Skip to main content
Tag

#sdgs4PendidikanBerkualitas;

Kolaborasi dengan Sanggar Edukasi Purbalingga, Desamind Gelar Lilin Inspirasi “Jelajah Teknologi, Temukan Potensi”

By Berita Terkini, Press Release

Purbalingga – Desamind Indonesia berkolaborasi dengan Sanggar Edukasi Purbalingga menyelenggarakan Lilin Inspirasi  “Jelajah Teknologi, Temukan Potensi” pada Sabtu (1/8) di Sanggar Edukasi Karang Petir, Purbalingga. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar berbasis teknologi bagi 48 anak jenjang kelas 1 hingga kelas 6 sekolah dasar sebagai upaya menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan literasi digital sejak dini.

Selama 2,5 jam, para siswa belajar terkait pemanfaatan teknologi secara bijak, pembelajaran interaktif yang menyenangkan, mencoba teknologi Virtual Reality (VR), hingga bereksperimen menggunakan Makey-Makey sebagai media belajar kreatif. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak diajak memahami bahwa teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri.

Gambar 1. Anak-Anak Mencoba VR dan Makey-Makey

Sesi inspiratif ini diisi oleh para akademisi dan penerima berbagai program beasiswa dari beragam latar belakang keilmuan, yaitu Hardika Dwi Hermawan (Dosen Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Penerima Beasiswa LPDP, Master of Information Technology in EducationUniversity of Hong Kong), Alwy Ahmed (Mahasiswa Internasional asal Kenya, Universitas Muhammadiyah Surakarta), Ari Septian (Penerima Beasiswa LPDP, Magister Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Ahmad Zamzami (Penerima Beasiswa LPDP, Magister Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret), Anisa Amalia (Penerima Beasiswa Universitas Sebelas Maret, Magister Pendidikan Bahasa Inggris), Ahmad Luthfi (Magister Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta), serta Abyan Wardhana (Penerima Beasiswa S1 Teknik Komputer, Telkom University).

Kehadiran rekan-rekan Desamind tidak hanya memperkenalkan berbagai teknologi kepada anak-anak, tetapi juga membagikan kisah perjalanan pendidikan mereka. Melalui cerita tersebut, anak-anak Sanggar Edukasi didorong untuk berani bermimpi, terus belajar, serta memanfaatkan teknologi secara positif sebagai bekal menghadapi masa depan.

Sanggar Edukasi Purbalingga merupakan ruang belajar gratis yang didirikan oleh Sherly sebagai bentuk kepeduliannya melihat masih banyak anak usia sekolah dasar yang belum menguasai kemampuan dasar, seperti membaca, menulis, dan berhitung. Sanggar ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi anak-anak untuk mengembangkan karakter, kreativitas, dan keterampilan hidup melalui kegiatan yang diselenggarakan secara rutin setiap Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu.

Gambar 2. Foto Bersama Sanggar Edukasi dan Desamind Purbalingga

Menanggapi kolaborasi antara Desamind dengan Sanggar Edukasi, Sherly menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi anak-anak di sanggar.

“Bagi anak-anak kami, ini bukan sekadar kegiatan, tetapi pengalaman baru yang membuka cara pandang mereka tentang belajar  dan arti terus semangat,” ujar Sherly.

Sementara itu, Indri Wahyu N, Guru Sanggar Edukasi, menilai Desamind membawa semangat baru bagi anak-anak untuk terus belajar dan mengeksplorasi hal-hal baru.

“Kehadiran teman-teman Desamind memberikan energi baru bagi anak-anak. Mereka pulang dengan rasa ingin tahu yang jauh lebih besar setelah dikenalkan berbagai teknologi,” tutur Indri.

Selain melaksanakan kegiatan Lilin Inspirasi, Desamind Indonesia, Desamind Chapter Purbalingga, dan Sanggar Edukasi Purbalingga juga berdiskusi untuk mengidentifikasi berbagai peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan pada masa mendatang. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan guna memperluas akses pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di lingkungan Karang Petir, Purbalingga.

Author: Ahmad Zamzami

Monitoring dan Evaluasi II Beasiswa Desamind 5.0: Mengawal Inovasi Menjadi Solusi Berkelanjutan bagi Desa

By Beasiswa Desamind, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta, –  Desamind Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak pemimpin muda yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui penyelenggaraan Monitoring dan Evaluasi (Monev) II Beasiswa Desamind 5.0 pada Sabtu (25/7). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus pembelajaran bagi para awardee dalam mengembangkan proyek pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Monev merupakan bagian penting dari proses pendampingan Program Beasiswa Desamind. Tidak hanya menjadi sarana untuk menilai capaian program, kegiatan ini juga menjadi forum refleksi bagi para penerima beasiswa untuk mengidentifikasi tantangan, menyusun strategi perbaikan, serta memperkuat keberlanjutan program yang tengah dijalankan bersama masyarakat.

President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, menegaskan bahwa program Beasiswa Desamind dirancang bukan sekadar memberikan dukungan pendanaan kepada mahasiswa, tetapi juga membangun ekosistem kepemimpinan sosial yang mampu melahirkan agen perubahan di desa.

“Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu menciptakan perubahan yang dirasakan masyarakat serta dapat terus berjalan setelah program berakhir. Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi ruang belajar bagi setiap awardee untuk terus menyempurnakan program yang mereka jalankan,” ujar Hardika.

