JAKARTA — Sektor akademis bisnis dan gerakan sosial berbasis daerah resmi menyatukan langkah dalam mencetak wirausahawan sosial (sociopreneur) masa depan. Desamind Indonesia berkolaborasi dengan Jakarta Business School (JBS) mengukuhkan sinergi strategis tersebut melalui acara Pengukuhan dan Pelantikan Awardee Beasiswa IMPACTPRENEUR 2026 bertajuk Main Character Energy di Kampus Jakarta Business School, K-Link Tower, Jakarta Selatan, pada Selasa (6/10).
Komitmen bersama ini diawali dengan sambutan dari perwakilan kedua instansi, yaitu Yusup Jamaludin selaku perwakilan dari Jakarta Business School dan Hardika Dwi Hermawan dari Desamind Indonesia. Kolaborasi ini mengintegrasikan kepakaran akademis manajemen bisnis milik JBS dengan pengalaman serta jaringan pemberdayaan masyarakat akar rumput yang dimiliki Desamind Indonesia.
Atas dasar visi tersebut, melalui Beasiswa IMPACTPRENEUR 2026, kedua pihak berkomitmen memberikan dukungan studi komprehensif, mulai dari bantuan pendidikan hingga pendampingan aksi sosial di lapangan. Sinergi ini dirancang untuk memastikan para awardee tidak hanya unggul secara teori akademis, tetapi juga adaptif dan responsif terhadap kebutuhan ekonomi masyarakat.
Setelah penyampaian komitmen sinergi, acara memasuki puncak rangkaian dengan prosesi pelantikan resmi para mahasiswa penerima beasiswa. Momen ini ditandai dengan pemanggilan awardee dan penyerahan simbolis topi caping oleh pimpinan JBS dan Desamind Indonesia. Penyematan ini sekaligus menjadi simbolisasi filosofis atas kesiapan para mahasiswa untuk “turun ke lapangan” dan berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
Selain prosesi pengukuhan, rangkaian acara diisi dengan pembekalan materi pengembangan kepemimpinan oleh Hardika Dwi Hermawan, kuis interaktif, serta penandatanganan simbolis kerja sama Beasiswa IMPACTPRENEUR 2026. Seluruh agenda ditutup dengan sesi foto bersama seluruh jajaran pimpinan, panitia, dan para awardee.
Rangkaian pelantikan ini menjadi penanda awal dari perjalanan panjang para penerima beasiswa untuk mengembangkan potensi diri dan menjadi agen perubahan (main character) di lingkungan masing-masing.
JAKARTA — Kunci utama dalam mencetak pemimpin muda yang berintegritas dan berdampak bagi masyarakat berawal dari tingkat kesadaran diri (self-awareness) yang kuat. Berakar dari prinsip tersebut, Desamind Indonesia bersama Jakarta Business School (JBS) membekali para mahasiswa penerima Beasiswa IMPACTPRENEUR 2026 melalui pemaparan materi reflektif Johari Window dalam rangkaian acara bertajuk Main Character Energy di Kampus Jakarta Business School, K-Link Tower, Jakarta Selatan, pada Selasa (6/10).
Guna mendalami pentingnya kesadaran diri tersebut, Founder Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, hadir langsung dan memaparkan konsep Johari Window sebagai kerangka kerja psikologi untuk memahami dinamika persepsi diri. Dalam pemaparannya, Hardika menjelaskan bahwa Johari Window membagi pemahaman diri ke dalam empat area utama:
Open Self(Diri Terbuka): Sisi diri yang diketahui oleh pribadi maupun orang lain.
Blind Self(Titik Buta): Area yang tidak disadari diri sendiri, tetapi dapat dilihat oleh orang lain.
Hidden Self(Diri Tersembunyi): Aspek atau potensi pribadi yang belum diungkapkan kepada publik.
Unknown Self(Potensi Belum Tergali): Sisi misteri yang memuat potensi yang belum tereksplorasi.
Ia menekankan bahwa menjadi seorang impactpreneur tidak hanya menuntut kemampuan eksekusi bisnis yang tajam, tetapi juga kerendahan hati untuk menerima masukan dan mengenali area buta (blind spot) dalam kepemimpinan. Lewat pemahaman Johari Window, mahasiswa dilatih agar senantiasa terbuka terhadap umpan balik (feedback), mampu beradaptasi, dan berkolaborasi secara inklusif dengan masyarakat.
Penyampaian materi pengembangan diri ini diproyeksikan sebagai bekal relevan bagi mahasiswa dalam menjalani masa studi akademis, mengasah kemampuan interpersonal, serta menjawab berbagai tantangan nyata di lapangan. Sebelum memasuki prosesi pelantikan resmi, antusiasme peserta juga dibangun melalui sesi kuis interaktif yang mendorong keterlibatan aktif para mahasiswa.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pelantikan awardee dan penyematan topi caping secara simbolis oleh pimpinan Desamind Indonesia dan Jakarta Business School sebagai lambang komitmen mahasiswa untuk siap turun langsung mengabdi dan membawa perubahan bagi masyarakat. Melalui sinergi ini, kedua lembaga menegaskan komitmen berkelanjutan dalam menyediakan ruang tumbuh bagi para sociopreneur muda Indonesia.
SURAKARTA – Sebanyak 140 siswa kelas X SMA Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta mengikuti pembelajaran ecopreneurship melalui kegiatan Brainstorming Produk Ecopreneurship pada Jumat (16/10). Dalam kegiatan yang merupakan bagian dari Proyek Pelajar Berkemajuan (PPB) tersebut, pihak sekolah menggandeng Desamind Indonesia Foundation untuk menghadirkan pembelajaran kewirausahaan berwawasan lingkungan yang dipadukan dengan praktik pembuatan kokedama.
