Surakarta — Yayasan Benih Keluarga Indonesia (YBKI) Surakarta menggelar kegiatan sharing session bersama Desamind Indonesia pada Jumat (4/4). Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama dalam memperkuat kapasitas kelembagaan, khususnya dalam pengelolaan relawan dan pengembangan program pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan diawali dengan pemaparan dari Ketua YBKI Surakarta, Nurhayati, S.Pd.I., Gr. dengan memperkenalkan profil serta berbagai program yang telah dijalankan. YBKI selama ini bergerak dalam bidang pembinaan dan pemberdayaan keluarga melalui sejumlah inisiatif, seperti sekolah pranikah, program parenting, hingga pendidikan anak berbasis masjid.
Dalam sesi tersebut, YBKI juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi dalam mengelola relawan. Salah satu isu yang disoroti adalah menjaga konsistensi keterlibatan relawan dalam jangka panjang. Sebagai organisasi berbasis kerelawanan, YBKI menyadari bahwa relawan tidak dapat dipaksa, sehingga dibutuhkan pendekatan yang tepat agar mereka tetap berkomitmen.
Menjawab hal tersebut, President and Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc. (ITE), memaparkan strategi Desamind dalam membangun dan menjaga keberlanjutan relawan. Ia menegaskan bahwa kekuatan utama Desamind terletak pada empat nilai inti, yaitu fun, ownership, collaborative, dan integrity.
Menurut Hardika, nilai fun diwujudkan melalui suasana kerja yang menyenangkan sehingga relawan merasa nyaman dalam berproses. Nilai ownership mendorong setiap individu untuk merasa memiliki program yang dijalankan. Sementara itu, collaborative menjadi kunci dalam membangun jejaring dan kerja sama lintas pihak, serta integrity menjaga komitmen dan konsistensi dalam setiap gerakan sosial.
“Relawan tidak bisa dipertahankan hanya dengan sistem, tetapi dengan rasa memiliki dan makna. Ketika mereka merasa menjadi bagian dari perubahan, mereka akan bertahan,” ujar Hardika.
Gambar 1. Sharing Session Pengelolaan Relawan dan Pengembangan Program Pemberdayaan Masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Director of Finance Desamind Indonesia, Meilani Intan Pertiwi, turut membagikan pengalamannya terkait dinamika internal organisasi. Ia menekankan bahwa soliditas tim menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan.
“Di Desamind, kami tumbuh bersama. Satu sama lain saling mendukung, sehingga terbentuk ekosistem yang kuat dan penuh semangat gotong royong,” jelas Meilani.
Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung interaktif sepanjang kegiatan. Salah satu pegiat YBKI, Nunik Nurhayati, mengaku mendapatkan banyak pembelajaran dari pengalaman Desamind.
“Kami belajar bahwa mengelola relawan bukan hanya soal program, tetapi juga membangun nilai dan budaya organisasi. Ini sangat membuka wawasan kami,” ungkapnya.
Ia juga berharap ke depan YBKI dan Desamind dapat menjalin kolaborasi yang lebih konkret dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam penguatan keluarga dan generasi muda.
Yogyakarta – Bulan Ramadhan telah lama menjadi ruang istimewa bagi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan atau bahasa kerennya adalah fastabiqul khairat. Momentum inilah yang coba ditangkap oleh Desamind Chapter Yogyakarta melalui inisiasi Ramadhan Berkah Chapter Yogyakarta (RBCY) 1447 H. Sebuah rangkaian kegiatan yang dirancang tidak hanya menebar manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat, tetapi juga untuk menghidupkan kembali rasa solidaritas dan kekeluargaan antar perangkat chapter.
Berlangsung sepanjang bulan Ramadhan, dari tanggal 18 Februari hingga 19 Maret 2026, RBCY 1447 H menghadirkan beberapa kegiatan utama. Di tengah hiruk-pikuknya kesibukan Ramadhan, ada dua program yang secara khusus menyoroti dimensi kemanusiaan yang paling fundamental, yaitu pendekatan kepada anak-anak dengan nama “Sahabat Cilik Desamind” dan kolaborasi lintas chapter dengan nama “Chapter Nyawiji”. Keduanya mengajarkan bahwa Ramadhan bukan sekadar tentang ibadah personal, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir bagi sesama.
Sahabat Cilik Desamind: Ketika Anak-Anak Mendapatkan Teman Baru
Di sebuah sore yang teduh di Dusun Kemiri, sekelompok anak berkumpul di TPA bukan sekadar untuk mengaji, tetapi untuk bertemu dengan “kakak-kakak” baru yang datang dengan senyum dan cerita. Itulah gambaran sederhana dari Sahabat Cilik Desamind, sebuah program yang berfokus pada pendekatan edukatif dan spiritual kepada anak-anak. Nama “Sahabat Cilik” dipilih bukan tanpa alasan. Lebih dari sekadar pengajar, para perangkat chapter ingin menjadi sahabat bagi anak-anak Dusun Kemiri. Pendekatan ini disadari sebagai kunci utama: sebelum ilmu dapat tersampaikan, kedekatan emosional harus terlebih dahulu terbangun.
