Skip to main content
All Posts By

Zamzami

Meningkatkan Resiliensi Ekonomi, Desamind Terlibat dalam Pemberdayaan Komunitas Disabilitas

By Press Release

Sleman – Komitmen Desamind dalam mendorong gerakan sosial berbasis masyarakat kembali diwujudkan melalui keterlibatan dalam pengabdian “Pemberdayaan Penyandang Disabilitas melalui Literasi Keuangan Digital untuk Meningkatkan Resiliensi Keuangan di Yogyakarta”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) pada Kamis (03/07) bertempat di Kopi Candi, Candibinangun, Pakem, Sleman.

Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc.ITE, selaku President Director Desamind secara langsung mendampingi para peserta dan memberikan pendampingan mengenai strategi pemasaran digital yang mudah diakses siapa pun. Ia mendorong anggota Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sleman untuk melihat peluang ekonomi yang terbuka luas melalui platform digital.

“Justru di era digital, teknologi membuka ruang bagi siapa pun untuk mandiri secara ekonomi. Mari kita manfaatkan Facebook, Instagram, TikTok, dan media sosial lainnya untuk mendapatkan penghasilan,” tegas Hardika.

Gambar 1. Sesi Pendampingan Digital Marketing kepada HWDI Sleman (Arsip Desamind)

Pelatihan ini juga menghadirkan Rosi Kho Arliyani dari Otoritas Jasa Keuangan Daerah Istimewa Yogyakarta  (OJK DIY) yang memberikan pemahaman seputar pengelolaan keuangan pribadi serta pentingnya perencanaan finansial inklusif bagi kelompok rentan. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara akademisi, regulator, dan komunitas penyandang disabilitas dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Prof. Dr. Ratna Candra Sari, M.Si., C.A., CFP., selaku ketua pelaksana kegiatan, menjelaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini adalah mendorong inklusi keuangan berbasis komunitas.

“Kami ingin membuktikan bahwa literasi keuangan bisa menjangkau semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas, agar mereka bisa mandiri dan resilien dalam menghadapi tekanan ekonomi,” ungkapnya.

Sebanyak lebih dari 60 peserta mengikuti kegiatan dan terlibat secara aktif. Salah satu peserta, Muryati, menyampaikan kesan positif dan rasa syukur karena mendapatkan kesempatan belajar langsung dari para praktisi dan akademisi.

“Materi hari ini sangat membuka wawasan kami. Kami jadi tahu bagaimana cara mengelola uang dan memasarkan produk secara online. Ini sangat membantu kami untuk berdaya secara mandiri,” ujarnya.

Keterlibatan Desamind dalam kegiatan ini menjadi bukti nyata upaya memperkuat kapasitas masyarakat akar rumput, khususnya komunitas penyandang disabilitas, melalui pendekatan berbasis literasi dan dan pemanfaatan teknologi digital.

Penulis: Ahmad Zamzami

Editor: Syifa Adiba

Monev Akhir Beasiswa Desamind 4.0 sebagai Refleksi dan Komitmen Dampak Sosial

By Beasiswa Desamind, Press Release

Surakarta – Desamind Indonesia Foundation kembali menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Akhir Program Beasiswa Desamind 4.0 pada Minggu (22/06). Kegiatan ini menjadi puncak dari proses pendampingan selama satu tahun kepada para awardee yang telah berjuang menciptakan dampak nyata melalui program pengabdian masyarakat desa.

Kegiatan dibuka pada pukul 08.00 WIB dengan sambutan dari Hardika Dwi Hermawan selaku President Director Desamind Indonesia. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya proses refleksi sebagai bagian dari penguatan gerakan pemuda desa.

 “Kita tidak hanya mencetak pelaksana program, tetapi juga pencetus perubahan jangka panjang,” tuturnya.

Tahun ini, sebanyak lima awardee berhasil menjalankan program mereka di berbagai wilayah Indonesia. Para awardee kemudian mempresentasikan capaian program bersama panel juri mulai dari latar belakang persoalan desa, pendekatan yang digunakan, hingga cerita dampak dan keterlibatan masyarakat. 

Gambar 1. Tabel Awardee Beasiswa Desamind 4.0 dan Proyeknya (Arsip Desamind)

Panel juri terdiri dari akademisi dan praktisi pembangunan desa. Mereka tidak hanya menilai dari sisi hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses, metode partisipatif, serta peluang pengembangan program di desa lain. Penilaian dilakukan secara menyeluruh dan dituangkan dalam formulir evaluasi sebagai dasar skor akhir masing-masing peserta.

Setelah seluruh sesi presentasi selesai, para panelis melakukan diskusi tertutup untuk menyusun catatan evaluasi dan rekomendasi strategis yang akan menjadi bahan pengembangan program Desamind di masa mendatang.

Momentum penuh makna ini ditutup dengan Graduation Ceremony yang menandai berakhirnya masa pendampingan bagi para awardee Beasiswa Desamind 4.0. Taufiq Bayu Nur Rahmat mengaku bersyukur bisa belajar selama satu tahun di ekosistem Desamind. Baginya, Desamind adalah ruang sesungguhnya untuk pengabdian dan bertumbuh bersama masyarakat.

