Skip to main content
Tag

#pemuda

Satu-satunya di Pasuruan, Warga Tambaksari Kenang Peristiwa Langka Jatuhnya Meteor 1975

By Berita Terkini, Desamind Chapter, Press Release

Pasuruan — Desamind Chapter Pasuruan berkesempatan mengikuti kegiatan “Ambal Dumugi” yang diselenggarakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Arjuna Desa Tambaksari untuk mengenang peristiwa langka jatuhnya meteor Tambakwatu pada 14 Februari 1975. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (14/2) sebagai bentuk upaya merawat ingatan kolektif atas fenomena alam yang diyakini menjadi satu-satunya peristiwa jatuhnya meteor di Kabupaten Pasuruan.

Ketua Pokdarwis Arjuna Desa Tambaksari, Misto, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menjaga nilai sejarah agar tetap hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, Ambal Dumugi berarti mengenang kembali datangnya meteor Tambakwatu agar peristiwa tersebut tidak hilang dari ingatan generasi muda.

Acara yang dikemas dalam bentuk tasyakuran tersebut juga menjadi momentum refleksi spiritual bagi warga. Kepala Dusun Tambakwatu, Sumarto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Ia menyebut fenomena alam yang terjadi 51 tahun silam itu sebagai anugerah Tuhan yang patut disyukuri.

“Semoga kegiatan ini membawa berkah, keselamatan, dan ketenteraman bagi warga Desa Tambaksari, khususnya Dusun Tambakwatu,” ungkapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Tambaksari, Holikhati Rohmah, menilai peringatan ini memiliki makna penting bagi identitas desa. Ia menyebut peristiwa yang terjadi merupakan fenomena langka yang memperkaya sejarah lokal.

“Tadi Pak Kasun menyampaikan bahwa Tambaksari bukan hanya ‘banyu langit’, tetapi juga batu yang jatuh dari langit. Ini merupakan anugerah bagi kita,” ujarnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga serta melestarikan lokasi bersejarah tersebut agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Momentum peringatan semakin bermakna dengan kehadiran saksi mata peristiwa tersebut. Doro, warga setempat yang saat kejadian berusia sekitar 15 tahun, mengisahkan detik-detik jatuhnya meteor. Ia melihat langsung benda langit itu melintas dengan cahaya hijau kebiruan dari kejauhan sebelum berubah putih dan menghantam tanah tidak jauh dari ladangnya.

“Kebetulan saya berada di kandang sapi dan lokasinya dekat ladang. Saya melihat cahayanya terang sekali, tetapi waktu itu tidak tahu benda apa yang jatuh,” tuturnya.

Gambar 1. Prosesi “Ambal Dumugi” dengan mendengarkan kisah dari saksi mata, Pak Doro

Menurut Doro, warga sempat mengira sebuah pesawat jatuh. Mereka mencari sumber cahaya tersebut sepanjang malam menggunakan lampu petromak dan senter. Batu meteor baru ditemukan keesokan harinya setelah digali sedalam satu hingga dua meter oleh warga bersama aparat keamanan desa.

Peristiwa yang semula menimbulkan kepanikan itu kini justru menjadi bagian dari kebanggaan kolektif masyarakat Tambaksari. Lima dekade berlalu, kenangan tentang malam langka tersebut tetap hidup dalam ingatan warga.

Ia mengaku bangga karena generasi muda kini berupaya mengangkat kembali peristiwa tersebut sebagai bagian dari sejarah desa.

“Kalau ini mau disejarahkan, saya sangat bangga. Supaya tidak terlupakan dan orang tahu bahwa di Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, pernah terjadi jatuhnya batu meteor,” pungkas Doro.

Author: Mukhammad Thoriq Aziz

Editor: Ahmad Zamzami

Aat Rahmawati Raih UGM Law School Awards 2026 atas Dedikasi Pengabdian di NTT

By Berita Terkini, Press Release

Yogyakarta — Aat Rahmawati, pemudi asal Purbalingga sekaligus Wakil Kepala Desamind Chapter Purbalingga 2024, menerima anugerah UGM Law School Awards 2026 kategori Tokoh Pelopor Berkelanjutan. Penghargaan tersebut diberikan dalam puncak peringatan Dies Natalis ke-80 (Lustrum ke-16) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada Jumat (13/2) di Auditorium Gedung Fakultas Hukum UGM.