Gambar 1. Belajar Bersama Anak-Anak TPA Dusun Kemiri
Setiap hari Jumat atau hari-hari lain yang disepakati, tim Sahabat Cilik hadir di tengah kegiatan TPA anak-anak dusun. Lebih daripada itu, kegiatan ini juga dijalankan bersama dengan rekan-rekan dari Dakwah Hijrah Mahasiswa (DHM) dari Universitas Islam Indonesia (UII). Materi yang disampaikan dirancang dengan pendekatan fun learning, agar anak-anak tidak merasa sedang “sekolah” tetapi justru menikmati proses belajar. Ada sesi mengaji Iqra dan Al-Qur’an yang dipandu oleh teman-teman DHM, kemudian diselingi dengan storytelling tentang kisah-kisah Nabi dan Rasul, serta teladan dari para sahabat dari tim Desamind Chapter Yogyakarta. Tidak hanya itu, cerita-cerita inspiratif tentang tokoh-tokoh Islam dikemas dengan cara yang interaktif. Kadang menggunakan alat peraga sederhana, kadang dengan metode bercerita yang dramatis, semuanya bertujuan agar pesan-pesan kebaikan dapat meresap dengan cara yang menyenangkan.
Tujuan dari kegiatan ini sederhana, tetapi bermakna. Kami belajar menjadi pendidik, pendengar, dan sahabat peran yang mungkin jarang mereka dapatkan dalam keseharian.
Chapter Nyawiji: Ketika Dua Chapter Menjadi Satu
Jika Sahabat Cilik berbicara tentang pendekatan personal kepada anak-anak, maka Chapter Nyawiji adalah tentang bagaimana solidaritas lintas wilayah diwujudkan dalam aksi nyata. “Nyawiji” dalam bahasa Jawa berarti menjadi satu. Nama ini dipilih untuk merefleksikan esensi dari kegiatan ini: menyatukan dua chapter, yaitu Yogyakarta dan Gunungkidul dalam sebuah kolaborasi yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyentuh nilai-nilai kemanusiaan.
Pada Minggu, 8 Maret 2026, seluruh perangkat Desamind Chapter Yogyakarta dan Gunungkidul berkumpul di Panti Asuhan Ulil Albab, Potorono, Banguntapan. Bukan sekadar berkunjung, rombongan datang membawa 15 paket sembako dari DRW Foundation, hal itu menjadi sebuah aksi sosial yang menjadi manifestasi nyata kepedulian di bulan yang penuh berkah. Rangkaian kegiatan dirancang dengan penuh perhatian. Dimulai dengan sambutan dari Ketua Desamind Chapter Gunungkidul, Putri Felita Listiani, dan Penanggung Jawab Panti Asuhan, Pak Andra. Kemudian, sesi inspirasi dengan tema “Menumbuhkan Harapan dan Semangat Bermimpi” dibawakan oleh Aqil Rafi Aljauzia sebuah sesi yang dirancang tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga untuk membuka ruang dialog interaktif dengan anak-anak panti.
Gambar 2. Games Outbound bersama Santri Ponpes Ulil Albab
Puncak dari kebersamaan terjadi saat sesi games outbound berlangsung. Dirancang sebagai sarana bonding, permainan ini tidak sekadar menghibur, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang menyenangkan. Ada Cerdas Cermat yang menguji pengetahuan seputar Ramadhan dan pengetahuan umum, Kata Berantai Ramadhan yang melatih konsentrasi dan kekompakan, hingga Tebak Gaya Ramadhan yang memicu tawa sekaligus kebersamaan.
Setelah rangkaian kegiatan bersama anak-anak panti, acara ditutup dengan internal bonding session antar perangkat kedua chapter. Di sinilah esensi “Nyawiji” benar-benar terasa refleksi bersama, evaluasi cepat, dan penguatan visi kolaborasi ke depan. Semua berlanjut hingga buka puasa bersama antar chapter.