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.45–11.30 WIB di aula lantai dua SMA Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta ini bertujuan menumbuhkan jiwa wirausaha sekaligus meningkatkan kreativitas siswa dalam mengembangkan ide produk yang memiliki nilai ekonomi dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Materi disampaikan oleh Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.(ITE), Founder sekaligus President Director of the Desamind Indonesia Foundation. Dalam sesi tersebut, siswa diperkenalkan pada konsep ecopreneurship, yakni pendekatan kewirausahaan yang mengintegrasikan penciptaan nilai ekonomi dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Gambar 1. Penyampaian Materi Ecopreneurshipolah Hardika Dwi Hermawan
Melalui pendekatan ini, siswa didorong untuk melihat bahwa peluang usaha dapat berangkat dari persoalan dan potensi di sekitar mereka. Kreativitas dalam menghasilkan produk perlu diimbangi dengan pertimbangan mengenai manfaat, kebutuhan pasar, penggunaan sumber daya, serta dampak lingkungan dari kegiatan usaha yang dikembangkan.
Pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi. Para siswa juga berkesempatan mempraktikkan pembuatan kokedama, teknik menanam tanaman yang dibungkus serabut kelapa atau bahan pembungkus lain yang sesuai. Berasal dari tradisi hortikultura Jepang, kokedama menghadirkan alternatif penyajian tanaman hias yang memadukan unsur tanaman, seni, dan desain tanpa menggunakan pot konvensional.
Praktik dipandu Co-fasil, Ahmad Zamzami, Vice Director Public Relation Division Desamind Indonesia Foundation. Sesi ini menjadi sarana bagi siswa untuk mengeksplorasi bagaimana sebuah produk sederhana dapat dikembangkan menjadi peluang usaha kreatif. Kokedama berpotensi dipasarkan sebagai dekorasi ruangan, suvenir, hadiah, maupun produk tanaman hias dengan nilai estetika. Melalui pengembangan desain, pemilihan tanaman, pengemasan, dan strategi pemasaran yang tepat, produk tersebut dapat memiliki nilai tambah sekaligus menjangkau konsumen yang lebih luas.
Di sisi lingkungan, pengembangan produk kokedama juga dapat menjadi pintu masuk untuk membahas penggunaan bahan secara bertanggung jawab, pemilihan tanaman yang sesuai, serta perawatan dan efisiensi penggunaan air. Dengan demikian, siswa tidak hanya diajak menghasilkan produk yang menarik, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana proses produksi dan pemasarannya dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan.
Gambar 2. Hasil Kokedama Siswa
Ustaz Prayoga selaku penanggung jawab kegiatan (PIC) menyampaikan bahwa pembelajaran berbasis praktik diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan kreativitas dan memahami peluang kewirausahaan secara lebih konkret. Selain itu, kolaborasi antara SMA Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta dan Desamind Indonesia Foundation ini menjadi salah satu upaya menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan pengalaman praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari
“Pengalaman praktik yang diajarkan Desamind dalam pembuatan kokedama dapat menjadi langkah awal atau inspirasi bagi siswa untuk mengenali potensi diri, bekerja secara kreatif, dan melihat peluang usaha dari hal-hal sederhana di sekitar mereka,” ujar Ustaz Prayoga.
Salah satu peserta, Yusuf M. Bajuber, juga menilai bahwa praktik langsung memberikan pengalaman berbeda dalam memahami hubungan antara kreativitas, tanaman hias, dan peluang usaha.
“Dari kegiatan ini, saya belajar bahwa tanaman hias tidak hanya memiliki nilai keindahan, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi produk yang menarik dan memiliki nilai jual. Saya juga mendapat gambaran bahwa memulai usaha dapat berangkat dari ide sederhana yang dikembangkan dengan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan,” ungkap Yusuf.
DESAMIND.ID, Jakarta – Desamind Indonesia dan Jakarta Business School (JBS) resmi memperkuat kerja sama melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangkaian kegiatan Beasiswa Desamind × JBS Impactpreneur 2026, Selasa (6/10). Kerja sama ini menjadi langkah bersama dalam memperluas ruang pengembangan generasi muda melalui pendidikan, penguatan kapasitas, dan pengalaman yang mendorong mahasiswa untuk berkontribusi di masyarakat.
Penandatanganan MoU menjadi salah satu bagian dalam kegiatan yang mempertemukan Desamind, Jakarta Business School, dan para penerima Beasiswa Impactpreneur 2026. Berdasarkan rangkaian acara, kegiatan dimulai pukul 16.30 WIB dan diisi dengan sambutan dari kedua pihak, pemaparan materi, kuis interaktif, pelantikan awardee, penyerahan topi caping, simbolisasi kerja sama beasiswa, serta sesi foto bersama.
Kolaborasi Desamind dan JBS hadir sebagai ruang untuk mempertemukan pendidikan dengan proses pengembangan mahasiswa. Kerja sama ini tidak hanya berkaitan dengan akses pendidikan, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas personal, memperluas wawasan, membangun jejaring, serta mempersiapkan diri untuk mengambil peran di tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Jakarta Business School dan Desamind. Setelah sesi sambutan, peserta mengikuti pemaparan materi yang disampaikan oleh Hardika Dwi Hermawan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kuis interaktif yang melibatkan peserta sebelum memasuki sesi pelantikan awardee.
Salah satu bagian pembekalan dalam kegiatan tersebut turut mengangkat materi Johari Window. Materi ini menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang mengajak peserta melakukan refleksi terhadap diri sendiri dan memahami bagaimana seseorang melihat dirinya maupun dipandang oleh orang lain.
