Jakarta – Desamind Indonesia berkesempatan terpilih dalam agenda Pitch Dating with CSR, salah satu rangkaian utama Turun Tangan Festival 2025 yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada (7/12). Kegiatan ini menjadi ruang temu antara komunitas penggerak sosial dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki fokus pengembangan program Corporate Social Responsibility (CSR).
Tidak sekadar sesi pitching, forum ini juga menjadi ruang diskusi untuk menyamakan nilai, mendengarkan kebutuhan lapangan, dan memperjuangkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat.
Desamind Indonesia diwakili oleh Dinda Berlian dan Luthfia Octaviani dari Public Relation Division. Kehadiran Desamind dalam forum ini menjadi kesempatan strategis untuk memperluas jejaring, memperkenalkan program pemberdayaan desa, serta menjajaki peluang kolaborasi dengan berbagai lembaga CSR.
Gambar 1. Dinda Berlian Presentasi dengan CSR dalam Sesi One on One
Dinda Berlian menyampaikan bahwa kesempatan ini membuka jalan bagi Desamind untuk memperluas dampak program pemberdayaan desa.
“Bertemu langsung dengan CSR nasional membuat kami optimis bahwa kolaborasi nyata bisa terwujud. Banyak perusahaan menunjukkan ketertarikan pada isu pemberdayaan desa dan pendidikan. Ini peluang besar bagi Desamind,” ungkap Dinda.
Sementara itu, Luthfia Octaviani juga menambahkan bahwa Turun Tangan Festival memberi ruang bagi komunitas untuk menunjukkan kerja sosial yang selama ini dilakukan.
“Pitch Dating with CSR membantu kami melihat bagaimana ide yang lahir dari kebutuhan nyata di lapangan terus didorong oleh banyak pihak. Dari dialog singkat ini, kami percaya bahwa dampak kolaboratif akan menjangkau lebih banyak penerima manfaat,” ujar Luthfia.
Acara ini menghadirkan enam lembaga CSR nasional, yaitu Nice Global, Filantropi Indonesia, Hub UMK PLN Jakarta Raya, Plan Do See Indonesia, CSR Astra, dan Forum CSR Jakarta. Mereka terlibat aktif berdialog dengan komunitas terpilih untuk menggali potensi kolaborasi.
Selain Desamind Indonesia, terdapat 18 komunitas atau organisasi lainnya, yaitu Sasambo Youth Education, Millennials Empowerment, Kampung Kolektif, DDV Banten, Garut Creativepreneur Community, Kriya Kite Indonesia, The Local Enablers, Yayasan Dari Hati, Safari Nagari, DDV Bandung, SehariBeraksi, Komunitas Teman Tumbuh Kembang, Indonesia Membaca, Komunitas Yuk Belajar Seni, Schole Fitrah, Desamind Indonesia, Eco Ranger, Bank Sampah Seribu Generasi, dan AOA (Anak Online Abah).
Seoul, Korea Selatan – (6/12) Desamind Indonesia kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional melalui keterlibatan dua perwakilannya, Yulia Susanti (Director of Scholarship Division) dan Kintan Nur Romadhona (Koordinator Wilayah Chapter Division) dalam tim kolaborasi inovasi bersama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan tiga universitas ternama Australia: University of Melbourne, Monash University, dan University of Queensland. Kolaborasi lintas negara ini berhasil meraih Gold Medal dan Special Award dari Vietnam Fund for Supporting Technology Creations (VIFOTEC) pada ajang bergengsi Seoul International Invention Fair (SIIF) 2025 yang diselenggarakan pada 3–6 Desember di Seoul.
Dalam kompetisi tersebut, tim menampilkan proyek inovatif berjudul “HerbsWise: Immersive Journey of Indonesian Medicinal Plants Wisdom Integrated with Wellness Education to Combat Top Nation’s Priority Diseases.” Proyek ini memanfaatkan teknologi Virtual Reality(VR) untuk menghadirkan eksplorasi imersif mengenai kekayaan tanaman herbal Indonesia yang dipadukan dengan edukasi kesehatan guna meningkatkan literasi masyarakat tentang peran tanaman herbal dalam pencegahan penyakit prioritas nasional.
Yulia Susanti menuturkan, keterlibatan Desamind Indonesia menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa nilai-nilai edukatif, budaya, dan kebermanfaatan sosial tetap terintegrasi dalam proyek yang digarap lintas negara tersebut.
“Bisa mewakili Desamind dalam kolaborasi internasional ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar bagaimana teknologi dapat digunakan untuk melestarikan kearifan lokal. Prestasi ini bukan hanya kemenangan tim, tetapi bukti bahwa anak muda Indonesia mampu bersaing di panggung dunia,” ujar Santi.
Meski berada dalam negara dan zona waktu yang berbeda, kolaborasi tetap berjalan intens dan produktif. Pengalaman ini menunjukkan bahwa batas geografis tidak menghalangi semangat inovasi lintas budaya.
