Skip to main content
Tag

#sdggs10BerkurangnyaKesenjangan

Aat Rahmawati Raih UGM Law School Awards 2026 atas Dedikasi Pengabdian di NTT

By Berita Terkini, Press Release

Yogyakarta — Aat Rahmawati, pemudi asal Purbalingga sekaligus Wakil Kepala Desamind Chapter Purbalingga 2024, menerima anugerah UGM Law School Awards 2026 kategori Tokoh Pelopor Berkelanjutan. Penghargaan tersebut diberikan dalam puncak peringatan Dies Natalis ke-80 (Lustrum ke-16) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada Jumat (13/2) di Auditorium Gedung Fakultas Hukum UGM.

Penghargaan ini diberikan atas dedikasi Aat dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui pengabdiannya sebagai aktivis Desamind dan relawan guru muda dalam Program Pi Mengajar (Pijar) 2025 yang diinisiasi CT ARSA Foundation.

Selama satu tahun penuh, Aat mengabdi di SDN 02 Lelogama, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia mendampingi 69 siswa dengan latar belakang akses pendidikan yang terbatas. Tak hanya menjalankan tugas mengajar, Aat juga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan dukungan tambahan bagi siswa, guru, dan orang tua.

Gambar 1. Aat saat mendampingi belajar anak-anak SDN 02 Lelogama

Perjalanan tersebut tidak terlepas dari proses panjangnya di Desamind. Sebagai Wakil Kepala Desamind Chapter Purbalingga, Aat aktif menginisiasi program pemberdayaan, penguatan kapasitas pemuda, serta pengembangan komunitas berbasis desa. Pengalaman memimpin dan mengelola program di Desamind membentuk ketajaman perspektif sosialnya sekaligus memperkuat komitmennya terhadap pendidikan dan pembangunan berkelanjutan.

Menurut Aat, ruang belajar dan praktik sosial di Desamind menjadi bekal penting dalam menjalankan pengabdian di Lelogama.

“Desamind mengajarkan saya melihat desa sebagai ruang tumbuh bersama, bukan sekadar objek program. Dari sana saya belajar membangun kolaborasi dan memahami kebutuhan masyarakat secara partisipatif,” ungkap Aat.

Selama masa pengabdian di Lelogama, Aat dikenal adaptif dan aktif berbaur dengan masyarakat setempat. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan warga, mulai dari diskusi pendidikan hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Kehadirannya tidak hanya memberi dampak akademik, tetapi juga memperkuat semangat belajar dan partisipasi orang tua dalam mendukung pendidikan anak.

Perjalanan satu tahun di Lelogama, menurut Aat, menjadi pengalaman yang membentuk cara pandangnya tentang makna syukur dan pengabdian.

“Di sana saya belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi. Justru dari sanalah semangat untuk terus berbuat lahir,” ujarnya.

Penghargaan yang diterima Aat merupakan sebuah apresiasi dan dukungan Fakultas Hukum UGM kepada mereka yang melaksanakan praktik pengabdian kolaboratif dan berkelanjutan. Sebelumnya, Fakultas Hukum UGM juga telah menggelar Program Pengabdian Unggul di Nusa Tenggara Timur melalui kolaborasi multiple helix bersama Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira (FH Unwira), Desamind Indonesia, serta dukungan Sinarmas Mining. Salah satu lokasi pengabdian program tersebut berada di SDN 02 Lelogama, tempat Aat menjalankan tugasnya.

Gambar 2. Penyuluhan Hukum PKBH UGM di SDN 02 Lelogama

Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.

“Penghargaan ini menunjukkan konsistensi Fakultas Hukum UGM dalam mengapresiasi pihak-pihak yang terus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tutur Prof. Ova Emilia.

UGM Law School Awards merupakan bentuk penghargaan kepada individu yang dinilai berkontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan hukum dan pengabdian berkelanjutan. Pencapaian Aat Rahmawati menjadi bukti bahwa semangat pengabdian generasi muda mampu menghadirkan dampak konstruktif bagi komunitas yang membutuhkan.