“Program ini mengubah cara saya melihat desa. Saya belajar untuk tidak datang sekedar membawa solusi, tapi hadir untuk mendengar dan bertumbuh bersama masyarakat,” ungkap Taufiq.

Para mentor juga turut menyampaikan apresiasi terhadap dedikasi dan ketekunan para awardee. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan program bukan hanya dinilai dari luaran, tetapi dari proses pembelajaran dan transformasi pribadi yang dialami peserta.

Yulia Susanti, Director of Scholarship Division Desamind Indonesia, berharap para awardee tidak berhenti berkarya setelah program ini berakhir. Ia menegaskan, menjadi local hero bukan peran jangka pendek. 

“Ini adalah komitmen panjang untuk terus menyalakan harapan di desa,” tegasnya. 

Melalui kegiatan Monev ini, Desamind Indonesia akan terus menjaga komitmennya untuk memastikan setiap program pengabdian tidak berhenti sebagai laporan administratif, tetapi benar-benar meninggalkan dampak sosial yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Penulis: Kiki Irafa Candra

Editor: Ahmad Zamzami

Menjadikan Kurban Lebih Bermakna Bersama Desamind Farm: Investasi Ternak Kambing untuk Pemberdayaan Desa

By Artikel, Desamind Farm

Bogor – Pada Idul Adha 2025, Desamind Farm menghadirkan inisiatif gerakan pemberdayaan masyarakat lokal melalui Program Investasi Ternak Kambing. Berkolaborasi dengan Kelompok Tani Hutan Bodogol Kampung Hoya (KTH-BKH), program ini memberikan warna baru dalam memaknai ibadah kurban sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

Latar belakang inisiasinya bermula dari keprihatinan atas pergeseran minat generasi muda yang lebih condong ke industri manufaktur. Desamind Farm berupaya menumbuhkan kembali minat generasi muda untuk melanjutkan tradisi bertani dan beternak dengan harapan mampu mengurangi angka pengangguran usia produktif untuk menyukseskan misi empowering local community, khususnya kalangan pemuda di Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada, seperti keberadaan infrastruktur kandang ternak, kelimpahan sumber daya alam, serta keahlian masyarakat dalam beternak, Desamind Farm dan KTH-BKH berhasil menciptakan sinergi yang saling menguntungkan.

Skema Kolaborasi yang Inovatif

Program Investasi Ternak Kambing Desamind Farm x KTH-BKH dirancang sebagai usaha penggemukan kambing untuk memenuhi kebutuhan kurban. Dalam kerja sama ini, KTH-BKH bertanggung jawab atas pengelolaan harian ternak, sementara Desamind Farm berperan sebagai investor yang menyediakan modal untuk pembelian bibit ternak dan turut membantu dalam proses penjualan hasil ternak.

Skema bagi hasil yang diterapkan pun mengedepankan asas keadilan dan keberlanjutan. Desamind Farm memperoleh 30% dari keuntungan sebagai investor, sedangkan 70% keuntungan menjadi hak KTH-BKH selaku pengelola. Keuntungan yang diterima Desamind Farm kemudian digunakan untuk mendukung operasional dan berbagai program pengembangan desa yang diinisiasi oleh Desamind.

Menurut Peri, Ketua KTH-BKH, para pemuda di Kampung Bodogol, Desa Benda yang sebelumnya tidak tertarik dengan dunia pertanian dan peternakan lama-lama mulai bergabung dan para anggota yang terdahulu pun lebih semangat. 

“Desamind Farm memberikan angin segar bagi kami. Selain bisa meningkatkan pendapatan, kini para pemuda punya aktivitas positif dan produktif di desanya sendiri. Kami berharap programnya terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak pemuda ke depannya.”

Saat ini, terdapat enam pemuda yang terlibat aktif dalam Investasi Ternak Desamind Farm, yaitu Peri, Aldo, Bayu, Rustan, Andri, dan Igud. Mereka tidak hanya mendapatkan tambahan penghasilan, tetapi juga pengalaman serta keterampilan baru dalam pengelolaan usaha peternakan.

Perspektif Desamind Farm

Zakky Muhammad Noor, Direktur Desamind Farm menyampaikan bahwa investasi ternak di momen Idul Adha merupakan salah satu wujud nyata dalam memberdayakan potensi lokal. Ia percaya bahwa kurban tidak hanya sebatas ritual tahunan, tetapi juga momentum untuk menghadirkan perubahan sosial di masyarakat. Dengan menggandeng pemuda lokal, Desamind Farm ingin menciptakan model bisnis yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak langsung pada peningkatan ekonomi desa. 

Gambar 2. Prosesi Penyembelihan Hewan Kurban (Arsip Desamind)

“Semoga Desamind bisa menjadi inspirasi bagi banyak pihak bahwa penguatan ekonomi desa dimulai dari kolaborasi sederhana namun terukur. Kami optimis, bersama pemuda desa kita mampu menciptakan ekosistem peternakan yang mandiri dan berkelanjutan,” ungkap Zakky. 