Penghargaan ini diberikan atas dedikasi Aat dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui pengabdiannya sebagai aktivis Desamind dan relawan guru muda dalam Program Pi Mengajar (Pijar) 2025 yang diinisiasi CT ARSA Foundation.

Selama satu tahun penuh, Aat mengabdi di SDN 02 Lelogama, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia mendampingi 69 siswa dengan latar belakang akses pendidikan yang terbatas. Tak hanya menjalankan tugas mengajar, Aat juga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan dukungan tambahan bagi siswa, guru, dan orang tua.

Gambar 1. Aat saat mendampingi belajar anak-anak SDN 02 Lelogama

Perjalanan tersebut tidak terlepas dari proses panjangnya di Desamind. Sebagai Wakil Kepala Desamind Chapter Purbalingga, Aat aktif menginisiasi program pemberdayaan, penguatan kapasitas pemuda, serta pengembangan komunitas berbasis desa. Pengalaman memimpin dan mengelola program di Desamind membentuk ketajaman perspektif sosialnya sekaligus memperkuat komitmennya terhadap pendidikan dan pembangunan berkelanjutan.

Menurut Aat, ruang belajar dan praktik sosial di Desamind menjadi bekal penting dalam menjalankan pengabdian di Lelogama.

“Desamind mengajarkan saya melihat desa sebagai ruang tumbuh bersama, bukan sekadar objek program. Dari sana saya belajar membangun kolaborasi dan memahami kebutuhan masyarakat secara partisipatif,” ungkap Aat.

Selama masa pengabdian di Lelogama, Aat dikenal adaptif dan aktif berbaur dengan masyarakat setempat. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan warga, mulai dari diskusi pendidikan hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Kehadirannya tidak hanya memberi dampak akademik, tetapi juga memperkuat semangat belajar dan partisipasi orang tua dalam mendukung pendidikan anak.

Perjalanan satu tahun di Lelogama, menurut Aat, menjadi pengalaman yang membentuk cara pandangnya tentang makna syukur dan pengabdian.

“Di sana saya belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi. Justru dari sanalah semangat untuk terus berbuat lahir,” ujarnya.

Penghargaan yang diterima Aat merupakan sebuah apresiasi dan dukungan Fakultas Hukum UGM kepada mereka yang melaksanakan praktik pengabdian kolaboratif dan berkelanjutan. Sebelumnya, Fakultas Hukum UGM juga telah menggelar Program Pengabdian Unggul di Nusa Tenggara Timur melalui kolaborasi multiple helix bersama Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira (FH Unwira), Desamind Indonesia, serta dukungan Sinarmas Mining. Salah satu lokasi pengabdian program tersebut berada di SDN 02 Lelogama, tempat Aat menjalankan tugasnya.

Gambar 2. Penyuluhan Hukum PKBH UGM di SDN 02 Lelogama

Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.

“Penghargaan ini menunjukkan konsistensi Fakultas Hukum UGM dalam mengapresiasi pihak-pihak yang terus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tutur Prof. Ova Emilia.

UGM Law School Awards merupakan bentuk penghargaan kepada individu yang dinilai berkontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan hukum dan pengabdian berkelanjutan. Pencapaian Aat Rahmawati menjadi bukti bahwa semangat pengabdian generasi muda mampu menghadirkan dampak konstruktif bagi komunitas yang membutuhkan.

Author: Ahmad Zamzami

Bangun Budaya Riset, Desamind Jogja Gelar Workshop Strategi Tembus Jurnal Bereputasi

By Berita Terkini, Desamind Chapter, Press Release

Yogyakarta — Desamind Chapter Yogyakarta menggelar workshop daring “Strategi Jitu Tembus Artikel Reputable” pada Jumat (30/1) melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti 20 peserta dengan mayoritas mahasiswa jenjang S1 sebagai bagian dari upaya membangun budaya riset dan publikasi ilmiah sejak dini.

Workshop dipandu oleh Aldi Firmansyah dengan menghadirkan Rahmat Naufal mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah mempublikasikan artikel di jurnal terindeks Scopus. Dalam pemaparannya, Naufal membagikan strategi praktis menembus jurnal bereputasi, mulai dari menemukan ide riset, membaca peta literatur, hingga memahami proses review jurnal.

