenya, Universitas Muhammadiyah Surakarta), Ari Septian (Penerima Beasiswa LPDP, Magister Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Ahmad Zamzami (Penerima Beasiswa LPDP, Magister Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret), Anisa Amalia (Penerima Beasiswa Universitas Sebelas Maret, Magister Pendidikan Bahasa Inggris), Ahmad Luthfi (Magister Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta), serta Abyan Wardhana (Penerima Beasiswa S1 Teknik Komputer, Telkom University).

Kehadiran rekan-rekan Desamind tidak hanya memperkenalkan berbagai teknologi kepada anak-anak, tetapi juga membagikan kisah perjalanan pendidikan mereka. Melalui cerita tersebut, anak-anak Sanggar Edukasi didorong untuk berani bermimpi, terus belajar, serta memanfaatkan teknologi secara positif sebagai bekal menghadapi masa depan.

Sanggar Edukasi Purbalingga merupakan ruang belajar gratis yang didirikan oleh Sherly sebagai bentuk kepeduliannya melihat masih banyak anak usia sekolah dasar yang belum menguasai kemampuan dasar, seperti membaca, menulis, dan berhitung. Sanggar ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi anak-anak untuk mengembangkan karakter, kreativitas, dan keterampilan hidup melalui kegiatan yang diselenggarakan secara rutin setiap Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu.

Gambar 2. Foto Bersama Sanggar Edukasi dan Desamind Purbalingga

Menanggapi kolaborasi antara Desamind dengan Sanggar Edukasi, Sherly menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi anak-anak di sanggar.

“Bagi anak-anak kami, ini bukan sekadar kegiatan, tetapi pengalaman baru yang membuka cara pandang mereka tentang belajar  dan arti terus semangat,” ujar Sherly.

Sementara itu, Indri Wahyu N, Guru Sanggar Edukasi, menilai Desamind membawa semangat baru bagi anak-anak untuk terus belajar dan mengeksplorasi hal-hal baru.

“Kehadiran teman-teman Desamind memberikan energi baru bagi anak-anak. Mereka pulang dengan rasa ingin tahu yang jauh lebih besar setelah dikenalkan berbagai teknologi,” tutur Indri.

Selain melaksanakan kegiatan Lilin Inspirasi, Desamind Indonesia, Desamind Chapter Purbalingga, dan Sanggar Edukasi Purbalingga juga berdiskusi untuk mengidentifikasi berbagai peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan pada masa mendatang. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan guna memperluas akses pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di lingkungan Karang Petir, Purbalingga.

Author: Ahmad Zamzami

Monitoring dan Evaluasi II Beasiswa Desamind 5.0: Mengawal Inovasi Menjadi Solusi Berkelanjutan bagi Desa

By Beasiswa Desamind, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta, –  Desamind Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak pemimpin muda yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui penyelenggaraan Monitoring dan Evaluasi (Monev) II Beasiswa Desamind 5.0 pada Sabtu (25/7). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus pembelajaran bagi para awardee dalam mengembangkan proyek pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Monev merupakan bagian penting dari proses pendampingan Program Beasiswa Desamind. Tidak hanya menjadi sarana untuk menilai capaian program, kegiatan ini juga menjadi forum refleksi bagi para penerima beasiswa untuk mengidentifikasi tantangan, menyusun strategi perbaikan, serta memperkuat keberlanjutan program yang tengah dijalankan bersama masyarakat.

President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, menegaskan bahwa program Beasiswa Desamind dirancang bukan sekadar memberikan dukungan pendanaan kepada mahasiswa, tetapi juga membangun ekosistem kepemimpinan sosial yang mampu melahirkan agen perubahan di desa.

“Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu menciptakan perubahan yang dirasakan masyarakat serta dapat terus berjalan setelah program berakhir. Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi ruang belajar bagi setiap awardee untuk terus menyempurnakan program yang mereka jalankan,” ujar Hardika.

Sesi monev dipandu oleh moderator dengan menghadirkan tiga panelis dari berbagai bidang keahlian, yaitu Ahmad Zamzami selaku Vice Director of Public Relations Division Desamind, Mohammad Rifli Mubarak selaku Climate & Sustainability Researcher ECADIN, serta Anggun S. Rahmi selaku Associate Scholarship Division Desamind. Ketiganya memberikan evaluasi secara komprehensif terhadap perkembangan masing-masing program berdasarkan kesesuaian antara perencanaan dan implementasi, keterlibatan masyarakat, efektivitas penggunaan sumber daya, inovasi, potensi keberlanjutan, hingga peluang pengembangan jejaring kemitraan.

Gambar 1. Sesi Tanggapan Program oleh Para Panelis

Mohammad Rifli Mubarak menilai bahwa berbagai program yang dipresentasikan telah menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membaca persoalan lokal dan menerjemahkannya menjadi solusi yang relevan. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut dapat terus berkembang bersama masyarakat.

“Seluruh program yang dipresentasikan memiliki potensi untuk memberikan dampak yang nyata karena berangkat dari kebutuhan masyarakat. Ke depan, yang perlu diperkuat adalah strategi keberlanjutan, pengukuran dampak, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar manfaat program tidak berhenti ketika masa beasiswa selesai,” jelas Rifli.

Pada sesi presentasi, para awardee memaparkan berbagai inovasi yang telah diimplementasikan di desa dampingan. Beragam program tersebut menunjukkan bagaimana generasi muda mampu menghadirkan solusi atas persoalan lokal melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan potensi desa, serta inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan.

Aprila Kusuma Dewi mempresentasikan PEPAYA CHIPSY, sebuah program pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan pepaya menjadi keripik di Desa Bumirejo, Kabupaten Kulon Progo. Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui pelatihan produksi, pengemasan, dan pemasaran produk.

Di bidang pendidikan, Wawan Sulaeman menghadirkan Sekolah Nusantara, sebuah program edukasi kesehatan reproduksi dan perlindungan anak di MI Al-Bahja, Kabupaten Subang. Program ini mengedukasi anak-anak mengenai perlindungan diri, batasan tubuh, dan pencegahan kekerasan seksual melalui pendekatan yang komunikatif dan sesuai dengan usia peserta didik.

Sementara itu, Bayu Hardito mengembangkan MAGGOVATE (Maggot Innovation for Sustainable Village) di Desa Bringkang sebagai solusi pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. Program tersebut memanfaatkan limbah organik sebagai media budidaya maggot untuk pakan ikan serta mulai mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) guna mendukung proses monitoring budidaya.

Inovasi lain dipresentasikan oleh Ruhillah Khadijah El Basri melalui program Duck Value Enhancement, yang berfokus pada peningkatan nilai ekonomi telur bebek melalui inovasi produk aneka rasa, pengemasan yang lebih menarik, serta penguatan strategi pemasaran produk lokal di Desa Prasung.

Adapun Anisatul Himmah mengembangkan Sentra TOGA Kalibaru Kulon, sebuah program yang mengoptimalkan pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai sarana edukasi kesehatan sekaligus mendorong lahirnya peluang usaha berbasis produk herbal bagi masyarakat.

Selama proses monitoring, para panelis memberikan berbagai rekomendasi untuk memperkuat kualitas program, mulai dari penyusunan indikator keberhasilan yang lebih terukur, peningkatan partisipasi masyarakat, penguatan strategi keberlanjutan pasca program, hingga perluasan jejaring kolaborasi dengan pemerintah desa, perguruan tinggi, UMKM, dan sektor swasta. Peserta juga didorong untuk memperkuat dokumentasi, publikasi, serta pengukuran dampak sosial sebagai bentuk akuntabilitas pelaksanaan program.

Diskusi berlangsung interaktif dan konstruktif. Selain memperoleh masukan dari panelis, para awardee juga saling berbagi pengalaman mengenai strategi pelaksanaan program di lapangan. Proses ini menjadikan monitoring dan evaluasi sebagai ruang belajar bersama yang memperkaya perspektif sekaligus memperkuat kualitas implementasi program di masing-masing daerah.

Gambar 2. Foto Bersama Sesi Graduation

Melalui Monev II Beasiswa Desamind 5.0, Desamind Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mendampingi mahasiswa menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di desa. Pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada pemberian bantuan pendanaan, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas kepemimpinan, inovasi sosial, manajemen program, dan strategi keberlanjutan agar setiap inisiatif yang lahir mampu terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Beragam inovasi yang dipresentasikan dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan solusi yang kontekstual sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui proses pendampingan yang berkelanjutan, Desamind juga berharap setiap program tidak hanya memberikan manfaat selama masa implementasi, tetapi juga mampu tumbuh menjadi model pemberdayaan masyarakat yang adaptif, berkelanjutan, dan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

Author: Kiki Irafa Candra

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Hadirkan Roikhanatun Nafi’ah,  Inovator Dunia di Bootcamp Junior Rural Development Specialist Batch 2

By Artikel, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta – Semangat membangun desa yang berkelanjutan kembali digaungkan dalam Bootcamp Junior Rural Development Specialist Batch 2 yang diselenggarakan oleh Sekolah Local Heroes – Desamind. Pada sesi yang berlangsung Minggu (12/7), para peserta memperoleh kesempatan istimewa untuk belajar langsung dari Roikhanatun Nafi’ah, pendiri sekaligus CEO Crustea yang baru saja mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional setelah terpilih sebagai salah satu inovator dalam World Bank Group Youth Summit 2026 di Washington, D.C.