Gambar 1. Suasana foto bersama peserta, awardee, dan perwakilan Desamind serta Jakarta Business School dalam rangkaian kegiatan Beasiswa Desamind × JBS Impactpreneur 2026.
Setelah rangkaian pembekalan, kegiatan berlanjut pada sesi pelantikan awardee. Para penerima Beasiswa Desamind × JBS Impactpreneur 2026 dipanggil untuk mengikuti prosesi dan menerima topi caping. Prosesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan foto bersama awardee dan simbolisasi kerja sama beasiswa antara Desamind dan Jakarta Business School. Rundown Acara Pelantikan Awarde.
Di tengah rangkaian tersebut, penandatanganan MoU menjadi penanda komitmen kerja sama antara Desamind dan Jakarta Business School. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Beasiswa Desamind × JBS Impactpreneur 2026 sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih luas dalam mendukung proses pengembangan mahasiswa.
Gambar 2. Awardee Beasiswa Desamind × JBS Impactpreneur 2026 bersama perwakilan Desamind dan Jakarta Business School setelah rangkaian pelantikan dan simbolisasi kerja sama beasiswa.
Bagi Syadni Nafisa Susilo, salah satu penerima Beasiswa Desamind × JBS Impactpreneur 2026, kesempatan tersebut tidak hanya menghadirkan rasa bangga, tetapi juga menjadi tanggung jawab untuk terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Impactpreneur ini bukan hanya sekadar judul, tetapi bagaimana caranya kita menjadi diri sendiri yang berdampak positif melalui hal-hal kecil untuk masyarakat dan juga untuk lingkungan sekitar yang belum terjamah oleh tangan-tangan orang hebat. Dan aku ingin menjadi bagian dari situ,” ujar Syadni.
Pernyataan tersebut memberikan perspektif dari sisi penerima beasiswa mengenai makna menjadi bagian dari program Impactpreneur. Bagi Syadni, kesempatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk terus mengembangkan diri sekaligus membawa manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
Kehadiran program Impactpreneur juga mempertemukan semangat pendidikan dengan pengembangan kapasitas dan kewirausahaan. Melalui proses tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi untuk berkembang secara profesional, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial dan keberanian untuk mengambil peran dalam menciptakan perubahan.
Bagi mahasiswa, kolaborasi antara Desamind dan Jakarta Business School menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas dan membangun jejaring sejak masa pendidikan. Pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses mahasiswa dalam mengenali potensi diri, mengembangkan kapasitas, serta mempersiapkan diri untuk mengambil peran di lingkungan sekitarnya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama yang melibatkan peserta dan panitia. Kebersamaan antara awardee, perwakilan Desamind, Jakarta Business School, serta pihak yang terlibat menjadi penanda dimulainya perjalanan para penerima Beasiswa Impactpreneur 2026 dalam ekosistem pengembangan yang dibangun melalui kolaborasi kedua pihak.
Melalui penandatanganan MoU ini, Desamind dan Jakarta Business School diharapkan dapat terus mengembangkan kolaborasi yang memberikan manfaat bagi mahasiswa dan lingkungan yang lebih luas. Kerja sama tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pendidikan, pengembangan kapasitas, dan semangat kebermanfaatan dalam mendorong generasi muda untuk terus belajar, bertumbuh, dan mengambil peran.
Surakarta – Desamind Indonesia menggelar Monitoring dan Evaluasi (Monev) Awal Desamind Chapter Periode 2026/2027 pada Minggu (27/9) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Desamind memastikan setiap chapter memiliki arah gerak, kesiapan internal, dan pemahaman yang sama sebelum memasuki fase implementasi program selama satu periode ke depan.
Sebanyak 10 Desamind Chapter mengikuti kegiatan tersebut, yaitu Bogor, Majalengka, Garut, Soloraya, Purbalingga, Magelang, Cilacap, Gunungkidul, Pasuruan, dan Lombok Timur. Monev awal menjadi ruang bagi setiap chapter untuk memetakan kondisi awal periode, mengidentifikasi tantangan, serta menentukan aspek yang perlu diperkuat sejak awal kepengurusan.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Abdul Aziez selaku Director of Chapter Division Desamind Indonesia. Dalam pengantarnya, Abdul menyampaikan gambaran pelaksanaan Monev sekaligus mengajak seluruh perangkat chapter mengikuti proses evaluasi secara terbuka dan aktif.
“Melalui Monev awal, kami ingin setiap chapter dapat melihat kondisi mereka secara objektif sejak awal periode. Apa yang sudah berjalan perlu dipertahankan, sementara hal-hal yang masih menjadi tantangan perlu segera diidentifikasi agar dapat ditindaklanjuti bersama,” ujar Abdul Aziez.
Agenda kemudian dilanjutkan dengan sesi motivasi oleh Zakky M Noor selaku Managing Director of Desamind Indonesia. Dalam penyampaiannya, Zakky mengingatkan kembali semangat kehadiran Desamind dalam membersamai pemuda, masyarakat, dan desa. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi setiap chapter agar pelaksanaan program tetap berorientasi pada kebermanfaatan dan hubungan yang berkelanjutan dengan desa mitra.
“Desamind hadir bukan hanya untuk menjalankan program, tetapi juga untuk membangun gerakan bersama pemuda, masyarakat, dan desa. Karena itu, setiap chapter perlu menjaga semangat tersebut dalam setiap proses yang dijalankan,” ungkap Zakky.