Kebermanfaatan Kurban Desamind Farm

Total 10 ekor kambing kurban hasil program investasi berhasil terjual. Hewan-hewan kurban tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai pesantren di Kabupaten Sukabumi, di antaranya Pesantren Miftahul Aziz di Kampung Batu Karut, Desa Tugu Jaya, Kecamatan Cigombong, serta beberapa pesantren lainnya di Kecamatan Cicurug.

Gambar 3. Packing Daging Sebelum Didistribusikan (Arsip Desamind)

Melalui Program Investasi Ternak Kambing, Desamind Farm dan KTH-BKH membuktikan bahwa ibadah kurban tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga bisa menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Kolaborasi yang inovatif dan berkelanjutan mampu membuka harapan baru bagi generasi muda desa untuk tetap mencintai dunia pertanian dan peternakan. Inisiatif ini menjadi contoh nyata bagaimana semangat kurban dapat diimplementasikan dalam bentuk yang lebih luas serta menyentuh sisi sosial dan ekonomi. 

Penulis : Ahmad Zamzami, Dita Apriani

BOCIL: Literasi Digital Sejak Dini untuk Masa Depan Cakap Teknologi

By Artikel, Beasiswa Desamind

Purwakarta – Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, literasi digital menjadi kebutuhan yang mendesak, terutama bagi anak-anak yang tumbuh di tengah dunia yang serba cepat. Hal ini yang kemudian menjadi gagasan Ayyas, awardee Beasiswa Desamind 4.0, untuk menginisiasi BOCIL (Bocah Digital),  sebuah program edukasi literasi digital yang menyasar siswa sekolah dasar di wilayah pedesaan.

Program ini dilaksanakan di SDN Kadumekar, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, sebagai sekolah percontohan. BOCIL lahir dari keprihatinan Ayyas terhadap rendahnya pemahaman literasi digital di kalangan anak-anak desa. Meskipun mereka akrab dengan gawai, masih banyak yang belum memahami bagaimana menggunakan teknologi secara bijak, aman, dan produktif.

BOCIL: Membumikan Literasi Digital Lewat Kegiatan Interaktif

Selama pelaksanaannya, BOCIL menghadirkan berbagai kelas interaktif yang dirancang menyenangkan dan sesuai dengan karakter anak-anak. Materi yang diajarkan mencakup internet sehat, keamanan digital, etika daring, hingga cara mencari informasi edukatif di internet. Tak hanya itu, program ini juga memperluas wawasan anak-anak dalam penggunaan teknologi untuk penciptaan, bukan sekadar konsumsi. 

Gambar 1. Proses Pembelajaran Pengenalam Teknologi Tingkat Dasar (Arsip Desamind)

Beberapa kegiatan unggulan yang dijalankan antara lain “Serunya Ngoding”, di mana anak-anak dikenalkan dengan dasar-dasar computational thinking (CT) dan belajar menyusun program sederhana menggunakan platform seperti Scratch. Selain itu, terdapat Mini Electronics Workshop yang bekerja sama dengan HIRO MKB, menghadirkan pengenalan dasar elektronika dan mekatronika melalui praktik langsung yang menyenangkan. Meskipun tidak menjadi fokus utama, program ini juga turut memberikan pelatihan informal bagi para guru melalui sesi seremonial dan partisipatif, sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan literasi digital di lingkungan sekolah.

Program ini telah memberikan manfaat langsung kepada sekitar 150 siswa kelas 4 hingga 6 SD. Angka ini didasarkan pada rekap pelaksanaan dari kegiatan yang tercantum dalam laporan monitoring dan evaluasi (monev). Dukungan dari pihak sekolah dan komunitas lokal juga menjadi faktor penting dalam kesuksesan pelaksanaan tahap pertama ini.

Gambar 2. Antusiasme Siswa Mengerjakan Soal Kuis Online

BOCIL tidak hanya berhenti di ruang kelas. Untuk memperluas jangkauan edukasi dan meningkatkan keberlanjutan, Ayyas juga mengelola akun Instagram @bocahdigital sebagai media berbagi informasi, dokumentasi kegiatan, serta tips literasi digital bagi anak-anak dan orang tua.

Menuju Masa Depan Literasi Digital yang Berkelanjutan

Terkait keberlanjutan program, Ayyas melihat potensi besar untuk melanjutkan atau mengembangkan BOCIL dalam format dan skema baru. Baik melalui kerja sama dengan komunitas, institusi pendidikan, maupun adaptasi dalam bentuk modul daring atau pelatihan untuk guru dan orang tua.

“Harapan saya, BOCIL dapat menjadi katalis untuk menginspirasi individu maupun kelompok lain agar turut menginisiasi gerakan-gerakan kolektif yang membawa manfaat nyata bagi sesama,” ujar Ayyas.

BOCIL membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil. Dari sebuah ruang kelas di Purwakarta, ia menanamkan benih masa depan yang cakap teknologi, beretika digital, dan berpikir kritis untuk menuju ekosistem literasi digital Indonesia yang lebih inklusif dan transformatif.