Gambar 1. Tim “HerbsWise: Immersive Journey of Indonesian Medicinal Plants Wisdom Integrated with Wellness Education to Combat Top Nation’s Priority Diseases.
Dari Australia, Desi Puti Andini, Mahasiswa Master Data Science, Monash University mengungkapkan kebanggaanya bisa berinovasi bersama-sama dan menciptakan temuan yang bermanfaat.
“Sangat bangga dapat berkolaborasi dengan mahasiswa UMS dan Desamind menciptakan temuan yang luar biasa. Proyek ini berjalan harmonis meski kami bekerja dari benua yang berbeda,” tutur Desi.
Keberhasilan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran anggota tim yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, baik dari Indonesia maupun Australia. Adapun anggota Tim Kolaborasi Indonesia–Australia meliputi:
Vio Arvendha (PTI UMS 2021) — Ketua Tim
Muhammad Isnani K (PTI UMS 2022)
Kintan Nur Romadhona (Biotechnology, University of Queensland; Desamind Indonesia)
Citra Cahyati (Public Health, University of Melbourne)
Nada Fadilah (Agribusiness, University of Queensland)
Nadia Yasmine (Public Health, University of Queensland)
Yulia Susanti (Desamind Indonesia)
Pembimbing inovasi yang juga Dosen UMS sekaligus Founder Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, M.Sc.ITE, turut memberikan apresiasi atas pencapaian prestasi ini.
“Alhamdulillah, prestasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas negara dapat melahirkan inovasi berskala global. Semoga pencapaian ini menginspirasi lebih banyak mahasiswa dan pemuda Indonesia untuk berani berkolaborasi dan berkarya,” pungkas Hardika.
Yogyakarta – Desamind Indonesia berhasil terpilih sebagai Top 20 komunitas dalam Program Monitoring ActWISE+ Leadership Café 2025, sebuah inisiatif pengembangan kapasitas pemuda yang diinisiasi oleh Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA).
Keberhasilan ini menempatkan Desamind sebagai salah satu komunitas yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam mendorong gerakan sosial berlandaskan integritas, nilai, dan kepemimpinan etis.
ActWISE+ Leadership Café dilaksanakan dalam dua skema. Pertama, sesi daring pada 25 Oktober 2025 membahas mengenai struktur dan tujuan program sekaligus ruang pertemuan untuk saling mengenal antar komunitas terpilih. Kedua, sesi luring yang berlangsung dalam empat rangkaian pertemuan pada 8–29 November 2025, berisi pelatihan intensif tentang etika, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan.
Selama empat sesi luring, peserta mengikuti pembahasan yang dirancang saling terhubung dan membangun pemahaman komprehensif tentang nilai dan etika dalam kepemimpinan generasi muda dengan rincian:
Sesi pertama mengangkat tema “Values in Action – Everyday Ethics”, membedah bagaimana nilai dan dilema etis muncul dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam organisasi.
Sesi kedua, “Leadership in Practice: Active Listening & Conflict Resolution”, memberi ruang bagi peserta untuk mempraktikkan kemampuan mendengar aktif serta menyelesaikan konflik secara dewasa dan konstruktif.
Sesi ketiga, peserta diperkenalkan pada “WISE+ Ethical Decision-Making Tool”, sebuah kerangka untuk mengambil keputusan secara etis, terstruktur, dan mempertimbangkan dampak sosial.
Sesi keempat, “Designing Projects with WISE+”, di mana tiap komunitas diminta merancang proyek sosial berbasis nilai menggunakan pendekatan WISE+.
Dalam kesempatan ini, Desamind Indonesia mendelegasikan Abdul Aziez, Director of Chapter Division dan Alwi Dwi Rahmadi, Associate of Chapter Division, untuk mengikuti seluruh rangkaian program.
Menurut Alwi, pengalaman mengikuti ActWISE+ menjadi refleksi penting bagi tim Desamind.
“Program ini memberi banyak pelajaran tentang etika, pilihan dalam kepemimpinan, dan cara mengambil keputusan secara lebih bijak. Kami mendapat banyak perspektif baru, dan ini memperkuat komitmen Desamind untuk terus bergerak dengan nilai dan integritas,” ujarnya.
Gambar 1. Delegasi Desamind Indonesia bersama Para Peserta ActWISE+ Leadership Café 2025
Lebih lanjut, Aziz juga mengungkapkan bahwa program ActWISE+ Leadership Café 2025 tidak hanya menawarkan pembelajaran teknis, tetapi juga mempertegas pentingnya fondasi nilai dalam gerakan sosial. Menurutnya, keberhasilan Desamind masuk Top 20 menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas internal serta memastikan bahwa setiap program pemberdayaan desa maupun kepemudaan dijalankan dengan pertimbangan etika dan keberlanjutan.