Pelaksanaan Monev melibatkan 10 auditor yang terdiri atas enam auditor internal dari Chapter Division dan empat auditor eksternal. Auditor internal terdiri atas Nurul Fadhilah, Endang Sri Maryati, Melinda Robayani, Linda Tri Lestari, Yenny Reiza, dan Belinda Septia Rini.
Sementara itu, auditor eksternal merupakan awardee Beasiswa Desamind 4.0 dan 5.0, yaitu Bayu Hardito, Anisatul Hikmah, Ruhilah Khadijah, dan Hikmal Akbar. Keterlibatan auditor eksternal menjadi bagian dari upaya menghadirkan perspektif tambahan dalam proses evaluasi sekaligus memperkaya pembahasan mengenai kondisi masing-masing chapter.
Monev dilaksanakan dalam dua sesi. Seluruh perangkat chapter terlebih dahulu mengikuti pembukaan, penyampaian teknis, dan pengantar Monev secara bersama-sama. Selanjutnya, peserta memasuki breakout room sesuai dengan chapter masing-masing untuk mengikuti proses evaluasi bersama auditor.
Gambar 1. Para Peserta dan Auditor Monev Awal Desamind Chapter Periode 2026/2027
Dalam proses tersebut, terdapat empat aspek utama yang menjadi pembahasan. Pertama, Rencana Program Desamind Chapter (RPD Chapter), yang mencakup proses penyusunan rencana, keterlibatan perangkat, pemahaman terhadap target, serta kesesuaian target dengan kondisi dan kapasitas chapter.
Kedua, kondisi desa mitra dan surat kerja sama mitra. Evaluasi mencakup hubungan chapter dengan desa mitra, status mitra yang masih aktif, kegiatan yang telah berjalan, komunikasi dengan mitra, serta kejelasan person in charge (PIC) yang bertanggung jawab.
Ketiga, pemahaman terhadap administrasi dan sistem chapter. Auditor menggali sejauh mana perangkat memahami alur administrasi dan sistem yang berlaku, termasuk berbagai kendala yang masih dihadapi serta kejelasan PIC dalam setiap proses administrasi.
Keempat, kondisi internal chapter. Pembahasan diarahkan pada kondisi perangkat sejak awal periode, tantangan yang muncul, upaya penyelesaian yang telah dilakukan, serta komunikasi dan keterlibatan antarperangkat dalam menjalankan organisasi.
Keempat aspek tersebut menjadi dasar untuk melihat kondisi chapter secara lebih utuh. Monev tidak hanya diarahkan untuk mengetahui hal-hal yang telah dan belum dilakukan, tetapi juga untuk memahami kapasitas, tantangan, serta kebutuhan setiap chapter dalam menjalankan program selama periode 2026/2027.
Hal tersebut menjadi penting karena setiap chapter memiliki karakteristik dan dinamika yang berbeda, baik dari sisi perangkat, kapasitas organisasi, maupun hubungan dengan desa mitra. Dengan pemetaan kondisi sejak awal periode, chapter dapat memiliki dasar yang lebih jelas dalam menentukan langkah perbaikan dan penguatan.
Pelaksanaan Monev Awal Desamind Chapter Periode 2026/2027 menjadi salah satu langkah awal Desamind Indonesia dalam menyiapkan 10 chapter menuju fase implementasi. Melalui evaluasi, pemetaan kondisi, dan penguatan komunikasi, setiap chapter diharapkan mampu menjalankan program secara lebih terarah, kolaboratif, dan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.
Bandung – Desamind Indonesia Foundation berkolaborasi dengan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) dan Pemerintah Desa Ciherang menggelar Penyuluhan Hukum Masyarakat di GOR Sauyunan, Desa Ciherang, Kabupaten Bandung pada Sabtu (8/9/2026). Kegiatan ini hadir untuk membantu warga memahami hak-hak hukum mereka serta mencari jalan keluar atas berbagai persoalan legal yang kerap dihadapi sehari-hari.
Kegiatan yang dihadiri warga, perangkat desa, dan tim Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum (PKBH) UGM ini tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membuka sesi konsultasi langsung. Harapannya, warga tidak lagi bingung saat harus berhadapan dengan urusan administrasi, sengketa lahan, maupun perizinan usaha.
Perwakilan FH UGM, Prof. Dr. Heribertus Jaka Triyana, S.H., LL.M., M.A., menyampaikan bahwa akses terhadap bantuan hukum harus bisa menjangkau masyarakat hingga ke tingkat desa. “Kesadaran hukum itu penting agar warga tahu dan bisa melindungi hak-haknya. Melalui kolaborasi ini, kami ingin mendampingi masyarakat Desa Ciherang supaya lebih paham hukum dan mampu menyelesaikan persoalan legal secara mandiri,” ujarnya.
Empat Topik Utama Penyuluhan Hukum
Penyuluhan ini menghadirkan empat pemateri yang mengulas isu-isu krusial di tingkat desa:
Kepemimpinan Pemuda Desa: Ari Septian, S.Pd., memaparkan pentingnya peran generasi muda sebagai penggerak perubahan dan pembangunan desa berbasis kesadaran sosial.
Hukum Perkawinan & Perlindungan Anak: Dr. Yulkarnain Harahap, S.H., M.Si., menyoroti aturan batas usia pernikahan minimal 19 tahun, ketahanan keluarga, serta perlindungan hukum bagi perempuan dan anak.
Penyelesaian Sengketa Tanah: Anggita Mustika Dewi, S.H., M.Kn., mengulas langkah penyelesaian sengketa lahan, tertib administrasi surat kepemilikan, dan cara mencegah tumpang-tindih hak atas tanah.