Author: Ahmad Zamzami

Dorong Pengentasan Kemiskinan, Dinsos Jateng Libatkan Desamind dalam Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Ekonomi Produktif

By Berita Terkini, Press Release

Semarang – Upaya pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah terus diperkuat melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Sosial menyelenggarakan Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) pada Selasa (10/2) di Petra Ballroom, Hotel Noormans, Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh perwakilan Dinas Sosial kabupaten/kota se-Jawa Tengah.

Dalam pembukaan kegiatan, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Iwanuddin Iskandar, S.H., M.Hum., memaparkan perkembangan kondisi kemiskinan di Jawa Tengah. Ia menyampaikan bahwa garis kemiskinan per September 2025 tercatat sebesar Rp570.870 per kapita per bulan, meningkat 6,15 persen dibandingkan Maret 2025. Data tersebut menjadi pengingat pentingnya penguatan program-program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dan tepat sasaran.

Sosialisasi dan koordinasi ini dirancang sebagai ruang konsolidasi lintas daerah untuk menyamakan persepsi dan strategi dalam pelaksanaan program Usaha Ekonomi Produktif. Program UEP diharapkan tidak hanya mendorong peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi keluarga penerima manfaat.

Dalam forum tersebut, Desamind Indonesia melalui Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.(ITE) memaparkan terkait “Pemberdayaan dan Pengembangan Desa”. Hardika menekankan pentingnya pendekatan social entrepreneurship dalam merancang dan menjalankan program Usaha Ekonomi Produktif, khususnya di wilayah desa.

Gambar 1. Narasumber dan Peserta Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) Dinsos Jateng

“Usaha ekonomi produktif seharusnya diposisikan sebagai proses pemberdayaan, bukan sekadar bantuan. Dengan pendekatan social entrepreneurship, masyarakat didorong membangun usaha yang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial yang berkelanjutan,” ujar Hardika.

Ia menjelaskan bahwa penguatan usaha berbasis desa perlu memperhatikan potensi lokal, partisipasi masyarakat, serta keberlanjutan jangka panjang. Dalam konteks tersebut, pemuda desa memiliki peran strategis sebagai penggerak inovasi dan aktor pembangunan yang mampu menjembatani nilai sosial dan ekonomi.

“Pelibatan pemuda menjadi penting karena mereka memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan, kreativitas dalam mengembangkan usaha, serta visi jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan program,” tambahnya.

Kegiatan ini juga menghadirkan dr. Moch. Ichlas Riyanto, M.M., Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Cilacap. Dalam pemaparannya, Ichlas menekankan pergeseran pendekatan program sosial dari pola bantuan menuju kemandirian usaha. Ia menyoroti peran strategis pemerintah daerah dalam memastikan proses pendampingan berjalan secara konsisten dan berorientasi pada keberlanjutan.

“Pendampingan tidak boleh berhenti pada penyaluran bantuan. Yang lebih penting adalah memastikan usaha yang dijalankan mampu tumbuh, bertahan, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi keluarga penerima,” jelas Ichlas.

Melalui kegiatan sosialisasi dan koordinasi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi masyarakat sipil, dalam mendorong Usaha Ekonomi Produktif sebagai instrumen pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan. Keterlibatan Desamind Indonesia dalam forum ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus mendukung pengembangan desa melalui pendekatan social entrepreneurship dan penguatan kapasitas masyarakat.

Author: Ahmad Zamzami

Monitoring dan Evaluasi Jadi Momentum Penguatan Proyek Sosial Awardee Beasiswa Desamind 5.0

By Beasiswa Desamind, Berita Terkini, Press Release

Desamind Indonesia menyelenggarakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MoNev) Awardee Beasiswa Desamind 5.0 pada Sabtu, (31/01) pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini menjadi bagian dari mekanisme pendampingan awardee dalam memantau perkembangan, pelaksanaan, serta keberlanjutan proyek sosial yang dijalankan.

Dalam sambutannya, President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.(ITE), menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi merupakan ruang refleksi dan pembelajaran bersama bagi para awardee.

“Monitoring dan evaluasi ini menjadi momentum untuk melihat sejauh mana proyek sosial berjalan, apa yang telah dan belum dilakukan, serta menjadi ruang konsultasi dengan mentor untuk melakukan perbaikan,” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti oleh lima awardee Beasiswa Desamind 5.0, yaitu Anisatul Himmah (Universitas Jember), Wawan Sulaeman (UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Bayu Hardito (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya), Ruhillah Khadijah El Basri (Universitas Brawijaya), serta Aprilia Kusuma Dewi (Universitas Gadjah Mada). Para awardee mempresentasikan perkembangan proyek sosial yang telah berjalan selama setengah periode program, mencakup capaian kegiatan, tantangan pelaksanaan, serta rencana tindak lanjut.