Penulis: Syifa Adiba

Laila dan Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Kewirausahaan Perempuan

By Artikel, Beasiswa Desamind

Malang – Pemberdayaan ekonomi lokal tidak selalu dimulai dari skala besar. Terkadang, semua bermula dari gagasan sederhana dan konsisten dalam pelaksanaannya. Inilah yang dilakukan oleh Nur Laila, penerima Beasiswa Desamind 4.0 sekaligus alumni Departemen Biologi, Universitas Negeri Malang, yang berhasil menginisiasi POWER.PRENEUR, program kewirausahaan perempuan berbasis potensi lokal di Desa Kucur, Kabupaten Malang.

Dari Mimpi Mahasiswi ke Aksi Nyata Pemberdayaan Perempuan

Cita-cita Laila tentang pemberdayaan ekonomi perempuan sudah mulai tumbuh sejak duduk di bangku kuliah. Dalam esai refleksi dirinya saat itu, ia menuliskan mimpi untuk mendirikan komunitas perempuan yang berdaya secara ekonomi. Tak disangka, impian itu menemukan jalannya ketika ia terpilih sebagai awardee Beasiswa Desamind 4.0.

Selama masa studi, Laila dikenal aktif dalam organisasi kemahasiswaan, kompetisi ilmiah, dan kegiatan sosial. Pengalaman tersebut membentuk perspektif sosialnya dan memperkuat komitmennya untuk menjadi agen perubahan, khususnya dalam isu pemberdayaan perempuan dan pembangunan komunitas.

POWER.PRENEUR: Solusi Ekonomi dari Jeruk Lokal

Berbekal semangat pemberdayaan, Laila kemudian menginisiasi POWER.PRENEUR, sebuah program pengembangan ekonomi lokal berbasis kewirausahaan perempuan. Program ini dilaksanakan di Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Desa Kucur dipilih karena memiliki potensi hortikultura yang kuat, khususnya pada komoditas jeruk siam madu. Meski demikian, para petani kerap menghadapi permasalahan harga anjlok saat panen raya akibat surplus produksi.

POWER.PRENEUR hadir dengan solusi pengolahan jeruk menjadi produk turunan dengan nilai tambah, yaitu berupa permen gummy jeruk. Produk ini dipilih karena proses pembuatannya relatif sederhana, memiliki masa simpan yang panjang, dan peluang pasarnya luas. Selain memanfaatkan potensi lokal, program ini juga memberi peluang baru bagi ibu rumah tangga untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Gambar 1. Sosialisasi Pangan Industri Rumah Tangga bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Ibu Reny Wahyu Pramesti, S.Gz (Arsip Desamind)

Dalam implementasinya, POWER.PRENEUR melibatkan 17 orang, yang terdiri dari 10 ibu rumah tangga sebagai pelaksana utama dan 7 fasilitator yang sebagian besar merupakan rekan-rekan Laila sejak masa perkuliahan. Tidak hanya sebatas produksi, para peserta juga dibekali dengan pelatihan kewirausahaan, proses legalitas produk, hingga strategi pemasaran.

Melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, para peserta mendapatkan pendampingan dalam pengurusan izin edar (P-IRT). Kini, POWER.PRENEUR telah resmi memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), yang menjadi langkah awal penting untuk memperluas pemasaran. Selain itu, pelatihan diversifikasi kemasan juga dilakukan agar produk menjadi lebih menarik secara komersial. Ke depan, program ini akan mengembangkan pelatihan pemasaran digital dalam subprogram Power.Marketing.

Gambar 2. Proses Pembuatan Permen Gummy Jeruk (Arsip Desamind)

Konsistensi Menjadi Bagian dari Ekosistem Berdampak

Di antara berbagai capaian program, Laila menyoroti satu hal yang sangat berarti: konsistensi kehadiran dan komitmen ibu rumah tangga yang terlibat sejak awal. Meski jumlahnya masih terbatas, semangat mereka untuk belajar, berkembang, dan saling mendukung menjadi pondasi penting dalam keberlanjutan program.

Laila berharap, setelah masa pendampingan selesai, para ibu rumah tangga mampu mengelola usahanya secara mandiri, memanfaatkan keterampilan dan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Ia juga bermimpi agar POWER.PRENEUR terus berkembang menjadi model pemberdayaan ekonomi lokal berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Gambar 3. Permen Gummy Jeruk Olahan Ibu Rumah Tangga Binaan POWER.PRENEUR (Arsip Desamind)

Bagi Laila, perjalanan bersama Desamind merupakan proses yang penuh pembelajaran. Ia menyaksikan langsung bagaimana Beasiswa Desamind mendampinginya sehingga mampu menghadirkan dampak sosial yang konkret.

“Meskipun perjalanan ini belum sempurna, saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari proses ini. Terima kasih Desamind,” ungkapnya.

Melalui POWER.PRENEUR, Laila membuktikan bahwa pengembangan ekonomi lokal berbasis kewirausahaan perempuan dapat menjadi kunci untuk mendorong kemandirian finansial, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi komunitas secara keseluruhan. Sebuah contoh nyata bahwa perubahan bisa dimulai dari ide sederhana, tekad kuat, dan kolaborasi yang konsisten.