Legalitas Usaha Mikro (UMKM): Virga Dwi Efendi, S.H., LL.M., menekankan pentingnya Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pelaku usaha mikro sebagai bentuk perlindungan hukum sekaligus pintu masuk pemberdayaan ekonomi warga.
Sesi Interaktif: Konsultasi Nikah di Bawah Umur hingga Kendala NIB
Suasana penyuluhan berlangsung interaktif ketika memasuki sesi tanya jawab. Warga memanfaatkan momen ini untuk berkonsultasi mengenai persoalan hukum yang sedang mereka hadapi.
Salah satu topik yang dibahas adalah prosedur dispensasi nikah bagi calon pasangan yang belum genap berusia 19 tahun. Tim penyuluh menjelaskan alur pengajuannya ke Pengadilan Agama, sekaligus menginformasikan adanya fasilitas bantuan hukum gratis (pro bono) bagi warga kurang mampu agar pernikahan tetap tercatat sah di Kantor Urusan Agama (KUA).
Selain isu hukum keluarga, beberapa warga pelaku UMKM mengeluhkan kendala perizinan usaha, seperti akun Online Single Submission (OSS) dan NIB yang tak bisa diakses karena lupa kata sandi atau email. Menanggapi hal ini, tim pemateri memberikan panduan langkah demi langkah, mulai dari fitur pemulihan kata sandi di situs OSS, menghubungi call center DPPSP Kabupaten Bandung, hingga memanfaatkan layanan tim keliling yang berkunjung ke desa.
Gambar 1. Foto Bersama Masyarakat Desa Ciherang
Mendorong Kemandirian Hukum Masyarakat Desa
Semangat gerakan ini sejalan dengan pesan Mohammad Hatta: “Indonesia tidak akan besar hanya karena obor di Jakarta, tetapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di desa.”
Lewat kegiatan penyuluhan hukum Desa Ciherang oleh Desamind Indonesia Foundation, FH UGM, dan Pemerintah Desa Ciherang, warga diharapkan tidak hanya makin sadar hukum, tetapi juga lebih berdaya dalam menjaga keberlanjutan ekonomi dan ketertiban di desanya.
Penulis: Tim Desamind Indonesia Editor: Yesi Rahma Mustika
Desamind Indonesia bersama Jakarta Business School (JBS) mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti proses pendaftaran Beasiswa Desamind × JBS Impactpreneur 2026.
Setelah melalui proses seleksi dan pertimbangan oleh panitia, kami mengucapkan selamat kepada 39 peserta yang dinyatakan lolos tahap seleksi administrasi dan berhak melanjutkan ke tahapan Seleksi Esai dan Wawancara. Bagi peserta yang dinyatakan lolos, informasi lebih detail mengenai tahapan seleksi, jadwal wawancara, serta ketentuan selanjutnya telah dikirimkan melalui email masing-masing. Oleh karena itu, peserta diharapkan untuk segera memeriksa email yang digunakan saat pendaftaran, termasuk folder Spam atau Promosi.
Kami mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang berhasil melangkah ke tahap berikutnya. Persiapkan diri sebaik mungkin dan teruslah menunjukkan semangat untuk menjadi Impactpreneur dan Local Heroes yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi desa dan masyarakat.
Berikut adalah daftar peserta yang dinyatakan lolos tahap administrasi:
No
Nama Lengkap
SMA/SMK/MA/Sederajat
1
Zaskia Atresia Nadin
SMK Negeri 1 Purbalingga
2
Icha Wijiyanti
SMAS Pancabudi Medan
3
Diaz Windu Haikal Ardiansyah
MAS Persis Darusyifa
4
Mardiansyah
SMK PGRI Telagasari
5
Rinansyah Afif Arrozak
SMA Negeri 1 Prembun
6
Faila Ajrina
SMK Negeri 1 Wonosobo
7
Yusuf Fatihul Ihsan
MA Annida Al Islamy Bekasi
8
Syadni Nafisa Susilo
SMK Negeri 1 Klaten
9
Rahma Aisyah Putri
SMA Negeri 1 Sidomulyo
10
Nurazlina
SMAN 1 Ujungbatu
11
Aqilla Septian Azzahra Putri
SMA Negeri 1 Andong
12
Juniestya Pramata
SMAN 68 Jakarta
13
Alisha Putri Aleyda
SMAN 70 Jakarta
14
Aidil Fitrah
MAN 1 Aceh Tenggara
15
Christian Novrandi Purba Siboro
SMA Swasta Methodist Tanjung Morawa
16
Muhammad Fauzi Azmi
Ponpes Tahfidz Wadi Al-Qur’an
17
Afni Aisyah Siregar
MAS Assyafiiyah
18
Vino Triangga Putra
SMK Bhakti Husada PGRI Blora
19
Karyn Zahhira Setiawan
SMA Wijaya Jakarta
20
Kamil Senjoto
Pondok Modern Darussalam Gontor
21
Nur Athiyah
SMA N 1 Mandirancan
22
Alya Dwi Nazmi
Internasional Islamic Collage
23
Muhammad Raffi Alfarizi
Umar bin Khatab Riau
24
Kartini Puji Rahayu
MAN Lumajang
25
Tika Lestari Banjarnahor
SMA N 1 Onanganjang
26
Dede Maulana
SMAS Astha Hannas
27
Rena Febrianty Amalia
SMA Negeri 6 Tambun Selatan
28
Rois Abdillah Adz Dzakiy
Madrasah Aliyah Negeri 1 Pati
29
Ila Ifti Maulidi
SMK Insan Medika Depok
30
Vebi Amelia Harahap
MA Robitotul Istiqomah
31
Yusron Maulana Ar Rizqi
SMA Negeri 2 Jember
32
Jandry Maklen Aditya Talle
SMA PGRI 1 Ambon
33
Min Iba Dika Solihin
MAS Gauts Abdurrazak NW Bayan
34
Alifia Khoirunisa’
SMAIT Darut Taqwa
35
Muhammad Irfan
MAS Insan Qurani Aceh Besar
36
Joas Yogi
SMK Negeri 1 Paniai
37
Abdurrahman Sudaisy
SMK N 3 Bima
38
Melisa Anjani
SMKN 1 Simangambat
39
Anis Aljasyiah
SMAN 1 Sumberejo
Informasi lebih lanjut terkait seleksi dapat diperoleh melalui kanal resmi Desamind Indonesia.