Salah satu proyek yang mendapat perhatian panel adalah program edukasi seksual anak berbasis komunitas yang dijalankan oleh Wawan Sulaeman. Proyek ini mengintegrasikan materi edukasi seksual dengan pendekatan kultural melalui cerita rakyat Sunda, khususnya tokoh Kabayan. Pendekatan tersebut digunakan sebagai medium pembelajaran agar materi lebih komunikatif, kontekstual, dan dapat diterima oleh anak-anak serta orang tua di lingkungan desa.

Panelis monitoring dan evaluasi yang terdiri atas akademisi dan praktisi kemudian memberikan tanggapan serta masukan terhadap seluruh presentasi proyek sosial. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi tertutup untuk menyusun catatan evaluasi yang memuat perkembangan program, kendala yang dihadapi, serta rekomendasi perbaikan.

Hasil monitoring dan evaluasi ini menjadi bagian dari proses pendampingan lanjutan bagi awardee Beasiswa Desamind 5.0 dalam pelaksanaan proyek sosial pada periode berikutnya.

Author: Zaky Badruzzaman

Editor: Ahmad Zamzami

Tanamkan Nilai Etika Sejak Dini, Desamind Indonesia Gelar Ethics for Kids Action Day di SD Muhammadiyah 1 Patuk

By Berita Terkini, Press Release

Gunungkidul – (28/01) Dalam upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan beretika, Desamind Indonesia menyelenggarakan kegiatan Ethics for Kids Action Day di SD Muhammadiyah 1 Patuk, Gunungkidul. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak sekolah dasar untuk mengenal, memahami, dan membiasakan nilai-nilai etika dalam kehidupan sehari-hari.

Program ini merupakan kelanjutan dari Desamind Youth Impact Lab yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA), serta terhubung dengan rangkaian Luring Hands-On Experience Proyek Sosial di Desa dalam rangkaian Bootcamp Junior Rural Development oleh Sekolah Local Hero Indonesia. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari program lanjutan Desamind bersama PF Muda yang berfokus pada praktik baik, pembelajaran kontekstual, serta keterlibatan langsung pemuda di desa.

Kegiatan Ethics for Kids Action Day dirancang dengan pendekatan yang ringan, interaktif, dan dekat dengan dunia anak-anak. Nilai-nilai etika tidak disampaikan melalui ceramah panjang, melainkan melalui cerita, permainan, dan pengalaman langsung yang mudah dipahami. Fokus utama kegiatan meliputi nilai kejujuran, kesopanan, kepedulian, saling menghargai, keberanian berbuat baik, serta sikap anti-perundungan (bullying), nilai-nilai dasar yang penting ditanamkan sejak dini, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan pertemanan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi storytelling atau mendongeng etika yang mengajak anak-anak berdiskusi mengenai perilaku baik dan tidak baik dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, para siswa diajak menuliskan mimpi, harapan, serta kebaikan yang ingin mereka lakukan pada kertas warna-warni yang kemudian ditempelkan di “Dinding Mimpi Anak Hebat”. Aktivitas ini menjadi simbol bahwa setiap anak memiliki cita-cita dan potensi untuk tumbuh menjadi pribadi yang beretika.

Suasana semakin hidup saat anak-anak mengikuti permainan edukatif Truth or Dare versi etika yang dikemas melalui Little Heroes Card. Melalui permainan ini, siswa belajar tentang kejujuran, keberanian mengakui kesalahan, serta pentingnya bersikap sopan dan peduli melalui pertanyaan dan tantangan sederhana yang dekat dengan keseharian mereka.