Kegiatan yang Memberi Pesan Fundamental
Apa yang dilakukan Desamind Chapter Yogyakarta melalui Ramadhan Berkah 1447 H sebenarnya bukan sekadar serangkaian kegiatan. Ada pesan yang lebih dalam yang ingin disampaikan, bahwa kebaikan di bulan Ramadhan tidak harus selalu dalam bentuk materi yang besar, tetapi bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Sahabat Cilik Desamind mengajarkan bahwa menjadi sahabat bagi anak-anak adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai. Sedekah ilmu, waktu, dan perhatian di bulan yang penuh ampunan mungkin tidak terukur dengan angka, tetapi dampaknya akan terasa bertahun-tahun kemudian. Chapter Nyawiji mengajarkan bahwa kolaborasi lintas wilayah bukan sekadar soal koordinasi administratif, tetapi tentang bagaimana dua kelompok dengan latar belakang berbeda bisa saling menguatkan. Ketika Yogyakarta dan Gunungkidul bersatu, yang terbangun bukan hanya program, tetapi juga jaringan persaudaraan yang lebih luas.
Di balik semua itu, ada satu kesadaran yang terus dijaga, bahwa Ramadhan adalah momentum untuk kembali kepada fitrah sebagai manusia yang peduli. Bukan sekadar peduli pada diri sendiri, tetapi peduli pada anak-anak yang membutuhkan teman belajar, peduli pada sesama yang membutuhkan uluran tangan, dan peduli pada kebersamaan yang selama ini mungkin terabaikan oleh kesibukan.
Ramadhan Berkah Chapter Yogyakarta 1447 H mungkin hanya berlangsung satu bulan. Namun, semangat yang dihidupkan tentang solidaritas, tentang pendekatan kepada anak-anak, tentang kolaborasi lintas chapter adalah benih yang ditanam untuk masa panjang. Sahabat Cilik bukan hanya tentang satu Ramadhan. Ia adalah awal dari bagaimana Desamind hadir secara konsisten di tengah anak-anak Dusun Kemiri. Chapter Nyawiji bukan hanya tentang satu kunjungan ke panti asuhan. Ia adalah fondasi dari kolaborasi lintas chapter yang akan terus dipelihara dan dikembangkan.
Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan satu hal yang sederhana namun fundamental, yaitu kebaikan sejati adalah kebaikan yang berkelanjutan. Hal itulah yang coba diwujudkan oleh Desamind Chapter Yogyakarta bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sebagai komitmen jangka panjang untuk terus hadir, terus memberi, dan terus bersatu.
Boyolali — PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Adi Soemarmo berkolaborasi dengan Desamind Indonesia menggelar kegiatan Ramadhan Bersih dan Berkah dengan melakukan aksi bersih-bersih masjid di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu hingga Jumat (8–13/3), dengan melibatkan 30 relawan dari wilayah Soloraya.
Melalui kegiatan ini, relawan melakukan pembersihan di 12 masjid dan musala yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Ngemplak. Aksi bersih-bersih meliputi pembersihan ruang utama masjid, tempat wudu, halaman, serta penataan fasilitas ibadah guna menghadirkan lingkungan yang lebih nyaman bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadan.
Adapun lokasi kegiatan meliputi Masjid Al-Ikhlas di Cepit, Ngargorejo; Masjid Nur Hidayah di Gentan, Sobokerto; Masjid Manhajunadzor di Tegal Pucung, Ngesrep; Masjid Husnul Jami’ di Kanoman, Gagaksipat; Musala Al Barokah di Sanggrahan, Donohudan; Masjid NU di Sadon, Sawahan; Masjid Al-Mukmin di Welar, Pandeyan; Masjid Jami’ Al-Muttaqin di Tambas, Kismoyoso; Masjid Nurul Khasanah di Lemahabang, Dibal; Masjid Al-Hikmah di Sindon; Masjid Al-Mukmin di Batongan, Manggung; serta Masjid Baitul Muslimin di Borongan, Giriroto.
Managing Director Desamind Indonesia, Zakky Muhammad Noor, dalam technical meeting dan pembekalan relawan menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan rumah ibadah, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan semangat kepedulian sosial.
Gambar 1. Technical Meeting dan Pembekalan Relawan
“Melalui kegiatan ini, para relawan diajak untuk berkontribusi secara langsung kepada masyarakat. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan aksi sederhana namun berdampak nyata, seperti menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat ibadah,” ujar Zakky.
Branch Communication, CSR, and Legal Department Head PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Adi Soemarmo, Tyas Ayu Novitasari, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), khususnya bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional bandara.
Menurutnya, kolaborasi dengan komunitas seperti Desamind menjadi langkah penting untuk memperluas dampak kegiatan sosial sekaligus melibatkan generasi muda dalam gerakan kerelawanan.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta menghadirkan kenyamanan bagi jamaah dalam menjalankan ibadah selama Ramadan,” ungkap Tyas.
Gambar 2. Para Relawan Membersihkan dan Merapikan Masjid
Salah satu relawan, Afra Lana, mengaku senang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan bersih masjid tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga menjadi amalan baik di bulan puasa.
“Kegiatan ini memberi pengalaman yang berharga bagi kami. Hal sederhana seperti membersihkan masjid ternyata bisa menjadi bentuk ibadah sekaligus kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar,” pungkas Afra.