Sesi monev dipandu oleh moderator dengan menghadirkan tiga panelis dari berbagai bidang keahlian, yaitu Ahmad Zamzami selaku Vice Director of Public Relations Division Desamind, Mohammad Rifli Mubarak selaku Climate & Sustainability Researcher ECADIN, serta Anggun S. Rahmi selaku Associate Scholarship Division Desamind. Ketiganya memberikan evaluasi secara komprehensif terhadap perkembangan masing-masing program berdasarkan kesesuaian antara perencanaan dan implementasi, keterlibatan masyarakat, efektivitas penggunaan sumber daya, inovasi, potensi keberlanjutan, hingga peluang pengembangan jejaring kemitraan.

Gambar 1. Sesi Tanggapan Program oleh Para Panelis

Mohammad Rifli Mubarak menilai bahwa berbagai program yang dipresentasikan telah menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membaca persoalan lokal dan menerjemahkannya menjadi solusi yang relevan. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut dapat terus berkembang bersama masyarakat.

“Seluruh program yang dipresentasikan memiliki potensi untuk memberikan dampak yang nyata karena berangkat dari kebutuhan masyarakat. Ke depan, yang perlu diperkuat adalah strategi keberlanjutan, pengukuran dampak, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar manfaat program tidak berhenti ketika masa beasiswa selesai,” jelas Rifli.

Pada sesi presentasi, para awardee memaparkan berbagai inovasi yang telah diimplementasikan di desa dampingan. Beragam program tersebut menunjukkan bagaimana generasi muda mampu menghadirkan solusi atas persoalan lokal melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan potensi desa, serta inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan.

Aprila Kusuma Dewi mempresentasikan PEPAYA CHIPSY, sebuah program pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan pepaya menjadi keripik di Desa Bumirejo, Kabupaten Kulon Progo. Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui pelatihan produksi, pengemasan, dan pemasaran produk.

Di bidang pendidikan, Wawan Sulaeman menghadirkan Sekolah Nusantara, sebuah program edukasi kesehatan reproduksi dan perlindungan anak di MI Al-Bahja, Kabupaten Subang. Program ini mengedukasi anak-anak mengenai perlindungan diri, batasan tubuh, dan pencegahan kekerasan seksual melalui pendekatan yang komunikatif dan sesuai dengan usia peserta didik.

Sementara itu, Bayu Hardito mengembangkan MAGGOVATE (Maggot Innovation for Sustainable Village) di Desa Bringkang sebagai solusi pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. Program tersebut memanfaatkan limbah organik sebagai media budidaya maggot untuk pakan ikan serta mulai mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) guna mendukung proses monitoring budidaya.

Inovasi lain dipresentasikan oleh Ruhillah Khadijah El Basri melalui program Duck Value Enhancement, yang berfokus pada peningkatan nilai ekonomi telur bebek melalui inovasi produk aneka rasa, pengemasan yang lebih menarik, serta penguatan strategi pemasaran produk lokal di Desa Prasung.

Adapun Anisatul Himmah mengembangkan Sentra TOGA Kalibaru Kulon, sebuah program yang mengoptimalkan pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai sarana edukasi kesehatan sekaligus mendorong lahirnya peluang usaha berbasis produk herbal bagi masyarakat.

Selama proses monitoring, para panelis memberikan berbagai rekomendasi untuk memperkuat kualitas program, mulai dari penyusunan indikator keberhasilan yang lebih terukur, peningkatan partisipasi masyarakat, penguatan strategi keberlanjutan pasca program, hingga perluasan jejaring kolaborasi dengan pemerintah desa, perguruan tinggi, UMKM, dan sektor swasta. Peserta juga didorong untuk memperkuat dokumentasi, publikasi, serta pengukuran dampak sosial sebagai bentuk akuntabilitas pelaksanaan program.

Diskusi berlangsung interaktif dan konstruktif. Selain memperoleh masukan dari panelis, para awardee juga saling berbagi pengalaman mengenai strategi pelaksanaan program di lapangan. Proses ini menjadikan monitoring dan evaluasi sebagai ruang belajar bersama yang memperkaya perspektif sekaligus memperkuat kualitas implementasi program di masing-masing daerah.

Gambar 2. Foto Bersama Sesi Graduation

Melalui Monev II Beasiswa Desamind 5.0, Desamind Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mendampingi mahasiswa menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di desa. Pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada pemberian bantuan pendanaan, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas kepemimpinan, inovasi sosial, manajemen program, dan strategi keberlanjutan agar setiap inisiatif yang lahir mampu terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Beragam inovasi yang dipresentasikan dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan solusi yang kontekstual sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui proses pendampingan yang berkelanjutan, Desamind juga berharap setiap program tidak hanya memberikan manfaat selama masa implementasi, tetapi juga mampu tumbuh menjadi model pemberdayaan masyarakat yang adaptif, berkelanjutan, dan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

Author: Kiki Irafa Candra

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Hadirkan Roikhanatun Nafi’ah,  Inovator Dunia di Bootcamp Junior Rural Development Specialist Batch 2

By Artikel, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Surakarta – Semangat membangun desa yang berkelanjutan kembali digaungkan dalam Bootcamp Junior Rural Development Specialist Batch 2 yang diselenggarakan oleh Sekolah Local Heroes – Desamind. Pada sesi yang berlangsung Minggu (12/7), para peserta memperoleh kesempatan istimewa untuk belajar langsung dari Roikhanatun Nafi’ah, pendiri sekaligus CEO Crustea yang baru saja mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional setelah terpilih sebagai salah satu inovator dalam World Bank Group Youth Summit 2026 di Washington, D.C.