Keikutsertaan Roikhanatun Nafi’ah dalam forum bergengsi yang mempertemukan inovator muda dari lebih dari 170 negara menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita semua. Tidak hanya berhasil memperkenalkan teknologi akuakultur berbasis Artificial Intelligence of Things (AIoT) yang dikembangkan Crustea, ia juga menerima Early Ventures Award sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam mendorong akuakultur berkelanjutan dan pemberdayaan petambak skala kecil di Indonesia.

Gambar 1. Roikhanatun Nafi’ah saat Menerima Penghargaan sebagai Inovator dalam World Bank Group Youth Summit 2026 di Washington, D.C.

Roikhanatun Nafi’ah hadir sebagai narasumber dalam Bootcamp Junior Rural Development Specialist Batch 2 dengan membawakan materi “Building Sustainable Impact: How Changemakers Create Solutions that Last.” Kehadirannya memberikan perspektif global sekaligus pengalaman nyata kepada para peserta mengenai bagaimana sebuah inovasi lokal dapat berkembang hingga diakui dunia.

“Saya percaya bahwa dampak yang besar tidak selalu dimulai dari sumber daya yang besar. Dampak dimulai dari keberanian memahami masalah secara mendalam, membangun solusi bersama masyarakat, dan terus beradaptasi hingga solusi tersebut benar-benar menjadi milik komunitas,” ujar Nafi’ah.

Bagi Nafi’ah, seorang changemaker tidak cukup hanya memiliki ide yang baik. Solusi yang dibangun harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, memberikan manfaat dalam jangka panjang, serta tetap berjalan meskipun inisiatornya tidak lagi berada di lapangan. Menurutnya, keberlanjutan merupakan ukuran utama keberhasilan sebuah program sosial.

Gambar 2. Sesi Pemaparan Materi Building Sustainable Impact: How Changemakers Create Solutions that Last.

Ia juga menjelaskan bahwa membangun dampak berkelanjutan diawali dengan memahami akar permasalahan melalui proses observasi, riset lapangan, dan mendengarkan langsung kebutuhan masyarakat. Setelah itu, solusi perlu dirancang secara kolaboratif sehingga masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat, melainkan menjadi pemilik sekaligus penggerak utama perubahan.

Lebih lanjut,Nafi’ah membagikan pengalaman Crustea dalam mengembangkan teknologi Eco-Aerator bertenaga surya, panel surya, dan sistem pemantauan kualitas air berbasis AIoT yang mampu memonitor kondisi tambak secara real-time, mengatur kadar oksigen secara otomatis, sekaligus menekan biaya energi bagi petambak udang. 

Diskusi berlangsung interaktif ketika para peserta menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi di daerah masing-masing. Salah satu peserta, Miskiyanto, yang dikenal sebagai petani milenial asal Situbondo dengan inovasi budidaya pekarangan, mengajukan pertanyaan mengenai strategi menjaga keberlanjutan program, membangun kolaborasi lintas sektor, serta menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

Menanggapi hal tersebut, Nafi’ah menegaskan bahwa keberlanjutan tidak dapat dibangun seorang diri.

“Program yang berkelanjutan harus memiliki ownership dari masyarakat. Ketika semua merasa memiliki, maka program akan tetap berjalan meskipun pendamping sudah selesai bertugas,” pungkasnya.

Author: Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Lantik 179 Perangkat Chapter Periode 2026/2027, Perkuat Peran Pemuda Membangun Desa

By Desamind Chapter, Press Release

Surakarta – Desamind Indonesia resmi melantik 179 Perangkat Desamind Chapter Periode 2026/2027 pada Minggu (5/7) secara daring melalui Zoom Meeting. Pelantikan ini menjadi tonggak awal penguatan gerakan kepemudaan Desamind sekaligus menandai dimulainya rangkaian Bootcamp Junior Rural Development Specialist (JRDS) by Sekolah Local Hero Indonesia Batch 2, sebuah program pengembangan kapasitas yang dirancang untuk membekali para perangkat chapter dengan kompetensi kepemimpinan, pengelolaan organisasi, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Sebanyak 179 perangkat yang dilantik berasal dari sepuluh Desamind Chapter, yakni Bogor, Majalengka, Garut, Cilacap, Soloraya, Magelang, Purbalingga, Gunungkidul, Pasuruan, dan Lombok Timur. Pada kesempatan yang sama, Desamind Indonesia juga meresmikan Desamind Chapter Garut dan Desamind Chapter Cilacap sebagai dua chapter baru hasil proses Open Recruitment Inisiasi Desamind Chapter 2026. Penambahan dua chapter tersebut menjadi bukti bahwa gerakan Desamind terus berkembang dan menjangkau semakin banyak daerah di Indonesia.

Rangkaian kegiatan dipandu oleh Yenni Riza selaku master of ceremony dan diawali dengan sambutan dari Zakky Muhammad Noor, Managing Director Desamind Indonesia. Dalam sambutannya, Zakky menegaskan bahwa kepengurusan chapter bukan sekadar menjalankan roda organisasi, tetapi menjadi ruang pembelajaran bagi anak muda untuk menciptakan perubahan yang berdampak bagi masyarakat.

Chapter bukan sekadar organisasi, tetapi ruang bagi anak muda untuk menghadirkan solusi nyata bagi desa. Setiap program yang dijalankan harus lahir dari kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak yang berkelanjutan,” ujar Zakky.

Usai pembukaan, peserta mengikuti sesi penguatan kapasitas bersama Hardika Dwi Hermawan, President Director Desamind Indonesia, yang menyampaikan materi “Global Trends and Local Challenges: Membaca Masa Depan Desaserta “Youth as Catalysts: Pemuda Penggerak Perubahan Desa”. Melalui kedua materi tersebut, peserta diajak memahami dinamika perubahan global yang memengaruhi pembangunan desa, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan iklim, hingga tantangan sosial-ekonomi. Di sisi lain, Hardika menekankan pentingnya peran pemuda sebagai penggerak inovasi yang mampu menghadirkan solusi berbasis potensi lokal.

“Desa membutuhkan pemuda yang tidak hanya memiliki kepedulian, tetapi juga mampu membaca perubahan, membangun kolaborasi, dan menciptakan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tutur Hardika.

Prosesi pelantikan kemudian diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Pembukaan Desamind Chapter Garut dan Desamind Chapter Cilacap, dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan Pengangkatan Perangkat Desamind Chapter Periode 2026/2027 oleh Hardika Dwi Hermawan.

Momen sakral pelantikan dilanjutkan dengan pembacaan ikrar yang dipandu oleh Abdul Aziez dari Chapter Division Desamind Indonesia. Ikrar diwakili oleh Salma, Kepala Desamind Chapter Soloraya, dan Bahtiar, Wakil Kepala Desamind Chapter Pasuruan. Seluruh perangkat chapter mengikuti ikrar secara serentak sebagai bentuk komitmen untuk menjalankan amanah organisasi, menjunjung tinggi nilai-nilai Desamind, serta mengabdikan diri melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat desa.

Gambar 1. Materi “Logical Framework Approach (LFA) dalam Community Empowerment” dan “Strategic Excellence: PDCA Journey” oleh Dwi Pamuji Ismoyo

Sebagai bagian dari rangkaian bootcamp, peserta juga memperoleh pembekalan teknis dari Dwi Pamuji Ismoyo melalui materi “Logical Framework Approach (LFA) dalam Community Empowerment” dan “Strategic Excellence: PDCA Journey”. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan dengan pendekatan sistematis dalam merancang program pemberdayaan masyarakat, mulai dari penyusunan tujuan, identifikasi indikator keberhasilan, pengelolaan risiko, hingga proses monitoring dan evaluasi. Selain itu, peserta juga diajak memahami siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) sebagai metode untuk memastikan setiap program dapat terus diperbaiki dan memberikan dampak yang berkelanjutan.

Pelantikan ini menjadi langkah awal bagi Perangkat Desamind Chapter Periode 2026/2027 dalam mengemban amanah selama satu tahun ke depan. Dengan bertambahnya dua chapter baru, Desamind Indonesia semakin memperluas ruang kolaborasi bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pembangunan desa.