Pasuruan — Desamind Chapter Pasuruan berkolaborasi dengan Program Studi Ilmu Falak Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar kegiatan edukasi kreatif bertajuk “Teater Astronomi” pada Sabtu malam (7/3). Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB ini bertujuan mengenalkan konsep dasar astronomi kepada anak-anak di Desa Tambaksari melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan.
Teater Astronomi merupakan bagian dari program BESTARI yang mengusung tema eksplorasi benda-benda langit. Berbeda dengan metode pembelajaran formal, konsep teater dipilih untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih imersif. Melalui alur cerita yang dikemas secara naratif, peserta diajak menjelajahi tata surya, mulai dari cincin Saturnus hingga permukaan Mars.
Gambar 1. Antusiasme Anak-Anak Menyaksikan Teater Astronomi
Ketua pelaksana kegiatan, Tri Bachtiar Ramadani menjelaskan bahwa pelaksanaan pada malam hari dipilih untuk memperkuat pengalaman belajar peserta secara langsung.
“Kami ingin menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan, tetapi tetap berbasis ilmiah. Dengan dukungan mahasiswa Ilmu Falak UINSA, anak-anak tidak hanya menonton, tetapi juga memahami konsep benda langit secara sederhana,” ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan oleh ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tambaksari, Taruwi, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan edukasi seperti ini masih jarang dilakukan di wilayah pedesaan, padahal minat anak-anak terhadap ilmu pengetahuan cukup tinggi.
“Kami mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Anak-anak mendapatkan pengetahuan baru tentang astronomi dengan cara yang mudah dipahami,” ungkapnya.
Gambar 2. Apresiasi dan Sambutan dari Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tambaksari
Selama kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat tinggi, terutama saat sesi simulasi perjalanan antarbenda langit. Mahasiswa Ilmu Falak UINSA berperan sebagai fasilitator yang menjelaskan berbagai fenomena astronomi dengan pendekatan yang komunikatif dan sesuai dengan usia anak.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya kolaboratif dalam menghadirkan pendidikan sains yang lebih kontekstual dan menarik bagi anak-anak di desa, khususnya dalam mengenalkan ilmu astronomi sejak dini.
Pasuruan — Desamind Chapter Pasuruan berkesempatan mengikuti kegiatan “Ambal Dumugi” yang diselenggarakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Arjuna Desa Tambaksari untuk mengenang peristiwa langka jatuhnya meteor Tambakwatu pada 14 Februari 1975. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (14/2) sebagai bentuk upaya merawat ingatan kolektif atas fenomena alam yang diyakini menjadi satu-satunya peristiwa jatuhnya meteor di Kabupaten Pasuruan.
Ketua Pokdarwis Arjuna Desa Tambaksari, Misto, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menjaga nilai sejarah agar tetap hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, Ambal Dumugi berarti mengenang kembali datangnya meteor Tambakwatu agar peristiwa tersebut tidak hilang dari ingatan generasi muda.
Acara yang dikemas dalam bentuk tasyakuran tersebut juga menjadi momentum refleksi spiritual bagi warga. Kepala Dusun Tambakwatu, Sumarto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Ia menyebut fenomena alam yang terjadi 51 tahun silam itu sebagai anugerah Tuhan yang patut disyukuri.
“Semoga kegiatan ini membawa berkah, keselamatan, dan ketenteraman bagi warga Desa Tambaksari, khususnya Dusun Tambakwatu,” ungkapnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Tambaksari, Holikhati Rohmah, menilai peringatan ini memiliki makna penting bagi identitas desa. Ia menyebut peristiwa yang terjadi merupakan fenomena langka yang memperkaya sejarah lokal.
“Tadi Pak Kasun menyampaikan bahwa Tambaksari bukan hanya ‘banyu langit’, tetapi juga batu yang jatuh dari langit. Ini merupakan anugerah bagi kita,” ujarnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga serta melestarikan lokasi bersejarah tersebut agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.
Momentum peringatan semakin bermakna dengan kehadiran saksi mata peristiwa tersebut. Doro, warga setempat yang saat kejadian berusia sekitar 15 tahun, mengisahkan detik-detik jatuhnya meteor. Ia melihat langsung benda langit itu melintas dengan cahaya hijau kebiruan dari kejauhan sebelum berubah putih dan menghantam tanah tidak jauh dari ladangnya.
“Kebetulan saya berada di kandang sapi dan lokasinya dekat ladang. Saya melihat cahayanya terang sekali, tetapi waktu itu tidak tahu benda apa yang jatuh,” tuturnya.