“Keterlibatan Desamind dalam program ini menegaskan bahwa gerakan pemuda Indonesia mampu tumbuh melalui kolaborasi, ruang dialog yang terbuka, dan kemauan untuk membangun perubahan dengan cara yang lebih bermoral dan berkesadaran nilai,” pungkas Aziez.
Jakarta – Desamind Indonesia turut hadir dalam Rapat Koordinasi Jaringan Beasiswa yang dilaksanakan pada Selasa, 25 November 2025, di Ruang Rapat Lantai 14, Gedung Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI). Forum ini diselenggarakan oleh Komite Pesta Beasiswa Indonesia bersama Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia, dengan agenda utama membahas penetapan pelaksanaan Pesta Beasiswa Rakyat Indonesia 2025 serta perkembangan penyusunan Katalog Beasiswa Indonesia Edisi 2.
Desamind Indonesia diwakili oleh Nazwa Khoerunnisa, Vice Director of Scholarship. Dalam rapat tersebut, para peserta membahas dua opsi pelaksanaan Pesta Beasiswa Indonesia, yaitu 11–12 Desember 2025 di Kompleks MPR/DPR/DPD RI, serta 24–25 Januari 2025 di Kompleks Gedung Setwapres RI. Diskusi difokuskan pada kesiapan teknis dan tingkat keterlibatan lembaga beasiswa.
Forum menyepakati perlunya attendance confirmation form yang harus diisi paling lambat 27 November 2025 sebagai dasar penetapan final. Meski demikian, preferensi peserta mulai mengerucut pada opsi 11–12 Desember 2025.
Terkait penyusunan Katalog Beasiswa Indonesia Edisi 2, peserta rapat diinformasikan bahwa formulir pengumpulan data telah dibuka dan dapat diisi hingga 5 Desember 2025. Katalog ini akan memuat informasi beasiswa dari pemerintah, lembaga swasta, yayasan, hingga organisasi kemasyarakatan di seluruh Indonesia.
Nazwa Khoerunnisa menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga untuk memperluas akses informasi beasiswa bagi masyarakat.
“Desamind menyambut baik upaya bersama ini. Kerja kolaboratif seperti inilah yang diperlukan agar informasi beasiswa dapat tersampaikan secara merata, akurat, dan mudah diakses oleh anak muda di seluruh Indonesia,” ujar Nazwa.
Ia juga menambahkan bahwa keberadaan katalog nasional akan membantu menyatukan berbagai sumber informasi beasiswa yang selama ini tersebar di banyak platform.
“Katalog nasional menjadi langkah strategis untuk menghadirkan pusat data beasiswa yang terpadu. Ini akan sangat membantu pelajar dan mahasiswa dalam menentukan peluang pendidikan mereka,” tambahnya.
Rapat yang menghadirkan perwakilan dari berbagai lembaga, termasuk Rumah Zakat, GoStudy, StudiLanjut, LAZ, MetroTV, serta mitra lainnya, ditutup dengan penegasan tindak lanjut dan pengumpulan data katalog edisi terbaru.
Di lereng selatan Gunung Merapi yang hijau dan subur, terdapat Dusun Kemiri. Sebuah dusun kecil di Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, yang menyimpan kompleksitas kehidupan khas masyarakat pedesaan agraris di Yogyakarta. Udara sejuk, tanah vulkanik yang kaya mineral, serta lanskap perbukitan yang asri menjadi latar kehidupan sehari-hari warga yang sebagian besar menggantungkan penghidupan pada peternakan kambing dan penambangan pasir.
Namun, di balik keasrian tersebut, tersimpan dua wajah yang saling berdampingan: potensi besar yang menjanjikan serta permasalahan struktural yang menggerogoti dari dalam maupun luar.
Selama tiga hari dua malam, 30 Oktober hingga 2 November 2025, dalam kegiatan live-in bertajuk MENYAPA (Membangun Aksi Nyata dan Peduli Desa) Dusun Kemiri, Tim Desamind Chapter Yogyakarta tinggal bersama warga. Kami tidak sekadar mengamati, tetapi turut merasakan denyut kehidupan Kemiri. Melalui interaksi dengan peternak, ibu rumah tangga, hingga pemuda karang taruna, tersusun potret tentang bagaimana masyarakat lereng Merapi ini bertahan, beradaptasi, dan berinovasi di tengah keterbatasan.
Ketika Peternak Kambing Menjadi Pelopor Inovasi
Dusun Kemiri sedang bertransformasi. Perlahan namun pasti, masyarakat bergerak dari ketergantungan pada pertanian salak yang nilainya terus menurun menuju pilar ekonomi baru, yakni peternakan kambing.
Yang menarik bukan sekadar jumlah warga yang beternak kambing, melainkan bagaimana sebagian dari mereka telah melampaui pola pemeliharaan tradisional. Beberapa rumah tangga mulai merambah sektor hilir dengan mengolah susu kambing menjadi susu bubuk, yogurt, bahkan es krim.