Naufal menjelaskan bahwa riset dapat dimulai dari kebiasaan mengkritisi fenomena sosial dan membaca tren isu aktual. Salah satu langkah penting, menurutnya, adalah menemukan research gap atau celah penelitian yang belum banyak dikaji. Untuk itu, peserta diperkenalkan pada penggunaan perangkat lunak VOSviewer guna memetakan perkembangan literatur dan mengidentifikasi peluang kebaruan penelitian.

Selain membahas perumusan masalah dan penyusunan kerangka teori, sesi juga menyoroti pentingnya kesesuaian antara pertanyaan riset dan metode penelitian. Naufal mencontohkan bahwa penelitian eksperimental memerlukan pendekatan laboratorium, sedangkan riset yang mengeksplorasi pengalaman sosial lebih tepat menggunakan wawancara mendalam atau metode kualitatif lainnya.

Tak hanya aspek teknis, peserta juga diajak memahami dinamika publikasi ilmiah, termasuk proses revisi dan kemungkinan penolakan naskah.

 “Penolakan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar untuk memperbaiki kualitas tulisan,” ujar Naufal.

Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Rahmat Naufal

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan seputar pemilihan metode, strategi menentukan jurnal tujuan, hingga membangun kolaborasi lintas disiplin. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat mahasiswa terhadap publikasi ilmiah, sekaligus perlunya ruang belajar yang lebih aksesibel dan aplikatif.

Melalui kegiatan ini, Desamind Chapter Yogyakarta menegaskan komitmennya sebagai wadah pembelajaran kolaboratif dalam mendorong peningkatan kapasitas riset mahasiswa. Ke depan, Desamind Jogja berencana menghadirkan sesi lanjutan berupa pendampingan penulisan artikel hingga simulasi pengiriman naskah ke jurnal bereputasi.

Author: Desamind Chapter Yogyakarta

Editor:  Ahmad Zamzami

Sejenak Pulang ke Alam bersama Desamind Farm: Pengalaman Agroeduwisata di Bumi Sawala, Bodogol Kampung Hoya

By Artikel, Desamind Farm

Akhir pekan kemarin (Sabtu–Minggu, 10–11 Januari 2026), saya memilih untuk menepi sejenak dari ritme Jakarta yang nyaris tak pernah melambat. Bersama rekan-rekan Desamind, saya mengikuti rangkaian Soft Launching Agrowisata Bumi Sawala, sebuah ruang belajar hidup yang tumbuh di Bodogol Kampung Hoya.

Perjalanan dimulai dari ibu kota dengan menaiki KRL menuju Stasiun Bogor. Gerbong penuh penumpang, namun suasananya terasa lebih ringan, seperti pertanda bahwa hari-hari sibuk akan segera berganti dengan ruang yang lebih tenang. Dari Bogor, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan melewati Tol Ciawi. Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang, berganti bukit hijau, sawah, dan udara yang semakin sejuk. Sekitar satu hingga satu setengah jam kemudian, kami tiba di Bodogol Kampung Hoya, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Kami menginap di sebuah vila sederhana dan asri yang dikelilingi pegunungan. Hujan yang turun di malam hari justru menambah rasa teduh. Tidak ada klakson, tidak ada notifikasi yang mendesak. Hanya suara alam dan jeda, sesuatu yang jarang saya temui di kota.

Keesokan paginya, agenda utama menanti: berkunjung ke Bumi Sawala, sebuah kawasan agrowisata yang lahir dari inisiatif Desamind Farm bersama pemuda Desa Benda. Sekitar pukul delapan pagi, para pengelola menjemput kami. Kabut masih menggantung, udara dingin terasa segar. Sebelum memulai kegiatan, kami diberi pengarahan singkat dan disambut dengan penuh kehangatan.

Perjalanan menuju lokasi ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri permukiman warga. Sepanjang jalan, satu hal langsung terasa: seluruh pengelola Bumi Sawala adalah pemuda asli desa ini. Mereka menyapa dengan ramah, memandu dengan percaya diri, dan tampak sangat memahami setiap sudut kampungnya. Dari cerita-cerita ringan yang mereka bagikan, kami mengetahui bahwa tempat ini tidak dibangun dalam semalam. Mereka memulai dari nol, belajar menyambut tamu, menjadi pemandu wisata, mengelola kegiatan, menyusun alur kunjungan, hingga memastikan setiap pengunjung pulang membawa pengalaman yang bermakna.