Keikutsertaan Roikhanatun Nafi’ah dalam forum bergengsi yang mempertemukan inovator muda dari lebih dari 170 negara menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita semua. Tidak hanya berhasil memperkenalkan teknologi akuakultur berbasis Artificial Intelligence of Things (AIoT) yang dikembangkan Crustea, ia juga menerima Early Ventures Award sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam mendorong akuakultur berkelanjutan dan pemberdayaan petambak skala kecil di Indonesia.

Gambar 1. Roikhanatun Nafi’ah saat Menerima Penghargaan sebagai Inovator dalam World Bank Group Youth Summit 2026 di Washington, D.C.

Roikhanatun Nafi’ah hadir sebagai narasumber dalam Bootcamp Junior Rural Development Specialist Batch 2 dengan membawakan materi “Building Sustainable Impact: How Changemakers Create Solutions that Last.” Kehadirannya memberikan perspektif global sekaligus pengalaman nyata kepada para peserta mengenai bagaimana sebuah inovasi lokal dapat berkembang hingga diakui dunia.

“Saya percaya bahwa dampak yang besar tidak selalu dimulai dari sumber daya yang besar. Dampak dimulai dari keberanian memahami masalah secara mendalam, membangun solusi bersama masyarakat, dan terus beradaptasi hingga solusi tersebut benar-benar menjadi milik komunitas,” ujar Nafi’ah.

Bagi Nafi’ah, seorang changemaker tidak cukup hanya memiliki ide yang baik. Solusi yang dibangun harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, memberikan manfaat dalam jangka panjang, serta tetap berjalan meskipun inisiatornya tidak lagi berada di lapangan. Menurutnya, keberlanjutan merupakan ukuran utama keberhasilan sebuah program sosial.

Gambar 2. Sesi Pemaparan Materi Building Sustainable Impact: How Changemakers Create Solutions that Last.

Ia juga menjelaskan bahwa membangun dampak berkelanjutan diawali dengan memahami akar permasalahan melalui proses observasi, riset lapangan, dan mendengarkan langsung kebutuhan masyarakat. Setelah itu, solusi perlu dirancang secara kolaboratif sehingga masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat, melainkan menjadi pemilik sekaligus penggerak utama perubahan.

Lebih lanjut,Nafi’ah membagikan pengalaman Crustea dalam mengembangkan teknologi Eco-Aerator bertenaga surya, panel surya, dan sistem pemantauan kualitas air berbasis AIoT yang mampu memonitor kondisi tambak secara real-time, mengatur kadar oksigen secara otomatis, sekaligus menekan biaya energi bagi petambak udang. 

Diskusi berlangsung interaktif ketika para peserta menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi di daerah masing-masing. Salah satu peserta, Miskiyanto, yang dikenal sebagai petani milenial asal Situbondo dengan inovasi budidaya pekarangan, mengajukan pertanyaan mengenai strategi menjaga keberlanjutan program, membangun kolaborasi lintas sektor, serta menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

Menanggapi hal tersebut, Nafi’ah menegaskan bahwa keberlanjutan tidak dapat dibangun seorang diri.

“Program yang berkelanjutan harus memiliki ownership dari masyarakat. Ketika semua merasa memiliki, maka program akan tetap berjalan meskipun pendamping sudah selesai bertugas,” pungkasnya.

Author: Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Lantik 179 Perangkat Chapter Periode 2026/2027, Perkuat Peran Pemuda Membangun Desa

By Desamind Chapter, Press Release

Surakarta – Desamind Indonesia resmi melantik 179 Perangkat Desamind Chapter Periode 2026/2027 pada Minggu (5/7) secara daring melalui Zoom Meeting. Pelantikan ini menjadi tonggak awal penguatan gerakan kepemudaan Desamind sekaligus menandai dimulainya rangkaian Bootcamp Junior Rural Development Specialist (JRDS) by Sekolah Local Hero Indonesia Batch 2, sebuah program pengembangan kapasitas yang dirancang untuk membekali para perangkat chapter dengan kompetensi kepemimpinan, pengelolaan organisasi, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Sebanyak 179 perangkat yang dilantik berasal dari sepuluh Desamind Chapter, yakni Bogor, Majalengka, Garut, Cilacap, Soloraya, Magelang, Purbalingga, Gunungkidul, Pasuruan, dan Lombok Timur. Pada kesempatan yang sama, Desamind Indonesia juga meresmikan Desamind Chapter Garut dan Desamind Chapter Cilacap sebagai dua chapter baru hasil proses Open Recruitment Inisiasi Desamind Chapter 2026. Penambahan dua chapter tersebut menjadi bukti bahwa gerakan Desamind terus berkembang dan menjangkau semakin banyak daerah di Indonesia.

Rangkaian kegiatan dipandu oleh Yenni Riza selaku master of ceremony dan diawali dengan sambutan dari Zakky Muhammad Noor, Managing Director Desamind Indonesia. Dalam sambutannya, Zakky menegaskan bahwa kepengurusan chapter bukan sekadar menjalankan roda organisasi, tetapi menjadi ruang pembelajaran bagi anak muda untuk menciptakan perubahan yang berdampak bagi masyarakat.

Chapter bukan sekadar organisasi, tetapi ruang bagi anak muda untuk menghadirkan solusi nyata bagi desa. Setiap program yang dijalankan harus lahir dari kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak yang berkelanjutan,” ujar Zakky.

