Aceh Barat – Desamind Indonesia menyalurkan 275 dus air minum bagi warga terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Barat, Sumatera, pada Rabu (25/2). Bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan donasi masyarakat yang dihimpun dan dititipkan melalui Desamind sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.
Penyaluran bantuan dilakukan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat dan akan didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Desa Jambak, Desa Lawet, Desa Lancong, serta beberapa desa lain di Kabupaten Aceh Barat yang masih mengalami keterbatasan akses air bersih.
Ari Rizky, perwakilan dari Desamind Chapter Aceh Barat, mengatakan bantuan air minum difokuskan karena kebutuhan air bersih menjadi persoalan mendesak di lapangan, terutama saat Ramadhan.
“Kami menerima laporan bahwa masih banyak masyarakat kesulitan memperoleh air bersih,” ujar Rizky.
Menurutnya, bantuan ini merupakan bagian dari komitmen Desamind dalam merespon kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana secara cepat dan tepat sasaran. Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan BPBD dilakukan agar distribusi bantuan dapat menjangkau titik-titik yang paling membutuhkan.
Agus Junaedi, Koordinator Gudang BPBD Aceh Barat, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan. Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini sebagian warga masih kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.
Gambar 1. 275 Dus Air Minum Siap Didistribusikan ke Desa Jambak, Desa Lawet, Desa Lancong, serta beberapa desa lain di Kabupaten Aceh Barat
“Untuk bulan puasa ini, kebutuhan air bersih meningkat. Banyak sumur warga tertutup lumpur, sehingga bantuan air minum sangat dibutuhkan,” ungkap Agus.
Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Barat menyebabkan kerusakan infrastruktur serta mengganggu akses terhadap kebutuhan dasar, termasuk air bersih. Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas harian masyarakat.
Melalui penyaluran bantuan ini, Desamind berharap dapat membantu meringankan beban warga terdampak sekaligus mengajak masyarakat luas untuk terus memperkuat solidaritas dalam menghadapi situasi kebencanaan.
Pasuruan — Desamind Chapter Pasuruan berkesempatan mengikuti kegiatan “Ambal Dumugi” yang diselenggarakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Arjuna Desa Tambaksari untuk mengenang peristiwa langka jatuhnya meteor Tambakwatu pada 14 Februari 1975. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (14/2) sebagai bentuk upaya merawat ingatan kolektif atas fenomena alam yang diyakini menjadi satu-satunya peristiwa jatuhnya meteor di Kabupaten Pasuruan.
Ketua Pokdarwis Arjuna Desa Tambaksari, Misto, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menjaga nilai sejarah agar tetap hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, Ambal Dumugi berarti mengenang kembali datangnya meteor Tambakwatu agar peristiwa tersebut tidak hilang dari ingatan generasi muda.
Acara yang dikemas dalam bentuk tasyakuran tersebut juga menjadi momentum refleksi spiritual bagi warga. Kepala Dusun Tambakwatu, Sumarto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Ia menyebut fenomena alam yang terjadi 51 tahun silam itu sebagai anugerah Tuhan yang patut disyukuri.
“Semoga kegiatan ini membawa berkah, keselamatan, dan ketenteraman bagi warga Desa Tambaksari, khususnya Dusun Tambakwatu,” ungkapnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Tambaksari, Holikhati Rohmah, menilai peringatan ini memiliki makna penting bagi identitas desa. Ia menyebut peristiwa yang terjadi merupakan fenomena langka yang memperkaya sejarah lokal.
“Tadi Pak Kasun menyampaikan bahwa Tambaksari bukan hanya ‘banyu langit’, tetapi juga batu yang jatuh dari langit. Ini merupakan anugerah bagi kita,” ujarnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga serta melestarikan lokasi bersejarah tersebut agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.
Momentum peringatan semakin bermakna dengan kehadiran saksi mata peristiwa tersebut. Doro, warga setempat yang saat kejadian berusia sekitar 15 tahun, mengisahkan detik-detik jatuhnya meteor. Ia melihat langsung benda langit itu melintas dengan cahaya hijau kebiruan dari kejauhan sebelum berubah putih dan menghantam tanah tidak jauh dari ladangnya.
“Kebetulan saya berada di kandang sapi dan lokasinya dekat ladang. Saya melihat cahayanya terang sekali, tetapi waktu itu tidak tahu benda apa yang jatuh,” tuturnya.