Gambar 1. Pengolahan Susu Kambing
Inovasi ini lahir dari inisiatif individu, dari dapur-dapur kecil, tanpa pelatihan formal maupun dukungan struktural. Seorang warga yang kami temui telah memproduksi susu bubuk skala rumah tangga dengan peralatan sederhana dan proses manual. Produknya menunjukkan potensi pasar yang nyata. Di rumah lain, seorang ibu rutin membuat yogurt untuk konsumsi keluarga dan tetangga.
Aktivitas ini bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan bukti adanya jiwa kewirausahaan serta kapasitas teknologi pangan di tingkat rumah tangga yang selama ini kurang terlihat. Di sisi lain, penambangan pasir menjadi penopang ekonomi yang memberikan likuiditas cepat bagi sebagian warga.
Modal Sosial yang Menyimpan Energi Besar
Jika inovasi ekonomi adalah mesin, maka kelembagaan sosial adalah bahan bakarnya. Dusun Kemiri memiliki sejumlah kelompok masyarakat yang aktif dan potensial. Kelompok Ternak Sapi telah memiliki struktur organisasi yang jelas, infrastruktur pendukung, serta jaringan hingga ke luar dusun. Mereka menjadi contoh modal sosial bridging, yakni kemampuan membangun koneksi dengan pihak eksternal.
Namun, di samping kelompok ternak sapi yang terorganisasi, terdapat puluhan peternak kambing yang berjalan sendiri-sendiri tanpa payung kelembagaan yang jelas.
Gambar 2. Salah Satu Area Peternakan Kambing di Dusun Kemiri
PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) Dusun Kemiri tidak sekadar menjalankan kegiatan rutin seperti arisan atau posyandu. Kelompok ini merupakan simpul pemberdayaan perempuan yang mapan dan dipercaya masyarakat. Dengan jangkauan hingga tingkat rumah tangga, PKK memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam program kesehatan, pengelolaan sampah, hingga pengembangan usaha mikro.
Sementara itu, Karang Taruna menghadirkan energi generasi muda yang adaptif dan melek digital. Mereka menjadi jembatan antara kearifan lokal dan modernitas. Sayangnya, potensi besar tersebut belum terorkestrasi dalam gerakan kolektif yang terarah.
Fragmentasi Sosial: Ironi di Tengah Kekuatan Komunitas
Potensi-potensi di Dusun Kemiri ibarat butiran mutiara yang berserakan, belum terangkai menjadi kesatuan yang utuh.
Permasalahan internal terlihat dari ketidakjelasan kelembagaan peternak kambing. Sementara peternak sapi menikmati akses pelatihan, bantuan, dan jaringan pemasaran, peternak kambing yang jumlahnya lebih banyak masih bertumpu pada praktik individual. Mereka tidak memiliki saluran representasi dalam perencanaan pembangunan desa.
Permasalahan eksternal juga muncul dalam bentuk keterbatasan akses jaringan. Hanya individu dengan modal sosial, ekonomi, dan kultural lebih tinggi yang mampu menjangkau pasar serta sumber daya eksternal. Ketimpangan jaringan sosial pun terjadi: pelaku yang sudah mapan semakin maju, sementara sebagian lainnya tertinggal. Inovasi yang seharusnya menjadi penggerak kolektif justru terjebak sebagai keunggulan individu.
Jebakan Ekonomi: Dari Legalitas hingga Pasar Monopsoni
Di sektor ekonomi, persoalan membentuk lingkaran yang sulit diputus. Pertama, aspek legalitas. Produk olahan susu kambing Kemiri yang memiliki potensi kualitas terhambat proses perizinan BPOM dan sertifikasi halal. Hambatan ini bukan karena ketiadaan kemauan, melainkan prosedur daring yang kompleks serta minimnya pendampingan. Tanpa legalitas, produk hanya beredar di lingkungan terbatas dengan nilai jual dan volume yang rendah.
Kedua, stagnasi nilai tambah. Inovasi pengolahan telah dimulai, tetapi belum diikuti strategi pemasaran kolektif, penguatan merek (branding), maupun diversifikasi produk secara sistematis.
Ketiga, ketergantungan pada satu pembeli besar yang bersifat monopsoni. Seorang pembeli tunggal mendominasi penyerapan susu kambing. Penundaan pembayaran hingga berbulan-bulan pernah terjadi dengan nilai kerugian signifikan. Namun, warga tetap bertahan karena tidak memiliki alternatif pasar.
Keempat, keterbatasan layanan kesehatan hewan. Ketika ternak sakit, biaya pengobatan menjadi beban besar yang berisiko mengurangi pendapatan keluarga. Infrastruktur pendukung bagi ekonomi produktif dusun ini masih minim perhatian.
Tekanan Lingkungan: Krisis yang Senyap
Jika persoalan sosial dan ekonomi tampak di permukaan, persoalan lingkungan berlangsung lebih senyap. Sampah anorganik menjadi masalah sejak pengepul lokal berhenti beroperasi. Plastik dan kemasan tak lagi memiliki nilai ekonomi. Pembakaran terbuka menjadi solusi darurat yang dinormalisasi karena ketiadaan alternatif.