Penulis: Ahmad Zamzami

Editor: Syifa Adiba

Hikmal Akbar: Mewujudkan Desa Tanggap Iklim dari Beasiswa Desamind

By Artikel, Beasiswa Desamind

Banyuwangi – Di balik padatnya permukiman Desa Kebaman, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, tersimpan semangat perubahan dari seorang pemuda inspiratif: Hikmal Akbar Ibnu Sabil. Mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Jember ini tidak hanya menimba ilmu di kampus,tetapi juga memberikan kontribusi nyata melalui pengabdian.

Ketertarikannya terhadap isu sosial dan lingkungan tumbuh seiring dengan pendalaman ilmunya di bidang perencanaan wilayah dan kota. Alih-alih hanya fokus pada aspek teknis seperti ruang dan tata kota, Hikmal memilih untuk lebih dekat dengan realitas sosial masyarakat, mengasah empati, dan aktif turun langsung ke lapangan.

Gambar 1. Sosialisasi Program ke Masyarakat secara Door to Door (Arsip Desamind)

Perjalanan Hikmal dimulai dari sebuah unggahan tentang Beasiswa Desamind 4.0 di Instagram. Ia tertarik karena beasiswa ini menggabungkan pencapaian akademik dengan kontribusi sosial.

“Saya melihat Beasiswa Desamind mampu membantu merealisasikan apa yang saya pikirkan selama ini. Bentuk beasiswa yang berbeda dengan beasiswa yang lain dalam segi pendanaan dan pendampingannya,” ujar Hikmal.

Melalui sudut pandangnya sebagai calon perencana kota, Hikmal memandang bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil dan dekat, yakni dari kampung halamannya sendiri. Langkah ini akhirnya diwujudkan melalui dukungan dari Beasiswa Desamind 4.0  

DESATIK: Jawaban untuk Desa Kebaman

Desa Kebaman merupakan wilayah yang telah lama ditetapkan sebagai kawasan permukiman kumuh oleh pemerintah daerah berdasarkan SK Bupati No. 67 Tahun 2023. Permasalahan yang dihadapi sangat kompleks: masyarakat masih membuang sampah sembarangan, tidak memiliki sistem drainase yang layak, dan mengalami krisis air bersih saat musim kemarau.

Berangkat dari kenyataan ini, Hikmal menggagas proyek DESATIK (Desa Tanggap Iklim), sebuah inisiatif sosial-lingkungan yang bertujuan mengurangi dampak perubahan iklim mikro. Program ini dijalankan melalui pendekatan konkret seperti Bank Sampah dan Bank Air Hujan. Bank Sampah digagas sebagai sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang memungkinkan warga untuk menabung sampah rumah tangga kering (terutama anorganik seperti plastik, kertas, logam) layaknya menabung uang di bank. Sedangkan Bank Air Hujan merupakan sistem penampungan dan pemanfaatan air hujan untuk mengatasi kebutuhan air, khususnya saat musim kemarau.

“Proyek ini memiliki urgensitas tinggi karena berangkat dari permasalahan sosial di desa saya sendiri dan memiliki dampak berkepanjangan apabila tidak segera ditangani,” jelasnya.

Gambar 2. Proses Pengolahan Sampah di Bank Sampah (Arsip Desamind)

Di awal menjalani proyek ini, Hikmal mengaku kesulitan menggandeng masyarakat karena belum memiliki koneksi yang kuat, namun berkat pendekatan yang humanis dan diskusi intens, kini Desatik mampu melibatkan lebih dari 40 rumah tangga dari empat Rukun Tetangga (RT). Puluhan kilogram sampah organik dan anorganik berhasil direduksi setiap bulan. Selain itu, muncul ide inovatif lain yaitu budidaya maggot. Program yang dijalankan secara swasembada, namun tetap berkoordinasi dengan pemerintah ini mampu mengatasi permasalahan sampah sekaligus bernilai ekonomis. 

Gambar 3. Penjemuran Maggot (Arsip Desamind)

Menjadi Future Leader dengan Pemahaman Akar Rumput

Menjadi Awardee Beasiswa Desamind 4.0 adalah pengalaman yang membekas bagi Hikmal. Bukan sekadar mendapatkan pendanaan secara materi, tetapi peluang untuk menjembatani antara prestasi dan pengabdian, antara lokalitas dan globalitas.

Menurut Hikmal, pencapaian terbesarnya bukan hanya pada angka, tapi pada antusiasme dan kesadaran masyarakat yang terus meningkat. Ia yakin program ini akan mendukung aktualisasi pembangunan berkelanjutan berbasis kontribusi masyarakat karena Desatik bukan sekadar proyek sesaat. Ini menjadi bukti nyata bahwa Beasiswa Desamind benar-benar memberikan pengaruh positif terhadap permasalahan yang ada di akar rumput.