Surakarta – Aksiberbagi.com menghadirkan ruang belajar kerelawanan melalui VOLUNTALK “Dari Pengabdian Menuju Perubahan” yang digelar pada Sabtu (15/8/2026) di Nusantara Tea House, Surakarta. Mengusung konsep diskusi santai di ruang nongkrong, kegiatan ini mempertemukan Didie Putri, Head of Remote Area CT ARSA Foundation, dan Hardika Dwi Hermawan, President Director of Desamind Indonesia Foundation, untuk berbagi pengalaman tentang pengabdian, realitas masyarakat rural, serta pentingnya membangun empati dalam menciptakan perubahan.
VOLUNTALK dikemas dalam suasana informal untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda. Melalui diskusi dan berbagi pengalaman, peserta diajak melihat kerelawanan tidak hanya sebagai aktivitas untuk membantu orang lain, tetapi juga sebagai proses belajar untuk memahami persoalan sosial, membangun kepedulian, memperluas jejaring, dan menemukan ruang untuk berkontribusi.
Gambar 1. Sesi Berbagai Pengalaman dari Para Narasumber
Dalam kesempatan tersebut, Didie Putri membagikan pengalamannya ketika terjun langsung ke berbagai wilayah rural. Pengalaman di lapangan memperlihatkan kepadanya bahwa masih terdapat masyarakat yang menghadapi persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan pangan hingga sulitnya memperoleh akses pendidikan.
Didie menceritakan pengalamannya bertemu dengan anak-anak yang hidup dalam kondisi serba terbatas. Di sejumlah wilayah, ia menemukan anak yang bahkan harus menjalani pagi hanya dengan minum kopi karena tidak memiliki makanan untuk sarapan. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan di wilayah rural tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan fasilitas, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar dan kesempatan anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
“Ketika kita turun ke daerah rural, kita akan melihat realitas yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Masih ada anak-anak yang kelaparan, ada yang sarapan hanya dengan minum kopi. Akses pendidikan juga sangat sulit. Dari situ kita belajar bahwa persoalan masyarakat itu sangat kompleks dan tidak bisa kita lihat hanya dari satu sisi,” ujar Didie.
Menurut Didie, pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa kerja pengabdian membutuhkan kepekaan terhadap kondisi masyarakat. Relawan tidak cukup hanya datang dengan keinginan untuk membantu, tetapi perlu memahami konteks dan kebutuhan masyarakat sebelum menentukan bentuk kontribusi yang diberikan.
Berinteraksi langsung dengan masyarakat juga membuat seseorang memahami bahwa persoalan sosial tidak selalu dapat diselesaikan melalui pendekatan yang sama. Setiap wilayah memiliki tantangan, karakter masyarakat, serta kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kehadiran di lapangan menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman sekaligus kepedulian terhadap kondisi masyarakat.
Sementara itu, Hardika Dwi Hermawan membagikan perspektif mengenai pentingnya membangun empati dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Menurutnya, kegiatan yang dikerjakan seseorang seharusnya tidak hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga memiliki dampak positif bagi orang lain.
“Ketika kita mengerjakan sesuatu, jangan hanya berpikir apa dampaknya bagi diri kita. Bangun empati, karena apa yang kita kerjakan seharusnya juga memberikan dampak bagi orang lain. Dari empati itu kita bisa memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat dan kemudian menentukan apa yang bisa kita lakukan,” kata Hardika.
Pengalaman Hardika dalam membangun gerakan kepemudaan melalui Desamind turut membentuk pandangannya mengenai peran anak muda dalam menjawab persoalan sosial. Melalui berbagai inisiatif berbasis masyarakat, Desamind mendorong generasi muda untuk mengambil peran sebagai local heroes yang mampu mengembangkan potensi di lingkungan masing-masing.
Bagi Hardika, menjadi anak muda bukan hanya tentang mengembangkan kapasitas diri. Pengetahuan, energi, dan kesempatan yang dimiliki juga dapat diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu, empati menjadi penting agar seseorang mampu melihat persoalan bukan hanya dari sudut pandang dirinya sendiri, tetapi juga dari perspektif orang lain yang terdampak.
“Menjadi anak muda bukan hanya tentang bagaimana kita berkembang untuk diri sendiri. Ada tanggung jawab sosial di dalamnya. Ketika kita memiliki pengetahuan, energi, dan kesempatan, pertanyaannya adalah bagaimana semua itu bisa kita gunakan agar orang lain juga merasakan manfaatnya,” lanjut Hardika.
Pertemuan kedua narasumber tersebut memberikan gambaran bahwa pengabdian memiliki banyak bentuk. Anak muda dapat mengambil peran melalui pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kemanusiaan, teknologi, lingkungan, maupun berbagai inisiatif lain yang berangkat dari persoalan di sekitarnya.