Limbah popok sekali pakai menambah tantangan baru. Karakteristiknya yang sulit terurai dan tidak bernilai ekonomi membuatnya terabaikan dalam sistem daur ulang informal. Warga kerap membakar, menimbun, atau membuangnya secara terbatas.
Lebih jauh, Dusun Kemiri juga menjadi lokasi pembuangan popok oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, sehingga menambah beban ekologis warga.
Belajar dari Kemiri
Apa yang terjadi di Dusun Kemiri bukan kasus terisolasi, melainkan gambaran tantangan pembangunan pedesaan di Indonesia. Potensi besar ada, tetapi belum sepenuhnya terkelola. Kelembagaan tersedia, tetapi belum terintegrasi.
Fragmentasi menjadi tantangan utama. Peternak kambing berjalan sendiri, kelompok ternak sapi belum terhubung secara strategis dengan PKK dan Karang Taruna, serta inovasi pengolahan susu belum berkembang melalui kolaborasi lintas kelompok.
Menatap ke Depan: Potensi yang Menanti Perpaduan
Dusun Kemiri memiliki modal untuk bertransformasi: sumber daya alam yang melimpah, modal sosial yang kuat, dan inovasi yang telah lahir dari inisiatif warga sendiri. Susu bubuk, yogurt, dan es krim bukan sekadar gagasan, melainkan produk nyata dari dapur warga. Tantangannya bukan menciptakan potensi baru, tetapi menghubungkan potensi yang telah ada.
Tiga hari dua malam di Kemiri menunjukkan bahwa praktik pembangunan berkelanjutan telah tumbuh dalam skala kecil. Diperlukan penguatan jejaring, pendampingan, serta integrasi kelembagaan agar potensi tersebut berkembang secara kolektif dan berkelanjutan.
Masa depan Dusun Kemiri pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan warganya merangkai potensi menjadi kekuatan bersama.
Sukoharjo – (26/10) Pusat Studi Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta (Puswirasos UMS) berkolaborasi dengan Desamind Indonesia menggelar Kertonatan Leadership Camp di Balai Desa Kertonatan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.
Kegiatan ini mengusung tema “Peningkatan Kepedulian dan Kapasitas Pengembangan Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial Pemuda Kertonatan” yang bertujuan untuk mendorong semangat kewirausahaan dan kewirausahaan sosial pemuda desa, memperkuat kolaborasi antar-pemuda dan pelaku usaha, serta menghasilkan aksi nyata yang berkelanjutan.
Hadir sebagai narasumber, Soepatini, Ph.D, Ketua Puswirasos sekaligus Dosen Manajemen FEB UMS, menekankan pentingnya partisipasi aktif dan kepeloporan pemuda dalam pembangunan desa. Menurutnya, pemuda harus berani mengambil peran, karena dari desa lah muncul potensi dan solusi atas berbagai tantangan ekonomi maupun sosial.
“Sebagai pemuda yang akan melanjutkan perjuangan dari desa, mari bersama-sama memberi dampak nyata. Masa depan negara ada di kalian” jelas Soepatini, alumnus Birmingham City University, United Kingdom.
Sesi berikutnya diisi oleh Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE, Dosen PTI UMS sekaligus President Director Desamind Indonesia. Dalam materi bertajuk Networking, Dinamika Kelompok, Brief Leadership Development, dan Design Thinking Projek Pedesaan, ia mendorong pemuda untuk memiliki pola pikir kreatif dan kolaboratif dalam membangun desa.
Lebih lanjut, para peserta juga diberikan perspektif tentang pengembangan proyek kewirausahaan sosial yang dapat dikelola secara mandiri oleh pemuda desa. Materi ini disampaikan Zakky Muhammad Noor, S.E., Director Desamind Farm dan LPM Equator.
“Kewirausahaan sosial bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang menciptakan solusi bagi masyarakat. Pemuda harus mampu melihat potensi lokal sebagai peluang untuk berdaya,” ungkap Zakky.
Turut hadir pula Dra. Kusnarti, tokoh lingkungan sekaligus penggerak Bank Sampah Desa Kertonatan, yang memberikan apresiasi terhadap semangat pemuda dalam mengembangkan ide-ide sosial dan ramah lingkungan.
Gambar 1. Pemaparan dari Dra. Kusnarti
Selain sesi materi, peserta mengikuti Finishing Ide Project dan Presentasi Hasil Proyek Pedesaan yang menjadi puncak kegiatan. Fasilitator kegiatan ini terdiri dari Imam Riefly Aditomo, S.M., M.B.A, Putri Linggasari Sofi, S.M., M.M, Ahmad Zamzami, S.Ag, dan Ahmad Luthfi, S.Pd. Dalam sesi ini, peserta menampilkan berbagai gagasan inovatif, mulai dari pengelolaan sampah terpadu, pertanian berkelanjutan, hingga produk kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Kepala Desa Kertonatan, Winarto, menyampaikan rasa bangganya terhadap semangat kolaboratif yang ditunjukkan oleh para peserta.