Gambar 1. Pos Permaianan Word Search Ethics for Kids 

Salah satu sesi yang paling dinantikan adalah “Petualangan 5 Kata Ajaib”, sebuah permainan berbentuk treasure hunt yang mengajak siswa menjelajah lima pos permainan. Setiap pos mewakili satu kata kunci etika, yaitu maaf, terima kasih, permisi, silakan, dan tolong. Melalui berbagai permainan seperti word search, oper pesan, hingga puzzle sederhana, anak-anak diajak memahami bahwa kata-kata tersebut bukan sekadar ucapan, melainkan wujud sikap tanggung jawab, kesopanan, kepedulian, dan empati dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, seluruh siswa SD Muhammadiyah 1 Patuk mengikuti Deklarasi Anti-Bullying. Anak-anak diajak memahami apa itu perundungan, dampaknya bagi korban, serta pentingnya saling menjaga dan menghargai. Deklarasi ini ditandai dengan cap tangan para siswa pada media deklarasi sebagai simbol komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif.

Gambar 2. Deklarasi Anti-Bullying dengan Cap Tangan

Kepala SD Muhammadiyah 1 Patuk, Indah Hariyani, S.Pd., Gr., menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

 “Saya mewakili segenap guru mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan hari ini. Saya sangat senang dan bangga. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan di sekolah-sekolah lain, khususnya di wilayah Gunungkidul,” ujarnya.

Tak hanya berdampak bagi anak-anak, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bagi para relawan muda. Cintya, salah satu peserta Desamind Youth Impact Lab yang baru pertama kali terjun langsung sebagai relawan di desa mengaku bersyukur bisa gabung dan terlibat langsung bersama rekan-rekan Desamind.


“Awalnya saya gugup karena ini pengalaman pertama berinteraksi langsung dengan anak-anak di desa. Namun prosesnya ternyata hangat dan menyenangkan. Saya belajar bahwa menanamkan nilai etika tidak harus rumit, cukup melalui hal-hal kecil, dilakukan secara konsisten, dan dengan hati. Pengalaman ini menguatkan keyakinan saya bahwa praktik baik di desa itu penting dan berdampak,” tuturnya.

Lebih lanjut, Cintya berharap sinergi antara Desamind Indonesia, Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA), Sekolah Local Hero Indonesia, PF Muda, serta SD Muhammadiyah 1 Patuk, menjadi pemantik lahirnya lebih banyak ruang belajar etika yang menyenangkan, sekaligus mendorong anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat karena keberanian mereka untuk berbuat baik dan beretika.

Author : Alwi Dwi Rahmadi

Desamind Farm Gelar Soft Launching Bumi Sawala, Ruang Belajar Hidup Agroeduwisata

By Desamind Farm, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Sukabumi – Desamind Indonesia melalui unit pengembangan Desamind Farm menggelar Soft Launching Bumi Sawala (Agroeduwisata) pada Sabtu, 11 Januari 2026, di Bodogol Kampung Hoya, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kegiatan ini menjadi dry run perdana sekaligus rangkaian awal peringatan Dies Natalis Desamind Indonesia ke-6, dengan mengusung konsep ruang belajar hidup yang mengintegrasikan edukasi, ekologi, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Sebanyak 20 pengurus pusat Desamind Indonesia hadir sebagai peserta dry run, datang dari berbagai daerah, antara lain Solo, Magelang, Klaten, Semarang, serta wilayah Jabodetabek. Kehadiran lintas daerah ini menjadi bentuk dukungan sekaligus uji coba awal terhadap pengalaman agroeduwisata yang akan dikembangkan secara berkelanjutan di Bumi Sawala.

Gambar 1. Keseruan saat Games Pembukaan

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan peserta oleh pemuda lokal pengelola Bumi Sawala, dilanjutkan dengan pengenalan kawasan dan tur edukatif. Peserta diajak mengunjungi peternakan terintegrasi, mengenal pengolahan kompos ramah lingkungan, serta mempelajari tanaman Hoya khas Bodogol. Kegiatan juga dilengkapi dengan praktik agroedukasi sederhana, seperti mencukur bulu domba, membuat kokedama, dan memetik hasil kebun.

Gambar 2. Praktik Mencukur Bulu Domba

Seluruh aktivitas dirancang sebagai pengalaman belajar partisipatif yang mempertemukan pengunjung dengan praktik pertanian berkelanjutan sekaligus kehidupan desa secara langsung. Sebagai dry run perdana, Soft Launching Bumi Sawala menjadi ruang evaluasi awal dan penguatan konsep sebelum program ini dibuka lebih luas untuk publik.