Gambar 1. Prosesi “Ambal Dumugi” dengan mendengarkan kisah dari saksi mata, Pak Doro
Menurut Doro, warga sempat mengira sebuah pesawat jatuh. Mereka mencari sumber cahaya tersebut sepanjang malam menggunakan lampu petromak dan senter. Batu meteor baru ditemukan keesokan harinya setelah digali sedalam satu hingga dua meter oleh warga bersama aparat keamanan desa.
Peristiwa yang semula menimbulkan kepanikan itu kini justru menjadi bagian dari kebanggaan kolektif masyarakat Tambaksari. Lima dekade berlalu, kenangan tentang malam langka tersebut tetap hidup dalam ingatan warga.
Ia mengaku bangga karena generasi muda kini berupaya mengangkat kembali peristiwa tersebut sebagai bagian dari sejarah desa.
“Kalau ini mau disejarahkan, saya sangat bangga. Supaya tidak terlupakan dan orang tahu bahwa di Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, pernah terjadi jatuhnya batu meteor,” pungkas Doro.
Yogyakarta — Aat Rahmawati, pemudi asal Purbalingga sekaligus Wakil Kepala Desamind Chapter Purbalingga 2024, menerima anugerah UGM Law School Awards 2026 kategori Tokoh Pelopor Berkelanjutan. Penghargaan tersebut diberikan dalam puncak peringatan Dies Natalis ke-80 (Lustrum ke-16) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada Jumat (13/2) di Auditorium Gedung Fakultas Hukum UGM.
Penghargaan ini diberikan atas dedikasi Aat dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui pengabdiannya sebagai aktivis Desamind dan relawan guru muda dalam Program Pi Mengajar (Pijar) 2025 yang diinisiasi CT ARSA Foundation.
Selama satu tahun penuh, Aat mengabdi di SDN 02 Lelogama, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia mendampingi 69 siswa dengan latar belakang akses pendidikan yang terbatas. Tak hanya menjalankan tugas mengajar, Aat juga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan dukungan tambahan bagi siswa, guru, dan orang tua.
Gambar 1. Aat saat mendampingi belajar anak-anak SDN 02 Lelogama
Perjalanan tersebut tidak terlepas dari proses panjangnya di Desamind. Sebagai Wakil Kepala Desamind Chapter Purbalingga, Aat aktif menginisiasi program pemberdayaan, penguatan kapasitas pemuda, serta pengembangan komunitas berbasis desa. Pengalaman memimpin dan mengelola program di Desamind membentuk ketajaman perspektif sosialnya sekaligus memperkuat komitmennya terhadap pendidikan dan pembangunan berkelanjutan.
Menurut Aat, ruang belajar dan praktik sosial di Desamind menjadi bekal penting dalam menjalankan pengabdian di Lelogama.
“Desamind mengajarkan saya melihat desa sebagai ruang tumbuh bersama, bukan sekadar objek program. Dari sana saya belajar membangun kolaborasi dan memahami kebutuhan masyarakat secara partisipatif,” ungkap Aat.
Selama masa pengabdian di Lelogama, Aat dikenal adaptif dan aktif berbaur dengan masyarakat setempat. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan warga, mulai dari diskusi pendidikan hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Kehadirannya tidak hanya memberi dampak akademik, tetapi juga memperkuat semangat belajar dan partisipasi orang tua dalam mendukung pendidikan anak.
Perjalanan satu tahun di Lelogama, menurut Aat, menjadi pengalaman yang membentuk cara pandangnya tentang makna syukur dan pengabdian.
“Di sana saya belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi. Justru dari sanalah semangat untuk terus berbuat lahir,” ujarnya.
Penghargaan yang diterima Aat merupakan sebuah apresiasi dan dukungan Fakultas Hukum UGM kepada mereka yang melaksanakan praktik pengabdian kolaboratif dan berkelanjutan. Sebelumnya, Fakultas Hukum UGM juga telah menggelar Program Pengabdian Unggul di Nusa Tenggara Timur melalui kolaborasi multiple helix bersama Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira (FH Unwira), Desamind Indonesia, serta dukungan Sinarmas Mining. Salah satu lokasi pengabdian program tersebut berada di SDN 02 Lelogama, tempat Aat menjalankan tugasnya.
Gambar 2. Penyuluhan Hukum PKBH UGM di SDN 02 Lelogama
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.
“Penghargaan ini menunjukkan konsistensi Fakultas Hukum UGM dalam mengapresiasi pihak-pihak yang terus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tutur Prof. Ova Emilia.