Author: Abdul Aziez

Editor: Ahmad Zamzami

Cetak 108 Local Heroes, Desamind Indonesia Sukses Gelar Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist

By Berita Terkini, Press Release

Surakarta, 20 Juni 2026 – Di tengah berbagai tantangan pembangunan desa yang semakin kompleks, mulai dari isu lingkungan, ketimpangan sosial, hingga transformasi digital. Oleh karena itu, kebutuhan akan hadirnya generasi muda yang mampu menjadi penggerak perubahan semakin mendesak. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Sekolah Local Heroes by Desamind Indonesia sukses menyelenggarakan program “Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist”. Pelatihan intensif ini dirancang untuk mencetak calon pemimpin muda dan praktisi pemberdayaan masyarakat desa yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi desa-desa di Indonesia.

Program ini menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium sosial bagi para mahasiswa, pemuda, aktivis, pegiat desa, dan siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan masyarakat. Tidak sekadar menawarkan teori, Bootcamp Sekolah Local Heroes Desamind 2026 ini mengajak peserta memahami persoalan desa secara langsung, memetakan potensi lokal, serta merancang program pemberdayaan yang berorientasi pada dampak jangka panjang dan keberlanjutan.

Mengusung pendekatan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), program ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan strategis yang dibutuhkan untuk menjadi agen perubahan di komunitasnya masing-masing. Melalui pembelajaran yang aplikatif ini, peserta diajak melihat desa bukan sebagai wilayah yang tertinggal. Sebaliknya, desa dilihat sebagai ruang tumbuh bagi berbagai inovasi sosial desa yang mampu menjawab tantangan masa depan.

“Pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur. Yang jauh lebih penting adalah membangun kapasitas manusianya. Ketika generasi muda memiliki kapasitas, kepedulian, dan kemampuan untuk mengorganisasi masyarakat, maka perubahan yang berkelanjutan akan lebih mudah diwujudkan,” ungkap Hardika Dwi Hermawan selaku President Director dalam sambutannya.

Belajar dari Praktik dan Capaian Luar Biasa Peserta

Kurikulum dalam Bootcamp Sekolah Local Heroes Desamind 2026 dirancang dengan orientasi penuh pada kebutuhan nyata di lapangan. Peserta mempelajari berbagai aspek penting dalam pemberdayaan masyarakat desa, mulai dari pemahaman tentang SDGs Desa, tantangan pembangunan berkelanjutan, kepemimpinan pemuda, gerakan komunitas. Selain itu, mereka belajar teknik penelitian sosial serta praktik social mapping sebagai dasar penyusunan program yang tepat sasaran.

Selanjutnya, peserta mendapatkan pembekalan intensif terkait perencanaan program sosial desa. Mereka juga dibekali strategi kampanye digital dan pemanfaatan digital tools. Di samping itu, terdapat materi teknik monitoring, evaluasi, dan pengukuran dampak program. Seluruh proses pembelajaran ini ditutup dengan penyusunan final project. Kemudian, hasilnya dipresentasikan di hadapan mentor dan praktisi.

Melalui pendekatan dari seluruh rangkaian tersebut, pelatihan ini berhasil meluluskan 108 peserta dari berbagai daerah, sebanyak 95% peserta dinyatakan Lulus dengan predikat Sangat Baik, sebuah angka yang membuktikan komitmen tinggi dari para calon spesialis pemberdayaan masyarakat ini.

Apresiasi Peserta dan Proyek Sosial Terbaik 2026

Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi selama program, panitia penyelenggara Bootcamp Sekolah Local Heroes mengumumkan nama-nama peserta serta inovasi sosial desa terbaik dalam angkatan ini:

  • Peserta Terbaik 1: Andhika Januardyh (Kota Tarakan, Kalimantan Utara)
  • Peserta Terbaik 2: Marco Timothy Manurip (Surabaya, Jawa Timur)
  • Proyek Sosial Terbaik 1: Muhammad Fajar Firdaus – Handil Bakti Eco-Digital Village (Handil Bakti, Kalimantan Selatan)
  • Proyek Sosial Terbaik 2: Anak Agung Istri Agung Adnyani – Desa Mandiri Pangan (Kelurahan Bitera, Provinsi Bali)

Membangun Jejaring Penggerak Desa dan Ekosistem Kolaboratif

Salah satu nilai tambah dari Bootcamp Sekolah Local Heroes ini adalah kesempatan untuk membangun jejaring lintas daerah di Indonesia. Melalui diskusi kelompok, studi kasus, dan refleksi mendalam, para peserta berhasil membentuk ekosistem kolaboratif yang kuat untuk mendukung aksi sosial mereka di masa depan. 

Di era digital yang terintegrasi, keberhasilan pembangunan masyarakat tidak lagi ditentukan oleh kerja individu, melainkan oleh kekuatan sinergi multitaraf. Oleh karena itu, bootcamp ini tidak hanya fokus pada pengembangan kompetensi personal, melainkan juga pada pembentukan komunitas pembelajar (community of practice) yang saling menguatkan antar-wilayah.

Metode Pelaksanaan yang Fleksibel dan Didukung Mitra Strategis

Program ini sukses dilaksanakan secara daring menggunakan kombinasi metode synchronous dan asynchronous learning melalui platform Zoom dan Learning Management System (LMS) Sekolah Local Heroes. Fleksibilitas ini memungkinkan para pemuda dari pelosok negeri untuk tetap berpartisipasi aktif tanpa mengorbankan aktivitas utama mereka.

Kesuksesan agenda besar ini tidak lepas dari dukungan penuh para mitra strategis yang memiliki komitmen serupa terhadap pembangunan SDM Indonesia, antara lain Danantara Indonesia, Pertamina Foundation, Desamind Research and Training Center, serta Gress Tropika Fruitindo.

Menyiapkan Local Heroes untuk Indonesia Masa Depan

Lebih dari sekadar pelatihan biasa, program ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan kepemimpinan sosial Indonesia. Desa membutuhkan lebih banyak tangan-tangan terampil yang mampu membaca persoalan secara kritis, mengorganisasi potensi lokal, serta menghadirkan solusi yang berdampak luas.

Melalui rilisnya angkatan baru ini, Desamind Indonesia berharap para alumni dapat menjadi Local Heroes sejati di daerahnya masing-masing — menghubungkan teori akademik dengan aksi nyata di lapangan, serta mentransformasikan pembangunan desa menjadi gerakan kolektif menuju Indonesia yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.

Karena setiap perubahan besar selalu dimulai dari komunitas yang bergerak. Dan komunitas yang bergerak, selalu dimulai dari satu orang yang berani mengambil langkah pertama.

Penulis: Kiki Irafa

Editor: Yesi Rahma Mustika

 

Universitas Indonesia dan Desamind Indonesia Kerjasama Perkuat Kapasitas Diaspora Indonesia di Selandia Baru melalui Program INTEGRA

By Artikel, Berita Terkini, Press Release

Auckland, Selandia Baru –  (23-27/05) Komitmen Desamind Indonesia dalam membangun jejaring pemuda dan komunitas Indonesia di tingkat global kembali diwujudkan melalui keterlibatannya dalam Program INTEGRA (Integrated Improvement of Digital Marketing Strategy, Food Safety Awareness, and Occupational Health and Safety System) yang diinisiasi oleh Universitas Indonesia.

Program yang dilaksanakan di Auckland, Selandia Baru, ini melibatkan 15 pekerja diaspora Indonesia yang bekerja di Mill Bakery dan K-Chicken, unit usaha yang berada di bawah naungan Fabulous Work Group. Kegiatan bertujuan memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui pendekatan terintegrasi yang menggabungkan pengembangan pemasaran digital, keamanan pangan, serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Sebagai mitra strategis dalam program tersebut, Desamind Indonesia turut berperan dalam menjembatani kolaborasi antara dunia akademik, pelaku usaha diaspora, dan komunitas Indonesia di luar negeri. Keterlibatan ini sejalan dengan visi Desamind untuk menghadirkan generasi muda Indonesia yang memiliki kompetensi global sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, hadir langsung di Auckland untuk mengikuti rangkaian kegiatan, berdiskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta memperkuat peluang kolaborasi internasional yang dapat memberikan manfaat bagi komunitas diaspora Indonesia.

“Diaspora Indonesia memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dan penggerak ekonomi di berbagai negara. Melalui kolaborasi seperti INTEGRA, kami ingin memastikan bahwa mereka mendapatkan akses terhadap pengetahuan, keterampilan, dan jejaring yang dapat mendukung pertumbuhan usaha maupun pengembangan komunitas secara berkelanjutan,” ujar Hardika.

Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh berbagai materi terkait strategi pemasaran digital dan pemanfaatan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar, penerapan standar keamanan pangan berbasis Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), hingga penguatan budaya keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan usaha.

Gambar 1. Kolaborasi Tim INTEGRA dengan Mill Bakery dan K-Chicken

Program ini hadir sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi usaha kecil dan menengah di sektor pangan, mulai dari transformasi digital, meningkatnya ekspektasi konsumen terhadap kualitas produk, hingga pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Melalui sesi diskusi, studi kasus, serta praktik langsung, peserta didorong untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam aktivitas operasional sehari-hari.

Salah satu capaian utama kegiatan ini adalah penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) Keamanan Pangan dan Food Safety Checklist yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional Mill Bakery. Dokumen tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas produksi, menjaga konsistensi layanan, serta memperkuat kepercayaan pelanggan.

Program INTEGRA juga menjadi ruang kolaborasi internasional yang melibatkan akademisi dan mahasiswa Indonesia di University of Auckland. Pertukaran pengetahuan yang terjadi selama kegiatan menunjukkan bahwa pengembangan komunitas tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis, melainkan dapat dilakukan melalui jejaring kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak dengan latar belakang yang beragam.

Gambar 2. Sesi Kunjungan Langsung ke Mill Bakery

Bagi Desamind Indonesia, keterlibatan dalam program ini merupakan bagian dari upaya memperluas dampak organisasi di tingkat global. Tidak hanya berfokus pada pembangunan desa dan pengembangan pemuda di Indonesia, Desamind juga terus mendorong terciptanya ruang kolaborasi yang mempertemukan pengetahuan, inovasi, dan praktik baik dari berbagai negara untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Melalui kemitraan dengan Universitas Indonesia dan Fabulous Work Group, Desamind percaya bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan pondasi penting dalam membangun bisnis yang berdaya saing, komunitas yang tangguh, serta ekosistem pembangunan yang berkelanjutan.

Ke depan, hasil pembelajaran dari program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi berbagai inisiatif pengembangan komunitas lainnya, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional. Dengan menghubungkan keahlian akademik, pengalaman praktis dunia usaha, dan semangat kolaborasi komunitas, program seperti INTEGRA menunjukkan bahwa perubahan yang berdampak dapat lahir dari kerja sama lintas sektor dan lintas negara.

Selamat! 108 Peserta dari Berbagai Daerah Indonesia Berkesempatan Ikuti Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist

By Pengumuman, Press Release

Surakarta — (27/05) Sebanyak 108 peserta dari berbagai daerah, institusi, komunitas, organisasi, perguruan tinggi, hingga sektor profesional di Indonesia resmi terpilih untuk mengikuti Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist yang akan dilaksanakan secara daring pada 31 Mei–14 Juni 2026. Program ini merupakan pelatihan intensif berbasis Rural Community Empowerment Project dan inovasi sosial yang diselenggarakan oleh Sekolah Local Heroes Desamind Indonesia sebagai bagian dari Laboratorium Sosial Penggerak Desa Batch 2 yang didukung oleh Pertamina Foundation.

Bootcamp ini dirancang sebagai ruang pembelajaran kolaboratif bagi generasi muda, penggerak komunitas, mahasiswa, serta aktor pembangunan masyarakat untuk memperkuat kapasitas dalam menghadirkan solusi sosial yang kreatif, terukur, dan berkelanjutan bagi desa dan komunitas. Melalui pendekatan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), design thinking, social innovation, community research and mapping, hingga pengembangan proyek sosial berkelanjutan, peserta akan dibekali kemampuan untuk memahami persoalan masyarakat sekaligus merancang program yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Tingginya antusiasme peserta dari berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan meningkatnya perhatian generasi muda terhadap isu pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat. Para peserta yang lolos berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari mahasiswa, pegiat sosial, organisasi kepemudaan, komunitas desa, relawan, hingga profesional dari berbagai lembaga dan perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan berkelanjutan.

Selama pelaksanaan bootcamp, peserta akan mengikuti serangkaian materi dan pendampingan yang mencakup:

  1. SDGs Desa dan Tantangan Pembangunan Berkelanjutan
  2. Youth Leadership and Community Movement
  3. Community Research & Social Mapping
  4. Perencanaan Program dan Proyek Sosial Desa
  5. Digital Tools & Social Campaign
  6. Monitoring, Evaluation, and Impact Measurement
  7. Final Project & Pitching Session.

Setelah pengumuman ini, seluruh peserta akan melaksanakan pertemuan pertama pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 15.30–17.30 WIB secara daring melalui Zoom Meeting. Pertemuan perdana tersebut akan menjadi ruang pengenalan program sekaligus pembelajaran awal mengenai SDGs Desa dan kepemimpinan pemuda dalam pembangunan masyarakat berkelanjutan.

Desamind Indonesia Dorong Dampak Nyata Akar Rumput Lewat Forum Internasional Para Peneliti di The University of Queensland

By Berita Terkini, Press Release

Queensland, Australia – (23/05) Hardika Dwi Hermawan, President Director Desamind Indonesia menjadi pembicara dalam forum diskusi bertajuk “From Global Insight to Local Impact: Bridging Knowledge with Grassroots Realities in Indonesia” yang diselenggarakan di The University of Queensland, Australia.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kopikir Indonesia sebagai Think Thank Indonesian Scholar di Queensland yang bekerja sama dengan UQ Indonesian Student Association dan dihadiri oleh beragam scholars Indonesia dari berbagai kampus di Queensland. Forum tersebut menjadi ruang diskusi reflektif mengenai bagaimana wawasan global dapat diterjemahkan menjadi dampak nyata bagi masyarakat Indonesia, khususnya di tingkat akar rumput.

Dalam sesi tersebut, Hardika menekankan bahwa akses terhadap pengetahuan global di luar negeri perlu diiringi dengan kesadaran akan konteks lokal Indonesia. Ia menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar bukan sekadar memperoleh wawasan internasional, tetapi bagaimana memastikan pengetahuan tersebut kembali dan memberi manfaat bagi masyarakat di desa, komunitas, dan wilayah yang sering kali tidak terjangkau inovasi.

Gambar 1. Penyampaian Diskusi oleh Hardika

Dalam perspektif Desamind Indonesia, hal ini menjadi sangat relevan dengan misi organisasi dalam memperkuat ekosistem pemberdayaan pemuda desa melalui pendekatan berbasis local heroes. Hardika menjelaskan bahwa Desamind hadir untuk menjembatani kesenjangan antara gagasan dan realitas lapangan dengan mendorong anak muda agar tidak hanya memahami teori, tetapi juga turun langsung membangun solusi di komunitasnya.

Melalui berbagai program seperti pengembangan kapasitas pemuda desa, literasi digital, pendampingan komunitas, hingga inisiatif sosial berbasis kebutuhan lokal, Desamind Indonesia berupaya memastikan bahwa transformasi pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik. Sebaliknya, pengetahuan tersebut harus menjadi alat perubahan yang hidup di tengah masyarakat.

“Desamind percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari pusat, tetapi bisa tumbuh dari desa. Ketika pemuda diberi ruang, akses, dan kepercayaan, mereka mampu menjadi penggerak utama perubahan sosial di lingkungannya,” ungkap Hardika.

Lebih lanjut, melalui pertemuan ini Desamind Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjadi jembatan antara pengetahuan global dan realitas lokal, serta memperkuat peran pemuda desa sebagai aktor utama perubahan sosial yang berkelanjutan.

Diskusi berlangsung dengan sangat dinamis dan penuh antusiasme. Para peserta yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu membahas peran lintas bidang dalam menjawab tantangan sosial di Indonesia. Mulai dari pendidikan, teknologi, kesehatan, hingga pembangunan komunitas, seluruh perspektif dipadukan dalam semangat kolaborasi multidisiplin.

Gambar 2. Foto Bersama Scholars Indonesia di Queensland

Forum ini juga memperkuat pandangan bahwa dampak sosial yang berkelanjutan hanya dapat tercapai melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi, komunitas, dan gerakan sosial seperti Desamind Indonesia. Pendekatan ini selaras dengan semangat collective impact, di mana perubahan besar lahir dari kerja bersama berbagai pihak yang memiliki tujuan yang sama.

Ketua Kopikir Indonesia, Hardo, turut menyampaikan apresiasi atas kontribusi Hardika dan Desamind Indonesia dalam forum tersebut. Ia menyampaikan terima kasih atas perspektif yang dibagikan dan menilai diskusi ini membuka ruang refleksi penting bagi para scholars Indonesia di luar negeri.