Zakky Muhammad Noor, Director of Desamind Farm, mengungkapkan bahwa Bumi Sawala lahir dari proses panjang yang dibangun dari nol dengan keyakinan dan tekad bersama.

“Saya tidak menyangka ide Bumi Sawala  bisa sampai pada tahap ini. Konsep yang melahirkan local heroes ini dibangun dari nol, dengan penuh keyakinan dan kegigihan. Ini adalah hasil kolaborasi banyak pihak yang saling memberi ruang, saling belajar, dan bertumbuh bersama,” ujar Zakky.

Gambar 3. Hasil Kerajinan Kokedama Peserta Soft Launching Bumi Sawala

Hal senada disampaikan Salman, Koordinator Lapangan Bumi Sawala , yang menilai proses pendampingan pemuda desa sebagai kunci utama keberlanjutan program.

“Awalnya teman-teman pemuda lokal sangat pesimis dan bingung harus mulai dari mana, bahkan tidak percaya diri karena belum memiliki keterampilan mengelola agroeduwisata. Berkat arahan dan pendampingan dari rekan-rekan Desamind, kami perlahan menemukan kepercayaan diri, terus mencoba, hingga akhirnya sampai di tahap ini. Kami sadar, ini bukan akhir, melainkan awal dari proses panjang,” ungkap Salman.

Dari sisi peserta, Isna Fahrizal, Director of Secretariat & Finance Desamind Indonesia, menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras seluruh pengelola BUMI SAWALA, khususnya pemuda desa yang menjadi aktor utama di lapangan.

“Pengalaman agroeduwisata yang diberikan sangat luar biasa dan terasa otentik. Para pemuda Bumi Sawala  menunjukkan kesiapan, keramahan, dan semangat belajar yang tinggi. Harapannya, ke depan semakin banyak pengunjung yang datang dan merasakan pengalaman serupa, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi desa,” tutur Isna.

Penulis: Ahmad Zamzami

Menyapa Dusun Kemiri: Potret Dua Wajah Kehidupan di Lereng Merapi

By Artikel, Desamind Chapter

Di lereng selatan Gunung Merapi yang hijau dan subur, terdapat Dusun Kemiri. Sebuah dusun kecil di Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, yang menyimpan kompleksitas kehidupan khas masyarakat pedesaan agraris di Yogyakarta. Udara sejuk, tanah vulkanik yang kaya mineral, serta lanskap perbukitan yang asri menjadi latar kehidupan sehari-hari warga yang sebagian besar menggantungkan penghidupan pada peternakan kambing dan penambangan pasir.

Namun, di balik keasrian tersebut, tersimpan dua wajah yang saling berdampingan: potensi besar yang menjanjikan serta permasalahan struktural yang menggerogoti dari dalam maupun luar.

Selama tiga hari dua malam, 30 Oktober hingga 2 November 2025, dalam kegiatan live-in bertajuk MENYAPA (Membangun Aksi Nyata dan Peduli Desa) Dusun Kemiri, Tim Desamind Chapter Yogyakarta tinggal bersama warga. Kami tidak sekadar mengamati, tetapi turut merasakan denyut kehidupan Kemiri. Melalui interaksi dengan peternak, ibu rumah tangga, hingga pemuda karang taruna, tersusun potret tentang bagaimana masyarakat lereng Merapi ini bertahan, beradaptasi, dan berinovasi di tengah keterbatasan.

Ketika Peternak Kambing Menjadi Pelopor Inovasi

Dusun Kemiri sedang bertransformasi. Perlahan namun pasti, masyarakat bergerak dari ketergantungan pada pertanian salak yang nilainya terus menurun menuju pilar ekonomi baru, yakni peternakan kambing.

Yang menarik bukan sekadar jumlah warga yang beternak kambing, melainkan bagaimana sebagian dari mereka telah melampaui pola pemeliharaan tradisional. Beberapa rumah tangga mulai merambah sektor hilir dengan mengolah susu kambing menjadi susu bubuk, yogurt, bahkan es krim.