“Kegiatan ini sangat positif. Pemuda perlu difasilitasi agar bisa berinovasi dan ikut berperan dalam pembangunan desa. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu peserta, Hafida Sari, mengungkapkan bahwa pelatihan ini membantu pemuda memahami cara mengembangkan potensi desa dengan pendekatan sosial dan wirausaha.
“Materinya membuka wawasan kami untuk melihat peluang di sekitar dan mengubahnya menjadi program yang bermanfaat,” ungkapnya.
Gambar 2. Presentasi Hasil Proyek Pedesaan
Melalui kegiatan Kertonatan Leadership Camp, kolaborasi antara UMS dan Desamind Indonesia diharapkan dapat melahirkan generasi muda desa yang kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Semangat kolaboratif yang tumbuh dalam kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan sosial yang berkelanjutan di Desa Kertonatan dan sekitarnya.
Magelang – (21/10) Desamind Chapter Magelang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pemberdayaan perempuan desa melalui peningkatan kapasitas komunikasi dengan menyelenggarakan Public Speaking KWT Permai Tani. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum sekaligus membangun rasa percaya diri anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Permai Tani, Desa Gandusari.
Mengusung tema “Bangun Percaya Diri, Tingkatkan Potensi Diri,” kegiatan Public Speaking KWT Permai Tani dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama digelar pada Minggu, 31 Agustus 2025, dan tahap kedua pada Minggu, 21 September 2025. Kedua kegiatan berlangsung di Markas KWT Desa Gandusari, Kabupaten Magelang. Narasumber utama dalam pelatihan ini adalah Rahmat Subur Santoso, praktisi komunikasi yang aktif dalam pelatihan pengembangan diri, serta turut dihadiri oleh Ketua KWT, Ibu Darojatul Aliyah.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pembekalan teori mengenai dasar-dasar public speaking, termasuk cara membangun kepercayaan diri, menyusun pesan yang efektif, dan mengatasi rasa gugup. Sementara itu, pada tahap kedua, peserta diajak untuk berlatih berbicara langsung di depan audiens. Melalui metode praktik dan umpan balik langsung dari pemateri, anggota KWT berkesempatan mengasah kemampuan komunikasi yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk mendukung kegiatan pemasaran produk mereka.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba berbicara di depan rekan-rekannya. Salah satu peserta, Musripah, mengaku sangat terbantu dengan diadakan praktik ini.
“Pelatihan yang dilakukan kakak-kakak sangat sesuai dengan kebutuhan kami. Selama ini kami kesulitan memasarkan produk karena kurang percaya diri berbicara di depan orang. Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana menyampaikan pesan dengan baik dan percaya diri,” ujar Musripah.
Peserta lain, Choisah, juga menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Kami sangat berterima kasih karena melalui program ini kami jadi punya gambaran untuk melakukan pemasaran, terutama lewat media sosial. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ungkap Choisah.
Sebagai ketua pelaksana, Alif Zidan Ramadhan merasa bangga dan bersyukur atas kelancaran kegiatan ini. Baginya antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa pelatihan tersebut dibutuhkan oleh masyarakat.
“Antusiasme ibu-ibu luar biasa. Mereka aktif berdiskusi dan berlatih berbicara di depan umum. Harapannya, setelah pelatihan ini, anggota KWT lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan mampu mempromosikan produk-produk mereka secara efektif, baik secara langsung maupun melalui media digital,” jelas Alif.
Melalui program ini, Desamind Chapter Magelang berharap pemberdayaan perempuan desa tidak hanya berhenti pada pelatihan teknis, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas personal yang memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan di tingkat lokal. Langkah sederhana seperti berbicara dengan percaya diri di ruang publik menjadi awal bagi tumbuhnya kemandirian dan keberdayaan yang lebih luas di masyarakat.
Sukoharjo — (15/10) Sekolah Alam Aminah bersama Desamind Chapter Solo Raya menggelar kegiatan edukatif bertajuk “Peluk Alam, Peluk Sesama: Tangan Kecil Menanam, Bumi Besar Merasakan” di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 4 dan 5, baik dari peserta reguler maupun nonreguler, didampingi wali kelas serta guru pendamping khusus, dengan total 46 peserta.
Melalui berbagai aktivitas seperti melukis pot, fun games, hingga menanam bibit, para peserta diajak memahami bahwa mencintai alam tidak harus dimulai dari hal besar. Dari satu genggam tanah dan satu bibit kecil, mereka belajar tentang pentingnya menjaga bumi dan menghargai kehidupan di sekitar.