Setibanya di Bumi Sawala, kami disuguhi ubi dan jagung rebus hangat, ditemani wedang jahe yang aromanya langsung menghangatkan tubuh. Sederhana, tetapi penuh makna. Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan bersama para pemuda pengelola. Tidak ada jarak. Permainan kecil, tawa, dan obrolan ringan membuat suasana cepat mencair. Kami merasa tidak sedang mengikuti paket wisata, melainkan bertamu ke sebuah ruang belajar milik bersama.

Gambar 1 & 2. Kegiatan pengenalan dengan para pengelola Bumi Sawala

Kegiatan pertama membawa kami ke kandang ternak terintegrasi. Dengan penuh antusias, para pemuda menjelaskan bagaimana sistem peternakan dirancang agar bersih, efisien, dan ramah lingkungan. Kotoran ternak tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi pupuk kompos. Kami bahkan diajak mengambil kohe kering secara langsung. Pengalaman yang mungkin terasa asing bagi banyak orang kota, tetapi justru menjadi pelajaran paling nyata tentang siklus alam dan keberlanjutan.

Tak berhenti di situ, kami juga mencoba mencukur bulu domba. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama. Di balik aktivitas sederhana tersebut, terlihat bagaimana para pemuda desa dengan sabar membimbing, memastikan kami aman, dan tetap menikmati prosesnya. Peran mereka sebagai pemandu wisata benar-benar terasa, bukan karena mereka telah ahli sejak lama, melainkan karena mereka mau belajar dan tumbuh bersama.

Gambar 3 & 4. Kegiatan mencukur bulu domba dan memberi makan domba

Dari kandang, kami beralih ke Saung Kompos. Di sinilah proses pengolahan limbah menjadi pupuk ramah lingkungan dijelaskan secara rinci. Tidak hanya teori, kami diajak terlibat langsung. Saya melihat bagaimana para pemuda ini tidak hanya menguasai praktiknya, tetapi juga mampu menjelaskannya dengan bahasa sederhana kepada pengunjung, sebuah keterampilan yang jelas lahir dari proses belajar, mencoba, dan tidak takut salah.

Gambar 5 & 6. Kegiatan proses pembuatan pupuk kompos

Kami kemudian dikenalkan dengan tanaman Hoya, tanaman khas yang tumbuh subur di kawasan ini dan menjadi identitas Kampung Hoya. Para pengelola menjelaskan bahwa Hoya bukan sekadar tanaman hias, melainkan bagian dari kekayaan hayati lokal yang ingin terus mereka jaga. Kami diajak membuat kokedama sebagai media tanam, dan hasilnya boleh dibawa pulang. Bagi saya, kokedama ini bukan sekadar cinderamata, melainkan simbol pengalaman dan cerita yang saya bawa pulang.

Gambar 7. Hasil pembuatan Kokedama Tanaman Hoya

Menjelang siang, kami makan bersama di saung. Suasananya santai, tanpa agenda yang terburu-buru. Setelah itu, kami mengunjungi kebun tomat dan memetik langsung hasil panen. Hujan yang turun cukup deras memang membatasi beberapa agenda lanjutan, namun tidak mengurangi kesan yang sudah terbangun sejak pagi.

Gambar 8 & 9. Hasil memanen buah tomat di kebun Pak Tani

Perjalanan ke Bumi Sawala memberi saya perspektif baru tentang wisata. Di sini, wisata bukan hanya soal pemandangan atau foto estetik, tetapi tentang manusia, proses, dan keberanian untuk belajar. Para pemuda Desa Benda menunjukkan bahwa dengan semangat, kemauan belajar, dan kolaborasi, desa bisa menjadi ruang tumbuh, bukan hanya bagi warganya, tetapi juga bagi siapa pun yang datang berkunjung.

Bumi Sawala bukan sekadar destinasi pelarian dari kota. Ia adalah ruang belajar hidup, tempat alam, desa, dan semangat pemuda bertemu. Dan bagi saya, di sanalah letak daya tarik yang paling layak diapresiasi.