Gambar 1. Prosesi “Ambal Dumugi” dengan mendengarkan kisah dari saksi mata, Pak Doro
Menurut Doro, warga sempat mengira sebuah pesawat jatuh. Mereka mencari sumber cahaya tersebut sepanjang malam menggunakan lampu petromak dan senter. Batu meteor baru ditemukan keesokan harinya setelah digali sedalam satu hingga dua meter oleh warga bersama aparat keamanan desa.
Peristiwa yang semula menimbulkan kepanikan itu kini justru menjadi bagian dari kebanggaan kolektif masyarakat Tambaksari. Lima dekade berlalu, kenangan tentang malam langka tersebut tetap hidup dalam ingatan warga.
Ia mengaku bangga karena generasi muda kini berupaya mengangkat kembali peristiwa tersebut sebagai bagian dari sejarah desa.
“Kalau ini mau disejarahkan, saya sangat bangga. Supaya tidak terlupakan dan orang tahu bahwa di Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, pernah terjadi jatuhnya batu meteor,” pungkas Doro.
Yogyakarta — Aat Rahmawati, pemudi asal Purbalingga sekaligus Wakil Kepala Desamind Chapter Purbalingga 2024, menerima anugerah UGM Law School Awards 2026 kategori Tokoh Pelopor Berkelanjutan. Penghargaan tersebut diberikan dalam puncak peringatan Dies Natalis ke-80 (Lustrum ke-16) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada Jumat (13/2) di Auditorium Gedung Fakultas Hukum UGM.
Penghargaan ini diberikan atas dedikasi Aat dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui pengabdiannya sebagai aktivis Desamind dan relawan guru muda dalam Program Pi Mengajar (Pijar) 2025 yang diinisiasi CT ARSA Foundation.
Selama satu tahun penuh, Aat mengabdi di SDN 02 Lelogama, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia mendampingi 69 siswa dengan latar belakang akses pendidikan yang terbatas. Tak hanya menjalankan tugas mengajar, Aat juga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan dukungan tambahan bagi siswa, guru, dan orang tua.
Gambar 1. Aat saat mendampingi belajar anak-anak SDN 02 Lelogama
Perjalanan tersebut tidak terlepas dari proses panjangnya di Desamind. Sebagai Wakil Kepala Desamind Chapter Purbalingga, Aat aktif menginisiasi program pemberdayaan, penguatan kapasitas pemuda, serta pengembangan komunitas berbasis desa. Pengalaman memimpin dan mengelola program di Desamind membentuk ketajaman perspektif sosialnya sekaligus memperkuat komitmennya terhadap pendidikan dan pembangunan berkelanjutan.
Menurut Aat, ruang belajar dan praktik sosial di Desamind menjadi bekal penting dalam menjalankan pengabdian di Lelogama.
“Desamind mengajarkan saya melihat desa sebagai ruang tumbuh bersama, bukan sekadar objek program. Dari sana saya belajar membangun kolaborasi dan memahami kebutuhan masyarakat secara partisipatif,” ungkap Aat.
Selama masa pengabdian di Lelogama, Aat dikenal adaptif dan aktif berbaur dengan masyarakat setempat. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan warga, mulai dari diskusi pendidikan hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Kehadirannya tidak hanya memberi dampak akademik, tetapi juga memperkuat semangat belajar dan partisipasi orang tua dalam mendukung pendidikan anak.
Perjalanan satu tahun di Lelogama, menurut Aat, menjadi pengalaman yang membentuk cara pandangnya tentang makna syukur dan pengabdian.
“Di sana saya belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi. Justru dari sanalah semangat untuk terus berbuat lahir,” ujarnya.
Penghargaan yang diterima Aat merupakan sebuah apresiasi dan dukungan Fakultas Hukum UGM kepada mereka yang melaksanakan praktik pengabdian kolaboratif dan berkelanjutan. Sebelumnya, Fakultas Hukum UGM juga telah menggelar Program Pengabdian Unggul di Nusa Tenggara Timur melalui kolaborasi multiple helix bersama Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira (FH Unwira), Desamind Indonesia, serta dukungan Sinarmas Mining. Salah satu lokasi pengabdian program tersebut berada di SDN 02 Lelogama, tempat Aat menjalankan tugasnya.
Gambar 2. Penyuluhan Hukum PKBH UGM di SDN 02 Lelogama
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.
“Penghargaan ini menunjukkan konsistensi Fakultas Hukum UGM dalam mengapresiasi pihak-pihak yang terus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tutur Prof. Ova Emilia.
UGM Law School Awards merupakan bentuk penghargaan kepada individu yang dinilai berkontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan hukum dan pengabdian berkelanjutan. Pencapaian Aat Rahmawati menjadi bukti bahwa semangat pengabdian generasi muda mampu menghadirkan dampak konstruktif bagi komunitas yang membutuhkan.