Konsep VOLUNTALK yang memadukan diskusi dengan ruang nongkrong menjadi salah satu pendekatan aksiberbagi.com untuk memperkenalkan isu kerelawanan melalui ruang yang lebih informal. Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan praktisi yang memiliki pengalaman di lapangan.
Gambar 2. Para Relawan Ekspedisi Merdeka Berbagi Aksiberbagi
Salah satu peserta, Silvi Aliya Sakina, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, konsep VOLUNTALK memberikan alternatif ruang bagi generasi muda untuk memperoleh pengetahuan sekaligus bersosialisasi.
“Ini adalah salah satu pendekatan yang dibutuhkan kami. Selain memang bisa nongkrong di kafe, tetapi juga dapat ilmu berbasis kerelawanan yang ternyata sangat dibutuhkan oleh generasi kami (Gen Z),” ujar Silvi.
Menurut Silvi, pendekatan tersebut membuat pembelajaran mengenai kerelawanan terasa lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Ruang informal juga memungkinkan peserta untuk berdiskusi secara lebih terbuka dan bertukar pengalaman dengan orang-orang yang memiliki perhatian terhadap isu sosial. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa proses belajar mengenai kerelawanan tidak selalu harus berlangsung dalam ruang formal.
Percakapan, perjumpaan, dan cerita pengalaman langsung dari mereka-mereka yang sering terjun di dunia kerelawanan dapat menjadi bagian dari proses kami untuk membentuk kepedulian serta mendorong anak muda untuk mengambil peran di masyarakat,” pungkas Silvi.
Purbalingga – Desamind Indonesia berkolaborasi dengan Sanggar Edukasi Purbalingga menyelenggarakan Lilin Inspirasi “Jelajah Teknologi, Temukan Potensi” pada Sabtu (1/8) di Sanggar Edukasi Karang Petir, Purbalingga. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar berbasis teknologi bagi 48 anak jenjang kelas 1 hingga kelas 6 sekolah dasar sebagai upaya menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan literasi digital sejak dini.
Selama 2,5 jam, para siswa belajar terkait pemanfaatan teknologi secara bijak, pembelajaran interaktif yang menyenangkan, mencoba teknologi Virtual Reality (VR), hingga bereksperimen menggunakan Makey-Makey sebagai media belajar kreatif. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak diajak memahami bahwa teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri.
Gambar 1. Anak-Anak Mencoba VR dan Makey-Makey
Sesi inspiratif ini diisi oleh para akademisi dan penerima berbagai program beasiswa dari beragam latar belakang keilmuan, yaitu Hardika Dwi Hermawan (Dosen Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Penerima Beasiswa LPDP, Master of Information Technology in Education – University of Hong Kong), Alwy Ahmed (Mahasiswa Internasional asal Kenya, Universitas Muhammadiyah Surakarta), Ari Septian (Penerima Beasiswa LPDP, Magister Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Ahmad Zamzami (Penerima Beasiswa LPDP, Magister Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret), Anisa Amalia (Penerima Beasiswa Universitas Sebelas Maret, Magister Pendidikan Bahasa Inggris), Ahmad Luthfi (Magister Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta), serta Abyan Wardhana(Penerima Beasiswa S1 Teknik Komputer, Telkom University).
Kehadiran rekan-rekan Desamind tidak hanya memperkenalkan berbagai teknologi kepada anak-anak, tetapi juga membagikan kisah perjalanan pendidikan mereka. Melalui cerita tersebut, anak-anak Sanggar Edukasi didorong untuk berani bermimpi, terus belajar, serta memanfaatkan teknologi secara positif sebagai bekal menghadapi masa depan.
Sanggar Edukasi Purbalingga merupakan ruang belajar gratis yang didirikan oleh Sherly sebagai bentuk kepeduliannya melihat masih banyak anak usia sekolah dasar yang belum menguasai kemampuan dasar, seperti membaca, menulis, dan berhitung. Sanggar ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi anak-anak untuk mengembangkan karakter, kreativitas, dan keterampilan hidup melalui kegiatan yang diselenggarakan secara rutin setiap Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu.
Gambar 2. Foto Bersama Sanggar Edukasi dan Desamind Purbalingga
Menanggapi kolaborasi antara Desamind dengan Sanggar Edukasi, Sherly menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi anak-anak di sanggar.
“Bagi anak-anak kami, ini bukan sekadar kegiatan, tetapi pengalaman baru yang membuka cara pandang mereka tentang belajar dan arti terus semangat,” ujar Sherly.
Sementara itu, Indri Wahyu N, Guru Sanggar Edukasi, menilai Desamind membawa semangat baru bagi anak-anak untuk terus belajar dan mengeksplorasi hal-hal baru.
“Kehadiran teman-teman Desamind memberikan energi baru bagi anak-anak. Mereka pulang dengan rasa ingin tahu yang jauh lebih besar setelah dikenalkan berbagai teknologi,” tutur Indri.
Selain melaksanakan kegiatan Lilin Inspirasi, Desamind Indonesia, Desamind Chapter Purbalingga, dan Sanggar Edukasi Purbalingga juga berdiskusi untuk mengidentifikasi berbagai peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan pada masa mendatang. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan guna memperluas akses pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di lingkungan Karang Petir, Purbalingga.
Surakarta, – Desamind Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak pemimpin muda yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui penyelenggaraan Monitoring dan Evaluasi (Monev) II Beasiswa Desamind 5.0 pada Sabtu (25/7). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus pembelajaran bagi para awardee dalam mengembangkan proyek pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Monev merupakan bagian penting dari proses pendampingan Program Beasiswa Desamind. Tidak hanya menjadi sarana untuk menilai capaian program, kegiatan ini juga menjadi forum refleksi bagi para penerima beasiswa untuk mengidentifikasi tantangan, menyusun strategi perbaikan, serta memperkuat keberlanjutan program yang tengah dijalankan bersama masyarakat.