“Kesan paling hebat menjadi Awardee Beasiswa Desamind adalah saya mampu berdampak dan berkontribusi untuk desa saya sendiri. Saya ingin melihat desa Kebaman bukan hanya keluar dari status kumuh, tetapi menjadi kampung percontohan yang tangguh terhadap perubahan iklim,” tutup Hikmal.

Penulis: Ahmad Zamzami

Editor: Syifa Adiba

Edukasi Door-to-Door: Langkah Nyata Sahabat Digital Cakra Lawan Hoaks dan Judi Online

By Berita Terkini

Purbalingga (01/06) Upaya meningkatkan kesadaran literasi digital masyarakat terus diperkuat oleh Sahabat Digital Cakra, Satgas Literasi Digital yang dibentuk melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Literasi Digital Lawan Hoaks dan Judi Online pada Sabtu, 31 Mei 2025 oleh Tim Program Pengabdian Masyarakat Persyarikatan/AUM/Desa Binaan (P2AD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Mereka sukses menggelar kegiatan edukasi door-to-door kepada masyarakat Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.

Sebanyak 70 siswa dari PKBM Cakra bersama 26 pendamping diterjunkan langsung ke lima dusun untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan hoaks dan bahaya judi online. Dengan pendekatan langsung ke rumah-rumah warga, kegiatan ini menjadi bentuk pembelajaran kontekstual yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan riil masyarakat.

Gambar 1. Penerjunan Sahabat Digital Cakra Sosialisasi ke Masyarakat

M. Raihan Al Fauzan, Kepala PKBM Cakra menyambut positif adanya kegiatan ini. Program sosialisasi door to door dinilai mampu menggerakkan siswa mengaplikasikan ilmunya dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

 “Kami mengapresiasi dukungan dari tim P2AD UMS, Desamind Indonesia dan semua pihak yang telah terlibat. Inisiatif ini bukan hanya meningkatkan kompetensi siswa, tetapi juga berdampak langsung bagi warga,” ujar Fauzan.

Irfa Diani, salah satu siswa PKBM Cakra, mengaku mendapat pengalaman dalam memperluas cara pandangnya terhadap peran pemuda dalam pemberdayaan masyarakat.

“Ini pengalaman pertama saya turun langsung ke masyarakat. Saya belajar banyak hal, mulai dari cara berkomunikasi efektif hingga menyampaikan informasi penting seperti literasi digital,” ungkap Irfa.

Gambar 2. Sosialisasi Literasi Digital Cegah Hoaks dan Judol kepada Masyarakat

Respon positif pun datang dari warga yang merasa terbantu dengan informasi yang dibagikan secara langsung dan interaktif.

“Sekarang saya jadi lebih paham bagaimana menghadapi berita yang tidak jelas dan menghindari aplikasi-aplikasi judi online yang sering muncul,” ungkap Umiyah, warga RT 02 RW 06 Desa Cipaku.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi antara lembaga pendidikan dan pemuda dapat menjadi motor perubahan sosial di tingkat akar rumput. Diharapkan, model edukasi door-to-door ini bisa menjadi praktik baik yang direplikasi di wilayah lain dalam upaya membangun masyarakat yang cakap digital dan tahan terhadap disinformasi.

Author: Ahmad Zamzami

Editor:  Putri Aulia Pasha

Tim P2AD UMS Gandeng Desamind Gelar FGD Literasi Digital Lawan Hoaks dan Judi Online di PKBM Cakra Purbalingga 

By Berita Terkini

Purbalingga (31/05) – Dalam upaya menumbuhkan kesadaran literasi digital dan membangun ketahanan komunitas terhadap penyebaran hoaks dan praktik judi online, Tim Program Pengabdian Masyarakat Persyarikatan/AUM/Desa Binaan (P2AD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)  menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Platform dan Satgas Hoaks-Judi Online” di Gedung Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cakra, Desa Cipaku, Purbalingga.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat UMS dalam program multiyear bersama PKBM Cakra dengan melibatkan jajaran tutor, pengurus OSIS, Pramuka, serta perwakilan siswa PKBM dan Desamind Indonesia. Desamind Indonesia hadir sebagai mitra strategis sekaligus pendamping dalam kegiatan literasi digital tersebut.

Gambar 1. Proses Diskusi dan Perencanaan Pembentukan Satgas Hoaks dan Judol

Bashri, tutor PKBM Cakra, dalam sambutannya menekankan pentingnya membekali generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis dalam memilah informasi di era digital sehingga tidak terjebak dalam lingkaran berita hoaks dan judi online.

“Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan digital yang sehat dan bertanggung jawab. Anak-anak muda perlu menyadari bahwa mereka bisa menjadi garda terdepan dalam menangkal hoaks dan menjauhi praktik destruktif seperti judi online,” ujar Bashri.

Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc., Dosen Pendidikan Teknik Informatika (PTI) UMS dan Ketua Tim P2AD FKIP UMS, yang menjadi narasumber sekaligus pemantik FGD, mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng pernah menggerebek markas judi online jaringan Kamboja di Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga pada tahun 2022.

“Ini bukan hanya sejarah kelam, tapi juga pengingat serius. Kita tidak bisa tinggal diam. Pembentukan Satgas Literasi Digital adalah langkah preventif yang penting agar komunitas, khususnya anak muda, memiliki ketahanan digital sejak dini,” tegas Hardika.