UGM Law School Awards merupakan bentuk penghargaan kepada individu yang dinilai berkontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan hukum dan pengabdian berkelanjutan. Pencapaian Aat Rahmawati menjadi bukti bahwa semangat pengabdian generasi muda mampu menghadirkan dampak konstruktif bagi komunitas yang membutuhkan.
Semarang – Upaya pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah terus diperkuat melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Sosial menyelenggarakan Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) pada Selasa (10/2) di Petra Ballroom, Hotel Noormans, Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh perwakilan Dinas Sosial kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Dalam pembukaan kegiatan, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Iwanuddin Iskandar, S.H., M.Hum., memaparkan perkembangan kondisi kemiskinan di Jawa Tengah. Ia menyampaikan bahwa garis kemiskinan per September 2025 tercatat sebesar Rp570.870 per kapita per bulan, meningkat 6,15 persen dibandingkan Maret 2025. Data tersebut menjadi pengingat pentingnya penguatan program-program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dan tepat sasaran.
Sosialisasi dan koordinasi ini dirancang sebagai ruang konsolidasi lintas daerah untuk menyamakan persepsi dan strategi dalam pelaksanaan program Usaha Ekonomi Produktif. Program UEP diharapkan tidak hanya mendorong peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi keluarga penerima manfaat.
Dalam forum tersebut, Desamind Indonesia melalui Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.(ITE) memaparkan terkait “Pemberdayaan dan Pengembangan Desa”. Hardika menekankan pentingnya pendekatan social entrepreneurship dalam merancang dan menjalankan program Usaha Ekonomi Produktif, khususnya di wilayah desa.
Gambar 1. Narasumber dan Peserta Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP)Dinsos Jateng
“Usaha ekonomi produktif seharusnya diposisikan sebagai proses pemberdayaan, bukan sekadar bantuan. Dengan pendekatan social entrepreneurship, masyarakat didorong membangun usaha yang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial yang berkelanjutan,” ujar Hardika.
Ia menjelaskan bahwa penguatan usaha berbasis desa perlu memperhatikan potensi lokal, partisipasi masyarakat, serta keberlanjutan jangka panjang. Dalam konteks tersebut, pemuda desa memiliki peran strategis sebagai penggerak inovasi dan aktor pembangunan yang mampu menjembatani nilai sosial dan ekonomi.
“Pelibatan pemuda menjadi penting karena mereka memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan, kreativitas dalam mengembangkan usaha, serta visi jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan program,” tambahnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan dr. Moch. Ichlas Riyanto, M.M., Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Cilacap. Dalam pemaparannya, Ichlas menekankan pergeseran pendekatan program sosial dari pola bantuan menuju kemandirian usaha. Ia menyoroti peran strategis pemerintah daerah dalam memastikan proses pendampingan berjalan secara konsisten dan berorientasi pada keberlanjutan.
“Pendampingan tidak boleh berhenti pada penyaluran bantuan. Yang lebih penting adalah memastikan usaha yang dijalankan mampu tumbuh, bertahan, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi keluarga penerima,” jelas Ichlas.
Melalui kegiatan sosialisasi dan koordinasi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi masyarakat sipil, dalam mendorong Usaha Ekonomi Produktif sebagai instrumen pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan. Keterlibatan Desamind Indonesia dalam forum ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus mendukung pengembangan desa melalui pendekatan social entrepreneurship dan penguatan kapasitas masyarakat.
Desamind Indonesia menyelenggarakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MoNev) Awardee Beasiswa Desamind 5.0 pada Sabtu, (31/01) pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini menjadi bagian dari mekanisme pendampingan awardee dalam memantau perkembangan, pelaksanaan, serta keberlanjutan proyek sosial yang dijalankan.
Dalam sambutannya, President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.(ITE), menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi merupakan ruang refleksi dan pembelajaran bersama bagi para awardee.
“Monitoring dan evaluasi ini menjadi momentum untuk melihat sejauh mana proyek sosial berjalan, apa yang telah dan belum dilakukan, serta menjadi ruang konsultasi dengan mentor untuk melakukan perbaikan,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti oleh lima awardee Beasiswa Desamind 5.0, yaitu Anisatul Himmah (Universitas Jember), Wawan Sulaeman (UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Bayu Hardito (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya), Ruhillah Khadijah El Basri (Universitas Brawijaya), serta Aprilia Kusuma Dewi (Universitas Gadjah Mada). Para awardee mempresentasikan perkembangan proyek sosial yang telah berjalan selama setengah periode program, mencakup capaian kegiatan, tantangan pelaksanaan, serta rencana tindak lanjut.