“Terima kasih sudah berbagi bersama teman-teman di sini. Diskusi ini sangat memperkaya perspektif kami, terutama dalam melihat bagaimana pengetahuan global dapat benar-benar kembali memberi dampak bagi masyarakat di Indonesia,” ujar Hardo.

Desamind Indonesia Gelar FGD Penyempurnaan Kurikulum Beasiswa Berbasis DACUM

By Beasiswa Desamind, Press Release

Surakarta — Desamind Indonesia menggelar rangkaian Focus Group Discussion (FGD) penyempurnaan Kurikulum Beasiswa Desamind pada Minggu (15/3) dan Sabtu (2/5) sebagai upaya memperkuat sistem pembinaan sekaligus meningkatkan dampak program bagi masyarakat desa. Kegiatan ini melibatkan pihak internal serta panelis eksternal dari kalangan praktisi pemberdayaan masyarakat dan pengelola program beasiswa.

Rangkaian FGD tersebut merupakan bagian dari evaluasi program beasiswa berbasis proyek sosial yang telah dijalankan Desamind selama lima tahun terakhir. Dalam proses penyusunannya, Desamind menggunakan metode Developing A Curriculum (DACUM), yakni pendekatan pengembangan kurikulum yang berorientasi pada praktik nyata dan kebutuhan lapangan.

FGD pertama diselenggarakan pada Minggu (15/3) dengan melibatkan pengurus, alumni beasiswa, mentor, dan penerima Beasiswa Desamind. Pada tahap ini, peserta bersama-sama mengidentifikasi berbagai aktivitas utama yang dilakukan penggerak perubahan di desa dalam menjalankan program sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Diskusi difokuskan pada identifikasi tanggung jawab, proses kerja, serta aktivitas utama penggerak desa. Melalui pendekatan DACUM, FGD pertama menghasilkan pemetaan kompetensi berupa enam duty dan 23 task yang menggambarkan peran Desamind Social Impact Leader dalam praktik pengembangan masyarakat desa.

Sebagai tahap lanjutan, Desamind Indonesia kemudian menyelenggarakan FGD kedua pada Sabtu (2/5) untuk memvalidasi, menyempurnakan, dan memperkuat draft DACUM Chart yang telah dihasilkan pada tahap sebelumnya.

FGD kedua menghadirkan sejumlah panelis eksternal, yaitu Iqbal Nurpriyanto, Sekretaris Desa Tunjungsari, Pekalongan; Aulia Pradipta, Founder Creafo ID; Intan Nisaaul Chusna dari Pertamina Foundation; serta Hanif M. Ibrahim, Founder Bumi Scholar.

Gambar 1. Analisis Desamind Social Impact Leader dalam Praktik Pengembangan Masyarakat Desa.

Melalui forum ini, para panelis memberikan masukan terkait relevansi duty dan task dengan kondisi lapangan, kelayakan implementasi bagi awardee, serta penguatan metode dan kompetensi yang dibutuhkan dalam pengembangan masyarakat desa.

Hardika Dwi Hermawan, Founder serta President Director Desamind Indonesia, menyampaikan bahwa pembaruan kurikulum dilakukan untuk memastikan program beasiswa tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan desa saat ini.

“Desamind sudah lima tahun memberikan beasiswa berbasis proyek sosial. Saat ini kami sedang mengevaluasi kurikulum beasiswa kami, apakah masih relevan atau perlu perbaikan,” ujarnya.

Menurut Hardika, penggunaan metode DACUM bertujuan agar kurikulum yang disusun lebih terstruktur, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dengan demikian, program beasiswa tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga membentuk awardee menjadi local hero dan local champion di desa masing-masing.

Sementara itu, Hanif M. Ibrahim turut mengapresiasi konsistensi Desamind dalam membina generasi muda yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa.

“Pemberdayaan masyarakat itu hal yang seru, unik, tetapi penuh tantangan. Kehadiran Desamind menjadi katalisator perubahan di desa, sehingga saya sangat mengapresiasi konsistensi Desamind dalam menjaga dan mengembangkan para local heroes untuk memberikan kebermanfaatan dan dampak bagi masyarakat desa,” pingkas Hanif.

Author: Astriyanti

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Open Recruitment Inisiator Chapter 2026, Ajak Pemuda Jadi Penggerak Pembangunan Desa

By Pengumuman, Press Release

Surakarta – Desamind Indonesia kembali membuka kesempatan bagi generasi muda untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan desa melalui program Open Recruitment Inisiator Desamind Chapter 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan gerakan pemberdayaan berbasis desa sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak local heroes di berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai organisasi non-profit berbasis kesukarelawanan, Desamind Indonesia berfokus pada penguatan kapasitas pemuda dan masyarakat desa melalui pendekatan bottom-up. Hingga saat ini, Desamind telah memiliki 16 chapter yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dengan ratusan pengurus dan ribuan anggota komunitas yang terlibat dalam berbagai program pemberdayaan.

Melalui program inisiasi chapter, Desamind membuka ruang bagi individu maupun kelompok untuk membentuk cabang resmi di tingkat kabupaten. Chapter ini nantinya berperan sebagai mitra strategis dalam menjalankan program-program pengembangan desa, seperti pelatihan, pembinaan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Tahapan Inisiasi Desamind Chapter 2026

Proses inisiasi dilakukan secara bertahap dan selektif guna memastikan kualitas serta keberlanjutan chapter yang terbentuk. Adapun tahapan yang harus dilalui peserta meliputi:

  • Open Recruitment dan Pengumpulan Berkas: 15–30 April 2026
  • Pengumuman Tahap 1: 1–3 Mei 2026
  • Technical Meeting Grand Design: 6 Mei 2026
  • Seleksi Grand Design: 7–16 Mei 2026
  • Pengumuman Tahap 2: 24 Mei 2026
  • Brainstorming dan Masa Inkubasi: 27 Mei 2026
  • Seleksi Tahap 3: 28 Mei–25 Juni 2026
  • Pengumuman Chapter Terpilih: 1 Juli 2026
  • Pelantikan Chapter 2026/2027: 5 Juli 2026

Selain seleksi administrasi, peserta juga akan menyusun grand design program serta mengikuti masa inkubasi yang berisi pengenalan organisasi, arah kebijakan, serta penguatan kapasitas sebagai inisiator gerakan sosial di tingkat desa.

Ketentuan dan Persyaratan Inisiator

Program ini terbuka bagi masyarakat yang memiliki semangat pengabdian dan visi yang sejalan dengan Desamind. Adapun ketentuan utama meliputi:

  • Memiliki visi dan misi yang sejalan dengan Desamind
  • Lingkup chapter berada pada wilayah administratif kabupaten
  • Belum terdapat Desamind Chapter di kabupaten yang diinisiasi
  • Bersedia mengikuti seluruh rangkaian tahapan seleksi

Sementara itu, ketentuan bagi tim inisiator adalah sebagai berikut:

  • Terdiri dari 3–5 orang
  • Minimal 2 orang berusia ≥20 tahun atau mahasiswa semester 5, serta memiliki pengalaman organisasi minimal 1 tahun
  • Berdomisili atau berkomitmen beraktivitas di wilayah yang diinisiasi minimal 1 tahun ke depan
  • Anggota tim dapat berasal dari berbagai daerah, selama memiliki komitmen pada wilayah yang diusulkan

Akses Pendaftaran dan Panduan

Pendaftaran dilakukan secara daring melalui tautan berikut:
🔗 bit.ly/InisiasiChapter2026

Panduan lengkap terkait program, persyaratan, serta mekanisme seleksi dapat diakses melalui:
🔗 bit.ly/PanduanInisiasiChapter2026

Informasi lebih lanjut juga dapat diperoleh melalui narahubung:

  • Melinda (Chapter Division): +62 895-3899-95899
  • Linda (Chapter Division): +62 812-9102-7654

Gambar 1. Pamflet Informasi Open Recruitment Inisiator Desamind Chapter 2026.

Desamind menegaskan bahwa seluruh proses inisiasi tidak dipungut biaya dalam bentuk apa pun. Program ini tidak hanya menjadi ajang seleksi, tetapi juga ruang pembelajaran bagi pemuda untuk memahami pembangunan desa secara komprehensif. Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas, Desamind mendorong lahirnya pemuda yang mampu merancang solusi nyata sesuai kebutuhan masyarakat.

Melalui inisiatif chapter, Desamind berharap semakin banyak generasi muda yang mengambil peran aktif dalam pembangunan desa, tidak hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai penggerak perubahan di wilayahnya masing-masing.

Author: Ahmad Zamzami

Monitoring dan Evaluasi Desamind Chapter 2025/2026: Perkuat Akuntabilitas dan Arah Gerak Organisasi

By Berita Terkini, Desamind Chapter, Press Release

Surakarta – Desamind Indonesia melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Chapter II Periode Kepengurusan 2025/2026 pada Minggu, (12/4). Kegiatan ini digelar secara virtual melalui Zoom Meeting dengan melibatkan partisipasi aktif pengurus Desamind Chapter dari berbagai daerah di Indonesia.