Usai pembukaan, peserta mengikuti sesi penguatan kapasitas bersama Hardika Dwi Hermawan, President Director Desamind Indonesia, yang menyampaikan materi “Global Trends and Local Challenges: Membaca Masa Depan Desaserta “Youth as Catalysts: Pemuda Penggerak Perubahan Desa”. Melalui kedua materi tersebut, peserta diajak memahami dinamika perubahan global yang memengaruhi pembangunan desa, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan iklim, hingga tantangan sosial-ekonomi. Di sisi lain, Hardika menekankan pentingnya peran pemuda sebagai penggerak inovasi yang mampu menghadirkan solusi berbasis potensi lokal.

“Desa membutuhkan pemuda yang tidak hanya memiliki kepedulian, tetapi juga mampu membaca perubahan, membangun kolaborasi, dan menciptakan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tutur Hardika.

Prosesi pelantikan kemudian diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Pembukaan Desamind Chapter Garut dan Desamind Chapter Cilacap, dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan Pengangkatan Perangkat Desamind Chapter Periode 2026/2027 oleh Hardika Dwi Hermawan.

Momen sakral pelantikan dilanjutkan dengan pembacaan ikrar yang dipandu oleh Abdul Aziez dari Chapter Division Desamind Indonesia. Ikrar diwakili oleh Salma, Kepala Desamind Chapter Soloraya, dan Bahtiar, Wakil Kepala Desamind Chapter Pasuruan. Seluruh perangkat chapter mengikuti ikrar secara serentak sebagai bentuk komitmen untuk menjalankan amanah organisasi, menjunjung tinggi nilai-nilai Desamind, serta mengabdikan diri melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat desa.

Gambar 1. Materi “Logical Framework Approach (LFA) dalam Community Empowerment” dan “Strategic Excellence: PDCA Journey” oleh Dwi Pamuji Ismoyo

Sebagai bagian dari rangkaian bootcamp, peserta juga memperoleh pembekalan teknis dari Dwi Pamuji Ismoyo melalui materi “Logical Framework Approach (LFA) dalam Community Empowerment” dan “Strategic Excellence: PDCA Journey”. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan dengan pendekatan sistematis dalam merancang program pemberdayaan masyarakat, mulai dari penyusunan tujuan, identifikasi indikator keberhasilan, pengelolaan risiko, hingga proses monitoring dan evaluasi. Selain itu, peserta juga diajak memahami siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) sebagai metode untuk memastikan setiap program dapat terus diperbaiki dan memberikan dampak yang berkelanjutan.

Pelantikan ini menjadi langkah awal bagi Perangkat Desamind Chapter Periode 2026/2027 dalam mengemban amanah selama satu tahun ke depan. Dengan bertambahnya dua chapter baru, Desamind Indonesia semakin memperluas ruang kolaborasi bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pembangunan desa.

Author: Abdul Aziez

Editor: Ahmad Zamzami

Selamat! 108 Peserta dari Berbagai Daerah Indonesia Berkesempatan Ikuti Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist

By Pengumuman, Press Release

Surakarta — (27/05) Sebanyak 108 peserta dari berbagai daerah, institusi, komunitas, organisasi, perguruan tinggi, hingga sektor profesional di Indonesia resmi terpilih untuk mengikuti Bootcamp Strategic SDGs-Based Rural Community Empowerment Specialist yang akan dilaksanakan secara daring pada 31 Mei–14 Juni 2026. Program ini merupakan pelatihan intensif berbasis Rural Community Empowerment Project dan inovasi sosial yang diselenggarakan oleh Sekolah Local Heroes Desamind Indonesia sebagai bagian dari Laboratorium Sosial Penggerak Desa Batch 2 yang didukung oleh Pertamina Foundation.

Bootcamp ini dirancang sebagai ruang pembelajaran kolaboratif bagi generasi muda, penggerak komunitas, mahasiswa, serta aktor pembangunan masyarakat untuk memperkuat kapasitas dalam menghadirkan solusi sosial yang kreatif, terukur, dan berkelanjutan bagi desa dan komunitas. Melalui pendekatan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), design thinking, social innovation, community research and mapping, hingga pengembangan proyek sosial berkelanjutan, peserta akan dibekali kemampuan untuk memahami persoalan masyarakat sekaligus merancang program yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Tingginya antusiasme peserta dari berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan meningkatnya perhatian generasi muda terhadap isu pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat. Para peserta yang lolos berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari mahasiswa, pegiat sosial, organisasi kepemudaan, komunitas desa, relawan, hingga profesional dari berbagai lembaga dan perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan berkelanjutan.

Selama pelaksanaan bootcamp, peserta akan mengikuti serangkaian materi dan pendampingan yang mencakup:

  1. SDGs Desa dan Tantangan Pembangunan Berkelanjutan
  2. Youth Leadership and Community Movement
  3. Community Research & Social Mapping
  4. Perencanaan Program dan Proyek Sosial Desa
  5. Digital Tools & Social Campaign
  6. Monitoring, Evaluation, and Impact Measurement
  7. Final Project & Pitching Session.

Setelah pengumuman ini, seluruh peserta akan melaksanakan pertemuan pertama pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 15.30–17.30 WIB secara daring melalui Zoom Meeting. Pertemuan perdana tersebut akan menjadi ruang pengenalan program sekaligus pembelajaran awal mengenai SDGs Desa dan kepemimpinan pemuda dalam pembangunan masyarakat berkelanjutan.