President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, menegaskan bahwa program Beasiswa Desamind dirancang bukan sekadar memberikan dukungan pendanaan kepada mahasiswa, tetapi juga membangun ekosistem kepemimpinan sosial yang mampu melahirkan agen perubahan di desa.
“Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu menciptakan perubahan yang dirasakan masyarakat serta dapat terus berjalan setelah program berakhir. Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi ruang belajar bagi setiap awardee untuk terus menyempurnakan program yang mereka jalankan,” ujar Hardika.
Sesi monev dipandu oleh moderator dengan menghadirkan tiga panelis dari berbagai bidang keahlian, yaitu Ahmad Zamzami selaku Vice Director of Public Relations Division Desamind, Mohammad Rifli Mubarak selaku Climate & Sustainability Researcher ECADIN, serta Anggun S. Rahmi selaku Associate Scholarship Division Desamind. Ketiganya memberikan evaluasi secara komprehensif terhadap perkembangan masing-masing program berdasarkan kesesuaian antara perencanaan dan implementasi, keterlibatan masyarakat, efektivitas penggunaan sumber daya, inovasi, potensi keberlanjutan, hingga peluang pengembangan jejaring kemitraan.
Gambar 1. Sesi Tanggapan Program oleh Para Panelis
Mohammad Rifli Mubarak menilai bahwa berbagai program yang dipresentasikan telah menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membaca persoalan lokal dan menerjemahkannya menjadi solusi yang relevan. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut dapat terus berkembang bersama masyarakat.
“Seluruh program yang dipresentasikan memiliki potensi untuk memberikan dampak yang nyata karena berangkat dari kebutuhan masyarakat. Ke depan, yang perlu diperkuat adalah strategi keberlanjutan, pengukuran dampak, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar manfaat program tidak berhenti ketika masa beasiswa selesai,” jelas Rifli.
Pada sesi presentasi, para awardee memaparkan berbagai inovasi yang telah diimplementasikan di desa dampingan. Beragam program tersebut menunjukkan bagaimana generasi muda mampu menghadirkan solusi atas persoalan lokal melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan potensi desa, serta inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan.
Aprila Kusuma Dewi mempresentasikan PEPAYA CHIPSY, sebuah program pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan pepaya menjadi keripik di Desa Bumirejo, Kabupaten Kulon Progo. Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui pelatihan produksi, pengemasan, dan pemasaran produk.
Di bidang pendidikan, Wawan Sulaeman menghadirkan Sekolah Nusantara, sebuah program edukasi kesehatan reproduksi dan perlindungan anak di MI Al-Bahja, Kabupaten Subang. Program ini mengedukasi anak-anak mengenai perlindungan diri, batasan tubuh, dan pencegahan kekerasan seksual melalui pendekatan yang komunikatif dan sesuai dengan usia peserta didik.
Sementara itu, Bayu Hardito mengembangkan MAGGOVATE(Maggot Innovation for Sustainable Village) di Desa Bringkang sebagai solusi pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. Program tersebut memanfaatkan limbah organik sebagai media budidaya maggot untuk pakan ikan serta mulai mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) guna mendukung proses monitoring budidaya.
Inovasi lain dipresentasikan oleh Ruhillah Khadijah El Basri melalui program Duck Value Enhancement, yang berfokus pada peningkatan nilai ekonomi telur bebek melalui inovasi produk aneka rasa, pengemasan yang lebih menarik, serta penguatan strategi pemasaran produk lokal di Desa Prasung.
Adapun Anisatul Himmah mengembangkan Sentra TOGA Kalibaru Kulon, sebuah program yang mengoptimalkan pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai sarana edukasi kesehatan sekaligus mendorong lahirnya peluang usaha berbasis produk herbal bagi masyarakat.
Selama proses monitoring, para panelis memberikan berbagai rekomendasi untuk memperkuat kualitas program, mulai dari penyusunan indikator keberhasilan yang lebih terukur, peningkatan partisipasi masyarakat, penguatan strategi keberlanjutan pasca program, hingga perluasan jejaring kolaborasi dengan pemerintah desa, perguruan tinggi, UMKM, dan sektor swasta. Peserta juga didorong untuk memperkuat dokumentasi, publikasi, serta pengukuran dampak sosial sebagai bentuk akuntabilitas pelaksanaan program.
Diskusi berlangsung interaktif dan konstruktif. Selain memperoleh masukan dari panelis, para awardee juga saling berbagi pengalaman mengenai strategi pelaksanaan program di lapangan. Proses ini menjadikan monitoring dan evaluasi sebagai ruang belajar bersama yang memperkaya perspektif sekaligus memperkuat kualitas implementasi program di masing-masing daerah.
Gambar 2. Foto Bersama Sesi Graduation
Melalui Monev II Beasiswa Desamind 5.0, Desamind Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mendampingi mahasiswa menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di desa. Pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada pemberian bantuan pendanaan, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas kepemimpinan, inovasi sosial, manajemen program, dan strategi keberlanjutan agar setiap inisiatif yang lahir mampu terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Beragam inovasi yang dipresentasikan dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan solusi yang kontekstual sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui proses pendampingan yang berkelanjutan, Desamind juga berharap setiap program tidak hanya memberikan manfaat selama masa implementasi, tetapi juga mampu tumbuh menjadi model pemberdayaan masyarakat yang adaptif, berkelanjutan, dan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.