Gambar 2. Pembekalan kepada Tim Utama Sahabat Digital Cakra

Dalam diskusi yang berlangsung aktif dan partisipatif, para peserta menyepakati pembentukan Satgas Literasi Digital yang diberi nama “Sahabat Digital Cakra”. Satgas ini akan menjadi wadah gerakan edukatif untuk menyebarkan informasi yang benar serta memerangi praktik digital yang merugikan masyarakat.

Ayu Septiana Ramadhani, Ketua OSIS PKBM Cakra sangat antusias dengan hadirnya forum ini dan siap terlibat langsung dalam kegiatan sosialisasi ke masyarakat.

“Saya senang bisa menjadi bagian dari FGD ini. Semoga hasil diskusinya tidak berhenti sebagai teori, tapi bisa menjadi gerakan nyata. Saya dan teman-teman sudah siap untuk melakukan sosialisasi hoaks dan judi online secara door to door,” ucap Ayu.

FGD ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga titik tolak aksi nyata. Desamind Indonesia sebagai mitra penggerak pemuda menyambut positif kolaborasi ini, dan siap mendukung kelanjutan program “Sahabat Digital Cakra” sebagai model penguatan kapasitas digital berbasis komunitas.

Dengan pendekatan edukatif dan kolaboratif bersama tim P2AD UMS, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan agen-agen perubahan di Desa Cipaku yang mampu menjawab tantangan era digital dengan sikap kritis, bijak, dan bertanggung jawab, khususnya dalam mencegah hoaks dan judi online.

Author : Ahmad Zamzami

Editor:  Putri Aulia Pasha

Adakan Kolaborasi Pengabdian, Tiga Serangkai University dan Desamind Hadirkan Teknologi AR-VR di Sekolah Alam Aminah

By Berita Terkini

Sukoharjo (28/05) Tiga Serangkai University (TSU) bersama Desamind Indonesia sukses menyelenggarakan kolaborasi pengabdian inovatif dan inspiratif di Sekolah Alam Aminah (SAA) Sukoharjo. Kolaborasi ini memperkenalkan pendekatan pembelajaran berbasis Computational Thinking dan teknologi mutakhir seperti Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) kepada para siswa Sekolah Alam dengan cara yang menyenangkan dan penuh eksplorasi.

SAA merupakan lembaga pendidikan yang memadukan nilai-nilai Islami dengan metode belajar berbasis alam. Memanfaatkan lingkungan sebagai laboratorium belajar, SAA berfokus pada pengembangan potensi visual, kinestetik, dan auditori anak. Kegiatan pengabdian kali ini menjadi momen penting karena menghadirkan dimensi baru dalam proses belajar, melalui pemanfaatan teknologi digital tanpa menghilangkan nilai-nilai religius yang dipegang teguh oleh sekolah.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa dikenalkan dengan berbagai alat dan metode pembelajaran baru yang interaktif, seperti Makey-Makey (alat pengubah tumbuhan menjadi instrumen musik digital), buku cerita yang dilengkapi dengan fitur AR, serta permainan edukatif berbasis VR yang memicu rasa ingin tahu dan kreativitas mereka.

Gambar 1. Siswa SAA Belajar Menggunakan AR dan Makey-Makey

Laila Rohmah, Dosen Tiga Serangkai University yang turut menjadi fasilitator mengaku senang bisa mengadakan kegiatan di SAA. Ia yakin pengabdian ini mampu mendorong motivasi belajar anak-anak dengan memanfaatkan teknologi era sekarang.

“Anak-anak tampak antusias karena menjadi pengalaman pertama mereka melihat kemajuan teknologi. Kami percaya pendekatan ini bisa menjadi pintu masuk untuk menanamkan kemampuan berpikir logis dan problem solving sejak dini,” ujar Laila.

Kepala Sekolah SAA, Taqwa Hasma Septyaninda, S.Psi., S.Pd.I., menyampaikan apresiasinya kepada TSU dan Desamind karena kehadiran mereka memberikan warna baru dan pendekatan inivotif yang bisa diterapkan dalam pembalajaran SAA ke depan.

“Terima kasih kepada TSU dan Desamind. Kehadiran mereka menjadi angin segar bagi kami dalam mengembangkan metode belajar yang lebih beragam dan menyenangkan, namun tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.”

Tidak hanya guru, para siswa juga menunjukkan kegembiraan mereka setelah mengikuti rangkaian kegiatan pembelajaran. Salah satu siswa, M. Dzaki Al Ghazali, menceritakan keseruannya mencoba berbagai permainan edukatif.

Gambar 2. Potret Keceriaan Usai Kegiatan

 “Senang sekali bisa belajar sambil main. Permainannya aneh, tapi seru. Aku jadi tahu banyak hal baru!,” ucap siswa kelas 5 itu.