Adapun chapter yang mengikuti kegiatan ini meliputi Asmat, Bogor, Majalengka, Magelang, Purbalingga, Soloraya, Yogyakarta, Gunungkidul, Malang, Pasuruan, Lombok Timur, dan Maros. Kehadiran perwakilan chapter dari berbagai wilayah tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga tata kelola organisasi yang sehat, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Monitoring dan evaluasi ini bertujuan melakukan penilaian menyeluruh terhadap kinerja, akuntabilitas, serta efektivitas pelaksanaan program kerja selama satu periode kepengurusan berjalan. Selain menjadi sarana evaluasi, agenda ini juga difungsikan sebagai ruang refleksi bersama untuk mengidentifikasi capaian, tantangan, serta peluang pengembangan chapter pada periode berikutnya.

Rangkaian kegiatan Monev Chapter II terdiri atas empat sesi utama, yakni pembukaan dan sambutan, sesi monitoring dan evaluasi, penyampaian hasil besar, serta prosesi demisioner perangkat Desamind Chapter periode 2025/2026.

Pada sesi pembukaan, Vice Director Chapter Division Desamind Indonesia sekaligus Ketua Panitia Monev, Nur Kholifah, menegaskan bahwa evaluasi tidak hanya berfokus pada aspek administratif semata.

“Esensi Monev II tidak sekadar pada penilaian administratif, melainkan sebagai wadah silaturahmi dan refleksi kolektif untuk menata kembali niat dalam menjalankan roda gerakan Desamind Chapter di periode mendatang,” ujar Kholifah.

Pelaksanaan monitoring dilakukan secara sistematis dengan membagi 12 chapter ke dalam dua ruang virtual (breakout room). Masing-masing chapter mengikuti sesi diskusi intensif selama 60 menit bersama auditor.

Gambar 1. Sesi diskusi bersama Auditor

Dalam sesi tersebut, auditor melakukan pendalaman terhadap kondisi internal organisasi melalui tanya jawab berbasis kolom capaian yang telah diisi sebelumnya oleh masing-masing chapter. Pendekatan ini tidak hanya berfungsi sebagai validasi kinerja, tetapi juga menjadi ruang konsultasi strategis untuk merumuskan langkah perbaikan dan penguatan organisasi.

Hasil evaluasi kemudian dituangkan ke dalam lembar penilaian sebagai bahan rekomendasi pengembangan chapter pada periode selanjutnya. Dengan demikian, proses monitoring tidak hanya menilai capaian masa lalu, tetapi juga menyiapkan fondasi yang lebih kuat untuk masa depan organisasi.

Agenda ditutup dengan prosesi demisioner perangkat Desamind Chapter periode 2025/2026 yang dipimpin Director Chapter Division bersama para Kepala Desamind Chapter secara simbolis dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Momentum ini menjadi penanda berakhirnya satu periode kepengurusan sekaligus awal bagi regenerasi kepemimpinan chapter di berbagai daerah.

Author : Alwi Dwi Rahmadi

Editor: Ahmad Zamzami

YBKI Surakarta Rujuk Praktik Desamind Indonesia dalam Perkuat Pengelolaan Relawan Berkelanjutan

By Berita Terkini, Press Release

Surakarta — Yayasan Benih Keluarga Indonesia (YBKI) Surakarta menggelar kegiatan sharing session bersama Desamind Indonesia pada Jumat (4/4). Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama dalam memperkuat kapasitas kelembagaan, khususnya dalam pengelolaan relawan dan pengembangan program pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan diawali dengan pemaparan dari Ketua YBKI Surakarta, Nurhayati, S.Pd.I., Gr. dengan memperkenalkan profil serta berbagai program yang telah dijalankan. YBKI selama ini bergerak dalam bidang pembinaan dan pemberdayaan keluarga melalui sejumlah inisiatif, seperti sekolah pranikah, program parenting, hingga pendidikan anak berbasis masjid.

Dalam sesi tersebut, YBKI juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi dalam mengelola relawan. Salah satu isu yang disoroti adalah menjaga konsistensi keterlibatan relawan dalam jangka panjang. Sebagai organisasi berbasis kerelawanan, YBKI menyadari bahwa relawan tidak dapat dipaksa, sehingga dibutuhkan pendekatan yang tepat agar mereka tetap berkomitmen.

Menjawab hal tersebut, President and Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc. (ITE), memaparkan strategi Desamind dalam membangun dan menjaga keberlanjutan relawan. Ia menegaskan bahwa kekuatan utama Desamind terletak pada empat nilai inti, yaitu fun, ownership, collaborative, dan integrity.

Menurut Hardika, nilai fun diwujudkan melalui suasana kerja yang menyenangkan sehingga relawan merasa nyaman dalam berproses. Nilai ownership mendorong setiap individu untuk merasa memiliki program yang dijalankan. Sementara itu, collaborative menjadi kunci dalam membangun jejaring dan kerja sama lintas pihak, serta integrity menjaga komitmen dan konsistensi dalam setiap gerakan sosial.

“Relawan tidak bisa dipertahankan hanya dengan sistem, tetapi dengan rasa memiliki dan makna. Ketika mereka merasa menjadi bagian dari perubahan, mereka akan bertahan,” ujar Hardika.

Gambar 1. Sharing Session Pengelolaan Relawan dan Pengembangan Program Pemberdayaan Masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Director of Finance Desamind Indonesia, Meilani Intan Pertiwi, turut membagikan pengalamannya terkait dinamika internal organisasi. Ia menekankan bahwa soliditas tim menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan.

“Di Desamind, kami tumbuh bersama. Satu sama lain saling mendukung, sehingga terbentuk ekosistem yang kuat dan penuh semangat gotong royong,” jelas Meilani.

Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung interaktif sepanjang kegiatan. Salah satu pegiat YBKI, Nunik Nurhayati, mengaku mendapatkan banyak pembelajaran dari pengalaman Desamind.

“Kami belajar bahwa mengelola relawan bukan hanya soal program, tetapi juga membangun nilai dan budaya organisasi. Ini sangat membuka wawasan kami,” ungkapnya.

Ia juga berharap ke depan YBKI dan Desamind dapat menjalin kolaborasi yang lebih konkret dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam penguatan keluarga dan generasi muda.

Author: Ahmad Zamzami

Merajut Kebersamaan Antar Chapter dan Menebar Kebermanfaatan di Bulan Ramadhan

By Artikel, Desamind Chapter

Yogyakarta – Bulan Ramadhan telah lama menjadi ruang istimewa bagi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan atau bahasa kerennya adalah fastabiqul khairat. Momentum inilah yang coba ditangkap oleh Desamind Chapter Yogyakarta melalui inisiasi Ramadhan Berkah Chapter Yogyakarta (RBCY) 1447 H. Sebuah rangkaian kegiatan yang dirancang tidak hanya menebar manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat, tetapi juga untuk menghidupkan kembali rasa solidaritas dan kekeluargaan antar perangkat chapter.

Berlangsung sepanjang bulan Ramadhan, dari tanggal 18 Februari hingga 19 Maret 2026, RBCY 1447 H menghadirkan beberapa kegiatan utama. Di tengah hiruk-pikuknya kesibukan Ramadhan, ada dua program yang secara khusus menyoroti dimensi kemanusiaan yang paling fundamental, yaitu pendekatan kepada anak-anak dengan nama “Sahabat Cilik Desamind” dan kolaborasi lintas chapter dengan nama “Chapter Nyawiji”. Keduanya mengajarkan bahwa Ramadhan bukan sekadar tentang ibadah personal, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir bagi sesama.

Sahabat Cilik Desamind: Ketika Anak-Anak Mendapatkan Teman Baru

Di sebuah sore yang teduh di Dusun Kemiri, sekelompok anak berkumpul di TPA bukan sekadar untuk mengaji, tetapi untuk bertemu dengan “kakak-kakak” baru yang datang dengan senyum dan cerita. Itulah gambaran sederhana dari Sahabat Cilik Desamind, sebuah program yang berfokus pada pendekatan edukatif dan spiritual kepada anak-anak. Nama “Sahabat Cilik” dipilih bukan tanpa alasan. Lebih dari sekadar pengajar, para perangkat chapter ingin menjadi sahabat bagi anak-anak Dusun Kemiri. Pendekatan ini disadari sebagai kunci utama: sebelum ilmu dapat tersampaikan, kedekatan emosional harus terlebih dahulu terbangun.