Salah satu proyek yang mendapat perhatian panel adalah program edukasi seksual anak berbasis komunitas yang dijalankan oleh Wawan Sulaeman. Proyek ini mengintegrasikan materi edukasi seksual dengan pendekatan kultural melalui cerita rakyat Sunda, khususnya tokoh Kabayan. Pendekatan tersebut digunakan sebagai medium pembelajaran agar materi lebih komunikatif, kontekstual, dan dapat diterima oleh anak-anak serta orang tua di lingkungan desa.
Panelis monitoring dan evaluasi yang terdiri atas akademisi dan praktisi kemudian memberikan tanggapan serta masukan terhadap seluruh presentasi proyek sosial. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi tertutup untuk menyusun catatan evaluasi yang memuat perkembangan program, kendala yang dihadapi, serta rekomendasi perbaikan.
Hasil monitoring dan evaluasi ini menjadi bagian dari proses pendampingan lanjutan bagi awardee Beasiswa Desamind 5.0 dalam pelaksanaan proyek sosial pada periode berikutnya.
Yogyakarta — Desamind Chapter Yogyakarta menggelar workshop daring “Strategi Jitu Tembus Artikel Reputable” pada Jumat (30/1) melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti 20 peserta dengan mayoritas mahasiswa jenjang S1 sebagai bagian dari upaya membangun budaya riset dan publikasi ilmiah sejak dini.
Workshop dipandu oleh Aldi Firmansyah dengan menghadirkan Rahmat Naufal mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah mempublikasikan artikel di jurnal terindeks Scopus. Dalam pemaparannya, Naufal membagikan strategi praktis menembus jurnal bereputasi, mulai dari menemukan ide riset, membaca peta literatur, hingga memahami proses review jurnal.
Naufal menjelaskan bahwa riset dapat dimulai dari kebiasaan mengkritisi fenomena sosial dan membaca tren isu aktual. Salah satu langkah penting, menurutnya, adalah menemukan research gap atau celah penelitian yang belum banyak dikaji. Untuk itu, peserta diperkenalkan pada penggunaan perangkat lunak VOSviewer guna memetakan perkembangan literatur dan mengidentifikasi peluang kebaruan penelitian.
Selain membahas perumusan masalah dan penyusunan kerangka teori, sesi juga menyoroti pentingnya kesesuaian antara pertanyaan riset dan metode penelitian. Naufal mencontohkan bahwa penelitian eksperimental memerlukan pendekatan laboratorium, sedangkan riset yang mengeksplorasi pengalaman sosial lebih tepat menggunakan wawancara mendalam atau metode kualitatif lainnya.
Tak hanya aspek teknis, peserta juga diajak memahami dinamika publikasi ilmiah, termasuk proses revisi dan kemungkinan penolakan naskah.
“Penolakan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar untuk memperbaiki kualitas tulisan,” ujar Naufal.
Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Rahmat Naufal
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan seputar pemilihan metode, strategi menentukan jurnal tujuan, hingga membangun kolaborasi lintas disiplin. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat mahasiswa terhadap publikasi ilmiah, sekaligus perlunya ruang belajar yang lebih aksesibel dan aplikatif.
Melalui kegiatan ini, Desamind Chapter Yogyakarta menegaskan komitmennya sebagai wadah pembelajaran kolaboratif dalam mendorong peningkatan kapasitas riset mahasiswa. Ke depan, Desamind Jogja berencana menghadirkan sesi lanjutan berupa pendampingan penulisan artikel hingga simulasi pengiriman naskah ke jurnal bereputasi.
Gunungkidul – (28/01) Dalam upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan beretika, Desamind Indonesia menyelenggarakan kegiatan Ethics for Kids Action Day di SD Muhammadiyah 1 Patuk, Gunungkidul. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak sekolah dasar untuk mengenal, memahami, dan membiasakan nilai-nilai etika dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini merupakan kelanjutan dari Desamind Youth Impact Lab yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA), serta terhubung dengan rangkaian Luring Hands-On Experience Proyek Sosial di Desa dalam rangkaian Bootcamp Junior Rural Development oleh Sekolah Local Hero Indonesia. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari program lanjutan Desamind bersama PF Muda yang berfokus pada praktik baik, pembelajaran kontekstual, serta keterlibatan langsung pemuda di desa.