Semarang – Upaya pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah terus diperkuat melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Sosial menyelenggarakan Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) pada Selasa (10/2) di Petra Ballroom, Hotel Noormans, Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh perwakilan Dinas Sosial kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Dalam pembukaan kegiatan, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Iwanuddin Iskandar, S.H., M.Hum., memaparkan perkembangan kondisi kemiskinan di Jawa Tengah. Ia menyampaikan bahwa garis kemiskinan per September 2025 tercatat sebesar Rp570.870 per kapita per bulan, meningkat 6,15 persen dibandingkan Maret 2025. Data tersebut menjadi pengingat pentingnya penguatan program-program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dan tepat sasaran.
Sosialisasi dan koordinasi ini dirancang sebagai ruang konsolidasi lintas daerah untuk menyamakan persepsi dan strategi dalam pelaksanaan program Usaha Ekonomi Produktif. Program UEP diharapkan tidak hanya mendorong peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi keluarga penerima manfaat.
Dalam forum tersebut, Desamind Indonesia melalui Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.(ITE) memaparkan terkait “Pemberdayaan dan Pengembangan Desa”. Hardika menekankan pentingnya pendekatan social entrepreneurship dalam merancang dan menjalankan program Usaha Ekonomi Produktif, khususnya di wilayah desa.
Gambar 1. Narasumber dan Peserta Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP)Dinsos Jateng
“Usaha ekonomi produktif seharusnya diposisikan sebagai proses pemberdayaan, bukan sekadar bantuan. Dengan pendekatan social entrepreneurship, masyarakat didorong membangun usaha yang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial yang berkelanjutan,” ujar Hardika.
Ia menjelaskan bahwa penguatan usaha berbasis desa perlu memperhatikan potensi lokal, partisipasi masyarakat, serta keberlanjutan jangka panjang. Dalam konteks tersebut, pemuda desa memiliki peran strategis sebagai penggerak inovasi dan aktor pembangunan yang mampu menjembatani nilai sosial dan ekonomi.
“Pelibatan pemuda menjadi penting karena mereka memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan, kreativitas dalam mengembangkan usaha, serta visi jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan program,” tambahnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan dr. Moch. Ichlas Riyanto, M.M., Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Cilacap. Dalam pemaparannya, Ichlas menekankan pergeseran pendekatan program sosial dari pola bantuan menuju kemandirian usaha. Ia menyoroti peran strategis pemerintah daerah dalam memastikan proses pendampingan berjalan secara konsisten dan berorientasi pada keberlanjutan.
“Pendampingan tidak boleh berhenti pada penyaluran bantuan. Yang lebih penting adalah memastikan usaha yang dijalankan mampu tumbuh, bertahan, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi keluarga penerima,” jelas Ichlas.
Melalui kegiatan sosialisasi dan koordinasi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi masyarakat sipil, dalam mendorong Usaha Ekonomi Produktif sebagai instrumen pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan. Keterlibatan Desamind Indonesia dalam forum ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus mendukung pengembangan desa melalui pendekatan social entrepreneurship dan penguatan kapasitas masyarakat.
Desamind Indonesia menyelenggarakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MoNev) Awardee Beasiswa Desamind 5.0 pada Sabtu, (31/01) pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini menjadi bagian dari mekanisme pendampingan awardee dalam memantau perkembangan, pelaksanaan, serta keberlanjutan proyek sosial yang dijalankan.
Dalam sambutannya, President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.(ITE), menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi merupakan ruang refleksi dan pembelajaran bersama bagi para awardee.
“Monitoring dan evaluasi ini menjadi momentum untuk melihat sejauh mana proyek sosial berjalan, apa yang telah dan belum dilakukan, serta menjadi ruang konsultasi dengan mentor untuk melakukan perbaikan,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti oleh lima awardee Beasiswa Desamind 5.0, yaitu Anisatul Himmah (Universitas Jember), Wawan Sulaeman (UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Bayu Hardito (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya), Ruhillah Khadijah El Basri (Universitas Brawijaya), serta Aprilia Kusuma Dewi (Universitas Gadjah Mada). Para awardee mempresentasikan perkembangan proyek sosial yang telah berjalan selama setengah periode program, mencakup capaian kegiatan, tantangan pelaksanaan, serta rencana tindak lanjut.
Salah satu proyek yang mendapat perhatian panel adalah program edukasi seksual anak berbasis komunitas yang dijalankan oleh Wawan Sulaeman. Proyek ini mengintegrasikan materi edukasi seksual dengan pendekatan kultural melalui cerita rakyat Sunda, khususnya tokoh Kabayan. Pendekatan tersebut digunakan sebagai medium pembelajaran agar materi lebih komunikatif, kontekstual, dan dapat diterima oleh anak-anak serta orang tua di lingkungan desa.