Author: Luthfia Octaviani

Editor: Ahmad Zamzami

Desamind Farm Gelar Soft Launching Bumi Sawala, Ruang Belajar Hidup Agroeduwisata

By Desamind Farm, Pemberdayaan Kepemudaan, Press Release

Sukabumi – Desamind Indonesia melalui unit pengembangan Desamind Farm menggelar Soft Launching Bumi Sawala (Agroeduwisata) pada Sabtu, 11 Januari 2026, di Bodogol Kampung Hoya, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kegiatan ini menjadi dry run perdana sekaligus rangkaian awal peringatan Dies Natalis Desamind Indonesia ke-6, dengan mengusung konsep ruang belajar hidup yang mengintegrasikan edukasi, ekologi, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Sebanyak 20 pengurus pusat Desamind Indonesia hadir sebagai peserta dry run, datang dari berbagai daerah, antara lain Solo, Magelang, Klaten, Semarang, serta wilayah Jabodetabek. Kehadiran lintas daerah ini menjadi bentuk dukungan sekaligus uji coba awal terhadap pengalaman agroeduwisata yang akan dikembangkan secara berkelanjutan di Bumi Sawala.

Gambar 1. Keseruan saat Games Pembukaan

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan peserta oleh pemuda lokal pengelola Bumi Sawala, dilanjutkan dengan pengenalan kawasan dan tur edukatif. Peserta diajak mengunjungi peternakan terintegrasi, mengenal pengolahan kompos ramah lingkungan, serta mempelajari tanaman Hoya khas Bodogol. Kegiatan juga dilengkapi dengan praktik agroedukasi sederhana, seperti mencukur bulu domba, membuat kokedama, dan memetik hasil kebun.

Gambar 2. Praktik Mencukur Bulu Domba

Seluruh aktivitas dirancang sebagai pengalaman belajar partisipatif yang mempertemukan pengunjung dengan praktik pertanian berkelanjutan sekaligus kehidupan desa secara langsung. Sebagai dry run perdana, Soft Launching Bumi Sawala menjadi ruang evaluasi awal dan penguatan konsep sebelum program ini dibuka lebih luas untuk publik.

Zakky Muhammad Noor, Director of Desamind Farm, mengungkapkan bahwa Bumi Sawala lahir dari proses panjang yang dibangun dari nol dengan keyakinan dan tekad bersama.

“Saya tidak menyangka ide Bumi Sawala  bisa sampai pada tahap ini. Konsep yang melahirkan local heroes ini dibangun dari nol, dengan penuh keyakinan dan kegigihan. Ini adalah hasil kolaborasi banyak pihak yang saling memberi ruang, saling belajar, dan bertumbuh bersama,” ujar Zakky.

Gambar 3. Hasil Kerajinan Kokedama Peserta Soft Launching Bumi Sawala

Hal senada disampaikan Salman, Koordinator Lapangan Bumi Sawala , yang menilai proses pendampingan pemuda desa sebagai kunci utama keberlanjutan program.

“Awalnya teman-teman pemuda lokal sangat pesimis dan bingung harus mulai dari mana, bahkan tidak percaya diri karena belum memiliki keterampilan mengelola agroeduwisata. Berkat arahan dan pendampingan dari rekan-rekan Desamind, kami perlahan menemukan kepercayaan diri, terus mencoba, hingga akhirnya sampai di tahap ini. Kami sadar, ini bukan akhir, melainkan awal dari proses panjang,” ungkap Salman.

Dari sisi peserta, Isna Fahrizal, Director of Secretariat & Finance Desamind Indonesia, menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras seluruh pengelola BUMI SAWALA, khususnya pemuda desa yang menjadi aktor utama di lapangan.

“Pengalaman agroeduwisata yang diberikan sangat luar biasa dan terasa otentik. Para pemuda Bumi Sawala  menunjukkan kesiapan, keramahan, dan semangat belajar yang tinggi. Harapannya, ke depan semakin banyak pengunjung yang datang dan merasakan pengalaman serupa, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi desa,” tutur Isna.

Penulis: Ahmad Zamzami

Desamind Indonesia Raih Apresiasi di Hari Jadi Purbalingga ke-195, Founder Terima Penghargaan Pemuda Inspiratif

By Press Release

Purbalingga – Dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Purbalingga ke-19 pada Kamis, 18 Desember 2025, Desamind Indonesia Foundation menorehkan prestasi membanggakan. Hardika Dwi Hermawan, Founder Desamind sekaligus tokoh pendidikan dan pemberdayaan pemuda dari Desa Cipaku, menerima penghargaan sebagai Pemuda Inspiratif Kabupaten Purbalingga bidang pendidikan dan sosial yang diserahkan langsung oleh Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif pada puncak acara Pahargyan Agung di Pendopo Dipokusumo, Purbalingga. 