Desamind Indonesia Dorong Dampak Nyata Akar Rumput Lewat Forum Internasional Para Peneliti di The University of Queensland

By Berita Terkini, Press Release

Queensland, Australia – (23/05) Hardika Dwi Hermawan, President Director Desamind Indonesia menjadi pembicara dalam forum diskusi bertajuk “From Global Insight to Local Impact: Bridging Knowledge with Grassroots Realities in Indonesia” yang diselenggarakan di The University of Queensland, Australia.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kopikir Indonesia sebagai Think Thank Indonesian Scholar di Queensland yang bekerja sama dengan UQ Indonesian Student Association dan dihadiri oleh beragam scholars Indonesia dari berbagai kampus di Queensland. Forum tersebut menjadi ruang diskusi reflektif mengenai bagaimana wawasan global dapat diterjemahkan menjadi dampak nyata bagi masyarakat Indonesia, khususnya di tingkat akar rumput.

Dalam sesi tersebut, Hardika menekankan bahwa akses terhadap pengetahuan global di luar negeri perlu diiringi dengan kesadaran akan konteks lokal Indonesia. Ia menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar bukan sekadar memperoleh wawasan internasional, tetapi bagaimana memastikan pengetahuan tersebut kembali dan memberi manfaat bagi masyarakat di desa, komunitas, dan wilayah yang sering kali tidak terjangkau inovasi.

Gambar 1. Penyampaian Diskusi oleh Hardika

Dalam perspektif Desamind Indonesia, hal ini menjadi sangat relevan dengan misi organisasi dalam memperkuat ekosistem pemberdayaan pemuda desa melalui pendekatan berbasis local heroes. Hardika menjelaskan bahwa Desamind hadir untuk menjembatani kesenjangan antara gagasan dan realitas lapangan dengan mendorong anak muda agar tidak hanya memahami teori, tetapi juga turun langsung membangun solusi di komunitasnya.

Melalui berbagai program seperti pengembangan kapasitas pemuda desa, literasi digital, pendampingan komunitas, hingga inisiatif sosial berbasis kebutuhan lokal, Desamind Indonesia berupaya memastikan bahwa transformasi pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik. Sebaliknya, pengetahuan tersebut harus menjadi alat perubahan yang hidup di tengah masyarakat.

“Desamind percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari pusat, tetapi bisa tumbuh dari desa. Ketika pemuda diberi ruang, akses, dan kepercayaan, mereka mampu menjadi penggerak utama perubahan sosial di lingkungannya,” ungkap Hardika.

Lebih lanjut, melalui pertemuan ini Desamind Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjadi jembatan antara pengetahuan global dan realitas lokal, serta memperkuat peran pemuda desa sebagai aktor utama perubahan sosial yang berkelanjutan.

Diskusi berlangsung dengan sangat dinamis dan penuh antusiasme. Para peserta yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu membahas peran lintas bidang dalam menjawab tantangan sosial di Indonesia. Mulai dari pendidikan, teknologi, kesehatan, hingga pembangunan komunitas, seluruh perspektif dipadukan dalam semangat kolaborasi multidisiplin.

Gambar 2. Foto Bersama Scholars Indonesia di Queensland

Forum ini juga memperkuat pandangan bahwa dampak sosial yang berkelanjutan hanya dapat tercapai melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi, komunitas, dan gerakan sosial seperti Desamind Indonesia. Pendekatan ini selaras dengan semangat collective impact, di mana perubahan besar lahir dari kerja bersama berbagai pihak yang memiliki tujuan yang sama.

Ketua Kopikir Indonesia, Hardo, turut menyampaikan apresiasi atas kontribusi Hardika dan Desamind Indonesia dalam forum tersebut. Ia menyampaikan terima kasih atas perspektif yang dibagikan dan menilai diskusi ini membuka ruang refleksi penting bagi para scholars Indonesia di luar negeri.

“Terima kasih sudah berbagi bersama teman-teman di sini. Diskusi ini sangat memperkaya perspektif kami, terutama dalam melihat bagaimana pengetahuan global dapat benar-benar kembali memberi dampak bagi masyarakat di Indonesia,” ujar Hardo.

Desamind Indonesia Gelar FGD Penyempurnaan Kurikulum Beasiswa Berbasis DACUM

By Beasiswa Desamind, Press Release

Surakarta — Desamind Indonesia menggelar rangkaian Focus Group Discussion (FGD) penyempurnaan Kurikulum Beasiswa Desamind pada Minggu (15/3) dan Sabtu (2/5) sebagai upaya memperkuat sistem pembinaan sekaligus meningkatkan dampak program bagi masyarakat desa. Kegiatan ini melibatkan pihak internal serta panelis eksternal dari kalangan praktisi pemberdayaan masyarakat dan pengelola program beasiswa.

Rangkaian FGD tersebut merupakan bagian dari evaluasi program beasiswa berbasis proyek sosial yang telah dijalankan Desamind selama lima tahun terakhir. Dalam proses penyusunannya, Desamind menggunakan metode Developing A Curriculum (DACUM), yakni pendekatan pengembangan kurikulum yang berorientasi pada praktik nyata dan kebutuhan lapangan.