Panelis monitoring dan evaluasi yang terdiri atas akademisi dan praktisi kemudian memberikan tanggapan serta masukan terhadap seluruh presentasi proyek sosial. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi tertutup untuk menyusun catatan evaluasi yang memuat perkembangan program, kendala yang dihadapi, serta rekomendasi perbaikan.
Hasil monitoring dan evaluasi ini menjadi bagian dari proses pendampingan lanjutan bagi awardee Beasiswa Desamind 5.0 dalam pelaksanaan proyek sosial pada periode berikutnya.
Gunungkidul – (28/01) Dalam upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan beretika, Desamind Indonesia menyelenggarakan kegiatan Ethics for Kids Action Day di SD Muhammadiyah 1 Patuk, Gunungkidul. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak sekolah dasar untuk mengenal, memahami, dan membiasakan nilai-nilai etika dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini merupakan kelanjutan dari Desamind Youth Impact Lab yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA), serta terhubung dengan rangkaian Luring Hands-On Experience Proyek Sosial di Desa dalam rangkaian Bootcamp Junior Rural Development oleh Sekolah Local Hero Indonesia. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari program lanjutan Desamind bersama PF Muda yang berfokus pada praktik baik, pembelajaran kontekstual, serta keterlibatan langsung pemuda di desa.
Kegiatan Ethics for Kids Action Day dirancang dengan pendekatan yang ringan, interaktif, dan dekat dengan dunia anak-anak. Nilai-nilai etika tidak disampaikan melalui ceramah panjang, melainkan melalui cerita, permainan, dan pengalaman langsung yang mudah dipahami. Fokus utama kegiatan meliputi nilai kejujuran, kesopanan, kepedulian, saling menghargai, keberanian berbuat baik, serta sikap anti-perundungan (bullying), nilai-nilai dasar yang penting ditanamkan sejak dini, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan pertemanan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi storytelling atau mendongeng etika yang mengajak anak-anak berdiskusi mengenai perilaku baik dan tidak baik dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, para siswa diajak menuliskan mimpi, harapan, serta kebaikan yang ingin mereka lakukan pada kertas warna-warni yang kemudian ditempelkan di “Dinding Mimpi Anak Hebat”. Aktivitas ini menjadi simbol bahwa setiap anak memiliki cita-cita dan potensi untuk tumbuh menjadi pribadi yang beretika.
Suasana semakin hidup saat anak-anak mengikuti permainan edukatif Truth or Dare versi etika yang dikemas melalui Little Heroes Card. Melalui permainan ini, siswa belajar tentang kejujuran, keberanian mengakui kesalahan, serta pentingnya bersikap sopan dan peduli melalui pertanyaan dan tantangan sederhana yang dekat dengan keseharian mereka.
Gambar 1. Pos Permaianan Word Search Ethics for Kids
Salah satu sesi yang paling dinantikan adalah “Petualangan 5 Kata Ajaib”, sebuah permainan berbentuk treasure hunt yang mengajak siswa menjelajah lima pos permainan. Setiap pos mewakili satu kata kunci etika, yaitu maaf, terima kasih, permisi, silakan, dan tolong. Melalui berbagai permainan seperti word search, oper pesan, hingga puzzle sederhana, anak-anak diajak memahami bahwa kata-kata tersebut bukan sekadar ucapan, melainkan wujud sikap tanggung jawab, kesopanan, kepedulian, dan empati dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, seluruh siswa SD Muhammadiyah 1 Patuk mengikuti Deklarasi Anti-Bullying. Anak-anak diajak memahami apa itu perundungan, dampaknya bagi korban, serta pentingnya saling menjaga dan menghargai. Deklarasi ini ditandai dengan cap tangan para siswa pada media deklarasi sebagai simbol komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif.
Gambar 2. Deklarasi Anti-Bullying dengan Cap Tangan
Kepala SD Muhammadiyah 1 Patuk, Indah Hariyani, S.Pd., Gr., menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Saya mewakili segenap guru mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan hari ini. Saya sangat senang dan bangga. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan di sekolah-sekolah lain, khususnya di wilayah Gunungkidul,” ujarnya.
Tak hanya berdampak bagi anak-anak, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bagi para relawan muda. Cintya, salah satu peserta Desamind Youth Impact Lab yang baru pertama kali terjun langsung sebagai relawan di desa mengaku bersyukur bisa gabung dan terlibat langsung bersama rekan-rekan Desamind.
“Awalnya saya gugup karena ini pengalaman pertama berinteraksi langsung dengan anak-anak di desa. Namun prosesnya ternyata hangat dan menyenangkan. Saya belajar bahwa menanamkan nilai etika tidak harus rumit, cukup melalui hal-hal kecil, dilakukan secara konsisten, dan dengan hati. Pengalaman ini menguatkan keyakinan saya bahwa praktik baik di desa itu penting dan berdampak,” tuturnya.
