Skip to main content
Tag

#sdgs17KemitraanDemiMencapaiTujuan

Raih Gold Medal dan Special Award SIIF 2025 di Korea Selatan: Keberhasilan Kolaborasi Desamind Indonesia bersama UMS dan Tiga Kampus Australia

By Press Release

Seoul, Korea Selatan – (6/12) Desamind Indonesia kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional melalui keterlibatan dua perwakilannya, Yulia Susanti (Director of Scholarship Division) dan Kintan Nur Romadhona (Koordinator Wilayah Chapter Division) dalam tim kolaborasi inovasi bersama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan tiga universitas ternama Australia: University of Melbourne, Monash University, dan University of Queensland. Kolaborasi lintas negara ini berhasil meraih Gold Medal dan Special Award dari Vietnam Fund for Supporting Technology Creations (VIFOTEC) pada ajang bergengsi Seoul International Invention Fair (SIIF) 2025 yang diselenggarakan pada 3–6 Desember di Seoul.

Dalam kompetisi tersebut, tim menampilkan proyek inovatif berjudul “HerbsWise: Immersive Journey of Indonesian Medicinal Plants Wisdom Integrated with Wellness Education to Combat Top Nation’s Priority Diseases.” Proyek ini memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) untuk menghadirkan eksplorasi imersif mengenai kekayaan tanaman herbal Indonesia yang dipadukan dengan edukasi kesehatan guna meningkatkan literasi masyarakat tentang peran tanaman herbal dalam pencegahan penyakit prioritas nasional.

Yulia Susanti menuturkan, keterlibatan Desamind Indonesia menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa nilai-nilai edukatif, budaya, dan kebermanfaatan sosial tetap terintegrasi dalam proyek yang digarap lintas negara tersebut.

“Bisa mewakili Desamind dalam kolaborasi internasional ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar bagaimana teknologi dapat digunakan untuk melestarikan kearifan lokal. Prestasi ini bukan hanya kemenangan tim, tetapi bukti bahwa anak muda Indonesia mampu bersaing di panggung dunia,” ujar Santi.

Meski berada dalam negara dan zona waktu yang berbeda, kolaborasi tetap berjalan intens dan produktif. Pengalaman ini menunjukkan bahwa batas geografis tidak menghalangi semangat inovasi lintas budaya.

Gambar 1. Tim “HerbsWise: Immersive Journey of Indonesian Medicinal Plants Wisdom Integrated with Wellness Education to Combat Top Nation’s Priority Diseases.

Dari Australia, Desi Puti Andini, Mahasiswa Master Data Science, Monash University mengungkapkan kebanggaanya bisa berinovasi bersama-sama dan menciptakan temuan yang bermanfaat.

“Sangat bangga dapat berkolaborasi dengan mahasiswa UMS dan Desamind menciptakan temuan yang luar biasa. Proyek ini berjalan harmonis meski kami bekerja dari benua yang berbeda,” tutur Desi.

Keberhasilan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran anggota tim yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, baik dari Indonesia maupun Australia. Adapun anggota Tim Kolaborasi Indonesia–Australia meliputi:

  1. Vio Arvendha (PTI UMS 2021) — Ketua Tim
  2. Muhammad Isnani K (PTI UMS 2022)
  3. Kintan Nur Romadhona (Biotechnology, University of Queensland; Desamind Indonesia)
  4. Desi Puti Andini (Data Science, Monash University)
  5. Citra Cahyati (Public Health, University of Melbourne)
  6. Nada Fadilah (Agribusiness, University of Queensland)
  7. Nadia Yasmine (Public Health, University of Queensland)
  8. Yulia Susanti (Desamind Indonesia)

Pembimbing inovasi yang juga Dosen UMS sekaligus Founder Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.ITE, turut memberikan apresiasi atas pencapaian prestasi ini.

 “Alhamdulillah, prestasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas negara dapat melahirkan inovasi berskala global. Semoga pencapaian ini menginspirasi lebih banyak mahasiswa dan pemuda Indonesia untuk berani berkolaborasi dan berkarya,” pungkas Hardika.

Desamind Masuk Top 20 ActWISE+ Leadership Café 2025, Perkuat Kapasitas Etika dan Kepemimpinan Pemuda

By Press Release

Yogyakarta – Desamind Indonesia berhasil terpilih sebagai Top 20 komunitas dalam Program Monitoring ActWISE+ Leadership Café 2025, sebuah inisiatif pengembangan kapasitas pemuda yang diinisiasi oleh Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA). 

Keberhasilan ini menempatkan Desamind sebagai salah satu komunitas yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam mendorong gerakan sosial berlandaskan integritas, nilai, dan kepemimpinan etis.

ActWISE+ Leadership Café dilaksanakan dalam dua skema. Pertama, sesi daring pada 25 Oktober 2025 membahas mengenai struktur dan tujuan program sekaligus ruang pertemuan untuk saling mengenal antar komunitas terpilih. Kedua, sesi luring yang berlangsung dalam empat rangkaian pertemuan pada 8–29 November 2025, berisi pelatihan intensif tentang etika, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan.