FGD pertama diselenggarakan pada Minggu (15/3) dengan melibatkan pengurus, alumni beasiswa, mentor, dan penerima Beasiswa Desamind. Pada tahap ini, peserta bersama-sama mengidentifikasi berbagai aktivitas utama yang dilakukan penggerak perubahan di desa dalam menjalankan program sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Diskusi difokuskan pada identifikasi tanggung jawab, proses kerja, serta aktivitas utama penggerak desa. Melalui pendekatan DACUM, FGD pertama menghasilkan pemetaan kompetensi berupa enam duty dan 23 task yang menggambarkan peran Desamind Social Impact Leader dalam praktik pengembangan masyarakat desa.

Sebagai tahap lanjutan, Desamind Indonesia kemudian menyelenggarakan FGD kedua pada Sabtu (2/5) untuk memvalidasi, menyempurnakan, dan memperkuat draft DACUM Chart yang telah dihasilkan pada tahap sebelumnya.

FGD kedua menghadirkan sejumlah panelis eksternal, yaitu Iqbal Nurpriyanto, Sekretaris Desa Tunjungsari, Pekalongan; Aulia Pradipta, Founder Creafo ID; Intan Nisaaul Chusna dari Pertamina Foundation; serta Hanif M. Ibrahim, Founder Bumi Scholar.

Gambar 1. Analisis Desamind Social Impact Leader dalam Praktik Pengembangan Masyarakat Desa.

Melalui forum ini, para panelis memberikan masukan terkait relevansi duty dan task dengan kondisi lapangan, kelayakan implementasi bagi awardee, serta penguatan metode dan kompetensi yang dibutuhkan dalam pengembangan masyarakat desa.

Hardika Dwi Hermawan, Founder serta President Director Desamind Indonesia, menyampaikan bahwa pembaruan kurikulum dilakukan untuk memastikan program beasiswa tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan desa saat ini.

“Desamind sudah lima tahun memberikan beasiswa berbasis proyek sosial. Saat ini kami sedang mengevaluasi kurikulum beasiswa kami, apakah masih relevan atau perlu perbaikan,” ujarnya.

Menurut Hardika, penggunaan metode DACUM bertujuan agar kurikulum yang disusun lebih terstruktur, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dengan demikian, program beasiswa tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga membentuk awardee menjadi local hero dan local champion di desa masing-masing.

Sementara itu, Hanif M. Ibrahim turut mengapresiasi konsistensi Desamind dalam membina generasi muda yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa.

“Pemberdayaan masyarakat itu hal yang seru, unik, tetapi penuh tantangan. Kehadiran Desamind menjadi katalisator perubahan di desa, sehingga saya sangat mengapresiasi konsistensi Desamind dalam menjaga dan mengembangkan para local heroes untuk memberikan kebermanfaatan dan dampak bagi masyarakat desa,” pingkas Hanif.

Author: Astriyanti

Editor: Ahmad Zamzami

Merajut Kebersamaan Antar Chapter dan Menebar Kebermanfaatan di Bulan Ramadhan

By Artikel, Desamind Chapter

Yogyakarta – Bulan Ramadhan telah lama menjadi ruang istimewa bagi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan atau bahasa kerennya adalah fastabiqul khairat. Momentum inilah yang coba ditangkap oleh Desamind Chapter Yogyakarta melalui inisiasi Ramadhan Berkah Chapter Yogyakarta (RBCY) 1447 H. Sebuah rangkaian kegiatan yang dirancang tidak hanya menebar manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat, tetapi juga untuk menghidupkan kembali rasa solidaritas dan kekeluargaan antar perangkat chapter.

Berlangsung sepanjang bulan Ramadhan, dari tanggal 18 Februari hingga 19 Maret 2026, RBCY 1447 H menghadirkan beberapa kegiatan utama. Di tengah hiruk-pikuknya kesibukan Ramadhan, ada dua program yang secara khusus menyoroti dimensi kemanusiaan yang paling fundamental, yaitu pendekatan kepada anak-anak dengan nama “Sahabat Cilik Desamind” dan kolaborasi lintas chapter dengan nama “Chapter Nyawiji”. Keduanya mengajarkan bahwa Ramadhan bukan sekadar tentang ibadah personal, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir bagi sesama.

Sahabat Cilik Desamind: Ketika Anak-Anak Mendapatkan Teman Baru

Di sebuah sore yang teduh di Dusun Kemiri, sekelompok anak berkumpul di TPA bukan sekadar untuk mengaji, tetapi untuk bertemu dengan “kakak-kakak” baru yang datang dengan senyum dan cerita. Itulah gambaran sederhana dari Sahabat Cilik Desamind, sebuah program yang berfokus pada pendekatan edukatif dan spiritual kepada anak-anak. Nama “Sahabat Cilik” dipilih bukan tanpa alasan. Lebih dari sekadar pengajar, para perangkat chapter ingin menjadi sahabat bagi anak-anak Dusun Kemiri. Pendekatan ini disadari sebagai kunci utama: sebelum ilmu dapat tersampaikan, kedekatan emosional harus terlebih dahulu terbangun.