Lebih lanjut, Cintya berharap sinergi antara Desamind Indonesia, Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA), Sekolah Local Hero Indonesia, PF Muda, serta SD Muhammadiyah 1 Patuk, menjadi pemantik lahirnya lebih banyak ruang belajar etika yang menyenangkan, sekaligus mendorong anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat karena keberanian mereka untuk berbuat baik dan beretika.
Yogyakarta – Desamind Indonesia menyelenggarakan Desamind Youth Impact Lab: Leadership & Ethics Action pada Minggu (18/1) di Nutrihub Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi pemuda untuk memperkuat kepemimpinan berbasis nilai, etika, dan aksi nyata dalam pembangunan desa. Sebanyak 30 peserta terpilih mengikuti kegiatan ini secara gratis sebagai bagian dari komitmen Desamind dalam menyiapkan generasi muda yang berintegritas dan berdampak sosial.
Desamind Youth Impact Lab ini merupakan kelanjutan dari programMonitoring ActWISE+ Leadership Café 2025,sebuah inisiatif pengembangan kapasitas pemuda yang diinisiasi oleh Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) dan berafiliasi dengan Globethics. Dalam program tersebut, Desamind Indonesia terpilih sebagai Top 20 komunitas dari berbagai daerah di Indonesia yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam mendorong gerakan sosial berlandaskan integritas, nilai, dan kepemimpinan etis. Kepercayaan ini sekaligus membuka dukungan pendanaan bagi Desamind untuk mengimplementasikan kegiatan lanjutan yang berdampak secara langsung.d
Kegiatan diawali dengan Desamind Leadership Class yang membahas peran pemuda sebagai local heroes dalam pembangunan desa berbasis Community Driven Development (CDD). Materi disampaikan oleh Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE, Founder sekaligus President Director Desamind Indonesia, melalui mini class, diskusi interaktif, dan studi kasus kontekstual desa. Dalam pemaparannya, Hardika menekankan bahwa kepemimpinan pemuda tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi perlu dibangun di atas pemahaman nilai, keberanian terlibat, dan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.
“Pemuda desa memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Yang dibutuhkan adalah ruang belajar, kepercayaan, dan ekosistem yang memungkinkan mereka bertumbuh dan berkontribusi secara nyata,” ujar Hardika.
Gambar 1. Pemecahan Studi Kasus Pedesaan
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi penguatan etika kepemimpinan yang menitikberatkan pada keterampilan active listening, komunikasi empatik, serta penggunaan WISE+ Ethical Decision Making Tool. Sesi ini dipandu oleh Abdul Aziez, Director of Chapter Division Desamind Indonesia, bersama Lakhsmi Nuswantari Subandi, S.H., LL.M., Regional Manager Globethics sekaligus Chairperson Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA). Peserta diajak terlibat langsung dalam simulasi konflik, latihan mendengarkan aktif, serta berbagi praktik baik dari berbagai komunitas.
Menurut Lakhsmi, kepemimpinan yang beretika bukan hanya tentang mengambil keputusan yang benar, tetapi juga tentang proses memahami berbagai perspektif dan mempertimbangkan dampak sosial dari setiap pilihan. “Etika perlu dilatih melalui praktik, bukan hanya dipahami sebagai konsep,” tuturnya.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, kegiatan ini juga memuat sesi briefing Ethics for Kids Action Day, sebuah aksi edukatif yang akan dilaksanakan pada Rabu (28/1) di SD Muhammadiyah Patuk 1, Gunungkidul.
Gambar 1. Lakhsmi Nuswantari Subandi, S.H., LL.M, , memberikan arahan dalam membedah WISE+ Ethical Decision Making Tool
Husniyah Mujahadah, peserta asal Bengkulu, Sumatera, berbagi refleksi dan kesiapan peserta dalam menerjemahkan nilai-nilai etika yang telah dipelajari ke dalam kegiatan pembelajaran bagi anak-anak.
“Kegiatan ini membuka perspektif baru bagi kami sebagai pemuda untuk tidak hanya belajar tentang kepemimpinan, tetapi juga bagaimana menanamkan nilai etika kepada anak-anak melalui pendekatan yang sederhana dan menyenangkan,” ujarnya.
Gambar 3. Presentasi Pengaplikasian WISE+ Ethical Decision Making Tool
Husniyah juga menegaskan komitmennya setelah mengikuti kegiatan ini untuk berusaha membangun ekosistem pemuda yang tidak hanya memiliki kapasitas kepemimpinan, tetapi juga berpijak pada nilai, integritas, dan keberpihakan pada desa. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bertumbuh bagi pemuda untuk belajar, berjejaring, dan mengambil peran aktif dalam menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.