Gambar 1. Belajar Bersama Anak-Anak TPA Dusun Kemiri

Setiap hari Jumat atau hari-hari lain yang disepakati, tim Sahabat Cilik hadir di tengah kegiatan TPA anak-anak dusun. Lebih daripada itu, kegiatan ini juga dijalankan bersama dengan rekan-rekan dari Dakwah Hijrah Mahasiswa (DHM) dari Universitas Islam Indonesia (UII). Materi yang disampaikan dirancang dengan pendekatan fun learning, agar anak-anak tidak merasa sedang “sekolah” tetapi justru menikmati proses belajar. Ada sesi mengaji Iqra dan Al-Qur’an yang dipandu oleh teman-teman DHM, kemudian diselingi dengan storytelling tentang kisah-kisah Nabi dan Rasul, serta teladan dari para sahabat dari tim Desamind Chapter Yogyakarta. Tidak hanya itu, cerita-cerita inspiratif tentang tokoh-tokoh Islam dikemas dengan cara yang interaktif. Kadang menggunakan alat peraga sederhana, kadang dengan metode bercerita yang dramatis, semuanya bertujuan agar pesan-pesan kebaikan dapat meresap dengan cara yang menyenangkan.

Tujuan dari kegiatan ini sederhana, tetapi bermakna. Kami belajar menjadi pendidik, pendengar, dan sahabat peran yang mungkin jarang mereka dapatkan dalam keseharian.

Chapter Nyawiji: Ketika Dua Chapter Menjadi Satu

Jika Sahabat Cilik berbicara tentang pendekatan personal kepada anak-anak, maka Chapter Nyawiji adalah tentang bagaimana solidaritas lintas wilayah diwujudkan dalam aksi nyata. “Nyawiji” dalam bahasa Jawa berarti menjadi satu. Nama ini dipilih untuk merefleksikan esensi dari kegiatan ini: menyatukan dua chapter, yaitu Yogyakarta dan Gunungkidul dalam sebuah kolaborasi yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyentuh nilai-nilai kemanusiaan.

Pada Minggu, 8 Maret 2026, seluruh perangkat Desamind Chapter Yogyakarta dan Gunungkidul berkumpul di Panti Asuhan Ulil Albab, Potorono, Banguntapan. Bukan sekadar berkunjung, rombongan datang membawa 15 paket sembako dari DRW Foundation, hal itu menjadi sebuah aksi sosial yang menjadi manifestasi nyata kepedulian di bulan yang penuh berkah. Rangkaian kegiatan dirancang dengan penuh perhatian. Dimulai dengan sambutan dari Ketua Desamind Chapter Gunungkidul, Putri Felita Listiani, dan Penanggung Jawab Panti Asuhan, Pak Andra. Kemudian, sesi inspirasi dengan tema “Menumbuhkan Harapan dan Semangat Bermimpi” dibawakan oleh Aqil Rafi Aljauzia sebuah sesi yang dirancang tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga untuk membuka ruang dialog interaktif dengan anak-anak panti.

Gambar 2. Games Outbound bersama Santri Ponpes Ulil Albab

Puncak dari kebersamaan terjadi saat sesi games outbound berlangsung. Dirancang sebagai sarana bonding, permainan ini tidak sekadar menghibur, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang menyenangkan. Ada Cerdas Cermat yang menguji pengetahuan seputar Ramadhan dan pengetahuan umum, Kata Berantai Ramadhan yang melatih konsentrasi dan kekompakan, hingga Tebak Gaya Ramadhan yang memicu tawa sekaligus kebersamaan.

Setelah rangkaian kegiatan bersama anak-anak panti, acara ditutup dengan internal bonding session antar perangkat kedua chapter. Di sinilah esensi “Nyawiji” benar-benar terasa refleksi bersama, evaluasi cepat, dan penguatan visi kolaborasi ke depan. Semua berlanjut hingga buka puasa bersama antar chapter.

Kegiatan yang Memberi Pesan Fundamental

Apa yang dilakukan Desamind Chapter Yogyakarta melalui Ramadhan Berkah 1447 H sebenarnya bukan sekadar serangkaian kegiatan. Ada pesan yang lebih dalam yang ingin disampaikan, bahwa kebaikan di bulan Ramadhan tidak harus selalu dalam bentuk materi yang besar, tetapi bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Sahabat Cilik Desamind mengajarkan bahwa menjadi sahabat bagi anak-anak adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai. Sedekah ilmu, waktu, dan perhatian di bulan yang penuh ampunan mungkin tidak terukur dengan angka, tetapi dampaknya akan terasa bertahun-tahun kemudian. Chapter Nyawiji mengajarkan bahwa kolaborasi lintas wilayah bukan sekadar soal koordinasi administratif, tetapi tentang bagaimana dua kelompok dengan latar belakang berbeda bisa saling menguatkan. Ketika Yogyakarta dan Gunungkidul bersatu, yang terbangun bukan hanya program, tetapi juga jaringan persaudaraan yang lebih luas.

Di balik semua itu, ada satu kesadaran yang terus dijaga, bahwa Ramadhan adalah momentum untuk kembali kepada fitrah sebagai manusia yang peduli. Bukan sekadar peduli pada diri sendiri, tetapi peduli pada anak-anak yang membutuhkan teman belajar, peduli pada sesama yang membutuhkan uluran tangan, dan peduli pada kebersamaan yang selama ini mungkin terabaikan oleh kesibukan.

Ramadhan Berkah Chapter Yogyakarta 1447 H mungkin hanya berlangsung satu bulan. Namun, semangat yang dihidupkan tentang solidaritas, tentang pendekatan kepada anak-anak, tentang kolaborasi lintas chapter adalah benih yang ditanam untuk masa panjang. Sahabat Cilik bukan hanya tentang satu Ramadhan. Ia adalah awal dari bagaimana Desamind hadir secara konsisten di tengah anak-anak Dusun Kemiri. Chapter Nyawiji bukan hanya tentang satu kunjungan ke panti asuhan. Ia adalah fondasi dari kolaborasi lintas chapter yang akan terus dipelihara dan dikembangkan.

Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan satu hal yang sederhana namun fundamental, yaitu kebaikan sejati adalah kebaikan yang berkelanjutan. Hal itulah yang coba diwujudkan oleh Desamind Chapter Yogyakarta bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sebagai komitmen jangka panjang untuk terus hadir, terus memberi, dan terus bersatu.

Author: Desamind Chapter Yogyakarta

Semarakkan Ramadhan, Angkasa Pura Gandeng Desamind Bersihkan 12 Masjid di Boyolali

By Berita Terkini, Press Release

Boyolali — PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Adi Soemarmo berkolaborasi dengan Desamind Indonesia menggelar kegiatan Ramadhan Bersih dan Berkah dengan melakukan aksi bersih-bersih masjid di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu hingga Jumat (8–13/3), dengan melibatkan 30 relawan dari wilayah Soloraya.

Melalui kegiatan ini, relawan melakukan pembersihan di 12 masjid dan musala yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Ngemplak. Aksi bersih-bersih meliputi pembersihan ruang utama masjid, tempat wudu, halaman, serta penataan fasilitas ibadah guna menghadirkan lingkungan yang lebih nyaman bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadan.

Adapun lokasi kegiatan meliputi Masjid Al-Ikhlas di Cepit, Ngargorejo; Masjid Nur Hidayah di Gentan, Sobokerto; Masjid Manhajunadzor di Tegal Pucung, Ngesrep; Masjid Husnul Jami’ di Kanoman, Gagaksipat; Musala Al Barokah di Sanggrahan, Donohudan; Masjid NU di Sadon, Sawahan; Masjid Al-Mukmin di Welar, Pandeyan; Masjid Jami’ Al-Muttaqin di Tambas, Kismoyoso; Masjid Nurul Khasanah di Lemahabang, Dibal; Masjid Al-Hikmah di Sindon; Masjid Al-Mukmin di Batongan, Manggung; serta Masjid Baitul Muslimin di Borongan, Giriroto.

Managing Director Desamind Indonesia, Zakky Muhammad Noor, dalam technical meeting dan pembekalan relawan menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan rumah ibadah, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan semangat kepedulian sosial.

Gambar 1. Technical Meeting dan Pembekalan Relawan

“Melalui kegiatan ini, para relawan diajak untuk berkontribusi secara langsung kepada masyarakat. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan aksi sederhana namun berdampak nyata, seperti menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat ibadah,” ujar Zakky.

Branch Communication, CSR, and Legal Department Head PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Adi Soemarmo, Tyas Ayu Novitasari, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), khususnya bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional bandara.

Menurutnya, kolaborasi dengan komunitas seperti Desamind menjadi langkah penting untuk memperluas dampak kegiatan sosial sekaligus melibatkan generasi muda dalam gerakan kerelawanan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta menghadirkan kenyamanan bagi jamaah dalam menjalankan ibadah selama Ramadan,” ungkap Tyas.

