Surakarta — Yayasan Benih Keluarga Indonesia (YBKI) Surakarta menggelar kegiatan sharing session bersama Desamind Indonesia pada Jumat (4/4). Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama dalam memperkuat kapasitas kelembagaan, khususnya dalam pengelolaan relawan dan pengembangan program pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan diawali dengan pemaparan dari Ketua YBKI Surakarta, Nurhayati, S.Pd.I., Gr. dengan memperkenalkan profil serta berbagai program yang telah dijalankan. YBKI selama ini bergerak dalam bidang pembinaan dan pemberdayaan keluarga melalui sejumlah inisiatif, seperti sekolah pranikah, program parenting, hingga pendidikan anak berbasis masjid.
Dalam sesi tersebut, YBKI juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi dalam mengelola relawan. Salah satu isu yang disoroti adalah menjaga konsistensi keterlibatan relawan dalam jangka panjang. Sebagai organisasi berbasis kerelawanan, YBKI menyadari bahwa relawan tidak dapat dipaksa, sehingga dibutuhkan pendekatan yang tepat agar mereka tetap berkomitmen.
Menjawab hal tersebut, President and Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc. (ITE), memaparkan strategi Desamind dalam membangun dan menjaga keberlanjutan relawan. Ia menegaskan bahwa kekuatan utama Desamind terletak pada empat nilai inti, yaitu fun, ownership, collaborative, dan integrity.
Menurut Hardika, nilai fun diwujudkan melalui suasana kerja yang menyenangkan sehingga relawan merasa nyaman dalam berproses. Nilai ownership mendorong setiap individu untuk merasa memiliki program yang dijalankan. Sementara itu, collaborative menjadi kunci dalam membangun jejaring dan kerja sama lintas pihak, serta integrity menjaga komitmen dan konsistensi dalam setiap gerakan sosial.
“Relawan tidak bisa dipertahankan hanya dengan sistem, tetapi dengan rasa memiliki dan makna. Ketika mereka merasa menjadi bagian dari perubahan, mereka akan bertahan,” ujar Hardika.

Gambar 1. Sharing Session Pengelolaan Relawan dan Pengembangan Program Pemberdayaan Masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Director of Finance Desamind Indonesia, Meilani Intan Pertiwi, turut membagikan pengalamannya terkait dinamika internal organisasi. Ia menekankan bahwa soliditas tim menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan.
“Di Desamind, kami tumbuh bersama. Satu sama lain saling mendukung, sehingga terbentuk ekosistem yang kuat dan penuh semangat gotong royong,” jelas Meilani.
Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung interaktif sepanjang kegiatan. Salah satu pegiat YBKI, Nunik Nurhayati, mengaku mendapatkan banyak pembelajaran dari pengalaman Desamind.
“Kami belajar bahwa mengelola relawan bukan hanya soal program, tetapi juga membangun nilai dan budaya organisasi. Ini sangat membuka wawasan kami,” ungkapnya.
Ia juga berharap ke depan YBKI dan Desamind dapat menjalin kolaborasi yang lebih konkret dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam penguatan keluarga dan generasi muda.
Author: Ahmad Zamzami



