Penghargaan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Purbalingga ke-195 yang mengusung tema “Sinergi, Kolaborasi untuk Akselerasi Purbalingga Baru”, sebuah refleksi perjalanan panjang daerah sekaligus komitmen untuk terus menghadirkan pembangunan inklusif dan berdampak bagi seluruh lapisan masyarakat. 

Dalam sambutannya, Fahmi menyampaikan apresiasi atas kontribusi pemuda daerah yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui kerja-kerja pendidikan dan sosial. Menurutnya, peran pemuda menjadi kunci penting dalam mendorong pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

“Penghargaan ini kami berikan sebagai bentuk apresiasi kepada pemuda Purbalingga yang tidak hanya berprestasi secara personal, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Fahmi.

Gambar 1. Founder Desamind bersama Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga

Hardika Dwi Hermawan dipilih sebagai Pemuda Inspiratif berkat kiprahnya dalam mendorong pendidikan, literasi digital, dan pemberdayaan generasi muda desa melalui Desamind Indonesia Foundation. Desamind selama ini telah menjadi wadah bagi pemuda desa untuk mengembangkan kompetensi, memperkuat kapasitas lokal, serta menghadirkan solusi nyata terhadap tantangan sosial-pendidikan di berbagai wilayah Indonesia, terutama dari basis desa ke skala nasional. 

Di bidang pendidikan, Desamind menghadirkan Beasiswa Desamind, sebuah program yang membuka akses pendidikan bagi pemuda dari desa. Beasiswa ini tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pendampingan pengembangan diri, kepemimpinan, dan pengabdian sosial agar penerima beasiswa dapat kembali berkontribusi bagi komunitasnya.

Gambar 2. Kegiatan Desamind, PTI UMS, di PKBM Cakra Purbalingga 

Selain pendidikan formal, Desamind mengembangkan pendekatan pemberdayaan berbasis potensi lokal melalui Desamind Farm di Sukabumi. Program ini mengusung konsep agroeduwisata, yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, edukasi, dan pemberdayaan pemuda. Desamind Farm menjadi ruang belajar alternatif bagi masyarakat dan generasi muda untuk memahami pertanian berkelanjutan, kewirausahaan desa, serta ketahanan pangan.

Di wilayah Indonesia Timur, Desamind turut menginisiasi Wanasaba Trigona Center di Lombok, sebuah pusat pengembangan lebah trigona yang memadukan konservasi lingkungan, edukasi, dan penguatan ekonomi masyarakat desa. Program ini tidak hanya mendorong pelestarian alam, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal dan pengetahuan masyarakat. Hingga saat ini Desamind telah tersebar di berbagai daerah mulai dari Aceh hingga Papua, termasuk Desamind Chapter Purbalingga.

Berbagai program tersebut diperkuat melalui Sekolah Local Heroes serta Desamind Research and Training Center, yang berperan sebagai ruang pembelajaran, riset terapan, dan pelatihan bagi pemuda, guru, dan komunitas desa. Pendekatan yang digunakan menekankan kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat agar ilmu pengetahuan benar-benar hadir sebagai solusi.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas perjalanan panjang Hardika sebagai pemuda desa yang kembali membawa ilmu dan pengalaman untuk membangun komunitasnya. Dari menginisiasi Desamind hingga memperluas jangkauan program pemberdayaan, kontribusi Hardika menunjukkan bagaimana pemuda desa dapat menjadi aktor perubahan yang nyata,  tidak hanya di Purbalingga tetapi juga di berbagai komunitas desa di seluruh Indonesia.

Author: Ahmad Zamzami

Menyapa Dusun Kemiri: Potret Dua Wajah Kehidupan di Lereng Merapi

By Artikel, Desamind Chapter

Di lereng selatan Gunung Merapi yang hijau dan subur, terdapat Dusun Kemiri. Sebuah dusun kecil di Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, yang menyimpan kompleksitas kehidupan khas masyarakat pedesaan agraris di Yogyakarta. Udara sejuk, tanah vulkanik yang kaya mineral, serta lanskap perbukitan yang asri menjadi latar kehidupan sehari-hari warga yang sebagian besar menggantungkan penghidupan pada peternakan kambing dan penambangan pasir.