Selama empat sesi luring, peserta mengikuti pembahasan yang dirancang saling terhubung dan membangun pemahaman komprehensif tentang nilai dan etika dalam kepemimpinan generasi muda dengan rincian:

  1. Sesi pertama mengangkat tema “Values in Action – Everyday Ethics”, membedah bagaimana nilai dan dilema etis muncul dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam organisasi.
  2. Sesi kedua, “Leadership in Practice: Active Listening & Conflict Resolution”, memberi ruang bagi peserta untuk mempraktikkan kemampuan mendengar aktif serta menyelesaikan konflik secara dewasa dan konstruktif.
  3. Sesi ketiga, peserta diperkenalkan pada “WISE+ Ethical Decision-Making Tool”, sebuah kerangka untuk mengambil keputusan secara etis, terstruktur, dan mempertimbangkan dampak sosial.
  4. Sesi keempat, “Designing Projects with WISE+”, di mana tiap komunitas diminta merancang proyek sosial berbasis nilai menggunakan pendekatan WISE+.

Dalam kesempatan ini, Desamind Indonesia mendelegasikan  Abdul Aziez, Director of Chapter Division dan Alwi Dwi Rahmadi, Associate of Chapter Division, untuk mengikuti seluruh rangkaian program.

Menurut Alwi, pengalaman mengikuti ActWISE+ menjadi refleksi penting bagi tim Desamind.


“Program ini memberi banyak pelajaran tentang etika, pilihan dalam kepemimpinan, dan cara mengambil keputusan secara lebih bijak. Kami mendapat banyak perspektif baru, dan ini memperkuat komitmen Desamind untuk terus bergerak dengan nilai dan integritas,” ujarnya.

Gambar 1. Delegasi Desamind Indonesia bersama Para Peserta ActWISE+ Leadership Café 2025

Lebih lanjut, Aziz juga mengungkapkan bahwa program ActWISE+ Leadership Café 2025 tidak hanya menawarkan pembelajaran teknis, tetapi juga mempertegas pentingnya fondasi nilai dalam gerakan sosial. Menurutnya, keberhasilan Desamind  masuk Top 20 menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas internal serta memastikan bahwa setiap program pemberdayaan desa maupun kepemudaan dijalankan dengan pertimbangan etika dan keberlanjutan.

“Keterlibatan Desamind dalam program ini menegaskan bahwa gerakan pemuda Indonesia mampu tumbuh melalui kolaborasi, ruang dialog yang terbuka, dan kemauan untuk membangun perubahan dengan cara yang lebih bermoral dan berkesadaran nilai,” pungkas Aziez.

Author: Alan Ferdian Syah

Editor: Ahmad Zamzami

Menyapa Dusun Kemiri: Potret Dua Wajah Kehidupan di Lereng Merapi

By Artikel, Desamind Chapter

Di lereng selatan Gunung Merapi yang hijau dan subur, terdapat Dusun Kemiri. Sebuah dusun kecil di Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, yang menyimpan kompleksitas kehidupan khas masyarakat pedesaan agraris di Yogyakarta. Udara sejuk, tanah vulkanik yang kaya mineral, serta lanskap perbukitan yang asri menjadi latar kehidupan sehari-hari warga yang sebagian besar menggantungkan penghidupan pada peternakan kambing dan penambangan pasir.

Namun, di balik keasrian tersebut, tersimpan dua wajah yang saling berdampingan: potensi besar yang menjanjikan serta permasalahan struktural yang menggerogoti dari dalam maupun luar.

Selama tiga hari dua malam, 30 Oktober hingga 2 November 2025, dalam kegiatan live-in bertajuk MENYAPA (Membangun Aksi Nyata dan Peduli Desa) Dusun Kemiri, Tim Desamind Chapter Yogyakarta tinggal bersama warga. Kami tidak sekadar mengamati, tetapi turut merasakan denyut kehidupan Kemiri. Melalui interaksi dengan peternak, ibu rumah tangga, hingga pemuda karang taruna, tersusun potret tentang bagaimana masyarakat lereng Merapi ini bertahan, beradaptasi, dan berinovasi di tengah keterbatasan.

Ketika Peternak Kambing Menjadi Pelopor Inovasi

Dusun Kemiri sedang bertransformasi. Perlahan namun pasti, masyarakat bergerak dari ketergantungan pada pertanian salak yang nilainya terus menurun menuju pilar ekonomi baru, yakni peternakan kambing.

Yang menarik bukan sekadar jumlah warga yang beternak kambing, melainkan bagaimana sebagian dari mereka telah melampaui pola pemeliharaan tradisional. Beberapa rumah tangga mulai merambah sektor hilir dengan mengolah susu kambing menjadi susu bubuk, yogurt, bahkan es krim.

Gambar 1. Pengolahan Susu Kambing

Inovasi ini lahir dari inisiatif individu, dari dapur-dapur kecil, tanpa pelatihan formal maupun dukungan struktural. Seorang warga yang kami temui telah memproduksi susu bubuk skala rumah tangga dengan peralatan sederhana dan proses manual. Produknya menunjukkan potensi pasar yang nyata. Di rumah lain, seorang ibu rutin membuat yogurt untuk konsumsi keluarga dan tetangga.