Kegiatan Ethics for Kids Action Day dirancang dengan pendekatan yang ringan, interaktif, dan dekat dengan dunia anak-anak. Nilai-nilai etika tidak disampaikan melalui ceramah panjang, melainkan melalui cerita, permainan, dan pengalaman langsung yang mudah dipahami. Fokus utama kegiatan meliputi nilai kejujuran, kesopanan, kepedulian, saling menghargai, keberanian berbuat baik, serta sikap anti-perundungan (bullying), nilai-nilai dasar yang penting ditanamkan sejak dini, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan pertemanan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi storytelling atau mendongeng etika yang mengajak anak-anak berdiskusi mengenai perilaku baik dan tidak baik dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, para siswa diajak menuliskan mimpi, harapan, serta kebaikan yang ingin mereka lakukan pada kertas warna-warni yang kemudian ditempelkan di “Dinding Mimpi Anak Hebat”. Aktivitas ini menjadi simbol bahwa setiap anak memiliki cita-cita dan potensi untuk tumbuh menjadi pribadi yang beretika.
Suasana semakin hidup saat anak-anak mengikuti permainan edukatif Truth or Dare versi etika yang dikemas melalui Little Heroes Card. Melalui permainan ini, siswa belajar tentang kejujuran, keberanian mengakui kesalahan, serta pentingnya bersikap sopan dan peduli melalui pertanyaan dan tantangan sederhana yang dekat dengan keseharian mereka.
Gambar 1. Pos Permaianan Word Search Ethics for Kids
Salah satu sesi yang paling dinantikan adalah “Petualangan 5 Kata Ajaib”, sebuah permainan berbentuk treasure hunt yang mengajak siswa menjelajah lima pos permainan. Setiap pos mewakili satu kata kunci etika, yaitu maaf, terima kasih, permisi, silakan, dan tolong. Melalui berbagai permainan seperti word search, oper pesan, hingga puzzle sederhana, anak-anak diajak memahami bahwa kata-kata tersebut bukan sekadar ucapan, melainkan wujud sikap tanggung jawab, kesopanan, kepedulian, dan empati dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, seluruh siswa SD Muhammadiyah 1 Patuk mengikuti Deklarasi Anti-Bullying. Anak-anak diajak memahami apa itu perundungan, dampaknya bagi korban, serta pentingnya saling menjaga dan menghargai. Deklarasi ini ditandai dengan cap tangan para siswa pada media deklarasi sebagai simbol komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif.
Gambar 2. Deklarasi Anti-Bullying dengan Cap Tangan
Kepala SD Muhammadiyah 1 Patuk, Indah Hariyani, S.Pd., Gr., menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Saya mewakili segenap guru mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan hari ini. Saya sangat senang dan bangga. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan di sekolah-sekolah lain, khususnya di wilayah Gunungkidul,” ujarnya.
Tak hanya berdampak bagi anak-anak, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bagi para relawan muda. Cintya, salah satu peserta Desamind Youth Impact Lab yang baru pertama kali terjun langsung sebagai relawan di desa mengaku bersyukur bisa gabung dan terlibat langsung bersama rekan-rekan Desamind.
“Awalnya saya gugup karena ini pengalaman pertama berinteraksi langsung dengan anak-anak di desa. Namun prosesnya ternyata hangat dan menyenangkan. Saya belajar bahwa menanamkan nilai etika tidak harus rumit, cukup melalui hal-hal kecil, dilakukan secara konsisten, dan dengan hati. Pengalaman ini menguatkan keyakinan saya bahwa praktik baik di desa itu penting dan berdampak,” tuturnya.
Lebih lanjut, Cintya berharap sinergi antara Desamind Indonesia, Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA), Sekolah Local Hero Indonesia, PF Muda, serta SD Muhammadiyah 1 Patuk, menjadi pemantik lahirnya lebih banyak ruang belajar etika yang menyenangkan, sekaligus mendorong anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat karena keberanian mereka untuk berbuat baik dan beretika.
Yogyakarta – Desamind Indonesia menyelenggarakan Desamind Youth Impact Lab: Leadership & Ethics Action pada Minggu (18/1) di Nutrihub Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi pemuda untuk memperkuat kepemimpinan berbasis nilai, etika, dan aksi nyata dalam pembangunan desa. Sebanyak 30 peserta terpilih mengikuti kegiatan ini secara gratis sebagai bagian dari komitmen Desamind dalam menyiapkan generasi muda yang berintegritas dan berdampak sosial.