Gambar 1. Pengolahan Susu Kambing

Inovasi ini lahir dari inisiatif individu, dari dapur-dapur kecil, tanpa pelatihan formal maupun dukungan struktural. Seorang warga yang kami temui telah memproduksi susu bubuk skala rumah tangga dengan peralatan sederhana dan proses manual. Produknya menunjukkan potensi pasar yang nyata. Di rumah lain, seorang ibu rutin membuat yogurt untuk konsumsi keluarga dan tetangga.

Aktivitas ini bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan bukti adanya jiwa kewirausahaan serta kapasitas teknologi pangan di tingkat rumah tangga yang selama ini kurang terlihat. Di sisi lain, penambangan pasir menjadi penopang ekonomi yang memberikan likuiditas cepat bagi sebagian warga.

Modal Sosial yang Menyimpan Energi Besar

Jika inovasi ekonomi adalah mesin, maka kelembagaan sosial adalah bahan bakarnya. Dusun Kemiri memiliki sejumlah kelompok masyarakat yang aktif dan potensial. Kelompok Ternak Sapi telah memiliki struktur organisasi yang jelas, infrastruktur pendukung, serta jaringan hingga ke luar dusun. Mereka menjadi contoh modal sosial bridging, yakni kemampuan membangun koneksi dengan pihak eksternal.

Namun, di samping kelompok ternak sapi yang terorganisasi, terdapat puluhan peternak kambing yang berjalan sendiri-sendiri tanpa payung kelembagaan yang jelas.

Gambar 2. Salah Satu Area Peternakan Kambing di Dusun Kemiri

PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) Dusun Kemiri tidak sekadar menjalankan kegiatan rutin seperti arisan atau posyandu. Kelompok ini merupakan simpul pemberdayaan perempuan yang mapan dan dipercaya masyarakat. Dengan jangkauan hingga tingkat rumah tangga, PKK memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam program kesehatan, pengelolaan sampah, hingga pengembangan usaha mikro.

Sementara itu, Karang Taruna menghadirkan energi generasi muda yang adaptif dan melek digital. Mereka menjadi jembatan antara kearifan lokal dan modernitas. Sayangnya, potensi besar tersebut belum terorkestrasi dalam gerakan kolektif yang terarah.

Fragmentasi Sosial: Ironi di Tengah Kekuatan Komunitas

Potensi-potensi di Dusun Kemiri ibarat butiran mutiara yang berserakan, belum terangkai menjadi kesatuan yang utuh.

Permasalahan internal terlihat dari ketidakjelasan kelembagaan peternak kambing. Sementara peternak sapi menikmati akses pelatihan, bantuan, dan jaringan pemasaran, peternak kambing yang jumlahnya lebih banyak masih bertumpu pada praktik individual. Mereka tidak memiliki saluran representasi dalam perencanaan pembangunan desa.

Permasalahan eksternal juga muncul dalam bentuk keterbatasan akses jaringan. Hanya individu dengan modal sosial, ekonomi, dan kultural lebih tinggi yang mampu menjangkau pasar serta sumber daya eksternal. Ketimpangan jaringan sosial pun terjadi: pelaku yang sudah mapan semakin maju, sementara sebagian lainnya tertinggal. Inovasi yang seharusnya menjadi penggerak kolektif justru terjebak sebagai keunggulan individu.

Jebakan Ekonomi: Dari Legalitas hingga Pasar Monopsoni

Di sektor ekonomi, persoalan membentuk lingkaran yang sulit diputus. Pertama, aspek legalitas. Produk olahan susu kambing Kemiri yang memiliki potensi kualitas terhambat proses perizinan BPOM dan sertifikasi halal. Hambatan ini bukan karena ketiadaan kemauan, melainkan prosedur daring yang kompleks serta minimnya pendampingan. Tanpa legalitas, produk hanya beredar di lingkungan terbatas dengan nilai jual dan volume yang rendah.

Kedua, stagnasi nilai tambah. Inovasi pengolahan telah dimulai, tetapi belum diikuti strategi pemasaran kolektif, penguatan merek (branding), maupun diversifikasi produk secara sistematis.

Ketiga, ketergantungan pada satu pembeli besar yang bersifat monopsoni. Seorang pembeli tunggal mendominasi penyerapan susu kambing. Penundaan pembayaran hingga berbulan-bulan pernah terjadi dengan nilai kerugian signifikan. Namun, warga tetap bertahan karena tidak memiliki alternatif pasar.