Aktivitas ini bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan bukti adanya jiwa kewirausahaan serta kapasitas teknologi pangan di tingkat rumah tangga yang selama ini kurang terlihat. Di sisi lain, penambangan pasir menjadi penopang ekonomi yang memberikan likuiditas cepat bagi sebagian warga.

Modal Sosial yang Menyimpan Energi Besar

Jika inovasi ekonomi adalah mesin, maka kelembagaan sosial adalah bahan bakarnya. Dusun Kemiri memiliki sejumlah kelompok masyarakat yang aktif dan potensial. Kelompok Ternak Sapi telah memiliki struktur organisasi yang jelas, infrastruktur pendukung, serta jaringan hingga ke luar dusun. Mereka menjadi contoh modal sosial bridging, yakni kemampuan membangun koneksi dengan pihak eksternal.

Namun, di samping kelompok ternak sapi yang terorganisasi, terdapat puluhan peternak kambing yang berjalan sendiri-sendiri tanpa payung kelembagaan yang jelas.

Gambar 2. Salah Satu Area Peternakan Kambing di Dusun Kemiri

PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) Dusun Kemiri tidak sekadar menjalankan kegiatan rutin seperti arisan atau posyandu. Kelompok ini merupakan simpul pemberdayaan perempuan yang mapan dan dipercaya masyarakat. Dengan jangkauan hingga tingkat rumah tangga, PKK memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam program kesehatan, pengelolaan sampah, hingga pengembangan usaha mikro.

Sementara itu, Karang Taruna menghadirkan energi generasi muda yang adaptif dan melek digital. Mereka menjadi jembatan antara kearifan lokal dan modernitas. Sayangnya, potensi besar tersebut belum terorkestrasi dalam gerakan kolektif yang terarah.

Fragmentasi Sosial: Ironi di Tengah Kekuatan Komunitas

Potensi-potensi di Dusun Kemiri ibarat butiran mutiara yang berserakan, belum terangkai menjadi kesatuan yang utuh.

Permasalahan internal terlihat dari ketidakjelasan kelembagaan peternak kambing. Sementara peternak sapi menikmati akses pelatihan, bantuan, dan jaringan pemasaran, peternak kambing yang jumlahnya lebih banyak masih bertumpu pada praktik individual. Mereka tidak memiliki saluran representasi dalam perencanaan pembangunan desa.

Permasalahan eksternal juga muncul dalam bentuk keterbatasan akses jaringan. Hanya individu dengan modal sosial, ekonomi, dan kultural lebih tinggi yang mampu menjangkau pasar serta sumber daya eksternal. Ketimpangan jaringan sosial pun terjadi: pelaku yang sudah mapan semakin maju, sementara sebagian lainnya tertinggal. Inovasi yang seharusnya menjadi penggerak kolektif justru terjebak sebagai keunggulan individu.

Jebakan Ekonomi: Dari Legalitas hingga Pasar Monopsoni

Di sektor ekonomi, persoalan membentuk lingkaran yang sulit diputus. Pertama, aspek legalitas. Produk olahan susu kambing Kemiri yang memiliki potensi kualitas terhambat proses perizinan BPOM dan sertifikasi halal. Hambatan ini bukan karena ketiadaan kemauan, melainkan prosedur daring yang kompleks serta minimnya pendampingan. Tanpa legalitas, produk hanya beredar di lingkungan terbatas dengan nilai jual dan volume yang rendah.

Kedua, stagnasi nilai tambah. Inovasi pengolahan telah dimulai, tetapi belum diikuti strategi pemasaran kolektif, penguatan merek (branding), maupun diversifikasi produk secara sistematis.

Ketiga, ketergantungan pada satu pembeli besar yang bersifat monopsoni. Seorang pembeli tunggal mendominasi penyerapan susu kambing. Penundaan pembayaran hingga berbulan-bulan pernah terjadi dengan nilai kerugian signifikan. Namun, warga tetap bertahan karena tidak memiliki alternatif pasar.

Keempat, keterbatasan layanan kesehatan hewan. Ketika ternak sakit, biaya pengobatan menjadi beban besar yang berisiko mengurangi pendapatan keluarga. Infrastruktur pendukung bagi ekonomi produktif dusun ini masih minim perhatian.

Tekanan Lingkungan: Krisis yang Senyap

Jika persoalan sosial dan ekonomi tampak di permukaan, persoalan lingkungan berlangsung lebih senyap. Sampah anorganik menjadi masalah sejak pengepul lokal berhenti beroperasi. Plastik dan kemasan tak lagi memiliki nilai ekonomi. Pembakaran terbuka menjadi solusi darurat yang dinormalisasi karena ketiadaan alternatif.

Limbah popok sekali pakai menambah tantangan baru. Karakteristiknya yang sulit terurai dan tidak bernilai ekonomi membuatnya terabaikan dalam sistem daur ulang informal. Warga kerap membakar, menimbun, atau membuangnya secara terbatas.