Desamind Youth Impact Lab ini merupakan kelanjutan dari programMonitoring ActWISE+ Leadership Café 2025,sebuah inisiatif pengembangan kapasitas pemuda yang diinisiasi oleh Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) dan berafiliasi dengan Globethics. Dalam program tersebut, Desamind Indonesia terpilih sebagai Top 20 komunitas dari berbagai daerah di Indonesia yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam mendorong gerakan sosial berlandaskan integritas, nilai, dan kepemimpinan etis. Kepercayaan ini sekaligus membuka dukungan pendanaan bagi Desamind untuk mengimplementasikan kegiatan lanjutan yang berdampak secara langsung.d
Kegiatan diawali dengan Desamind Leadership Class yang membahas peran pemuda sebagai local heroes dalam pembangunan desa berbasis Community Driven Development (CDD). Materi disampaikan oleh Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE, Founder sekaligus President Director Desamind Indonesia, melalui mini class, diskusi interaktif, dan studi kasus kontekstual desa. Dalam pemaparannya, Hardika menekankan bahwa kepemimpinan pemuda tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi perlu dibangun di atas pemahaman nilai, keberanian terlibat, dan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.
“Pemuda desa memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Yang dibutuhkan adalah ruang belajar, kepercayaan, dan ekosistem yang memungkinkan mereka bertumbuh dan berkontribusi secara nyata,” ujar Hardika.
Gambar 1. Pemecahan Studi Kasus Pedesaan
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi penguatan etika kepemimpinan yang menitikberatkan pada keterampilan active listening, komunikasi empatik, serta penggunaan WISE+ Ethical Decision Making Tool. Sesi ini dipandu oleh Abdul Aziez, Director of Chapter Division Desamind Indonesia, bersama Lakhsmi Nuswantari Subandi, S.H., LL.M., Regional Manager Globethics sekaligus Chairperson Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA). Peserta diajak terlibat langsung dalam simulasi konflik, latihan mendengarkan aktif, serta berbagi praktik baik dari berbagai komunitas.
Menurut Lakhsmi, kepemimpinan yang beretika bukan hanya tentang mengambil keputusan yang benar, tetapi juga tentang proses memahami berbagai perspektif dan mempertimbangkan dampak sosial dari setiap pilihan. “Etika perlu dilatih melalui praktik, bukan hanya dipahami sebagai konsep,” tuturnya.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, kegiatan ini juga memuat sesi briefing Ethics for Kids Action Day, sebuah aksi edukatif yang akan dilaksanakan pada Rabu (28/1) di SD Muhammadiyah Patuk 1, Gunungkidul.
Gambar 1. Lakhsmi Nuswantari Subandi, S.H., LL.M, , memberikan arahan dalam membedah WISE+ Ethical Decision Making Tool
Husniyah Mujahadah, peserta asal Bengkulu, Sumatera, berbagi refleksi dan kesiapan peserta dalam menerjemahkan nilai-nilai etika yang telah dipelajari ke dalam kegiatan pembelajaran bagi anak-anak.
“Kegiatan ini membuka perspektif baru bagi kami sebagai pemuda untuk tidak hanya belajar tentang kepemimpinan, tetapi juga bagaimana menanamkan nilai etika kepada anak-anak melalui pendekatan yang sederhana dan menyenangkan,” ujarnya.
Gambar 3. Presentasi Pengaplikasian WISE+ Ethical Decision Making Tool
Husniyah juga menegaskan komitmennya setelah mengikuti kegiatan ini untuk berusaha membangun ekosistem pemuda yang tidak hanya memiliki kapasitas kepemimpinan, tetapi juga berpijak pada nilai, integritas, dan keberpihakan pada desa. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bertumbuh bagi pemuda untuk belajar, berjejaring, dan mengambil peran aktif dalam menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Akhir pekan kemarin (Sabtu–Minggu, 10–11 Januari 2026), saya memilih untuk menepi sejenak dari ritme Jakarta yang nyaris tak pernah melambat. Bersama rekan-rekan Desamind, saya mengikuti rangkaian Soft Launching Agrowisata Bumi Sawala, sebuah ruang belajar hidup yang tumbuh di Bodogol Kampung Hoya.
Perjalanan dimulai dari ibu kota dengan menaiki KRL menuju Stasiun Bogor. Gerbong penuh penumpang, namun suasananya terasa lebih ringan, seperti pertanda bahwa hari-hari sibuk akan segera berganti dengan ruang yang lebih tenang. Dari Bogor, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan melewati Tol Ciawi. Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang, berganti bukit hijau, sawah, dan udara yang semakin sejuk. Sekitar satu hingga satu setengah jam kemudian, kami tiba di Bodogol Kampung Hoya, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
Kami menginap di sebuah vila sederhana dan asri yang dikelilingi pegunungan. Hujan yang turun di malam hari justru menambah rasa teduh. Tidak ada klakson, tidak ada notifikasi yang mendesak. Hanya suara alam dan jeda, sesuatu yang jarang saya temui di kota.