Kegiatan ini menjadi bentuk nyata komitmen Desamind dan TSU dalam memajukan pendidikan anak-anak Indonesia, terutama di sekolah-sekolah alternatif berbasis alam dan nilai spiritual. Kolaborasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan zaman akan literasi teknologi, tetapi juga memperkuat gagasan bahwa pendidikan masa depan harus adaptif, menyenangkan, dan bermakna.

Ke depan, Desamind dan TSU berencana melanjutkan kerja sama serupa di berbagai sekolah berbasis komunitas lainnya. Tujuannya adalah untuk menjembatani kesenjangan digital di kalangan pelajar daerah, sekaligus mengintegrasikan teknologi dan spiritualitas dalam satu ekosistem pendidikan yang utuh.

Author: Ahmad Zamzami

Editor: Putri Aulia Pasha

89 Lulusan Paket C PKBM Cakra Mrebet Diwisuda: Bukti Nyata Pendidikan Inklusif dan Pemberdayaan di Purbalingga

By Press Release

DESAMIND.ID – Purbalingga (11/05) Suasana haru dan penuh kebahagiaan mewarnai Wisuda Angkatan XIV Kesetaraan Paket C PKBM Cakra Mrebet yang digelar di Rest Area Cheng Ho, Mrebet, Purbalingga, Jawa Tengah. Sebanyak 89 wisudawan resmi dinyatakan lulus, menandai keberhasilan mereka menempuh pendidikan kesetaraan sebagai alternatif yang inklusif dan bermartabat.

Momentum ini terasa semakin istimewa karena PKBM Cakra Mrebet merupakan mitra strategis Desamind Indonesia, organisasi kepemudaan yang telah berkolaborasi selama lebih dari tiga tahun untuk mendampingi dan memberdayakan peserta didik pendidikan nonformal di desa.

Gambar 1. Penampilan Seni dari Siswa PKBM Cakra Mrebet, Purbalingga.

Selama perjalanan kemitraannya, Desamind Indonesia bersama Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (PTI UMS) telah menginisiasi berbagai kegiatan kolaboratif, seperti:

  • Pelatihan literasi digital dan anti-hoaks untuk peserta didik dan tutor,
  • Workshop keterampilan digital seperti desain grafis, pembuatan konten media sosial, dan pengenalan alat produktivitas berbasis daring,
  • Program “Simulasi Perilaku Berbasis Virtual Reality“, yang mengajak peserta memahami risiko judi daring dan informasi palsu dalam konteks dunia digital,
  • Pendampingan kewirausahaan digital dan lifeskill seperti pembuatan produk kreatif, pemasaran daring,
  • Penyuluhan hukum menggunakan media ARLaw dan VRLaw yang berkolaborasi dengan PKBH FH UGM.

Dalam momen  wisuda ini, Founder Desamind Indonesia sekaligus dosen PTI UMS, Hardika Dwi Hermawan, turut hadir memberikan sesi motivasi kepada para lulusan. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari pendidikan akar rumput.

“Pendidikan nonformal bukan jalur kedua, melainkan jalan alternatif yang bermartabat untuk mencapai masa depan,” tegasnya di hadapan para lulusan dan tamu undangan.

PKBM Cakra Mrebet sendiri telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Desamind Indonesia sejak 2022 dan telah menunjukkan konsistensinya dalam mendidik dengan hati. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Desamind dan perguruan tinggi, menjadikan lembaga ini sebagai model praktik baik dalam pendidikan kesetaraan yang berdaya dan memberdayakan.

Sugiarto, S.Pd., M.M., selaku Ketua Yayasan Cakra Paku Jaya, menyampaikan apresiasi terhadap semua pihak yang terlibat dan berharap para lulusan terus berkembang.

“Kami ingin lulusan dari PKBM Cakra tidak hanya berhenti pada seremoni hari ini, tetapi terus belajar, berkarya, dan menjadi bagian dari perubahan sosial. Kami berkomitmen untuk terus membuka akses dan peluang bagi siapa pun yang ingin menempuh pendidikan dengan semangat dan ketekunan.” ungkap Sugiarto dalam sambutannya.

Gambar 2. Prosesi Penyerahan Ijazah Siswa PKBM Cakra Mrebet

Senada dengan itu, Kepala Kesetaraan Paket C PKBM Cakra, M. Al-fauzan, S.Pd., menekankan pentingnya bekal keterampilan praktis bagi lulusan.

“Mereka telah kami bekali dengan keterampilan menjahit, desain, hingga pemanfaatan digital tools. Semoga mereka menjadi individu yang mandiri dan bisa memberi kontribusi nyata di masyarakat,” ungkap Fauzan.

Keterlibatan Desamind dalam program pendidikan nonformal merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk membangun jembatan sosial antara pemuda berpendidikan dan masyarakat akar rumput demi menciptakan ruang belajar yang setara dan inklusif. Ke depannya, Desamind  berharap terus tumbuh melalui penguatan jejaring, program inovatif, dan pendampingan lanjutan agar lulusan Paket C dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat dan pelaku perubahan di komunitasnya masing-masing, termasuk rencana program kerjasama yang akan dilaksanakan beberapa bulan mendatang.

Penulis: Dwi

Editor: Ahmad Zamzami/Syifa Adiba