Lebih jauh, Dusun Kemiri juga menjadi lokasi pembuangan popok oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, sehingga menambah beban ekologis warga.

Belajar dari Kemiri

Apa yang terjadi di Dusun Kemiri bukan kasus terisolasi, melainkan gambaran tantangan pembangunan pedesaan di Indonesia. Potensi besar ada, tetapi belum sepenuhnya terkelola. Kelembagaan tersedia, tetapi belum terintegrasi.

Fragmentasi menjadi tantangan utama. Peternak kambing berjalan sendiri, kelompok ternak sapi belum terhubung secara strategis dengan PKK dan Karang Taruna, serta inovasi pengolahan susu belum berkembang melalui kolaborasi lintas kelompok.

Menatap ke Depan: Potensi yang Menanti Perpaduan

Dusun Kemiri memiliki modal untuk bertransformasi: sumber daya alam yang melimpah, modal sosial yang kuat, dan inovasi yang telah lahir dari inisiatif warga sendiri. Susu bubuk, yogurt, dan es krim bukan sekadar gagasan, melainkan produk nyata dari dapur warga. Tantangannya bukan menciptakan potensi baru, tetapi menghubungkan potensi yang telah ada.

Tiga hari dua malam di Kemiri menunjukkan bahwa praktik pembangunan berkelanjutan telah tumbuh dalam skala kecil. Diperlukan penguatan jejaring, pendampingan, serta integrasi kelembagaan agar potensi tersebut berkembang secara kolektif dan berkelanjutan.

Masa depan Dusun Kemiri pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan warganya merangkai potensi menjadi kekuatan bersama.

Author: Desamind Chapter Yogyakarta

Editor: Ahmad Zamzami

Kertonatan Leadership Camp Dorong Semangat Inovasi dan Kewirausahaan Sosial Pemuda Desa

By Berita Terkini, Press Release

Sukoharjo –  (26/10) Pusat Studi Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta (Puswirasos UMS) berkolaborasi dengan Desamind Indonesia menggelar Kertonatan Leadership Camp di Balai Desa Kertonatan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

Kegiatan ini mengusung tema “Peningkatan Kepedulian dan Kapasitas Pengembangan Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial Pemuda Kertonatan” yang bertujuan untuk mendorong semangat kewirausahaan dan kewirausahaan sosial pemuda desa, memperkuat kolaborasi antar-pemuda dan pelaku usaha, serta menghasilkan aksi nyata yang berkelanjutan.

Hadir sebagai narasumber, Soepatini, Ph.D, Ketua Puswirasos sekaligus Dosen Manajemen FEB UMS, menekankan pentingnya partisipasi aktif dan kepeloporan pemuda dalam pembangunan desa. Menurutnya, pemuda harus berani mengambil peran, karena dari desa lah muncul potensi dan solusi atas berbagai tantangan ekonomi maupun sosial. 

“Sebagai pemuda yang akan melanjutkan perjuangan dari desa, mari bersama-sama memberi dampak nyata. Masa depan negara ada di kalian” jelas Soepatini, alumnus Birmingham City University, United Kingdom.

Sesi berikutnya diisi oleh Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE, Dosen PTI UMS sekaligus President Director Desamind Indonesia. Dalam materi bertajuk Networking, Dinamika Kelompok, Brief Leadership Development, dan Design Thinking Projek Pedesaan, ia mendorong pemuda untuk memiliki pola pikir kreatif dan kolaboratif dalam membangun desa.

Lebih lanjut, para peserta juga diberikan perspektif tentang pengembangan proyek kewirausahaan sosial yang dapat dikelola secara mandiri oleh pemuda desa. Materi ini disampaikan Zakky Muhammad Noor, S.E., Director Desamind Farm dan LPM Equator. 

“Kewirausahaan sosial bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang menciptakan solusi bagi masyarakat. Pemuda harus mampu melihat potensi lokal sebagai peluang untuk berdaya,” ungkap Zakky.

Turut hadir pula Dra. Kusnarti, tokoh lingkungan sekaligus penggerak Bank Sampah Desa Kertonatan, yang memberikan apresiasi terhadap semangat pemuda dalam mengembangkan ide-ide sosial dan ramah lingkungan.

Gambar 1. Pemaparan dari Dra. Kusnarti

Selain sesi materi, peserta mengikuti Finishing Ide Project dan Presentasi Hasil Proyek Pedesaan yang menjadi puncak kegiatan. Fasilitator kegiatan ini terdiri dari Imam Riefly Aditomo, S.M., M.B.A, Putri Linggasari Sofi, S.M., M.M, Ahmad Zamzami, S.Ag, dan Ahmad Luthfi, S.Pd. Dalam sesi ini, peserta menampilkan berbagai gagasan inovatif, mulai dari pengelolaan sampah terpadu, pertanian berkelanjutan, hingga produk kewirausahaan berbasis potensi lokal.