Gambar 2. Para Relawan Membersihkan dan Merapikan Masjid

Salah satu relawan, Afra Lana, mengaku senang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan bersih masjid tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga menjadi amalan baik di bulan puasa.

“Kegiatan ini memberi pengalaman yang berharga bagi kami. Hal sederhana seperti membersihkan masjid ternyata bisa menjadi bentuk ibadah sekaligus kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar,” pungkas Afra.

Author: Ahmad Zamzami

Jelajahi Tata Surya di Malam Hari, Desamind Pasuruan dan UINSA Gelar Teater Astronomi

By Desamind Chapter, Press Release

Pasuruan — Desamind Chapter Pasuruan berkolaborasi dengan Program Studi Ilmu Falak Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar kegiatan edukasi kreatif bertajuk “Teater Astronomi” pada Sabtu malam (7/3). Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB ini bertujuan mengenalkan konsep dasar astronomi kepada anak-anak di Desa Tambaksari melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan.

Teater Astronomi merupakan bagian dari program BESTARI yang mengusung tema eksplorasi benda-benda langit. Berbeda dengan metode pembelajaran formal, konsep teater dipilih untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih imersif. Melalui alur cerita yang dikemas secara naratif, peserta diajak menjelajahi tata surya, mulai dari cincin Saturnus hingga permukaan Mars.

Gambar 1. Antusiasme Anak-Anak Menyaksikan Teater Astronomi

Ketua pelaksana kegiatan, Tri Bachtiar Ramadani menjelaskan bahwa pelaksanaan pada malam hari dipilih untuk memperkuat pengalaman belajar peserta secara langsung.

“Kami ingin menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan, tetapi tetap berbasis ilmiah. Dengan dukungan mahasiswa Ilmu Falak UINSA, anak-anak tidak hanya menonton, tetapi juga memahami konsep benda langit secara sederhana,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tambaksari, Taruwi, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan edukasi seperti ini masih jarang dilakukan di wilayah pedesaan, padahal minat anak-anak terhadap ilmu pengetahuan cukup tinggi.

“Kami mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Anak-anak mendapatkan pengetahuan baru tentang astronomi dengan cara yang mudah dipahami,” ungkapnya.

Gambar 2. Apresiasi dan Sambutan dari Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tambaksari

Selama kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat tinggi, terutama saat sesi simulasi perjalanan antarbenda langit. Mahasiswa Ilmu Falak UINSA berperan sebagai fasilitator yang menjelaskan berbagai fenomena astronomi dengan pendekatan yang komunikatif dan sesuai dengan usia anak.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya kolaboratif dalam menghadirkan pendidikan sains yang lebih kontekstual dan menarik bagi anak-anak di desa, khususnya dalam mengenalkan ilmu astronomi sejak dini.

Author: Mukhammaad Thoriq Aziz

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Salurkan 275 Dus Air Minum untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatera

By Berita Terkini, Press Release

Aceh Barat – Desamind Indonesia menyalurkan 275 dus air minum bagi warga terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Barat, Sumatera, pada Rabu (25/2). Bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan donasi masyarakat yang dihimpun dan dititipkan melalui Desamind sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.

Penyaluran bantuan dilakukan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat dan akan didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Desa Jambak, Desa Lawet, Desa Lancong, serta beberapa desa lain di Kabupaten Aceh Barat yang masih mengalami keterbatasan akses air bersih.

Ari Rizky, perwakilan dari Desamind Chapter Aceh Barat, mengatakan bantuan air minum difokuskan karena kebutuhan air bersih menjadi persoalan mendesak di lapangan, terutama saat Ramadhan. 

“Kami menerima laporan bahwa masih banyak masyarakat kesulitan memperoleh air bersih,” ujar Rizky.

Menurutnya, bantuan ini merupakan bagian dari komitmen Desamind dalam merespon kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana secara cepat dan tepat sasaran. Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan BPBD dilakukan agar distribusi bantuan dapat menjangkau titik-titik yang paling membutuhkan.

Agus Junaedi, Koordinator Gudang BPBD Aceh Barat, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan. Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini sebagian warga masih kesulitan mendapatkan air layak konsumsi. 

Gambar 1. 275 Dus Air Minum Siap Didistribusikan ke Desa Jambak, Desa Lawet, Desa Lancong, serta beberapa desa lain di Kabupaten Aceh Bara

“Untuk bulan puasa ini, kebutuhan air bersih meningkat. Banyak sumur warga tertutup lumpur, sehingga bantuan air minum sangat dibutuhkan,” ungkap Agus.

Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Barat menyebabkan kerusakan infrastruktur serta mengganggu akses terhadap kebutuhan dasar, termasuk air bersih. Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas harian masyarakat.

Melalui penyaluran bantuan ini, Desamind berharap dapat membantu meringankan beban warga terdampak sekaligus mengajak masyarakat luas untuk terus memperkuat solidaritas dalam menghadapi situasi kebencanaan. 

Author: Ahmad Zamzami

Satu-satunya di Pasuruan, Warga Tambaksari Kenang Peristiwa Langka Jatuhnya Meteor 1975

By Berita Terkini, Desamind Chapter, Press Release

Pasuruan — Desamind Chapter Pasuruan berkesempatan mengikuti kegiatan “Ambal Dumugi” yang diselenggarakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Arjuna Desa Tambaksari untuk mengenang peristiwa langka jatuhnya meteor Tambakwatu pada 14 Februari 1975. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (14/2) sebagai bentuk upaya merawat ingatan kolektif atas fenomena alam yang diyakini menjadi satu-satunya peristiwa jatuhnya meteor di Kabupaten Pasuruan.

Ketua Pokdarwis Arjuna Desa Tambaksari, Misto, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menjaga nilai sejarah agar tetap hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, Ambal Dumugi berarti mengenang kembali datangnya meteor Tambakwatu agar peristiwa tersebut tidak hilang dari ingatan generasi muda.

Acara yang dikemas dalam bentuk tasyakuran tersebut juga menjadi momentum refleksi spiritual bagi warga. Kepala Dusun Tambakwatu, Sumarto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Ia menyebut fenomena alam yang terjadi 51 tahun silam itu sebagai anugerah Tuhan yang patut disyukuri.

“Semoga kegiatan ini membawa berkah, keselamatan, dan ketenteraman bagi warga Desa Tambaksari, khususnya Dusun Tambakwatu,” ungkapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Tambaksari, Holikhati Rohmah, menilai peringatan ini memiliki makna penting bagi identitas desa. Ia menyebut peristiwa yang terjadi merupakan fenomena langka yang memperkaya sejarah lokal.

“Tadi Pak Kasun menyampaikan bahwa Tambaksari bukan hanya ‘banyu langit’, tetapi juga batu yang jatuh dari langit. Ini merupakan anugerah bagi kita,” ujarnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga serta melestarikan lokasi bersejarah tersebut agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Momentum peringatan semakin bermakna dengan kehadiran saksi mata peristiwa tersebut. Doro, warga setempat yang saat kejadian berusia sekitar 15 tahun, mengisahkan detik-detik jatuhnya meteor. Ia melihat langsung benda langit itu melintas dengan cahaya hijau kebiruan dari kejauhan sebelum berubah putih dan menghantam tanah tidak jauh dari ladangnya.

“Kebetulan saya berada di kandang sapi dan lokasinya dekat ladang. Saya melihat cahayanya terang sekali, tetapi waktu itu tidak tahu benda apa yang jatuh,” tuturnya.

Gambar 1. Prosesi “Ambal Dumugi” dengan mendengarkan kisah dari saksi mata, Pak Doro

Menurut Doro, warga sempat mengira sebuah pesawat jatuh. Mereka mencari sumber cahaya tersebut sepanjang malam menggunakan lampu petromak dan senter. Batu meteor baru ditemukan keesokan harinya setelah digali sedalam satu hingga dua meter oleh warga bersama aparat keamanan desa.

Peristiwa yang semula menimbulkan kepanikan itu kini justru menjadi bagian dari kebanggaan kolektif masyarakat Tambaksari. Lima dekade berlalu, kenangan tentang malam langka tersebut tetap hidup dalam ingatan warga.

Ia mengaku bangga karena generasi muda kini berupaya mengangkat kembali peristiwa tersebut sebagai bagian dari sejarah desa.

“Kalau ini mau disejarahkan, saya sangat bangga. Supaya tidak terlupakan dan orang tahu bahwa di Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, pernah terjadi jatuhnya batu meteor,” pungkas Doro.

Author: Mukhammad Thoriq Aziz

Editor: Ahmad Zamzami

Ready To Stand Out?


Buy Salient Now  Reach Out To Us