Kepala Sekolah Alam Aminah, Taqwa Hasma Septyaninda, S. Psi., S. Pd.I, menyambut baik terselenggaranya kolaborasi ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini memperkuat nilai kepedulian lingkungan sekaligus menanamkan tanggung jawab terhadap alam sejak usia dini.
“Kami sangat mengapresiasi gerakan Desamind Chapter Solo Raya. Anak-anak tidak hanya belajar menanam, tetapi juga belajar mencintai bumi, merawat, dan menjaga kehidupan di sekitarnya,” ujarnya.
Gambar 1. Pengecatan Botol Bekas untuk Pembuatan Pot (Dok. Arsip Desamind)
Addam Mufti Rohmani, S.Ak., Wali Kelas 4 Sekolah Alam Aminah, menambahkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan memiliki manfaat besar bagi tumbuh kembang siswa, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Pembelajaran seperti ini sangat bermanfaat. Anak-anak bisa belajar motorik, berinteraksi langsung, dan memahami konsep menjaga lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Terlebih, di sini juga banyak anak-anak unik yang butuh pendekatan belajar berbeda,” jelas Addam.
Bagi Desamind Chapter Solo Raya, kegiatan ini menjadi pengalaman yang bermakna. Selain sebagai bentuk pengabdian, kegiatan ini juga menjadi wadah pembelajaran bersama tentang nilai inklusivitas dan empati.
“Ini pengalaman pertama kami berinteraksi langsung dengan anak-anak spesial. Kami belajar banyak hal tentang kesabaran, empati, dan bagaimana membangun kegiatan yang ramah bagi semua anak,” ujar Hanan Fajri, Kepala Desamind Chapter Solo Raya.
Ia juga berharap kolaborasi ini dapat menjadi langkah awal bagi kemitraan berkelanjutan antara Desamind dan Sekolah Alam Aminah dalam menciptakan program yang berfokus pada pendidikan lingkungan dan pemberdayaan anak.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, karena anak-anak adalah generasi yang akan menentukan masa depan bumi. Menanam bagi mereka bukan sekadar aktivitas, tapi bentuk cinta terhadap kehidupan,” tutup Hanan.
Gambar 2. Deklarasi Menjaga Bumi dengan Merawat Tanaman (Dok. Arsip Desamind)
Sebagai tindak lanjut, pot yang telah dilukis dan ditanami bibit oleh para siswa diletakkan di lingkungan sekolah. Tanaman-tanaman tersebut akan dirawat bersama sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan dan bentuk nyata menjaga bumi melalui tindakan sederhana di sekolah.
Melalui Peluk Alam, Peluk Sesama, Desamind Chapter Solo Raya dan Sekolah Alam Aminah menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari ruang belajar, dari tangan-tangan kecil yang menanam, hingga tumbuhnya kesadaran besar untuk menjaga bumi bersama.
Lombok Timur – Desamind Chapter Lombok Timur resmi menjalin kerja sama dengan Pemerintah Desa Sapit, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai Desa Mitra Desamind Chapter Lombok Timur. Kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi lokal desa, khususnya di bidang pendidikan, pariwisata, perekonomian, dan pemberdayaan masyarakat.
Penandatanganan MoU dilaksanakan di Aula Kantor Desa Sapit pada Minggu (12/10). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Sapit, Sekretaris Desa Sapit, para kepala wilayah Desa Sapit, perwakilan Pengurus Pusat Desamind (Koordinator Wilayah 3), anggota Desamind Chapter Lombok Timur, tokoh pemuda, kader desa, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), dan para pelaku UMKM setempat.
Kerja sama ini menjadi langkah konkret Desamind Chapter Lombok Timur dalam mendukung pembangunan desa berkelanjutan. Desa Sapit dikenal memiliki kekayaan potensi budaya, sejarah, dan alam. Terletak di lereng Gunung Rinjani, desa ini juga telah berkembang sebagai desa wisata dengan beragam tradisi lokal yang masih terjaga, salah satunya Maulid Adat.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Sapit, H. Sriatun, S.Pt., NL.P., menyambut baik kolaborasi yang terjalin dengan Desamind Chapter Lombok Timur. Ia mengapresiasi peran aktif pemuda dalam mendukung pembangunan desa.
“Kami mengucapkan terima kasih atas inisiatif Desamind Chapter Lombok Timur. Desa Sapit memiliki potensi alam, budaya, dan hasil pertanian yang melimpah. Namun, kami membutuhkan sentuhan inovasi, terutama dari para pemuda, agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara maksimal. Harapannya, seluruh program Desamind dapat menjangkau 11 dusun yang ada di Desa Sapit dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desamind Chapter Lombok Timur, M. Abdul Hayyi, menjelaskan bahwa pemilihan Desa Sapit sebagai Desa Mitra didasarkan pada kekayaan potensi desa, kuatnya semangat gotong royong masyarakat, serta letak geografisnya yang strategis dan berdekatan dengan kawasan wisata Sembalun yang ramai dikunjungi wisatawan lokal, nasional, hingga mancanegara.