Kepala Desa Kertonatan, Winarto, menyampaikan rasa bangganya terhadap semangat kolaboratif yang ditunjukkan oleh para peserta.

“Kegiatan ini sangat positif. Pemuda perlu difasilitasi agar bisa berinovasi dan ikut berperan dalam pembangunan desa. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu peserta, Hafida Sari, mengungkapkan bahwa pelatihan ini membantu pemuda memahami cara mengembangkan potensi desa dengan pendekatan sosial dan wirausaha.

“Materinya membuka wawasan kami untuk melihat peluang di sekitar dan mengubahnya menjadi program yang bermanfaat,” ungkapnya.

Gambar 2. Presentasi Hasil Proyek Pedesaan

Melalui kegiatan Kertonatan Leadership Camp, kolaborasi antara UMS dan Desamind Indonesia diharapkan dapat melahirkan generasi muda desa yang kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Semangat kolaboratif yang tumbuh dalam kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan sosial yang berkelanjutan di Desa Kertonatan dan sekitarnya.

Author : Ahmad Zamzami

Editor : Putri Aulia Pasha

Desamind Chapter Magelang Dorong Pemberdayaan Perempuan Desa lewat Program Public Speaking KWT Permai Tani

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Magelang – (21/10) Desamind Chapter Magelang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pemberdayaan perempuan desa melalui peningkatan kapasitas komunikasi dengan menyelenggarakan Public Speaking KWT Permai Tani. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum sekaligus membangun rasa percaya diri anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Permai Tani, Desa Gandusari.

Mengusung tema “Bangun Percaya Diri, Tingkatkan Potensi Diri,” kegiatan Public Speaking KWT Permai Tani dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama digelar pada Minggu, 31 Agustus 2025, dan tahap kedua pada Minggu, 21 September 2025. Kedua kegiatan berlangsung di Markas KWT Desa Gandusari, Kabupaten Magelang. Narasumber utama dalam pelatihan ini adalah Rahmat Subur Santoso, praktisi komunikasi yang aktif dalam pelatihan pengembangan diri, serta turut dihadiri oleh Ketua KWT, Ibu Darojatul Aliyah.

Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pembekalan teori mengenai dasar-dasar public speaking, termasuk cara membangun kepercayaan diri, menyusun pesan yang efektif, dan mengatasi rasa gugup. Sementara itu, pada tahap kedua, peserta diajak untuk berlatih berbicara langsung di depan audiens. Melalui metode praktik dan umpan balik langsung dari pemateri, anggota KWT berkesempatan mengasah kemampuan komunikasi yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk mendukung kegiatan pemasaran produk mereka.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba berbicara di depan rekan-rekannya. Salah satu peserta, Musripah, mengaku sangat terbantu dengan diadakan praktik ini.

“Pelatihan yang dilakukan kakak-kakak sangat sesuai dengan kebutuhan kami. Selama ini kami kesulitan memasarkan produk karena kurang percaya diri berbicara di depan orang. Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana menyampaikan pesan dengan baik dan percaya diri,” ujar Musripah.

Peserta lain, Choisah, juga menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

“Kami sangat berterima kasih karena melalui program ini kami jadi punya gambaran untuk melakukan pemasaran, terutama lewat media sosial. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ungkap Choisah.

Sebagai ketua pelaksana, Alif Zidan Ramadhan merasa bangga dan bersyukur atas kelancaran kegiatan ini. Baginya antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa pelatihan tersebut dibutuhkan oleh masyarakat.

“Antusiasme ibu-ibu luar biasa. Mereka aktif berdiskusi dan berlatih berbicara di depan umum. Harapannya, setelah pelatihan ini, anggota KWT lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan mampu mempromosikan produk-produk mereka secara efektif, baik secara langsung maupun melalui media digital,” jelas Alif.

Melalui program ini, Desamind Chapter Magelang berharap pemberdayaan perempuan desa tidak hanya berhenti pada pelatihan teknis, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas personal yang memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan di tingkat lokal. Langkah sederhana seperti berbicara dengan percaya diri di ruang publik menjadi awal bagi tumbuhnya kemandirian dan keberdayaan yang lebih luas di masyarakat.

Author: Ahmad Zamzami

Peluk Alam, Peluk Sesama: Desamind Chapter Solo Raya dan Sekolah Alam Aminah Tanamkan Cinta Bumi Sejak Dini

By Desamind Chapter, Press Release

Sukoharjo — (15/10) Sekolah Alam Aminah bersama Desamind Chapter Solo Raya menggelar kegiatan edukatif bertajuk “Peluk Alam, Peluk Sesama: Tangan Kecil Menanam, Bumi Besar Merasakan” di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 4 dan 5, baik dari peserta reguler maupun nonreguler, didampingi wali kelas serta guru pendamping khusus, dengan total 46 peserta.

Melalui berbagai aktivitas seperti melukis pot, fun games, hingga menanam bibit, para peserta diajak memahami bahwa mencintai alam tidak harus dimulai dari hal besar. Dari satu genggam tanah dan satu bibit kecil, mereka belajar tentang pentingnya menjaga bumi dan menghargai kehidupan di sekitar.