Keesokan paginya, agenda utama menanti: berkunjung ke Bumi Sawala, sebuah kawasan agrowisata yang lahir dari inisiatif Desamind Farm bersama pemuda Desa Benda. Sekitar pukul delapan pagi, para pengelola menjemput kami. Kabut masih menggantung, udara dingin terasa segar. Sebelum memulai kegiatan, kami diberi pengarahan singkat dan disambut dengan penuh kehangatan.
Perjalanan menuju lokasi ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri permukiman warga. Sepanjang jalan, satu hal langsung terasa: seluruh pengelola Bumi Sawala adalah pemuda asli desa ini. Mereka menyapa dengan ramah, memandu dengan percaya diri, dan tampak sangat memahami setiap sudut kampungnya. Dari cerita-cerita ringan yang mereka bagikan, kami mengetahui bahwa tempat ini tidak dibangun dalam semalam. Mereka memulai dari nol, belajar menyambut tamu, menjadi pemandu wisata, mengelola kegiatan, menyusun alur kunjungan, hingga memastikan setiap pengunjung pulang membawa pengalaman yang bermakna.
Setibanya di Bumi Sawala, kami disuguhi ubi dan jagung rebus hangat, ditemani wedang jahe yang aromanya langsung menghangatkan tubuh. Sederhana, tetapi penuh makna. Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan bersama para pemuda pengelola. Tidak ada jarak. Permainan kecil, tawa, dan obrolan ringan membuat suasana cepat mencair. Kami merasa tidak sedang mengikuti paket wisata, melainkan bertamu ke sebuah ruang belajar milik bersama.
Gambar 1 & 2. Kegiatan pengenalan dengan para pengelola Bumi Sawala
Kegiatan pertama membawa kami ke kandang ternak terintegrasi. Dengan penuh antusias, para pemuda menjelaskan bagaimana sistem peternakan dirancang agar bersih, efisien, dan ramah lingkungan. Kotoran ternak tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi pupuk kompos. Kami bahkan diajak mengambil kohe kering secara langsung. Pengalaman yang mungkin terasa asing bagi banyak orang kota, tetapi justru menjadi pelajaran paling nyata tentang siklus alam dan keberlanjutan.
Tak berhenti di situ, kami juga mencoba mencukur bulu domba. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama. Di balik aktivitas sederhana tersebut, terlihat bagaimana para pemuda desa dengan sabar membimbing, memastikan kami aman, dan tetap menikmati prosesnya. Peran mereka sebagai pemandu wisata benar-benar terasa, bukan karena mereka telah ahli sejak lama, melainkan karena mereka mau belajar dan tumbuh bersama.
Gambar 3 & 4. Kegiatan mencukur bulu domba dan memberi makan domba
Dari kandang, kami beralih ke Saung Kompos. Di sinilah proses pengolahan limbah menjadi pupuk ramah lingkungan dijelaskan secara rinci. Tidak hanya teori, kami diajak terlibat langsung. Saya melihat bagaimana para pemuda ini tidak hanya menguasai praktiknya, tetapi juga mampu menjelaskannya dengan bahasa sederhana kepada pengunjung, sebuah keterampilan yang jelas lahir dari proses belajar, mencoba, dan tidak takut salah.
Gambar 5 & 6. Kegiatan proses pembuatan pupuk kompos
Kami kemudian dikenalkan dengan tanaman Hoya, tanaman khas yang tumbuh subur di kawasan ini dan menjadi identitas Kampung Hoya. Para pengelola menjelaskan bahwa Hoya bukan sekadar tanaman hias, melainkan bagian dari kekayaan hayati lokal yang ingin terus mereka jaga. Kami diajak membuat kokedama sebagai media tanam, dan hasilnya boleh dibawa pulang. Bagi saya, kokedama ini bukan sekadar cinderamata, melainkan simbol pengalaman dan cerita yang saya bawa pulang.
Gambar 7. Hasil pembuatan Kokedama Tanaman Hoya
Menjelang siang, kami makan bersama di saung. Suasananya santai, tanpa agenda yang terburu-buru. Setelah itu, kami mengunjungi kebun tomat dan memetik langsung hasil panen. Hujan yang turun cukup deras memang membatasi beberapa agenda lanjutan, namun tidak mengurangi kesan yang sudah terbangun sejak pagi.