Gambar 1. Foto Bersama Usai Penandatangan MoU (Arsip Desamind Chapter Lombok Timur)
Ia juga menyampaikan rencana pelaksanaan Desamind Leadership Camp di Desa Sapit sebagai salah satu program tahunan Yayasan Desamind. Program ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Desa Sapit sebagai destinasi wisata sekaligus menjadi ruang pengembangan kapasitas pemuda desa.
“Desamind Chapter Lombok Timur berkomitmen mendampingi Desa Sapit melalui sejumlah program prioritas, antara lain peningkatan kapasitas literasi dan pendidikan melalui taman baca serta pelatihan pemuda, pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penguatan produk unggulan UMKM desa seperti kopi, jahe, pisang, dan produk lokal lainnya,” jelas Hayyi.
Kerja sama ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan model pembangunan desa yang berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Selain itu, kolaborasi ini juga diarahkan untuk mendorong peningkatan tata kelola desa melalui pemanfaatan digitalisasi dan inovasi.
Dalam pelaksanaannya, Desamind Chapter Lombok Timur akan menjadi ujung tombak pelaksanaan program di lapangan, memastikan sinergi antara program organisasi dan kebutuhan riil masyarakat Desa Sapit.
Banyumas – Desamind Indonesia sukses menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) 6.0 pada 26–28 September 2025 di Home Stay Asyik, Baturaden, Banyumas. Agenda tahunan ini mengusung tema “Semangat Penyederhanaan Menuju Keterdampakan Lebih Luas” sebagai arah gerak organisasi ke depan.
Desamind Indonesia hadir sebagai ruang kolaborasi anak muda, baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri. Berangkat dari semangat kesukarelawanan, gerakan ini mendorong lahirnya local heroes yang berdaya, mampu mengembangkan desa dengan kompetensi global, sekaligus tetap berpijak pada pemahaman akar rumput.
Kegiatan diikuti oleh anggota Desamind dari berbagai daerah di Indonesia, baik secara offline maupun online. Total terdapat 58 pengurus atau Executive of Desamind (EoD) pusat yang terlibat aktif. Fokus pembahasan mencakup tata kelola organisasi, strategi pengembangan pendanaan, serta langkah konkret untuk memperluas keterdampakan.
Zakky Muhammad Noor, Co-Founder sekaligus Managing Director Desamind Indonesia, menegaskan bahwa tahun keenam ini menjadi momentum penting bagi organisasi untuk memperkuat kontribusi nyata.
“Kita tidak ingin sekadar bertahan, tetapi benar-benar menyalurkan manfaat yang lebih luas. Di tahun keenam, Desamind akan terus bergerak dengan penyederhanaan berbagai hal namun tetap fokus pada keterdampakan di masyarakat,” ungkap Zakky.
Gambar 1. Sesi Paparan Rencana Program oleh Zakky Zakky Muhammad Noor (Arsip Desamind)
Selain forum diskusi, para peserta juga melakukan kunjungan ke Wisata Alam Jenggala di Baturaden. Kegiatan lapangan ini memberikan perspektif langsung tentang bagaimana potensi wisata alam dapat dikelola secara berkelanjutan sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar. Melihat potensi tersebut, Desamind berharap dapat mengambil inspirasi untuk merancang program-program desa mitra ke depan.
“Kita belajar langsung bagaimana potensi wisata bisa menjadi pintu masuk pemberdayaan masyarakat. Ini sejalan dengan semangat Desamind yang selalu berpijak pada kebutuhan lokal,” tambah Zakky.
Sebelum memasuki sesi penutupan, peserta juga mengikuti fun games yang dirancang untuk memperkuat kerja sama tim, melatih komunikasi efektif, dan menciptakan suasana cair di antara para anggota. Aktivitas ini menjadi momen penting untuk membangun keakraban antardivisi serta mempererat kekompakan sebelum menjalankan program satu tahun ke depan.
Momen ini juga menjadi pengalaman berharga bagi anggota baru Desamind. Ersa Mauliza, Divisi Creative Media, mengungkapkan kebanggaannya bisa menjadi bagian dari keluarga besar Desamind.
“Saya bangga bisa bergabung dengan Desamind. Visi dan misinya benar-benar menyasar ke akar rumput, dan saya ingin ikut ambil bagian dalam menciptakan dampak yang nyata,” tutur Ersa.
Gambar 2. Kunjungan Lapangan ke Wisata Alam Jenggala (Arsip Desamind)
Melalui Raker 6.0, Desamind Indonesia berharap dapat memperkuat sinergi internal, meningkatkan efektivitas tata kelola, dan melahirkan strategi program yang sederhana namun berdampak signifikan.
Semangat penyederhanaan yang diusung bukan berarti mengurangi kualitas, melainkan mempertegas arah organisasi agar fokus pada esensi serta menghadirkan perubahan sosial yang terukur, nyata, dan berkelanjutan.