Kepala Sekolah Alam Aminah, Taqwa Hasma Septyaninda, S. Psi., S. Pd.I, menyambut baik terselenggaranya kolaborasi ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini memperkuat nilai kepedulian lingkungan sekaligus menanamkan tanggung jawab terhadap alam sejak usia dini.

“Kami sangat mengapresiasi gerakan Desamind Chapter Solo Raya. Anak-anak tidak hanya belajar menanam, tetapi juga belajar mencintai bumi, merawat, dan menjaga kehidupan di sekitarnya,” ujarnya.

 Gambar 1. Pengecatan Botol Bekas untuk Pembuatan Pot  (Dok. Arsip Desamind)

Addam Mufti Rohmani, S.Ak., Wali Kelas 4 Sekolah Alam Aminah, menambahkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan memiliki manfaat besar bagi tumbuh kembang siswa, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

“Pembelajaran seperti ini sangat bermanfaat. Anak-anak bisa belajar motorik, berinteraksi langsung, dan memahami konsep menjaga lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Terlebih, di sini juga banyak anak-anak unik yang butuh pendekatan belajar berbeda,” jelas Addam.

Bagi Desamind Chapter Solo Raya, kegiatan ini menjadi pengalaman yang bermakna. Selain sebagai bentuk pengabdian, kegiatan ini juga menjadi wadah pembelajaran bersama tentang nilai inklusivitas dan empati.

“Ini pengalaman pertama kami berinteraksi langsung dengan anak-anak spesial. Kami belajar banyak hal tentang kesabaran, empati, dan bagaimana membangun kegiatan yang ramah bagi semua anak,” ujar Hanan Fajri, Kepala Desamind Chapter Solo Raya.

Ia juga berharap kolaborasi ini dapat menjadi langkah awal bagi kemitraan berkelanjutan antara Desamind dan Sekolah Alam Aminah dalam menciptakan program yang berfokus pada pendidikan lingkungan dan pemberdayaan anak.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, karena anak-anak adalah generasi yang akan menentukan masa depan bumi. Menanam bagi mereka bukan sekadar aktivitas, tapi bentuk cinta terhadap kehidupan,” tutup Hanan.

 Gambar 2. Deklarasi Menjaga Bumi dengan Merawat Tanaman (Dok. Arsip Desamind)

Sebagai tindak lanjut, pot yang telah dilukis dan ditanami bibit oleh para siswa diletakkan di lingkungan sekolah. Tanaman-tanaman tersebut akan dirawat bersama sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan dan bentuk nyata menjaga bumi melalui tindakan sederhana di sekolah.

Melalui Peluk Alam, Peluk Sesama, Desamind Chapter Solo Raya dan Sekolah Alam Aminah menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari ruang belajar, dari tangan-tangan kecil yang menanam, hingga tumbuhnya kesadaran besar untuk menjaga bumi bersama.

Author: Ahmad Zamzami

Desamind Chapter Lombok Timur dan Desa Sapit Jalin Kemitraan Strategis untuk Penguatan Potensi Lokal

By Berita Terkini, Desamind Chapter, Press Release

Lombok Timur – Desamind Chapter Lombok Timur resmi menjalin kerja sama dengan Pemerintah Desa Sapit, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai Desa Mitra Desamind Chapter Lombok Timur. Kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi lokal desa, khususnya di bidang pendidikan, pariwisata, perekonomian, dan pemberdayaan masyarakat.

Penandatanganan MoU dilaksanakan di Aula Kantor Desa Sapit pada Minggu (12/10). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Sapit, Sekretaris Desa Sapit, para kepala wilayah Desa Sapit, perwakilan Pengurus Pusat Desamind (Koordinator Wilayah 3), anggota Desamind Chapter Lombok Timur, tokoh pemuda, kader desa, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), dan para pelaku UMKM setempat.

Kerja sama ini menjadi langkah konkret Desamind Chapter Lombok Timur dalam mendukung pembangunan desa berkelanjutan. Desa Sapit dikenal memiliki kekayaan potensi budaya, sejarah, dan alam. Terletak di lereng Gunung Rinjani, desa ini juga telah berkembang sebagai desa wisata dengan beragam tradisi lokal yang masih terjaga, salah satunya Maulid Adat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Sapit, H. Sriatun, S.Pt., NL.P., menyambut baik kolaborasi yang terjalin dengan Desamind Chapter Lombok Timur. Ia mengapresiasi peran aktif pemuda dalam mendukung pembangunan desa.

“Kami mengucapkan terima kasih atas inisiatif Desamind Chapter Lombok Timur. Desa Sapit memiliki potensi alam, budaya, dan hasil pertanian yang melimpah. Namun, kami membutuhkan sentuhan inovasi, terutama dari para pemuda, agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara maksimal. Harapannya, seluruh program Desamind dapat menjangkau 11 dusun yang ada di Desa Sapit dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desamind Chapter Lombok Timur, M. Abdul Hayyi, menjelaskan bahwa pemilihan Desa Sapit sebagai Desa Mitra didasarkan pada kekayaan potensi desa, kuatnya semangat gotong royong masyarakat, serta letak geografisnya yang strategis dan berdekatan dengan kawasan wisata Sembalun yang ramai dikunjungi wisatawan lokal, nasional, hingga mancanegara.