Namun, di balik keasrian tersebut, tersimpan dua wajah yang saling berdampingan: potensi besar yang menjanjikan serta permasalahan struktural yang menggerogoti dari dalam maupun luar.

Selama tiga hari dua malam, 30 Oktober hingga 2 November 2025, dalam kegiatan live-in bertajuk MENYAPA (Membangun Aksi Nyata dan Peduli Desa) Dusun Kemiri, Tim Desamind Chapter Yogyakarta tinggal bersama warga. Kami tidak sekadar mengamati, tetapi turut merasakan denyut kehidupan Kemiri. Melalui interaksi dengan peternak, ibu rumah tangga, hingga pemuda karang taruna, tersusun potret tentang bagaimana masyarakat lereng Merapi ini bertahan, beradaptasi, dan berinovasi di tengah keterbatasan.

Ketika Peternak Kambing Menjadi Pelopor Inovasi

Dusun Kemiri sedang bertransformasi. Perlahan namun pasti, masyarakat bergerak dari ketergantungan pada pertanian salak yang nilainya terus menurun menuju pilar ekonomi baru, yakni peternakan kambing.

Yang menarik bukan sekadar jumlah warga yang beternak kambing, melainkan bagaimana sebagian dari mereka telah melampaui pola pemeliharaan tradisional. Beberapa rumah tangga mulai merambah sektor hilir dengan mengolah susu kambing menjadi susu bubuk, yogurt, bahkan es krim.

Gambar 1. Pengolahan Susu Kambing

Inovasi ini lahir dari inisiatif individu, dari dapur-dapur kecil, tanpa pelatihan formal maupun dukungan struktural. Seorang warga yang kami temui telah memproduksi susu bubuk skala rumah tangga dengan peralatan sederhana dan proses manual. Produknya menunjukkan potensi pasar yang nyata. Di rumah lain, seorang ibu rutin membuat yogurt untuk konsumsi keluarga dan tetangga.

Aktivitas ini bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan bukti adanya jiwa kewirausahaan serta kapasitas teknologi pangan di tingkat rumah tangga yang selama ini kurang terlihat. Di sisi lain, penambangan pasir menjadi penopang ekonomi yang memberikan likuiditas cepat bagi sebagian warga.

Modal Sosial yang Menyimpan Energi Besar

Jika inovasi ekonomi adalah mesin, maka kelembagaan sosial adalah bahan bakarnya. Dusun Kemiri memiliki sejumlah kelompok masyarakat yang aktif dan potensial. Kelompok Ternak Sapi telah memiliki struktur organisasi yang jelas, infrastruktur pendukung, serta jaringan hingga ke luar dusun. Mereka menjadi contoh modal sosial bridging, yakni kemampuan membangun koneksi dengan pihak eksternal.

Namun, di samping kelompok ternak sapi yang terorganisasi, terdapat puluhan peternak kambing yang berjalan sendiri-sendiri tanpa payung kelembagaan yang jelas.

Gambar 2. Salah Satu Area Peternakan Kambing di Dusun Kemiri

PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) Dusun Kemiri tidak sekadar menjalankan kegiatan rutin seperti arisan atau posyandu. Kelompok ini merupakan simpul pemberdayaan perempuan yang mapan dan dipercaya masyarakat. Dengan jangkauan hingga tingkat rumah tangga, PKK memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam program kesehatan, pengelolaan sampah, hingga pengembangan usaha mikro.

Sementara itu, Karang Taruna menghadirkan energi generasi muda yang adaptif dan melek digital. Mereka menjadi jembatan antara kearifan lokal dan modernitas. Sayangnya, potensi besar tersebut belum terorkestrasi dalam gerakan kolektif yang terarah.

Fragmentasi Sosial: Ironi di Tengah Kekuatan Komunitas

Potensi-potensi di Dusun Kemiri ibarat butiran mutiara yang berserakan, belum terangkai menjadi kesatuan yang utuh.

Permasalahan internal terlihat dari ketidakjelasan kelembagaan peternak kambing. Sementara peternak sapi menikmati akses pelatihan, bantuan, dan jaringan pemasaran, peternak kambing yang jumlahnya lebih banyak masih bertumpu pada praktik individual. Mereka tidak memiliki saluran representasi dalam perencanaan pembangunan desa.