Gambar 8 & 9. Hasil memanen buah tomat di kebun Pak Tani
Perjalanan ke Bumi Sawala memberi saya perspektif baru tentang wisata. Di sini, wisata bukan hanya soal pemandangan atau foto estetik, tetapi tentang manusia, proses, dan keberanian untuk belajar. Para pemuda Desa Benda menunjukkan bahwa dengan semangat, kemauan belajar, dan kolaborasi, desa bisa menjadi ruang tumbuh, bukan hanya bagi warganya, tetapi juga bagi siapa pun yang datang berkunjung.
Bumi Sawala bukan sekadar destinasi pelarian dari kota. Ia adalah ruang belajar hidup, tempat alam, desa, dan semangat pemuda bertemu. Dan bagi saya, di sanalah letak daya tarik yang paling layak diapresiasi.
Sukabumi – Desamind Indonesia melalui unit pengembangan Desamind Farm menggelar Soft Launching Bumi Sawala (Agroeduwisata) pada Sabtu, 11 Januari 2026, di Bodogol Kampung Hoya, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Kegiatan ini menjadi dry run perdana sekaligus rangkaian awal peringatan Dies Natalis Desamind Indonesia ke-6, dengan mengusung konsep ruang belajar hidup yang mengintegrasikan edukasi, ekologi, dan pemberdayaan masyarakat desa.
Sebanyak 20 pengurus pusat Desamind Indonesia hadir sebagai peserta dry run, datang dari berbagai daerah, antara lain Solo, Magelang, Klaten, Semarang, serta wilayah Jabodetabek. Kehadiran lintas daerah ini menjadi bentuk dukungan sekaligus uji coba awal terhadap pengalaman agroeduwisata yang akan dikembangkan secara berkelanjutan di Bumi Sawala.
Gambar 1. Keseruan saat Games Pembukaan
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan peserta oleh pemuda lokal pengelola Bumi Sawala, dilanjutkan dengan pengenalan kawasan dan tur edukatif. Peserta diajak mengunjungi peternakan terintegrasi, mengenal pengolahan kompos ramah lingkungan, serta mempelajari tanaman Hoya khas Bodogol. Kegiatan juga dilengkapi dengan praktik agroedukasi sederhana, seperti mencukur bulu domba, membuat kokedama, dan memetik hasil kebun.
Gambar 2. Praktik Mencukur Bulu Domba
Seluruh aktivitas dirancang sebagai pengalaman belajar partisipatif yang mempertemukan pengunjung dengan praktik pertanian berkelanjutan sekaligus kehidupan desa secara langsung. Sebagai dry run perdana, Soft Launching Bumi Sawala menjadi ruang evaluasi awal dan penguatan konsep sebelum program ini dibuka lebih luas untuk publik.
Zakky Muhammad Noor, Director of Desamind Farm, mengungkapkan bahwa Bumi Sawala lahir dari proses panjang yang dibangun dari nol dengan keyakinan dan tekad bersama.
“Saya tidak menyangka ide Bumi Sawala bisa sampai pada tahap ini. Konsep yang melahirkan local heroes ini dibangun dari nol, dengan penuh keyakinan dan kegigihan. Ini adalah hasil kolaborasi banyak pihak yang saling memberi ruang, saling belajar, dan bertumbuh bersama,” ujar Zakky.
Gambar 3. Hasil Kerajinan Kokedama Peserta Soft Launching Bumi Sawala
Hal senada disampaikan Salman, Koordinator Lapangan Bumi Sawala , yang menilai proses pendampingan pemuda desa sebagai kunci utama keberlanjutan program.
“Awalnya teman-teman pemuda lokal sangat pesimis dan bingung harus mulai dari mana, bahkan tidak percaya diri karena belum memiliki keterampilan mengelola agroeduwisata. Berkat arahan dan pendampingan dari rekan-rekan Desamind, kami perlahan menemukan kepercayaan diri, terus mencoba, hingga akhirnya sampai di tahap ini. Kami sadar, ini bukan akhir, melainkan awal dari proses panjang,” ungkap Salman.
Dari sisi peserta, Isna Fahrizal, Director of Secretariat & Finance Desamind Indonesia, menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras seluruh pengelola BUMI SAWALA, khususnya pemuda desa yang menjadi aktor utama di lapangan.
“Pengalaman agroeduwisata yang diberikan sangat luar biasa dan terasa otentik. Para pemuda Bumi Sawala menunjukkan kesiapan, keramahan, dan semangat belajar yang tinggi. Harapannya, ke depan semakin banyak pengunjung yang datang dan merasakan pengalaman serupa, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi desa,” tutur Isna.