Gambar 1. Foto Bersama Usai Penandatangan MoU (Arsip Desamind Chapter Lombok Timur)

Ia juga menyampaikan rencana pelaksanaan Desamind Leadership Camp di Desa Sapit sebagai salah satu program tahunan Yayasan Desamind. Program ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Desa Sapit sebagai destinasi wisata sekaligus menjadi ruang pengembangan kapasitas pemuda desa.

“Desamind Chapter Lombok Timur berkomitmen mendampingi Desa Sapit melalui sejumlah program prioritas, antara lain peningkatan kapasitas literasi dan pendidikan melalui taman baca serta pelatihan pemuda, pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penguatan produk unggulan UMKM desa seperti kopi, jahe, pisang, dan produk lokal lainnya,” jelas Hayyi.

Kerja sama ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan model pembangunan desa yang berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Selain itu, kolaborasi ini juga diarahkan untuk mendorong peningkatan tata kelola desa melalui pemanfaatan digitalisasi dan inovasi.

Dalam pelaksanaannya, Desamind Chapter Lombok Timur akan menjadi ujung tombak pelaksanaan program di lapangan, memastikan sinergi antara program organisasi dan kebutuhan riil masyarakat Desa Sapit.

Author: Desamind Chapter Lombok Timur

Editor: Alan Ferdian Syah / Ahmad Zamzami

Bangun Sinergi, Desamind Chapter Magelang Pilih Desa Gandusari sebagai Desa Mitra

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Magelang – Desamind Chapter Magelang menggelar Sosialisasi Program Kerja (Proker) periode 2025/2026 dengan mengusung tema “Bersama Desa, Membangun Kapasitas Menuju Kemandirian.” Kegiatan ini dilaksanakan di Markas Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Gandusari, Kabupaten Magelang, pada Minggu (10/08).

Desamind Chapter Magelang menyampaikan empat fokus program, yaitu Integrated Farming, Public Speaking & Digital Marketing, Sharing Kemitraan, dan Benchmarking. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi, menjalin sinergi, sekaligus menyepakati bentuk kolaborasi yang akan dijalankan bersama Desa Gandusari.

Desa Gandusari dipilih sebagai desa binaan karena memiliki potensi besar di sektor pertanian serta kekuatan sosial melalui KWT yang aktif dan solid. Komitmen pemerintah desa dalam mendorong inovasi serta pemberdayaan masyarakat juga menjadi alasan penting bagi Desamind Chapter Magelang menjalin kemitraan strategis.

Mustofa Kamal, Kepala Desa Gandusari, turut hadir memberikan sambutan sekaligus dukungan di hadapan para anggota KWT dan perangkat desa.


“Kami menyambut baik inisiatif dari Desamind Chapter Magelang. Program ini harus dijalankan dengan kolaborasi lintas pihak agar konsisten dan benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat Desa Gandusari,” ujarnya.

Antusiasme tinggi terlihat dari para anggota KWT. Mereka menilai program-program yang ditawarkan relevan dengan kebutuhan sehari-hari serta membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas. Nurhidayah, salah satu anggota KWT Desa Gandusari, menyampaikan kesan positifnya.


“Kegiatan ini bermanfaat sekali, terutama terkait pertanian terpadu dan cara memasarkan produk. Semoga pendampingannya dilakukan secara berkelanjutan agar ilmu yang didapat bisa langsung kami terapkan,” ungkap Nurhidayah.

Dengan dukungan pemerintah desa dan semangat anggota KWT, Desamind Chapter Magelang berkomitmen menjadikan Desa Gandusari sebagai teladan praktik baik pemberdayaan berbasis komunitas yang berkelanjutan.

Penulis: Ahmad Zamzami

Desamind Chapter Malang Dorong Ibu-Ibu Desa Kucur Melek Digital dan Percaya Diri Jualan Online

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Malang (27 Juli 2025) – Balai Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang menjadi saksi semangat pemberdayaan perempuan desa melalui kegiatan workshop bertajuk “Mengasah Keberanian: Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Keterampilan Komunikasi Ibu-Ibu Desa”. Acara ini diprakarsai oleh Desamind Chapter Malang sebagai bentuk kontribusi dalam penguatan kapasitas ibu-ibu desa, khususnya dalam hal pemasaran dan komunikasi.

Workshop dibuka dengan pemaparan dari Hardika Dwi Hermawan, seorang praktisi pemasaran digital sekaligus penggerak literasi teknologi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam sesi berjudul “Pemasaran Digital untuk UMKM Desa”, Hardika memperkenalkan beragam kanal digital yang dapat digunakan untuk memasarkan produk lokal, seperti WhatsApp Business, Instagram, dan platform e-commerce. Ia juga menekankan pentingnya membangun citra produk melalui foto menarik dan cerita yang mengena.