Keempat, keterbatasan layanan kesehatan hewan. Ketika ternak sakit, biaya pengobatan menjadi beban besar yang berisiko mengurangi pendapatan keluarga. Infrastruktur pendukung bagi ekonomi produktif dusun ini masih minim perhatian.

Tekanan Lingkungan: Krisis yang Senyap

Jika persoalan sosial dan ekonomi tampak di permukaan, persoalan lingkungan berlangsung lebih senyap. Sampah anorganik menjadi masalah sejak pengepul lokal berhenti beroperasi. Plastik dan kemasan tak lagi memiliki nilai ekonomi. Pembakaran terbuka menjadi solusi darurat yang dinormalisasi karena ketiadaan alternatif.

Limbah popok sekali pakai menambah tantangan baru. Karakteristiknya yang sulit terurai dan tidak bernilai ekonomi membuatnya terabaikan dalam sistem daur ulang informal. Warga kerap membakar, menimbun, atau membuangnya secara terbatas.

Lebih jauh, Dusun Kemiri juga menjadi lokasi pembuangan popok oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, sehingga menambah beban ekologis warga.

Belajar dari Kemiri

Apa yang terjadi di Dusun Kemiri bukan kasus terisolasi, melainkan gambaran tantangan pembangunan pedesaan di Indonesia. Potensi besar ada, tetapi belum sepenuhnya terkelola. Kelembagaan tersedia, tetapi belum terintegrasi.

Fragmentasi menjadi tantangan utama. Peternak kambing berjalan sendiri, kelompok ternak sapi belum terhubung secara strategis dengan PKK dan Karang Taruna, serta inovasi pengolahan susu belum berkembang melalui kolaborasi lintas kelompok.

Menatap ke Depan: Potensi yang Menanti Perpaduan

Dusun Kemiri memiliki modal untuk bertransformasi: sumber daya alam yang melimpah, modal sosial yang kuat, dan inovasi yang telah lahir dari inisiatif warga sendiri. Susu bubuk, yogurt, dan es krim bukan sekadar gagasan, melainkan produk nyata dari dapur warga. Tantangannya bukan menciptakan potensi baru, tetapi menghubungkan potensi yang telah ada.

Tiga hari dua malam di Kemiri menunjukkan bahwa praktik pembangunan berkelanjutan telah tumbuh dalam skala kecil. Diperlukan penguatan jejaring, pendampingan, serta integrasi kelembagaan agar potensi tersebut berkembang secara kolektif dan berkelanjutan.

Masa depan Dusun Kemiri pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan warganya merangkai potensi menjadi kekuatan bersama.

Author: Desamind Chapter Yogyakarta

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Chapter Magelang Dorong Pemberdayaan Perempuan Desa lewat Program Public Speaking KWT Permai Tani

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Magelang – (21/10) Desamind Chapter Magelang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pemberdayaan perempuan desa melalui peningkatan kapasitas komunikasi dengan menyelenggarakan Public Speaking KWT Permai Tani. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum sekaligus membangun rasa percaya diri anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Permai Tani, Desa Gandusari.

Mengusung tema “Bangun Percaya Diri, Tingkatkan Potensi Diri,” kegiatan Public Speaking KWT Permai Tani dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama digelar pada Minggu, 31 Agustus 2025, dan tahap kedua pada Minggu, 21 September 2025. Kedua kegiatan berlangsung di Markas KWT Desa Gandusari, Kabupaten Magelang. Narasumber utama dalam pelatihan ini adalah Rahmat Subur Santoso, praktisi komunikasi yang aktif dalam pelatihan pengembangan diri, serta turut dihadiri oleh Ketua KWT, Ibu Darojatul Aliyah.

Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pembekalan teori mengenai dasar-dasar public speaking, termasuk cara membangun kepercayaan diri, menyusun pesan yang efektif, dan mengatasi rasa gugup. Sementara itu, pada tahap kedua, peserta diajak untuk berlatih berbicara langsung di depan audiens. Melalui metode praktik dan umpan balik langsung dari pemateri, anggota KWT berkesempatan mengasah kemampuan komunikasi yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk mendukung kegiatan pemasaran produk mereka.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba berbicara di depan rekan-rekannya. Salah satu peserta, Musripah, mengaku sangat terbantu dengan diadakan praktik ini.