Permasalahan eksternal juga muncul dalam bentuk keterbatasan akses jaringan. Hanya individu dengan modal sosial, ekonomi, dan kultural lebih tinggi yang mampu menjangkau pasar serta sumber daya eksternal. Ketimpangan jaringan sosial pun terjadi: pelaku yang sudah mapan semakin maju, sementara sebagian lainnya tertinggal. Inovasi yang seharusnya menjadi penggerak kolektif justru terjebak sebagai keunggulan individu.

Jebakan Ekonomi: Dari Legalitas hingga Pasar Monopsoni

Di sektor ekonomi, persoalan membentuk lingkaran yang sulit diputus. Pertama, aspek legalitas. Produk olahan susu kambing Kemiri yang memiliki potensi kualitas terhambat proses perizinan BPOM dan sertifikasi halal. Hambatan ini bukan karena ketiadaan kemauan, melainkan prosedur daring yang kompleks serta minimnya pendampingan. Tanpa legalitas, produk hanya beredar di lingkungan terbatas dengan nilai jual dan volume yang rendah.

Kedua, stagnasi nilai tambah. Inovasi pengolahan telah dimulai, tetapi belum diikuti strategi pemasaran kolektif, penguatan merek (branding), maupun diversifikasi produk secara sistematis.

Ketiga, ketergantungan pada satu pembeli besar yang bersifat monopsoni. Seorang pembeli tunggal mendominasi penyerapan susu kambing. Penundaan pembayaran hingga berbulan-bulan pernah terjadi dengan nilai kerugian signifikan. Namun, warga tetap bertahan karena tidak memiliki alternatif pasar.

Keempat, keterbatasan layanan kesehatan hewan. Ketika ternak sakit, biaya pengobatan menjadi beban besar yang berisiko mengurangi pendapatan keluarga. Infrastruktur pendukung bagi ekonomi produktif dusun ini masih minim perhatian.

Tekanan Lingkungan: Krisis yang Senyap

Jika persoalan sosial dan ekonomi tampak di permukaan, persoalan lingkungan berlangsung lebih senyap. Sampah anorganik menjadi masalah sejak pengepul lokal berhenti beroperasi. Plastik dan kemasan tak lagi memiliki nilai ekonomi. Pembakaran terbuka menjadi solusi darurat yang dinormalisasi karena ketiadaan alternatif.

Limbah popok sekali pakai menambah tantangan baru. Karakteristiknya yang sulit terurai dan tidak bernilai ekonomi membuatnya terabaikan dalam sistem daur ulang informal. Warga kerap membakar, menimbun, atau membuangnya secara terbatas.

Lebih jauh, Dusun Kemiri juga menjadi lokasi pembuangan popok oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, sehingga menambah beban ekologis warga.

Belajar dari Kemiri

Apa yang terjadi di Dusun Kemiri bukan kasus terisolasi, melainkan gambaran tantangan pembangunan pedesaan di Indonesia. Potensi besar ada, tetapi belum sepenuhnya terkelola. Kelembagaan tersedia, tetapi belum terintegrasi.

Fragmentasi menjadi tantangan utama. Peternak kambing berjalan sendiri, kelompok ternak sapi belum terhubung secara strategis dengan PKK dan Karang Taruna, serta inovasi pengolahan susu belum berkembang melalui kolaborasi lintas kelompok.

Menatap ke Depan: Potensi yang Menanti Perpaduan

Dusun Kemiri memiliki modal untuk bertransformasi: sumber daya alam yang melimpah, modal sosial yang kuat, dan inovasi yang telah lahir dari inisiatif warga sendiri. Susu bubuk, yogurt, dan es krim bukan sekadar gagasan, melainkan produk nyata dari dapur warga. Tantangannya bukan menciptakan potensi baru, tetapi menghubungkan potensi yang telah ada.

Tiga hari dua malam di Kemiri menunjukkan bahwa praktik pembangunan berkelanjutan telah tumbuh dalam skala kecil. Diperlukan penguatan jejaring, pendampingan, serta integrasi kelembagaan agar potensi tersebut berkembang secara kolektif dan berkelanjutan.

Masa depan Dusun Kemiri pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan warganya merangkai potensi menjadi kekuatan bersama.

Author: Desamind Chapter Yogyakarta

Editor: Ahmad Zamzami