“Teknologi adalah peluang. Kita hanya perlu membiasakan diri menggunakannya agar produk ibu-ibu bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Hardika yang disambut antusias oleh peserta.

Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Ziddan Hakim Abdul Jabbar (Arsip Desamind)

Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Ziddan Hakim Abdul Jabbar dengan topik “Membangun Kepercayaan Diri untuk Memulai Berjualan Online”. Dalam paparannya, Ziddan mendorong para peserta untuk tidak ragu memulai usaha, meskipun tanpa pengalaman sebelumnya. Ia mengajak peserta melakukan praktik berbicara di depan umum dan memberikan strategi untuk mengatasi rasa minder atau malu saat harus menawarkan produk secara langsung maupun daring.

“Kepercayaan diri itu dilatih, bukan ditunggu. Mulai saja dulu, dari hal kecil, dari lingkungan sekitar,” pesan Ziddan dengan semangat.

Gambar 2. Foto Bersama Desamind Chapter Malang dengan Ibu-Ibu Peserta Pelatihan (Arsip Desamind)

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan sesi ice breaking, relaksasi, dan foto bersama, yang semakin menghangatkan suasana kekeluargaan. Ketua Pelaksana, Anaqotul Fadillah A, menuturkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari misi Desamind untuk memberdayakan masyarakat desa melalui pendidikan yang menyenangkan dan aplikatif.

Dengan semangat “Ingat Bangsa – Ingat Desa”, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal dari perubahan positif bagi para ibu-ibu Desa Kucur dalam berwirausaha dan beradaptasi di era digital.

Rapat Kerja dan Upgrading Desamind Magelang: Menguatkan Soliditas, Menyusun Arah Gerakan

By Berita Terkini, Desamind Chapter

Magelang – Desamind Chapter Magelang menggelar Upgrading Lilin Senja dan Rapat Kerja Perangkat Desamind 2025/2026 yang berlangsung di Mangkujo Magelang Kuda & Joglo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang pada Sabtu, (19/07). Kegiatan ini diikuti oleh 24 peserta dari berbagai divisi internal chapter sebagai ruang membangun keakraban, meningkatkan kapasitas, serta menyusun arah kerja strategis program pemberdayaan di desa mitra.

Mengusung tagline “Menyalakan hangat dari siang hingga malam, dalam tawa dan rasa yang menyatu,” kegiatan ini memadukan nuansa reflektif dan produktif. Nama “Lilin Senja” sendiri mengandung makna filosofis yang kuat. Lilin sebagai simbol penerangan dan ketulusan memberi, sementara senja melambangkan waktu tenang yang penuh makna. Sehingga Lilin Senja mencerminkan keindahan proses tumbuh bersama dalam kehangatan komunitas.

Abdul Aziez, Director Division Chapter Desamind Indonesia, berkesempatan hadir dan memberikan materi Time Management and Mindfulness. Ia menekankan pentingnya pengelolaan waktu dan kesadaran diri bagi para relawan agar tetap adaptif dalam menjalankan peran sosial mereka. 

Hadir pula Agus Maryanto, pemilik Mangkujo sekaligus alumni Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM), membahas mengenai Leadership and Teamwork. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi, rasa percaya dalam tim, serta kepemimpinan yang tumbuh dari pemahaman dan kedewasaan berpikir.

Gambar 1. Agus Maryanto memaparkan pentingnya pengetahuan Leadership and Teamwork dalam berorganisasi

Tidak hanya menerima materi, para peserta juga terlibat aktif dalam menyusun rencana kerja yang akan dijalankan di periode mendatang. Rapat kerja ini menjadi ruang pembahasan program-program yang relevan bagi desa mitra, menyepakati strategi kolaboratif, serta menyatukan pemahaman lintas divisi agar eksekusi program ke depan lebih terkoordinasi.

Rohani Hanifatul Azizah, Sekretaris Desamind Chapter Magelang, bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini. Walaupun baru bertemu antar divisi, semua langsung akrab.

“Acaranya seru, dapat teman baru, bisa kenal lebih dekat dengan perangkat lain. Meski sempat bingung karena beda divisi , tapi justru jadi kesempatan buat menjalin relasi baru. Kegiatan ini menambah pengetahuan, keterampilan, dan memberi gambaran jelas soal rencana kerja ke desa mitra,” ungkap Rohani. 

Annisa Kusuma Wardhani, ketua panitia kegiatan, berharap Upgrading Lilin Senja ini mampu meningkatkan kesolidan antar perangkat dan siap terjun ke lapangan. 

“Kami yakin ini menjadi awal baik untuk program-program pemberdayaan ke depan yang lebih berdampak dan terarah,” ujarnya.

Upgrading Lilin Senja tidak hanya menjadi ajang peningkatan kapasitas, tetapi juga ruang menyatukan ide dan niat baik dalam satu misi yang sama. Desamind Chapter Magelang terus berkomitmen menciptakan produktif bagi anggotanya agar tumbuh, bergerak, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Penulis: Desamind Chapter Magelang

Editor:  Ahmad Zamzami