“Pelatihan yang dilakukan kakak-kakak sangat sesuai dengan kebutuhan kami. Selama ini kami kesulitan memasarkan produk karena kurang percaya diri berbicara di depan orang. Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana menyampaikan pesan dengan baik dan percaya diri,” ujar Musripah.

Peserta lain, Choisah, juga menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

“Kami sangat berterima kasih karena melalui program ini kami jadi punya gambaran untuk melakukan pemasaran, terutama lewat media sosial. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ungkap Choisah.

Sebagai ketua pelaksana, Alif Zidan Ramadhan merasa bangga dan bersyukur atas kelancaran kegiatan ini. Baginya antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa pelatihan tersebut dibutuhkan oleh masyarakat.

“Antusiasme ibu-ibu luar biasa. Mereka aktif berdiskusi dan berlatih berbicara di depan umum. Harapannya, setelah pelatihan ini, anggota KWT lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan mampu mempromosikan produk-produk mereka secara efektif, baik secara langsung maupun melalui media digital,” jelas Alif.

Melalui program ini, Desamind Chapter Magelang berharap pemberdayaan perempuan desa tidak hanya berhenti pada pelatihan teknis, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas personal yang memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan di tingkat lokal. Langkah sederhana seperti berbicara dengan percaya diri di ruang publik menjadi awal bagi tumbuhnya kemandirian dan keberdayaan yang lebih luas di masyarakat.

Author: Ahmad Zamzami

Desamind Chapter Malang Dorong Ibu-Ibu Desa Kucur Melek Digital dan Percaya Diri Jualan Online

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Malang (27 Juli 2025) – Balai Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang menjadi saksi semangat pemberdayaan perempuan desa melalui kegiatan workshop bertajuk “Mengasah Keberanian: Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Keterampilan Komunikasi Ibu-Ibu Desa”. Acara ini diprakarsai oleh Desamind Chapter Malang sebagai bentuk kontribusi dalam penguatan kapasitas ibu-ibu desa, khususnya dalam hal pemasaran dan komunikasi.

Workshop dibuka dengan pemaparan dari Hardika Dwi Hermawan, seorang praktisi pemasaran digital sekaligus penggerak literasi teknologi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam sesi berjudul “Pemasaran Digital untuk UMKM Desa”, Hardika memperkenalkan beragam kanal digital yang dapat digunakan untuk memasarkan produk lokal, seperti WhatsApp Business, Instagram, dan platform e-commerce. Ia juga menekankan pentingnya membangun citra produk melalui foto menarik dan cerita yang mengena.

“Teknologi adalah peluang. Kita hanya perlu membiasakan diri menggunakannya agar produk ibu-ibu bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Hardika yang disambut antusias oleh peserta.

Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Ziddan Hakim Abdul Jabbar (Arsip Desamind)

Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Ziddan Hakim Abdul Jabbar dengan topik “Membangun Kepercayaan Diri untuk Memulai Berjualan Online”. Dalam paparannya, Ziddan mendorong para peserta untuk tidak ragu memulai usaha, meskipun tanpa pengalaman sebelumnya. Ia mengajak peserta melakukan praktik berbicara di depan umum dan memberikan strategi untuk mengatasi rasa minder atau malu saat harus menawarkan produk secara langsung maupun daring.

“Kepercayaan diri itu dilatih, bukan ditunggu. Mulai saja dulu, dari hal kecil, dari lingkungan sekitar,” pesan Ziddan dengan semangat.

Gambar 2. Foto Bersama Desamind Chapter Malang dengan Ibu-Ibu Peserta Pelatihan (Arsip Desamind)

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan sesi ice breaking, relaksasi, dan foto bersama, yang semakin menghangatkan suasana kekeluargaan. Ketua Pelaksana, Anaqotul Fadillah A, menuturkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari misi Desamind untuk memberdayakan masyarakat desa melalui pendidikan yang menyenangkan dan aplikatif.

Dengan semangat “Ingat Bangsa – Ingat Desa”, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal dari perubahan positif bagi para ibu-ibu Desa Kucur dalam berwirausaha dan beradaptasi di era digital.