Gambar 1. Belajar Bersama Anak-Anak TPA Dusun Kemiri

Setiap hari Jumat atau hari-hari lain yang disepakati, tim Sahabat Cilik hadir di tengah kegiatan TPA anak-anak dusun. Lebih daripada itu, kegiatan ini juga dijalankan bersama dengan rekan-rekan dari Dakwah Hijrah Mahasiswa (DHM) dari Universitas Islam Indonesia (UII). Materi yang disampaikan dirancang dengan pendekatan fun learning, agar anak-anak tidak merasa sedang “sekolah” tetapi justru menikmati proses belajar. Ada sesi mengaji Iqra dan Al-Qur’an yang dipandu oleh teman-teman DHM, kemudian diselingi dengan storytelling tentang kisah-kisah Nabi dan Rasul, serta teladan dari para sahabat dari tim Desamind Chapter Yogyakarta. Tidak hanya itu, cerita-cerita inspiratif tentang tokoh-tokoh Islam dikemas dengan cara yang interaktif. Kadang menggunakan alat peraga sederhana, kadang dengan metode bercerita yang dramatis, semuanya bertujuan agar pesan-pesan kebaikan dapat meresap dengan cara yang menyenangkan.

Tujuan dari kegiatan ini sederhana, tetapi bermakna. Kami belajar menjadi pendidik, pendengar, dan sahabat peran yang mungkin jarang mereka dapatkan dalam keseharian.

Chapter Nyawiji: Ketika Dua Chapter Menjadi Satu

Jika Sahabat Cilik berbicara tentang pendekatan personal kepada anak-anak, maka Chapter Nyawiji adalah tentang bagaimana solidaritas lintas wilayah diwujudkan dalam aksi nyata. “Nyawiji” dalam bahasa Jawa berarti menjadi satu. Nama ini dipilih untuk merefleksikan esensi dari kegiatan ini: menyatukan dua chapter, yaitu Yogyakarta dan Gunungkidul dalam sebuah kolaborasi yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyentuh nilai-nilai kemanusiaan.

Pada Minggu, 8 Maret 2026, seluruh perangkat Desamind Chapter Yogyakarta dan Gunungkidul berkumpul di Panti Asuhan Ulil Albab, Potorono, Banguntapan. Bukan sekadar berkunjung, rombongan datang membawa 15 paket sembako dari DRW Foundation, hal itu menjadi sebuah aksi sosial yang menjadi manifestasi nyata kepedulian di bulan yang penuh berkah. Rangkaian kegiatan dirancang dengan penuh perhatian. Dimulai dengan sambutan dari Ketua Desamind Chapter Gunungkidul, Putri Felita Listiani, dan Penanggung Jawab Panti Asuhan, Pak Andra. Kemudian, sesi inspirasi dengan tema “Menumbuhkan Harapan dan Semangat Bermimpi” dibawakan oleh Aqil Rafi Aljauzia sebuah sesi yang dirancang tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga untuk membuka ruang dialog interaktif dengan anak-anak panti.

Gambar 2. Games Outbound bersama Santri Ponpes Ulil Albab

Puncak dari kebersamaan terjadi saat sesi games outbound berlangsung. Dirancang sebagai sarana bonding, permainan ini tidak sekadar menghibur, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang menyenangkan. Ada Cerdas Cermat yang menguji pengetahuan seputar Ramadhan dan pengetahuan umum, Kata Berantai Ramadhan yang melatih konsentrasi dan kekompakan, hingga Tebak Gaya Ramadhan yang memicu tawa sekaligus kebersamaan.

Setelah rangkaian kegiatan bersama anak-anak panti, acara ditutup dengan internal bonding session antar perangkat kedua chapter. Di sinilah esensi “Nyawiji” benar-benar terasa refleksi bersama, evaluasi cepat, dan penguatan visi kolaborasi ke depan. Semua berlanjut hingga buka puasa bersama antar chapter.

Kegiatan yang Memberi Pesan Fundamental

Apa yang dilakukan Desamind Chapter Yogyakarta melalui Ramadhan Berkah 1447 H sebenarnya bukan sekadar serangkaian kegiatan. Ada pesan yang lebih dalam yang ingin disampaikan, bahwa kebaikan di bulan Ramadhan tidak harus selalu dalam bentuk materi yang besar, tetapi bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Sahabat Cilik Desamind mengajarkan bahwa menjadi sahabat bagi anak-anak adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai. Sedekah ilmu, waktu, dan perhatian di bulan yang penuh ampunan mungkin tidak terukur dengan angka, tetapi dampaknya akan terasa bertahun-tahun kemudian. Chapter Nyawiji mengajarkan bahwa kolaborasi lintas wilayah bukan sekadar soal koordinasi administratif, tetapi tentang bagaimana dua kelompok dengan latar belakang berbeda bisa saling menguatkan. Ketika Yogyakarta dan Gunungkidul bersatu, yang terbangun bukan hanya program, tetapi juga jaringan persaudaraan yang lebih luas.

Di balik semua itu, ada satu kesadaran yang terus dijaga, bahwa Ramadhan adalah momentum untuk kembali kepada fitrah sebagai manusia yang peduli. Bukan sekadar peduli pada diri sendiri, tetapi peduli pada anak-anak yang membutuhkan teman belajar, peduli pada sesama yang membutuhkan uluran tangan, dan peduli pada kebersamaan yang selama ini mungkin terabaikan oleh kesibukan.

Ramadhan Berkah Chapter Yogyakarta 1447 H mungkin hanya berlangsung satu bulan. Namun, semangat yang dihidupkan tentang solidaritas, tentang pendekatan kepada anak-anak, tentang kolaborasi lintas chapter adalah benih yang ditanam untuk masa panjang. Sahabat Cilik bukan hanya tentang satu Ramadhan. Ia adalah awal dari bagaimana Desamind hadir secara konsisten di tengah anak-anak Dusun Kemiri. Chapter Nyawiji bukan hanya tentang satu kunjungan ke panti asuhan. Ia adalah fondasi dari kolaborasi lintas chapter yang akan terus dipelihara dan dikembangkan.

Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan satu hal yang sederhana namun fundamental, yaitu kebaikan sejati adalah kebaikan yang berkelanjutan. Hal itulah yang coba diwujudkan oleh Desamind Chapter Yogyakarta bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sebagai komitmen jangka panjang untuk terus hadir, terus memberi, dan terus bersatu.

Author: Desamind Chapter Yogyakarta

Jelajahi Tata Surya di Malam Hari, Desamind Pasuruan dan UINSA Gelar Teater Astronomi

By Desamind Chapter, Press Release

Pasuruan — Desamind Chapter Pasuruan berkolaborasi dengan Program Studi Ilmu Falak Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar kegiatan edukasi kreatif bertajuk “Teater Astronomi” pada Sabtu malam (7/3). Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB ini bertujuan mengenalkan konsep dasar astronomi kepada anak-anak di Desa Tambaksari melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan.

Teater Astronomi merupakan bagian dari program BESTARI yang mengusung tema eksplorasi benda-benda langit. Berbeda dengan metode pembelajaran formal, konsep teater dipilih untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih imersif. Melalui alur cerita yang dikemas secara naratif, peserta diajak menjelajahi tata surya, mulai dari cincin Saturnus hingga permukaan Mars.

Gambar 1. Antusiasme Anak-Anak Menyaksikan Teater Astronomi

Ketua pelaksana kegiatan, Tri Bachtiar Ramadani menjelaskan bahwa pelaksanaan pada malam hari dipilih untuk memperkuat pengalaman belajar peserta secara langsung.

“Kami ingin menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan, tetapi tetap berbasis ilmiah. Dengan dukungan mahasiswa Ilmu Falak UINSA, anak-anak tidak hanya menonton, tetapi juga memahami konsep benda langit secara sederhana,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tambaksari, Taruwi, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan edukasi seperti ini masih jarang dilakukan di wilayah pedesaan, padahal minat anak-anak terhadap ilmu pengetahuan cukup tinggi.

“Kami mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Anak-anak mendapatkan pengetahuan baru tentang astronomi dengan cara yang mudah dipahami,” ungkapnya.

Gambar 2. Apresiasi dan Sambutan dari Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tambaksari

Selama kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat tinggi, terutama saat sesi simulasi perjalanan antarbenda langit. Mahasiswa Ilmu Falak UINSA berperan sebagai fasilitator yang menjelaskan berbagai fenomena astronomi dengan pendekatan yang komunikatif dan sesuai dengan usia anak.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya kolaboratif dalam menghadirkan pendidikan sains yang lebih kontekstual dan menarik bagi anak-anak di desa, khususnya dalam mengenalkan ilmu astronomi sejak dini.

Author: Mukhammaad Thoriq Aziz

Editor: Ahmad Zamzami

Monitoring dan Evaluasi Jadi Momentum Penguatan Proyek Sosial Awardee Beasiswa Desamind 5.0

By Beasiswa Desamind, Berita Terkini, Press Release

Desamind Indonesia menyelenggarakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MoNev) Awardee Beasiswa Desamind 5.0 pada Sabtu, (31/01) pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini menjadi bagian dari mekanisme pendampingan awardee dalam memantau perkembangan, pelaksanaan, serta keberlanjutan proyek sosial yang dijalankan.

Dalam sambutannya, President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.(ITE), menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi merupakan ruang refleksi dan pembelajaran bersama bagi para awardee.

“Monitoring dan evaluasi ini menjadi momentum untuk melihat sejauh mana proyek sosial berjalan, apa yang telah dan belum dilakukan, serta menjadi ruang konsultasi dengan mentor untuk melakukan perbaikan,” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti oleh lima awardee Beasiswa Desamind 5.0, yaitu Anisatul Himmah (Universitas Jember), Wawan Sulaeman (UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Bayu Hardito (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya), Ruhillah Khadijah El Basri (Universitas Brawijaya), serta Aprilia Kusuma Dewi (Universitas Gadjah Mada). Para awardee mempresentasikan perkembangan proyek sosial yang telah berjalan selama setengah periode program, mencakup capaian kegiatan, tantangan pelaksanaan, serta rencana tindak lanjut.

Salah satu proyek yang mendapat perhatian panel adalah program edukasi seksual anak berbasis komunitas yang dijalankan oleh Wawan Sulaeman. Proyek ini mengintegrasikan materi edukasi seksual dengan pendekatan kultural melalui cerita rakyat Sunda, khususnya tokoh Kabayan. Pendekatan tersebut digunakan sebagai medium pembelajaran agar materi lebih komunikatif, kontekstual, dan dapat diterima oleh anak-anak serta orang tua di lingkungan desa.

Panelis monitoring dan evaluasi yang terdiri atas akademisi dan praktisi kemudian memberikan tanggapan serta masukan terhadap seluruh presentasi proyek sosial. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi tertutup untuk menyusun catatan evaluasi yang memuat perkembangan program, kendala yang dihadapi, serta rekomendasi perbaikan.

Hasil monitoring dan evaluasi ini menjadi bagian dari proses pendampingan lanjutan bagi awardee Beasiswa Desamind 5.0 dalam pelaksanaan proyek sosial pada periode berikutnya.

Author: Zaky Badruzzaman

Editor: Ahmad Zamzami